BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Gambaran Umum 1. Sejarah Singkat PT Bank CIMB Niaga Tbk PT Bank Niaga berdiri pada tanggal 26 September 1955 dengan menyadari bahwa kepercayaan nasabah maupun masyarakat adalah satu nilai yang harus senantiasa didapatkan serta dijaga untuk mendapatkan kepercayaan nasabah dan masyarakat melalui keyakinan pentingnya nilai-nilai Integritas dan Kualitas. Di bulan Juni 1989 PT Bank Niaga melakukan initial public offering (IPO) di Bursa Efek Jakarta dimana pemesanan sahamnya mencapai empat kali lipat dari saham yang ditawarkan. Hal ini menggambarkan citra PT Bank Niaga yang positif dihadapan masyarakat, penanganan manajemen yang berhati-hati serta indikator kinerja keuangan yang menyakinkan sangat mendukung sukses go public ini. Tahun 1999, PT Bank Niaga Tbk ditempatkan sebagai Bank Take Over dibawah pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), hal ini dipicu oleh krisis multidimensional di Indonesia yang diawali dengan krisis nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS pada tahun 1997. Krisis ini kian membesar dengan rontoknya kepercayaan masyarakat terhadap bank swasta akibat kebijakan perbankan itu sendiri. Banyak bank yang melanggar prinsip-prinsip pengelolaan 55
56 bank yang sehat sehingga menyebabkan sistem perbankan jebol karena semua bank mengalami krisis likuiditas. Dalam perjalanannya pada November 2002 masuk Commerce Asset Holding Berhad, kini dikenal luas sebagai CIMB Group Holding Berhad sebagai pemegang saham mayoritas dan ini merupakan peluang untuk memperluas pasarnya ke kawasan Regional. Dan tanggal 28 Mei 2008 setelah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank Niaga Tbk berganti nama menjadi PT Bank CIMB Niaga Tbk. Penggantian nama ini mendapatkan persetujuan Bank Indonesia pada tanggal 22 Juli 2008. Perjalanan PT Bank Lippo dimulai dengan NV Bank Perniagaan Indonesia (Indonesian Mercantile Bank) pada bulan Maret 1948 dan kemudian berturut-turut berganti nama menjadi PT Bank Perniagaan Indonesia pada tahun 1956 dan PT Bank Lippo pada tahun 1989. Setelah selesainya proses merger dengan PT Bank Umum Asia, PT Bank Lippo mulai mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada bulan November 1989. Pada tanggal 2 Desember 1998, terjadi lagi perubahan nama dari PT Bank Lippo menjadi PT Bank Lippo Tbk, atau lebih dikenal dengan nama LippoBank. Pemerintah Republik Indonesia menjadi pemegang saham utama PT Bank Lippo Tbk setelah program rekapitalisasi dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 1999.
