BAB III LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III LANDASAN TEORI. A. Jenis Jenis dan Bentuk Tata Letak Jalur di Stasiun

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. A. Jenis jenis dan bentuk Tata Letak Jalur pada Stasiun

BAB III LANDASAN TEORI. A. Jenis Jenis dan Bentuk Tata Letak Jalur di Stasiun

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. A. Jenis jenis dan Bentuk Tata Letak Jalur di Stasiun

WESEL (SWITCH) Nursyamsu Hidayat, Ph.D.

BAB III LANDASAN TEORI

REKAYASA JALAN REL MODUL 6 WESEL DAN PERSILANGAN PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

MODUL 12 WESEL 1. PENGANTAR

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. A. Tipikal Tata Letak dan Panjang Efektif Jalur Stasiun

BAB III LANDASAN TEORI. A. Tipikal Tata Letak Dan Panjang Jalur Di Stasiun

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Rancangan Tata Letak Jalur Stasiun Lahat

BAB III LANDASAN TEORI. A. Kajian Pola Operasi Jalur Kereta Api Ganda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Analaisis Tata Letak Jalur pada Stasiun Muara Enim

BAB III LANDASAN TEORI

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KERETA API

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Perancangan Tata Letak Jalur di Stasiun Betung

MENDUKUNG OPERASIONAL JALUR KERETA API GANDA MUARA ENIM LAHAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KERETA API DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 22 TAHUN 2003 TENTANG PENGOPERASIAN KERETA API. MENTERI PERHUBUNGAN,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STANDAR TEKNIS BANGUNAN STASIUN KERETA API : IR. SUTJAHJONO

PD 3 PERATURAN DINAS 3 (PD 3) SEMBOYAN. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Disclaimer

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1998 TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

*35899 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 69 TAHUN 1998 (69/1998) TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

REKAYASA JALAN REL. MODUL 11 : Stasiun dan operasional KA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1998 TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KERETA API

Naskah Seminar Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN 1.2. JENIS PEMBANGUNAN JALAN REL

PERENCANAAN JALUR GANDA KERETA API DARI STASIUN PEKALONGAN KE STASIUN TEGAL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1998 TENTANG PRASARANA DAN SARANA KERETA API PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI. blok diagram dari sistem yang akan di realisasikan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

REKAYASA JALAN REL. MODUL 8 ketentuan umum jalan rel PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

TUGAS PERENCANAAN JALAN REL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 44 TAHUN 2018 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERALATAN PERSINYALAN PERKERETAAPIAN

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

D E P A R T E M E N P E R H U B U N G A N Komite Nasional Keselamatan Transportasi

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA

BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan

NASKAH SEMINAR TUGAS AKHIR STUDI POLA OPERASI JALUR KERETA API GANDA SEMBAWA-BETUNG 1

PERENCANAAN JALUR LINTASAN KERETA API DENGAN WESEL TIPE R54 PADA EMPLASEMEN STASIUN ANTARA PASURUAN - JEMBER ( KM KM ) TUGAS AKHIR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2018, No Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 176, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5086), sebagaimana telah diubah dengan Perat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

BAB III LANDASAN TEORI. Bangunan atas jalan kereta api terdiri dari:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN,

Kajian Pola Operasi Jalur Ganda Kereta Api Muara Enim-Lahat

LAPORAN AKHIR KNKT

KAJIAN GEOMETRIK JALUR GANDA DARI KM SAMPAI DENGAN KM ANTARA CIGANEA SUKATANI LINTAS BANDUNG JAKARTA

REKAYASA JALAN REL MODUL 3 : KOMPONEN STRUKTUR JALAN REL DAN PEMBEBANANNYA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 110 TAHUN 2017 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III LANDASAN TEORI. Tujuan utama dilakukannya analisis interaksi sistem ini oleh para

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. angkutan kereta api batubara meliputi sistem muat (loading system) di lokasi

Rekayasa Lalu Lintas

BAB II TINJAUAN OBJEK

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 52 TAHUN 2000 TENTANG JALUR KERETA API MENTERI PERHUBUNGAN,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUMBURAN KA S1 SRIWIJAYA DAN KA BBR4 BABARANJANG

