BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Orangutan yang sedang beraktivitas di hutan

BUKU CERITA DAN MEWARNAI PONGKI YANG LUCU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi dan Morfologi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Klasifikasi ilmiah orangutan Sumatera menurut Groves (2001) adalah

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN:

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi dan Morfologi Orangutan. tetapi kedua spesies ini dapat dibedakan berdasarkan warna bulunnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah siamang berdasarkan bentuk morfologinya yaitu: (Napier and

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan jenis kera kecil yang masuk ke

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Napier dan Napier (1967), klasifikasi ilmiah simpai sebagai berikut :

MENGENAL BEBERAPA PRIMATA DI PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM. Edy Hendras Wahyono

Lutung. (Trachypithecus auratus cristatus)

ESTIMASI KEPADATAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) BERDASARKAN JUMLAH SARANG DI BUKIT LAWANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER SUMATERA UTARA SKRIPSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Menurut Napier dan Napier (1985) monyet ekor panjang dapat. Superfamili : Cercopithecoidea

TINJAUAN PUSTAKA. (1) secara ilmiah nama spesies dan sub-spesies yang dikenali yang disahkan

Informasi singkat tentang jenis primata baru khas Sumatera. Orangutan Tapanuli. Pongo tapanuliensis. Jantan dewasa Orangutan Tapanuli Tim Laman

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Area. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan satu kesatuan

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Gajah Sumatera (Elephas maxius sumateranus) Menurut Lekagung dan McNeely (1977) klasifikasi gajah sumatera

TINJAUAN PUSTAKA. Pongo pygmaeus di Borneo dan orangutan Pongo abelii di Sumatera merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem Cagar Alam (CA) Dolok Sibual Buali secara administrasi

BRIEF Volume 11 No. 05 Tahun 2017

TINJAUAN PUSTAKA. mempunyai kekhasan/keunikan jenis tumbuhan dan/atau keanekaragaman

II. TINJAUAN PUSTAKA. sumatera. Klasifikasi orangutan sumatera menurut Singleton dan Griffiths

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA Biologi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Monyet ekor panjang merupakan mamalia dengan klasifikasi sebagai berikut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EKOLOGI, DISTRIBUSI dan KONSERVASI ORANGUTAN SUMATERA

Kampus USU Medan 20155

2015 LUWAK. Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian

TINJAUAN PUSTAKA. Orangutan adalah kera besar, oleh karena itu memiliki ciri-ciri khas dasar

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu dari sub

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB V HASIL. Gambar 4 Sketsa distribusi tipe habitat di Stasiun Penelitian YEL-SOCP.

Burung Kakaktua. Kakatua

II. TINJAUAN PUSTAKA. Siamang yang ditemukan di Sumatera, Indonesia adalah H. syndactylus, di

II. TINJAUAN PUSTAKA. frugivora lebih dominan memakan buah dan folivora lebih dominan memakan

Faktor Faktor Penentu Keberhasilan Pelepasliaran Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) di Taman Nasional Bukit Tigapuluh

SD kelas 6 - BAHASA INDONESIA BAB 8. MENULIS TERBATASLATIHAN SOAL 8.6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Bio-ekologi Orangutan. Klasifikasi dan Morfologi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Trisik adalah kawasan yang masih menyimpan sisa keanekaragaman

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang

Aktivitas Harian Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Bali Safari and Marine Park, Gianyar

II. TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Morfologi Umum Primata

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Arthropoda merupakan filum terbesar dalam dunia Animalia yang mencakup serangga, laba-laba, udang,

I. PENDAHULUAN. Salah satu primata arboreal pemakan daun yang di temukan di Sumatera adalah

BAB I PENDAHULUAN. Sokokembang bagian dari Hutan Lindung Petungkriyono yang relatif masih

II.TINJAUAN PUSTAKA. Mamalia lebih dikenal dari pada burung (Whitten et al, 1999). Walaupun

BAB III METODE PENELITIAN

Soal ujian semester Ganjil IPA kelas X Ap/Ak. SMK Hang Tuah 2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), Setothosea asigna di klasifikasikan sebagai

