BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut dengan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang merupakan himpunan dari Rumah Pangan Lestari (RPL) yaitu rumah tangga dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, pelestarian tanaman pangan untuk masa depan, serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk menjaga keberlanjutannya, pemanfaatan pekarangan dalam konsep Model KRPL dilengkapi dengan kelembagaan kebun bibit desa, unit pengolahan serta pemasaran untuk penyelamatan hasil yang melimpah (Kementerian Pertanian, 2011). Untuk mendukung progam tersebut dengan menanam tanaman sayuran, salah satunya tanaman selada. Selada (Lactuca Sativa L) adalah tanaman yang paling banyak digunakan untuk salad. Tanaman ini merupakan sayuran semusim utama yang beradaptasi paling baik pada lokasi iklim sedang, yang banyak sekali ditanam. Dibeberapa Negara, konsumsi selada cukup besar untuk memberikan kontribusi gizi secara nyata. Produksi selada dunia diperkirakan sekitar 3 juta ton, yang ditanami pada lebih dari 300.000 ha lahan (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997). Karena maraknya kebutuhan selada di Indonesia sehingga permintaan selada terus meningkat, diantaranya dari pasar swalayan, restauran-restauran besar, ataupun hotel-hotel berbintang lima. Selada berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena disamping kondisi iklimnya yang cocok untuk tanaman selada, juga memberikan keuntungan yang memadai bagi pembudidayanya (Rekki, 2009). Karena kebutuhan selada semakin tahun meningkat, membuat para petani sayur kesulitan untuk menyediakan selada untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan budidaya selada. Maka cara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan selada bagi konsumen perlu melakukan sistem budidaya vertikultur sebagai solusi keterbatasan lahan 1
budidaya. Tanaman selada diaplikasikan dalam model Kawasan Rumah Pangan Lestari dengan sistem budidaya vertikultur. Sistem budidaya ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan marginal. Sesuai dengan asal katanya dari bahasa Inggris, yaitu vertical dan culture, vertikultur adalah sistem budidaya tanaman secara vertical atau bertingkat. Sistem pertanian vertikal atau vertikultur ini sangat cocok diterapkan khususnya bagi para petani atau pengusaha yang memiliki lahan sempit. Vertikultur dapat pula diterapkan pada bangunan bangunan bertingkat, perumahan umum, atau bahkan pada pemukiman didaerah padat yang tidak punya halaman sama sekali. Dengan metode vertikultur ini, kita dapat memanfaatkan lahan semaksimal mungkin. Usaha tani secara komersial dapat dilakukan secara vertikultur, apa lagi kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan sendiri seperti sayuran atau buah buahan semusim. Untuk mendapatkan keindahan, aneka tanaman hias pun dapat ditanam secara bertingkat (Widarto, 1996). Pertanian vertikultur dirancang untuk pertanian perkotaan agar memudahkan orang kota bercocok tanam diteras rumah yang relatif sempit. Orang perkotaan yang umumnya sibuk sering lalai untuk menyirami tanaman, sehingga perlu dibuat suatu sistem pengairan atau penyiraman secara otomatis dengan alat bantu pompa listrik, timer, dan paralon yang umumnya mudah diperoleh diperkotaan. Dalam perancangan sistem vertikultur perlu dicoba rekayasa beberapa variasi ukuran diameter paralon yang berbeda beda.. Variasi diameter paralon menghasilkan jumlah volume air yang berbeda beda. Volume air ditentukan dari diameter tabung (paralon) yang sesuai dengan ukuran diameternya. Jika diameter paralon besar maka dihasilkan pula air yang banyak, begitu juga jika diameter paralon tersebut berdiameter kecil yang akan menghasilkan jumlah volume air yang sedikit (Shodiqin, 2015). Ukuran paralon manakah yang baik untuk suatu model pengairan otomatis perlu ditentukan. Ketepatan jumlah volume air yang diberikan kepada tanaman dalam polibag berakibat tercapainya efisiensi yang tinggi untuk menghasilkan tanaman dengan produksi maksimal. Ketepatan jumlah volume air ditentukan oleh macam ukuran 2
