BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Leony Sudirman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bio-ekologi Orangutan Klasifikasi Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di benua Asia dan satu-satunya kera besar yang rambutnya berwarna coklat kemerahan. Para ahli primata menggolongkan orangutan ke dalam dua sub-spesies, Pongo abelii sebagai orangutan yang hidup di Pulau Sumatera dan Pongo pygmaeus sebagai orangutan yang hidup di Pulau Kalimantan (Grooves 2001 dalam Wich et al ; Warren et al dalam Wich et al. 2008). Pada zaman Pleistocene orangutan tersebar luas dari daratan Cina sampai ke Pulau Jawa (Galdikas 1984 ; Meijaard et al. 2001). Namun akibat dari berbagai tekanan yang dihadapinya, penyebaran orangutan menjadi menyempit, kini hanya terdapat di sebagian kecil wilayah Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Menurut Napier dan Napier (1985), orangutan Sumatera diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia Subkingdom : Metazoa Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Mamalia Ordo : Primata Subordo : Primata Famili : Pongidae Genus : Pongo Spesies : Pongo abelli Lesson Morfologi Secara morfologi orangutan Sumatera dan Kalimantan sangat mirip, walaupun seringkali kedua sub-spesies orangutan tersebut dapat dibedakan satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut terdapat pada panjang
2 4 rambut, struktur dan warna rambut, distribusi rambut pada wajah, ukuran dan bentuk bantalan pipi dan kantung udara pada jantan, bentuk tubuh, ada tidaknya kuku pada jempol kaki, dan variasi karakteristik craniodental (van Bemmel 1968 ; Jones 1969 ; MacKinnon 1973 ; Mallinson 1978 ; Groves 1986 ; Courtenay et al ; Uchida 1998a ; Delgado and van Schaik 2000 dalam Goossens et al. 2009). Pada penelitian dan pengujian secara genetika, ternyata orangutan Sumatera (Pongo abelii) dengan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berbeda secara genetis (Xu dan Amason 1996 dalam Newman 2000). Napier dan Napier (1967) menyatakan rambut orangutan Sumatera berwarna coklat kemerahan dimana pada orangutan Kalimantan rambutnya lebih gelap hampir hitam. Rambut orangutan Sumatera lebih panjang daripada orangutan Kalimantan, terutana dibagian pundak dan lengan. Kemudian Napier dan Napier (1967) juga menjelaskan perbedaan bentuk wajah pada jantan dewasa dari orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan, pada orangutan Sumatera bantalan wajahnya lonjong sedangkan pada orangutan Kalimantan bentuknya membulat. Perbedaan yang terlihat secara kasat mata ini bukan sebagai pedoman yang pasti, namun hanya sebagai petunjuk awal. Orangutan Sumatera memiliki rambut putih pada wajahnya, dimana rambut ini tidak pernah ditemukan pada subspesies yang ada di Kalimantan (Galdikas 1984). Rambut orangutan Sumatera lebih lembut dan lemas dibandingkan dengan orangutan Kalimantan. MacKinnon (1974) dalam Galdikas (1984) menyatakan bahwa secara mikroskopi perbedaan rambut kedua sub-spesies ini dapat dilihat. Gambar 1 Orangutan Sumatera.
3 5 Orangutan merupakan salah satu hewan yang sangat tampak perbedaan antar jenis kelaminnya (sexual dimorphism). Orangutan jantan memiliki bobot tubuh hampir dua kali dari bobot tubuh orangutan betina. Orangutan jantan bobot tubuhnya 90 kg dan orangutan betina 50 kg. Ukuran tubuh jantan berkisar antara cm dan betina berkisar antara cm. Seperti kera besar lainnya, orangutan memiliki umur yang relatif panjang, yaitu tahun di alam dan 56 tahun di penangkaran (UNEP 2007b). Jika dibandingkan dengan manusia dan kera besar lainnya, orangutan memiliki jemari, tangan dan telapak kaki yang panjang (Fleagle 1988 dalam Morales et al. 1999). Hal ini berhubungan dengan habitatnya yang berada di kanopi pohon (arboreal). Orangutan jarang sekali berjalan di atas tanah, mereka lebih sering berada di kanopi pohon. Walaupun begitu, terkadang orangutan jantan dewasa berjalan di atas tanah, dengan ukuran tubuhnya yang besar tidak ada predator potensial yang akan mendekat, berbeda dengan bayi atau orangutan betina (Knott 1999). Berdasarkan golongan umur/jenis kelaminnya Galdikas (1984) membagi orangutan sebagai berikut : a. Bayi. Jantan dan betina yang berumur 0-4 tahun, beratnya berkisar 1,5 (pada kelahiran) 5 kg. b. Anak. Jantan dan betina yang berumur 4-7 tahun, beratnya berkisar 5-20 kg. c. Betina remaja. Umur 7-12 tahun. Beratnya berkisar kg. d. Jantan remaja. Umur 7-10 tahun. Beratnya berkisar kg. e. Jantan pra-dewasa.umur tahun. Beratnya berkisar kg. f. Betina dewasa umur muda. Umur tahun. Beratnya berkisar kg. g. Jantan dewasa umur muda. Umur tahun. Beratnya di atas 50 kg. h. Betina umur lanjut. Umur 35 tahun keatas. Beratnya 30 kg atau lebih. i. Jantan dewasa umur lanjut. Umur 35 tahun keatas. Beratnya 40 kg atau lebih. 2.2 Penyebaran Orangutan Sumatera Meijaard et al. (2001) menyatakan kisaran distribusi spesies orangutan Sumatera (Pongo abelli) di Pulau Sumatera terbatas di utara khatulistiwa, atau di utara Danau Toba terutama di Taman Nasional Gunung Leuser. Populasi orangutan Sumatera terbagi menjadi empat sub-populasi utama : (1) sub-populasi
