ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS (CMHN)

dokumen-dokumen yang mirip
Koping individu tidak efektif

Depresi pada Lansia. Masalah Keperawatan Risiko Bunuh Diri

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MAESPATI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

TIM CMHN BENCANA DAN INTERVENSI KRISIS

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

BAB II TINJAUAN TEORI

BUKU PANDUAN LABORATORIUM KEPERAWATAN JIWA I

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan jiwa pada manusia. Menurut World Health Organisation (WHO),

ABSTRAK. Kata Kunci: Manajemen halusinasi, kemampuan mengontrol halusinasi, puskesmas gangguan jiwa

PROSES TERJADINYA MASALAH

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang pesat menjadi stresor pada kehidupan manusia. Jika individu

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan Jiwa menurut Rancangan Undang-Undang Kesehatan Jiwa tahun

BAB II TUNJAUAN TEORI. orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins, 1993)

BAB I PENDAHULUAN. keadaan tanpa penyakit atau kelemahan (Riyadi & Purwanto, 2009). Hal ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang

LAMPIRAN. Implementasi dan Evaluasi keperawatan Hari/ tanggal 18 Juni 2013

BAB I PENDAHULUAN. siklus kehidupan dengan respon psikososial yang maladaptif yang disebabkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI

/BAB I PENDAHULUAN. yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta dapat. Kondisi kritis ini membawa dampak terhadap peningkatan kualitas

Lampiran 1. JADUAL KEGIATAN HARIAN Nama : No. Kode: Ruang Rawat : No. Waktu Kegiatan Tanggal Pelaksanaan Ket

BAB I PENDAHULUAN. penyimpangan dari fungsi psikologis seperti pembicaraan yang kacau, delusi,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI DI RSJD. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. Oleh : AGUNG NUGROHO

KMSJ Kartu Menuju Sehat Jiwa

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. S DENGAN GANGGUAN MENARIK DIRI DI RUANG ABIMANYU RSJD SURAKARTA

BAB II TINJAUAN TEORI. menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di zaman global seperti sekarang

BAB I PENDAHULUAN. Hospitalisasi anak merupakan suatu proses karena suatu alasan yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan jiwa ditemukan disemua lapisan masyarakat, dari mulai

BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber

PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI DI RUANG ARIMBI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. Oleh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk

BAB II TINJAUAN TEORI. (DepKes, 2000 dalam Direja, 2011). Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB I PENDAHULUAN. Menuju era globalisasi manusia disambut untuk memenuhi kebutuhan

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH DINAS KESEHATAN. Jl. Piere Tendean No. 24 Telp , fax Semarang, 50131

BERDUKA DAN KEHILANGAN. Niken Andalasari

BAB 1 PENDAHULUAN. kelompok atau masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh terpenuhinya kebutuhan dasar

BAB I PENDAHULUAN. menyesuaikan diri yang mengakibatkan orang menjadi tidak memiliki. suatu kesanggupan (Sunaryo, 2007).Menurut data Badan Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dari uraian yang telah disampaikan dari Bab I sampai Bab IV, maka dapat

BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

BAB II TINJAUAN TEORI. dengan orang lain (Keliat, 2011).Adapun kerusakan interaksi sosial

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi berkepanjangan juga merupakan salah satu pemicu yang. memunculkan stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan pada

BAB I PENDAHULUAN. yang sering juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan manic depresif

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4

BAB 1 PENDAHULUAN. Gangguan jiwa (Mental Disorder) merupakan salah satu dari empat

BAB I PENDAHULUAN. kecacatan. Kesehatan jiwa menurut undang-undang No.3 tahun 1966 adalah

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI

LAPORAN KASUS PENGELOLAAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN PADA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan jiwa menurut WHO (World Health Organization) adalah ketika

BAB II TINJAUAN KONSEP

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan akhir-akhir

Pengertian Kehilangan adalah perubahan dari sesuatu yang ada menjadi tidak ada atau situasi yang diharapkan terjadi tidak tercapai. Kehilangan dapat d

BAB 1 PENDAHULUAN. deskriminasi meningkatkan risiko terjadinya gangguan jiwa (Suliswati, 2005).

PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH (HOME VISIT) PADA KELUARGA NY. A DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN HARGA DIRI RENDAH DAN WAHAM CURIGA

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan ini sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan jiwa seseorang. yang berarti akan meningkatkan jumlah pasien gangguan jiwa.

PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH DI RUANG GATHOTKOCO RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG.

BAB I PENDAHULUAN. sehat, maka mental (jiwa) dan sosial juga sehat, demikian pula sebaliknya,

BAB I PENDAHULUAN. genetik, faktor organo-biologis, faktor psikologis serta faktor sosio-kultural.

FILOSOFI, KONSEP HOLISTIK & PROSES KEPERAWATAN KEGAWATAN & KEKRITISAN Oleh: Sri Setiyarini, SKp.

: Evi Karota Bukit, SKp, MNS NIP : : Kep. Jiwa & Kep. Komunitas. : Asuhan Keperawatan Jiwa - Komunitas

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kesehatan jiwa menurut Undang-Undang No. 18 pasal 1 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, hal ini dapat dilihat dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam

BAB II TINJAUAN TEORI. pengecapan maupun perabaan (Yosep, 2011). Menurut Stuart (2007)

ASUHAN KEPERAWATAN KEHILANGAN DAN BERDUKA

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Undang Undang No. 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa, mampu memberikan kontribusi pada komunitasnya.

BAB Ι PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Perkembangan pelayanan kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari sejarah

BAB I PENDAHULUAN. keluarga, kelompok, organisasi atau komunitas. ANA (American nurses

LAMPIRAN CATATAN PERKEMBANGAN Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

BAB I PENDAHULUAN. dapat meningkatkan jumlah penderita gangguan jiwa (Nurdwiyanti,2008),

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang. menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang

BAB I PENDAHULUAN. Keadaan sehat atau sakit mental dapat dinilai dari keefektifan fungsi

BAB 1 PENDAHULUAN. operasi melalui tiga fase yaitu pre operasi, intraoperasi dan post. kerja dan tanggung jawab mendukung keluarga.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi,

BAB I PENDAHULUAN. keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan

16/02/2016 ASKEP KEGAWATAN PSIKIATRI MASYKUR KHAIR TENTAMEN SUICIDE

PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH ( HOME VISIT) TENTANG GANGGUAN SENSORI PERSEPSI HALUSINASI PENDENGARAN DENGAN KELUARGA Ny.

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satunya adalah masalah tentang kesehatan jiwa yang sering luput dari

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan penurunan semua fungsi kejiwaan terutama minat dan motivasi

BAB II KONSEP DASAR. A. Pengertian. Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan

BAB 1 PENDAHULUAN. stressor, produktif dan mampu memberikan konstribusi terhadap masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebabkan disability (ketidakmampuan) (Maramis, 1994 dalam Suryani,

Kesehatan jiwa menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 18. secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif,

BAB I PENDAHULUAN. perilaku seseorang. Gangguan jiwa adalah sebuah penyakit dengan. manifestasi dan atau ketidakmampuan psikologis atau perilaku yang

BAB I PENDAHULUAN. dan kestabilan emosional. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan. pekerjaan, & lingkungan masyarakat (Videbeck, 2008).

