Prosiding Matematika ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
ALGORITMA RUTE FUZZY TERPENDEK UNTUK KONEKSI SALURAN TELEPON

Matematika dan Statistika

MENENTUKAN LINTASAN TERPENDEK SUATU GRAF BERBOBOT DENGAN PENDEKATAN PEMROGRAMAN DINAMIS. Oleh Novia Suhraeni 1, Asrul Sani 2, Mukhsar 3 ABSTRACT

SEARCHING SIMULATION SHORTEST ROUTE OF BUS TRANSPORTATION TRANS JAKARTA INDONESIA USING ITERATIVE DEEPENING ALGORITHM AND DJIKSTRA ALGORITHM

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENCARIAN RUTE OPTIMUM OBJEK WISATA DI KABUPATEN PEMALANG

PENGGUNAAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK MENENTUKAN LINTASAN TERPENDEK STUDI KASUS : LINTASAN BRT (BUS RAPID TRANSIT) MAKASSAR

Penentuan Rute Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor dan Metode Sequential Insertion *

Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya 1* Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya 2,3

PENYELESAIAN CAPACITATED VEHICLE ROUTING PROBLEM MENGGUNAKAN SAVING MATRIKS, SEQUENTIAL INSERTION, DAN NEAREST NEIGHBOUR DI VICTORIA RO

BAB I PENDAHULUAN. Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

IMPLEMENTASI ALGORITMA DIJKSTRA UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK WILAYAH PISANGAN DAN KAMPUS NUSA MANDIRI TANGERANG

PENENTUAN RUTE TERPENDEK DENGAN METODE FLOYD WARSHALL PADA PETA DIGITAL UNIVERSITAS SUMATERA UTARA SKRIPSI DHYMAS EKO PRASETYO

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I BAB I. PENDAHULUAN. menjadikan pemikiran ilmiah dalam suatu bidang ilmu, dapat dilakukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

UNNES Journal of Mathematics

1.4. Batasan Masalah Batasan-batasan masalah dalam pembuatan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

Aplikasi Teori Graf dalam Pencarian Jalan Tol Paling Efisien

UJM 2 (1) (2013) UNNES Journal of Mathematics.

Pencarian Jalur Terpendek dengan Algoritma Dijkstra

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. berpengaruh terhadap keberhasilan penjualan produk. Salah satu faktor kepuasan

Aplikasi Algoritma Dijkstra dalam Pencarian Lintasan Terpendek Graf

Prosiding Matematika ISSN:

Simulasi Pencarian Rute Terpendek dengan Metode Algoritma A* (A-Star) Agus Gustriana ( )

Penggunaan Algoritma Dijkstra dalam Penentuan Lintasan Terpendek Graf

BAB 2 LANDASAN TEORI

Sirkuit Euler & Sirkuit Hamilton SISTEM INFORMASI UNIVERSITAS GUNADARMA 2012/2013

PENENTUAN JALUR ALTERNATIF UNTUK MENGHINDARI KEMACETAN LALU LINTAS DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJKSTRA (Studi Kasus: Simpang Empat Waspada Medan)

Aplikasi Shortest Path dengan Menggunakan Graf dalam Kehidupan Sehari-hari

Dwiprima Elvanny Myori

MATEMATIKA DISKRIT II ( 2 SKS)

PENERAPAN ALGORITMA FLOYD WARSHALL UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK DALAM PENGIRIMAN BARANG

Perbandingan Algoritma Pewarnaan LDO, SDO, dan IDO pada Graf Sederhana

PENERAPAN ALGORITMA KRUSKAL PADA JARINGAN LISTRIK PERUMAHAN KAMPOENG HARMONI DI UNGARAN BARAT

PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI TEH BOTOL MENGGUNAKAN METODE TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP) UNTUK MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI

ALGORITMA FLOYD WARSHALL UNTUK MENENTUKAN JALUR TERPENDEK EVAKUASI TSUNAMI DI KELURAHAN SANUR

PENERAPAN ALGORITMA DIJKSTRA PADA PERMASALAHAN LINTASAN TERPENDEK OBJEK WISATA ALAM KOTA KUPANG BERBASIS WEB

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERBANDINGAN ALGORITMA GREEDY, ALGORITMA CHEAPEST INSERTION HEURISTICS DAN DYNAMIC PROGRAMMING DALAM PENYELESAIAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