II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan

Tetratichus brontispae, PARASITOID HAMA Brontispa longissima

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tebu diklasifikasikan sebagai berikut, Kingdom: Plantae; Subkingdom:

II. TINJAUAN PUSTAKA

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

I. PENDAHULUAN. Seluruh jenis rangkong (Bucerotidae) di Indonesia merupakan satwa yang

BAB V PROFIL SATWALIAR GUNUNG PARAKASAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

POPULASI DAN PERLLAKU BEKANTAN (Nasalis larvalus) DI SAMBOJA KOALA, KALIMANTAN TIMUR

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi hama penggerek batang berkilat menurut Soma and Ganeshan

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 4. KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DALAM PELESTARIAN EKOSISTEMLatihan Soal 4.3

KAJIAN KEPUSTAKAAN. terdiri atas dua sub spesies yaitu kerbau liar dan kerbau domestik. Kerbau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang

I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat

PERILAKU MAKAN DAN JENIS PAKAN ORANGUTAN(Pongo pygmaeus) DI YAYASAN INTERNATIONAL ANIMAL RESCUE INDONESIA (YIARI) KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Taksonomi

TINJAUAN PUSTAKA. energi pada kumunitasnya. Kedua, predator telah berulang-ulang dipilih sebagai

JENIS_JENIS TIKUS HAMA

Badak Jawa Badak jawa

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang ada di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Distribusi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kukang adalah salah satu spesies primata dari genus Nycticebus yang

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup

TINJAUAN PUSTAKA. Kawasan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas

KEHATI & KLASIFIKASI KELAS LINTAS MINAT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Aktivitas Harian Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor

II. TINJAUAN PUSTAKA Ekologi Telur

BAB IV METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Taksonomi Kukang Sumatera (Nycticebus coucang Boddaert, 1785)

KEKAYAAN NYAMPLUNG DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON Oleh : Aris Budi Pamungkas & Amila Nugraheni

I. PENDAHULUAN. tailed macaque) (Lekagul dan Mcneely, 1977). Macaca fascicularis dapat ditemui di

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Walet Sarang Lumut, Burung Walet Sapi, Burung Walet Gunung dan Burung

KONSERVASI Habitat dan Kalawet

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Orangutan Orangutan termasuk kera besar dari ordo Primata dan famili Pongidae (Groves, 2001). Ada dua jenis orangutan yang masih hidup, yaitu jenis dari Sumatera (Pongo abelii) dan dari Kalimantan (Pongo pygmaeus) (Van Bammel 1968; Jones 1969). Kedua anak jenis ini terisolasi secara geografis paling sedikit sejak 10.000 tahun yang lalu ketika permukaan laut antara pulau Sumatera dan pulau Kalimantan naik (Meijaard, 2001). Menurut Groves (2001), orangutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Primata Famili : Pongidea Genus : Pongo Spesies : Pongo abelii 2.2. Morfologi Orangutan Orangutan secara morfologi tidak berekor dan mempunyai telinga serta hidung yang kecil. Rambutnya panjang, lembut dan berwarna kepirangan. Rambut keningnya tidak mudah terlihat ketika tulang mulut dan dagunya menonjol keluar. Kepalanya berbentuk bujur dan matanya kecil. Serta memiliki lengan yang panjang dan kuat dengan jangkauan lengannya bisa mencapai mata kaki ketika hewan ini berdiri. Tubuhnya memiliki tinggi sekitar 1,25-1,50 meter dan tingginya ketika duduk adalah sekitar 0,70-0,90 meter. Berat dewasa untuk betina adalah 30-50 kg sedangkan untuk jantan adalah 50-90 kg rambut tipis dan tidak beraturan (Rijksen, 1978). Indonesia memiliki dua jenis orangutan, yaitu orangutan Sumatera dan Kalimantan, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Secara mikroskopis jenis 4