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

BAB 1 PENDAHULUAN. sisiokultural. Dalam konsep stress-adaptasi penyebab perilaku maladaptif

BAB 1 PENDAHULUAN. melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya

BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012

Transkripsi:

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS (CMHN) NAMA KELOMPOK 6 A4E : 1. Made Udayati (10.321.0864) 2. Kadek Ayu Kesuma W. (10.321.0858) 3. Kadek Ninik Purniawati (10.321.0859) 4. Luh Gede Wedawati (10.321.0867) 5. Ni Putu Yuli Wahyuni (10.321.0874) 6. Ni Wayan Chandra Utami (10.321.0875) PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Kasus : Adanya perubahan nilai dan norma yang terjadi saat ini menjadi masalah yang cukup serius untuk diselesaikan. Kesenjangan social yang terjadi di masyarakat dan tidak adekuatnya mekanisme koping seseorang bisa memunculkan terjadinya konflik antar daerah. Seperti yang terjadi beberapa pekan lalu di lampung selatan menyisakan kepedihan dan trauma pada masyarakat tersebut. Tidak hanya anak-anak, orang dewasapun bisa mengalami trauma yang berkepanjangan atau dengan Istilah yang ada yaitu PTSD (Post Trauma Stress Disorder). Beberapa individu cenderung berusaha untuk mengatasi kecemasan dan kepanikannya melalui mekanisme koping yang baik, tetapi masih terdapat beberapa individu tidak kuat untuk merespon trauma tersebut secara adaptif sehingga bisa mengakibatkan terjadinya depresi, Perilaku kekerasan pada orang lain dan lingkungan bahkan resiko perilaku bunuh diri. Melihat kondisi tersebut mahasiswa keperawatan melaksanakan praktek lapangan untuk membantu masyarakat dalam menaggulangi masalah psikososial yang terjadi sehingga tidak sampai mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan hasil pengkajian awal diidentifikasi 30% warga mengalami trauma, cemas bahkan 5%nya sampai mengalami gangguan skizofrenia dengan gejala halusinasi, isolasi social, Perilaku kekerasan bahkan sampai terjadi perilaku percobaan bunuh diri. 1. Masalah-masalah psikososial yang terjadi pada kasus diatas yaitu : a. Stress pasca trauma Sesuai teori stress pasca trauma yaitu reaksi normal dari individu terhadap kejadian yang luar biasa (Parkinson, 1993). Penyebab gangguan bervariasi, tetapi perdefinisi, stresor harus sedemikian berat sehingga cenderung menimbulkan trauma psikologis pada kebanyakan orang normal,walaupun tidak berarti bawa semua orang harus mengalami gangguan akibat trauma ini. Faktor psikologis, fisik, genetik dan sosial ikut berpengaruh pada gangguan ini. Berdasarkan kasus diatas masalah psikologi stress pasca trauma terjadi karena adanya konflik antar daerah di Lampung akibat perubahan nilai dan norma yang terjadi sehingga masalah menjadi cukup serius. b. Tindak kekerasan sosial Masalah psikososial tindak kekerasan terjadi karena beberapa individu tidak kuat untuk merespon trauma tersebut secara adaptif sehingga terjadi prilaku kekerasan pada orang lain dan juga pada lingkungan

c. Resiko prilaku bunuh diri Resiko prilaku bunuh diri terjadi karena ketidakmampuan seseorang dalam menanggulangi salah yang terjadi pada dirinya sendiri maupun pada lingkungannya 2. Diagnosa keperawatan komunitas yang muncul pada kasus diatas yaitu : N O DATA DIAGNOSA KEPERAWATAN KOMUNITAS 1 DS : - DO : Mengalami konflik antar daerah 30 % Masyarakat mengalami trauma Sindrome pasca trauma berhubungan dengan konflik antar daerah ditandai dengan depresi, cemas, respon terkejut, ketakutan dan cemas 2 DS : Gangguan rasa nyaman berhubungan DO : dengan kurang pengendalian Mengalami konflik antar daerah 30 % Masyarakat mengalami trauma dan cemas lingkungan, kurang control situasional, stimulasi lingkungan mengganggu ditandai dengan cemas, stresss, perasaan yang tidak nyaman, gelisah 3 DS : DO : Terjadi konflik antar daerah Masyarakat mengalami trauma Beberapa individu tidak kuat untuk merespon trauma secara adaptif 5% gangguan skizoprenia seperti halusinasi, isolasi social, perilaku kekerasan. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan status mental, prilaku social yang tidak diterima, nilai serta norma sosial yang tidak diterima ditandai dengan tidak komunikatif, menarik diri Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa, dirumuskan masalah/ diagnose keperawatan kemudian diprioritaskan berdasarkan scoring bersama masyarakat pada saat MMD

