VII. KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
VI. RAMALAN HARGA DUNIA MINYAK NABATI DAN KERAGAAN INDUSTRI MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA TAHUN

II. TINJAUAN UMUM MINYAK NABATI DUNIA DAN MINYAK KELAPA SAWIT INDONESIA

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian

VIII. SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Minyak goreng sawit adalah salah satu jenis minyak makan yang berasal dari

BAB I PENDAHULUAN. sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.

IV. GAMBARAN UMUM. Sumber : WTRG Economics

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG

BAB I PENDAHULUAN. pertukaran barang dan jasa antara penduduk dari negara yang berbeda dengan

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

1.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. mencapai US$ per ton dan mendekati US$ per ton pada tahun 2010.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan suatu Negara yang mempunyai kekayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional, salah satu alat dan

Tinjauan Pasar Minyak Goreng

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pertumbuhan perekonomian suatu negara tentunya tidak terlepas dari

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya hubungan saling ketergantungan (interdependence) antara

BAB I PENDAHULUAN. memperhatikan kelestarian sumber daya alam (Mubyarto, 1994).

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Harga Minyak Mentah Dunia 1. PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. (BPS 2012), dari pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman. bahan makanan, perkebunan, perternakan, kehutanan dan perikanan.

III. TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN PENGEMBANGAN KONTRAK BERJANGKA CPO

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting bagi

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia memiliki potensi alamiah yang berperan positif dalam

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini pemerintah sedang menggalakkan produksi non-migas,

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Produksi CPO di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. banyak kebutuhan lainnya yang menghabiskan biaya tidak sedikit. Guna. sendiri sesuai dengan keahlian masing-masing individu.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian dan perkebunan merupakan sektor utama yang membentuk

LAPORAN AKHIR PENGEMBANGAN MODEL PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOMODITAS PERTANIAN UTAMA. Oleh :

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit Indonesia CPO Turunan CPO Jumlah. Miliar)

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

BAB I PENDAHULUAN. dalam kebijakan pangan nasional. Pertumbuhan ekonomi di negara negara

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

BAB I PENDAHULUAN. negara (Krugman dan Obstfeld, 2009). Hampir seluruh negara di dunia melakukan

Metodologi Pemeringkatan Perusahaan Kelapa Sawit

I. PENDAHULUAN. agraris seharusnya mampu memanfaatkan sumberdaya yang melimpah dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman

ANALISIS KINERJA EKSPOR 5 KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN INDONESIA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian, Semester I 2014 Ekspor Impor Neraca

Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi. Perekonomian Indonesia

I. PENDAHULUAN. Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas penting di Malaysia

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan sangat berarti dalam upaya pemeliharaan dan kestabilan harga bahan pokok,

II. TINJAUAN PUSTAKA

PELUANG DAN PROSPEK BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati yang sangat besar (mega biodiversity) berupa sumber

I. PENDAHULUAN. kebutuhan akan minyak nabati dalam negeri. Kontribusi ekspor di sektor ini pada

IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat yang dihasilkan dari produk CPO, diolah menjadi Stearin Oil

BAB I PENDAHULUAN. sangat diunggulkan, baik di pasar dalam negeri maupun di pasar ekspor. Kelapa

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

ISSN OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

I. PENDAHULUAN. Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang penting di

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Ekspor, Impor, dan Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Menurut Sub Sektor, 2014 Ekspor Impor Neraca

DAMPAK KENAIKAN HARGA MINYAK SAWIT INTERNASIONAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA (SUATU MODEL COMPUTABLE GENERAL EQUILIBRIUM) Oleh :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pada sektor pertanian. Wilayah Indonesia yang luas tersebar diberbagai. meningkatkan perekonomian adalah kelapa sawit. Gambar 1.

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai perkebunan kelapa sawit terluas disusul Provinsi Sumatera. dan Sumatera Selatan dengan luas 1,11 juta Ha.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

V. KERAGAAN PASAR DUNIA MINYAK NABATI

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatannya menghimpun. dan menyalurkan dana dari dan kepada masyarakat yang memiliki fungsi

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I. peranan yang sangat penting dengan memberikan benefit secara langsung pada

PRODUKTIVITAS SUMBER PERTUMBUHAN MINYAK SAWIT YANG BERKELANJUTAN

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

BAB I PENDAHULUAN. Sejak dikembangkannya tanaman kelapa sawit di Indonesia pada tahun 60-an,

V. GAMBARAN UMUM EKONOMI KELAPA SAWIT DAN KARET INDONESIA

PENDAHULUAN. untuk bisa menghasilkan kontribusi yang optimal. Indonesia, khususnya pengembangan agroindustri.