kalimantan memiliki rambut pipih dengan pigmen hitam yang tebal di tengah (Napier, 1967). Orangutan Sumatera (Pongo abelii) memiliki ciri fisik badan yang besar, berwarna gelap atau coklat kemerah-merahan, rambut jarang dan pendek, dan pada bayi terlihat ada bercak-bercak berwarna kemerahan. Sedangkan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) ciri fisik badannya terlihat lebih kecil, berwarna terang atau orange, dan tulang-tulang lebih panjang (Gambar 2.1). Secara umum orangutan jantan dewasa mengembang pada kedua pipinya (Galdikas, 1978). a b Gambar 2.1 a. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) b. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Supriatna & Edy (2000), menambahkan jika dibandingkan dengan orangutan di Kalimantan, rambut orangutan Sumatera lebih terang yaitu berwarna coklat kekuningan serta lebih tebal dan panjang. Ukuran tubuh rata-rata orangutan jantan dewasa yaitu berkisar antara 125-150 cm, dua kali lebih besar daripada orangutan betina. Berat badan rata-rata orangutan jantan di alam yaitu berkisar antara 50-90 kg. Orangutan jantan memiliki kantung suara untuk mengeluarkan suara yang berupa seruan panjang. Rijksen (1978), menyatakan bahwa perbedaan morfologi Orangutan berdasarkan kelas umur dan jenis kalamin adalah sebagai berikut : a. Bayi berumur 0-2,5 tahun dengan berat badan 2-6 kg memiliki rambut berwarna lebih terang pada bagian mulut dan lebih gelap pada bagian muka. b. Anak berumur 2,5-5 tahun dengan berat badan 6-15 kg memiliki warna rambut yang tidak jauh berbeda dengan bayi orangutan, namun pada kelas 5

umur anak, orangutan sudah mampu mancari makan sendiri walaupun masih bergantung pada induknya. c. Remaja berumur 5-8 tahun dengan berat badan 15-30 kg memiliki rambut yang panjang disekitar muka. d. Jantan setengah dewasa berumur 8-13/15 tahun dengan barat badan 30-50 kg memiliki rambut berwarna lebih gelap dan rambut janggut sudah mulai tumbuh serta rambut di sekitar wajah sudah lebih pendek. e. Betina dewasa 8+ tahun dengan berat badan 30-50 kg sudah memiliki janggut dan sangat sulit dibedakan dengan betina setengah dewasa. f. Jantan dewasa berumur 13/15+ tahun dengan berat badan 50-90 kg. Jantan dewasa memiliki kantung suara, bantalan pipi dan berjanggut serta berambut panjang. 2.3. Ekologi Orangutan Habitat orangutan adalah daerah pegunungan, rawa-rawa dataran rendah, dan delta aliran sungai yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan daerah inti hutan yang banyak ditumbuhi Liana sp. Juga menjadi tempat tinggal orangutan karena orangutan biasa membuat sarang di pohon besar yang dirambati Liana sp. (Galdikas 1984). ` Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan Dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dapat ditemukan pada ketinggian 500 m dpl, sedangkan kerabatnya di Sumatera dilaporkan dapat mencapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl (Hoeve, 1996). Galdikas (1986), menjelaskan bahwa saat ini habitat orangutan dapat dikategorikan sebagai habitat in-situ (hutan alam) dan habitat eks-situ (hutan binaan atau rehabilitasi reintroduksi dan kebun binatang). Apabila dikaitkan dengan usaha-usaha konservasi, maka kegiatan yang dilakukan di habitat tersebut dapat dikelompokkan menjadi kegiatan rehabilitasi. Bagi orangutan, daya dukung habitat ditentukan oleh produktifitas tumbuhan yang menghasilkan makanan pada waktu yang tepat dan sebagai tempat istirahat yang aman. Kekurangan makanan akan menyebabkan terjadinya 6