N o Masalah 1 Sindrome pasca trauma berhubungan dengan konflik antar daerah ditandai dengan depresi, cemas, respon terkejut, ketakutan 2 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kurang pengendalian lingkungan, kurang control situasional, stimulasi lingkungan mengganggu ditandai dengan cemas, stresss, perasaan yang tidak nyaman, gelisah 3 Isolasi social berhubungan dengan perubhan statusmental, prilaku social yang tidak diterima, nilai serta norma social yang tidak diterima ditandain dengan tadak komunikatif, menarik diri Pentingnya masalah Kemungkinan perubahan Peningkatan terhadap kualitas untuk positif jika hidup bila dipecahkan 1. Rendah 2. Sedang 3. tinggi diatasi 0 : tidak ada 1 : rendah 2: sedang 3: tinggi masalah diatasi 0 : tidak ada 1 : rendah 2: sedang 3: tinggi Total 3 2 2 7 3 3 3 9 3 1 2 6 Berdasarkan hasil scoring, Diagnosa prioritas keperawatan komunitas yaitu : 1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kurang pengendalian lingkungan, kurang control situasional, stimulasi lingkungan mengganggu ditandai dengan cemas, stresss, perasaan yang tidak nyaman, gelisah

2. Sindrome pasca trauma berhubungan dengan konflik antar daerah ditandai dengan depresi, cemas, respon terkejut, ketakutan 3. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan status mental, prilaku sosial yang tidak diterima, nilai serta norma social yang tidak diterima ditandai dengan tidak komunikatif, menarik diri

3. POA diagnosa kasus No Dx Tujuan Umum Tujuan Khusus Rencana Kegiatan Kriteria Evaluasi Standar Evaluasi Sumber Dana Tempat Penanggung jawab 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Setelah Setelah diberikan 1. Observasi keadaan Verbal 1. Teridentifikasi Sumbangan Posko Mahasiswa, diberikan tindakan keperawatan lingkungan keadaan lingkungan dari pengungsian pemerintah askep 3 x dalam 1 bulan 2. Memberikan verbal 2. Lingkungan menjadi sponsor diharapkan diharapkan dapat lingkungan yang tenang nyaman dan serta tenaga dapat memberikan rasa 3. Memberikan Verbal dan 3. Masyarakat mampu Pemerintah kesehatan memberikan nyaman pada warga pengalihan kepada Psikomotor mengontol emosinya rasa nyaman Lampung Selatan masyarakat agar tidak dari kasus konflik pada warga Lampung dengan kriteria 1. Lingkungan berpikir hal tersebut 4. Memberikan motivasi Verbal antar daerah 4. Masyarakat Selatan terkendali kepada masyarakat termotivasi dan akan 2. Stimulasi Lampung Selatan tdk mengalami stress lingkungan tidak bertujuan agar lagi akibat konflik terganggu 3. Situasional masyarakat tidak stress lagi terkontrol 2 Setelah Setelah dilakukan 1. Mengobservasi keadaan Verbal 1. Keadaan Sumbangan Posko Mahasiswa, dilakukan askep 3 x dalam 1 masyarakat Lampung teridentifikasi dari pengungsian pemerintah

