170 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab 4, terdapat beberapa simpulan sebagai berikut : 1) Komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual; 2) Kapasitas SDM berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual; 3) SPI tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual; 4) Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual; 5) Rekonsiliasi data tidak berpengaruh terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual; 6) Komunikasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual; 7) Ketersediaan sarana dan prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Berdasarkan hasil penelitian ini, variabel ketersediaan sarana dan prasarana
171 merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Ketersediaan sarana dan prasarana memiliki nilai standardized loading factor (nilai loading factor = 0,41) yang paling besar dibandingkan variabel independen lainnya. Hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana mencakup unsur anggaran, perangkat komputer dan jaringan internet, serta regulasi terkait implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual; 8) Kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas LKKL. Selain pengaruh langsung, dalam penelitian ini juga terdapat simpulan pengaruh tidak langsung sebagai berikut : kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dapat memediasi secara positif pengaruh komitmen organisasi terhadap kualitas LKKL, kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dapat memediasi secara positif pengaruh kapasitas SDM terhadap kualitas LKKL, kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual tidak dapat memediasi pengaruh SPI terhadap kualitas LKKL, kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dapat memediasi secara positif pengaruh pemanfaatan TI terhadap kualitas LKKL, kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual tidak dapat memediasi secara positif pengaruh rekonsilasi data terhadap kualitas LKKL, kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dapat memediasi secara positif pengaruh komunikasi terhadap kualitas LKKL, serta kualitas implementasi akuntansi pemerintahan
172 berbasis akrual dapat memediasi secara positif pengaruh ketersediaan sarana dan prasarana terhadap kualitas LKKL. B. Implikasi Hasil penelitian ini memberikan implikasi secara teoritis maupun praktis yang dijabarkan sebagai berikut: 1) Bagi dunia akademis, hasil penelitian berimplikasi pada penguatan dan pengembangan teori akuntansi sektor publik dan penelitian terdahulu dengan tema yang sama. Dalam kerangka teori keagenan, mekanisme pertanggungjawaban APBN yang diantaranya diwujudkan dalam penyusunan dan penyampaian LKKL merupakan sarana pemerintah (agen) melaksanakan kewajibannya untuk menyampaikan informasi pengelolaan keuangan negara kepada rakyat (prinsipal). Dalam konteks ini, optimalisasi kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dan kualitas LKKL menjadi sangat penting. Kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dan kualitas LKKL pada prinsipnya akan berperan menjamin keyakinan informasi yang terkandung di dalamnya, sehingga akan meningkatkan nilai guna laporan keuangan. Nilai guna laporan keuangan yang semakin meningkat akan memperkuat hubungan agen-prinsipal dalam rangka mencapai tujuan bernegara. 2) Dalam tataran praktis, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan di institusi terkait. Manfaat praktis diuraikan sebagai berikut:
173 1) Bagi kementerian negara/lembaga dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan guna meningkatkan kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dan kualitas LKKL. Langkah ini dilakukan melalui perbaikan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas akuntansi pemerintahan berbasis akrual, yaitu: a) Penguatan komitmen pimpinan terutama dalam konteks praktis (implementasi), sehingga dapat menjadi katalisator bagi komitmen organisasi secara keseluruhan dalam upaya meningkatkan kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual dan kualitas LKKL; b) Pola pengembangan kapasitas SDM yang efektif, melalui perbaikan pola rekruitmen dan assesment pegawai, perubahan mindset pegawai terhadap bidang akuntansi dan pelaporan keuangan, dan pembagian tugas yang efektif; c) Persiapan dan penguatan komunikasi dan koordinasi dalam menghadapi perubahan kebijakan dan sistem terkait implementasi basis akrual dan SPAN/SAKTI. Penguatan koordinasi berhubungan dengan transfer skill dan teknologi sehingga tujuan perubahan untuk penyempurnaan pengelolaan keuangan berbasis akrual dapat terwujud; d) Peningkatan kelengkapan dan ketepatan pengisian dokumen sumber terutama SSPB/SSBP sehingga dapat meningkatkan
174 keandalan informasi realisasi belanja dan pendapatan secara akrual; e) Peningkatan keandalan data BMN (persediaan dan aset tetap) melalui perbaikan pola penatausahaan BMN dan kecermatan klasifikasi belanja dalam tahapan perencanaan dan pelaksanaan; 2) Bagi Kementerian Keuangan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan di bidang akuntansi dan pelaporan keuangan, yaitu: a) Penyempurnaan pola pembinaan dan pendampingan dengan memperhatikan karakteristik dan permasalahan kementerian negara/lembaga yang beragam. b) Penguatan infrastruktur pendukung SPAN/SAKTI terutama berhubungan dengan pemeliharaan database. Selain itu, diperlukan formulasi sistem transfer skill dan knowledge yang efektif untuk mendukung masa transisi kebijakan dan sistem. C. Keterbatasan dan Saran Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang diduga menjadi penyebab terdapatnya hipotesis penelitian yang tidak terbukti. Beberapa keterbatasan penelitian adalah sebagai berikut: 1) Data yang digunakan berupa data primer hasil kuesioner yang menggambarkan persepsi responden. Karakteristik responden dan instansi yang beragam berpotensi menimbulkan perbedaan persepsi dalam menanggapi pernyataan
175 kuesioner. Keterbatasan tersebut berusaha diminimalisir dengan menggunakan dua responden untuk setiap kementerian negara/lembaga. Namun keterbatasan waktu penelitian berdampak pada tingkat pengembalian kuesioner yang mencapai 85,87% dan tidak merata di seluruh instansi. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan responden yang lebih banyak dan penggalian informasi yang lebih mendalam melalui wawancara/focus group discussion untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas hasil penelitian. 2) Pejabat yang berpartisipasi dalam pengisian kuesioner dan menjadi narasumber wawancara terbatas pada level eselon III dan IV. Dengan demikian, belum sepenuhnya mewakili perspektif manajemen puncak instansi. Penelitian selanjutnya dapat melibatkan pejabat pada level yang lebih tinggi, sehingga dapat memperkuat analisis dari perspektif yang lebih tinggi. 3) Sampai saat ini belum ada desain baku kualitas implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual di Indonesia dan evaluasi penerapannya secara komprehensif sehingga penelitian ini berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang memuat pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan Laporan Keuangan berbasis Akrual. Begitu pula variabel kualita4s LKKL dalam penelitian ini hanya mengacu kepada karakteristik kualitatif Laporan Keuangan berdasarkan PP tersebut. Akuntansi pemerintahan berbasis akrual mulai diterapkan pada tahun 2015 (belum genap 2 tahun) sehingga data yang digunakan bersifat cross section. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan indikator Opini BPK yang
176 berupa data time series dalam melihat pengaruh implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual di Indonesia.