57 Pada tanggal 25 Februari 2004, kepemilikan saham Pemerintah Republik Indonesia di PT bank Lippo Tbk sebesar 52,05 % beralih kepada konsorsium Swissasia Global. Pada tanggal 30 September 2005, setelah memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia, Khazanah Nasional Berhad yang merupakan pemilik saham mayoritas CIMB Group (melalui Santubong Investment B.V, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya) menuntaskan proses akuisisi 52,05 % saham PT Bank Lippo Tbk dari Swissasia Global. Selanjutnya hal ini diikuti dengan proses Tender Offer yang meningkatkan kepemilikan Santubong menjadi 87,52 % dari total saham PT Bank Lippo Tbk yang ditempatkan. Sejak itu PT Bank Lippo Tbk dengan cepat mengambil langkah mengembangkan dan melaksanakan peta bisnis yang baru. Peta bisnis tersebut akan memandu PT Bank Lippo Tbk ke standar operasional bank kelas dunia dengan kebijakan dan praktik tata kelola perusahaan yang tidak dapat dikompromikan untuk membangun dan mempertahankan nilai bagi seluruh stakeholder. Digabungkan dengan pelaksanaan yang tepat tanpa cacat, PT Bank Lippo Tbk berada di lajur perjalanan yang akan menghantarkannya mencapai status bank jangkar pada tahun 2010 dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia. Pada pertengahan 2006, Bank Indonesia pernah memberikan tiga opsi bagi para pemegang saham pengendali (PSP) yang mengendalikan lebih dari satu bank di Indonesia. Ketiga opsi itu terkait dengan kebijakan kepemilikan tunggal atau Single Presence Policy yang akhirnya dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) no. 8/16/2006 tentang Kepemilikan Tunggal pada Perbankan
58 Nasional. Ketiga opsi tersebut adalah: Pertama, mengurangi kepemilikan di bank lain sehingga menjadi satu PSP pada satu bank. Kedua, melakukan merger atau konsolidasi dari bank-bank yang dikendalikan, dan ketiga, membentuk perusahaan induk di bidang perbankan (bank holding company) di Indonesia. Kebijakan single presence policy yang deadlinenya jatuh pada tahun 2010 adalah untuk mendorong percepatan konsolidasi perbankan sesuai Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Aturan tersebut sudah diberlakukan di beberapa negara seperti Thailand dan India, dan diyakini akan bermanfaat bagi perkembangan industri perbankan dan perekonomian nasional. Kebijakan ini juga bertujuan agar tercipta persaingan yang sehat dan efektivitas dalam pengawasan bank. Dikecualikan dari kebijakan ini adalah bagi bank umum konvensional yang juga memiliki kegiatan bank syariah. 1 November 2008 dengan persetujuan Bank Indonesia, PT Bank CIMB Niaga Tbk merger dengan PT Bank Lippo Tbk untuk memenuhi ketentuan Bank Indonesia Single Presence Policy. Merger ini adalah merger pertama yang dijalankan setelah kebijakan Single Presence Policy dikeluarkan Bank Indonesia. Penggabungan ini bertujuan menciptakan bank yang lebih kuat dan lebih besar serta mampu menawarkan produk maupun layanan yang lebih lengkap dan beragam kepada para nasabah. Sementara penggabungan operasional PT Bank CIMB Niaga Tbk dan PT Bank Lippo Tbk dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2009 (Single Platform Day 1). Dengan penggabungan ini, PT Bank CIMB Niaga Tbk memiliki aset mendekati Rp. 100 triliun, dan didukung hampir 11.000 karyawan profesional
59 yang siap melayani kebutuhan dan transaksi keuangan nasabah. Berbagai kemudahan pada saatnya juga dapat dinikmati nasabah di lebih dari 650 kantor cabang dan 1.450 jaringan ATM dan Self Service Terminal (SST) yang tersebar di 120 kota di Indonesia. PT Bank CIMB Niaga Tbk sekitar 77,75% sahamnya dimiliki oleh CIMB Group. CIMB Group merupakan penyedia jasa keuangan terbesar kedua di Malaysia dan salah satu kelompok usaha perbankan terkemuka di Asia Tenggara. Berkantor pusat di Kuala Lumpur dengan kantor regional di Singapura, Indonesia, Thailand, CIMB Group merupakan anak perusahaan Bumiputra-Commerce Holdings Bhd, dan sahamnya tercatat di Bursa Malaysia dengan kapitalisasi pasar mencapai lebih dari USD. 10 miliar. Jumlah karyawannya lebih dari 24.000 orang dan tersebar di 9 negara. 2. Visi Dan Misi PT Bank CIMB Niaga Tbk a. Visi Dan Misi PT Bank CIMB Niaga Tbk Menjadi Bank terpercaya di Indonesia, bagian dari jaringan universal banking terkemuka di Asia Tenggara, yang memahami kebutuhan nasabah, menyediakan solusi keuangan yang tepat dan komprehensif, serta menjalin hubungan yang berkelanjutan. b. Filosofi PT Bank CIMB Niaga Tbk (1) Orientasi kepada nasabah.
