JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009 mencapai 1,85% per 1000 penduduk. Penyebab malaria yang tertinggi

Jl. Prof. H. Soedarto, SH., Tembalang -Semarang 50275, Telp

PENGARUH PEMBERIAN GABUNGAN EKSTRAK Phaleria macrocarpa DAN Phyllanthus niruri TERHADAP PERSENTASE LIMFOBLAS LIMPA PADA MENCIT BALB/C

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu

ABSTRAK. PENGARUH FRAKSI AIR KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana) DAN ARTEMISININ TERHADAP PARASITEMIA PADA MENCIT YANG DIINOKULASI Plasmodium berghei

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

ABSTRAK. EFEKTIVITAS FRAKSI ETIL ASETAT KULIT MANGGIS TERHADAP PARASITEMIA PADA MENCIT YANG DINOKULASI Plasmodium berghei

PENYEMBUHAN LUKA INSISI SECARA MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS PADA MENCIT JANTAN GALUR SWISS-WEBSTER

PENGARUH PEMBERIAN TOLAK ANGIN ANAK CAIR TERHADAP KADAR NITRIT OKSIDA (NO) PADA MENCIT SWISS LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur patogen,

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB VI PEMBAHASAN. Mencit Balb/C yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari. Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah

ABSTRAK. Stefany C.K, Pembimbing I : Laella Kinghua Liana, dr., Sp.PA, M.Kes. Pembimbing II: Endang Evacuasiany, Dra., MS., AFK.

ABSTRAK. PENGARUH SARI BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam.) TERHADAP PARASITEMIA PADA MENCIT JANTAN STRAIN BALB/c YANG DIINOKULASI Plasmodium berghei

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi yang. masih menjadi masalah di negara tropis dan subtropis

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini meliputi bidang Histologi, Mikrobiologi, dan Farmakologi.

BAB I PENDAHULUAN. benda asing dan patogen di lingkungan hidup sekitar seperti bakteri, virus, fungus

PENGARUH PROPOLIS SECARA TOPIKAL TERHADAP FIBROBLAS PASCA LUKA BAKAR PADA MENCIT (MUS MUSCULUS) Oleh : RAUZATUL FITRI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria adalah suatu penyakit menular yang banyak diderita oleh penduduk di daerah tropis dan subtropis,

Maria Caroline Wojtyla P., Pembimbing : 1. Endang Evacuasiany, Dra., MS., AFK., Apt 2. Hartini Tiono, dr.

BAB I PENDAHULUAN. patogen di lingkungan, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit yang dapat

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006 HALAMAN PENGESAHAN

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK PRODUK X SEBAGAI ANTIINFLAMASI PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

ABSTRAK. EFEK PROPOLIS INDONESIA MEREK X DALAM MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA PADA MENCIT JANTAN GALUR Swiss-Webster

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA. Ar11l ELVIEN LAHARSYAH

ABSTRAK EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN BINAHONG

ABSTRAK. EFEK JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP BERAT BADAN MENCIT Swiss Webster JANTAN

THE AGENT OF ANTIMALARIAL ACTIVITY OF LEMPUYANG WANGI (Zingiber aromaticum Val) RHIZOME JUICE ON SWISS MALE MICE INFECTED Plasmodium berghei

ABSTRAK. EFEK HIPOGLIKEMI TEH JIAOGULAN (Gynostemma pentaphyllum) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT Swiss Webster JANTAN YANG DIINDUKSI ALOKSAN

Diajukan guna memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh Program Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran OLEH

ABSTRAK. Pembimbing I : Dr. Meilinah Hidayat, dr., M.Kes Pembimbing II : Hartini Tiono, dr., M.Kes

EFEK ANTELMINTIK EKSTRAK ETANOL RIMPANG JAHE MERAH. (Zingiber officinale Roscoe var. rubrum) TERHADAP CACING. Ascaris suum Goeze SECARA IN VITRO

PENGARUH MENGUNYAH PERMEN KARET TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH PEMBERIAN KLOROFIL TERHADAP KENAIKAN KADAR HEMOGLOBIN PADA TIKUS MODEL ANEMIA

PENGARUH INDUKSI KETAMIN DOSIS 2 MG/KgBB DAN. DEKSAMETASON DOSIS 0,2 MG/KgBB INTRAVENA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR

