BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pencekungan cupping diskus optikus dan penyempitan lapang pandang yang

ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki efek yang kuat dalam menurunkan tekanan intraokular (TIO)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kecepatan produksi humor aquous, tahanan terhadap aliran keluarnya humor

BAB 1 PENDAHULUAN. kebutaan baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut World Health. (10,2%), age-macular degeneration (AMD) (8,7%), trakhoma (3,6%),

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menempati ruang anterior dan posterior dalam mata. Humor akuos

BAB I PENDAHULUAN. secara efektif. Diabetes Melitus diklasifikasikan menjadi DM tipe 1 yang terjadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

Ketebalan retina kira-kira 0,1 mm pada ora serata dan 0,56 mm pada kutub posterior. Di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm

LAP. LUAR/TUNIKA FIBROSA/KORNEOSKLERAL SKLERA KORNEA 1. SKLERA Merupakan 5/6 bagian posterior bola mata. Pd manusia membtk segmen melengkung. Tdd jar.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kornea merupakan jaringan transparan avaskular yang berada di dinding depan bola mata. Kornea mempunyai fungsi

GLAUKOMA DEFINISI, KLASIFIKASI, EPIDEMIOLOGI, ETIOLOGI, DAN FAKTOR RISIKO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.1. Struktur interna dari mata manusia (Junqueria, 2007)

Diagnosa banding MATA MERAH

GLAUKOMA ABSOLUT POST TRABEKULEKTOMI DAN GLAUKOMA POST PERIFER IRIDEKTOMI

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

SISTEM KOORDINASI RITA WAHYUNINGSIH SMA NEGERI 5 MATARAM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata dan menjadi penyebab

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TRAUMA PADA KORNEA DI RUANG MATA RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA. Trauma Mata Pada Kornea

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1. Anatomi Mata

LAPORAN KASUS GLAUKOMA KRONIK

5/30/2013. dr. Annisa Fitria. Hipertensi. 140 mmhg / 90 mmhg

AQUEOUS HUMOR. Dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, SpM NIP :

BAB I PENDAHULUAN. dimana kedua mata terdapat perbedaan kekuatan refraksi. 1,2

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2013 ANATOMI MATA. dr. H. SUTARA

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Astigmatisma adalah kelainan refraksi yang mencegah berkas. Pada astigmatisma, mata menghasilkan suatu bayangan dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti tulang frontal, sphenoid, maxilla, zygomatic, greater wing of. sphenoid, lacrimal, dan ethmoid (Rizzo, 2001).

BAB I PENDAHULUAN. fibrovaskuler menyerupai sayap, merupakan lipatan dari konjungtiva yang

Pengkajian Sistem Penglihatan Mula Tarigan, SKp. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ENTROPION PADA KUCING

LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA

PERUBAHAN TEAR FILM SETELAH PEMBERIAN SERUM AUTOLOGUS TETES MATA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 TESIS

BAB I PENDAHULUAN. pasien datang berobat ke dokter mata. Penyebab mata berair adalah gangguan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

BAB I LAPORAN KASUS. ANAMNESIS Keluhan utama : Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 4 hari lalu.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Obat Diabetes Melitus Dapat Menghindari Komplikasi Mata Serius

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015

1.1PENGERTIAN NYERI 1.2 MEKANISME NYERI

JARINGAN DASAR HEWAN. Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Glaukoma adalah suatu neuropati kronik di dapat yang ditandai oleh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan menyempitnya lapang

PENGARUH INJEKSI ANTI-VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR (ANTI-VEGF) TERHADAP GRADE TRANSLUSENSI DAN PANJANG PTERIGIUM PRIMER

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pengalaman emosional yang berkaitan dengan kerusakan atau potensi kerusakan

LAPORAN PENDAHULUAN GLAUKOMA STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DI RUMAH SAKIT UMUM BANYUMAS. Oleh: Rizka Rahmaharyanti, S.

BAB I PENDAHULUAN. utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan. Glaukoma umumnya

Author : Aulia Rahman, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau. Pekanbaru, Riau. Files of DrsMed FK UNRI (

Reseptor merupakan unit sensoris yang berfungsi menyampaikan informasi dunia luar kesusunan saraf pusat Struktur ini mengubah rangsangan ( panas, teka

BAB II ANATOMI. Sebelum memahami lebih dalam tentang jenis-jenis trauma yang dapat terjadi pada mata,

Artikel Penelitian. Achmad Mustofa 1,Ninik Mas Ulfa 2*), Mercyska Suryandari 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kualitas udara dalam ruangan (Indoor Air Quality) mengacu kepada

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN

11/29/2013 PENGINDERAAN ADALAH ORGAN- ORGAN AKHIR YANG DIKHUSUSKAN UNTUK MENERIMA JENIS RANGSANGAN TERTENTU

1. Bagian sel saraf yang membungkus akson dan berfungsi sebagai isolator adalah

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

PENDAHULUAN. Perut terisi makanan lambung diperintah untuk mencerna

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih.

