BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGARUH KOMPONEN MANAJEMEN KONSTRUKSI TERHADAP CAPAIAN MUTU PEMELIHARAAN PREVENTIF PERKERASAN KAKU

BAB I. PENDAHULUAN PENDAHULUAN

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN A.

KESIAPAN KONTRAKTOR TERHADAP KEBIJAKAN PRESERVASI JALAN NASIONAL DI SUMATERA SELATAN

FAKTOR DOMINAN PENENTU PELAKSANAAN PROYEK PLTU SKALA KECIL

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang marak dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. memuaskan bagi pihak kontraktor dan owner. Keberhasilan suatu kontruksi pasti

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

2017, No tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 12 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyiapan Infrastrukt

Tol Belmera Tersambung Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi April 2018

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

2016, No Rakyat tentang Kriteria Tipologi Unit Pelaksana Teknis di Bidang Pelaksanaan Jalan Nasional di Direktorat Jenderal Bina Marga; Menging

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kata-kata Kunci: Perkerasan kaku, overloading, esa (gandar standard setara), umur perkerasan.

Lampiran I.14 : PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014 PROVINSI :

BAB I. PENDAHULUAN 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PEMERINTAH PROVINSI RIAU

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2. Pra-studi kelayakan Studi kelayakan Rencana induk DED (Detail Engineering Design) Studi AMDAL...

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proyek adalah suatu urutan kegiatan dan peristiwa yang dirancang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

LONG SEGMENT SUBDIT STANDAR DAN PEDOMAN DIREKTORAT PRESERVASI JALAN DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT 1

5. Bagaimanakah menurut Saudara loket tempat penjualan karcis yang tersedia di terminal

Bendungan Teritip Akan Pasok Tambahan Air Baku 250 liter/detik Bagi Kota Balikpapan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan kelas utama di Indonesia. Sebagai

ANALISA BEBAN KENDARAAN TERHADAP DERAJAT KERUSAKAN JALAN DAN UMUR SISA

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

DATA AGREGAT KEPENDUDUKAN PER KECAMATAN (DAK2)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dimulai, dan kapan harus diselesaikan. Setiap pelaksanaan proyek konstruksi

PENGARUH KOMPONEN MANAJEMEN KONSTRUKSI TERHADAP CAPAIAN MUTU PEMELIHARAAN PREVENTIF PERKERASAN LENTUR

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera serta memegang

BAB II HASIL SURVEY. 2.1 Gambaran Umum Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII. Jenderal Bina Marga, Kementrian Pekerjaan Umum.

Rilis PUPR #1. 2 Juni 2018 SP.BIRKOM/VI/2018/263

SURAT EDARAN Nomor: 11 /SE/M/2017 TENTANG

PROGRAM PEMELIHARAAN JALAN NASIONAL BERDASARKAN NILAI KERATAAN PERMUKAAN, NILAI LENDUTAN, DAN NILAI MODULUS ELASTISITAS PERKERASAN

Kementerian PUPR Siapkan Skenario Urai Kemacetan di Lokasi Pembangunan Tol Cikampek II Elevated

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dari alokasi belanja modal sebesar 216,1 triliun rupiah, sebesar 203,7 triliun

Infrastruktur Jalan Tol Biaya Pemeliharaan Persentase Gerbang Tol Rp 7,596, %

Menteri Basuki : Layani Mudik, Infrastruktur Jalan Tahun Ini Lebih Siap Dibanding Sebelumnya

-2-2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Rep

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Rencana Jaringan Kereta Api di Pulau Sumatera Tahun 2030 (sumber: RIPNAS, Kemenhub, 2011)

Jurnal Teknik Sipil ISSN

KAJIAN PENERAPAN METODE KONTRAK TERHADAP KUALITAS JALAN

BAB. I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Jaringan jalan sebagai bagian dari sektor transportasi memiliki peran untuk

Pembangunan Infrastruktur Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Aceh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan jumlah kendaraan di Indonesia dari tahun ke tahun terus

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KATA PENGANTAR. Kami berharap klipping ini bermanfaat untuk monitoring media BPIW.