ABSTRAK. EFEK KOMBINASI JUS STROBERI (Fragraria vesca) DAN JUS BELIMBING MANIS (Averrhoa carambola Linn.) TERHADAP TEKANAN DARAH NORMAL WANITA DEWASA

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN LEMBAYUNG (Vigna unguiculata) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS DIABETES MELLITUS DENGAN INDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran DISUSUN OLEH : WAHYU FAIZAL SULAIMAN J FAKULTAS KEDOKTERAN

Kata kunci: salep ekstrak herba meniran, triamcinolone acetonide, penyembuhan luka

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti seminar hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre-post test with

ABSTRAK Penggunaan asam glycyrrhizic yang merupakan bahan aktif dari Viusid Pet sudah lazim digunakan untuk meningkatkan respon imun.

BAB IV METODE PENELITIAN

Daftar Pustaka. Arubusman M., Evaluasi Hasil Guna Kombinasi. Artesunate-Amodiakuin dan Primakuin pada Pengobatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 5 PEMBAHASAN. Mencit yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari Laboratorium

EFEK CENDAWAN ULAT CINA

BAB III METODE PENELITIAN

EFEK ANTIDIARE EKSTRAK DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Ness.) PADA MENCIT Swiss Webster YANG DIINDUKSI Oleum ricini

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan eksperimental murni, dengan rancanganpost-test control

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

ABSTRAK. Samuel Widodo, Pembimbing 1 : Khie Khiong, dr., S.Si., M.Si., M.Pharm.Sc., PhD., PA(K). Pembimbing 2 : Sijani Prahastuti, dr., M.Kes.

ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ABSTRAK. Rhenata Dylan, Pembimbing I : Diana K. Jasaputra, dr., M.Kes Pembimbing II: Dr. Slamet Santosa, dr., M.Kes

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 Kedokteran Umum

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum

BAB 4 HASIL PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan tentang pengaruh pemberian ekstrak etanol

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL ISOLAT PROPOLIS GUNUNG LAWU TERHADAP HITUNG SPERMATOZOA MENCIT MODEL INFERTILITAS PRIA

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRAK. PENGARUH EKSTRAK ETANOL RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.) TERHADAP MUKOSA GASTER PADA MODEL MENCIT SWISS WEBSTER YANG DIINDUKSI ASETOSAL

BAB III METODE PENELITIAN. dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan lalu dibandingkan kerusakan

ABSTRAK. Albert Christopher Ryanto, Pembimbing I: Heddy Herdiman, dr., M.Kes. Pembimbing II: Christine Sugiarto, dr., Sp.PK.

1 Universitas Kristen Maranatha

PENGARUH EKSTRAK ETANOL RIMPANG KENCUR (Kaempferia YANG DIINDUKSI ASAM ASETAT ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria merupakan salah satu penyakit infeksius. yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina.

PENGARUH INTERVENSI MUSIK KLASIK MOZART DIBANDING MUSIK INSTRUMENTAL POP TERHADAP TINGKAT KECEMASAN DENTAL PASIEN ODONTEKTOMI

TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. : Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

BAB 3 METODE PENELITIAN. Semarang, Laboratorium Sentral Fakultas Kedokteran Universitas

ABSTRAK. Ronald S.Budhy, 2009 Pembimbing : 1. Endang Evacuasiany, Dra, Apt, M.S.AFK 2. Hartini Tiono, dr.

ABSTRAK. PENGARUH EKSTRAK ETANOL BIJI SEMANGKA (Citrullus lanatus Thunb.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN DEWASA

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN GANDARUSA

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

ABSTRAK. EFEK ANTIDIARE EKSTRAK ETANOL RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica Val.) PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN

PENGARUH EKSTRAK BIJI SIRSAK (Annona muricata L) DALAM MENGURANGI KERUSAKAN TESTIS MENCIT (Mus musculus) YANG DIPAPAR ASAP ROKOK SKRIPSI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya ilmu Biokimia dan Farmakologi.

