PERAN CAMERAPERSON DALAM PRODUKSI PROGRAM FEATURES TELEVISI INDO COMMUNITIES Klemensia Michelle Novely Horista Universitas Bina Nusantara, Jakarta, 061-845 54 52, klemensiamichelle@gmail.com Rahmat Edi Irawan ABSTRAK Keberadaan media massa kini telah memiliki peran yang cukup penting dalam pembentukan sistem komunikasi dan tradisi hidup masyarakat, terlebih masyarakat modern di kota yang sering menghabiskan waktu nya untuk kegiatan sehari-hari seperti bekerja dan belajar. Minimnya waktu yang dimiliki membuat masyarakat modern yang sibuk memilih untuk mendapatkan informasi melalui media massa. Namun kini banyak media massa yang hanya menayangkan program-program hiburan yang kurang mendidik. Dengan latar belakang tersebut serta banyaknya masyarakat Indonesia yang pastinya memiliki ragam minat, maka penulis dan rekan memutuskan untuk membuat sebuah program tayangan Indo Communities dengan menggunakan format features. Program ini bertujuan untuk memberi informasi dan wawasan luas tentang berbagai komunitas yang ada di Indonesia dan dikemas secara atraktif dan menarik. Program ini juga semakin membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengetahui dan bergabung dengan komunitas yang sesuai dengan minat masing-masing. Penulis bertugas sebagai kameramen dalam pembuatan program ini dimana penulis bertanggung jawab dalam hasil pengambilan gambar untuk hasil akhir tayangan program Indo Communities. Kata Kunci : Televisi, Indo Communities, Features ABSTRACT The existence of the mass media now have an important role in the establishment of communication systems and traditions of public life, especially in modern society which the people often spends its time for daily activities such as work and study. The lack of time owned makes a busy modern society chose to obtain information through the mass media. But now a lot of mass media broadcast only the less-educating entertainment programs. With this background and the big number of Indonesian society, which certainly has a variety of interests, the author and colleagues decided to create a show program "Indo Communities" by using features format. This program aims to provide information and insight about the various communities in Indonesia and is packaged in an attractive and appealing way. The program also raises the opportunity for the public to know and join the community in accordance with their respective interests. The author served as a cameraman in the making of the program in which the authors are responsible for the results of the shooting for the final results of the "Indo Communities" program show. Keywords: Television, Indo Communities, Features
PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Pada jaman modern sekarang ini, banyak masyarakat yang terlalu sibuk dalam kehidupan sehari-harinya hingga mereka kurang mendapat informasi tentang hal-hal yang sedang terjadi atau ada di sekitarnya. Masyarakat cenderung bersifat individualis dan hanya berfokus pada dirinya sendiri. Dengan banyaknya kesibukan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat, hampir mustahil mereka memiliki waktu untuk mengeksplorasi kegiatan atau keadaan di sekitarnya. Asupan informasi yang didapat tidak lain hanya berasal dari media, baik itu media cetak maupun media elektronik. Karena terlalu lelah dengan kegiatan yang dimiliki, maka sebagian masyarakat modern lebih memilih untuk istirahat di waktu luangnya. Tidak sedikit masyarakat yang mengkonsumsi berbagai jenis media sembari menemani waktu istirahat mereka tersebut. Maka media sudah seharusnya memberikan informasi yang berbobot dan bermanfaat bagi kehidupan para audiens. Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang datang dari berbagai lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, resiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Saat ini terdapat ratusan komunitas yang ada di berbagai wilayah di Indonesia dengan berbagai ragam jenis kegiatan. Dari mulai komunitas pecinta musik, otomotif, perangko, pecinta budaya, film, hingga komunitas olahraga ekstrim. Komunitas-komunitas tersebut terdiri dari beragam individu dari berbagai jenis latar belakang yang ini berbagi, saling mengenal dan saling mengekspresikan diri dalam kegiatan yang mereka lakukan. Pengetahuan akan beragam komunitas di Indonesia dan segala kegiatan uniknya tentu akan menambah wawasan bagi masyarakat modern yang membutuhkan informasi dan hiburan untuk mengisi waktu luang atau istirahat mereka. Sangat disayangkan, tidak banyak orang yang mengetahui eksistensi dari beragam komunitas di Indonesia akibat kurangnya publikasi dari komunitas itu sendiri. Hal ini lah yang mendorong tim produksi untuk menjadi jembatan bagi masyarakat modern dengan informasi menarik mengenai komunitas melalui media televisi dalam bentuk program features. Dalam prosesnya, komunikasi dibagi menjadi dua, yakni proses komunikasi tatap muka dan proses komunikasi bermedia (Soyomukti, 2010). Komunikasi bermedia adalah komunikasi massa, seperti komunikasi melalui televisi, radio, maupun media cetak yang dikenal sebagai media massa, yang pertumbuhannya paling pesat. Perkembangan pesat media massa diawali dengan kehadiran surat kabar, dan kini telah hadir media baru, seperti internet dan televisi digital. Media massa berperan sebagai sumber rujukan di bidang pendidikan dan penyebaran informasi yang cepat. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat. Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah perilaku masyarakat. Di antara semua media massa tersebut, televisi merupakan media yang paling banyak dibahas dalam Ilmu Komunikasi, karena televisi telah membawa perubahan yang besar di dalam komunikasi manusia. Televisi menjadi salah satu media bahkan menjadi media utama bagi masyarakat dalam mencari berbagai informasi. Masyarakat modern yang kebanyakan mengalami kejenuhan dalam bekerja akan mencari alternatif hiburan dan informasi yang bisa didapatkan salah satunya dari televisi. Oleh karena itu, tayangan atau program televisi harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada saat ini. Tayangan yang disajikan di televisi terbagi menjadi dua jenis, yaitu jurnalistik dan artistik. Dari dua jenis tayangan ini, terdapat beberapa jenis program yang membedakan acara satu dengan lainnya. Salah satu jenis program tayangan adalah program features. Menurut Jim Atkins Jr., program features adalah sesuatu yang bisa membuat penonton berlompatan dan berpindah untuk menyaksikannya lalu mereka akan membicarakannya, meresponnya dan mengingatnya. Features adalah liputan mengenai kejadian yang dapat menyentuh perasaan ataupun yang menambah pengetahuan audiens melalui penjelasan terperinci, lengkap serta mendalam, tidak terikat aktualitas dan nilai utamanya unsur manusiawi atau informasi yang dapat menambah pengetahuan. Features bertujuan untuk menghibur dan mendidik melalui eksplorasi elemen manusiawi (human interest). Program features sendiri memiliki karakteristik kreatif, informatif, menghibur, tidak terikat waktu dan beberapa memiliki unsur subjektivitas. Keberadaan program features di televisi dapat menjadi alternatif tayangan yang menarik bagi masyarakat untuk mengatasi kejenuhannya karena features menyuguhkan kegiatan manusia seharihari pada umumnya yang membutuhkan interaksi, rekreasi, pengetahuan, pemecahan masalah atau sekedar informasi mengenai berbagai tempat. Beberapa televisi di Indonesia telah berusaha
mengangkat topik komunitas untuk menjadi bagian program features mereka, beberapa di antaranya adalah program KOMUNITAS UNIK di Trans 7 dan WARNA WARNI di Binus TV. Program KOMUNITAS UNIK yang memakai format feature profile membahas sebuah komunitas dalam durasi waktu 30 menit yang menampilkan kegiatan komunitas dalam bentuk cerita. Tidak ada host dalam program ini, namun segala informasi didapatkan melalui wawancara dan dubber yang membacakan skrip. Jam tayangnya sendiri yaitu setiap hari Rabu pukul 12 malam. Sedangkan program WARNA WARNI adalah program yang pernah ditayangkan pada tahun 2011 di Binus TV. Program ini membahas komunitas tertentu dalam durasi 30 menit yang melibatkan host baik pria maupun wanita serta ada wawancara dengan anggota komunitasnya. Berbeda dengan 2 program yang telah ada sebelumnya, tim produksi akan membuat program komunitas dengan melibatkan host seorang wanita yang interaktif dengan anggota komunitas yang ada maupun dengan audiensnya, dengan jam tayang pada hari Minggu pukul 13:00 13:30. Dengan adanya host yang secara langsung terjun ke lapangan dan melakukan kegiatan komunitas, audiens akan mendapat informasti dengan cara yang menarik serta meyakinkan audiens bahwa kegiatan komunitas tersebut dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin belajar. Dengan durasi 30 menit, program features ini menyuguhkan beragam komunitas di Indonesia, mencakup lokasi, kegiatan komunitas, prestasi dan cara untuk bergabung dengan komunitas tersebut. Program features ini diberi nama INDO COMMUNITIES. Nama ini berasal dari kata INDO yang merupakan singkatan dari Indonesia, serta COMMUNITIES yang merupakan arti bahasa inggris dari kata komunitas. Pada kesempatan kali ini, tim produksi menyajikan episode yang membahas tentang lego. Lego dianggap sebagai sebuah permainan unik yang membutuhkan kreativitas serta kemampuan berpikir. Lego juga biasanya dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Dalam pembuatan tugas karya akhir ini, penulis berlaku sebagai kameramen dimana penulis akan menerapkan teori-teori teknik pengambilan gambar yang selama ini telah dipelajari. Penulis tertarik dengan sistem pengambilan gambar dan pembentukan visualisasi subjek dan objek dengan penggambaran yang tepat. INDO COMMUNITIES merupakan sebuah program features yang sangat mementingkan unsur artistik dalam pengemasannya namun juga harus menyampaikan pesan jurnalistiknya. Hal ini dikarenakan untuk menjadikan tayangan INDO COMMUNITIES menjadi unik dan menarik terlebih bagi target audiens yang telah ditentukan oleh tim produksi sebelumnya. Unsur artistik ini sendiri dapat diwujudkan melalui videografi yang baik melalui pergerakan kamera, komposisi gambar, sudut pengambilan gambar dan kesinambungan gambar. P entingnya hal-hal tersebut diwujudkan, menjadikan peran seorang kameramen menjadi sangat vital. Sebuah momen, suasana dan perkataan tidak dapat diulang. Maka kameramen harus jeli untuk mempertimbangkan dan menentukan berbagai hal dalam proses pengambilan gambar agar dapat menghasilkan sebuah tayangan visual yang layak serta mampu memberikan pesan yang tepat. Untuk mendukung hal tersebut, kameramen menggunakan kamera DSLR dalam proses shooting program. Kamera DSLR adalah kamera profesional yang ditujukan untuk mengabadikan momen yang dapat menghasilkan suatu berita, baik untuk jurnalistik maupun komersil. Tidak mudah membentuk sebuah urutan gambar untuk membentuk suatu pesan. Namun dengan pengaturan berbagai unsur kamera yang tepat, seperti ISO, shutter speed, dan white balance yang tepat, maka tidaklah mustahil bagi kameramen untuk menghasilkan gambar yang menarik. Kamera DSLR kini mulai digunakan untuk shooting berbagai program di televisi. Salah satu stasiun televisi yang sering menggunakan kamera DSLR dalam penggarapan program-programnya adalah Net TV. Hasilnya berbagai tayangan dari stasiun televisi ini tampak menarik dan inovatif, sangat berbeda dengan tayangan pada stasiun televisi lainnya. Maka dari itu, kameramen memutuskan untuk menerapkan teknik yang sama dalam proses shooting bagi program ini. IDENTIFIKASI KARYA AKHIR Nama : INDO COMMUNITIES Tipe : Features Format : Tapping Durasi : 30 menit Waktu : Minggu, pk 13.00 13.30 Stasiun Tv : Trans TV Tujuan :Memberikan informasi mengenai komunitas Target Audiens : - Demografis : 1. Usia : 17 30 tahun 2. Jenis Kelamin : Pria dan Wanita 3. SES : A-B