4 6 wilayah sekitar Aceh yaitu di sebelah barat Sungai Alas dan Sungai Wampu; (2) sub-populasi di Hutan Lindung Dolok Sembelin dan Batu Ardan di Kabupaten Dairi dan kawasan hutan yang bersambungan di sebelah Timur S. Alas, yang membentang di sepanjang kaki-kaki bukit pesisir Barat dan Menurus sampai ke Pantai Sibolga; (3) sub-populasi Tapanuli bagian Tenggara di antara S. Asahan dan S. Barumun; dan (4) sub-populasi di Anggolia, Angkola dan Pasaman, semua daerah yang berada di sepanjang bagian Barat kaki Bukit Barisan, dari hilir S. Batang Toru membentang ke arah selatan diantara Padang Sidempuan dan Daerah sekitar Pariaman di Propinsi Sumatera Barat, sekitar 50 km di sebelah utara Padang. Gambar 2 Distribusi orangutan di Sumatera (abu-abu gelap). Sumber : Wich et al Habitat Orangutan Hutan hujan tropika merupakan satu-satunya habitat yang cocok untuk orangutan, yang terdapat di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Dimana pada kedua pulau tersebut kondisinya sangat mendukung kehidupan orangutan. Orangutan Sumatera hidup pada hutan dataran rendah dan hutan rawa antara Sungai Simpang kiri (sebelah selatan Sungai Alas) dan Samudra Hindia, meluas ke utara masuk daerah Benkung dan Kluet di bagian selatan Taman Nasional Gunung Leuser (Rijksen 1978 dalam Maple 1980). Hutan hujan tropis ini mampu memenuhi kebutuhan orangutan akan makanan dan tempat bersarang (UNEP 2007a).
5 7 2.4 Perilaku Orangutan Aktifitas Harian Orangutan memulai aktivitasnya dipagi hari, dimulai sejak meninggalkan sarang tidur sampai pada sore hari, untuk membuat sarang tidurnya (Kuncoro 2004). Secara keseluruhan aktivitas orangutan dibagi kedalam 7 kategori, yaitu makan yang merupakan aktivitas tertinggi yaitu sebanyak 60,1% dari keseluruhan aktivitas hariannya, kemudian aktivitas istirahat sebanyak 18,2% ; aktivitas bergerak pindah 18,7% ; aktivitas kopulasi 0,1% ; mengeluarkan seruan panjang 0,1% ; perilaku agresi 1,3% dan aktivitas bersarang 1,1% (Galdikas 1978) Perilaku Makan Perilaku mencari pakan merupakan aktivitas harian yang sangat dominan dari keseluruhan aktivitas harian orangutan, mencapai 60,1 % (Galdikas 1978). Dimana orangutan merupakan satwa frugivora (pemakan buah), proporsi buah dalam menu harian orangutan mencapai 53,8 % ; disusul daun 29,0 % ; kulit pohon 14,2 % ; bunga 2,2 % dan serangga 0,8 % (Rodman 1977 dalam Maple 1980). Senada dengan hasil penelitian Kuncoro (2004), bahwa buah-buahan mencapai proporsi % pada menu orangutan Perilaku Bersarang Orangutan membuat sarang baru untuk tidur pada pohon setiap malam (Maple 1980). Walaupun ada beberapa kejadian dimana individu orangutan memperbaiki sarang yang telah lama, dengan menambah beberapa cabang/batang yang diambil dari jarak meter untuk menambal sarang yang telah lama/rusak (MacKinnon 1974 dalam Galdikas 1984 ; Prasetyo et al. 2009). Orangutan menggunakan sarang yang lamanya (biasanya setelah periode 2 8 bulan) karena adanya pohon berbuah yang disukai (Rijksen 1974 dalam Muin 2007). Selain sarang yang berada di kanopi pohon, orangutan juga membuat sarang di atas permukaan tanah. Sarang tipe ini tidak terlalu baik kondisinya, mengingat bahwa sarang di atas permukaan tanah digunakan orangutan hanya untuk beristirahat di siang hari (Galdikas 1984). MacKinnon (1974) menyatakan orangutan membuat sarang tidur biasanya tidak jauh dari pohon pakan terakhir yang dikunjunginya pada hari itu. Hal ini
6 8 berhubungan dengan kemudahan untuk akses kepada sumber pakan pada keesokan harinya. Berbeda dengan Rijksen (1978) dalam Maple 1980 yang menyatakan pembuatan sarang di dekat pohon pakan memiliki resiko yang tinggi dari gangguan orangutan lain atau dari spesies lain yang ingin mencari makan pada pohon yang sama. Diduga dalam pembuatan sarang ada beberapa hal yang mempengaruhinya, antara lain teknik konstruksi, ukuran hewan yang bersangkutan dan beratnya, suasana hati dari orangutan dan juga karakteristik dari pohon bahan pembangun sarang dan cuaca saat membuat sarang (Rijksen 1978 dalam Maple 1980). Dalam studinya, MacKinnon (1972) mengatakan bahwa orangutan membuat sarang dengan cara memegang ranting dengan kedua tangan dan kakinya. Ranting tersebut dibengkokkan ke dalam membentuk bentuk cekung yang elastis. Dimana dalam pembuatan sarang tersebut orangutan hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga menit. Lebih jauh lagi MacKinnon (1972) menyebutkan cara orangutan membuat sarangnya : 1. Rimming (Pembuatan pinggir sarang), dengan cara cabang dibengkokkan horizontal untuk membentuk pinggiran dan menahannya dengan menggunakan cabang yang lain. 2. Hanging (Penggantungan), dimana cabang dibengkokkan kebawah kedalam sarang untuk membentuk bagian mangkuk sarang. 3. Pillaring (Pembuatan tiang), dimana cabang dibengkokkan diatas dari dasar sarang untuk memegang pinggiran cabang agar tidak goyah dan memberikan tunjangan extra. 4. Loose (Pematahan), dengan cara cabang dipatahkan dari pohon dan diletakkan di dasar sarang atau ditaruh diatas sarang sebagai bagian dari atap. Orangutan sering menambahkan aksesoris pada sarangnya. Aksesoris tambahan yang dibuat oleh orangutan adalah pelindung yang berada di atas kepala (MacKinnon 1972), hal ini dapat diidentifikan sebagai penahan hujan, penghalang matahari, kamuflase dan digunakan sebagai atap oleh orangutan. Saat hujan lebat dan sinar matahari yang tidak langsung, orangutan sering menaruh daun atau