ABSTRAK. PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK DAUN KATUK ( Sauropus androgynus (L.) Merr.) DAN DOMPERIDON TERHADAP BERAT BADAN MENCIT (Swiss-webster) MENYUSUI

EFEK ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUAH BELIMBING WULUH (A

PENGARUH PARASETAMOL DOSIS ANALGESIK TERHADAP KADAR SERUM GLUTAMAT OKSALOASETAT TRANSAMINASE TIKUS WISTAR JANTAN

ABSTRAK. PENGARUH BUBUK KULIT TELUR AYAM PETERNAK (Gallus gallus domesticus) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA INSISI PADA MENCIT Swiss-Webster JANTAN

ABSTRAK. EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS WISTAR JANTAN

BAB V HASIL PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada 24 ekor mencit betina strain C3H berusia 8

PENGARUH PEMBERIAN METHANIL YELLOW PERORAL DOSIS BERTINGKAT SELAMA 30 HARI TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR MENCIT BALB/C

GAMBARAN MIKROSKOPIS GINJAL TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ETANOL DAN SOFT DRINK

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan

DAYA HAMBAT EKSTRAK SABUT KELAPA (COCOS NUCIFERA) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan dari penelitian ini adalah Histologi, Patologi

Transkripsi:

PENGARUH KOMBINASI ANNONA MURICATA DENGAN ARTEMISININ-BASED COMBINATION THERAPY (ACT) TERHADAP PERSENTASE LIMFOBLAS LIMPA DAN PARASITEMIA MENCIT YANG TERINFEKSI MALARIA Dwi Fatimah Sari 1, R.A Kisdjamiatun RMD 2 1 Mahasiswa Program Pendidikan S-1 Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro 2 Staf Pengajar Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Soedarto, SH, Tembalang-Semarang, Telp. (024)76928010 ABSTRAK Latar Belakang: Terapi kombinasi dibutuhkan untuk melindungi obat malaria saat ini dan yang akan datang.. Ada pendapat bahwa pengelolaan malaria serebral memerlukan terapi adjuvant. Belum diketahui efektivitas A.muricata sebagai adjuvant pada malaria serebral yang dinilai dari persentase limfoblas limpa mencit Swiss yang diinokulasi PbA. Tujuan: Membuktikan pengaruh kombinasi A.muricata dengan ACT terhadap persentase limfoblas limpa yang terinfeksi malaria. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium murni dengan Post Test Only Control Group Design. Sampel 20 ekor mencit Swiss dengan kriteria tertentu, dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok K diberi air. Kelompok P1 diberi A.muricata 3.12 mg/kgbb/hari untuk pencegahan dan 6.24 mg/kgbb/hari untuk pengobatan. Kelompok P2 diberi ACT 0.546 mg/kgbb/hari. Kelompok P3 diberi A.muricata 3.12 mg/kgbb/hari untuk pencegahan dan 6.24 mg/kgbb/hari untuk pengobatan dan ACT 0.546 mg/kgbb/hari. Hari ke-21 diambil darah ekor untuk mengukur parasitemia dan diterminasi untuk isolasi splenosit untuk mengukur persentase limfoblas limpa. Uji statistik menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji Post-Hoc untuk limfoblas limpa serta uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney untuk persentase parasitemia. Hasil: Rata - rata persentase limfoblas limpa kelompok K (26.7%), P1 (17.38%), P2 (11.142%), P3 (7.546%). Perbedaan yang signifikan terdapat pada kelompok K P1 (p=0.007), K P2 (p=0.000), K P3 (p=0.000), P1 P3 (p=0.005). Kelompok P1 P2 (p=0.056) dan P2 P3 (p=0.253) tidak ada perbedaan. Persentase parasitemia terdapat perbedaan antara kelompok K P2 (p=0.009), K P3 (p=0.009), P1 P2 (p=0.009), P1 P3 (p=0.009). Tidak terdapat perbedaan persentase parasitemia antara kelompok K-P1 (p=0.465) dan P2 P3 (p=0.209). Simpulan: Pengaruh kombinasi A.muricata dengan ACT terhadap persentase limfoblas limpa yang terinfeksi malaria tidak bermakna. Kata kunci: A.muricata, ACT, limfoblas limpa, PbA. ABSTRACT THE EFFECT OF THE COMBINATION OF ANNONA MURICATA AND ARTEMISININ- BASED COMBINATION THERAPY (ACT) TOWARD THE PERCENTAGE OF SPLENIC LYMPHOBLAST AND PARASITAEMIA OF MICE INFECTED BY MALARIA Background: Combination therapy is needed to protect antimalarial drugs at the time and in the future. There is an opinion stating that management of cerebral malaria needs adjuvant therapy. The efectivity of A.muricata as an adjuvant in cerebral malaria assessed from the percentage of splenic lymphoblast of Swiss mice inoculated with PbA is unknown. 54

