METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2007 sampai Juni 2008 di kandang percobaan Fakultas Peternakan dan di Bagian Patologi, Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Materi Penelitian Hewan Coba Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah 00 ekor ayam broiler strain Ross Super Jumbo 747 yang berumur satu hari (day old chick). Gambar 4 Ayam broiler strain Ross super Jumbo 747. Pakan Pakan yang telah disusun dicampur dengan serbuk kunyit, serbuk bawang putih, dan ZnO sebagai berikut: R0 = Pakan basal (kontrol) R = Pakan basal + serbuk bawang putih 2,5 % + serbuk kunyit,5 % R2 = Pakan basal + serbuk bawang putih 2,5 % + ZnO 0 ppm R = Pakan basal + serbuk kunyit,5 % + ZnO 0 ppm R4 = Pakan basal + serbuk bawang putih 2,5 % + serbuk kunyit,5 % + ZnO 0 ppm
Ransum perlakuan diberikan pada ayam broiler setelah pengacakan. Komposisi ransum dapat dilihat pada Tabel. Tabel Komposisi ransum penelitiaan Jagung (%) Dedak (%) Minyak (%) Tepung ikan (%) Bungkil kedelai (%) C a CO (%) DCP (%) Premiks (%)* Lysin (%) Methionin (%) ZnO (%) 0 0 0,0 0,0 0,0 * Setiap kg premiks mengandung: vitamin A = 4.000.000 IU, D = 800.000 IU, E = 4.500 mg, K = 450 mg. B = 450 mg, B 2 =.50 mg, B 6 = 480 mg, B = 6 mg, Ca-d pantothenate = 2.400 mg, Folic acid = 270 mg, Nicotinic acid = 7.200 mg, Choline chloride = 28.000 mg, DLmethionine = 28.000 mg, L-Lysine = 50.000 mg, Fe = 8.500 mg, Cu = 700 mg, Mn = 8.500 mg, Zn = 4.000 mg, Co = 50 mg, I = 70 mg, Se = 5 mg, Antiox, carrier add = kg Total (%) 00 00 00 00 00 Kunyit (%) 0,5 0,5,5 Bawang putih (%) 0 2,5 2,5 0 2,5 Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan adalah alat bedah, kantong plastik transparan, gelas objek, cover glass, inkubator dengan suhu 56 o C, mikrotom, pemanas air, spidol tahan air, tissue-cassete, mikroskop dan alat bantu lainnya yang dipergunakan sesuai keperluan. Bahan yang digunakan adalah pakan ayam, serbuk bawang putih, kunyit dan ZnO, air bersih, sampel duodenum dan sekal tonsil, parafin, alkohol absolute, alkohol 70%, 80%, 90%, dan 95%, xylol, Buffer netral formalin (BNF) 0%, Mayer s Haematoxylin, larutan lithium carbonate, Eosin, vaksin ND, vaksin Gumboro, aquades, dan desinfektan.
Metode Penelitian Perlakuan Kunyit dan Bawang Putih Serbuk bawang putih dan kuyit diperoleh dari serangkaian proses, mulamula kunyit segar dicuci sampai bersih dan ditiriskan kemudian diiris-iris tipis. Sedangkan bawang putih dikupas kulit luarnya kemudian diiris-iris tipis. Irisan kunyit dan bawang putih dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Kunyit dan bawang putih yang telah kering digiling untuk dibuat serbuk agar mudah tercampur dengan bahan pakan dan siap digunakan sesuai level pada perlakuan. Pelaksanaan Penelitian Sebanyak 00 ekor DOC (day old chicken) dibagi secara acak ke dalam lima perlakuan. Masing-masing perlakuan terdiri dari empat ulangan, sehingga ada 20 unit percobaan dan masing-masing unit percobaan terdiri dari 5 ekor DOC yang dipelihara dalam kandang beralaskan sekam padi dengan ukuran masingmasing kandang adalah x m 2. Ayam broiler dipelihara selama 5 minggu. Vaksin yang digunakan adalah vaksin ND (Newcastle Disease) dan vaksin Gumboro. Vaksin ND yang pertama diberikan saat ayam berumur 4 hari melalui tetes mata, vaksin ND yang kedua diberikan saat ayam berumur 2 hari melalui mulut (dicekok). Pada saat pemeliharaan ayam terinfeksi penyakit Marek secara alami. Pakan yang telah dicampur dengan serbuk bawang putih, kunyit, dan ZnO diberikan sejak awal pemeliharaan ayam. Pada akhir penelitian ternak ayam broiler diambil satu ekor pada masing-masing unit percobaan secara acak untuk dipotong, jadi jumlah total ayam yang dipotong sebanyak 20 ekor kemudian dinekropsi. Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi jumlah rataan sel tumor limfoid yang terdapat pada lamina propria usus halus, persentase vili usus yang mengalami proliferasi sel goblet, saraf yang mengalami demielinasi dan adanya infiltrasi limfosit pada saraf usus, dan jumlah folikel limfoid sekunder pada sekal tonsil.
