BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Permainan sepak bola merupakan salah satu olahraga endurance beregu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Prestasi olahraga yang menurun bahkan di tingkat ASEAN menjadi suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. gizi olahraga yang benar dan professional (Depkes RI, 2002).

BAB 1 : PENDAHULUAN. diperlukan dalam mensuplai energi untuk aktifitas fisik (1).

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. melekat kecintaanya terhadap cabang olahraga ini. Sepuluh tahun terakhir ini

I. PENDAHULUAN. Jepang yang terdiri dari dua kata yaitu kara dan te, jika disatukan dalam satu

BAB I PENDAHULUAN. golongan, mulai dari golongan muda sampai tua. Sepak bola adalah permainan

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga merupakan aktivitas untuk meningkatkan stamina tubuh yang

METODE PENELITIAN. Desain, Waktu, dan Tempat

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

HUBUNGAN ASUPAN GIZI MAKAN PAGI DAN MAKAN SIANG DENGAN STATUS GIZI DAN KESEGARAN JASMANI PADA ANAK SEKOLAH DASAR NEGERI TEMBALANG SEMARANG TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. remaja akhir dan dewasa awal berdasarkan tahap perkembangannya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Serikat pada tahun 1891 dari sebuah sekolah pelatihan fisik (Young Men s

METODOLOGI Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sepak bola merupakan cabang olahraga yang sudah memasyarakat dan

BAB I PENDAHULUAN. dan kekuatan. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Tim Nasional PSSI

BAB I PENDAHULUAN. Sepak bola merupakan olahraga yang paling populer di Indonesia. Hal

LEMBAR PERSETUJUAN...

PENGARUH LATIHAN DAYA TAHAN (ENDURANCE) TERHADAP PENINGKATAN VO2MAX PEMAIN SEPAKBOLA

BAB V PEMBAHASAN. jam yang dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada hari latihan dan hari tidak

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa

Bagan Kerangka Pemikiran "##

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga adalah aktivitas fisik yang bertujuan untuk meningkatkan

2015 KONTRIBUSI DENYUT NADI ISTIRAHAT DAN KAPASITAS VITAL PARU-PARU TERHADAP KAPASITAS AEROBIK

BAB I PENDAHULUAN. Pencak silat merupakan bela diri asli Indonesia yang sudah diakui dunia.

PENGARUH METODE LATIHAN DAN INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP DAYA TAHAN AEROB PEMAIN BULUTANGKIS PUTRA PB PG MRICAN KEDIRI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. anaerobik adalah lari cepat jarak pendek, interval training, lari seratus. yard, renang sprint, serta bersepeda cepat.

PROGRAM STUDI PENJASKESREK FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2015

BAB I PENDAHULUAN. sekolah 6-12 tahun. Anak sekolah mempunyai karakter mudah terpengaruh

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga saat ini telah menjadi kebutuhan setiap individu karena

BAB I PENDAHULUAN. Tubuh manusia dirancang oleh Tuhan untuk bergerak dalam melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan olahraga permainan khususnya sepak bola

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN TINGKAT KONSUMSI KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN LEMAK DENGAN KESEGARAN JASMANI ANAK SEKOLAH DASAR DI SD N KARTASURA I SKRIPSI

BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS

MODUL 9 KEBUTUHAN ZAT GIZI DAN JUMLAH KALORI YANG DIPERLUKAN OLEH ATLET

BAB III METODE PENELITIAN

PROFIL VO2MAX DAN DENYUT NADI MAKSIMAL PEMAIN DIKLAT PERSIB U-21

BAB I PENDAHULUAN. landasan awal dalam pencapaian prestasi (M. Sajoto, 1988)

BAB I PENDAHULUAN. tahan aerobik yang baik diperlukan tingkat VO 2 max yang tinggi. Banyak faktor

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERBEDAAN NILAI KAPASITAS VO 2 MAKSIMUM PADA ATLIT SEPAK BOLA DENGAN FUTSAL DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015 DAMPAK LATIHAN FARTLEK TERHADAP PENINGKATAN V02MAX.