- Psikografis : kreatif, informatif, memiliki keingintahuan yang tinggi, menyukai hal-hal baru, menyukai tantangan. - Geografis : Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia TEKNIK PENGUMPULAN DATA Penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya. Berikut adalah Hasil Kuesioner yang disajikan dalam tabel : Tabel 1 Hasil Pertanyaan 1 (Usia Responden) Range Usia Jumlah Responden Persentase 17 20 tahun 20 20 % 21 25 tahun 71 71 % 26 30 tahun 7 7 % > 30 tahun 2 2 % Jumlah 100 100 % Hasil kuesioner menunjukkan responden penulis kebanyakan berusia 21-25 tahun atau mahasiswa dan masyarakat produktif di Indonesia yang merupakan target dari program INDO COMMUNITIES. Tabel 2 Hasil Pertanyaan 2 (Jenis Program) Jenis Program Jumlah Responden Persentase Berita 15 15 % Hiburan 80 80 % Drama 5 5 % Jumlah 100 100 % Hasil kuesioner menunjukkan kebanyakan responden memilih hiburan sebagai jenis program yang paling sering disaksikan saat mereka menonton televisi. Hasil itu dibuktikan dengan 80% responden yang memilih Hiburan diikuti dengan jenis program berita sebanyak 15 % dan jenis program drama sebanyak 5 %. Dapat disimpulkan bila masyakarat modern yang sudah jenuh dengan aktivitas sehariharinya mencari hiburan saat menonton televisi. Tabel 3 Hasil Pertanyaan 3 (Hari Menonton Televisi) Hari Jumlah Responden Persentase Senin Rabu 17 17 % Rabu Jumat 13 13 % Jumat Minggu 80 80 % Jumlah 100 100 % Hasil kuesioner menunjukkan kebanyakan responden memilih hari Jumat - Minggu sebagai hari paling sering mereka menonton televisi. Hal ini dibuktikan dengan 80 % responden yang memilih hari tersebut, diikuti dengan hari Senin Rabu sebanyak 17 % dan Rabu Jumat sebanyak 13 %. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat produktif yang sibuk melakukan aktivitasnya sehari-hari lebih banyak menonton televisi saat waktu senggangnya yaitu di akhir minggu. Sedangkan pada hari kerja, tidak banyak orang yang sering meluangkan waktunya untuk menonton televisi karena padatnya aktivitas yang dilakukan. Tabel 4 Hasil Pertanyaan 4 (Ketertarikan dengan Program Komunitas) Pilihan Jawaban Jumlah Responden Persentase Tertarik 83 83 % Tidak Tertarik 17 17 % Jumlah 100 100 %
Hasil kuesioner menunjukkan kebanyakan responden tertarik dengan adanya program yang membahas mengenai komunitas di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan 83 % responden yang tertarik, sedangkan 17 % lainnya tidak tertarik. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat membutuhkan informasi mengenai komunitas yang ada di Indonesia atau memiliki rasa ingin tahu terhadap aktivitas yang dilakukan oleh berbagai komunitas. Tabel 5 Hasil Pertanyaan 5 (Ketertarikan Konten Program Komunitas ; setiap responden menjawab maksimal 3 konten) Konten Program Jumlah Respon Persentase Aktivitas Komunitas 88 38 % Profil Komunitas 58 25 % Cara Bergabung 16 7 % Tips & Trik 38 16 % Tutorial 16 7 % Lokasi 10 4 % Anggota 8 3 % Jumlah 234 100% Hasil kuesioner menunjukkan bahwa 3 hal penting yang menarik untuk disaksikan dalam program yang memberikan informasi mengenai komunitas adalah aktivitas komunitas (38%), profil komunitas (25%), serta tips dan trik dari komunitas (16%). Program INDO COMMUNITIES harus dapat merangkum ketiga hal tersebut untuk disajikan kepada audiens agar tayangan menarik. Tabel 6 Hasil Pertanyaan 6 (Keberadaan Presenter dalam Program) Pilihan Jawaban Jumlah Responden Persentase Ya 93 93 % Tidak 7 7 % Jumlah 100 100 % Hasil kuesioner menunjukkan kebanyakan responden menginginkan adanya interaksi antara presenter dengan komunitasnya, hanya 7 % yang mengatakan keberadaan presenter tidak memberikan pengaruh. Dapat disimpulkan bahwa presenter menjadi alasan apakah masyarakat memutuskan untuk menonton program tersebut atau tidak. Interaksi presenter yang baik akan membuat audiens akan tetap menyaksikan sebuah program tayangan. TUJUAN DAN MANFAAT PEMBUATAN TUGAS KARYA AKHIR Tujuan dari pembuatas tugas karya akhir ini adalah : 1. Mengetahui dan memahami proses produksi sebuah program tayangan features dari praproduksi, produksi hingga pasca-produksi. 2. Mengetahui dan memahami lebih jauh mengenai hal-hal yang dilakukan setiap peran yang terlibat dalam proses produksi. 3. Memberi informasi mengenai berbagai komunitas yang ada di Indonesia yang sebelumnya belum pernah diekspos Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Akademis Tugas karya akhir ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai proses produksi sebuah program tayangan features. Pembuatan karya akhir ini juga dilakukan sebagai syarat kelulusan program Sarjana di Universitas Bina Nusantara. 2. Manfaat Praktis Karya akhir ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam proses produksi sebuah program features. Tidak menutup kemungkinan bila program ini dikembangkan menjadi salah satu program features di stasiun televisi Indonesia. 3. Manfaat Sosial Karya akhir ini diharapkan dapat membantu pihak lain dalam melakukan program yang serupa untuk memberikan gambaran program yang ideal.