7 9 ranting pohon dikepalanya. Fungsi dari kegiatan ini masih diduga sebagai permainan bagi orangutan liar (Maple 1980). Orangutan dalam membangun sarangnya menggunakan bahan-bahan yang terdapat disekitarnya. Bahan pembangun sarang tersebut dikumpulkan dari daun dan ranting pohon. Muin (2007) mengatakan bahwa sumber bahan pembangun sarang orangutan berasal dari satu hingga tiga jenis pohon yang berbeda. Tabel 1 Bahan penyusun sarang orangutan No Jenis pohon Nama ilmiah Σ Sumber sarang bahan Asal jenis pohon bahan sarang 1 Bengkel 3 Bengkel, Bati-bati dan Rengas 2 Ubar merah Syzygium leucoxylon 2 Ubar merah dan Lanan 3 Ubar salim Syzygium sp. 2 Ubar salim dan Semono 4 Semono Elaeocarpus valentonii 2 Semono dan Ubar salim 5 Kemanjing Garcinia dioica 3 Habu-habu, Bati-bati dan Kemanjing 6 Bedaru Cantleya corniculata 2 Bedaru dan Habu-habu 7 Pempaning Quercus bennetii 2 Pempaning dan Semongah Sumber : Muin Permasalahan dalam Pendugaan Populasi Orangutan Untuk melakukan pengelolaan satwa liar, sangat dibutuhkan data dasar yang valid mengenai satwa liar yang akan dikelola. Data populasi adalah salah satu data yang sangat diperlukan untuk mengambil keputusan selanjutnya dalam mengelola satwa liar. IUCN melakukan hal yang sama untuk menentukan status dari suatu jenis satwa liar. Untuk melakukan inventarisasi orangutan dengan cara penghitungan langsung adalah pekerjaan yang sangat sulit (Mathewson et al. 2008). Hal ini berhubungan dengan kecepatan berpindah orangutan pada saat di pohon. Orangutan secara alami akan menghindari manusia yang mendekat. Gerakan orangutan akan sangat sulit untuk diamati oleh pengamat, karena lebatnya tajuk pohon dan keterbatasan gerak pengamat di lapangan (Meijaard et al. 2001). Untuk melakukan inventarisasi terhadap orangutan, cara yang umum digunakan adalah dengan cara menghitung jumlah sarang yang terdapat pada kawasan orangutan yang ingin diambil datanya (van Schaik et al ; Buij et al ; Mathewson et al. 2008). Sarang adalah bukti dari keberadaan orangutan
8 10 yang paling mudah diamati, karena sangat mencolok berada diatas pohon dengan bentuk yang berbeda dari sekelilingnya (Meijaard et al. 2001). Kepadatan populasi orangutan yang diduga dengan menghitung sarang yang terdapat pada jalur transek (Buij et al ; van Schaik et al dalam van Schaik et al. 2005) sebagai berikut : d = N/(L. 2 w. p. r.t) Dimana d = kepadatan (individu/km 2 ) ; N = jumlah sarang ; L = panjang jalur transek ; w = lebar jalur transek ; p = proporsi pembuat sarang dalam populasi ; r = rasio pembuatan sarang per hari per individu dan t = umur sarang. Orangutan selalu membuat sarang pada sore hari untuk tidur pada malam hari (Maple 1980 ; Galdikas 1978). Berdasarkan kenyataan di lapangan seperti ini, maka penghitungan sarang untuk mendapatkan data populasi orangutan akan memiliki kesalahan yang besar. Data yang didapat akan overestimate jika dalam penghitungan sarang, umur dari sarang tidak diketahui dengan akurat. Selama ini dalam menduga umur sarang dilakukan pengkategorian terhadap sarang. Sarang yang baru dibuat oleh orangutan sampai umur 15 hari, tergolong sarang kategori A. Setelah 15 hari sampai 2 bulan digolongkan sarang kategori B. Kemudian sampai sarang mengalami beberapa kerusakan fisik, sarang dimasukkan ke dalam kategori C, D dan E (Bismark 2005 ; Johnson et al. 2005). Salah satu permasalahan yang terjadi selama ini adalah nilai t (umur sarang) dari formulai penghitungan kepadatan orangutan. Nilai t yang sering dimasukkan dalam penghitungan adalah nilai t pada saat sarang telah hancur atau pada kelas ketahanan E (Rahman 2008). Untuk mengetahui nilai ketahanan sarang terdapat dua teknik, yaitu teknik monitoring dan teknik acuan/matrik (Mathewson et al. 2008). Teknik monitoring merupakan cara untuk mendapatkan nilai ketahanan sarang yang akurat (Rahman 2008 ; Mathewson et al. 2008). Umur sarang merupakan nilai spesifik lokasi, karena umur sarang dipengaruhi oleh kondisi iklim, tipe hutan dan ketinggian tempat dari permukaan laut (Mathewson et al. 2008). Walaupun habitat orangutan adalah hutan hujan dataran rendah, namun kondisi iklim mikro dan ketinggian tempat berbeda-beda