VISUALISASI PENCARIAN LINTASAN TERPENDEK ALGORITMA FLOYD- WARSHALL DAN DIJKSTRA MENGGUNAKAN TEX

PEMBERIAN NOMOR VERTEX PADA TOPOLOGI JARINGAN GRAF WHEEL, GRAF HELM DAN GRAF LOLLIPOP

PANDUAN PENCARIAN RUTE GEDUNG DAN RUANGAN PADA FAKULTAS DI UNIVERSITAS HALU OLEO MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJKSTRA BERBASIS MACROMEDIA FLASH

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pemanfaatan Algoritma Sequential Search dalam Pewarnaan Graf untuk Alokasi Memori Komputer

Prosiding Matematika ISSN:

PENENTUAN RUTE TERPENDEK PADA OPTIMALISASI JALUR PENDISTRIBUSIAN BARANG DI PT. X DENGAN MENERAPKAN ALGORITMA FLOYD-WARSHALL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Perumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam teori graf dikenal dengan masalah lintasan atau jalur terpendek (shortest

Optimasi Pencarian Jalur Lalu Lintas Antar Kota di Jawa Timur dengan Algoritma Hybrid Fuzzy-Floyd Warshall

CRITICAL PATH. Menggunakan Graph berbobot dan mempunya arah dari Critical Path: simpul asal : 1 simpul tujuan : 5. Graph G. Alternatif

MINIMASI BIAYA DISTRIBUSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE TRAVELING SALESMAN PROBLEM (TSP)

BAB 1 PENDAHULUAN. Persoalan lintasan terpanjang (longest path) merupakan persoalan dalam mencari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI PERBANDINGAN ALGORITMA CHEAPEST INSERTION HEURISTIC DAN ANT COLONY SYSTEM DALAM PEMECAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB II LANDASAN TEORI

ALGORITMA SEQUENTIAL INSERTION UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH MULTIPLE TRIP VEHICLE ROUTING PROBLEM (MTVRP)

GRAF. V3 e5. V = {v 1, v 2, v 3, v 4 } E = {e 1, e 2, e 3, e 4, e 5 } E = {(v 1,v 2 ), (v 1,v 2 ), (v 1,v 3 ), (v 2,v 3 ), (v 3,v 3 )}

Elvira Firdausi Nuzula, Purwanto, dan Lucky Tri Oktoviana Universitas Negeri Malang

IMPLEMENTASI ALGORITMA GENERATE AND TEST PADA PENCARIAN RUTE TERPENDEK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Penentuan Rute Belanja dengan TSP dan Algoritma Greedy

Aplikasi Algoritma Prim dalam Penentuan Pohon Merentang Minimum untuk Jaringan Pipa PDAM Kota Tangerang

BAB 2 LANDASAN TEORI

IMPLEMENTASI ALGORITMA DIJKSTRA UNTUK PENCARIAN RUTE TERPENDEK MENUJU PELABUHAN BELAWAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS SKRIPSI

Perancangan Sistem Transportasi Kota Bandung dengan Menerapkan Konsep Sirkuit Hamilton dan Graf Berbobot

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

Matematik tika Di Disk i r t it 2

IMPLEMENTASI ALGORITMA BEST PATH PLANNING UNTUK PENCARIAN RUTE TRANS JOGJA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. Definisi Graf G didefinisikan sebagai pasangan himpunan (V, E), yang dalam hal ini:

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Penerapan Metode Nearest Neighbour Untuk Menentukan Rute Distribusi Roti Tawar Citarasa Bakery PT KMBU Bontang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Umum. Indonesia, telah banyak mengalami perkembangan yang pesat dalam

Graf dan Pengambilan Rencana Hidup

DERAJAT VERTEKS GRAF TERHADAP HIMPUNAN VERTEKS

Unnes Journal of Mathematics

PENERAPAN KONSEP GRAF DALAM PENYUSUNAN JADWAL PERKULIAHAN DI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FMIPA UNG ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. adalah dengan menyatakan objek dinyatakan dengan sebuah titik (vertex),