Pengambilan Organ Usus Satu ekor ayam diambil pada masing-masing unit percobaan secara acak untuk dinekropsi, sehingga total ayam yang dipotong sebanyak 20 ekor. Organ usus duodenum dan sekal tonsil ayam yang telah dinekropsi difiksasi menggunakan larutan fiksatif formalin. Pembuatan Preparat Histopatologi Organ duodenum dan sekal tonsil ayam broiler ditrimming dan dimasukkan kedalaam tissue cassete, untuk kemudian didehidrasi, diembedding, diblok, dipotong dan diwarnai menjadi sediaan yang dapat diamati dibawah mikroskop. Adapun langkah-langkah pembuatan preparat histopatologi yang dilakukan adalah sebagai berikut:. Dehidrasi Sediaan duodenum dan sekal tonsil dalam tissue-cassete dimasukkan kedalam keranjang carrier yang kemudian dipasang pada tissue processor yang berturut-turut dicelupkan pada alkohol 70%, 80%, 90%, dan 95%. Kemudian dimasukkan kedalam alkohol absolute I dan II, lalu dilakukan proses penjernihan (clearing), yaitu dengan cara memasukkan sediaan yang dibersihkan kedalam xylol I dan xylol II. 2. Perendaman (embedding dan pencetakan/bloking) Proses perendaman dilakukan dekat sumber panas. Sediaan dimasukkan ke dalam cetakan yang sudah berisi paraffin cair dari tinggi dinding cetakan dan kemudiaan setelah bagian dasar mulai membeku lalu ditambahkan lagi dengan paraffin cair sampai penuh, dan diatur letaknya.. Pemotongan Pemotongan dilakukan dengan menggunakan mikrotom putar dengan ketebalan 5µm. Hasil irisan diapungkan di atas permukaan air hangat (40 0 C), kemudian dipilih irisan yang paling baik dan diletakkan di atas gelas objek. Kemudian gelas objek disimpan dalam inkubator selama 2 jam dengan temperatur suhu 56 0 C dan preparat siap diwarnai. 4. Pewarnaan HE
Sebelum dilakukan pewarnaan, terlebih dahulu dilakukan proses deparafinisasi (penghilangan paraffin) dan proses rehidrasi (penambahan air). Hal ini dilakukan agar zat warna dapat menyerap dengan sempurna. Deparafinisasi dilakukan dengan cara ; sediaan dimasukkan berturut-turut kedalam xylol II dan xylol I, masing-masing selama 2 menit. Setiap kali dilakukan pemindahan, daerah sekitar sediaan diusap dengan tissue tanpa menyentuh organ. Rehidrasi dilakukan dengan cara ; sediaan dimasukkan berturut-turut kedalam alkohol absolut II dan I masing-masing selama 2 menit, kemudian kedalam alkohol 95%, 90%, dan 80% selama menit. Setelah proses rehidrasi, sediaan dicuci dengan air mengalir selama menit, kemudian dimasukkan kedalam pewarnaan Mayer s Haematoxylin selama 8 menit dan dicuci dalam air kran selama 0 detik. Setelah itu dimasukkan kedalam larutan lithium carbonate selama 5-0 detik dan dibilas diatas air mengalir selama 2 menit. Selanjutnya sediaan dimasukkan kedalam pewarnaan Eosin selama 2- detik, lalu dibilas kembali dengan air mengalir selama 0-60 detik. Setelah pewarnaan selesai, dilakukan proses dehidrasi dengan cara memasukkan sediaan kedalam alkohol bertingkat yaitu alkohol 80%, 90%, 95% sebanyak 0 celupan. Kemudian dilakukan clearing dengan memasukkan sediaan kedalam xylol I selama menit dan kedalam xylol II selama 2 menit. Setelah itu preparat dikeringkan diudara terbuka dan kemudian diteteskan perekat lalu ditutup dengan cover glass dan diberi label. Pemeriksaan Histopatologi Pengamatan histopatologi dilakukan untuk menghitung jumlah sel tumor limfoid pada lamina propria dalam 0 vili usus duodenum dengan pembesaran objektif 40x. Menghitung persentase proliferasi sel goblet yang terjadi pada 0 vili usus duodenum dengan pembesaran objektif 0x. Mengamati infiltrasi sel limfoid dan demielinasi pada saraf duodenum dengan pembesaran 40x serta menghitung jumlah folikel limfoid sekunder pada sekal tonsil dengan pembesaran objektif 0x sebanyak 4 lapangan pandang. Pengamatan dilakukan di Bagian Patologi, Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Analisis data Analisis data hasil perhitungan terhadap jumlah rata-rata sel tumor limfoid pada lamina propria duodenum, persentase vili duodenum yang mengalami proliferasi sel goblet dan jumlah rata-rata folikel sekunder dianalisis dengan menggunakan sidik ragam rancangan acak lengkap (ANOVA) untuk melihat pengaruh perlakuan. Jika perlakuan berpengaruh nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan (α = 0,05) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Demielinasi saraf dan infiltrasi sel limfoid pada saraf duodenum disajikan secara deskriptif.