intervensi bulan masyarakat 2. Memberikan Verbal dan 2. Masyarakat mampu sponsor keperawatan tidak trauma dengan pengalihan dengan psikomotor mengalihkan dan serta tenaga masyarakat kriteria : kegiatan lain pikirannya Pemerintah kesehatan tidak 1. Masyrakat mampu 3. Mensosialisasikan Verbal 3. Masyrakat mampu mengalami beradaptasi kepada masyarakat mengontrol keadaan trauma kembali bahwa konflik yang emosional 2. Masyrakat dapat antardaerah tidak baik melakukan untuk pemerintah, kegiatan seperti masyarakat dan dulu sebelum individu itu sendiri terjadinya konflik 4. Kolaborasi dengan Verbal dan 4. Masyarakat antar daerah pemerintah psikomotor mendapat bantuan mau memperbaiki dari pemerintah barang-barang masyarakat yang rusak. 3 Setelah Setelah diberikan 1. Observasi masyarakat Verbal 1. Teridentifikasi Sumbangan Posko Mahasiswa, diberikan tindakan keperawatan lampung keadaan masyarakat dari pengungsian pemerintah askep selama 3 x dalam 1 Lampung sponsor

diharapkan bulan diharapkan 2. Memberikan TAK Psikomotor 2. Masyarakat mau dan serta tenaga masyarakat masyarakat mampu rekreasi (menggambar, mengikuti TAK dgn Pemerintah kesehatan mampu berinterksi dengan musik) baik berinteraksi masyarakat lainnya, 3. Memberikan edukasi Verbal dan 3. Masyarakat kembali dengan kriteria hasil : kepada masyarakat psikomotor memahami bahwa dengan 1. Masyarakat mampu bahwa berinteraksi itu pentingnya masyarakat berkomunikasi penting berinteraksi lainnya dengan individu lainnya 2. Masyarakat tidak menarik diri

4. Diagnosa yang mungkin muncul terhadap individu pada kasus diatas yaitu : a. Isolasi social b. Halusinasi c. Perilaku kekerasan d. Resiko bunuh diri

5. Strategi pelaksanaan N Diagn o osa 1 Isolasi sosial Tindakan Pasien Pertemuan 1 2 3 4 5 s.d 12 berkenalan (berapa latihan berkenalan latihan berkenalan, orang). Beri (berapa orang) & bicara bicara saat melakukan 2. Latih cara berbicara saat melakukan dua empat kegiatan saat melakukan kegiatan harian. Beri harian. Beri kegiatan harian (latih 2. Latih cara bicara 2 kegiatan) 2. Latih cara berbicara sosial: belanja ke 3. Masukkan pada saat melakukan warung, meminta jadwal kegiatan untuk kegiatan harian (2 sesuatu, menjawab latihan berkenalan 2- kegiatan baru) pertanyan 3 orang tetangga atau 3. Masukkan pada jadwal 3. Masukkan pada tamu, berbicara saat kegiatan untuk latihan jadwal kegiatan untuk melakukan kegiatan berkenalan 4-5 orang, latihan berkenalan >5 harian berbicara saat orang, orang baru, melakukan 4 kegiatan berbicara saat harian melakukan kegiatan harian dan sosialisasi 1. Identifikasi penyebab isolasi sosial: siapa yang serumah, siapa yang dekat, yang tidak dekat, dan apa sebabnya 2. Keuntungan punya teman dan bercakapcakap 3. Kerugian tidak punya teman dan tidak bercakap-cakap 4. Latih cara berkenalan dengan anggota keluarga 5. Masukan pada jadwal kegiatan untuk latihan berkenalan latihan berkenalan, berbicara saat melakukan kegiatan harian dan sosialisasi. Beri 2. Latih kegiatan harian 3. Nilai kemampuan yang telah mandiri 4. Nilai apakah isolasi sosial teratasi Keluarga 1. Diskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien 2. Jelaskan pengertian, tanda & gejala, dan proses terjadinya pasien berkenalan dan berbicara saat melakukan kegiatan pasien berkenalan, berbicara saat melakukan kegiatan harian dan RT. pasien berkenalan, berbicara saat melakukan kegiatan pasien berkenalan, berbicara saat melakukan kegiatan

