BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari folikel

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. punggung bagian atas. Jerawat terjadi karena pori-pori kulit. terbuka dan tersumbat dengan minyak, sel-sel kulit mati, infeksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Sebaran usia mahasiswi yang menggunakan kosmetik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

The Correlation between Cosmetics Usage to Acne Vulgaris in Female Student in FKIK Muhammadiyah University of Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. pleomorfik, komedo, papul, pustul, dan nodul. (Zaenglein dkk, 2008).

Jerawat biasanya muncul di wajah, leher, bahu, dada, punggung dan bahu, dan maaf ada juga di daerah pantat.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LatarBelakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit. keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyakit kulit yang melibatkan unit pilosebasea ditandai. Indonesia, menurut catatan Kelompok Studi Dermatologi Kosmetika

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. atas. Akne biasanya timbul pada awal usia remaja.

BAB I PENDAHULUAN. Penampilan bagi remaja dan dewasa muda merupakan salah satu faktor

BAB 1 PENDAHULUAN. polisebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri

ANALISIS IKLAN OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS PADA ENAM MEDIA CETAK YANG BEREDAR DI KOTA SURAKARTA PERIODE BULAN FEBRUARI-APRIL 2009

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh berbagai faktor dengan gambaran klinis yang khas

BAB I PENDAHULUAN UKDW. al, 2008). Tempat-tempat predileksi acne vulgaris adalah wajah, leher,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Akne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. mengandung kelenjar sebasea seperti: muka, dada dan punggung ( kelenjar/cm). 1,2 Acne

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Karateristik Masyarakat Yang Melakukan Swamedikasi Di Beberapa Toko Obat Di Kota Makassar. Program Studi Diploma III Farmasi Yamasi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Self Medication menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. sangat cepat. Perubahan dari bentuk tubuh kanak-kanak pada umumnya ke

BAB I PENDAHULUAN. Akne atau jerawat merupakan penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I. Kesehatan merupakan hal yang penting di dalam kehidupan. Seseorang. yang merasa sakit akan melakukan upaya demi memperoleh kesehatannya

BAB I PENDAHULUAN UKDW. perhatian utama, khususnya pada remaja. Acne Vulgaris atau yang disebut

BAB I PENDAHULUAN. Jerawat atau akne adalah mesalah kulit berupa infeksi dan peradangan

BAB I PENDAHULUAN. suksesnya sistem kesehatan adalah pelaksanaan pelayanan kefarmasian (Hermawati, kepada pasien yang membutuhkan (Menkes RI, 2014).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. papul, pustul, nodul dan kista di area predileksinya yang biasanya pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

SWAMEDIKASI PADA PENGUNJUNG APOTEK DI APOTEK MARGI SEHAT TULUNG KECAMATAN TULUNG KABUPATEN KLATEN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. vulgaris, merupakan penyakit peradangan kronis dari unit pilosebasea akibat

Perawatan Kulit Wajah Manual Pada Kulit Berjerawat (Acne)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal. Kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan Republik

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi cedera luka bakar di Indonesia sebesar 2,2% dimana prevalensi

BAB III METODE PENELITIAN

ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI

EVALUASI EDUKASI. Oleh: K

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. jerawat atau akne (Yuindartanto, 2009). Akne vulgaris merupakan suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan

DEFINISI Ketombe (juga disebut sindap dan kelemumur; dengan nama ilmiah Pityriasis capitis) adalah pengelupasan kulit mati berlebihan di kulit

BAB I PENDAHULUAN. Sakit (illness) berbeda dengan penyakit (disease). Sakit berkaitan dengan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Daenaa Kecamatan Limboto Barat

BAB 1 PENDAHULUAN. dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V PEMBAHASAN. 25 orang (39.1%) yang mengalami jerawat berat. Hasil observasi yang

BAB I PENDAHULUAN. yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat (drug oriented)

A. Pendahuluan. Sumber: Dokumen Pribadi Penulis (2015). Buku Pendidikan Skabies dan Upaya Pencegahannya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang ditunjukkan setelah pasien

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Studi Pendahuluan dan Penentuan Jumlah Sampel Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TEAM BASED LEARNING MODUL. Diberikan pada Mahasiswa Semester V Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH :

BAB I PENDAHULUAN. (Uta, 2003). Jerawat terjadi ketika pori-pori kulit dipenuhi oleh minyak, sel kulit

