SKABIES. Sri Adila Nurainiwati* Abstrack

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kondisi ekonomi menengah kebawah. Skabies disebabkan oleh parasit Sarcoptes

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

6. Laporan Hasil Uji Laboratorium Kimia Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL & PPM) Kelas 1 Medan...

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Skabies berasal dari bahasa Perancis yaitu scabo, menggaruk (Beth, 1998)

BAB I PENDAHULUAN. Hominis (kutu mite yang membuat gatal). Tungau ini dapat menjalani seluruh

II. TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN

A. Pendahuluan. Sumber: Dokumen Pribadi Penulis (2015). Buku Pendidikan Skabies dan Upaya Pencegahannya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Gambar 1. Perluasan lesi pada telapak kaki. 9

PENYAKIT DARIER PADA ANAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEDIKULOSIS KAPITIS PEDIKULOSIS. Young lices PEDIKULOSIS PEDICULUS KAPITIS. Ordo Phthiraptera 5/2/2011. Tidak bersayap

Yang paling sering : Itching (Pruritus) Ekimosis Dryness Lumps (Bengkak)

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra.

MODUL PROBLEM BASED LEARNING KELAS REGULER SISTEM INDRA KHUSUS

KESEHATAN KULIT RAMBUT DAN KUKU

PROFIL SKABIES DIPOLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2012

MENGENALI PATOGENESIS DAN PENYEBARAN SKABIES DI DAERAH BERIKLIM TROPIS DAN SUBTROPIS

LAPORAN KASUS MAHASISWA KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LEMBAR INFORMASI. D III Keperawatan Malang, oleh karena itu mohon kesediaan untuk menjadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Notoatmodjo(2011),pengetahuan mempunyai enam tingkatan,yaitu:

All about Tinea pedis

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Skabies adalah penyakit kulit pada manusia yang. disebabkan oleh Sarcoptes scabiei var.

II. TINJAUAN PUSTAKA. tungau Sarcoptes scabei. Skabies tidak membahayakan bagi manusia.

BAB VII SKABIES. Universitas Gadjah Mada 1

Skabies. Firza Syailindra 1, Hanna Mutiara 2. Scabies

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN RINGKASAN. A. Kesimpulan. Kesimpulan yang dapat diambil pada penelitian ini antara lain:

KULIT SEBAGAI ORGAN PROTEKSI DAN ESTETIK

TEAM BASED LEARNING MODUL BINTIL PADA KULIT

I. PENDAHULUAN. serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan (Siregar, 2004). Penyakit

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pada Infeksi Jamur Subkutan

BAB 1 PENDAHULUAN. (Heukelbach et al. 2006). Skabies terjadi pada kedua jenis kelamin, di segala usia,

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit Skabies

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan cara

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang angka kejadiannya cukup tinggi di negara berkembang. Salah

EFEKTIVITAS PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN SANTRI PONDOK PESANTREN DI JAKARTA SELATAN MENGENAI SARCOPTES SCABIEI

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi Trichuris trichiura adalah salah satu penyakit cacingan yang banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT SKABIES PADA PESANTREN DI KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2007 TESIS. Oleh MUZAKIR /AKK

BAB II TIJAUAN PUSTAKA. A. Infeksi cacing Enterobius vermicularis (Enterobiasis)

SCABIOSIS. Oleh. Laporan Kasus Mandiri Koasistensi Magang II di Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih-SUMUT

BAB I PENDAHULUAN. tubuh dari pengaruh lingkungan hidup. Organ ini merupakan alat tubuh

BAB I PENDAHULUAN. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisa

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS

Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Derajad Sarjana S-1 KEPERAWATAN. Diajukan Oleh : NURMA RAHMAWATI J

BAB I PENDAHULUAN. punggung bagian atas. Jerawat terjadi karena pori-pori kulit. terbuka dan tersumbat dengan minyak, sel-sel kulit mati, infeksi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

gatal-gatal (Yulianus, 2005). Walaupun tidak sampai membahayakan jiwa, penyakit skabies perlu mendapatkan perhatian karena tingkat penularannya yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. Pediculosis humanus capitis (kutu) adalah salah satu ektoparasit penghisap