HASIL DAN BAHASAN PRA PRODUKSI Tim produksi melihat dan kemudian berdiskusi mengenai keadaan masyarakat pada jaman modern ini dimana banyak orang yang sangat sibuk dan lelah dengan rutinitas mereka sehari-hari, terlebih pada kota-kota besar yang memiliki kemacetan lalu lintas yang cukup parah. Keadaan ini membuat masyarakat modern menjadi lebih individualis hingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi lingkungan serta hal-hal menarik apa saja yang ada di sekitar mereka. Salah satu hal menarik yang terdapat di tengah masyarakat adalah sebuah komunitas. Komunitas merupakan identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Menurut Kertajaya Hermawan (2008), dalam komunitas terdapat sekelompok orang yang perduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. Di lain sisi, tim produksi juga mengamati pada jaman sekarang ini, semakin banyak program tayangan yang hanya bersifat hiburan tanpa ada konten mendidik atau memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Hal ini sangat memprihatikan, mengingat media TV merupakan media massa yang memiliki perkembangan paling cepat dan perhatian paling banyak dari audiens. Pengetahuan akan beragam komunitas di Indonesia dengan segala keunikannya yang masih minim di kalangan masyarakat modern adalah dasar dari ide tim produksi untuk membuat sebuah program yang dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi perkembangan hidup masyarakat. Setelah berdiskusi lebih jauh, Dian Mulyawati selaku produser, Dyah Prajnaparamita selaku editor dan Klemensia Michelle selaku kameramen, membentuk sebuah konsep program yang akan membahas tentang komunitas dengan nama INDO COMMUNITIES. Program ini memiliki format features, memiliki durasi tayang selama 30 menit dan waktu tayang setiap hari Minggu pukul 13:00 13:30. Tim produksi membentuk nama program tersebut dari kata Indonesia serta Komunitaskomunitas dalam bahasa Inggris yaitu Communities yang kemudian tim produksi gabungkan menjadi INDO COMMUNITIES. Tim produksi memilih format features untuk program INDO COMMUNITIES karena selama ini berbagai program features di televisi dapat menjadi alternatiif yang menarik bagi masyarakat untuk mengatasi kejenuhannya. Features menyuguhkan kegiatan manusia sehari-hari pada umumnya yang membutuhkan interaksi, rekreasi, pengetahuan, pemecahan masalah atau sekedar informasi mengenai berbagai tempat. Tim produksi akan mengemas program ini dengan ringan namun sangat informatif dan bermanfaat bagi masyarakat. Keunikan yang akan tim produksi suguhkan ada pada konten program dimana program tidak hanya menginformasikan mengenai komunitas namun juga memberikan informasi mengenai latar belakang dan sejarah dari kegiatan komunitas tersebut. Host juga akan berinteraksi langsung dengan komunitas, tidak hanya untuk proses wawancara namun juga untuk ikut serta mencoba melakukan kegiatan dari komunitas tersebut. Hal ini bertujuan supaya audiens dapat melihat bahwa siapapun dapat bergabung dan melakukan kegiatan bersama komunitas tersebut. Persiapan administrasi umumnya menyangkut aspek legal, perizinan, dan surat menyurat yang diperlukan untuk memastikan produksi program televisi bisa berjalan. Persiapan administrasi juga termasuk perencanaan dan pengelolaan anggaran untuk membayar artis, membuat set, membeli properti, biaya sewa alat dan sebagainya. Tabel 7 Perencanaan Anggaran NO ITEM UNIT BIAYA (IDR) Pra Produksi 1. Host 150.000 2. Narasumber / Talent 100.000 3. Konsumsi 728.000 4. Transportasi 400.000 5. Buku Referensi 200.000 6. Souvenir 74.000 7. Entrance Ticket (Event) 150.000
8. Bumper 100.000 9. Audio Bumper 200.000 Produksi (Teknik) 1. Sewa Kamera DSLR Canon EOS 60D 2 700.000 2. Sewa Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM 1 180.000 3. Sewa Lensa Canon EF 50 mm f/1.8 II 1 25.000 4. Sewa Monopod Manfroto 561 BHDV-1 1 100.000 5. Sewa Tripod Manfrotto 725B 1 25.000 6. Memory Card 16GB 3 80.000 7. Battery Sony LP-E6 4 120.000 8. Wireless Mic / Clip-on Sennheiser EW112-G3 2 200.000 9. Battery Energizer AA 16 44.000 10. Camera Microphone Sennheiser MKE600 1 100.000 11. Laptop Lenovo Z410 0 12. Software Adobe Premiere Pro CS6 0 13. Software Adobe After Effects CS6 0 14. Zoom H4N 1 75.000 Produksi Artistik 1. Make Up 170.000 2. Wardrobe 0 Pasca Produksi 1. Burning 50.000 TOTAL BIAYA 3.971.000 Tabel 8 Perencanaan Jadwal Produksi Tugas Karya Akhir Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan Pra Produksi Produksi
Pasca Produksi Tabel 9 Tabel Rundown Program NO TIME PROGRAM VIDEO AUDIO DUR SEGMENT 1 1 Opening Bumper Venue : 2 13:00:15-13:00:55 Host Acting + Penjelasan Latar Belakang Tema VO + 0:00:40 Lego Store Venue : Host + 3 13:00:55-13:01:55 Opening Host Segmen 1 0:01:00 Lego Store VT Liputan Event Venue : 4 13:01:55-13:04:55 VO + 0:03:00 Toys & Comics Fair 2014 Balai Kartini 5 6 13:00:00-13:00:15 Venue : 13:04:55-13:05:25 Host bahas VT Liputan + Antar Commercial Break VT Lego Store 13:05:25-13:05:45 Teaser segmen 2 + Bumper Commercial Break VT VT VT 0:00:15 7 13:05:45-13:08:45 Commercial Break 1 0:03:00 VT 0:00:30 0:00:20 SEGMENT 2 8 13:08:45-13:09:00 Bumper In VT VT 0:00:15 9 10 13 13:09:00-13:10:00 13:10:00-13:15:00 11 13:15:00-13:17:00 12 13:17:00-13:18:00-13:18:00 13:18:20 Opening