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Asma adalah suatu inflamasi kronik dari saluran nafas yang menyebabkan. aktivitas respirasi terbatas dan serangan tiba- tiba

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan di apotek Mega Farma Kota Gorontalo pada tanggal

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang. benda asing eksternal seperti debu dan benda asing internal seperti dahak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Akne vulgaris adalah peradangan kronik dari folikel polisebasea yang

Heru Sasongko, M.Sc.,Apt. 3/24/2015 Farmasi UNS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di Desa Talungen Kabupaten Bone Tentang Swamedikasi

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dijumpai, memiliki karakteristik kemerahan dan skuama, terjadi di. daerah yang kaya akan kelenjar sebasea, seperti di wajah, kulit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian Penyuluhan Kesehatan. kegiatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kualitas Hidup. kualitas hidup sebagai persepsi individu dari posisi individu dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. promosi / iklan obat melalui media massa dan tingginya biaya pelayanan kesehatan,

LAMPIRAN 1 Surat Persetujuan Ijin Penelitian dari Rumah Sakit Immanuel Bandung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masyarakat yang setinggi tingginya (Depkes, 2009). Adanya kemajuan ilmu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dan tempat pelayanan kesehatan (DepKes RI, 2002). paling tepat dan murah (Triyanto & Sanusi, 2003).

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

ABSTRAK PENGARUH PENGGUNAAN PIL KONTRASEPSI ORAL KOMBINASI PADA PENGOBATAN AKNE VULGARIS

BAB I PENDAHULUAN. peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang membuat hidup seseorang menjadi sejahtera dan ekonomis. Masyarakat harus berperan aktif dalam mengupayakan kesehatan sendiri agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Upaya masyarakat untuk mengobati diri sendiri dikenal dengan istilah swamedikasi (Depkes, 2006). Swamedikasi adalah perilaku seseorang dalam mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obatan yang dibeli bebas di apotek atau toko atas inspirasi sendiri tanpa resep dokter (Atmoko & Kurniawati, 2009). Swamedikasi dapat dilakukan terhadap penyakit ringan dengan menggunakan obat bebas, obat bebas terbatas dan obat wajib apotek (Atmoko & Kurniawati, 2009). Penyakit ringan yang sering dialami masyarakat, seperti demam, sakit kepala, diare, batuk, pusing, jerawat, dan lain-lain (Depkes, 2006). Jerawat atau dalam bahasa medisnya disebut acne vulgaris merupakan peradangan kronik folikel pilosebasea yang sering diikuti dengan timbulnya komedo, papula, kista pada daerah wajah, bahu, dada, dan punggung (Harahap, 2000). Jerawat berdampak besar terhadap kehidupan pasien (Ismail & Mohammed-Ali, 2012). Jerawat dapat mempengaruhi 85% remaja dan kadang berlanjut pada usia dewasa. Banyak pasien merasa depresi, perubahan perilaku sosial, kecemasan, kemarahan dibandingkan kondisi normal tanpa masalah jerawat (James, 2005). Masyarakat melakukan swamedikasi sebagai alternatif pengobatan. Keterbatasan pengetahuan tentang obat dan penggunaanya akan menimbulkan kesalahan pengobatan dalam melakukan swamedikasi. Masyarakat cenderung hanya tahu merk dagang obat tanpa tahu zat berkhasiatnya (Depkes, 2006). Seringkali dijumpai swamedikasi menjadi sangat boros karena mengkonsumsi obat-obatan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau akan menjadi berbahaya (Kristina et al., 2008). Sering ditemukan pasien jerawat kondisinya memburuk setelah melakukan pengobatan sendiri (Khalid dan Iqbal, 2010). Pemakaian obat 1