9 11 antara hutan yang satu dengan hutan yang lain. Perbedaan nilai ketahanan sarang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Variasi ketahanan sarang orangutan berdasarkan ketinggian tempat dan tipe hutan pada beberapa daerah di kawasan Ekosistem Leuser Nama tempat Tipe hutan & tanah Ketinggian tempat (mdpl) Ketahanan sarang (t) Suaq Balimbing Hutan pantai & Hutan Rawa hari Sekunder Sekunder (Aluvium) hari Sekunder 2 Hutan bekas tebangan (berbukit rendah) Pucuk Lembang Hutan bekas tebangan (Aluvium) Manggala Aluvium berbukit Ketambe Aluvium berbukit Bukit Lawang Dipterocarpaceae berbukit Bengkung Dipterocarpaceae berbukit Ketambe 2 Dataran sedang Mamas Dataran sedang (Aluvium) Ketambe - 3 Pegunungan Deleng Menggaro Pegunungan Lau Kawar Pegunungan Sumber : van Schaik et al dalam Rahman 2008 Selain dari faktor iklim dan ketinggian tempat dari permukaan laut, kelas ketahanan kayu, diamater batang (dbh) dan tinggi sarang juga mempengaruhi umur sarang tersebut. Karakteristik pohon yang dimaksud adalah Tabel 3 Pendugaan umur sarang tanpa faktor koreksi berdasarkan kelas perbedaan karakteristik pohon, menggunakan Markov chain analisis Karakteristik pohon Kelas Jumlah sarang Umur sarang (hari) Kekuatan kayu I,I/II,III III,III/IV IV/V,V dbh (cm) Tinggi sarang Sumber : Mathewson et al. 2008
10 12 Dibutuhkan suatu acuan atau kategori baru untuk menentukan umur sarang orangutan. Dengan diketahuinya umur harian sarang maka akan mengurangi bias yang terjadi dalam kegiatan survei sarang orangutan. Bias yang kecil akan menghasilkan pendugaan populasi orangutan yang akurat di alam.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Orangutan Orangutan termasuk kera besar dari ordo Primata dan famili Pongidae (Groves, 2001). Ada dua jenis orangutan yang masih hidup, yaitu jenis dari Sumatera
II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Orangutan yang sedang beraktivitas di hutan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Orangutan Orangutan termasuk ke dalam Ordo Primata dan merupakan salah satu jenis dari anggota keluarga kera besar (Pongidae) yang berada di benua Asia yang masih hidup
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Orangutan Orangutan merupakan hewan vertebrata dari kelompok kera besar yang termasuk ke dalam Kelas Mamalia, Ordo Primata, Famili Homonidae dan Genus Pongo, dengan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang membentang di wilayah 10 Kabupaten dan 2 Provinsi tentu memiliki potensi wisata alam yang
TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi dan Morfologi Orangutan. tetapi kedua spesies ini dapat dibedakan berdasarkan warna bulunnya
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Morfologi Orangutan Secara morofologis orangutan Sumatera dan Kalimantan sangat serupa, tetapi kedua spesies ini dapat dibedakan berdasarkan warna bulunnya (Napier dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bio-ekologi Ungko (Hylobates agilis) dan Siamang (Symphalangus syndactylus) 2.1.1 Klasifikasi Ungko (Hylobates agilis) dan siamang (Symphalangus syndactylus) merupakan jenis
BUKU CERITA DAN MEWARNAI PONGKI YANG LUCU
BUKU CERITA DAN MEWARNAI PONGKI YANG LUCU EDY HENDRAS WAHYONO Penerbitan ini didukung oleh : 2 BUKU CERITA DAN MEWARNAI PONGKI YANG LUCU Ceritera oleh Edy Hendras Wahyono Illustrasi Indra Foto-foto Dokumen
PENDUGAAN UMUR SARANG ORANGUTAN SUMATERA REINTRODUKSI
PENDUGAAN UMUR SARANG ORANGUTAN SUMATERA REINTRODUKSI (Pongo abelii Lesson 1827) BERDASARKAN PERUBAHAN UKURAN DAN WARNA DI EKOSISTEM TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (Studi Kasus di Stasiun Reintroduksi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Orangutan dan Klasifikasi Istilah orangutan diambil dari bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan. Dalam pemberian nama ini para ahli anthropologi fisik mengalami kesulitan
TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi dan Morfologi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Klasifikasi ilmiah orangutan Sumatera menurut Groves (2001) adalah
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Morfologi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Klasifikasi ilmiah orangutan Sumatera menurut Groves (2001) adalah sebagai berikut : Kerajaan Filum Subfilum Kelas Bangsa Keluarga
Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN:
Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN: 978-602-18962-5-9 PERBANDINGAN PERILAKU BERSARANG ORANGUTAN JANTAN DENGAN ORANGUTAN BETINA DEWASA (Pongo abelii) DI STASIUN PENELITIAN SUAQ BALIMBING Fauziah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bio-Ekologi Owa Jawa 2.1.1 Taksonomi Klasifikasi owa jawa berdasarkan warna rambut, ukuran tubuh, suara, dan beberapa perbedaan penting lainnya menuru Napier dan Napier (1985)
II. TINJAUAN PUSTAKA. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan jenis kera kecil yang masuk ke
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Taksonomi Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan jenis kera kecil yang masuk ke dalam keluarga Hylobatidae. Klasifikasi siamang pada Tabel 1. Tabel 1. Klasifikasi Hylobates syndactylus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bio-Ekologi Orangutan 2.1.1 Klasifikasi Nama orangutan merujuk pada kata orang (manusia) dan hutan yang berarti manusia hutan (Galdikas 1978). Sebelum genus Pongo digunakan,
TINJAUAN PUSTAKA. Bio-ekologi Orangutan. Klasifikasi dan Morfologi
II. TINJAUAN PUSTAKA Bio-ekologi Orangutan Klasifikasi dan Morfologi Orangutan adalah kera besar yang merupakan salah satu anggota suku Pongidae yang hanya terdapat di Asia, tepatnya di Sumatera dan Kalimantan.