Penerapan Teori Graf Pada Algoritma Routing

TEKNIK INFORMATIKA. Teori Dasar Graf

PELABELAN TOTAL TITIK AJAIB PADA GRAF LENGKAP DENGAN METODE MODIFIKASI MATRIK BUJURSANGKAR AJAIB DENGAN n GANJIL, n 3

Aplikasi Graf pada Penentuan Jadwal dan Jalur Penerbangan

DIMENSI METRIK DAN DIAMETER DARI GRAF ULAT C m, n

APLIKASI METODE DJIKSTRA PADA SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN JALUR TRANSPORTASI MENGGUNAKAN TEKNOLOGI GIS

DIMENSI METRIK GRAF,,,

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN HAK CIPTA ABSTRAK...

Transkripsi:

Prosiding Matematika ISSN: 2460-6464 Aplikasi Graf Hamilton pada Penentuan Rute Terpendek Jalur Trans Metro Bandung Hamilton Graph Application on the Shortest Path Routing Trans Metro Bandung 1 Yusuf Ibrahim Abdallah, 2 Yani Ramdani, 3 Yurika Permanasari 1,2,3 Prodi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Bandung, Jl.Tamansari No. 1 Bandung 40116 Email: 1 ibrahim_ibra22@yahoo.com, 2 Yani_Ramdani@ymail.com, 3 Yurikakoe@gmail.com Abstract. The bus ride Trans Metro Bandung (TMB) corridor 1 and 2 can be formulated into the form of graphs to find the closest from a terminal to shelters that must be passed exactly once, and had to go back to the terminal of origin is a very important issue. It is an attempt to streamline the process within the transportation system. This trip bus transportation system could be modeled in a graph with symbols the point (Vertex) as a shelter and symbols the line (edge) as a line connect between the shelters. Routes TMB bus trip into the graph a closed path is called Cycle Hamilton. As for determining the shortest route from the TMB trip used two methods: Sequential Insertion and Nearest Neighbor. The results of route calculations and searches TMB corridor 1 and 2 yield different routes and distances from beginning of route and distance. Corridor 1 has the original route A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V- W-X-Y-A with a total distance of 44.4 km and the route alternative is A-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P- Q-R-S-T-U-V-W-X-Y-A with a total distance of 42.95 km. Corridor 2 has the same beginning and alternatives is A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V-A with the difference in a total distance is 28.4 km and 26.2 km because side F-G has two sides with a distance of 1 km and 2.2 km. Keywords : Graph Hamilton, Shortest Path, Sequential Insertion, Nearest Neighbor, Trans Metro Bandung. Abstrak. Perjalanan bus Trans Metro Bandung (TMB) koridor 1 dan 2 dapat diformulasikan ke dalam bentuk graf. Penentuan rute paling dekat dari sebuah terminal ke shelter-shelter yang harus dilewati tepat satu kali dan harus kembali ke terminal asal adalah persoalan yang sangat penting. Hal ini merupakan upaya untuk mengefisienkan jarak pada proses sistem transportasi. Sistem transportasi perjalanan bus yang dimodelkan dalam graf menggunakan simbol titik (Verteks) dan sebagai shelter dan simbol garis (edge) sebagai jalur yang menghubungkan antar shelter. Rute perjalanan bus TMB dalam graf tersebut merupakan lintasan tertutup dan disebut Cycle Hamilton. Penentuan rute terdekat dari perjalanan TMB tersebut digunakan dua metode yaitu: metode Sequential Insertion dan Tetangga Terdekat (Nearest Neighbor). Hasil perhitungan dan pencarian rute terpendek TMB koridor 1 dan 2 menghasilkan rute dan jarak yang berbeda dari rute dan jarak awal. Koridor 1 memiliki rute awal ialah A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O- P-Q-R-S-T-U-V-W-X-Y-A dengan total jarak 44,4 km dan rute alternatifnya ialah A-C-D-E-F-G-H-I-J-K- L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V-W-X-Y-A dengan total jarak 42,95 km. Koridor 2 memiliki rute awal dan alternatif yang sama yaitu A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V-A dengan total jarak berbeda yaitu 28.4 km dan 26,2 km karena sisi F-G memiliki dua sisi dengan jarak 1 km dan 2,2 km. Kata Kunci: Graf Hamilton, Rute Terpendek, Sequential Insertion, Nearest Neighbor, Trans Metro Bandung A. Pendahuluan Sutarno (2005) menyatakan bahwa tiga puluh tahun terakhir ini merupakan tahun yang intensif dalam pengembangan Teori Graf baik murni maupun terapan. Sejumlah besar penelitian telah dilakukan, ribuan artikel telah diterbitkan, dan lusinan buku telah banyak ditulis. Faktor percepatan perkembangan ini adalah dampak kemajuan teknologi komputer yang sangat pesat dan penggunaannya didalam masalah optimasi skala besar yang dapat dimodelkan dalam bentuk Graf dan dipecahkan melalui algoritma yang diberikan oleh teori Graf (Kreyzig, 1993). Salah satu aplikasi graf yang cukup pesat adalah sistem transporasi, dengan tujuannya menentukan rute terpendek. Rute terpendek yang dicari adalah rute 36