pipa paralon, ukuran dan warna selang penghubung paralon dengan media tanam, pengatur tetesan air, pompa air listrik dan jangka waktu menyalanya pompa air. Dalam penelitan ini dicoba variasi ukuran paralon dan warna selang. Sedangkan kecepatan tetesan air yang diatur oleh pengatur tetesan air, jangka waktu menyalanya pompa air dianggap tetap dan sama. Ada dua cara pengairan yang dicoba yaitu secara otomatis dan manual. Pengairan secara otomatis menggunakan pompa air listrik yang menyala secara berkala dan menggunakan timer. Sedangkan pengairan secara manual penggunakan penyiraman secara langsung dengan volume 200ml per hari per polibag. Cara manual digunakan sebagai kontrol pengairan yang baik, sehingga jika model yang direkayasa menghasilkan tanaman yang secara kuantitas dan kualitas menyamai model manual, maka model rekayasa itulah yang terpilih. Dari latar belakang tersebut, maka perlu diteliti diameter berapakah dan macam warna selang yang baik mengetahui model rekayasa sistem pengairan yang tepat untuk selada yang ditanam secara vertikultur. 1.2. Tujuan Penelitian 1. Merekayasa beberapa sistem pengairan pada model vertikultur sayuran untuk Kawasan Rumah Pangan Lestari. 2. Mendapatkan sistem pengairan yang efisien pada model vertikutur sayuran dalam Kawasan Rumah Pangan Lestari. 1.3. Signifikansi Penelitian Dari segi ilmiah diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi serta pengetahuan tentang sistem pengairan model vertikultur sayuran dalam Kawasan Rumah Pangan Lestari. Dari segi praktis diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk penerapan sistem pengairan pada model vertikultur sayuran dalam Kawasan Rumah Pangan Lestari. 1.4. Batasan Masalah Penelitian ini dibatasi untuk menjawab bagaimana cara merekayasa sistem pengairan pada model vertikultur sayuran untuk Kawasan Rumah Pangan Lestari. Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda beda terhadap 3
penelitian ini, maka dalam penelitian ini diberikan batasan batasan sebagai berikut: 1. Merekayasa adalah melakukan penerapan kaidah kaidah ilmu dalam pelaksanaan seperti perancangan dan pembuatan konstruksi rak vertikultur; penyususnan instalasi paralon, selang air, pengatur tetesan air, maupun koneksinya ke pompa air. 2. Sistem pengairan yang digunakan dalam uji coba ini menggunakan sistem irigasi tetes drip irigation 3. Sistem pengairan dinyatakan efisien apa bila tanaman tersebut dapat tumbuh dengan hasil yang maksimal tetapi dengan penggunaan air yang minimal. 4. Model vertikultur yang digunakan dengan memanfaatkan rak yang disusun menyerupai anak tangga, dengan menggunakan bahan kayu dan bambu. 5. Sayuran yang diuji cobakan dalam penelitian ini adalah sayuran selada varietas Grand Rapid (Lactuca Sativa L). 6. Media tanam yang digunakan adalah pupuk kandang : tanah= 1:1 7. Pertumbuhan tanaman selada dibatasi oleh pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar dan kering akar per tanaman. 8. Hasil tanaman dibatasi oleh pengamatan berat segar dan kering daun. 9. Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan area di pemukiman, khususnya di pekarangan yang dimanfaatan untuk bertanam yang ramah lingkungan. KRPL dirancang untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. 4
1.5. Model Hipotetik Untuk memperjelas tujuan penelitian ini, maka dibuat model hipotetik sebagai berikut: Y2 X Y1 Y3 Y4 Gambar 1.1 Model Hipotetik Keterangan: X : Beberapa model rekayasa sistem pengairan. Y1 : Volume Air Y2 : Pertumbuhan tanaman selada hijau. Y3 : Hasil tanaman selada. Y4 : Efisiensi pengairan 5