BAB III METODOLOGI. mendekati kapasitas lintas maksimum untuk nilai headway tertentu. Pada

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : PM. 35 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA DAN STANDAR PEMBUATAN GRAFIK PERJALANAN KERETA API

REKAYASA JALAN REL. Modul 2 : GERAK DINAMIK JALAN REL PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

Penempatan marka jalan

Analisis Display Sinyal Kereta Api di Stasiun Langen

L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK

[ kata pengantar ] [ kata pengantar ]

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran Dan Karakteristik Moda Transportasi Kereta Api Nasional

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KNKT/KA.04.02/

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTRAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Display Sinyal Kereta Api di Stasiun Langen

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN AKHIR KNKT

BAB III METODE PENELITIAN. melalui tahapan tahapan kegiatan pelaksanaan pekerjaan berikut :

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 13 TAHUN 2014 TENTANG RAMBU LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

機車標誌 標線 號誌是非題 印尼文 第 1 頁 / 共 15 頁 題號答案題目圖示題目. 001 X Tikungan beruntun, ke kiri dahulu. 002 O Persimpangan jalan. 003 X Permukaan jalan yang menonjol

Negara Republik Indonesia Nomor 5086);

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan jalur tepi di sepanjang jalan tol CAWANG CIBUBUR dengan

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 53 TAHUN 2000 TENTANG PERPOTONGAN DAN/ATAU PERSINGGUNGAN ANTARA JALUR KERETA API DENGAN BANGUNAN LAIN

Perencanaan Jalur Ganda Kereta Api Surabaya -Krian

ANALISIS KELAYAKAN KONSTRUKSI BAGIAN ATAS JALAN REL DALAM KEGIATAN REVITALISASI JALUR KERETA API LUBUK ALUNG-KAYU TANAM (KM 39,699-KM 60,038)

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: PM. 36 TAHUN 2011 TENTANG PERPOTONGAN DAN/ATAU PERSINGGUNGAN ANTARA JALUR KERETA API DENGAN BANGUNAN LAIN

Transkripsi:

BAB III LANDASAN TEORI A. Jenis Jenis dan Bentuk Tata Letak Jalur di Stasiun Dalam merancang tata letak jalur kereta api di stasiun harus disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi di lapangan, yaitu: 1. Jika stasiun di wilayah relatif datar a. Jumlah minimal jalur KA Jalur KA di stasiun operasi jalur ganda minimal 3 atau 4 jalur, agar bisa melaksanakan persilangan dan atau penyusulan dalam waktu yang hampir bersamaan. b. Jalur Simpan Selang satu stasiun operasi, sebaiknya ditambah 1 jalur simpan, yang digunakan untuk menyimpan mesin mesin alat berat perawatan jalan rel, dengan maksud jika ada perawatan tidak perlu mengirim alat-alat berat mesin perawatan dari stasiun yang jauh atau untuk menyimpan sarana yang mengalami gangguan di perjalanan. 2. Jika stasiun di wilayah turunan a. Jumlah minimal jalur KA Jalur KA di stasiun operasi jalur ganda minimal 3 atau 4 jalur, agar bisa melaksanakan persilangan dan atau penyusulan dalam waktu yang hampir bersamaan. b. Jalur Tangkap Stasiun yang berada dikawasan turunan sebaiknya dilengkapi jalur tangkap. Letak jalur tangkap tergantung letak turunan yang menuju stasiun tersebut dan dipasang pada wesel pertama dari arah turunan menuju jalur tangkap. 17