Aplikasi Graf Hamilton pada Penentuan Rute Terpendek Jalur Trans Metro Bandung 37 perjalanan dari terminal menuju ke shelter-shelter yang diatur sedemikian sehingga setiap sisi hanya dilewati tepat satu kali dan kembali lagi ke terminal semula. Rute perjalanan dari sebuah terminal menuju ke beberapa shelter yang ada dalam rutenya secara berurutan dan kembali ke terminal semula dalam Teori Graf disebut Cycle Hamilton. Ruas jalan yang menghubungkan antar shelter melambangkan sisi dan shelter melambangkan titik. Sistem transportasi perjalanan tersebut merupakan model graf. Rute perjalanan yang dikaji dalam artikel ini adalah sistem transportasi Trans Metro Bandung (TMB) koridor 1 dan 2 yang berbentuk Cycle Hamilton yang memiliki dua rute perjalanan yaitu rute awal dan rute alternatif dengan jarak yang berbeda. Adapun tujuannnya adalah memformulasikan rute perjalanan TMB ke dalam bentuk graf dan mencari rute terpendek menggunakan dua Metode yaitu: metode Sequential Insertion dan Tetangga Terdekat (Nearest Neighbor). Formulasi dan penentuan rute terpendek dari graf diperlukan kemampuan berpikir kreatif seperti yang dinyatakan oleh Ramdani (2014) kemampuan berpikir kreatif matematis adalah kemampuan seseorang untuk mampu berpikir logis, kritis, inovatif, dan sistematis, dalam menghadapi berbagai masalah, baik dalam matematika maupun dalam menyelesaikan masalah kehidupannya. Seseorang yang mampu berpikir kreatif dapat memandang suatu masalah sebagai tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan dan mampu berpikir dari berbagai perspektif, sehingga memungkinkannya memperoleh alternatif-alternatif solusi. B. Landasan Teori Budayasa (2007) menyatakan bahwa Graf Hamilton didefinisian sebagai berikut: misalkan G graf, Cycle di G yang memuat semua titik di G disebut cycle hamilton. Jika G memuat cycle Hamilton maka G disebut graf Hamilton. Graf diatas merupakan graf Hamilton, karena terdapat cycle yang memuat setiap titik pada graf, yaitu (v 1, v 2, v 4, v 6, v 5, v 3, v,). Pemecahan masalah dalam pengaturan proses pada sistem transportasi Trans Mertro Bandung koridor 1 dan 2 di dalam Graf yaitu mencari lintasan yang efisien dengan mencari Cycle Hamilton menggunakan dua Metode yaitu: metode Sequential Insertion dan Tetangga Terdekat (Nearest Neighbor). Metode Sequential Insertion Chairul (2014) menyatakan bahwa prinsip dasar dari metode Sequential Insertion adalah dengan menyisipkan konsumen diantara busur penyisipan yang ada pada rute yang dibentuk. Busur penyisipan didefinisikan sebagai lintasan yang menghubungkan secara langsung satu lokasi dengan lokasi yang lain. Metode Sequential Insertion adalah cara memecahkan masalah dengan menyisipkan konsumen diantara urutan konsumen yang telah terbentuk agar didapatkan hasil yang maksimal. Metode Tetangga Terdekat (Nearest Neighbor) Madonna (2013) menyatakan bahwa metode Tetangga Terdekat (Nearest Neighbor) merupakan metode memilih salah satu titik yang mewakili suatu titik awal dan memilih titik berikutnya yang memiliki jarak terdekat dengan titik sebelumnya. Jika seluruh titik telah terhubung, maka tutup rute perjalanan dengan kembali ke titik asal. Matematika, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