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian integral dari. pembangunan pertanian dan pembangunan nasional. Sektor peternakan di

Analisis Perkembangan Industri

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur atau juga diolah

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun

Optimalisasi Pemanfaatan Biodiesel untuk Sektor Transportasi- OEI 2013

BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap

JAMBI AGRO INDUSTRIAL PARK

BAB I PENDAHULUAN. interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

Transkripsi:

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan 1. Pengaruh harga dunia minyak bumi dan minyak nabati pesaing terhadap satu jenis minyak nabati ditransmisikan melalui konsumsi (ket: efek subsitusi) yang selanjutnya mempengaruhi neraca perdagangan di pasar dunia. Neraca perdagangan di pasar dunia selanjutnya mempengaruhi harga dunia. Harga dunia, nilai tukar dan kebijakan perdagangan selanjutnya mempengaruhi harga ekspor dan harga impor, sedangkan harga domestik di negara eksportir dipengaruhi oleh harga ekspor. Harga domestik di negara eksportir dan harga impor di negara importir selanjutnya akan mempengaruhi konsumi satu jenis minyak nabati. 2. Berdasarkan persamaan pembentukan harga dunia masing-masing minyak nabati diketahui bahwa harga dunia keempat minyak nabati relatif lebih responsif terhadap perubahan impor dunia daripada perubahan ekspor dunia. Harga dunia minyak biji bunga matahari memiliki respon paling besar terhadap perubahan impor dunia, diikuti oleh harga dunia minyak kelapa sawit, harga dunia minyak kedelai dan harga dunia minyak rapeseed. Harga dunia minyak kelapa sawit memiliki respon paling besar terhadap perubahan ekspor dunia, diikuti oleh harga dunia minyak biji bunga matahari, harga dunia minyak kedelai dan harga dunia minyak rapeseed. 3. Kenaikan harga dunia minyak bumi secara umum mendorong peningkatan konsumsi keempat jenis minyak nabati, mempengaruhi neraca perdagangan minyak nabati di pasar dunia yang akhirnya diikuti oleh kenaikan harga dunia minyak nabati. Namun, kenaikan harga dunia minyak nabati relatif lebih kecil

169 dari kenaikan harga dunia minyak bumi, kecuali untuk harga dunia minyak kedelai yang mengalami persentase peningkatan harga yang relatif sama dengan persentase peningkatan harga dunia minyak bumi. Harga dunia minyak kedelai memperoleh dampak yang lebih besar dari kenaikan harga dunia minyak bumi dibandingkan dampak yang diterima oleh harga tiga minyak nabati lainnya, diikuti oleh harga minyak biji bunga matahari, harga minyak rapeseed dan harga minyak kelapa sawit. Selain karakteristik kimia yang mempengaruhi cakupan pemanfaatan keempat minyak nabati sebagai subsitusi minyak bumi dalam kehidupan sehari-hari, secara umum keterbatasan volume produksi dunia minyak nabati dan pemenuhan kebutuhan sektor pangan merupakan kendala utama dalam pemakaian minyak nabati sebagai subsitusi minyak bumi. 4. Efek subsitusi minyak kelapa sawit relatif lebih berpengaruh terhadap konsumsi minyak rapeseed, diikuti terhadap konsumsi minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari. Efek subsitusi minyak rapeseed relatif lebih berpengaruh terhadap konsumsi minyak kedelai, diikuti terhadap konsumsi minyak kelapa sawit dan minyak biji bunga matahari. Efek subsitusi minyak kedelai relatif lebih berpengaruh terhadap konsumsi minyak rapeseed, diikuti terhadap konsumsi minyak biji bunga matahari dan minyak kelapa sawit. Efek subsitusi minyak biji bunga matahari relatif lebih berpengaruh terhadap konsumsi minyak kelapa sawit, diikuti terhadap konsumsi minyak kedelai dan minyak rapeseed. 5. Ramalan harga riil minyak nabati dan harga minyak bumi di pasar dunia untuk periode tahun 2012-2025 cenderung memiliki pola pergerakan harga yang

170 sama dengan tren meningkat yang kecil. Tren peningkatan harga terbesar dimiliki oleh harga dunia minyak kedelai, diikuti oleh harga dunia minyak rapeseed, harga dunia minyak biji bunga matahari dan harga dunia minyak kelapa sawit dengan tren peningkatan harga yang terkecil. 6. Neraca perdagangan keempat minyak nabati untuk periode tahun 2012-2025, diproyeksikan berada pada posisi surplus. Rerata surplus perdagangan tahun 2012-2025 untuk minyak kelapa sawit sebesar 2.04 juta ton/tahun atau 5.07% dari rerata volume ekspor dunia minyak kelapa sawit sebesar 40.20 juta ton/tahun, untuk minyak kedelai adalah 1.4 juta ton/tahun atau 9.60% dari rerata volume ekspor dunia minyak kedelai sebesar 14.6 juta ton/tahun, untuk minyak rapeseed sebesar 258.34 ribu ton/tahun atau 5.22% dari rerata volume ekspor dunia minyak rapeseed sebesar 4.95 juta ton/tahun, dan untuk minyak biji bunga matahari sebesar 85 ribu ton/tahun atau 1.51% dari rerata volume ekspor dunia minyak biji bunga matahari sebesar 5.66 juta ton/tahun. 7. Ramalan produksi minyak kelapa sawit Indonesia untuk periode tahun 2012-2025 menunjukkan tren peningkatan produksi sebesar 2.39%/tahun. Sedangkan laju perkembangan konsumsi dan laju perkembangan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia berturut-turut sebesar 3.09%/tahun dan 2.15%/tahun. Kondisi ini ini relatif berbeda dengan kondisi di tahun 2003-2008. Di tahun 2003-2008 rerata laju peningkatan produksi minyak kelapa sawit Indonesia sekitar 12.75%/tahun dengan laju perkembangan konsumsi dan laju perkembangan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia berturut-turut sebesar 5.23%/tahun dan 18.42%/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pasar domestik akan berperan penting dalam menunjang pengembangan industri

