1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan kondisi hidrologi DAS sebagai dampak perluasan lahan kawasan budidaya yang tidak terkendali tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air seringkali mengarah pada kondisi yang kurang diinginkan, yaitu peningkatan erosi dan sedimentasi, penurunan produktivitas lahan, dan percepatan degradasi lahan (Dirjen RLPS, 2009). Hasil akhir perubahan ini tidak hanya berdampak nyata secara biofisik berupa peningkatan luas lahan kritis dan penurunan daya dukung lahan, namun juga secara sosial ekonomi menyebabkan masyarakat menjadi semakin kehilangan kemampuan untuk berusaha di lahannya. Oleh karena itu, peningkatan fungsi kawasan budidaya memerlukan perencanaan terpadu agar beberapa tujuan dan sasaran pengelolaan DAS tercapai, seperti erosi tanah terkendali, hasil air optimal, dan produktivitas dan daya dukung lahan terjaga, dengan demikian degradasi lahan dapat terkendali dan kesejahteraan masyarakat dapat terjamin. Menurut Asdak (2004) Pengelolaan DAS adalah suatu formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat manipulasi sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di daerah aliran sungai untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya air dan tanah. Ia mempunyai arti sebagai pengelolaan dan alokasi sumberdaya alam di daerah aliran sungai termasuk pencegahan banjir dan erosi, serta perlindungan nilai keindahan yang berkaitan dengan sumberdaya alam. Termasuk dalam pengelolaan DAS adalah identifikasi keterkaitan antara daerah hulu dan hilir suatu DAS. Pengelolaan DAS perlu mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan yang beroperasi di dalam dan di luar daerah aliran sungai yang bersangkutan. Suatu program pengelolaan DAS seringkali tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena berbenturan dengan kepentingan sepihak penggunaan lahan. Penggunaan lahan (land use) diartikan sebagai setiap bentuk intervesi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Arsyad, 2006). Kebutuhan akan ruang seperti untuk tempat tinggal, keinginan untuk meningkatkan produksi pangan, serta kepentingan-kepentingan subyektif lain seperti peningkatan pendapatan daerah
2 melalui industri, peningkatan sarana jalan untuk transportasi, mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan hutan ke lahan pertanian dan non pertanian. Perubahan penggunaan lahan akan memberikan dampak penting terhadap berbagai aktivitas kehidupan manusia tidak hanya kelestarian lingkungan hidup tetapi juga terhadap daya dukung alam dalam menopang pertambahan penduduk dan peningkatan produksi pangan. Penggunaan lahan erat kaitannya dengan luas penutupan lahan sehingga perubahan yang terjadi akan memberikan pengaruh yang nyata terhadap keadaan hidrologis suatu DAS.. Irianto (2003) mengatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk yang masih tinggi dan terkonsentrasi pada wilayah tertentu menyebabkan alih fungsi lahan pertanian (cultivated land) ke lahan bukan pertanian (non cultivated land) seperti permukaan jalan sulit sekali dikendalikan, bahkan banyak ditemukan penggunaan lahan melampaui daya dukungnya. Pembabatan hutan, budidaya tanaman pangan pada lahan berlereng terjal tanpa konservasi tanah dan air yang memadai merupakan beberapa ilustrasi penyebab rusaknya sistem hidrologi DAS. Kerusakan tersebut ditandai dengan menurunnya kemampuan DAS dalam menyerap, menyimpan, dan mendistribusikan air hujan pada musim hujan. Akibatnya, tambahan cadangan air tanah (recharging) pada musim hujan sangat terbatas sehingga pasokan air pada musim kemarau menjadi rendah. Berdasarkankan penelitian, alih fungsi lahan pertanian/betonisasi berdampak terhadap, 1) penurunan volume air hujan yang dapat diserap tanah dari 15 persen sampai dibawah 9 persen, 2) peningkatan volume aliran permukaan dari sekitar 30 persen menjadi 40-60 persen, 3) kecepatan aliran permukaan dari kurang 0,7 meter per detik menjadi lebih dari 1,2 meter per detik (Irianto, 2003). Rendahnya penambahan air tanah (recharge) melalui infiltrasi pada musim hujan akan menyebabkan menurunnya pasokan air di musim kemarau, sementara itu kebutuhan air irigasi pada musim kemarau justru meningkat. Dampaknya, selain menurunnya luas daerah layanan irigasi, juga menurunnya intensitas tanam bahkan sering diikuti meningkatnya risiko kekeringan. Kondisi demikian akan berdampak terhadap penurunan produksi pangan secara nasional. Daerah Aliran sungai Citarum merupakan salah satu DAS penting di Indonesia khususnya di Provinsi Jawa Barat karena terkait dengan masalah ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional. Luas wilayah DAS Citarum meliputi 731.973,32 ha, dengan letak geografis 106 o 51 36 107 o 51 BT dan 7 o 19 6 o 24 LS (BPDAS Citarum-Ciliwung, 2008). Berdasarkan daerah