isolasi sosial (gunakan booklet) 3. Jelaskan cara merawat isolasi sosial 4. Latih dua cara merawat berkenalan, berbicara saat melakukan kegiatan harian 5. Anjurkan membantu dan memberikan harian. Beri 2. Jelaskan kegiatan rumah tangga yang dapat melibatkan pasien berbicara (makan, sholat bersama) 3. Latih cara membimbing pasien berbicara dan memberi 4. Anjurkan membantu Beri 2. Jelaskan cara melatih pasien melakukan kegiatan sosial seperti berbelanja, meminta sesuatu dll 3. Latih keluarga mengajak pasien belanja 4. Anjurkan membantu dan berikan harian/rt, berbelanja. Beri 2. Jelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh, rujukan 3. Anjurkan membantu dan memberikan harian/rt, berbelanja & kegiatan lain dan follow up. Beri 2. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien 3. Nilai kemampuan keluarga melakukan kontrol ke PKM N Diagnosa Tindakan Pertemuan o 1 2 3 4 5 s.d 12 2 halusinasi Pasien 1. Identifikasi halusinasi: isi, frekuensi, waktu menghardik. Beri latihan menghardik & obat. Beri latihan menghardik & obat & bercakapcakap. latihan menghardik & obat &bercakap- terjadi, situasi 2. Latih cara mengontrol 2. Latih cara mengontrol Beri cakap & kegiatan pencetus, perasaan, halusinasi dengan halusinasi dg bercakap- 2. Latih cara mengontrol harian. Beri respon 2. Jelaskan cara obat (jelaskan 6 benar: jenis, guna, cakap saat terjadi halusinasi halusinasi dg melakukan kegiatan 2. Latih kegiatan harian mengontrol dosis, frekuensi, cara, 3. Masukkan pada jadwal harian (mulai 2 3. Nilai kemampuan halusinasi: hardik, kontinuitas minum kegiatan untuk latihan kegiatan) yang telah mandiri

obat, bercakap-cakap, melakukan kegiatan 3. Latih cara mengontrol halusinasi dg menghardik 4. Masukan pada jadwal kegiatan untuk latihan menghardik obat) 3. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan menghardik dan minum obat menghardik, minum obat dan bercakapcakap 3. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan kegiatan harian 4. Nilai apakah halusinasi terkontrol Keluarga 1. Diskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien 2. Jelaskan pengertian, tanda & gejala, dan proses terjadinya halusinasi (gunakan booklet) 3. Jelaskan cara merawat halusinasi 4. Latih cara merawat halusinasi: hardik 5. Anjurkan membantu dan memberi pasien menghardik. Beri 2. Jelaskan 6 benar cara memberikan obat 3. Latih cara memberikan/ membimbing minum obat 4. Anjurkan membantu dan memberi pasien menghardik dan memberikan obat. Beri 2. Jelaskan cara bercakapcakap dan melakukan kegiatan untuk mengontrol halusinasi 3. Latih dan sediakan waktu bercakap-cakap dengan pasien terutama saat halusinasi 4. Anjurkan membantu dan memberikan pasien menghardik, memberikan obat & bercakap-cakap. Beri 2. Jelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh, rujukan 3. Anjurkan membantu dan memberikan pasien menghardik & memberikan obat & bercakap-cakap & melakukkan kegiatan harian dan follow up. Beri 2. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien 3. Nilai kemampuan keluarga melakukan kontrol ke PKM