EKOLOGI, DISTRIBUSI dan KONSERVASI ORANGUTAN SUMATERA
EKOLOGI, DISTRIBUSI dan KONSERVASI ORANGUTAN SUMATERA Jito Sugardjito Fauna & Flora International-IP Empat species Great Apes di dunia 1. Gorilla 2. Chimpanzee 3. Bonobo 4. Orangutan Species no.1 sampai
Kampus USU Medan 20155
Analisis Karakteristik Pohon dan Sarang Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Bukit Lawang Kabupaten Langkat Analysis of the Trees and Nest Characteristics of Sumatran Orangutan (Pongo abelii) in Bukit
TINJAUAN PUSTAKA. Pongo pygmaeus di Borneo dan orangutan Pongo abelii di Sumatera merupakan
TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Orangutan Sumatera Orangutan berasal dari bahasa melayu yaitu orang hutan. Orangutan Pongo pygmaeus di Borneo dan orangutan Pongo abelii di Sumatera merupakan satu-satunya kera
TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Area. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan satu kesatuan
TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Area Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan satu kesatuan kawasan pelestarian alam, seluas 1.094.692 Hektar yang terletak di dua propinsi, yaitu Propinsi Nanggroe Aceh
Informasi singkat tentang jenis primata baru khas Sumatera. Orangutan Tapanuli. Pongo tapanuliensis. Jantan dewasa Orangutan Tapanuli Tim Laman
Informasi singkat tentang jenis primata baru khas Sumatera Orangutan Tapanuli Pongo tapanuliensis Jantan dewasa Orangutan Tapanuli Tim Laman Baru-baru ini Orangutan Tapanuli dinyatakan sebagai spesies
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Menurut Napier dan Napier (1985) monyet ekor panjang dapat. Superfamili : Cercopithecoidea
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Menurut Napier dan Napier (1985) monyet ekor panjang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kelas : Mamalia Ordo : Primates Subordo : Anthropoidea Infraordo :
II.TINJAUAN PUSTAKA. Mamalia lebih dikenal dari pada burung (Whitten et al, 1999). Walaupun
II.TINJAUAN PUSTAKA A. Burung Mamalia lebih dikenal dari pada burung (Whitten et al, 1999). Walaupun demikian burung adalah satwa yang dapat ditemui dimana saja sehingga keberadaanya sangat sulit dipisahkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. sumatera. Klasifikasi orangutan sumatera menurut Singleton dan Griffiths
4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Orangutan Sumatera Indonesia memiliki dua jenis orangutan, salah satunya adalah orangutan sumatera. Klasifikasi orangutan sumatera menurut Singleton dan Griffiths
II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah siamang berdasarkan bentuk morfologinya yaitu: (Napier and
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bio-ekologi 1. Taksonomi Klasifikasi ilmiah siamang berdasarkan bentuk morfologinya yaitu: (Napier and Napier, 1986). Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia :
BRIEF Volume 11 No. 05 Tahun 2017
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN POLICY BRIEF Volume 11 No. 05 Tahun
Lutung. (Trachypithecus auratus cristatus)
Lutung (Trachypithecus auratus cristatus) Oleh: Muhammad Faisyal MY, SP PEH Pelaksana Lanjutan Resort Kembang Kuning, SPTN Wilayah II, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Trachypithecus auratus cristatus)
TINJAUAN PUSTAKA. mempunyai kekhasan/keunikan jenis tumbuhan dan/atau keanekaragaman
TINJAUAN PUSTAKA A. Cagar Alam Cagar Alam adalah Kawasan Suaka Alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan/keunikan jenis tumbuhan dan/atau keanekaragaman tumbuhan beserta gejala alam dan ekosistemnya
TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem Cagar Alam (CA) Dolok Sibual Buali secara administrasi
TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Lokasi Penelitian a. Letak dan Luas Ekosistem Cagar Alam (CA) Dolok Sibual Buali secara administrasi pemerintahan terletak di 3 (tiga) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Sipirok,
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota
IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pembentukan Taman Kupu-Kupu Gita Persada Taman Kupu-Kupu Gita Persada berlokasi di kaki Gunung Betung yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di stasiun penelitian Yayasan Ekosistem Lestari Hutan Lindung Batang Toru Blok Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera
TINJAUAN PUSTAKA. (1) secara ilmiah nama spesies dan sub-spesies yang dikenali yang disahkan
TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Ilmiah Pengklasifikasian primata berdasarkan 3 (tiga) tingkatan taksonomi, yaitu (1) secara ilmiah nama spesies dan sub-spesies yang dikenali yang disahkan secara terang-terangan,
II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Burung Tekukur Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang terbentang dari India dan Sri Lanka di Asia Selatan Tropika hingga ke China Selatan dan Asia
BAB V HASIL. Gambar 4 Sketsa distribusi tipe habitat di Stasiun Penelitian YEL-SOCP.