GIZI KESEHATAN MASYARAKAT. Dr. TRI NISWATI UTAMI, M.Kes

BAB I PENDAHULUAN. (Mahardikawati & Roosita 2008). Menurut Kartasapoetra 2002 (dalam. Riwu 2011), aktifitas fisik adalah pergerakan anggota tubuh yang

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN TINGKAT VO 2 MAX PEMAIN SEPAK BOLA STKIP BBG. Didi Yudha Pranata 1. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. diemban. Kebugaran jasmani dipertahankan dengan berbagai bentuk latihan.

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, masalah gizi perlu mendapatkan perhatian dari

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi memiliki istilah lain yaitu silent killer dikarenakan penyakit ini

Specific Dynamic Action

GANGGUAN PERILAKU MAKAN DAN TINGKAT KECUKUPAN ENERGI PROTEIN TERHADAP KEBUGARAN JASMANI PEMAIN SEPAK BOLA IKOR FIK UNESA

METODE Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN LARI AEROBIK DAN LATIHAN RENANG TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN

BAB I PENDAHULUAN. membuat penampilan menarik, kebugaran jasmani mempunyai fungsi yang

BAB I PENDAHULUAN. Usia remaja merupakan usia peralihan dari masa anak-anak menuju

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Olahraga semakin lama mendapat tempat di dunia kesehatan sebagai salah

BAB I PENDAHULUAN. Sepak bola merupakan salah satu olahraga populer di dunia. Olahraga ini


DAFTAR ISI... HALAMAN SAMPUL MUKA.. HALAMAN JUDUL...

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

sebagainya. Menurut Susan M Sawyer et al, 2012 masa remaja merupakan salah satu fase kehidupan saat fungsi fisik hampir mencapai puncaknya.

BAB I PENDAHULUAN. masih cukup tinggi (Paramurthi, 2014). Pada tahun 2014, lebih dari 1,9 miliar

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada

BAB I PENDAHULUAN. manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Volume O2max ini

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang memerlukan zat gizi untuk hidup, tumbuh, berkembang, Energi dibutuhkan oleh setiap orang untuk mempertahankan hidup,

I. PENDAHULUAN. kegiatan-kegiatan seperti: Sea Games, Asean Games, dan Olimpiade, PON,

BAB. IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DESKRIPSIS DATA. 1. Gaya Hidup (X1) yang berasal dari data responden

2015 PENGARUH LATIHAN CIRCUIT TRAINING TERHADAP PENURUNAN LEMAK TUBUH DAN PENINGKATAN KEMAMPUAN DAYA TAHAN AEROBIK (VO2 MAX)

BAB I PENDAHULUAN. atlet. Prestasi yang diraih ditandai dengan keberhasilan atlet dalam

BAB I PENDAHULUAN. sengaja dan sistematis untuk mendorong, membina dan mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. akhirnya diserap oleh sel dan dioksidasi untuk menghasilkan energi. Bahan

PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI DAN VO2MAX DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA. Jurnal. Oleh. Arif Cahyanto

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Sepakbola adalah suatu permainan beregu yang dimainkan masing-masing

2015 PERBANDINGAN METODE CONTINOUS TRAINING DAN INTERVAL TRAINING TERHADAP PENINGKATAN DAYA TAHAN AEROBIK PADA ATLET SEPAKBOLA

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya semua orang mempunyai aktifitas masing-masing, dimana

BAB I PENDAHULUAN. serta sebagai sarana untuk meraih prestasi. latihan fisik yang teratur dan sesuai untuk mengembangkan kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. Afrian Dhea Fahmi, 2015 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI ATLET SQUASH DENGAN POLA MAKAN PASCA KOMPETISI

BAB I PENDAHULUAN. setelah diketahui bahwa kegemukan merupakan salah satu faktor risiko. koroner, hipertensi dan hiperlipidemia (Anita, 1995).

BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memerlukan kekuatan, daya tahan dan fleksibilitas. Menurut Irianto (2004: 2),

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan optimal sangatlah penting.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

PENGARUH PEMBERIAN PISANG (MUSA PARADISIACA) TERHADAP KELELAHAN OTOT (AEROB DAN ANAEROB) PADA ATLET SEPAK TAKRAW

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Olahraga adalah segala bentuk aktivitas fisik kompetitif yang biasanya dilakukan melalui partisipasi santai atau terorganisi, bertujuan untuk menggunakan, memelihara atau meningkatkan kemampuan fisik dan keterampilan sekaligus memberikan hiburan kepada peserta, dan dalam beberapa kasus, ada beberapa faktor yang dapat memaksimalkan prestasi seorang atlet dalam olahraga, salah satunya adalah kekuatan otot. Salah satu olahraga yang cukup popular di kalangan masyarakat Indonesia adalah sepak bola (Dewan Eropa, 2012). Salah satu penentu keberhasilan menciptakan pemain-pemain handal dalam sepak bola adalah dengan pembinaan yang benar usia dini di Sekolah Sepak Bola (SSB). Pembinaan pemain sepak bola usia dini dilakukan melalui wadah yaitu Sekolah Sepak bola (SSB). SSB adalah Sekolah yang mempelajari tentang permainan sepak bola dan merupakan sebuah organisasi olahraga khususnya sepak bola yang berfungsi mengembangkan potensi yang dimiliki atlet serta menjadi wadah pembinaan sepak bola usia dini (Soedjono, 1999). Kebugaran adalah kapasitas tubuh secara umum dalam menghadapi kerja fisik baik dalam posisi bergerak maupun duduk dengan aman dan efektif dan masih dapat memenuhi fungsinya dalam keluarga maupun masyarakat serta menikmati kegiatan pilihannya tanpa mengalami kelelahan dengan demikian setiap orang mutlak memerlukan kebugaran agar bisa menjalankan kehidupannya dengan nyaman tanpa keluhan (Siregar, 2010). Dalam permainan sepak bola kemampuan daya tahan aerobik yang baik atau VO 2 Max yang tinggi sangat diprioritaskan. Untuk memenuhi tuntutan daya tahan tersebut seorang harus mempunyai energi dalam jumlah banyak. Tuntutan energi dalam jumlah banyak itu akan diproduksi melalui sistem aerobik yang memerlukan oksigen, oleh karena itu tinggi rendahnya daya tahan seorang para pemain tergantung dari tinggi rendahnya kapasitas oksigen maksimal atau VO 2 Max. Tinggi rendahnya VO 2 Max para pemain sangat 1

2 berpengaruh pada kondisi fisik atau kesegaran jasmani pemain (Sukadiyanto, 2011). Aktivitas fisik ialah gerakan fisik yang dilakukan oleh otot tubuh dan system penunjangannya (Almatsier, 2003). Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi, aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan di perkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010). Secara umum seorang pemain sepak bola memerlukan pemenuhan energi sesuai kebutuhan dengan kebutuhan dengan kandungan karbohidrat 55-60% dari total energi, lemak 20-30% dari total kebutuhan energi, dan protein 15-20% dari total energi. Bagi pemain sepak bola, energi yang dikeluarkan untuk berolahraga harus seimbang dengan energi yang masuk dari makanan. ketidakcukupan asupan gizi berhubungan dengan asupan kalori yang rendah bahkan atlet-atlet yang masih dalam usia pertumbuhan berisiko terhadap keterlambatan pertumbuhan dan penundaan kematangan saat latihan atau kompetisi jika atlet tersebut terus menerus mengalami kekurangan asupan energi dalam jangka waktu yang lama. Salah satu faktor penyebab karena kurangnya pengetahuan untuk memilih makanan yang cocok dan adanya kesalahan konsep tentang peranan zat gizi spesifik untuk menunjang stamina olahraga (Setiowati, 2014). Asupan ini perlu diperhatikan pula karena lemak juga bermanfaat bagi atlet yang membutuhkan aktivitas berlari lama sebagaimana atlet sepakbola. Endogenus triasilgliserol yang ada dalam jaringan adiposa dan otot skeletal adalah sumber yang sangat penting untuk sumber tenaga selama latihan ketahanan. Untuk itu asupan lemak pada atlet dalam penelitian ini masih perlu diperhatikan lebih lanjut (Huriyati, 2007). ` Berdasarkan karakteristik permainan sepak bola seperti di atas maka untuk dapat mencapai prestasi yang optimal, pemain sepak bola harus memenuhi persyaratan tertentu. Bentuk tubuh pemain sepak bola harus ideal yaitu, sehat, kuat, tinggi dan tangkas. Seorang pemain sepakbola harus mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) yang normal dengan Tinggi Badan (TB) diatas rata-rata.