2 yang tepat dan aman dapat dilakukan dengan mengetahui sifat dan cara pemakaian obat (Depkes, 2008). Pengetahuan kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan dengan memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui penyuluhan, pemberian ceramah dan leaflet (Notoatmodjo, 2003). Pemberian edukasi dapat mengubah tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang dalam melakukan swamedikasi (Djunarko, 2009). Penggunaan adudiovisual dikombinasi dengan diskusi kelompok cukup efektif untuk meningkatkan pengetahuan. Ceramah merupakan metode penyuluhan yang sering digunakan pada kelompok yang pesertanya lebih dari 15 orang. Ceramah akan berhasil jika penceramah menguasai materi yang akan disampaikan. Leaflet adalah merupakan media penyuluhan yang fungsinya untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat. Keberhasilan penyuluhan dapat dilihat dari adanya peningkatan pengetahuan (Pulungan, 2008). Kurangnya pengetahuan pasien terhadap terapi yang dilakukan dapat meningkatkan ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat (Perwitasari, 2010). Menurut hasil penelitian Andy (2009) tingkat pengetahuan siswa SMA Santo Thomas 1 Medan tentang jerawat didapatkan hasil bahwa 2,2% dikategorikan baik, 10,8% dikategorikan cukup, 46,2% dikategorikan kurang, dan 40,9% dikategorikan buruk. Jerawat akan muncul pada usia remaja (Brown et al., 2011) dan jerawat biasanya akan muncul pada masa pubertas (Harahap, 2000). Masih banyaknya siswa yang memiliki pengetahuan yang buruk tentang jerawat dan berdasarkan uji observasi di SMK Negeri 1 Tebas Provinsi Kalimantan Barat 7 dari 10 siswa memiliki masalah dengan jerawat. Oleh karena itu, peneliti merasa perlu melakukan edukasi pengobatan sendiri mengenai jerawat terhadap siswa SMK Negeri 1 Tebas. Melalui edukasi tersebut diharapkan siswa memiliki pengetahuan pengobatan sendiri dan dapat melakukan penatalaksanaan pengobatan sendiri secara rasional terutama tentang jerawat.

3 B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut: 1. Bagaimanakah perbedaan pengetahuan siswa SMK Negeri 1 Tebas Provinsi Kalimantan Barat tentang penatalaksanaan swamedikasi jerawat setelah mendapatkan edukasi? 2. Metode edukasi apakah yang lebih baik dalam meningkatkan pengetahuan siswa SMK Negeri 1 Tebas Provinsi Kalimantan Barat tentang penatalaksanaan swamedikasi jerawat? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui perbedaan pengetahuan siswa SMK Negeri 1 Tebas Provinsi Kalimantan Barat tentang penatalaksanaan swamedikasi jerawat setelah mendapatkan edukasi. 2. Mengetahui metode edukasi yang paling baik dalam meningkatkan pengetahuan siswa SMK Negeri 1 Tebas Provinsi Kalimantan Barat tentang penatalaksanaan swamedikasi jerawat. D. Tinjauan Pustaka 1. Swamedikasi Swamedikasi adalah prilaku pengobatan penyakit ringan yang dilakukan sendiri. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan dan penyakit ringan yang sering dialami masyarakat, seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, cacingan, diare, penyakit kulit dan lain-lain (Depkes, 2006).Swamedikasi merupakan penggunan obat dalam mengatasi masalah tanpa bantuan tenaga medis dan tidak ada intervensi atau nasehat dari dokter. Terdapat hubungan antar tingkat pengetahuan, jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan dengan perilaku dalam melakukan swamedikasi. Yang paling berpengaruh dalam melakukan swamedikasi adalah tingkat pendidikan (Kristina et al., 2008).

4 Keuntungan swamedikasi adalah efektif menghilangkan keluhan (karena 80% keluhan sakit bersifat selflimiting) mengurangi biaya, menghemat waktu. Dalam melakukan swamedikasi penggunaan obat harus sesuai dengan aturan dan kondisi penderita. Aspek yang harus diperhatikan dalam memilih obat adalah ketepatan indikasi, kesesuaian dosis, ada tidaknya kontraindikasi, efek samping dan interaksi obat dan makanan. Seringkali swamedikasi menjadi sangat boros karena mengkonsumsi obat-obatan yang tidak diperlukan untuk mengatasi keluhan atau penyakit. Hal ini dapat menimbulkan masalah baru atau menjadi berbahaya (Kristina et al., 2008). 2. Jerawat a. Uraian Tentang Jerawat Jerawat atau acne vulgaris adalah gangguan inflamasi unit pilosebasea yang sering terjadi pada remaja (Kraft & Freiman, 2011) dan diikuti dengan timbulnya komedo, papula, pustula, dan kista yang timbul pada daerah muka, bahu, dada, dan punggung (Purdy & David, 2008). Penonjolan padat yang terdapat pada permukaan kulit, berbatas tegas dan ukurannya <1 cm yang disebut dengan papula. Nodula sama seperti papula namun ukuranya lebih besar. Pustula adalah vesikel yang berisi nanah. Kista merupakan penonjolan di atas permukaan kulit berupa kantong yang berisi cairan serosa ( Siregar, 2005). b. Epidemologi Jerawat Jerawat adalah masalah bagi kebanyakan remaja dan mempengaruhi 85% remaja (Larson et al, 2011). Hampir semua orang pernah mengalami masalah jerawat. Umumnya kejadian tersebut terjadi pada usia 14-17 tahun pada wanita sedangkan pada laki-laki terjadi pada usia 16-19 tahun. Kadang pada wanita jerawat menetap sampai usia 30-an bahkan bisa lebih (Djuanda, 2007). c. Etiologi Jerawat Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit jerawat sangat banyak antara lain bangsa atau ras, makanan, musim atau iklim, kebersihan, Faktor keturunan, infeksi, hormonal, kosmetik, dan kejiwaan atau kelelahan (Siregar, 2005). Faktor penyebab pasti jerawat belum diketahui, namun terdapat berbagi faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya jerawat, seperti bakteri