21 BAB V HASIL 5.1 Distribusi 5.1.1 Kondisi Habitat Area penelitian merupakan hutan hujan tropis pegunungan bawah dengan ketinggian 900-1200 m dpl. Kawasan ini terdiri dari beberapa tipe habitat hutan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Arthropoda merupakan filum terbesar dalam dunia Animalia yang mencakup serangga, laba-laba, udang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Arthropoda merupakan filum terbesar dalam dunia Animalia yang mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan, kaki seribu dan hewan mirip lainnya. Arthropoda adalah
Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur
Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur M. Bismark Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor ABSTRACT Orang
II. TINJAUAN PUSTAKA Biologi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Monyet ekor panjang merupakan mamalia dengan klasifikasi sebagai berikut
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biologi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) 2.1.1. Klasifikasi Monyet ekor panjang merupakan mamalia dengan klasifikasi sebagai berikut (Napier dan Napier, 1967): Filum
Burung Kakaktua. Kakatua
Burung Kakaktua Kakatua Kakak tua putih Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Animalia Filum: Chordata Kelas: Aves Ordo: Psittaciformes Famili: Cacatuidae G.R. Gray, 1840 Subfamily Microglossinae Calyptorhynchinae
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
11 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati baik flora dan fauna yang sangat tinggi, salah satu diantaranya adalah kelompok primata. Dari sekitar
II. TINJAUAN PUSTAKA. udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Satwa Liar Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan atau di air, dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara
I. PENDAHULUAN. Salah satu primata arboreal pemakan daun yang di temukan di Sumatera adalah
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu primata arboreal pemakan daun yang di temukan di Sumatera adalah cecah (Presbytis melalophos). Penyebaran cecah ini hampir di seluruh bagian pulau kecuali
I. PENDAHULUAN. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Taman hutan raya merupakan kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Trisik adalah kawasan yang masih menyimpan sisa keanekaragaman
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Keanekaragaman Burung di Pantai Trisik Trisik adalah kawasan yang masih menyimpan sisa keanekaragaman hayati di Yogyakarta khususnya pada jenis burung. Areal persawahan, laguna
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Hutan primer (primary forest) adalah hutan yang telah mencapai umur lanjut dan ciri struktural tertentu yang sesuai dengan kematangannya serta memiliki sifat-sifat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Ungko (Hylobates agilis) dan siamang (Symphalangus syndactylus) merupakan jenis kera kecil yang masuk ke dalam keluarga Hylobatidae. Klasifikasi ungko dan siamang
2015 LUWAK. Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian
2015 LUWAK Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian LUWAK A. Biologi Luwak Luwak merupakan nama lokal dari jenis musang
I. PENDAHULUAN. tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kawasan hutan hujan tropis dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan kawasan pelestarian alam
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Gajah Sumatera (Elephas maxius sumateranus) Menurut Lekagung dan McNeely (1977) klasifikasi gajah sumatera
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Gajah Sumatera (Elephas maxius sumateranus) Menurut Lekagung dan McNeely (1977) klasifikasi gajah sumatera sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class
POLA PENGGUNAAN WAKTU OLEH ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii, LESSON 1827) DI TAMAN MARGA SAWTA RAGUNAN RIZKI KURNIA TOHIR E
POLA PENGGUNAAN WAKTU OLEH ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii, LESSON 1827) DI TAMAN MARGA SAWTA RAGUNAN RIZKI KURNIA TOHIR E34120028 Dosen Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA PROGRAM STUDI KONSERVASI BIODIVERSITAS
PERILAKU MAKAN DAN JENIS PAKAN ORANGUTAN(Pongo pygmaeus) DI YAYASAN INTERNATIONAL ANIMAL RESCUE INDONESIA (YIARI) KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT
PERILAKU MAKAN DAN JENIS PAKAN ORANGUTAN(Pongo pygmaeus) DI YAYASAN INTERNATIONAL ANIMAL RESCUE INDONESIA (YIARI) KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT (Feeding Behavior And The Food Types Of Orangutans
BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
19 3.1 Luas dan Lokasi BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai luas wilayah seluas 2.335,33 km 2 (atau 233.533 ha). Terletak pada 2 o l'-2 o 28' Lintang Utara dan
keadaan seimbang (Soerianegara dan Indrawan, 1998).