Aim: Proving the effect of the combination of A.muricata and ACT towards the percentage of splenic lymphoblast infected by malaria. Method: Pure laboratory experimental with Post Test Only Control Group Design. Samples which consist of 20 Swiss mice with certain criteria, were divided into 4 groups. K group were given water. P1 group were given A.muricata 3.12 mg/kgbb/day for prevention and 6.24 mg/kgbb/day for treatment. P2 group were given ACT 0.546 mg/kgbb/day. P3 group were given A.muricata 3.12 mg/kgbb/day for prevention and 6.24 mg/kgbb/day for treatment and ACT 0.546 mg/kgbb/day. On day 21, blood tail was taken to measure the percentage of parasitaemia and was terminated for splenocytes isolation to measure the percentage of splenic lymphoblast. Statistical tests used in the research are One Way ANOVA test and Post-Hoc test for splenic lymphoblast and Kruskal Wallis test and Mann Whitney test for the percentage of parasitaemia. Result: The Average percentage of splenic lymphoblast K group are (26.7%), P1 (17.38%), P2 (11.142%), P3 (7.546%). Significant differences are found in groups K P1 (p=0.007), K P2 (p=0.000), K P3 (p=0.000), P1 P3 (p=0.005). Groups P1 P2 (p=0.056) and P2 P3 (p= 0.253) have no differences. There are significicant differences of the percentage of parasitaemia among groups K P2 (p=0.009), K P3 (p=0.009), P1 P2 (p=0.009), P1 P3 (p=0.009). There are no differences of the percentage of parasitaemia between groups K P1(p=0.465) and P2 P3 (p=0.209). Conclusion: The effect of the combination of A.muricata and ACT on the percentage of splenic lymphoblast infected by malaria is meaningless. Keywords: A.muricata, ACT, splenic lymphoblast, PbA. PENDAHULUAN Kemenkes RI melaporkan angka kesakitan malaria tahun 2009 mencapai 1,85% per 1000 penduduk. Penyebab malaria yang tertinggi pada tahun 2009 adalah P. vivax (55,8%), kemudian P. falciparum. 1 Spesies parasit yang dominan menyebabkan malaria di Indonesia adalah P. falciparum dan P. vivax, yang diketahui dapat menimbulkan malaria berat salah satunya malaria serebral yang dapat menyebabkan kematian pada penderitanya. 2 Skizon difagosit oleh sel makrofag dan limfosit pada limpa yang menyebabkan peradangan sel sehingga terjadi perbesaran limpa (splenomegaly). 3.4 Pembentukan limfoblas terjadi pada saat limfosit teraktivasi oleh rangsangan antigenic yang terjadi dalam organ limpa. 5 Hal tersebut akan mempengaruhi persentase limfoblas limpa pada penderita MS sehingga perlu adanya pengelolaan untuk terapi MS. Ekstrak methanol daun sirsak terbukti meningkatkan kadar CXCL12 produk sel limpa mencit Swiss fase MS. 6 Kombinasi terapi diperlukan untuk melindungi obat anti malaria saat ini dan yang akan datang. Artemisinin napthoquine (AN) dan DHP sangat efektif dan aman untuk setiap malaria serta kedua obat ini menjanjikan untuk terapi baris pertama kebijakan di Indonesia. 7 55