3 Komposisi tubuh harus proporsional antara massa otot dan lemak. Tidak boleh ada lemak yang berlebih. Oleh karena itu, untuk menjadi pemain sepak bola dengan bentuk tubuh yang ideal, dan aktivitas yang prima memerlukan program pelatihan yang teratur dan terarah. Pelatihan beban untuk meningkatkan kekuatan otot, pelatihan peregangan untuk memperkuat kelenturan tubuh dan pelatihan aerobik untuk meningkatkan kebugaran serta pelatihan teknik dan keterampilan (Depkes, 2002). Untuk pertandingan sepak bola diperlukan persiapan yang matang. Seorang pemain sepak bola selain harus matang dalam penguasaan teknik, taktik, dan strategi, harus mampu mengetahui seberapa besar kesegaran jasmani, serta mengetahui komposisi tubuh yang dimiliki. Salah satu komponen terpenting dari empat komponen kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan adalah daya tahan kardiorespirasi. Kualitas daya tahan paru jantung dinyatakan dengan VO 2 Max, yakni banyaknya oksigen maksimum yang dapat dikonsumsi dalam satuan Ml/kg BB/Menit. Dalam permainan sepak bola kemampuan daya tahan aerobik yang baik atau VO 2 Max yang tinggi sangat diprioritaskan, karena permainan sepak bola memerlukan tenaga dan daya tahan tubuh yang kuat dalam bermain (Supriyono, 2012). 1.2 Identifikasi Masalah Prestasi olahraga yang tinggi perlu terus menerus dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Salah satu faktor yang penting untuk mewujudkannya adalah melalui gizi seimbang yaitu energi yang dikeluarkan untuk olahraga harus seimbang atau sama dengan energi yang masuk dari makanan. Makanan untuk seorang atlet harus mengandung zat gizi sesuai dengan yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari dan olahraga (Walkins, 2000). Makanan harus mengandung zat gizi penghasil energi yang jumlahnya tertentu. Selain itu makanan juga harus mampu mengganti zat gizi dalam tubuh yang berkurang akibat digunakan untuk aktifitas olahraga (Departemen Kesehatan, 2000). Peranan gizi dalam olahraga terutama olahraga profesional

4 seperti sepak bola menuntut tenaga ahli yang terampil untuk menjaga secara khusus dan intensif kebutuhan zat gizi dari para pemainnya. Kebutuhan gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, serat, cairan dan asupan zat gizi mikro penting dalam rangka menjaga kesehatan, adaptasi latihan, dan meningkatkan stamina selama sesi latihan dan perlombaan, bahkan federasi sepak bola dunia telah mengeluarkan pernyataan bahwa gizi sangat berperanan dalam keberhasilan suatu tim. Sepak bola merupakan olahraga ketahanan karena berlangsung selama 90 menit, sehingga kebutuhan gizi bagi para pemain ini sama halnya dengan para olahragawan seperti lari dan balap sepeda. Survei yang dilakukan di beberapa Negara Eropa menunjukkan bahwa rekomendasi asupan gizi yang diberikan untuk para pemain sepak bola masih kurang tepat. Sebagian dari masalah ini dikarenakan asupan zat gizi tambahan (suplemen yang berlebihan). Seorang atlet yang baik harus makan makanan tinggi karbohidrat, cukup protein, rendah lemak, dan cukup vitamin, mineral serta cairan (Penggalih, 2007). Aktivitas fisik sehari-hari juga menjadi bagian penting dalam menunjang stamina dan menjadi bagian dari gaya hidup seorang atlet. Tidur yang kurang bagi seorang atlet sangat berakibat buruk bagi staminanya di hari pertandingan, karena energi yang ada harus dipakai untuk mengembalikan kelelahan yang belum pulih sempurna akibat kurang tidur, dan sebagian energinya harus digunakan untuk melaksanakan lomba di pagi harinya sehingga keadaan ini sangat penting untuk diperhatikan. 1.3 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang maka rumusan masalah yang dapat di ambil dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara asupan zat gizi makro,aktivitas fisik, dan IMT dengan VO 2 Max pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School.