DR. TUTI SUPARYATI, M. KES NIDN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT SCABIES

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit kulit banyak di jumpai di Indonesia, hal ini disebabkan karena

Obat Luka Diabetes Pada Penanganan Komplikasi Diabetes

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sensitisasi terhadap sarcoptes scabies var hominis dan produknya. menyerupai orang menari (Hamzah, 1981)

BAB II TINAJUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabiei varietas hominis

TINJAUAN PUSTAKA. Kutu penghisap merupakan parasit penghisap darah mamalia yang

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Dermoskopi Sebagai Teknik Pemeriksaan Diagnosis dan Evaluasi Lesi

BAB 1 PENDAHULUAN. tinggi. Berbagai program telah dilaksanakan oleh pemerintah guna menurunkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terlibat pada daerah janggut. Infiltrasi terberat sering pada regio ocipital dan

: Satu Kasus Tersangka Dermatomiositis Yang Menunjukan

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Skabies adalah penyakit menular disebabkan infestasi dan sensitasi Sarcoptes

BAB 1 PENDAHULUAN. kemudian akan mengalami asma dan rhinitis alergi (Djuanda, 2007). inflamasi dan edukasi yang kambuh-kambuhan (Djuanda,2007).

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode cross sectional dengan cara mengambil data rekam medis di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Personal hygiene adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara

Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Penatalaksanaan Skabies Anak Usia Pra-Sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pediculus humanus capitis. Prevalensi dan insidensi PK di seluruh dunia cukup

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Rambut merupakan mahkota bagi setiap orang. Masalah kulit kepala sering

BAB I PENDAHULUAN. klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papula, vesikel, skuama) dan

OTC (OVER THE COUNTER DRUGS)

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Hidrokinon dalam Kosmetik

BAB I PENDAHULUAN. sehat,tidak bau, tidak menyebarkan kotoran atau menyebabkan penyakit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sensitisasi tungau Sarcoptes Scabiei varian hominis dan produknya pada

PIODERMA. Dr. Sri Linuwih S Menaldi, Sp.KK(K) Dr. Wieke Triestianawati, Sp.KK(K) Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI / RSCM Jakarta

PENGARUH SIKAP TENTANG KEBERSIHAN DIRI TERHADAP TIMBULNYA SKABIES ( GUDIK ) PADA SANTRIWATI DI PONDOK PESANTREN AL-MUAYYAD SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kelembaban tinggi. Pedikulosis kapitis merupakan infestasi kutu kepala Pediculus

HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN SKABIES DI PONDOK PESANTREN AS-SALAM SURAKARTA 2013 NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. pesantren. Istilah pondok, mungkin berasal dari kata funduk, dari bahasa Arab

Transkripsi:

68 Vol. 7 No. 15 Desember 2011 SKABIES Sri Adila Nurainiwati* Abstrack Scabies is a human skin infestation caused by the infestations and sensitization of the parasitic Sarcoptes scabiei var. hominis. Scabies has been spread around in the world especially in the tropics and subtropics. There are several types of clinical manifestation. The diagnosis is based on a history of itching at night, a typical distribution of lesions, history of similiar complaints in other family members. Diagnosis must be established with the discovery of mites on microscopic examination that can be done in various ways. The are number of topical treatments for scabies. The selections of drug based on effectivenes potential toxicity of drugs and how to use the proper. Abstrak Skabies adalah infeksi kulit pada manusia yang disebabkan infestasi dan sensitisasi parasit Sarcoptes scabiei var. hominis. Skabies telah menyebar ke seluruh dunia, terutama pada daerah beriklim tropis dan subtropis. Terdapat beberapa jenis manifestasi klinis yang berbedabeda. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya riwayat gatal pada malam hari, distribusi lesi yang khas, riwayat keluhan yang sama pada anggota keluarga lain. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya tungau pada pemeriksaan mikroskopis yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Terdapat beberapa pilihan pengobatan berupa topikal antiscabies. Pemilihan obat berdasarkan efektivitas dan potensi toksisitas obat serta cara penggunaan yang tepat. Skabies adalah erupsi kulit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi oleh kutu Sarcoptes scabiei var. hominis dan bermanifestasi sebagai lesi papular, pustul, vesikel, kadang-kadang erosi serta krusta, dan terowongan berwarna abu-abu yang disertai keluhan subyektif sangat gatal; ditemukan terutama pada daerah celah dan lipatan. Di beberapa negara sinonim penyakit skabies adalah the itch (Inggris), gale (Perancis), Kratze (Jerman) mite infestation, gudik, budukan dan gatal agogo. Penyakit ini pertama kali diuraikan oleh dokter Abumezzan Abdel Malek bin Zohar dengan menggunakan istilah soab sebagai sesuatu yang hidup pada kulit dan menye babkan gatal. Pada tahun 1687 Giovan Cosino Bonomo menemukan kutu skabies pertama kali sebagai little bladder of water dan lesi skabies pada anak seorang perempuan miskin. Skabies disebut juga sebagai a great immitator karena memberikan gambaran klinis yang sangat bervariasi, sulit dibedakan dengan beberapa penyakit kulit yang disertai gatal. Skabies telah menyebar ke seluruh dunia, terutama pada daerah beriklim tropis dan subtropis. Perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keadaan sosial-ekonomi yang rendah, kondisi perang, kepadatan penghuni yang tinggi, tingkat higiene yang buruk, kurangnya pengetahuan, dan kesalahan dalam diagnosis serta penatalaksanaan skabies. Pada umumnya tidak ada perbedaan jenis kelamin. Transmisi atau perpindahan skabies antar penderita dapat berlangsung melalui kontak langsung dan orang ke orang dengan akrab dan erat serta kontak kulit yang cukup lama. Hal ini dapat terjadi bila hidup dan tidur bersama, terutama anak- anak yang mendapat infestasi tungau dari ibunya, hidup dalam satu asrama, atau para perawat. Selain itu juga dapat melalui kontak tidak langsung, yaitu melalui pakaian yang digunakan bersama atau alat mandi yang tidak terpisah. Sarcoptes scabiei var.hominis termasuk famili Sarcoptiase dan kelas Arachniada, berbentuk lonjong, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Besar tungau ini sangat bervariasi. yang betina * Staff Pengajar Pada Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang 68