BAB 1 PENDAHULUAN. diabetes retinopati (1%), penyebab lain (18%). Untuk di negara kita, Indonesia

Struktur Anatomi Mata dan Mekanisme Penglihatan

SEL SARAF MENURUT BENTUK DAN FUNGSI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG LAPORAN KASUS CORPUS ALIENUM. Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

Definisi Bell s palsy

ACUTE GLAUCOMA ON RIGHT EYE

HUBUNGAN SENSIBILITAS KORNEA DENGAN KADAR HBA1C PADA PASIEN DIABETES MELITUS

BAB 1 PENDAHULUAN. Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dikatakan sebagai mukosa mastikasi yang meliputi gingiva dan palatum keras.

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 3. Sistem Koordinasi dan Alat InderaLatihan Soal 3.2

BAB I ORGANISASI ORGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Lakukan pemeriksaan visus, refraksi terbaik dan segmen anterior.anamnesis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUGAS 3 SISTEM PORTAL

FARMAKOTERAPI ASMA. H M. Bakhriansyah Bagian Farmakologi FK UNLAM

BAB 3 PENURUNAN KESADARAN

Transkripsi:

6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sensibilitas Kornea 2.1.1 Kornea Kornea merupakan suatu jaringan yang tidak berwarna, transparan, dan avaskuler. Secara histologis kornea memiliki 5 lapisan, dari anterior ke posterior yaitu : lapisan epitel, membrana Bowman, stroma, membran Descement dan lapisan endotel. Lapisan epitel terdiri dari lima sampai enam lapis sel skuamus non keratin, di bagian basalnya terdapat beberapa badan mitotik sehingga lapisan ini mempunyai kemampuan yang tinggi untuk memperbarui dan memperbaiki diri. Selain itu, lapisan ini juga memiliki mikrovili, lapisan air mata dan banyak sekali saraf sensoris, yang semuanya itu berfungsi sebagai pelindung. Membrana basemen pada kornea sangat tebal dan berfungsi sebagai kekuatan kornea, stabilitator, dan untuk melindungi stroma dari infeksi. Stroma kornea merupakan 90% dari seluruh ketebalan kornea, terdiri dari kolagen yang tersusun secara lamelar. Membran Descement merupakan membran dasar yang tebal dan tersusun dari serat-serat kolagen. Paling posterior, endotel, lapisan ini tersusun dari epitel skuamus selapis. Pada dinding sel ini mempunyai pompa natrium, dengan fungsi utamanya adalah mengeluarkan

7 kelebihan natrium ke dalam kamera okuli anterior. Lalu ion klorida dan air akan mengikuti secara pasif. Selain itu endotel juga berfungsi menyerap kelebihan cairan di dalam stroma, dan bila kelebihan cairan tersebut tidak dapat dikeluarkan, kornea akan menjadi buram. 910 Kornea bersifat avaskular sehingga nutrisi didapatkan dengan cara difusi dari pembuluh darah perifer di dalam limbus dan dari aquous humor di bagian tengah. Persarafan pada kornea berasal dari cabang oftalmikus saraf trigeminus, melalui saraf siliaris anterior dan saraf maxillaris. Limbus dan kornea perifer menerima persarafan simpatik dari ganglion servikal superior. Saraf tersebut memasuki kornea pada sepertiga tengah stroma menuju anterior secara radial ke arah pusat kornea. Sekitar 1 mm dari limbus, saraf kornea mulai kehilangan selubung myelin sehingga disebut saraf telanjang. Saraf ini mempersarafi lapisan anterior dan pertengahan stroma. Pada pertengahan antara lapisan Bowman dan stroma anterior, persarafan stroma membentuk pleksus saraf subepitel yang kemudian berjalan menembus membran bowman dan membentuk pleksus saraf epitel subbasal. Pleksus saraf subbasal berfungsi untuk regulasi nutrisi, proliferasi sel dan penyembuhan luka, dimana jika terjadi gangguan akan mengubah morfologi dan fungsi epitel, lapisan air mata dan penyembuhan luka yang terganggu. 1112