60 (2) Etika dan moral sebagai landasan kerja. (3) Manajemen dan karyawan sebagai aset utama dari perusahaan. (4) Iklim kerja yang mendukung kinerja, kreativitas dan motivasi kerja tinggi. (5) Komitmen dalam tanggung jawab sosial. c. Nilai Pokok Karyawan PT Bank CIMB Niaga Tbk (1) Integritas adalah segalanya. (2) Selalu menempatkan nasabah lebih dahulu. (3) Semangat untuk kesempurnaan. d. Falsafah Pelayanan PT Bank CIMB Niaga Tbk Melampaui kepuasan nasabah adalah tekad kami. 3. Struktur Organisasi Regional Operation Support Jabodetabek PT Bank CIMB Niaga Tbk Suatu organisasi memiliki tujuan yang ingin dicapai dan tujuan tersebut tidak dapat dicapai oleh individu-individu yang bekerja sendiri, atau jika mungkin hal tersebut dicapai secara lebih efisien melalui usaha kelompok. Dan untuk mencapainya suatu organisasi membutuhkan struktur organisasi. Struktur organisasi dimaksudkan untuk mengadakan pembagian tugas yang jelas dan menetapkan kedudukan seseorang didalam suatu organisasi/ perusahaan. Dengan adanya struktur organisasi yang jelas disertai dengan uraian tugas yang jelas bagi individu, maka diharapkan koordinasi akan lebih mudah dilakukan serta dapat menghindari adanya tugas/ pekerjaan yang saling tumpang tindih.
61 Struktur organisasi akan menunjukkan hierarki dan struktur wewenang organisasi serta memperlihatkan hubungan pelaporannya. Pada PT Bank CIMB Niaga Tbk struktur organisasinya yang diterapkan berbentuk garis dan staff. Bentuk struktur organisasi ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang besar yang memiliki daerah kerja yang luas serta mempunyai tugas yang banyak dan beraneka ragam. Direktorat Operation dan IT PT Bank CIMB Niaga Tbk membawahi 3 sub direktorat dan salah satunya adalah National Operation yang membawahi operasional seluruh cabang di Indonesia. Kemudian dibagi menjadi 4 Regional Operation dimana setiap regional terdapat Regional Operation Support. Tugas utama dari Regional Operation Support adalah : 1. Bertanggungjawab atas kelancaran proses dan kualitas pembuatan laporan internal dan eksternal, meliputi data financial dan non financial. 2. Melakukan analisa atas informasi financial dan non financial, informasi internal dan eksternal sehingga dapat dipergunakan sebagai navigator dalam pengambilan keputusan. 3. Menyakinkan kebenaran data financial dan non financial dan memonitor tindak lanjut oleh pihak-pihak terkait. 4. Menyakinkan proyek telah berjalan sesuai jadwal yang disepakati. 5. Menyakinkan tercapainya target-target Key Performace Indicator Regional.