38 Yusuf Ibrahim Abdallah, et al.

Aplikasi Graf Hamilton pada Penentuan Rute Terpendek Jalur Trans Metro Bandung 39 Gambar 3. Rute awal perjalanan TMB koridor 1 Gambar 4. Rute alternatif perjalanan TMB koridor 1 Penyelesaian permasalahan perjalanan bus Trans Metro Bandung pada gambar 2 untuk koridor 2 dengan menggunakan metode Sequential Insertion dengan langkahlangkah sebagai berikut: (1) Diambil A sebagai terminal atau titik awal; (2) Dipilih shelter pertama yang paling dekat dengan A, yaitu B; (3) Dipilih shelter yang terdekat dengan A dan B yaitu C untuk disisipan diantara A dan B sehingga terbentuk cycle A B C A; (4) Seperti langkah 3, dipilih shelter D untuk disisipkan maka terbentuk lintasan A-B-C-D-A. Cara perhitungannya sebagai berikut : Bobot A ke B = 1,4 km, B ke C = 1,1 km, C ke D = 0,4 km, D ke A = 2,7 km, maka bobot totalnya adalah 4,1 km; (5) Dengan perhitungan seperti langkah 4 diatas, dipilih E untuk disisipkan diantara C dan D sehingga diperoleh cycle : A-B-C-D-E-A, maka bobot totalnya adalah 4,9 km; (6) Dengan perhitungan seperti langkah 4 diatas, dipilih F untuk disisipkan diantara D dan E sehingga diperoleh cycle : A-B-C-D-E-F-A, maka bobot totalnya adalah 6,1 km; (7) Dengan perhitungan seperti langkah 4 diatas, dipilih G untuk disisipkan diantara E dan F sehingga diperoleh cycle : A-B-C-D-E-F-G-A, namun untuk rute F ke G ada dua jalur, jalur baku memiliki bobot 2,2 km dan jalur rekomendasi memiliki bobot 1 km. pertambahan bobotnya adalah : d(cd) + d(de) - d(ce) = 0,4 + 0,8 1,2 = 0. Jadi bobot totalnya adalah 7,1 km; (8) untuk rute H-I-J-K- L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V merupakan jalur yang tidak memiliki opsi pilihan rute terpendek melainkan rute baku untuk dapat melewati setiap shelter, Dengan perhitungan seperti langkah 4 diatas, dipilih H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V di sisipkan diantara F dan G sehingga diperoleh cycle : A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N- O-P-Q-R-S-T-U-V-A, maka bobot totalnya yaitu 26,2 km dengan pemberangkatan dimulai dari titik A. Rute perjalanan TMB koridor 2 diperoleh jarak rute awal yaitu 28,4 km dan rute alternatif yaitu 26,2 km. Jika digambarkan dalam bentuk graf, rute perjalanan Gambar 5. Rute awal perjalanan TMB koridor 2 Matematika, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