KATA PENGANTAR. Hormat kami. Tim penyusun

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pada dasarnya merupakan suatu proses rangkaian kegiatan yang

Keamanan Konstruksi : Kementerian PUPR Lakukan Penggantian 34 Strand Jembatan Raja Haji Fisabilillah di Batam

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 35/PRT/M/2006

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. perpindahan orang dan/atau barang secara massal dengan selamat, aman, nyaman,

LANGKAH DAN STRATEGI. Paparan Bupati Batu Bara. Pada Tanggal 08 Januari 2015 di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian R.

BAB II GAMBARAN UMUM BBPJN VIII. 2.1 Sejarah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII

CRITICAL SUCCES FACTORS PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN DI KABUPATEN PIDIE JAYA

EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PEMELIHARAAN JALAN SECARA SWAKELOLA ( Study Kasus Pada Peningkatan Jalan Harjosari Pendem Di Kabupaten Karanganyar )

Luas Baku Sawah (Ha) Bera Penggenangan

Kontraktor. Konsultan Pengawas. Konsultan Perencana

RISIKO KETERLAMBATAN PROGRES FISIK TERHADAP MUTU PELAKSANAAN JALAN NASIONAL DI PROVINSI SULAWESI UTARA

Wita Meutia Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil S1 Fakultas Teknik Universitas Riau Tel , Pekanbaru Riau,

BAB I PENDAHULUAN. Perancangan Peningkatan Ruas Jalan Ketapang Pasir Padi (KM PKP s/d KM PKP ) Di Kota Pangkalpinang Provinsi Kep.

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. perkembangan dunia konstruksi sekarang ini banyak sekali hal-hal yang

AB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. infrastruktur merupakan public service obligation, yaitu sesuatu yang

Menteri Basuki Instruksikan Konstruksi Tol Manado-Bitung Dikebut

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyelenggaraan infrastruktur jalan sangat terkait dengan usaha mempertahankan kondisi jalan eksisting. Efisiensi menjadi isu utama yang melatarbelakangi pentingnya memelihara kondisi jalan agar tetap mantap hingga mencapai umur rencana. Hasil penelitian menyebutkan bahwa untuk setiap $1 biaya pengeluaran dalam usaha pemeliharaan jalan, dapat menghemat/ menghindarkan potensi pengeluaran sebesar $3 - $10 untuk memperbaiki kerusakan jalan yang semakin lama semakin parah jika tidak segera ditangani (Michigan DOT). Kegiatan inilah yang disebut preservasi jalan: memelihara jalan di saat kondisinya masih baik. Kegiatan preservasi jalan di indonesia telah dilaksanakan sejak beberapa tahun yang lalu, akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar jalan di Indonesia rusak/ tidak mantap sebelum mencapai umur layan dan rencananya. Kondisi tersebut menggambarkan kegiatan preservasi jalan yang telah dilaksanakan masih jauh dari ideal. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai penyelenggara Jalan Nasional telah menyadari kondisi tersebut dan mulai bergerak untuk membenahi pengelolaan aset jalan, dengan mengedepankan kegiatan preservasi jalan dalam menangani ruas-ruas jalan nasional. Pelaksanaan preservasi jalan dipengaruhi oleh berbagai hal, salah satunya dari sisi manajemen penyelenggaraan jalan. Manajemen konstruksi yang baik akan sangat menentukan kualitas hasil pekerjaan, oleh karena itu setiap komponen manajemen konstruksi harus dikelola secara efektif dan efisien. Pengaruh masing-masing komponen manajemen konstruksi terhadap pencapaian mutu preservasi jalan perlu diketahui dalam rangka mencapai manajemen konstruksi yang efektif dan efisien. Hal ini bermanfaat untuk menentukan action selanjutnya: bagaimana mengelola 1