persaingan, dan anggota yang posisinya lebih rendah harus mencari sumbersumber makanan ditempat lain atau menerima sumber makanan alternatif. Jika tidak, mereka akan mati. Jadi, jika kebutuhan dasar lainnya (air, makanan, tempat beristirahat, dan lainnya) cukup tersedia, maka aktivitas hidupnya akan berlangsung dengan baik, dengan kata lain daya dukung untuk kehidupan ditentukan oleh ketersediaan kebutuhan (Meijaard, 2001). Kehidupan soliter pada orangutan adalah sesuatu yang khas dan berbeda dari jenis kera besar lainnya dari suku Pongidae (Napier, 1976). Walaupun demikian menurut Schurmann (1982), orangutan bukan berarti tidak melakukan interaksi dengan individu yang lain, terutama hubungan yang terjadi antara anak dan induk yang terlibat dalam berbagai kebersamaan dengan jenis-jenis satuan lain secara luas. Selain itu, melimpahnya sumber pangan, juga membuat orangutan Sumatera lebih sosial (Van Schaik, 2006). 2.4. Prilaku Bersarang Orangutan Membuat sarang merupakan salah satu perilaku harian orangutan. Sarang yang dimaksud adalah tempat peristirahatan orangutan setelah melakukan aktifitas hariannya (Willyanti, 2005). Tidak seperti pada monyet dan siamang, kera-kera besar tidak memiliki potongan-potongan belulang di bokongnya untuk memudahkan mereka duduk. Dalam hal seperti itu, berbaring di atas tempat tidur pasti akan terasa jauh lebih menyenangkan. Aktifitas harian adalah seluruh aktivitas orangutan yang berlangsung sejak meninggalkan sarang tidur pada pagi hari dan berakhir hingga masuk kembali kedalam sarang untuk bermalam (Van Schaik, 2006). Prilaku bersarang orangutan dapat membuktikan bahwa orangutan menjalankan kehidupan arboreal. Mamalia arboreal, terutama yang besar dan suka menyendiri, maupun musuh alamiah yang jumlahnya jauh lebih sedikit, baik yang berupa predator ataupun yang berupa parasit dengan mengambil asumsi, tentunya mereka benar-benar merasa aman dan nyaman di tengah-tengah lingkungan pepohonan yang tinggi, dan menjaga diri baik-baik agar jangan sampai jatuh (Flaegle, 1999). 7

Semua kera besar termasuk orangutan membangun sarang yang bisa dipergunakan baik untuk beristirahat pada siang maupun tidur pada malam hari (Van Schaik et al, 1994). Sarang bagi orangutan juga dapat berfungsi sebagai tempat bermain bagi orangutan muda, tempat berlindung, melahirkan, melakukan kopulasi, dan aktivitas makan (Rijksen, 1978). Setelah seharian melakukan aktifitasnya baik menjelajah dan mencari makan serta aktifitas sosial lainnya, maka pada sore harinya akan membuat sarang untuk tidurnya. Menurut Umri (2012), orangutan umumnya akan membuat sarang pada percabangan pohon yang besar dan dalam aktifitas membuat sarangnya orangutan mempunyai teknik membangun sarangnya tersendiri. Ketika orangutan menemukan tempat yang nyaman untuk bersarang di pohon, maka orangutan bergerak menuju batang-batang pohon kecil di sekitarnya lalu orangutan memegang dahan dengan cara memilin, melengkungkan dan melipat dahan sampai rapat, lalu dilanjutkan dengan menambah dahan-dahan kecil dan daun untuk kenyamanan (Margianto, 1998). Putri (2009), menambahkan bahwa orangutan seringkali membuat sarang baru di lokasi yang berbeda atau dengan memperbaiki sebuah sarang lama. Sarang yang lama akan diperbaiki untuk ditempati lagi, namun orangutan tidak selalu memperbaiki sarang lama setiap harinya, orangutan lebih cenderung membuat sarang baru untuk tempat berlindung dan beristirahat yang disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Apabila terdapat makanan yang cukup maka orangutan akan membuat sarang dilokasi tersebut. Sarang-sarang tersebut dapat digunakan selama dua malam atau lebih, sedangkan ketahanan sarang orangutan dapat bervariasi dari dua minggu sampai lebih dari satu tahun Rijksen (1978). 2.5. Karakteristik Sarang Orangutan 2.5.1. Kelas Sarang UNESCO-PanEco dalam YEL (2009), menjelaskan bahwa kelas sarang dan kelas kerusakan/kehancuran sarang dapat ditentukan atas empat kelas untuk memprediksi kondisi tersebut dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Kelas A, daun masih segar, sarang masih baru baru, semua daun masih hijau, seperti pada Gambar 2.2 berikut: 8