SKABIES 69 berukuran kira-kira 0,4 mm x 0,3 mm sedangkan yang jantan ukurannya lebih kecil 0,2 mm x 0,15 mm. Tungau ini translusen dan berwarna putih kotor, pada bagian dorsal terdapat bulu-bulu dan duri serta mempunyai pasang kaki, bagian anterior 2 pasang sebagai alat untuk melekat sedangkan 2 pasang kaki terakhir pada betina berakhir dengan rambut. Pada yang jantan pasangan kaki yang ketiga berakhir dengan rambut dan yang keempat berakhir dengan alat perekat. Tungau betina yang telah dibuahi mempunyai ke mampuan untuk membuat terowongan pada kulit sampai di perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum dengan kecepatan 0,5-5 mm per hari. Di dalam terowongan ini tungau betina akan bertelur sebanyak 2-3 butir setiap hari. Seekor tungau betina dapat bertelur sebanyak 40-50 butir semasa siklus hidupnya yang berlangsung kurang lebih 30 hari. Telur akan menetas dalam waktu 3-4 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Setelah 3 hari larva kemudian berubah menjadi nimfa dengan 4 pasang kaki dan selanjutnya menjadi tungau dewasa. Siklus hidup tungau mulai dan telur sampai dewasa memerlukan waktu selama 10-14 hari. Pada suhu kamar (21 0 C dengan kelembaban relatif 40-80%) tungau masih dapat hidup di luar pejamu selama 24-36 jam. Penelitian lain tahun 1997 menemukan rata-rata 11 tungau betina pada seorang pasien scabies. Masuknya S. scabiei ke dalam epidermis tidak segera memberikan gejala pruritus. Rasa gatal timbul 1 bulan setelah infestasi primer serta adanya infestasi kedua sebagai manifestasi respon imun terhadap tungau maupun sekret yang dihasilkannya di terowongan bawah kulit. Sekret dan ekskreta yang dikeluarkan tungau betina bersifat toksik atau antigenik. Diduga bahwa terdapat infiltrasi sel dan deposit IgE di sekitar lesi kulit yang timbul. Pelepasan IgE akan memicu terjadinya reaksi hipersensitivitas, meskipun hal ini masih belum jelas. Pada bayi dan anak sebagai kelompok yang paling banyak mengalami skabies, selain faktor imunitas yang belum memadai faktor penularan dan orangtua, terutama ibu, serta faktor anak yang sudah mulai beraktivitas di luar rumah dan di sekolah juga ikut berperan terhadap timbulnya skabies. Gejala klinis utama pada skabies adalah rasa gatal, terutama dirasakan pada malam hari (pruritus nokturnal) atau bila cuaca panas serta pasien berkeringat, oleh karena meningkatnya aktivitas tungau saat suhu tubuh meningkat. Rasa gatal disertai gejala lainnya, biasanya timbul 3-4 minggu setelah tersensitisasi oleh produk tungau di bawah kulit. Lesi yang timbul di kulit pada umumnya simetris tempat predileksi utama adalah sela jari tangan fleksor siku dan lutut, pergelangan tangan, areola mammae, umbilikus, penis aksila, abdomen bagian bawah dan bokong. Pada anak-anak usia kurang dan 2 tahun, lesi cenderung di seluruh tubuh terutama kepala, leher, telapak tangan dan kaki, sedangkan pada anak yang lebih besar predileksi lesi menyerupai orang dewasa. Pada bayi lesi dapat ditemukan di muka dan kulit kepala, terutama yang minum air susu ibu (ASI) dan ibu yang menderita skabies. Pada skabies yang kronik, terdapat gambaran likenifikasi dan hiper pigmentasi. Selain bentuk klinis tersebut, pada bayi dan anak juga terdapat beberapa bentuk klinis yang lain, yaitu: 1. Skabies pada orang bersih. Gejala minimal dan terowongan nya sukar di temukan. Terdapat pada orang dengan tingkat kebersihan yang tinggi dan kutu dapat hilang akibat mandi yang teratur. 2. Skabies inkognito. Pemakaian kortikosteroid topikal atau sistemik dapat memperbaiki gejala dan tanda klinis skabies, tetapi infestasi kutu dan kemungkinan penularan nya tetap ada. 3. Skabies nodulanis. Manifestasi yang unik pada bayi dan anak-anak. Lesi berupa nodus warna coklat kemerahan dan gatal yang terdapat pada daerah tentutup, terutama genitalia laki- laki, inguinal dan aksila. Tungau jarang ditemukan pada nodus. Nodulus dan noduli mungkin timbul akibat reaksi hipersensitivitas, lesi ini dapat bertahan beberapa bulan hingga satu tahun walaupun penderita telah diberikan obat antiskabies. 4. Skabies dishidrosiform. Ditandai kelompok vesikel dan pustul pada tangan dan kaki yang sering berulang dan selalu sembuh dengan obat antiskabies topikal. Tidak dapat ditemukan tungau pada lesi dan dapat sembuh sendiri secara bertahap dalam beberapa bulan sampai lebih dan satu tahun. Skabies jenis ini umumnya ditemukan pada anak-anak yang diadopsi di negara-negara Asia (Vietnam dan Korea). 5. Skabies krustosa (skabies Norwegia). Pertama kali ditemukan di Norwegia pada tahun 1848. Kasus skabies jenis ini jarang ditemukan. Biasanya