Host Segmen 2 Tanya Jawab Host dengan Ketua KLI (Yudho) : Venue : Lego Store Pertanyaan: Venue : 1. Latar belakang komunitas Lego Store 2. Tujuan pembentukan komunitas 3. Jumlah anggota Insert : 4. Kegiatan / aktivitas komunitas VT + foto Host interaksi dengan anggota komunitas Venue : (Rahmat - Anton - Rio - Rizki - Raihan) Host diberikan tantangan oleh anggota KLI + Antar Commercial Break Teaser Segmen 3 + Bumper Commercial Break Lego Store Venue : Basecamp Host + Host + Narsum + Host + Narsum + Host + Narsum + 0:05:00 0:02:00 0:01:00 0:00:20 14 13:18:20 13:18:40 Commercial Break 2 0:03:00 SEGMENT 3 15 13:18:40-13:18:55 Bumper In VT VT 0:00:15 VT 0:01:00 16 17 13:18:55-13:21:15 13:21:15-13:23:35 Opening Host segmen 3 Venue : Host diajarkan melakukan tantangan oleh KLI 20 13:28:35-13:29:05 Closing Host Lego Store Host melakukan tantangan dari KLI Venue : (dibantu oleh anggota KLI) Lego Store Host + Narsum + Step pembuatan Lego (Anton - KLI) Venue : 18 13:23:35-13:25:35 Kampus VO + Constitution Train Chase : The Lone Ranger UNTAR Tanya Jawab Host dengan Ketua + Anggota KLI: (Yudho - Rahmat - Tata- Rizki - Raihan) Pertanyaan : Venue : Host + 19 13:25:35-13:28:35 1. Prestasi apa saja yang pernah diraih Lego Store Narsum + 2. Apa keuntungan dan manfaat yang didapatkan dari bergabung dengan komunitas tersebut 3. Bagaimana cara bergabung dengan KLI Venue : Host + Lego Store 0:02:20 0:02:00 0:03:00 0:04:00 0:00:30 21 13:29:05-13:30:00 Preview Episode KLI + Cuplikan Video Klip Credit Title 0:00:55 Hijrah ke London (by : The Changcuters)
PRODUKSI Agar produksi shooting INDO COMMUNITIES berjalan dengan lancar, dilakukan survey untuk tempat produksi utama yaitu di Lego Store, Cilandak Town Square. Survey dilakukan pada Tim produksis, 20 Maret 2014 dilakukan oleh Dian dan Klemensia. Selain memastikan tempat untuk pengambilan gambar dan pemasangan alat, survey dilakukan untuk perizinan lokasi shooting kepada Manager Lego Store, Mr. Patrick Seet melalui e-mail. Setelah izin di dapatkan dan perjanjian dilakukan dengan anggota Komunitas Lego Indonesia (KLI) sebagai narasumber, maka tim produksi memutuskan untuk melakukan shooting pada hari Minggu, 13 April 2014. Materi shooting program INDO COMMUNITES mengambil beberapa lokasi untuk keperluan shooting program utama, materi VT (Liputan Event dan Step Pembuatan Lego), dan video insert (pengambilan gambar website KLI). Pengambilan gambar dilakukan dengan 2 set kamera, yaitu untuk keperluan gambar wide dan gambar detail. Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM digunakan untuk pengambilan gambar yang lebih luas. Kamera ini juga dilengkapi dengan 1 unit Memory Card 16 GB dan 1 unit Battery Sony LP-E6. Lensa Canon EF 50 mm f/1.8 II digunakan untuk kamera detail dengan pengambilan gambar yang lebih sempit dan memperbanyak pengambilan gambar objek secara close up. Kamera ini juga dilengkapi dengan 1 unit Memory Card 16 GB dan 1 unit Battery Sony LP-E6. Untuk kebutuhan pengambilan gambar yang lebih still, kamera dipasangkan Tripod Manfrotto 725B. Setelah masing-masing set kamera disiapkan, masing-masing kameraman menyamakan White Balance, ISO, Shutter Speed, dan Aperture untuk tiap kamera agar temperatur, warna dan pengambilan gambar untuk 2 kamera serupa. Untuk keperluan wawancara dengan pengunjung disiapkan Camera Microphone Sennheiser MKE600 beserta 2 unit Battery Energizer AA untuk dihubungkan ke kamera, kemudian dilakukan tes untuk monitoring audio level. Shooting utama dilakukan pada tanggal 13 April 2014 di Lego Store, Cilandak Town Square. Install peralatan tim produksi lakukan pada pk 9.30 sesuai perjanjian dengan Lego Store sebelum toko dibuka pada pk 10.00. Peralatan yang tim produksi gunakan saat shooting adalah : - Kamera DSLR Canon EOS 60D (2 unit) - Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM (1 unit) - Lensa Canon EF 50 mm f/1.8 II (1 unit) - Monopod Manfroto 561 BHDV-1 (1 unit) - Tripod Manfrotto 725B (1 unit) - Memory Card 16 GB (3 unit) - Battery Sony LP-E6 (4 unit) - Wireless Clip-on Sennheiser EW 112-G3 (2 unit) - Battery Energizer AA (16 unit) - Camera Microphone Sennheiser MKE600 (1 unit) - Zoom H4N (1 unit) - Headset (1 unit)
Pengambilan gambar dilakukan dengan 2 set kamera yaitu untuk kamera utama dan kamera detail. Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM digunakan untuk kamera utama dengan pengambilan gambar yang lebih luas. Kamera ini juga dilengkapi dengan 1 unit Memory Card 16 GB dan 1 unit Battery Sony LP-E6. Untuk kebutuhan pengambilan gambar yang lebih still, kamera dipasangkan Tripod Manfrotto 725B. Juga disiapkan Camera Microphone Sennheiser MKE600 beserta 2 unit Battery Energizer AA untuk dihubungkan ke kamera saat pengambilan gambar dengan banyak anggota komunitas. Lensa Canon EF 50 mm f/1.8 II digunakan untuk kamera detail dengan pengambilan gambar yang lebih sempit dan memperbanyak pengambilan gambar objek secara close up. Kamera ini juga dilengkapi dengan 1 unit Memory Card 16 GB dan 1 unit Battery Sony LP-E6. Untuk kebutuhan pengambilan gambar yang lebih banyak pergerakan, kamera dipasangkan Monopod Manfroto 561 BHDV-1. Setelah masing-masing set kamera disiapkan, masing-masing kameraman menyamakan White Balance, ISO, Shutter Speed, dan