Gambar 2.2 Contoh Sarang Kelas A b. Kelas B, daun sudah mulai tidak segar, semua daun masih ada, bentuk sarang masih utuh, warna daun sudah mulai coklat terutama di permukaan sarang, belum ada lubang yang terlihat dari bawah, seperti pada Gambar 2.3 berikut: Gambar 2.3 Contoh Sarang Kelas B c. Kelas C, sarang tua, semua daun sudah coklat bahkan sebagian daun sudah hilang, seperti Gambar 2.4 berikut: 9

Gambar 2.4 Contoh Sarang Kelas C d. Kelas D, sarang sudah mulai hancur dengan mulai bolong dibagian tengah seperti Gambar 2.5 berikut: Gambar 2.5 Contoh Sarang Kelas D e. Kelas E, sarang sudah mulai hancur, hanya tinggal ranting penyusunnya saja, seperti Gambar 2.6 berikut: 10

Gambar 2.6 Contoh Sarang Kelas E Kelas sarang bergantung pada jenis pohon, temperatur, dan kelembaban udara, termasuk sarang yang dibuat untuk istirahat disiang hari atau untuk bermalam. Pembuatan sarang untuk siang hari tidak intensif, sehingga kualitas sarang tidak sebaik sarang untuk malam hari. (Van Schaik et al,. 1995). 2.5.2. Posisi Sarang Orangutan akan membangun sarang pada posisi yang sesuai pada suatu pohon. Orangutan menggunakan batang-batang pohon kecil sekitarnya, memilin, melengkungkan atau melipatnya ke bagian cabang yang lentur. Kemudian merapatkan sarang dengan mendorong dahan-dahan tersebut kebawah untuk membentuk suatu bidang datar. Pembuatan sebuah sarang biasanya membutuhkan waktu 2-3 menit, namun dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikan ringan (Mac Kinnon, 1994). Selanjutnya Rijksen (1978), menyatakan bahwa konstruksi sebuah sarang orangutan dapat bervariasi dari suatu bidang datar kecil yang sederhana sampai sebuah sarang yang besar dan kokoh, yang bahkan mampu untuk menahan seorang manusia dewasa dan sangan nyaman. Ketika seekor orangutan menemukan posisi yang sesuai untuk membangun sebuah sarang dalam sebuah pohon, maka orangutan bergerak menuju batang-batang pohon kecil di sekitarnya, lalu memegang dahan ke bawah dengan kaki. Kemudian orangutan akan memilin, melekukkan atau melipatnya ke 11

bagian cabang yang lentur dengan tangannya. Tangan juga dipergunakannya untuk mendorong dahan-dahan tersebut ke bawah supaya rapat untuk membentuk suatu bidang datar. Pembuatan sebuah sarang biasanya membutuhkan waktu 2-3 menit, namun dapat dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikan ringan (MacKinnon, 1974). Sarang merupakan sesuatu yang sengaja atau tidak disengaja dibangun untuk digunakan sebagai tempat berkembang biak dan atau sebagai tempat istirahat atau tidur. Pada setiap sarang memiliki letak yang berbeda untuk setiap individu sesuai kebutuhan dan keadaan lingkungannya tempat bersarang (Alikodra, 1990). Gambar 2.7 Posisi sarang orangutan: 1) posisi 1, 2) posisi 2, 3) posisi 3, 4) posisi 4. Symber: http://dc149.4shared.com/doc/ofi7glpl/preview.html Berdasarkan penelitian Asfi (2001), ada beberapa posisi sarang orangutan, antara lain: berada di batang utama pohon (posisi 1), sarang di percabangan pohon (posisi2), sarang berada pada pucuk pohon (posisi 3) dan sarang berada diantara dua pohon jenis pohon yang berbeda (posisi 4) (Gambar 2.7). Menurut Sugardjito (1983), posisi-posisi ini mempunyai keuntungan bagi orangutan, yaitu tidak terhalangnya pandangan dan jangkauan yang dapat mencakup sebagian besar dari penjuru hutan. Selain itu, posisi ini juga memudahkan orangutan dalam melakukan pergerakan sewaktu keluar dari sarang dan dari segi keamanan, posisi ini menghindari orangutan dari ancaman predator. 12