70 Vol. 7 No. 15 Desember 2011 terjadi pada mereka dengan respons imun abnormal atau keadaan imunosupresi, kelainan atau gangguan susunan saraf pusat, gangguan sensisitasi dan malnutrisi. Skabies Norwegia ditandai dengan lesi yang luas, eritematosa, dengan krusta tebal disertai daerah hiperkeratotik pada skalp, telinga, siku, lutut, telapak tangan dan kaki, serta bokong, dan benskuama. Dapat disertai distrofi kuku dan menjadi genenalisata. Pruritus tidak menonjol tetapi sangat menular karena populasi tungau pada kulit sangat banyak (ribuan), baik dalam bentuk tungau dewasa, telur, maupun larva.jumlah tungau yang terdapat di dalam lesi dapat mencapai 2 juta pada seorang pasien (sangat kontagius dan merupakan sumber epidemi). Jenis ini juga dapat ditemukan pada orang tua serta pasien dengan sensasi kulit yang rendah, pasien imunokompromais, dan bayi, yang menmpunyai respons imunologis tidak memadai. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya riwayat gatal pada malam hari, distribusi lesi yang khas, riwayat gatal/lesi yang sama pada anggota keluarga lain. Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya tungau pada pemeriksaan mikroskopis yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : 1. Kerokan kulit. Minyak mineral diteteskan di atas papul atau terowongan baru yang masih utuh, kemudian dikerok dengan meng gunakan skalpel steril untuk mengangkat atap papul atau terowongan, lalu diletakkan di atas gelas objek, di tutup dengan gelas penutup, dan diperiksa di bawah mikroskop. Hasil positif apabila tampak tungau, telur, larva, nimfa, atau skibala. Pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati pada bayi dan anak-anak atau pasien yang tidak kooperatif. 2. Mengambil tungau dengan jarum. Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap, lalu digerakkan secara tangensial. Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar. 3. Epidermal shave biopsi. Mencari terowongan atau papul yang dicurigai pada sela jari antara ibu jari dan jari telunjuk, lalu dengan hati-hati diiris pada puncak lesi dengan skalpel no. 16 yang dilakukan sejajar dengan permukaan kulit. Biopsi dilakukan sangat superfisial sehingga tidak terjadi pendarahan dan tidak memerlukan anestesi. Spesimen kemudian diletakkan pada gelas objek, lalu ditetesi minyak mineral dan periksa di bawah miknoskop. 4. Tes tinta Burrow. Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan alkohol. Jejak terowongan akan tampak sebagai garis yang karakteristik berbelok-belok karena adanya tinta yang masuk. Tes ini mudah sehingga dapat dikerjakan pada bayi/anak dan pasien nonkooperatif. 5. Kuretasi terowongan. Kuretasi superfisial sepanjang sumbu terowongan atau pada puncak papul, lalu kerokan diperiksa di bawah mikroskop setelah ditetesi minyak mineral. Cara ini dilakukan pada bayi, anak-anak, dan pasien nonkooperatif. 6. Tetrasiklin topikal. Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai, setelah 5 menit dikeringkan dengan menggunakan isopropil alkohol. Tetrasiklin akan berpenetrasi ke dalam kulit melalui kerusakan stratum korneum sehingga terowongan akan tampak dengan penyinaran lampu Wood sebagai garis lurus berwarna kuning kehijauan. 7. Hapusan kulit. Kulit dibersihkan dengan eter, kemudian dengan gerakan cepat selotip dilekatkan pada lesi dan diangkat. Selotip lalu diletakkan di atas gelas objek (enam buah dan lesi yang sama pada satu gelas objek), dan diperiksa di bawah mikroskop. 8. Menggunakan epiluminescence dermatoscopy. Teknik ini memeriksa kulit secara rinci mulai dan lapisan atas sampai ke papila dermis. Hasil pemeriksaan dapat diketahui dalam beberapa menit. Cara ini khusus digunakan pada anak-anak, orang tua, dan pasien imunodefisiensi. Gambaran histopatologis menunjukkan bahwa terowongan pada skabies terletak pada stratum korneum di mana tungau betina akan tampak pada bagian ujung terowongan di bagian stratum Malphigi. Kelainan yang tampak berupa proses inflamasi ringan serta edema lapisan Malphigi dan sedikit infiltrasi perivaskular. Pada lesi papulovesikular tampak berbagai sel infiltrat, terdiri atas limfosit, histiosit dan eosinofil yang terdapat di sekitar pembuluh darah. Jumlah sel mas juga meningkat bila dibandingkan dengan lesi sekunder atau kulit normal. Di dalam stratum korneum, selain ditemukan tungau juga terdapat larva, nimfa,