8 Gambar 1. Histologi Kornea 13 2.1.2 Sensibilitas kornea Sensibilitas kornea merupakan kepekaan kornea terhadap rangsang. Hal ini memberikan gambaran dari persarafan kornea. Sensibilitas yang baik mencerminkan keadaan kornea yang baik secara struktural dan fungsional. Sensibilitas kornea berbeda-beda pada tiap permukaan kornea. 14 Berdasarkan penelitian oleh Boberg-Ans, didapatkan kepekaan kornea dengan hasil sebagai berikut: 1. Daerah sentral dengan diameter 5 mm merupakan daerah yang paling peka yaitu dengan tekanan < 15 mg/mm 2. 2. Daerah parasentral meridian horizontal dengan tekanan 15-20 mg/mm 2. 3. Daerah parasentral inferior dengan tekanan 15-25 mg/mm 2. 4. Daerah parasentral superior dengan tekanan 15-50 mg/mm 2. 15

9 Pengurangan sensitivitas (hipoestesia) kornea dapat terjadi jika ada penurunan regenerasi pada pleksus sub basal. Penyebabnya dapat berupa fisiologis maupun patologis. Yang termasuk hipoestesia fisiologis diantaranya : penuaan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Anna M. Roszkowska, akan terjadi penurunan sensibiliras kornea pada usia lebih dari 65 tahun, siklus menstruasi, kehamilan, dan adanya variasi pada palpebra. 1617 Sedangkan hipoestesia patologis terjadi pada pasien dengan diabetic neuropati, herpes simpleks keratitis, myasthenia gravis, inflamasi kronik, infeksi, distofi kornea, dry eye menetap, keratokokus, dan trakoma. 111817 2.1.3 Estesiometer Gambar 2. Skema persarafan pada kornea 19

10 Salah satu cara pengukuran sensibilitas kornea yang banyak dan mudah digunakan yaitu dengan kapas pilin, namun hasil yang didapat hanya bersifat kualitatif. Untuk mengujinya secara kuantitatif, menggunakan alat yang disebut estesiometer. Saat ini, estesiometer yang masih banyak digunakan adalah Estesiometer Cochet Bonnet. Alat ini digunakan untuk menentukan sensitivitas kornea dengan mengevaluasi CTT. Pada estesiometer ini terdapat benang nilon yang dapat disesuaikan dengan diameter tertentu. Nantinya akan diaplikasikan pada kornea dengan panjang yang berbeda-beda pada 5 daerah yang sudah ditentukan. Panjang dari filament nilon tersebut merupakan perkiraan dari tekanan yang diaplikasikan pada permukaan kornea. Semakin pendek filamennya, maka semakin besar tekanan pada kornea, berlaku pula sebaliknya. Corneal touch threshold tercapai ketika diperoleh reflek mengedip yang konsisten dan terusmenerus dengan tekanan yang sama. 20 Gambar 3. Cochet-Bonnet aesthesiometer 2.2 Glaukoma 2.1.1 Aliran humor aquous

11 Pada sistem vena, humor aquos diproduksi oleh prosesus ciliaris masuk melewati kamera okuli posterior menuju kamera okuli anterior melalui pupil. Setelah melewati kamera okuli anterior cairan humor aquos menuju trabekula meshwork ke angulus iridokornealis dan menuju kanalis Schlemm yang akhirnya masuk ke sistem vena. Aliran humor aquos akan melewati jaringan trabekulum sekitar 90 %. Sedangkan sebagian kecil humor aquos keluar melalui jalur uveosklera, yaitu dari mata melalui otot siliaris menuju ruang suprakoroid untuk selanjutnya keluar melalui sklera atau saraf maupun pembuluh darah. 2.1.2 Patofisiologi glaukoma Gambar 4. Aliran humor aquous 21

12 Penurunan penglihatan menetap pada glaukoma terjadi karena adanya apoptosis sel ganglion retina yang menyebabkan penipisan lapisan serabut saraf dan lapisan inti dalam retina serta berkurangnya akson di nervus optikus, akibatnya diskus optikus menjadi atrofi disertai pembesaran cawan optik. Kerusakan saraf ini diduga utamanya dipengaruhi oleh peningkatan tekanan intraokuler. Semakin tinggi tekanan intraokuler semakin besar kerusakan saraf pada bola mata. Pada bola mata normal tekanan intraokuler memiliki kisaran 10-22 mmhg, sedangkan pada glaukoma sudut tertutup akut dapat mencapai 60-80 mmhg. 22 Peningkatan tekanan intra okuler sering terjadi karena perubahan dinamik pada aquous humor akibat perubahan pada trabekular meshwork yang menyebabkan drainase tidak berfungsi. 23 2.1.3 Pendekatan Terapi Sampai saat ini, modulasi peningkatan tekanan intra okuler adalah satu-satunya metode intervensi terapi, yaitu dengan cara mensupresi pembentukan humor aquous atau memfasilitasi aliran keluar humor aquous. Supresi pembentukan humor aquous dapat dilakukan dengan pemberian golongan β andregenik bloker, golongan α2-andregenik agonis dan penghambat karbonat anhidrase. Sedangkan untuk memfasilitasi aliran keluar humor aquous dapat digunakan agen paratosimpatetik dan analog prostaglandin. 23