62 6. Mendorong budaya inovasi dan risk awareness di lingkungan Regional. B. Metode Penelitian Dalam melakukan analisis Balanced Scorecard, Metode penelitian yang digunakan penulis dalam menyusun skripsi ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang bertujuan membuat deskripsi atau gambaran keadaan secara sistematis mengenai penerapan Balanced Scorecard sebagai pengukuran kinerja di bagian Regional Operation Support. Aktual dan akurat mengenai fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti, melalui pelaksanaan penelitian perpustakaan dan dokumenter serta eksperimen lapangan. C. Definisi Operasional Variabel Adapun variabel operasional yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : 1. Pengukuran kinerja yaitu upaya manajerial yang dilakukan untuk mengetahui apakah selama pelaksanaan kinerja terdapat deviasi dari target yang telah ditentukan, atau apakah kinerja dapat dilakukan sesuai target yang ditentukan, atau apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai yang target yang diharapkan. 2. Balanced Scorecard yaitu suatu sistem manajemen, pengukuran, dan pengendalian yang secara cepat, tepat, dan komprehensif dapat memberikan pemahaman kepada manager tentang performance bisnis. Balanced scorecard
63 juga memberikan kerangka berfikir untuk menjabarkan strategi perusahaan ke dalam segi operasional. Balanced scorecard memandang unit bisnis dari empat perspektif, yaitu : a. Perspektif keuangan, merupakan pengukuran kinerja keuangan yang menunjukan apakah perencanaan dan pelaksanaan strategi memberikan perbaikan yang mendasar bagi keuntungan perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan mempertimbangkan adanya tahapan dari siklus kehidupan bisnis, yaitu tahap pertumbuhan yang akan menekankan pada pertumbuhan penjualan, mempertahankan tingkat pengeluaran yang memadai untuk mengembangkan tingkat produk dan proses, sistem, kapabilitas pekerja, dan penetapan saluran pemasaran dan distribusi baru. Tahap bertahan akan bertumpu pada ukuran finansial tradisional, seperti ROCE, laba operasi, dan margin kotor. Terakhir tahap menuai dengan tujuan finansial perusahaan menekankan pada arus kas dimana setiap investasi harus menghasilkan pengembalian yang segera dan pasti. b. Perspektif pelanggan, merupakan peningkatan pengakuan atas pentingnya customer focus dan customer satisfaction dimana jika pelanggan tidak puas mereka akan mencari produsen lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Perspektif pelanggan memiliki dua kelompok pengukuran, yaitu customer core measurement : pangsa pasar, retensi pelanggan, akuisisi pelanggan, kepuasan pelanggan, profitabilitas pelanggan dan customer value propositions : atribut produk/jasa, hubungan pelanggan, citra dan reputasi. c. Perspektif proses bisnis internal, merupakan identifikasi proses internal bisnis yang kritis yang harus diunggulkan perusahaan. Pengukuran kinerja dalam
64 perspektif ini berpedoman pada : proses inovasi, proses operasi, proses pelayanan purna jual. d. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, merupakan proses pembelajaran dan pertumbuhan yang bersumber dari faktor sumber daya manusia, sistem, dan prosedur organisasi. Dalam perspektif ini, perusahaan melihat tolok ukur : employee capabilities, information system capabilities dan motivation, empowerment, dan alignment. D. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan pendekatan berikut : 1. Penelitian kepustakaan (library research). Penulis mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dari bahan-bahan kuliah, bahan bacaan di perpustakaan dan sumber-sumber lain untuk mendapatkan data-data berupa teori-teori penunjang yang berhubungan dengan judul dan isi skripsi ini. 2. Penelitian lapangan (field research). Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan penelitian ke perusahaan dimana penulis bekerja dengan cara yaitu mengamati secara langsung ke lokasi dengan mengadakan observasi dan interview dengan beberapa pihak terkait. a. Data primer, merupakan data yang didapat langsung dari tempat penulis melakukan penelitian serta hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait di perusahaan.
65 b. Data sekunder, merupakan data yang didapat dari literatur, buku-buku kepustakaan dan data sampel yang didapat dari perusahaan yaitu berupa balanced scorecard. E. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan penulis adalah sebagai berikut : 1. Deskriptif kuantitatif yaitu analisis data berdasarkan angka-angka bobot, target, aktual dan cara mengukur pencapaian balanced scorecard agar bisa mendeskripsikan secara sistematis sehingga data tersebut mempunyai makna untuk menjawab masalah dan tujuan penelitian. 2. Deskriptif kualitatif yaitu analisis data yang diperoleh dalam rangka menginterpretasikan data yang telah dianalisa dan dibandingkan dengan teori-teori yang ada untuk diambil suatu kesimpulan.