Aperture untuk tiap kamera agar temperatur, warna dan pengambilan gambar untuk 2 kamera serupa. Perekaman suara dilakukan dengan alat Zoom H4N dengan penyimpanan data pada Memory Card 16 GB. Alat ini bisa menerima input suara dari 2 receiver Wireless Clip-on Sennheiser EW 112-G3 yang digunakan untuk host dan narasumber utama. Untuk input audio, disiapkan Clip-on dengan masing-masing 4 Battery Energizer AA. Setelah disiapkan, Clip-on dipasangkan ke narasumber dan host. Setelah itu, dilakukan monitoring audio dengan menggunakan headset agar audio narasumber dan host seimbang. Pengambilan gambar untuk keperluan step pembuatan lego dilakukan di Universitas Tarumanegara, pada hari Tim produksis, 8 Mei 2014 pk 11.00. Adapun peralatan yang digunakan saat pengambilan gambar adalah : - Kamera DSLR Canon EOS 60D (1 unit) - Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM (1 unit) - Memory Card 16 GB (1 unit) - Battery Sony LP-E6 (1 unit) Pengambilan gambar dilakukan dengan 1 set kamera yang menggunakan Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM untuk pengambilan gambar wide dan detail dari segala sisi pembuatan lego. Kamera ini juga dilengkapi dengan 1 unit Memory Card 16 GB dan 1 unit Battery Sony LP-E6. Tim produksi tidak menggunakan peralatan audio, karena tidak ada input audio yang digunakan saat pengambilan gambar. Informasi gambar akan ditambahkan pada saat editing melalui dubbing. Pengambilan gambar untuk keperluan insert tampilan website KLI, dilakukan pada hari Selasa, 20 Mei 2014 di Tereo Café, Binus Square, pk 14.00. Adapun peralatan yang digunakan saat pengambilan gambar adalah : - Kamera DSLR Canon EOS 60D (1 unit) - Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM (1 unit) - Memory Card 16 GB (1 unit) - Battery Sony LP-E6 (1 unit) - Pengambilan gambar dilakukan dengan 1 set kamera yang menggunakan Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM untuk pengambilan gambar wide dan detail dari segala sisi website, untuk menunjukkan fitur dan jumlah anggota dari KLI. Kamera ini juga dilengkapi dengan 1 unit Memory Card 16 GB dan 1 unit Battery Sony LP-E6.
Pengambilan gambar dilakukan dengan 1 set kamera yang menggunakan Lensa Sigma EF 17 70 mm f/2.8-4 DC Macro OS HSM untuk pengambilan gambar wide dan detail dari segala sisi website, untuk menunjukkan fitur dan jumlah anggota dari KLI. Kamera ini juga dilengkapi dengan 1 unit Memory Card 16 GB dan 1 unit Battery Sony LP-E6. Tim produksi tidak menggunakan peralatan audio, karena tidak ada input audio yang digunakan saat pengambilan gambar. Materi video ini akan digunakan untuk insert saat wawancara dengan KLI pada shooting utama. Dalam setiap proses shooting, kameramen melakukan pengecekan pada kamera serta seluruh alat pendukung satu hari sebelum hari pengambilan gambar. Hal ini dilakukan agar proses pengambilan gambar dapat berjalan lancar dan efektif. Kameramen tidak menggunakan lighting pada saat proses pengambilan gambar untuk program INDO COMMUNITIES karena setelah survey, cahaya yang ada dirasa cukup untuk mendukung proses shooting. Semua lokasi yang digunakan untuk shooting adalah indoor atau di dalam ruangan dan memiliki sinar lampu yang cukup kuat untuk menghasilkan gambar yang baik. Jenis kamera DSLR yang digunakan juga sangat mendukung dan cukup untuk melakukan proses shooting di berbagai lokasi yang telah ditentukan sebelumnya. Spesifikasi dari kamera yang digunakan untuk pengambilan gambar program INDO COMMUNITIES telah memenuhi kebutuhan dari visualisasi yang diinginkan oleh sutradara dan proses editing oleh editor. PASCA PRODUKSI EDITING DAN MIXING Setelah selesai melakukan berbagai proses tahapan produksi, tim produksi mulai melakukan tahapan pasca produksi. Kegiatan pada pasca produksi didominasi oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh editor. Pada proses editing juga tim produksi melakukan finalisasi untuk berbagai unsur tampilan program seperti bumper, backsound bumper, template character generator, template split dan posisi peletakan logo. Bumper yang digunakan adalah gambaran Negara Indonesia yang berwarna-warni dan kemudian muncul berbagai kegiatan dan minat masyarakat Indonesia yang beragam. Gambar kemudian diakhiri dengan logo INDO COMMUNITIES dengan huruf I yang dibentuk sebagai rupa badan seorang manusia. Musik yang digunakan sebagai backsound bumper adalah berupa iringan musik gitar, ukulele, dan vocal dengan penambahan midi programming bertempo upbeat yang terkesan ceria. Hal ini bertujuan untuk memberikan citra INDO COMMUNITIES sebagai program features yang menyenangkan dan menarik untuk disaksikan. Dalam pembuatan program features INDO COMMUNITIES, editor menggunakan proses Editing Non-Linier. Editing Non-Linier adalah proses penyusunan gambar yang dilakukan secara tidak berurutan (random/acak), penyusunan gambar bisa dimulai dari pertengahan suatu program acara, kemudian awal dari suatu program acara tersebut dan seterusnya hingga program acara tersebut selesai. Secara garis besar, ada 3 tahapan yang akan dilakukan oleh editor dalam proses editing program yaitu editing offline, editing online dan mixing. Pada proses editing offline, editor akan melakukan pemilihan gambar berbagai hasil produksi. Cameraperson akan membantu editor untuk memilih gambar hasil shooting dan stockshot yang ada dengan kualitas dan segi pengambilan gambar yang tepat. Untuk memudahkan proses pemilahan gambar, cameraperson membagi hasil gambar ke dalam folder yang berbeda-beda berdasarkan segmen yang telah disusun dalam rundown. Editor kemudian akan membagi beberapa sequence berdasarkan kebutuhan segmen dan melakukan sinkronisasi gambar dengan audio. Sedangkan pada proses editing online, hanya dilakukan oleh editor sendirian. Seperti membentuk dua atau empat shot gambar dalam satu frame sekaligus dan berbagai penyuntingan