5 1.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan zat gizi makro, aktivitas fisik dan IMT dengan VO 2 Max pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi asupan zat gizi makro pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. b. Mengidentifikasi aktivitas fisik pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. c. Mengidentifikasi IMT pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. d. Menganalisis hubungan antara asupan zat gizi makro dengan VO 2 Max pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. e. Menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan VO 2 Max pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. f. Menganalisis hubungan antara IMT dengan VO 2 Max pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. 1.4 Hipotesis Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukan pada sub bab sebelumnya maka hipotesis penelitiannya dirumuskan sebagai berikut : 1) Ho : Tidak ada hubungan antara Asupan Karbohirat dengan VO 2 Max pada Ha : Ada hubungan antara Asupan Karbohidrat dengan VO 2 Max pada 2) Ho : Tidak ada hubungan antara Asupan Protein dengan VO 2 Max pada Ha : Ada hubungan antara Asupan Protein dengan VO 2 Max pada remaja laki laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. 3) Ho : Tidak ada hubungan antara Asupan Lemak dengan VO 2 Max pada

6 Ha : Ada hubungan antara Asupan Lemak dengan VO 2 Max pada remaja laki laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. 4) Ho : Tidak ada hubungan antara Aktivitas Fisik dengan VO 2 Max pada Ha : Ada hubungan antara Aktivitas Fisik dengan VO 2 Max pada remaja laki laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. 5) Ho : Tidak ada hubungan antara IMT dengan VO 2 Max pada remaja lakilaki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. Ha : Ada hubungan antara IMT dengan VO 2 Max pada remaja laki laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. 1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi, menambah wawasan, dan pengetahuan hubungan antara asupan zat gizi makro, aktivitas fisik, dan IMT dengan VO 2 Max pada remaja laki-laki Usia 14 dan 15 tahun di Serpong City Soccer School. Serta bermanfaat sebagai bahan informasi pelatih sepak bola untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program gizi pada siswa Serpong City Soccer School. 1.6 Keterbaruan Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh Arum Bunga Pratiwi (2012) dengan judul Pengaruh Asupan Makan (Karbohidrat, Protein, Lemak) terhadap daya jantung paru (VO 2 Max) atlet Sepak Bola. Peneliti mengambil sampel sebanyak 24 responden dengan rata rata usia 15-18 tahun. Dengan menggunakan studi eksperimental quasi dengan pendekatan one grup pre & post test design yang bertempat di pusat pendidikan & latihan pelajar di Jawa tengah. Metode yang digunakan yaitu consecutive sampling, dengan menggunakan uji kenormalan data Kolmogorov Smirnov dilanjutkan dengan uji beda Paired T-test dan uji Wilocoxon dan dilakukan uji Korelasi Pearson. Penelitian dilakukan pada Juni, 2012. Penelitian yang dilakukan oleh Agustian Saqurin (2013) dengan judul Tingkat kebugaran pada mahasiswa dengan olahraga taekwondo

7 menggunakan Harvard step test untuk mendapatkan nilai indeks kebugaran dan VO 2 Max. Peneliti mengambil sampel sebanyak 30 responden mahasiswa olahraga taekwondo, dengan menggunakan studi deskriptif dengan studi design evaluasi, menggunakan metode purposive sampling di Universitas Airlangga. Penelitian dilakukan pada Mei, 2013. Penelitian yang akan saya lakukan dengan judul Hubungan asupan zat gizi makro, aktivitas fisik, dan IMT dengan VO 2 Max pada remaja laki-laki Usia 14 dan Usia 15 di Serpong City Soccer School peneliti mengambil sampel sebanyak 30 responden dengan rata-rata usia 14-15 tahun. Dengan menggunakan desain Cross-Sectional dengan Studi Koefisien Korelasi Pearson dengan teknik total sampling, Penelitian dilakukan pada April, 2016.