18 Dalam penggambaran skema emplasemen, jalan rel ditunjukkan dengan garis tunggal. Emplasemen dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut. 1. Emplasemen Stasiun Emplasemen penumpang digunakan untuk memberi kesempatan kepada penumpang untuk membeli karcis, menunggu datangnya kereta api sampai naik ke kereta api melalui peron serta sebagai tempat turun dari kereta api. Emplasemen stasiun dibagi menjadi 3 yaitu emplasemen stasiun kecil, emplasemen stasiun sedang dan emplasemen stasiun besar. 2. Emplasemen Barang Emplasemen barang khusus melayani pengiriman dan penerimaan barang dan letaknya dekat dengan daerah industri, perniagaan dan lalu lintas umum. 3. Emplasemen Langsir Kereta api barang dari semua jurusan yang menuju ke emplasemen langsir gerbong-gerbongnya dipisahkan dalam kelompok-kelompok menurut jurusan dan tempat tujuannya. Letak emplasemen harus jauh dari pemukiman agar pekerjaan melangsir gerbong tidak mengganggu ketertiban umum. B. Jalur Kereta Api di Stasiun 1. Panjang Sepur Efektif Menurut PD No. 10 Tahun 1986, panjang sepur efektif adalah panjang jalur aman penempatan rangkaian sarana kereta api dari kemungkinan terkena senggolan pergerakan kereta api atau langsiran yang berasal dari jalur sisi sebelah menyebelahnya. Panjang sepur efektif dibatasi oleh sinyal, patok bebas wesel, ataupun rambu batas berhenti kereta api, seperti yang terlihat pada Gambar 3.1. Panjang sepur efektif yang ideal untuk angkutan penumpang adalah 300 meter dengan asumsi dalam satu rangkaian kereta api terdiri dari dua lokomotif dengan panjang masing-masing 17 meter dan rata-rata menarik 12 kereta dengan panjang masing-masing 20 meter. Untuk detail hitungannya sebagai berikut: Panjang sepur efektif = (2 17) + (12 20) = 274 meter 300 meter

19 Gambar 3. 1 Panjang sepur efektif (Sumber: PD No. 10 Tahun 1986) C. Wesel Wesel merupakan konstruksi jalan rel yang paling rumit dengan beberapa persyaratan dan ketentuan pokok yang harus dipatuhi (Gambar 3.2). Untuk pembuatan komponen-komponen wesel yang penting khususnya mengenai komposisi kimia dari bahannya. Gambar 3.2 Bagian-Bagian Wesel (Sumber : PM No. 60 Tahun 2012) 1. Persyaratan Wesel Wesel yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Kandungan mangaan (mn) pada jarum mono blok harus berada dalam rentang (11-14) %. b. Kekerasan pada lidah dan bagian lainnya sekurang-kurangnya sama dengan kekerasan rel.

20 c. Celah antara lidah dan rel lantak harus kurang dari 3 mm. d. Celah antara lidah wesel dan rel lantak pada posisi terbuka tidak boleh kurang dari 125 mm. e. Celah (gap) antara rel lantak dan rel paksa pada ujung jarum 34 mm. f. Jarak antara jarum dan rel paksa (check rail) untuk lebar jalan rel 1067 mm: 1) Untuk Wesel rel R 54 paling kecil 1031 mm dan paling besar 1043 mm. 2) Untuk Wesel jenis rel yang lain, disesuaikan dengan kondisi wesel. g. Pelebaran jalan rel di bagian lengkung dalam wesel harus memenuhi peraturan radius lengkung. h. Desain wesel harus disesuaikan dengan sistem penguncian wesel. 2. Komponen Wesel Wesel terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut: a. Lidah Lidah adalah bagian dari wesel yang dapat bergerak. Pangkal lidah disebut akar. Jenis lidah: 1) Lidah berputar adalah lidah yang mempunyai engsel diakarnya. 2) Lidah berpegas adalah lidah yang akarnya dijepit sehingga dapat melentur. Sudut tumpu (β) adalah susdut antara lidah dengan rel lantak. Sudut tumpu dinyatakan dengan tangennya, yakni β = 1 : m, dimana harga m berkisar antar 25 sampai 100. b. Jarum beserta sayap-sayapnya Jarum adalah bagian wesel yang memberi kemungkinan kepada flens roda melalui perpotingan bidang-bidang jalan yang terputus antara dua rel. Sudut kelancipan jarum (α) disebut sudut samping arah. c. Rel lantak Rel lantak adalah rel yang diperkuat badannya yang berguna untuk bersandarnya lidah-lidah wesel.