N o Diagnosa Tindakan Pertemuan 1 2 3 4 5 s.d 12 3 Perilaku kekerasan Pasien 1. Identifikasi penyebab, tanda & gejala, PK yang dilakukan, akibat PK 2. Jelaskan cara mengontrol PK: fisik, obat, verbal, spiritual 3. Latihan cara mengontrol PK fisik 1 & 2 4. Masukan pada jadwal kegiatan untuk latihan fisik Keluarga 1. Diskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien 2. Jelaskan pengertian, tanda & gejala, dan proses terjadinya PK (gunakan booklet) Jelaskan cara merawat PK 3. Latih satu cara merawat PK: fisik1,2 4. Anjurkan membantu latihan fisik1 & 2. Beri 2. Latih cara mengontrol PK dengan obat (jelaskan 6 benar: jenis, guna, dosis, frekuensi, cara, kontinuitas minum obat) 3. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan fisik dan minum obat pasien fisik1.2. Beri 2. Jelaskan 6 benar cara memberikan obat 3. Latih cara memberikan/membim bing minum obat 4. Anjurkan membantu latihan fisik1,2 & obat. Beri 2. Latih cara mengontrol PK secara verbal (3 cara, yaitu: mengungkapkan, meminta, menolak dengan benar) 3. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan fisik, minum obat dan verbal pasien fisik1.2 dan memberikan obat. Beri 2. Latih cara membimbing verbal/bicara 3. Latih cara membimbing kegiatan spiritual 4. Anjurkan membantu latihan fisik1,2 & obat & verbal. Beri 2. Latih cara mengontrol spiritual (2 kegiatan) 3. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan fisik, minum obat, verbal dan spiritual pasien fisik1.2, memberikan obat verbal & spiritual. Beri 2. Jelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh, rujukan 3. Anjurkan membantu dan memberikan latihan fisik1,2 & obat & verbal & spiritual. Beri 2. Nilai kemampuan yang telah mandiri 3. Nilai apakah PK terkontrol pasien fisik1.2, memberikan obat verbal & spiritual dan follow up. Beri 2. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien 3. Nilai kemampuan keluarga melakukan kontrol ke PKM

N Diagn o osa 4 Resiko bunuh diri Tindakan Pasien dan memberi dan memberi dan memberikan Pertemuan 1 2 3 4 5 s.d 12 1. Identifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri: berpikir positif tentang berpikir positif tentang berpikir positif isyarat, ancaman, diri sendiri, beri diri, keluarga dan tentang diri, percobaan (jika percobaan. Kaji ulang lingkungan. Beri. keluarga dan segera rujuk) risiko bunuh diri Kaji risiko bunuh diri lingkungan serta 2. Identifikasi benda-benda 2. Latih cara 2. Diskusikan harapan dan kegiatan yang berbahaya dan mengendalikan diri masa depan dipilih. Beri mengankannya dari dorongan bunuh 3. Diskusikan cara 2. Latih tahap kedua (lingkungan aman untuk diri: buat daftar aspek mencapai harapan dan kegiatan mencapai pasien) positif keluarga dan masa depan masa depan 3. Latihan cara lingkungan, latih 4. Latih cara-cara mencapai 3. Masukkan pada mengendalikan diri dari afirmasi/berpikir aspek harapan dan masa depan jadwal latihan dorongan bunuh diri: buat positif keluarga dan secara bertahap (setahap berpikir positif daftar aspek positif diri lingkungan demi setahap) tentang diri, sendiri, latihan afirmasi 3. Masukkan pada jadwal 5. Masukkan pada jadwal keluarga dan /berpikir aspek positif latihan berpikir positif latihan berpikir positif lingkungan, serta yang dimiliki tentang diri, keluarga tentang diri, keluarga dan kegiatan yang 4. Masukan pada jadwal dan lingkungan lingkungan dan tahapan dipilih untuk latihan berpikir positif 5 kegiatan yang dipilih persiapan masa kali per hari depan Keluarga 1. Diskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien 2. Jelaskan pengertian, tanda & gejala, dan proses memberikan dan penghargaan atas keberhasilan dan aspek memberikan dan penghargaan pada pasien serta menciptakan memberikan, penghargaan, menciptakan latihan peningkatan positif diri, keluarga dan lingkungan. Beri 2. Evaluasi tahapan kegiatan mencapai harapan masa depan 3. Latih kegiatan harian 4. Nilai kemampuan yang telah mandiri 5. Nilai apakah risiko bunuh diri teratasi memberikan, penghargaan,