13 2.3 Beta blocker Beta blocker topikal menurunkan TIO dengan memblok saraf simpatis pada epithelium siliaris yang akan menyebabkan penurunan produksi aquous humor. Ada 2 tipe yang tersedia untuk penggunaan pada glaukoma : nonselektif yang memblok reseptor beta 1 dan beta 2 contohnya timolol, levobunolol, metipranolol dan carteolol,dan cardioselektif yang hanya memblok reseptor beta 1 seperti betaxolol. Penggunaan timolol 2 kali sehari diduga paling efektif untuk menurunkan TIO, walaupun levobunolol juga sama efektifnya dan bisa digunakan sekali sehari dengan perbedaan efek yang hanya sedikit. Carteolol digunakan 2 kali sehari dan secara tori ada kelebihan dapat mengurangi efek samping yang diakibatkan oleh aktivitas beta agonis parsial, dibanding dengan timolol yang belum sepenuhnya terbukti. Metilpranolol efektif digunakan 2 kali sehari dan tidak mempunyai aktivitas beta agonis parsial. Betaxolol mempunyai efek yang sebanding dengan timolol dalam menurunkan TIO, tapi kurang efektif pada beberapa pasien dan menimbulkan rasa perih pada beberapa pasien. Efek samping yang paling serius dari beta bloker nonselektif adalah memperburuk penyakit obstruksi jalan napas kronik dan dapat terjadi bronkospasme mendadak pada beberapa pasien, sehingga penggunaan secara hatihati harus diajarkan kepada pasien dengan sejarah penyakit pernapasan. Betaxolol relatif bebas dari efek respiratori, karena itu betaxolol merupakan pilihan pertama pada glaukoma. Timolol atau levobunolol merupakan pilihan lain untuk pasien

14 yang tidak merasa puas dengan penggunaan betaxolol namun dengan catatan bebas dari penyakit pernapasan. Beta bloker dapat digunakan bersamaan dengan obat-obat antiglaukoma lain, akan tetapi kombinasi dengan adrenalin tidak dianjurkan, terutama pada beta bloker non selektif. 24 2.1.1 Mekanisme kerja Beta bloker bekerja pada sistem saraf pusat dengan cara memblokade beta reseptor di batang otak, sedangkan pada sistem saraf perifer obat ini bekerja di prejunctional reseptor beta sehingga menghambat pelepasan neurotransmitter dan menurunkan aktivitas simpatik. 25 Tabel 1. Dosis regimen, durasi aksi dan efek samping beta bloker yang digunakan pada terapi glaukoma 26 Agen Dosis regimen Durasi Efek samping aksi Timolol 0.25-0.5% tetes 2 kali sehari 12-24 jam Mata : iritasi, hiperemis konjungtiva. Betaxolol 0.5% tetes 2 kali sehari Sistemik : nyeri kepala, palpitasi, berkeringat 12 jam Efek samping lebih sedikit dibanding timolol Levobuno 0.5% tetes 1-2 kali 12-24 jam Perih, bradikardi, hipotensi

15 lol Metoprol ol Carteolol sehari 0.3% atau 0.6% tetes 2 kali sehari 1% tetes 1-2 kali sehari 12-24 jam Mata : hiperemis konjungtiva, penglihatan kabur, fotofobia. Sistemik : Efek samping pada jantung dan pernapasan, reaksi alergi, nyeri kepala, mual, rasa cemas 12 jam Mata : iritasi, hiperemis konjungtiva. Sistemik : nyeri kepala, palpitasi, berkeringat

16 2.4 Kerangka Teori Glaukoma TIO Usia Beta blocker Sensibilitas kornea Dry eye Penyakit sistemik : Diabetes mellitus Kelainan pada kornea: Per adangan Sikatrik Kelainan Degenerasi Penyakit mata : Lepra Herpes zoster oftalmikus Riwayat operasi mata 2.5 Kerangka konsep Beta bloker Sensibilitas kornea 2.6 Hipotesis Penggunaan beta blocker berpengaruh terhadap sensibilitas kornea.