5 Corynebacterium acnes, Staphylococcus epidermis, Pityrosporum adalah mikroba yang menyebabkan jerawat (Harahap, 2000). d. Pengobatan Jerawat 1) Non Farmakologi Mencegah jerawat selain dengan obat-obatan, dapat juga dilakukan dengan terapi non farrnakologi. Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan pasien untuk mengurangi frekuensi dan gejala jerawat adalah perawatan kulit, pemilihan kosmetik sesuai dengan kondisi kulit, diet makanan, menjaga emosi, dan disarankan untuk tidak menyentuh jerawat, memijit, dan menggosok jerawat, karena hal tersebut dapat memperparah kondisi jerawat. Sifat jerawat adalah kumat-kumatan dan kita tidak dapat menghilangkan jerawat dari tubuh namun kita hanya bisa mengontrol jerawat bukan menyembuhkanya (Harahap, 2000). 2) Farmakologi Tujuan pengobatan jerawat adalah mencegah timbulnya komedo, meringankan reaksi peradangan, mempercepat resolusi beradang (Harahap, 2000). Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan memberikan obat topikal, obat sistemik, bedah kulit, atau kombinasi dari cara tersebut. Banyak obat yang dapat dipilih untuk pengobatan jerawat salah satunya adalah obat topikal. Tujuan pengobatan topikal adalah mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan, dan mempercepat penyembuhan lesi (Djuanda, 2007) Berdasarkan cara kerjanya maka obat jerawat dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis. Namun yang dapat diperoleh sebagai obat bebas hanya obat jerawat yang mempunyai efek kreatolitik seperti benzoil peroksida, asam salisilat, dan resorsinol. Obat bebas untuk jerawat terdapat dalam bentuk sediaan topikal atau obat luar berupa salep, krim, lotion, jeli dan sabun. Sebelum penggunaan obat jerawat, kulit dibersihkan dahulu, sebaiknya penggunaan dilakukan sesudah mandi. Bila terjadi alergi, pengunaan obat jerawat dapat dihentikan. (Depkes, 2007).

6 Tabel 1. Pengobatan Topikal Jerawat Zat berkhasiat Nama dagang Aturan pakai Efek samping Asam Salisilat Acne Derm N Dioleskan pada kulit yang Iritasi kulit Acne Derm S berjerawat Resorsinol Clearsil berwarna Dioleskan pada kulit yang Iritasi, alergi Clearsil Putih berjerawat Benzoil Peroksida Benzolac Dioleskan pada muka yang Iritasi kulit Pimplex berjerawat (Depkes, 2007) e. Pencegahan Jerawat Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipis sebum dan perubahan isi sebum dengan cara diet rendah lemak dan karbohidrat, melakukan perawatan kulit untuk membersihkan permukaan kulit dari kotoran dan jasad renik yang mempunyai peran pada penyebab jerawat. Menghindari faktor pemicu juga dapat mencegah jerawat seperti hidup teratur, cukup istirahat, hindari stress, menjaga emosi, mengindari polusi debu, penggunaan kosmetik secukupnya, dan menjauhi terpacunya kelenjar minyak (Djuanda, 2007). 3. Edukasi Edukasi merupakan suatu kegiatan untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, suatu kelompok atau individu. Tujuan dari edukasi adalah agar masyarakat, kelompok atau individu mendapatkan pengetahuan kesehatan yang lebih baik. Adanya pemberian edukasi dapat merubah perilaku dari sasaran edukasi. Agar suatu edukasi dapat memberikan hasil dan lebih efektif, maka halhal yang mendukung kegiatan edukasi harus dipersiapkan dengan baik seperti materi, alat bantu edukasi atau alat peraga, dan petugas yang memberikan edukasi. Jika dipersiapkan dengan baik maka hasil yang didapatkan akan optimal. Setiap sasaran edukasi memiliki metode edukasi yang berbeda. Hal ini bertujuan agar edukasi yang dilakukan sesuai dengan kondisi dari sasaran edukasi dan lebih efektif (Notoatmodjo, 2003). Metode ceramah adalah cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada kelompok siswa. Kelebihan metode ceramah adalah murah, mudah untuk dilakukan, dapat menyajikan materi pelajaran yang luas, dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan, dapat mengontrol keadaan kelas, serta tidak memerlukan persiapan