terjadinya risiko bunuh diri (gunakan booklet) 3. Jelaskan cara merawat risiko bunuh diri 4. Latih cara memberikan hal positif pasien, memberi dukungan -pencapaian masa depan 5. Anjurkan membantu dan memberikan positif pasien. Beri 2. Latih cara memberi penghargaan pada pasien dan menciptakan suasana positif dalam keluarga: tidak membicarakan keburukan anggota keluarga 3. Anjurkan membantu dan memberi suasana positif dalam keluarga. Beri 2. Bersama keluarga berdiskusi dengan pasien tentang harapan masa depan serta langkahlangkah mencapainya 3. Anjurkan membantu dan berikan suasana keluarga yang positif dan kegiatan awal dalam mencapai harapan masa depan. Beri 2. Bersama keluarga berdiskusi tentang langkah dan kegiatan untuk mencapai harapan masa depan 3. Jelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh, rujukan 4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan menciptakan suasana yang positif dan membimbing langkah-langkah mencapai harapan masa depan. Beri 2. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien 3. Nilai kemampuan keluarga melakukan kontrol ke PKM

6. Cara kita untuk mengidentifikasi adanya perilaku percobaan bunuh diri pada individu yaitu melihat keadaan individu seperti keputusasaan, celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berguna, agitasi dan gelisah, insomnia yang menetap, menarik diri dari lingkungan sosial, kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stress, individu mengatakan secara verbal akan bunuh diri 7. Tindakan yang tepat yang bisa dilakukan ketika individu pada situasi krisis dan melakukan perilaku kekerasan yaitu membentuk Tim Krisis PK (Perilaku Kekerasan). Tim krisis PK terdiri dari ketua tim krisis yang berperan sebagai pemimpin (leader) dan anggota tim minimal 2 orang, ketua tim adalah perawat yang berperan sebagai kepala ruangan, penanggungjawab shift, perawat primer, ketua tim atau staf perawat, yang penting ditetapkan sebelum melakukan tindakan. Anggota tim krisis dapat staf perawat, dokter/konselor yang telah melatih menangani krisis. Aktivitas yang dilakukan oleh tim krisis adalah sebagai berikut (Stuar dan Laraia, 1998) : a. Tunjuk ketua tim krisis b. Susun anggota tim krisis c. Beritahu petugas keamanan jika perlu d. Pindahkan klien lain dari area penanganan e. Uraikan rencana penanganan pada tim f. Ambil alat pengikat (jika pengekangan akan dilakukan) g. Tunjuk anggota tim untuk mengamankan gerak klien h. Jelaskan tindakan pada klien dan berusaha membuat klien kooperatif i. Ikuti klien dengan petunjuk ketua tim j. Berikan obat sesuai dengan program terapi k. Pertahankan sikap yang tenang dan konsisten terhadap klien l. Evaluasi tindakan yang telah dilakukan bersama anggota tim m. Jelaskan kejadian kepada klien dan staf lain jika diperlukan n. Integrasikan klien kembali kepada lingkungan secara bertahap Kita sebagai perawat mempunyai tugas untuk mengatasi masalah prilaku kekerasan seperti kasus diatas dengan cara :

a. Mengumpulkan masyarakat yang mengalami gangguan psikososial seperti perilaku kekerasan b. Melalukan sosialisasi dengan memberikan TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) seperti TAK musik untuk memberikan kenyamanan, relaksasi pikiran agar tidak terjadi stress. Terapi rekreasi seperti menggambar dengan tujuan agar masyarakat mampu untuk mengungkapkan perasaan yang dirasakan. Dengan demikian perilaku untuk melakukan kekerasan akan beralih menjadi kegiatan yang positif serta dapat mengontrol emosi agar tidak terjadi hal tersebut.