gambar lainnya. Pada tahapan ini juga dimasukkan efek transisi untuk konten agar terlihat lebih menarik. Editor juga memasukkan bumper, chargen untuk opening serta antar commercial break. Setelah tahapan online selesai dilakukan, editor akan melanjutkan proses penyuntingan dengan tahapan mixing yaitu dengan menyelaraskan audio dengan gambar. Editor mulai memasukkan backsound pada berbagai segmen gambar tertentu. Hasil dubbing untuk memberikan informasi tambahan juga dimasukkan dan digabungkan dalam tahapan ini. Setelah berbagai tahapan dilakukan dan setiap frame gambar sudah selaras dengan audio, setiap sequence digabungkan agar menjadi satu program utuh dan kemudian di export sesuai dengan format yang dibutuhkan. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Sebuah karya tugas akhir dapat berjalan dengan lancar dengan perencanaan yang matang. Berdasarkan serangkaian kegiatan yang penulis lakukan untuk menghasilkan karya tugas akhir ini, penulis menyadari bahwa kerja sama dengan komunikasi yang lancar menjadi kunci utama dalam menjalani proses saat melakukan karya tugas akhir. Diskusi terbuka antar anggota dan komitmen dari setiap dari kita yang menjalankan pembentukan program ini juga menjadi faktor yang penting dalam membuat perencanaan tugas karya akhir INDO COMMUNITIES. Penulis sangat puas dengan karya akhir yang dapat tim produksi ciptakan karena tim produksi berusaha memberikan yang terbaik dalam segala aspek pembuatan karya akhir ini. Perencanaan program harus dibuat sangat matang karena ini merupakan pondasi dari apa yang akan kita kerjakan dan menjadi titik fokus kita selama satu semester. Dengan perencanaan yang baik pula, maka hal-hal yang buruk dapat diantisipasi dan anggaran biaya dapat ditekan serendah mungkin. Sejak tahap perencanaan, tim produksi berusaha menghindari untuk melakukan penundaan pada hal apapun. Proses eksekusi berbagai rencana shooting juga berjalan cukup lancar dengan bantuan beberapa teman. Eksekusi juga berjalan sesuai dengan timeline yang telah tim produksi susun sehingga tim produksi tidak merasa tertekan dalam proses pembuatan tugas karya akhir ini. Mengenai perizinan shooting juga dapat terkendali dengan baik, karena adanya respon positif baik dari narasumber juga pemilik lokasi yang tim produksi gunakan untuk pelaksanaan shooting. Satu-satunya kendala terbesar yang tim produksi hadapi adalah saat akan mengambil alat yang telah tim produksi pesan sejak satu bulan sebelumnya dan telah dikonfirmasi. Namun ternyata pada hari-h dimana tim produksi akan shooting, pihak penyewa mengatakan bahwa barang yang telah tim produksi pesan berupa clip-on tidak tersedia dan sedang disewa oleh pihak lain. Tim produksi cukup panik, namun untungnya tim produksi telah menyiapkan mic sebelumnya untuk mengantisipasi hal semacam ini. Maka dari itu, sebaiknya saat melakukan sebuah perencanaan shooting, seharusnya memikirkan kondisi terburuk yang mungkin terjadi dan menyiapkan perencanaan lain untuk mengantisipasi kondisi buruk tersebut. Namun ada pula beberapa hal yang tentunya perlu ditingkatkan untuk membuat karya akhir yang lebih baik. Penulis menemukan beberapa kendala yang dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan tim produksi dari segi teknis. Kendala terbesar ada di audio, yang dimana memang tim produksi kurang melakukan persiapan di sisi tersebut. Karena saat proses wawancara menggunakan clip-on dan juga mic, maka source audio yang dihasilkan terbagi menjadi dua. Hal ini menyebabkan timpangnya suara satu dengan yang lainnya. Suara yang dihasilkan dengan menggunakan clip-on juga ada yang pecah karena kemampuan tim produksi dalam menggunakan alat zoom masih sangat minim dan tidak dapat mengendalikan suara dari clip-on. Maka untuk pembuatan karya akhir selanjutnya, sebaiknya mempelajari cara memproduksi audio yang baik. Karena hal yang tampaknya cukup kecil seperti audio ternyata sangat mempengaruhi hasil akhir dari sebuah program. Selain audio, banyak juga hal kecil yang wajib diperhatikan, seperti jumlah baterai yang diperlukan hingga pemilihan host serta pakaiannya. Hubungan interpersonal yang baik juga harus mampu ditumbuhkan untuk pembuatan sebuah karya akhir. Hubungan ini dapat berupa hubungan antar anggota tim, hubungan dengan para sumber jasa lainnya serta hubungan dengan narasumber. Dari sisi cameraperson sendiri, dapat disimpulkan bahwa sangat penting untuk sebelumnya mempelajari secara mendalam dan mengetahui tentang unsur-unsur serta teknik dasar dalam menggunakan kamera. Pengambilan sudut gambar dan kesinambungan gambar merupakan hal yang sangat penting yang harus dapat dibentuk visualisasinya oleh seorang cameraperson.