7 yang rumit. Kekurangan metode ceramah adalah apa yang dikuasai siswa tergantung apa yang dikuasai guru, setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangkap materi pembelajaran melalui pendengarannya, kadang dapat membosankan, dan sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum (Sanjaya, 2010). Media cetak yaitu media yang mengutamakan pesan-pesan visual yang terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Leaflet merupakan bentuk media penyampaian informasi atau pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Kelebihanya antara lain tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak tinggi, tidak perlu listrik, dapat dibawa kemana-mana, mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar. Kekuranganya tidak dapat menstimulir efek suara, efek gerak dan mudah terlipat ( Notoatmojo, 2005). Menurut Mubarak dan Chayatin (2009) tujuan pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu, kelompok, dan masyarakat menuju hal-hal yang positif melalui proses belajar. Perubahan perilaku mencakup tiga ranah perilaku, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan melalui proses pendidikan kesehatan. Perilaku yang sehat dapat berupa emosi yang positif, pengetahuan yang baik, pikiran yang sehat, selanjutnya perilaku tersebut diaplikasikan secara nyata oleh tiap-tiap individu dalam lingkungan keluarga, kelompok, dan masyarakat. 4. Pengetahuan Pengetahuan adalah segala yang didapat manusia melalui media pancaindera. Dalam proses ini, indera penglihatan dan pendengaran merupakan indera yang paling dominan. Dalam mengkaji sesuatu, indera mempunyai tugas yang sangat penting. Pengetahuan dapat berpengaruh terhadap efek tindakan (Notoatmodjo, 2003). Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuannya, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat

8 perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperolehnya (Notoatmodjo, 2002). E. Landasan Teori Edukasi dapat mempengaruhi seseorang dalam pembangunan kesehatan (Notoatmodjo, 2002). Tujuan edukasi adalah agar masyarakat, suatu kelompok atau individu mendapatkan pengetahuan kesehatan yang lebih baik. Adanya edukasi dapat merubah perilaku dari sasaran edukasi (Notoatmodjo, 2003). Perubahan perilaku mencakup tiga ranah perilaku, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan melalui proses pendidikan kesehatan. Perilaku yang sehat dapat berupa emosi yang positif, pengetahuan yang baik, pikiran yang sehat, selanjutnya perilaku tersebut diaplikasikan secara nyata oleh tiap-tiap individu dalam lingkungan keluarga, kelompok, dan masyarakat (Mubarak & Chayatin, 2009). Penyuluhan juga merupakan suatu kegiatan yang sudah dilakukan, dimana bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat. Sebagaimana diketahui penyuluhan itu adalah suatu upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, kelompok dan masyarakat mencakup peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku (Notoatmodjo, 2003). F. Hipotesis Edukasi dapat meningkatkan pengetahuan Siswa SMK Negeri 1 Tebas Provinsi Kalimantan Barat terhadap penatalaksanaan swamedikasi jerawat. Hipotesis nol (H0) : Tidak ada perbedaan antara pretest dengan posttest Atau tidak ada perbedaan pengetahuan siswa tentang penatalaksanaan swamedikasi jerawat sebelum dan sesudah mendapatkan edukasi. Hipotesis alternatif (Ha) : ada perbedaan antara pretest dan posttest atau ada perbedaan pengetahuan siswa tentang penatalaksanaan swamedikasi jerawat sebelum dan sesudah mendapatkan edukasi.