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Suksesi dan Restorasi Hutan Hutan merupakan masyarakat tumbuh-tumbuhan yang di dominasi oleh pepohonan. Masyarakat hutan merupakan masyarakat tumbuh-tumbuhan yang hidup dan tumbuh
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioekologi Merak hijau 2.1.1 Taksonomi Grzimek (1972) menyatakan bahwa klasifikasi merak hijau jawa (Pavo muticus muticus) sebagai berikut : Kingdom Phyllum : Animalia : Chordata
II. TINJAUAN PUSTAKA. Siamang yang ditemukan di Sumatera, Indonesia adalah H. syndactylus, di
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Taksonomi Siamang yang ditemukan di Sumatera, Indonesia adalah H. syndactylus, di Malaysia (Semenanjung Malaya) H. syndactylus continensis (Gittin dan Raemaerkers, 1980; Muhammad,
ESTIMASI KEPADATAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) BERDASARKAN JUMLAH SARANG DI BUKIT LAWANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER SUMATERA UTARA SKRIPSI
i ESTIMASI KEPADATAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) BERDASARKAN JUMLAH SARANG DI BUKIT LAWANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER SUMATERA UTARA SKRIPSI NURZAIDAH PUTRI DALIMUNTHE 050805037 DEPARTEMEN BIOLOGI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Fauna merupakan bagian dari keanekaragaman hayati di Indonesia,
BAB I PENDAHULUAN. dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum. Tanaman
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cengkeh adalah tumbuhan asli Maluku, Indonesia. Cengkeh dikenal dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum. Tanaman asli Indonesia ini tergolong
II. TINJAUAN PUSTAKA
5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Taksonomi lutung Jawa Klasifikasi lutung Jawa menurut Groves (2001) dalam Febriyanti (2008) adalah sebagai berikut : Kingdom Class Ordo Sub ordo Famili Sub famili Genus : Animalia
I. PENDAHULUAN. udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat dan atau di air dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara
II. TINJAUAN PUSTAKA. dibedakan dari bangsa lain meskipun masih dalam spesies. bangsa sapi memiliki keunggulan dan kekurangan yang kadang-kadang dapat
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keragaman Bangsa Sapi Lokal Bangsa (breed) adalah sekumpulan ternak yang memiliki karakteristik tertentu yang sama. Atas dasar karakteristik tersebut, suatu bangsa dapat dibedakan
3. METODE PENELITIAN. Penelitian tentang ukuran kelompok simpai telah dilakukan di hutan Desa Cugung
3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian tentang ukuran kelompok simpai telah dilakukan di hutan Desa Cugung Kesatuan Pengelola Hutan Lindung (KPHL) Model Gunung Rajabasa Kabupaten
2. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Napier dan Napier (1967), klasifikasi ilmiah simpai sebagai berikut :
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bio-ekologi 2.1.1 Taksonomi Menurut Napier dan Napier (1967), klasifikasi ilmiah simpai sebagai berikut : Kingdom Filum Kelas Ordo Sub-ordo Famili Sub-famili Genus : Animalia :
II. TINJAUAN PUSTAKA. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu dari sub
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Gajah Sumatera Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu dari sub species gajah asia (Elephas maximus). Dua sub species yang lainnya yaitu Elephas
Prosiding Seminar Nasional Biotik 2017 ISBN:
Prosiding Seminar Nasional Biotik 2017 ISBN: 978-602-60401-3-8 PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBEBASAN FRAGMENTASI HABITAT ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) DI HUTAN RAWA TRIPA Wardatul Hayuni 1), Samsul
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mentimun Papasan Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota Cucurbitaceae yang diduga berasal dari Asia dan Afrika. Tanaman mentimun papasan memiliki
MENGENAL BEBERAPA PRIMATA DI PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM. Edy Hendras Wahyono
MENGENAL BEBERAPA PRIMATA DI PROPINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM Edy Hendras Wahyono Penerbitan ini didukung oleh : 2 MENGENAL BEBERAPA PRIMATA DI ACEH Naskah oleh : Edy Hendras Wahyono Illustrasi : Ishak
SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 4. KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DALAM PELESTARIAN EKOSISTEMLatihan Soal 4.3
SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 4. KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP DALAM PELESTARIAN EKOSISTEMLatihan Soal 4.3 1. Tempat perlindungan Orang utan yang dilindungi oleh pemerintah banyak terdapat didaerah Tanjung
I. PENDAHULUAN. paling tinggi di dunia. Menurut World Wildlife Fund (2007), keanekaragaman
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia. Menurut World Wildlife Fund (2007), keanekaragaman hayati yang terkandung
BAB I PENDAHULUAN. endemik pulau Jawa yang dilindungi (Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Owa Jawa atau Javan gibbon (Hylobates moloch) merupakan jenis primata endemik pulau Jawa yang dilindungi (Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999). Dalam daftar
Aktivitas Harian Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Bali Safari and Marine Park, Gianyar
Aktivitas Harian Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Bali Safari and Marine Park, Gianyar Nikmaturrayan 1, Sri Kayati Widyastuti 2, I Gede Soma 3 1 Mahasiswa FKH Unud, 2 Lab Penyakit Dalam Veteriner,
TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Buah naga ( Dragon Fruit) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang baru dibudidayakan di Indonesia dengan warna buah merah yang menyala dan bersisik hijau
II. TINJAUAN PUSTAKA. Beruang madu (H. malayanus) merupakan jenis beruang terkecil yang tersebar di
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Beruang Madu (Helarctos malayanus) Beruang madu (H. malayanus) merupakan jenis beruang terkecil yang tersebar di beberapa negara bagian Asia Tenggara dan Asia Selatan, yaitu Thailand,
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Burung merupakan salah satu jenis hewan yang banyak disukai oleh manusia, hal ini di karenakan burung memiliki beberapa nilai penting, seperti nilai estetika, ekologi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Singkat Merbau Menurut Merbau (Instia spp) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan dan mempunyai nilai yang ekonomi yang tinggi karena sudah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Klasifikasi ilmiah dari Katak Pohon Bergaris (P. Leucomystax Gravenhorst 1829 ) menurut Irawan (2008) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia, Phyllum: Chordata,
KAJIAN KEPUSTAKAAN. terdiri atas dua sub spesies yaitu kerbau liar dan kerbau domestik. Kerbau
II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Tinjauan Umum Kerbau Kerbau adalah hewan ruminansia dari sub famili Bovidae yang berkembang di banyak bagian dunia dan diduga berasal dari daerah India. Kerbau domestikasi atau
Pengenalan metode survey satwa vertebrata (khususnya vertebrat besar) Andrew J. Marshall
Pengenalan metode survey satwa vertebrata (khususnya vertebrat besar) Andrew J. Marshall Kuliah Lapanagan Taman Nasional Gunung Palung 23 May-3 Juni 2016 Pengenalan metode survey satwa vertebrata Kenapa
TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat
TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Dephut, 1998): Kingdom : Plantae Divisio : Spematophyta
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hutan merupakan kumpulan pepohonan yang tumbuh rapat beserta tumbuh tumbuhan memanjat dengan bunga yang beraneka warna yang berperan sangat penting bagi kehidupan di bumi
I. PENDAHULUAN. berbagai tipe vegetasi dan ekosistem hutan hujan tropis yang tersebar di
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi dalam berbagai tipe vegetasi dan ekosistem hutan hujan tropis yang tersebar di seluruh wilayah yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hujan Tropis Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,
Karakteristik Sarang Orangutan (Pongo pygmaeus morio) Pada Beberapa Tipe Hutan Di Kalimantan Timur
Karakteristik Sarang Orangutan (Pongo pygmaeus morio) Pada Beberapa Tipe Hutan Di Kalimantan Timur Teguh Muslim 1,2 dan Amir Ma ruf 1 1 Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber Daya
TINJAUAN PUSTAKA. Kawasan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas
TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Lokasi Penelitian Kawasan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.