21 d. Rel paksa Rel paksa dibuat dari rel biasa yang kedua ujungnya dibengkokkan ke dalam. Rel paksa luar biasanya dibuat pada rel lantak dengan menempatkan blok pemisah diantaranya. e. Sistem penggerak Sistem penggerak atau pembalik wesel adalah mekanisme untuk menggerakkan ujung lidah. 3. Jenis jenis Wesel Wesel dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu sebagai berikut: a. Wesel biasa, terdiri atas sepur lurus dan sepur belok yang membentuk sudut terhadap sepur lurus. Menurut arah belok sepur beloknya terdapat dua jenis wesel biasa yaitu: b. Wesel biasa kiri, disebut wesel biasa kiri apabila arah beloknya ke kiri dilihat dari depan wesel c. Wesel biasa kanan, disebut wesl biasa kanan apabila arah beloknya ke kanan dilihat dari depan wesel. d. Wesel Dalam Lengkung, wesel dalam lengkung pada dasarnya adalah wesel biasa, akan tetapi sepur lurusnya berbentuk lengkung. Sehingga dapat dikatakan bahwa wesel lengkung terdiri atas sepur lengkung dan sepur belok yang membentuk sudut terhadap sepur lengkung. Berdasarkan pada arah sepur beloknya, terdapat tiga jenis wesel dalam lengkung, yaitu: 1) Wesel searah lengkung. 2) Wesel berlawanan arah lengkung. 3) Wesel simetri. e. Wesel tiga jalan Wesel tiga jalan terdiri atas tiga sepur. Berdasarkan atas arah dan letak sepurnya terdapat empat jenis wesel tiga jalan, yaitu: 1) Wesel tiga jalan searah. 2) Wesel tiga jalan berlawanan arah. 3) Wesel tiga jalan searah tergeser.

22 4) Wesel tiga jalan berlawanan arah tergeser. f. Wesel Inggris Wesel inggris merupakan wesel yang dilengkapi dengan gerakan-gerakan lidah serta sepur-sepur bengkok. 4. Bagan wesel Untuk keperluan pelaksanaan pembangunan gambar-gambar rencana wesel digambar hanya menurut bagannya. a. Bagan ukuran Bagan ini menjelaskan ukuran-ukuran wesel dan dapat digunakan untuk menggambar bagan emplasemen secara berkala. b. Bagan penyusun Dalam gambar emplasemen, bagan penyusun menjelaskan kedudukan luat biasa lidah- lidah wesel dan cara pelayanannya. 5. Nomor dan Kecepatan Izin pada Wesel Nomor wesel (n) menyatakan tangen sudut simpang, yaitu: tg = 1 : n kecepatan izin pada wesel tercantum pada Tabel 3.1. Tabel 3.1 Kecepatan izin pada wesel tg 1:8 1:10 1:12 1:14 1:16 1:20 No wesel W 8 W 10 W 12 W 14 W 16 W 20 Kecepatan Izin (km/jam) 25 35 45 50 60 70 (Sumber : PM No. 60 Tahun 2012)

23 D. Peron Stasiun Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2011, peron adalah bangunan yang terletak di samping jalur kereta api yang berfungsi sebagai tempat untuk naik turun penumpang. Berdasarkan peraturan yang sama pula, peron dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: peron tinggi, peron sedang dan peron rendah dengan persyaratan penempatan berada di tepi jalur (side platform) dan / atau di antara dua jalur (island platform) 1. Persyaratan Teknis Peron a. Persyaratan Tinggi Peron 1) Peron tinggi, tinggi peron 1000 mm yang diukur dari kepala rel. 2) Peron sedang, tinggi peron 430 mm yang diukur dari kepala rel. 3) Peron rendah, tinggi peron 180 mm yang diukur dari kepala rel. b. Jarak Tepi Peron ke As Jalan Rel 1) Peron tinggi, 1600 mm (untuk jalan rel lurusan) dan 1650 mm (untuk jalan rel lengkungan). 2) Peron sedang, 1350 mm. 3) Peron rendah, 1200 mm. c. Panjang peron Panjang peron sesuai dengan rangkaian terpangjang kereta api penumpang yang beroperasi. d. Lebar peron Untuk menghitung lebar peron didasarkan pada jumlah penumpang dengan menggunakan rumus b =!,!"!! /!"#$%!!"! Dengan, b = Lebar peron (meter)...(3.1) v = Jumlah rata-rata penumpang per jam sibuk dalam satu tahun (orang) LF = Load Factor (80%) I = Panjang peron sesuai dengan rangkaian terpanjang kereta api penumpang yang beroperasi (meter)