Terapi ACT (DHP)- A.muricata akan diuji efektivitasnya pada penelitian ini, sebelum diaplikasikan nantinya. Efektivitasnya dinilai dari persentase limfoblas limpa pada mencit Swiss yang diinokulasikan PbA. Semakin kecil persentase limfoblas limpa maka semakin efektif terapi kombinasi tersebut. METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium murni yang didesain menggunakan desain Post Test Only Control Group Design. Objek yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit Swiss yang berjenis kelamin betina dengan berat mencit rata rata 20 35 gram dan umur mencit adalah 8 minggu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada tanggal 26 April sampai dengan 16 Mei 2016. Sampel diambil dengan cara simple random sampling, besar sampel minimal tiap kelompok adalah 5 ekor mencit dengan cadangan 10% dan terdapat 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol sehingga jumlah sampel seluruhnya adalah 24 ekor mencit. Mencit diadaptasikan selama 6 harikemudian diberikan perlakuan sesuai dengan ketentuan. Kelompok K diberi air. Kelompok P1 diberi A.muricata 3.12 mg/kgbb/hari untuk pencegahan dan 6.24 mg/kgbb/hari untuk pengobatan. Kelompok P2 diberi ACT 0.546 mg/kgbb/hari. Kelompok P3 diberi A.muricata 3.12 mg/kgbb/hari untuk pencegahan dan 6.24 mg/kgbb/hari untuk pengobatan dan ACT 0.546 mg/kgbb/hari. Hari ke-21 diambil darah ekor untuk mengukur parasitemia dan diterminasi untuk isolasi splenosit untuk mengukur persentase limfoblas limpa. Uji statistik untuk pengolahan data menggunakan uji Kolmogor Smirnov untuk uji normalitas dengan p value > 0.01 data berdistribusi normal. Uji Lavene Statistic untuk uji homogenitas dengan p value > 0.01 data homogen. Uji One-Way ANOVA dan uji Post-Hoc untuk limfoblas limpa serta uji Kruskal Wallis dan uji Mann Whitney untuk persentase parasitemia dengan p value < 0.01 ada perbedaan yang signifikan. HASIL Penelitian telah dilakukan selama 21 hari di Laboratorium Parasitologi FK UNDIP. Terdapat 1 ekor mencit mati pada kelompok kontrol sehingga tersisa 23 ekor mencit dan 56

sudah memenuhi untuk minimal sampel. Hari ke-21 sebanyak 20 ekor mencit diambil darah ekor untuk mengukur parasitemia dan diterminasi untuk isolasi splenosit untuk mengukur persentase limfoblas limpa. Limfoblas limpa ditunjukkan oleh panah. Gambar 1. Limfoblas Limpa Masing Masing Kelompok Gambar 1. Foto limfoblas limpa kelompok K, P1, P2, P3 (diurutkan dari sebelah kiri) dalam satu lapang pandang. Limfoblas limpa ditunjukkan oleh panah. Tabel 1. Analisis Deskriptif Sampel Rata-Rata Kontrol 26.70 P1 17.38 P2 11.14 P3 7.54 Tabel 1. Menunjukkan nilai rata rata terendah terdapat pada kelompok perlakuan P3 yaitu 7.54%. Penurunan persentase limfoblas kelompok P1, P2, P3 terhadap rata-rata kelompok kontrol (K) yaitu 1.53x; 2.40x; 3.54x. Tabel 2. Uji normalitas Persentase Limfoblas Limpa (Kolmogorov Smirnov) Kelompok Kontrol 0.200 P1 0.200 P2 0.200 P3 0.200 Gabungan 0.107 Tabel 2. Menunjukkan semua kelompok perlakuan dan kelompok kontrol serta kelompok gabungan memiliki nilai yang signifikan dimana p value > 0.01 sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. 57

Tabel 3. Uji Homogenitas dan ANOVA Persentase Limfoblas Limpa Uji Lavene Statistic 0.053 One-Way ANOVA 0.00006 Tabel 3. Menunjukkan uji Lavene Statistic p value > 0.01 maka data homogen. Uji One- Way ANOVA p value < 0.01 maka terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok tersebut. Tabel 4. Uji Post Hoc Persentase Limfoblas Limpa Kelompok K P1 0.00729 K P2 0.00010 K P3 0.00001 P1 P2 0.05643 P1 P3 0.00511 P2 P3 0.25315 Tabel 4. Menunjukkan persentase limfoblas mengalami penurunan yang bermakna terdapat antara kelompok K P1, K P2, K P3, P1 P3. Hasil tidak berbeda didapatkan antara P1 P2 dan P2 P3. Tabel 5. Uji Normalitas Persentase Parasitemia (Kolmogorov Smirnov) Kelompok K 0.200 P1 0.200 P2 0.200 P3 0.200 Gabungan 0.00001 Tabel 5 Menunjukkan masing masing kelompok memiliki nilai p value > 0.01 data berdistribusi normal, namun ketika digabung nilai p value < 0.01 sehingga data tidak berdistribusi normal. 58