40 Yusuf Ibrahim Abdallah, et al. Metode Nearest Neighbor Gambar 6. Rute alternatif perjalanan TMB koridor 2 Penyelesaian permasalahan perjalanan bus Trans Metro Bandung pada gambar 1 untuk koridor 1 dengan menggunakan metode Nearest Neighbor dengan langkahlangkah sebagai berikut: (1) Diambil A sebagai terminal; (2) Dipilih shelter pertama yang paling dekat A, yaitu C, bobot A-C adalah 0.75 km; (3) Berdasarkan rekomendasi untuk tidak melewati shelter B, maka akan dipilih shelter C untuk dihubungkan dengan shelter lain yang terdekat yaitu shelter D, bobot C-D adalah 2 km; (4) seperti langkah sebelumnya pilih jarak terdekat dengan simpul yang di pilih sedemikian sehingga kembali ke simpul awal, artinya di pilih D-E = 0,5 km, E-F = 1,6 km, F-G = 1,7 km, G-H = 2 km, H-I = 4 km, I-J = 3 km, J-K = 2,7 km, K-L = 1,4 km, L-M = 2,3 km, M-N = 6,9 km, N-O = 2,3 km, O-P = 0,7 km, P-Q = 1,5 km, Q-R = 1,8 km, R-S = 0,9 km, S-T = 1,2 km, T-U = 0,9 km, U-V = 1,4 km, V-W = 1,2 km, W-X = 1,1 km, X-Y = 1,1 km, dan Y-A = 0,35. Maka bobot totalnya yaitu 42,95 km. Rute perjalanan TMB koridor 1 diperoleh jarak rute awal yaitu 44,4 km dan rute alternatif yaitu 42,95 km. Jika digambarkan dalam bentuk graf, rute perjalanan Gambar 7. Rute awal perjalanan TMB koridor 1 Gambar 8. Rute alternatif perjalanan TMB koridor 1 Penyelesaian permasalahan perjalanan bus Trans Metro Bandung pada gambar 2 untuk koridor 2 dengan menggunakan metode Nearest Neighbor dengan langkahlangkah sebagai berikut: (1) Diambil A sebagai terminal; (2) Dipilih shelter pertama yang paling dekat A, yaitu B, bobot AB adalah 1,4 km; (3) Ambil shelter B untuk dihubungkan dengan shelter lain yang terdekat yaitu shelter C, bobot B-C adalah 1,1 km; (4) seperti langkah sebelumnya pilih jarak terdekat dengan simpul yang di pilih sedemikian sehingga kembali ke simpul awal, artinya di pilih C-D = 0,4 km, D-E = 0,8 km, E-F = 1,2 km, F-G = 1 km, G-H = 0,7 km, H-I = 0,45 km, I-J = 2,8 km, J-K = 0,9 km, K-L = 0,5 km, L-M = 1 km, M-N = 0,35 km, N-O = 0,5 km, O-P = 2,4 km, P-Q = 1,5 km, Q-R = 1 km, R-S = 0,6 km, S-T = 1,3 km, T-U = 1 km, U-V = 0,9 km, dan V- Volume 3, No.1, Tahun 2017

Aplikasi Graf Hamilton pada Penentuan Rute Terpendek Jalur Trans Metro Bandung 41 A = 4,4 km. Rute perjalanan TMB koridor 2 diperoleh jarak rute awal yaitu 28,4 km dan rute alternatif yaitu 26,2 km. Jika digambarkan dalam bentuk graf, rute perjalanan Gambar 9. Rute awal perjalanan TMB koridor 2 D. Kesimpulan Gambar 10. Rute alternatif perjalanan TMB koridor 2 Berdasarkan uraian pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Sistem transportasi bus Trans Metro Bandung koridor 1 dan 2 dapat direpresentasikan ke dalam teori graf dengan shelter sebagai titik (Verteks) dan jalan yang menghubungkan shelter-shelter tersebut sebagai garis (edge). 2. Hasil perhitungan dan penentuan rute bus Trans Metro Bandung dengan menggunakan dua metode menghasilkan rute dan jarak yang berbeda dengan rute bus Trans Metro Bandung awal, perbedaan jarak yaitu untuk koridor 1 adalah 44,4 km menjadi 42,95 km dan untuk koridor 2 adalah 28.4 km menjadi 26,2 km. E. Saran Penentuan rute terpendek bus Trans Metro Bandung dapat diperluas dengan menentukan waktu dan biaya perjalanan yang ekonomis serta menerapkan dalam berbagai bidang yang lain. Daftar Pustaka Budayasa., 2007, Teori Graf dan Aplikasinya. Surabaya: Unesa University Press. Chairul., 2014, Jurnal Institut Teknologi Nasional. Penentuan Rute Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor dan Sequential insertion. Kreyzig, E., 1993, Matematika Teknik Lanjutan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Madonna, E., 2013, Jurnal Elektron. Aplikasi Metode Nearest Neighbour pada Penentuan Jalur Evakuasi Terpendek untuk Daerah Rawan Gempa dan Tsunami, 45-46. Sutarno, H., 2005, Matematika Diskrit. Malang: Universitas Negeri Malang. Ramdani, Yani., 2014, Pembelajaran dengan Scientific Debate untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Mahasiswa, Mimbar Vol. 30 No. 1 Matematika, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017