3 tangkapan waduk, DAS Citarum dapat dikelompokkan menjadi 4 sub DAS, yaitu: 1) Citarum Hulu, terletak di sekitar Pacet, yang merupakan daerah tangkapan waduk Saguling, 2). Daerah tangkapan dari waduk Cirata yang terletak di wilayah Cianjur dan sekitarnya, 3). Daerah tangkapan waduk Jatiluhur di wilayah Purwakarta dan sekitarnya, dan 4). Sub DAS Citarum Hilir yang merupakan areal terluas terletak di bagian utara meliputi sebagian besar Kabupaten Karawang hingga Pantura (LPPM IPB, 2006). Menurut Perum Jasa Tirta II Jatiluhur (2001), Potensi sungai Citarum mempunyai aliran rata-rata 5,5 miliar m 3 /tahun dengan debit rata-rata tahunan 175 m 3 /detik. Proyek pengairan Jatiluhur didasarkan pada pertimbangan bahwa salah satu daerah produksi utama hasil agraris khususnya pangan untuk kota-kota di provinsi Jawa Barat adalah dataran alluvial pantai utara Jawa Barat yang terbentang dari Banten sampai Cirebon, maka timbullah gagasan untuk mengendalikan dan memanfaatkan aliran Citarum untuk penyempurnaan irigasi dan memperluas daerah pengairan pada dataran aluvial tersebut dalam rangka peningkatan produksi pertanian khususnya pangan. Proyek Pengairan Jatiluhur dibangun atas dasar rencana untuk memberi pengairan teknis pada sawah seluas 240.000 Ha (Direktorat Pengairan Perum Otorita Jatiluhur, 1985). 1.2. Permasalahan Tekanan penduduk mengakibatkan terjadinya konversi lahan dari hutan ke pertanian maupun non pertanian. Konversi lahan tersebut akan berdampak pada menurunnya infiltrasi dan resapan air, sehingga aliran permukaan meningkat yang berakibat pada terjadinya banjir, pada DAS yang tidak mempunyai waduk pengaruh perubahan lahan sangat terasa pada musim kemarau ketika simpanan air berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan air untuk pertanian maupun kebutuhan rumah tangga lainnya. Hal ini berbeda pada daerah yang memiliki Waduk atau danau-danau buatan. Waduk berperan untuk mencegah banjir dengan cara menampung aliran permukaan yang memiliki jumlah air sangat besar terutama pada daerah yang telah mengalami konversi lahan secara besar-besaran dari tahun ke tahun. Air yang tersimpan dalam waduk, selanjutnya akan digunakan saat musim kemarau untuk berbagai keperluan. Tetapi, keberadaan waduk tidak selamanya dapat mengatasi dampak negatif dari perubahan lahan yang telah dan akan terus berlangsung. Perubahan penggunaan lahan yang berdampak buruk terhadap
4 kondisi hidrologis suatu DAS, suatu saat akan berpengaruh terhadap penurunan suplai air irigasi sehingga akan berdampak pula pada berkurangnya luas areal persawahan yang diairi. Perubahan penggunaan lahan suatu DAS merupakan permasalahan didalam pengelolaan DAS. Perubahan dalam tata guna lahan seperti berkurangnya lahan hutan atau peningkatan lahan pemukiman di suatu DAS akan mengakibatkan berkurangnya sumberdaya air pada DAS tersebut. Satu kenyataan yang menarik dalam melihat fenomena alam pada suatu DAS adalah bahwa setiap perubahan pada daerah hulu akan memberikan dampak secara nyata pada bagian hilir. Daerah aliran sungai yang tidak mempunyai waduk atau danau buatan untuk menampung aliran permukaan menunjukkan pengaruh yang nyata antara perubahan tata guna lahan pada daerah hulu dengan debit banjir pada daerah hilir maupun kondisi hidrologi pada saat musim kemarau. Hal ini tentu berbeda dengan DAS Citarum yang memiliki 3 waduk besar dan disusun secara seri dari hulu ke hilir masing-masing: Waduk Saguling, waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur. Waduk Saguling dan Cirata ditujukan terutama untuk pembangkit tenaga listrik sedangkan waduk Jatiluhur merupakan waduk serba guna untuk memenuhi berbagai keperluan di bagian hilir dengan salah satu manfaatnya adalah sebagai penyedia air irigasi untuk areal persawahan seluas ± 240.000 ha yang berada pada wilayah otorita Perum Jasa Tirta II Jatiluhur, tersebar dari Bekasi sampai Indramayu (Perum Jasa Tirta II, 2001). Peningkatan produksi pertanian terutama padi sawah sangat bergantung pada ketersediaan air selain faktor pendukung lainnya. Daerah Jawa Barat bagian utara diharapkan dapat menjadi lumbung beras terutama dalam menjaga kestabilan persediaan pangan nasional dan swasembada beras. Hal ini memberikan suatu motivasi untuk terus memproduksi beras pada musim kemarau, dengan demikian keberadaan air irigasi untuk mengairi areal persawahan sangat dibutuhkan. Peranan DAS Citarum sangat besar untuk menunjang ketersediaaan air irigasi guna mewujudkan tujuan ini. Evaluasi mengenai keterkaitan antara hulu dan hilir DAS Citarum dilakukan dengan melihat perubahan penggunaan lahan yang terjadi dan pengaruhnya terhadap karakteristik hidrologi dan efek lanjutannya apakah memberikan dampak positif atau negatif terhadap penyediaan air irigasi dan bagaimana Waduk Jatiluhur berperan untuk mengatasi perubahan ini.
5 1.3. Tujuan Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas maka ditetapkan tujuan dari penelitian ini yaitu melakukan evaluasi terhadap: 1. Perubahan penggunaan lahan DAS Citarum dari tahun 2002 sampai tahun 2008. 2. Pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap hasil air (water yield) DAS Citarum. 3. Perubahan hasil air dan pengaruhnya terhadap pemenuhan kebutuhan irigasi untuk areal persawahan yang berada pada wilayah otorita Perum Jasa Tirta II Jatiluhur. 4. Pengaruh penyediaan air irigasi terhadap perubahan luas areal persawahan.