Tabel 6. Uji Kruskal Wallis persentase Parasitemia Uji Statistik Uji Kruskal Wallis 0.002 Tabel 6. Menunjukkan bahwa nilai p value < 0.01 sehingga terdapat perbedaan bermakna pada setiap kelompok. Tabel 7. Uji Mann Whitney Persentase Parasitemia Kelompok K P1 0.465 K P2 0.009 K P3 0.009 P1 P2 0.009 P1 P3 0.009 P2 P3 0.209 Tabel 7. Menunjukkan persentase parasitemia mengalami penurunan secara bermakna antara kelompok K P2, K P3, P1 P2, P1 P3. Hasil tidak berbeda terlihat antara kelompok K P1 dan P2 P3. PEMBAHASAN Kondisi yang diberikan pada penelitian ini adalah kondisi infeksi dimana infeksinya adalah Plasmodium. Limpa merupakan salah satu organ yang paling aktif dalam memberikan respon imun selama infeksi malaria sampai akhirnya terjadi pembesaran limpa di dalamnya. Pulpa merah berguna untuk pembentukan eritrosit dan pulpa putih berguna untuk pembentukan sel sel kekebalan tubuh. Jika keduanya mungkin membesar maka terjadi proliferasi sel sel yang sangat aktif sehingga limfoblas yang terbentuk pun lebih tinggi lagi seperti yang ditunjukkan pada kelompok kontrol. Pada kelompok kontrol parasitemia tidak terkendali karena ada dua kemungkinan yaitu imunosupresi mulai bekerja atau imunitas tidak terkendali sama sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A.muricata dapat menurunkan persentase limfoblas secara bermakna. Hal itu menunjukkan bahwa A. muricata mampu untuk memodulasi respon imun selama terjadinya infeksi khususnya pada fase malaria serebral. Sehingga terbukti bahwa A. muricata mempunyai efek sebagai imunodulator. Namun 59

A.muricata belum terlalu bermakna dalam menurunkan persentase parasitemia. Hal ini mungkin dikarenakan dosis A.muricata yang digunakan untuk penelitian ini kurang besar sebagai terapi tunggal dalam pengobatan malaria serebral sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk dosis yang lebih variatif lagi dalam menanggulangi masalah malaria serebral. Walaupun parasitemia sama dan respon infeksi sama A.muricata memiliki persentase limfoblas limpa lebih rendah, sehingga perlu dipastikan apakah limfoblas pada limpa mempengaruhi survivalnya. Antara A.muricata dengan ACT ternyata didapatkan limfoblas tidak berbeda bermakna. Sementara itu parasitemia yang didapat pada kelompok yang diberi ACT ternyata lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan kelompok yang diberi A.muricata saja. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat parasitemia yang berbeda dapat memicu respon imun yang sama, keterbatasannya yaitu apakah ini protektif untuk host yang menerima A.muricata saja. Sehingga perlu diteliti seperti yang telah disebut sebelumnya, diantaranya adalah survival. Limfoblas yang ditemukan pada kelompok yang diberi ACT kemungkinan menyesuaikan fase penyembuhan. Sementara pada kelompok yang diberi A.muricata masih dalam proses menanggulangi infeksi karena parasitemia masih tinggi. Ternyata setelah diberikan kombinasi ACT dan A.muricata tidak ada perbedaan pada tingkat parasitemia maupun limfoblas. Ini menunjukkan bahwa A.muricata memang masih perlu pemberian ACT sebagai terapi standar. Apakah ada efek menguntungkan secara respon imun harus ditelaah pada dua kelompok ini (ACT saja dengan ACT dan A.muricata). Kombinasi mempunyai dampak yang baik atau tidak misalnya pada waktu terjadi re-infeksi termasuk apakah terjadi kemungkinan kerusakan jaringan misalnya karena kombinasi A.muricata dan ACT memiliki dampak imunodulator. Penelitian terdahulu adanya peningkatan kemokin maupun sitokin anti inflamasi yaitu CXCL-12 dan IL-10 yang lebih tinggi pada kelompok yang diberi ekstrak metanol A.muricata saja. Gamma interferon dan IL- 12 pada kelompok yang diberi maupun tidak diberi A.muricata tetap sama yang naik adalah anti inflamasinya. 6 Sementara A.muricata dari penelitian terdahulu tidak memodulasi respon imun. Kemungkinan bahwa Th1 tidak dimodulasi oleh A.muricata tetapi A.muricata lebih memodulasi pada Th2 karena IL-10 lebih mendukung Th2. Dari sini terlihat bahwa kemungkinan ekstrak methanol A.muricata masih berefek secara protektif dengan 60