24 Hasil dari perhitungan menggunakan rumus di atas, tidak boleh kurang dari ketentuan lebar peron minimal seperti pada Tabel 3.2. Tabel 3.2 Ketentuan Lebar Peron Minimum Jenis Peron Di Tepi Jalur (Side Di Antara Dua Jalur Platfrom) (Island Platfrom) Tinggi 1,65 meter 2 meter Sedang 1,9 meter 2,5 meter Rendah 2,05 meter 2,8 meter (Sumber : PM No. 29 Tahun 2011) e. Lantai Peron Lantai peron tidak menggunakan material yang licin. f. Fasilitas Peron Peron setidaknya harus dilengkapi dengan fasilitas sebagai berikut: 1) Lampu. 2) Papan penunjuk jalur. 3) Papan penunjuk arah. 4) Batas aman peron. g. Persyaratan Operasi Peron 1) Hanya digunakan sebagai tempat naik turun penumpang dari kereta api. 2) Dilengkapi dengan garis batas aman peron. a) Peron tinggi, minimal 350 mm dari sisi tepi luar ke as peron. b) Peron sedang, minimal 600 mm dari sisi tepi luar ke as peron. c) Peron rendah, minimal 750 mm dari sisi tepi luar ke as peron. E. Fasilitas Operasi dan Sistem Persinyalan dan Telekomunikasi Peralatan persinyalan menurut PM No.10 Tahun 2011 pasal 1 ialah fasilitas pengoperasian kereta api yang berfungsi memberi petunjuk atau isyarat yang berupa warna atau cahaya dengan arti tertentu yang dipasang pada tempat tertentu. Berdasarkan PM No. 10 Tahun 2011 Pasal 4, dijelaskan bahwa persinyalan eletrik terdiri atas:

25 1. Peralatan dalam ruangan, yaitu: a. Interlocking elektrik, berfungsi membentuk, mengunci, dan mengontrol semua peralatan persinyalan elektrik untuk mengamankan perjalanan kereta api. b. Panel pelayanan, berfungsi untuk melayani dan mengendalikan seluruh bagian peralatan sinyal yang berada di luar ruangan sesuai dengan tabel rute, untuk mengatur dan mengamankan perjalanan kereta api dan untuk memberikan indikasi status peralatan sinyal. c. Peralatan blok, berfungsi menjamin keamanan perjalanan kereta api di petak blok dengan cara, hanya mengizinkan satu kereta api boleh berjalan di dalam petak blok sesuai dengan arah perjalanan kereta api. d. Data logger, berfungsi untuk mencatat/merekam/menyimpan data semua proses yang terjadi di peralatan interlocking lengkap dengan waktu kejadian. e. Catu daya, berfungsi untuk mensuplai daya secara terus-menerus untuk peralatan sinyal elektrik dalam dan luar ruangan serta peralatan telekomunikasi. 2. Peralatan luar ruangan, yaitu: a. Peraga sinyal elektrik, berfungsi menunjukkan aspek berjalan, berjalan hati-hati atau berhenti bagi perjalanan kereta api. b. Penggerak wesel eletrik, berfungsi untuk menggerakan lidah wesel, mendeteksi dan mengunci kedudukan akhir lidah wesel baik secara individual atau mengikuti arah rute yang dibentuk. c. Pendeteksi sarana perkeretaapian, berfungsi untuk mendeteksi keberadaan sarana pada jalur kereta api baik di emplasemen maupun di petak jalan. d. Penghalang sarana, berfungsi sebagai pencegah luncuran sarana yang mengarah ke jalur kereta api. e. Media transmisi, berfungsi untuk menyalurkan daya dan data dari sumber ke peralatan atau sebaliknya.