2 seluruh komponen manajemen konstruksi untuk mendapatkan mutu hasil pekerjaan yang baik. Pemeliharaan preventif adalah salah satu jenis preservasi jalan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 13 tahun 2011 tentang Tata Cara Pemeliharaan dan Penilik Jalan. Pemeliharaan preventif memiliki makna pemeliharaan jalan yang dilakukan sebelum terjadi kerusakan atau sebelum kerusakan yang lebih parah terjadi. Pemeliharaan preventif di Indonesia masih jarang diterapkan. Pemeliharaan jalan yang sering dilaksanakan berupa pemeliharaan korektif/ reaktif yang merupakan reaksi atas kerusakan yang telah terjadi, padahal jika dilihat dari efisiensi biaya penanganan, maka pemeliharaan preventif adalah kegiatan yang paling efisien, karena dilaksanakan pada saat kondisi jalan masih baik. Biaya penanganan yang lebih besar akan selalu menjadi kompensiasi setiap kerusakan yang terjadi. Komponen manajemen konstruksi pada kegiatan pemeliharaan preventif harus dapat dikelola dengan baik agar dapat mencapai mutu pekerjaan yang baik. Kontribusi dari masing-masing komponen terhadap capaian mutu juga penting untuk diketahui, agar pekerjaan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan besaran kontribusi dimaksud, khususnya pada kegiatan pemeliharaan perkerasan kaku. Cakupan wilayah penelitian ini adalah di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau (Kepri). Responden penelitian adalah para stakeholder yang berperan dalam penanganan Jalan Nasional di wilayah kedua provinsi tersebut. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 248/KPTS/M/M/2015 tentang Penetapan Ruas Jalan Dalam Jaringan Jalan Primer Menurut Fungsinya sebagai Jalan Arteri (JAP) dan Jalan Kolektor-1 (JKP-1) menyebutkan total panjang Jalan Nasional di kedua provinsi tersebut adalah 1923,44 km. Keseluruhan ruas Jalan Nasional tersebut ditangani oleh 5 PPK di Provinsi Kepri dan 11 PPK di Provinsi Riau.

3 Data kondisi Jalan Nasional yang dirilis Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II (BBPJN II) menyebutkan bahwa di Provinsi Riau jalan dengan kondisi baik sepanjang 972,30 km; jalan kondisi sedang 280,86 km; jalan kondisi rusak ringan 31,66 km; dan kondisi rusak berat 51,80 km; sedangkan di Provinsi Kepulauan Riau jalan kondisi baik sepanjang 445,70 km; jalan kondisi sedang 63,42 km; jalan kondisi rusak ringan 77,60 km; serta jalan kondisi rusak berat 0,1 km. Gambar 1.1 menjelaskan kondisi Jalan Nasional di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Ruas Jalan Nasional dengan perkerasan kaku pada kedua provinsi tersebar di 25 ruas jalan, dengan panjang total 253,21 km. Tabel 1.1 menunjukan daftar ruas Jalan Nasional di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau dengan tipe perkerasan rigid pavement (perkerasan kaku). Baik Sedang Kondisi Mantap = 1762,28 km (91,62%) Rusak Ringan Kondisi Tidak Mantap = 161,16 km (8,38%) Rusak Berat 0 500 1000 1500 (Km) Riau Kepri (Sumber: Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II, 2015) Gambar 1.1 Kondisi Jalan Nasional di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau

4 Tabel 1.1 Daftar ruas Jalan Nasional di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau dengan tipe perkerasan rigid pavement No. No.Ruas Nama Ruas Jalan Panjang Ruas (km) Panjang Perkerasan Lokasi Kaku (km) 1 003 Simapang Balam - Simpang Batang 52,92 3,44 Riau 2 004 Simpang Batang - Batas Kota Dumai 13,82 9,80 Riau 3 005 Batas kota Dumai - Simpang 17,26 7,84 Riau Terminal 4 006 Simpang Batang- Simpang Kulim 13,29 13,29 Riau 5 007 Batas Kota Dumai - Duri 44,10 17,95 Riau 6 007 Jalan Soekarno Hatta - Pinang 27,81 22,38 Riau.13.K Kampai I (Dumai) 7 007.14.K Jalan Putri Tujuh (Dumai) 3,45 3,45 Riau 8 007.15.K Jalan Datuk Laksamana (Dumai) 2,50 2,50 Riau 9 008 Duri - Kandis 59,06 23,10 Riau 10 009 Kandis - Batas Kabupaten Bengkalis 41,67 14,22 Riau 11 011 Sikijang Mati - Simpang Lago 30,30 7,69 Riau 12 012 Simpang Lago - Sorek I 50,53 13,82 Riau 13 013 Sorek I - Batas Kab.InHu 37,80 6,85 Riau 14 014 Batas Kab.InHu - Simpang Japura 24,87 5,76 Riau 15 015 Simpang Japura - Pematang Reba 16,70 4,93 Riau 16 016 Pematang Reba - Siberida 49,23 17,93 Riau 17 017 Siberida - Batas Provinsi Jambi 50,91 41,36 Riau 18 019 Batas Kab.Kampar - Batas Kota 41,04 4,04 Riau Bangkinang 19 021.11.K Rantau Berangin - Batas 33,10 1,10 Riau Prov.Sumbar 20 022.11.K Jl. Kaharudin Nasution (Pekanbaru) - 6,76 0,20 Riau Marpoyan 21 034 Sp.Ujung Tanjung - Bagan Siapi-api 66,85 6,00 Riau 22 036 Sp.Terminal - Sp.Purnama 1,75 1,75 Riau (Pelabuhan Penyeberangan Ro-Ro) 23 041 Sei Akar - Bagan Jaya 56,50 12,70 Riau 24 012.12 Batu Aji - Tanjung Uncang 9,09 9,09 Kep. Riau 25 034.11 Jl. Duyung (pelabuhan Batu Ampar - 3,90 2,00 Kep. Riau Sp.Baloi) Total Panjang Perkerasan Kaku 253,21 (Sumber: Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II, 2015) 1.2. Rumusan Masalah Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: a) Bagaimana mutu hasil pekerjaan yang diinginkan dalam pemeliharaan preventif perkerasan kaku;

5 b) Apa komponen manajemen konstruksi yang mempengaruhi capaian mutu pemeliharaan preventif perkerasan kaku; c) Bagaimana komponen manajemen konstruksi tersebut berkontribusi terhadap capaian mutu pemeliharaan preventif perkerasan kaku. 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah: a) Mengetahui karakteristik mutu hasil pekerjaan yang diinginkan dalam pemeliharaan preventif perkerasan kaku; b) Mengetahui komponen manajemen konstruksi yang mempengaruhi capaian mutu pemeliharaan preventif perkerasan kaku; c) Mengetahui kontribusi dari masing-masing komponen manajemen konstruksi terhadap pencapaian mutu pemeliharaan preventif perkerasan kaku. 1.4. Batasan Penelitian Batasan penelitian ini meliputi: a) Cakupan wilayah penelitian adalah Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Survei dilaksanakan terhadap para stakeholder yang berperan dalam penanganan Jalan Nasional di wilayah kedua provinsi tersebut; b) Tipe perkerasan yang diteliti adalah perkerasan kaku (rigid pavement); c) Indikator proses dan pasca pelaksanaan pemeliharaan preventif yang dibahas dalam penelitian ini terbatas pada indikator yang didefinisikan penulis, berdasarkan teori dan pengalaman bekerja. Faktor lalu lintas yang mempengaruhi ruang kerja dan beban lalu lintas dalam pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan tidak diperhitungkan dalam penelitian ini; d) Proses analisa data dalam penelitian ini menggunakan prosedur Structural Equation Modeling (SEM) dengan alat bantu software Amos 21. 1.5. Manfaat Penelitian Manfaat dari pelaksanaan penelitian ini adalah:

6 a) Karakteristik mutu pemeliharaan preventif perkerasan kaku yang didapatkan dari penelitian dapat digunakan sebagai bahan penilaian hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan; b) Kontribusi dari masing-masing komponen manajemen konstruksi yang didapatkan, diharapkan menjadi masukan yang baik bagi penyelenggara jalan dalam rangka pengelolaan aset jalan secara efektif dan efisien. 1.6. Keaslian Penelitian Penelitian tentang manajemen konstruksi dan preservasi jalan yang telah dilakukan sebelum penelitian ini dilaksanakan antara lain: a) Gunawan et al. (2014), dengan judul Critical Succes Factors Pelaksanaan Proyek Konstruksi Jalan dan Jembatan di Kabupaten Pidie Jaya. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi 5 kategori teratas dan 10 critical succes factors dalam pelaksanaan proyek jalan dan jembatan di Dinas Pekerjaan Umum Bidang Bina Marga Kabupaten Pidie Jaya. Pengumpulan data primer dilakukan melalui survei kuesioner dengan target responden adalah owner dan kontraktor yang terlibat dalam konstruksi jalan dan jembatan Tahun Anggaran 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang mempengaruhi kesuksesan pelaksanaan proyek konstruksi jalan dan jembatan di Kabupaten Pidie Jaya meliputi peringkat 5 teratas kategori critical succes factors terdiri atas: kategori kontraktor, kategori konsultan/tim perencana, kategori manajemen proyek, kategori manajer proyek, dan kategori owner; sedangkan peringkat 10 teratas critical succes factors adalah faktor kemampuan menyelesaikan masalah, sistem komunikasi, efektifitas membuat keputusan, penekanan owner pada mutu tinggi konstruksi, monitoring proyek, keahlian memimpin manajer proyek, kemampuan teknik manajer proyek, penekanan owner pada konstruksi yang cepat, manajemen proyek owner, dan kecukupan dana. Perbedaan mendasar antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah pada alat uji yang digunakan. Penelitian ini menggunakan analisa relative importance index untuk menentukan tingkat kepentingan kategori dan faktor. Proses analisis dilakukan dalam 2 tahap,

7 masing-masing untuk menguji kategori dan faktor. Penelitian yang akan dilaksanakan menggunakan alat uji Structural Equation Modelling (SEM) yang dapat menganalisis tingkat kepentingan kategori (variabel laten) dan faktor (variabel manifes) sekaligus dalam satu operasi, sehingga proses analisa yang dilakukan lebih ringkas. Perbedaan lainnya adalah pada daftar respondennya. Gunawan et al. (2014) melakukan penelitian dengan responden dari kelompok owner dan kontraktor, sedangkan responden pada penelitian yang akan dilaksanakan berasal dari owner, kontraktor, dan konsultan. b) Pakseresht dan Asgari (2012), dengan judul Determining the Critical Success Factors in Construction Projects: AHP Approach. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menyusun rangking critical success factors dalam proyek konstruksi Pars gama Company. Hasil penelitian menempatkan Logistik di urutan teratas kriteria dari critical success factors disusul manajemen proyek dan manajer proyek di tempat kedua dan ketiga; sedangkan critical success factor yang menempati 3 urutan teratas adalah asesmen teknis dan ekonomi dari sumber daya yang digunakan dalam proyek, pengalaman dan track record manajer proyek, dan rencana strategis proyek. Perbedaan mendasar antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah pada alat uji yang digunakan. Penelitian ini menggunakan Analysis Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan tingkat kepentingan kriteria dan faktor, sedangkan penelitian yang akan dilaksanakan menggunakan alat uji Structural Equation Modelling (SEM). Perbedaan lainnya adalah pada tinjauan kesuksesan proyek. Penelitian ini tidak mendefinisikan kesuksesan secara spesifik dan masih bersifat umum, sedangkan pada penelitian yang akan dilaksanakan kesuksesan proyek ditinjau dari aspek capaian mutu preservasi jalan c) Shatnawi et al. (2009), dengan judul California s Perspective on Concrete Pavement Preservation. Penelitian ini merupakan hasil pengamatan atas pelaksanaan preservasi jalan di Negara Bagian California, Amerika Serikat. Penelitian ini menjelaskan beberapa hal tentang pelaksanaan preservasi

8 perkerasan kaku, meliputi: pengembangan Panduan Teknis Pemeliharaan (Maintenance Technical Advisory Guide/ MTAG-1) untuk preservasi perkerasan kaku; kinerja proyek diamond-grinding beserta manfaat yang dapat diperoleh: perpanjangan umur layan, peningkatan kualitas berkendara, dan reduksi kebisingan; kinerja dowel bar retrofits dan feed back yang didapatkan dari beberapa proyek; kinerja full-depth slab repair, khususnya dalam penggunaan beton berkekuatan tinggi (Rapid Strength Concrete/ RSC). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah pada objek penelitiannnya. Shatnawi et al. (2009) meneliti tentang permasalahan teknis dalam pelaksanaan preservasi jalan, sedangkan penelitian yang akan dilaksanakan menganalisis pengaruh aspek manajemen konstruksi dalam pencapaian mutu preservasi jalan.