SKABIES 71 telur, dan feses. Pada epidermis terdapat fokus spongiosis dengan sel parakenatosis berkrusta dan bahan eosinofilik homogen. Pada tipe nodular tampak infiltrat perivaskular pada dermis yang terdiri atas limfosit, histiosit, sel plasma, eosinofil dan sel mononuklear atipik. Dinding pembuluh darah tampak menebal, bahkan dapat terjadi vaskulitis serta adanya deposit fibrin dan sel-sel radang di dalam dinding sel. Skabies Norwegia ditandai dengan adanya ortokenatosis dan panakeratosis masif serta mengandung sejumlah besar tungau skabies dalam berbagai stadia. Pada stratum spinosum terlihat fokus spongiosis dan abses neutrofilik. Penatalaksanaan secara umum, menjaga kebersihan dengan mandi secara teratur setiap hari. Semua pakaian, seprei, dan handuk yang telah digunakan harus dicuci secara teratur dan bila perlu direndam dengan air panas. Demikian pula halnya dengan anggota keluarga yang berisiko tinggi untuk tertular, terutama bayi dan anak-anak, juga harus dijaga kebersihannya dan untuk sementara waktu menghindari terjadinya kontak langsung. Selain itu juga ditekankan untuk mengobati semua anggota keluarga secara serentak. Penatalaksanaan khusus dengan memberi obat antiskabies. Pemilihan obat berdasarkan efektivitas dan potensi toksisitas obat serta cara penggunaan yang tepat. Ada beberapa macam obat antiskabies, yaitu: 1. Lindane (gamma benzena hexachioride = GBHC). Merupakan obat pilihan untuk skabies oleh karena dapat membunuh tungau S. scabiei (bersifat skabisid) dan nimfa serta mencegah menetasnya telur. Tersedia dalam bentuk krim, lotion, dan gel yang tidak berbau dan tidak berwarna dengan konsentrasi 1%. Cara pemakaiannya dengan mengoleskan ke seluruh tubuh, di diam kan selama 12-24 jam, lalu dicuci bersih. Penggunaan hanya satu kali dan dapat diulang seminggu kemudian dengan maksimum pengobatan 2 kali (interval 1 minggu). Pemberian ulangan dimaksudkan untuk memusnahkan larva yang menetas dan tidak mati oleh pengobatan sebelumnya. Penggunaan yang berlebihan dapat memberikan efek toksik terhadap susunan saraf pusat (neurotoksik), maka penggunaannya hanya dianjurkan pada anakanak berusia lebih dan 2 tahun dengan pemakaian pada kulit hanya selama 6 jam. 2. Permetrin. Tersedia dalam bentuk krim 5%, merupakan obat antiskabies yang relatif baru. Sifat skabisidnya sangat baik, merupakan sintesa piretroid, aman karena efek toksisitasnya terhadap mamalia sangat rendah, dan kemungkinan keracunan karena salah penggunaan sangat kecil. Hal ini disebabkan karena hanya sedikit obat yang diabsorbsi dan obat di metabolisme secara cepat. Belum pernah dilaporkan resistensi terhadap permetrin. Cara pemakaian dengan dioleskan ke seluruh tubuh, di diamkan 8-12 jam, kemudian dicuci bersih dan dapat di ulangi 1 minggu kemudian apabila belum sembuh. Permetrin merupakan obat pilihan utama untuk semua usia, tetapi beberapa kepustakaan menganjurkan untuk tidak diberikan pada bayi kurang dari 2 bulan, wanita hamil, dan ibu menyusui. Efek samping berupa rasa terbakar, perih, dan gatal jarang ditemukan. 3. Krotamiton (crotonyl-n-ethyl-o-toiuidine). Tersedia dalam bentuk krim atau lotion 10%. bersifat skabisid, tetapi tidak mempunyai efektivitas yang tinggi terhadap skabies, tidak mempunyai efek sistemik, serta aman digunakan pada wanita hamil, bayi, dan anak-anak. Cara pemakaian dengan dioleskan dan digosok (massage) ke seluruh tubuh selama 2 malam kemudian dicuci bersih setelah aplikasi kedua. Pakaian, terutama pakaian dalam dan alat tidur diganti dengan yang bersih. Efek samping berupa iritasi bila digunakan dalam jangka waktu lama. Untuk memperoleh hasil yang lebih efektif. penggunaan dilanjutkan sampai 5 hari, terutama pada bayi dan anak. 4. Sulfur. Tersedia dalam bentuk parafin padat, lunak, dan berwarna dengan konsentrasi 10%, yang bila kontak denga n jaringan hidup akan membentuk hidrogen sulfida dan asam pentationat yang bersifat germisid dan fungisid. Aman dan efektif sehingga dapat dipakai pada bayi, anak- anak, serta wanita hamil dan menyusui dengan konsentrasi 2-4% (anak), 6-8% (wanita) dan 10% (laki-laki). Cara pemakaian dengan dioleskan pada badan dan seluruh ekstremitas selama 3 hari berturut-turut, kemudian mandi dan cuci bersih setelah aplikasi terakhir. Dapat diulangi penggunaannya setelah 1 minggu kemudian. Kerugian pemakaian obat ini berupa bau tidak enak, mewarnai pakaian dan kadangkadang menimbulkan iritasi.