26 f. Proteksi, berfungsi untuk melindungi instalasi peralatan telekomunikasi dan gangguan petir yang berupa sambaran langsung atau induksi tegangan lebih/tinggi. Peralatan telekomunikasi menurut PM No. 11 Tahun 2011 Pasal 1 merupakan fasilitas pengoperasian kereta api yang berfungsi menyampaikan informasi dan / atau komunikasi bagi kepentingan operasi perkeretaapian yang dipasang pada tempat tertentu yang terdiri atas: 1. Pesawat telepon, berfungsi untuk menginformasikan warta kereta api yang berkaitan dengan pengoperasian kereta api. a. Komunikasi Operasi KA, terdiri atas: telepon langsung antar stasiun, telepon penjaga perlintasan, dan telepon antara pusat kendali dengan pengatur perjalanan kereta api. b. Komunikasi Langsiran KA. 2. Perekam suara, berfungsi untuk merekam suara pembicaraan melalui peralatan komunikasi terkait dengan operasi dan langsiran kereta api. 3. Transmisi, berfungsi untuk menghantarkan informasi berupa suara dan data. a. Transmisi menggunakan kabel, terdiri atas: kabel tembaga, kabel FO, dan kabel LCX. b. Transmisi menggunakan frekuensi radio, terdiri atas: radio microwave dan trunked mobile radio. 4. Catu daya, berfungsi untuk mensuplai daya secara terus-menerus untuk peralatan sinyal elektrik dalam dan luar ruangan. a. Catu daya utama. b. Catu daya darurat. c. Catu daya cadangan. 5. Sistem proteksi, berfungsi untuk melindungi instalasi peralatan telekomunikasi dari gangguan petir yang berupa sambara langsung ataupun induksi tegangan lebih/tinggi. a. Proteksi eksternal. b. Proteksi internal. 6. Peralatan pendukung, berfungsi untuk menyampaikan informasi berupa suara, data, dan atau gambar kepada penumpang kereta api.

27 a. Komunikasi untuk layanan penumpang, terdiri atas: komunikasi audio dan komunikasi visual. b. Sistem penunjuk waktu, terdiri atas: jam induk (master clock) dan jam anak (slave clock). c. Sistem SCADA, terdiri atas: remote terminal unit (RTU), regional remote supervisory (RRS), dan centralized remote supervisory (CRS). Sementara itu menurut PP No. 72 Tahun 2009, sinyal terdiri dari: 1. Sinyal utama a. Sinyal masuk adalah sinyal yang berfungsi untuk memberi petunjuk melalui isyarat berupa warna atau cahaya bahwa kereta api akan memasuki stasiun. b. Sinyal keluar adalah sinyal yang berfungsi untuk memberi petunjuk melalui isyarat berupa warna atau cahaya bahwa kereta api boleh berangkat meninggalkan stasiun. c. Sinyal blok adalah sinyal yang berfungsi untuk memberi petunjuk melalui isyarat berupa warna atau cahaya bahwa jalur kereta api dibagi dalam beberapa petak blok. d. Sinyal darurat adalah sinyal yang berfungsi untuk memberi petunjuk melalui isyarat berupa warna atau cahaya: 1) Dalam hal sinyal utama berwarna merah dan sinyal memberhentikan kereta apinya di muka sinyal sinyal yang berwarna merah. 2) Dalam hal sinyal utama berwarna merah dan sinyal darurat menyala putih, masinis boleh menjalankan kereta apinya sesuai kecepatan yang diizinkan oleh pengatur perjalanan kereta api. e. Sinyal langsir adalah sinyal yang berfungsi untuk memberi petunjuk melalui isyarat berupa warna atau cahaya bahwa boleh atau tidak boleh melakukan gerakan langsir. 2. Sinyal pembantu a. Sinyal muka. b. Sinyal pendahulu. c. Sinyal pengulang.

28 3. Sinyal pelengkap a. Sinyal penunjuk arah. b. Sinyal pembatas kecepatan. c. Sinyal berjalan jalur tunggal sementara.