Cameraperson juga harus mengetahui tentang seluk beluk serta cara pengaturan kamera yang akan digunakan untuk proses pengambilan gambar. Cameraperson wajib untuk berdiskusi dan mendapat arahan dari produser akan gambar-gambar yang harus didapat untuk setiap segmennya, hal ini akan memudahkan cameraperson saat proses shooting berlangsung, serta mendukung hasil akhir dengan pemenuhan gambar yang dibutuhkan oleh editor. Dari segi anggaran, penulis mengeluarkan biaya yang cukup tanpa mengurangi kualitas dari pembuatan tugas karya akhir tim produksi. Berbagai biaya mampu tim produksi minimalisir dengan memikirkan alternatif terbaik dan dengan adanya beberapa bantuan dari berbagai pihak dalam menyediakan jasa dan alat mampu menekan biaya yang tim produksi keluarkan. Namun, dari rencana awal ada beberapa hal yang ternyata membutuhkan anggaran yang lebih besar sehingga menambah pengeluaran untuk produksi tugas akhir. SARAN Penulis beserta tim merasa cukup puas dengan karya yang telah dihasilkan. Namun untuk menghasilkan sebuah karya yang lebih maksimal, mahasiswa harus dapat menggali ilmu dengan lebih dalam lagi dalam praktik bidang broadcasting, seperti ilmu pengambilan gambar, editing, audio, serta memperbanyak referensi program untuk meningkatkan kreativitas produksi. Untuk pembuatan karya akhir selanjutnya, sebaiknya mempelajari cara memproduksi audio yang baik. Karena hal yang tampaknya cukup kecil seperti audio ternyata sangat mempengaruhi hasil akhir dari sebuah program. Selain audio, banyak juga hal kecil yang wajib diperhatikan, seperti jumlah baterai yang diperlukan hingga pemilihan host serta pakaiannya. Selain itu, alat yang digunakan untuk produksi juga harus digunakan secara maksimal. Semakin canggih peralatan produksi yang digunakan, hasilnya memang akan semakin baik. Penulis selaku cameraperson dapat memberi saran agar dalam proyek pembuatan program tugas akhir selanjutnya, cameraperson harus mengetahui tentang dasar-dasar videografi. Cara membentuk lighting yang bagus serta pembentukan depth of field yang tepat agar dapat memvisualisasikan pesan yang ingin disampaikan dengan baik. Cameraperson harus mengetahui gambar-gambar apa saja yang harus diambil untuk kebutuhan tiap segmen sebelum proses shooting dilakukan. Hubungan interpersonal yang baik juga harus mampu ditumbuhkan untuk pembuatan sebuah karya akhir. Hubungan ini dapat berupa hubungan antar anggota tim, hubungan dengan para sumber jasa lainnya serta hubungan dengan narasumber. Penulis juga berharap masyarakat akan mendapat tayangan televisi yang lebih baik dari segi kualitas konten. Bukan hanya tayangan yang menyuguhkan hiburan secara tidak sehat, namun juga harus informatif karena televisi sendiri merupakan media massa utama saat ini. REFERENSI Bungin, B. (2008). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Djamal, H., Fachruddin, A. (2011), Dasar-Dasar Penyiaran, Sejarah, Organisasi, Operasional, dan Regulasi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Fachruddin, A. (2012). Dasar-Dasar Produksi Televisi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Morissan, M. (2011). Manajemen Media Penyiatan Strategi Mengelola Radio & Televisi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Naratama. (2004). Menjadi Sutradara Televisi Dengan Single dan Multi Camera, Jakarta: Grasindo. Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. PT RajaGrafindo Persada. Nurudin. (2014). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Pace, R. W., & Faules, D. F. (2001). Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rakhmat, J. (2005). Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rahmawati, I. R. (2011). Berkarir Di Dunia Broadcast. Jawa Barat: Laskar Aksara. Rusnandi, I. R. (2011). Berkarier di Dunia Broadcast Televisi dan Radio. Bekasi: Laskar Aksara. Umbara, Diki. Pintoko Wary, Wahyu. (2009). How To Become a Cameramen. Motion Publishing Wiryanto. (2000). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Grasindo. Zettl, H. (2009). Television Production Handbook. Belmont: Wadsworth Cengage Learning. Yunus, U. (2012). Office Courtesy: Diferensiasi Pada Komunikasi Organisasi. Jurnal Humaniora, 165-172. RIWAYAT PENULIS
Klemensia Michelle Novely Horista lahir di kota Medan, Indonesia pada 23 November 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang ilmu komunikasi dan pemasaran jurusan pertelevisian pada tahun 2014. Saat ini bekerja