72 Vol. 7 No. 15 Desember 2011 5. Benzil benzoat. Tersedia dalam bentuk emulsi atau lotion dengan konsentrasi 25-3o%. Pada anak-anak dilakukan pengenceran dengan 2 atau 3 bagian air. Cara pemakaian dengan dioleskan dan dibiarkan pada kulit selama 24 jam, setiap 2-3 hari berturut-turut dengan interval 1 minggu. Obat ini efektif dan secara kosmetik dapat diterima, walaupun dapat menimbulkan gatal dan iritasi. 6. Ivermektin. Bahan semi sintetik yang dihasilkan oleh Streptomyces avermitilis, merupakan antiparasit yang strukturnya mirip antibiotik makrolid, diketahui aktif melawan ekto dan.endoparasit. Merupakan suatu lakton makrosiklik dan ternyata sangat efektif sebagai antiparasit berspektrum luas untuk melawan berbagai jenis nematoda dan artropoda, termasuk kutu, tungau, dan kutu anjing. Diberikan secara oral dengan dosis tunggal 200 pg/ kgbb dilaporkan efektif untuk skabies. Dianjurkan pada anak usia lebih dan 5 tahun. Juga tersedia formulasi topikal yang efektif akan tetapi sering memberikan efek samping berupa dermatitis kontak dan nekrolisis epidermal toksik. REFERENSI Odom RB, James WD, Berger TG. Andrew s diseases of the skin, 9 th ed. W.B. Saunders Company 2000 Fitzpatrick s Dermatology in General Medicine,7 th ed.new York:McGraw-Hill 2008 Fitzpatrick s Color Atlas & synopsis of Clinical Dermatology, 6 th ed. Wolff K, Johnson AR. New York:McGraw-Hill 2009 Kane KSM, Lio PA, Stratigos AJ, Johnson RA. Color Atlas & Synopsis of Pediatric Dermatology, 2 th ed. New York:McGraw- Hill 2009 Hurwitz S. Clinical Pediatric Dermatology, 2 nd ed.hurwitz Philadelphia : W.B. Saunders Company1993 Rook, Wilkinson, Ebling, Text Book of Dermatology.7 th ed.oxford : Blacwell Science Ltd 2011