meningkatkan respon imun Th2 selama malaria serebral dan ini perlu ditindak lanjuti pada ekstrak air. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Persentase limfoblas lebih rendah kelompok yang diberi ekstrak air daun A. muricata dibanding kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan pre dan pasca inokulasi PbA. Persentase limfoblas pada kelompok yang diberi ekstrak air daun A. muricata dan obat ACT tidak lebih rendah dibanding kelompok yang diberi obat ACT saja pasca inokulasi PbA. Persentase limfoblas lebih rendah kelompok yang diberi ekstrak air daun A. muricata dan obat ACT dibanding kelompok yang diberi ekstrak air daun A. muricata pre dan pasca inokulasi PbA. Saran Saran yang dapat diberikan yaitu penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui bahan aktif yang terkandung dalam A. muricata sebagai terapi adjuvant yang berperan pada mekanisme antimalaria. Penelitian lebih lanjut mengenai survival A.muricata sebagai adjuvant dalam pengobatan malaria serebral masih diperlukan. Penelitian lebih lanjut mengenai respon imun terkait dengan aktivasi sel Th2 pada malaria serebral yang diberi kombinasi ACT dengan A.muricata. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Dr. dr. RA. Kisdjamiatun RMD, M.Sc., Prof. dr. Edi Dharmana, M.Sc., Sp.ParK., Ph.D., dr. Rr. Mahayu Dewi Ariani, M.Si.Med., dr. Ariosta yang telah membantu peneliti dalam menyusun artikel Karya Tulis Ilmiah ini. Terima kasih peneliti ucapkan kepada Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Laboratorium Cebior serta pihak lain yang telah membantu dalam terselesaikannya artikel Karya Tulis Ilmiah ini. 61

DAFTAR PUSTAKA 1. Kemenkes RI. Epidemologi Malaria di Indonesia. Triwulan I. Jakarta : Kemenkes RI. 2011. 2. Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kemenkes RI. 2013. 3. Gartner, Leslie P. dan Hiatt, James L. Buku Ajar Berwarna Histologi. Singapura: Elsevier. 2007. 4. Harijanto, P.N. Malaria dari Molekuler ke Klinis Edisi 2. Jakarta: EGC. 2009. 5. Dorland, W.A. Newman. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 31Jakarta: EGC. 2010. 6. Kisdjamiatun; Sudaryanto; Wijayahadi, Noor. Efek Daun Annona muricata Linn terhadap Kadar Angiopoietin-2 dan CXCL12 Darah serta Korelasi Kadar CXCL12 dan IFN-γ Limpa. Semarang: FK Universitas Diponegoro. 2015. 7. Tjitra, Emiliana; Hasugian, Armedy R.; Siswantoro, Hadjar; Prasetyorini, Budi; Ekowatiningsih, Riyanti; Yusnita, Endah A; Purnamasari, Telly; Driyah, Srilaning; Salwati, Ervi; Nurhayati; Yuwarni, Eni; Januar, Lidwina; Labora, Joseph; Wijayanto, Bambang; Amansyah, Fajar; Dedang, Tersila AD; Purnama, Asep; Trihono. Efficacy and Safety of Artemisinin-Naphthoquine versus Dihydroartemisinin-Piperaquine in Adult Patients with Uncomplicated Malaria: a Multi-Centre Study in Indonesia. Malaria Jurnal. 2012;11(1):1-14. Available from http://www.malaria journal.com/content/11/1/153. 62