Beberapa fakta dari letak astronomis Indonesia:
Pengaruh Letak Geografis Terhadap Kondisi Alam dan Flora Fauna di Indonesia Garis Lintang: adalah garis yang membelah muka bumi menjadi 2 belahan sama besar yaitu Belahan Bumi Utara dan Belahan Bumi Selatan.
I. PENDAHULUAN. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber keanekaragaman hayati dan memilki banyak kawasan konservasi. Cagar Alam (CA) termasuk
10 Hewan Langka Di Indonesia
10 Hewan Langka Di Indonesia 10 Hewan Langka Di Indonesia Indonesia terkenal dengan kekayaan flora dan fauna. Termasuk flora dan fauna langka juga terdapat di Indonesia. Sudah menjadi penyakit kronis di
II. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi. Pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi didasari dengan Undang-undang
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Kabupaten Kuantan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Riau, hasil pemekaran dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten Indragiri
STUDI JENIS TUMBUHAN PAKAN KELASI (Presbitis rubicunda) PADA KAWASAN HUTAN WISATA BANING KABUPATEN SINTANG
STUDI JENIS TUMBUHAN PAKAN KELASI (Presbitis rubicunda) PADA KAWASAN HUTAN WISATA BANING KABUPATEN SINTANG Sri Sumarni Fakultas Pertanian Universitas Kapuas Sintang e-mail : [email protected]
I. PENDAHULUAN. Semua lahan basah diperkirakan menutupi lebih dari 20% luas daratan Indonesia
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai lahan basah paling luas dan paling beragam di Asia Tenggara, meliputi lahan basah alami seperti hutan rawa, danau,
METODE PENELITIAN. Penelitian keberadaan rangkong ini dilaksanakan di Gunung Betung Taman Hutan
14 III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian keberadaan rangkong ini dilaksanakan di Gunung Betung Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachma. Waktu penelitian Mei 2015. Berikut adalah
KONSERVASI Habitat dan Kalawet
113 KONSERVASI Habitat dan Kalawet Kawasan hutan Kalimantan merupakan habitat bagi dua spesies Hylobates, yaitu kalawet (Hylobates agilis albibarbis), dan Hylobates muelleri. Kedua spesies tersebut adalah
I. PENDAHULUAN. Distribusi dan status populasi -- Owa (Hylobates albibarbis) merupakan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Distribusi dan status populasi -- Owa (Hylobates albibarbis) merupakan satwa endemik di Kalimantan Tengah. Distribusi owa (H. albibarbis) ini terletak di bagian barat daya
I. PENDAHULUAN. Seluruh jenis rangkong (Bucerotidae) di Indonesia merupakan satwa yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seluruh jenis rangkong (Bucerotidae) di Indonesia merupakan satwa yang dilindungi melalui Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
I. PENDAHULUAN. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan salah satu jenis primata penghuni
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan salah satu jenis primata penghuni hutan tropis sumatera yang semakin terancam keberadaannya. Tekanan terhadap siamang terutama
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pariwisata merupakan salah satu sumber devisa negara selain dari sektor
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pariwisata merupakan salah satu sumber devisa negara selain dari sektor migas yang sangat potensial dan mempunyai andil besar dalam membangun perekonomian yang saat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sebaran rayap tanah di berbagai vegetasi Hutan Pendidikan Gunung Walat memiliki luas wilayah 359 ha, dari penelitian ini diperoleh dua puluh enam contoh rayap dari lima
E U C A L Y P T U S A.
E U C A L Y P T U S A. Umum Sub jenis Eucalyptus spp, merupakan jenis yang tidak membutuhkan persyaratan yang tinggi terhadap tanah dan tempat tumbuhnya. Kayunya mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi
TINJAUAN PUSTAKA. Orangutan adalah kera besar, oleh karena itu memiliki ciri-ciri khas dasar
TINJAUAN PUSTAKA Ekologi Orangutan Orangutan adalah kera besar, oleh karena itu memiliki ciri-ciri khas dasar yang sama dengan saudara-saudara mereka dari Afrika. Pada saat ini, orangutan, kera besar satu-satunya
TINJAUAN PUSTAKA. tinggi yang tersebar di ekosistem hutan dataran rendah Dipterocarpaceae sampai hutan
TINJAUAN PUSTAKA Taman Nasional Gunung Leuser Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ditetapkan sebagai kawasan strategis karena kawasan penyangga ini memiliki peranan yang sangat besar dalam melindungi dan
POLA PENGGUNAAN RUANG OLEH ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii, LESSON 1827) DI TAMAN MARGA SAWTA RAGUNAN RIZKI KURNIA TOHIR E
POLA PENGGUNAAN RUANG OLEH ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii, LESSON 1827) DI TAMAN MARGA SAWTA RAGUNAN RIZKI KURNIA TOHIR E34120028 Dosen Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA PROGRAM STUDI KONSERVASI BIODIVERSITAS