171 kelapa sawit Indonesia di masa depan, yaitu didalam menunjang kestabilan harga maupun jaminan pemasaran hasil produksi. 8. Dari sisi pasar, Indonesia masih memiliki peluang untuk mengembangkan industri kelapa sawit. Selain pasar domestik, permintaan minyak kelapa sawit dan produk turunannya diperkirakan akan terus meningkat, baik untuk pangan maupun non pangan seiiring tren harga minyak bumi yang meningkat. Perkembangan permintaan diperkirakan akan datang dari Cina, India, Uni Eropa dan Pakistan. 7.2. Saran Kebijakan Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran kebijakan bagi pemerintah Indonesia dalam pengembangan industri kelapa sawit di masa depan, antara lain: 1. Upaya peningkatan produksi minyak kelapa sawit Indonesia melalui ekstensifikasi dan intensifikasi usaha di sektor hulu perlu dibarengi oleh peningkatan penyerapan pasar domestik dan stabilitas nilai tukar Rupiah. Selain menjamin pemasaran hasil produksi, peningkatan penyerapan pasar domestik menunjang stabilitas harga minyak kelapa sawit Indonesia. Stabilitas nilai tukar Rupiah diharapkan dapat menekan fluktuasi harga minyak kelapa sawit di dalam negeri yang akhirnya akan mempengaruhi keseimbangan antara produksi, serapan pasar domestik dan volume ekspor minyak kelapa sawit Indonesia. 2. Mendukung upaya peningkatan penyerapan pasar domestik, kebijakan pemerintah Indonesia disarankan lebih ditujukan kepada pengaturan harga di tingkat konsumen akhir (misal: subsidi harga minyak goreng dan harga

172 biodiesel kelapa sawit) maupun kebijakan yang mendorong peningkatan konsumsi lainnya (misal: penerapan domestic market obligation/dmo). 3. Indonesia perlu menyusun grand design industri kelapa sawitnya dalam jangka panjang mengingat: (a) kelapa sawit sebagai komoditi perkebunan dengan adaptasi penawaran terhadap permintaan yang lebih lambat dibandingkan dengan minyak nabati dari kelompok seed oils; (b) di pasar dunia minyak nabati, minyak kelapa sawit Indonesia bersaing dengan minyak kelapa sawit dari negara eksportir lainnya maupun dengan minyak nabati lainnya dan menempatkan Indonesia sebagai price given; (c) harga dunia minyak kelapa sawit relatif lebih peka terhadap perubahan ekspor dibandingkan tiga minyak nabati lainnya (ket: kenaikan ekspor dunia menyebabkan penurunan harga dunia yang lebih besar dibandingkan tiga minyak nabati lainnya), dan (d) keseimbangan antara produksi, serapan pasar domestik dan ekspor minyak kelapa sawit Indonesia menunjang stabilitas harga yang pada akhirnya menentukan kesejahteraan produsen maupun masyarakat selaku konsumen akhir minyak kelapa sawit. 7.3. Saran Penelitian Lanjutan Penelitian ini tidak membahas secara mendalam terkait pasar domestik minyak kelapa sawit Indonesia. Konsumsi minyak kelapa sawit Indonesia didalam penelitian ini berupa pemakaian agregat. Sebagai saran penelitian lanjutan dapat berupa perluasan permodelan dengan melakukan deferensiasi pasar domestik menurut sektor maupun tingkatan industri pengolahan minyak kelapa sawit sebelum sampai di konsumen akhir.

173 Penelitian lanjutan dapat berupa perluasan permodelan dengan memasukkan cojoint product keempat jenis minyak nabati. Diketahui bahwa keempat jenis minyak yang digunakan di dalam permodelan penelitian ini masingmasing memiliki cojoint product dalam proses produksinya. Minyak kelapa sawit memiliki cojoint product berupa inti kelapa sawit yang kemudian diolah menjadi minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil). Sedangkan tiga jenis minyak lainnya termasuk kedalam sub kelompok seed oil dengan cojoint product berupa bungkil (meal). Di pasar dunia minyak nabati, penggunaan minyak inti kelapa sawit terutama sebagai substitusi minyak kelapa (coconut oil) sebagai penghasil lauric oil. Sedangkan penggunaan bungkil umumnya dijadikan sebagai pakan ternak (feed stock) yang akhirnya akan terkait dengan kesetimbangan penawaran dan permintaan daging. Saran penelitian lanjutan dapat berupa perluasan permodelan dengan memasukkan cojoint product keempat jenis minyak yang telah digunakan.