VIDIYANITA SEPTIAN KARISTYA PUTRI J

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. infeksi bakteri Mycobacterium leprae (M.leprae). Penatalaksanaan kasus

BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman kusta Mycobacterium leprae (M. leprae) yang dapat menyerang

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO TINGKAT KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA DI PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI

BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI

BAB 1 PENDAHULUAN. pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Volume VI Nomor 3, Agustus 2016 ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit ini menular dan menyebar melalui udara, apabila tidak diobati

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI PUBLIKASI ILMIAH

Ika Setyaningrum *), Suharyo**), Kriswiharsi Kun Saptorini**) **) Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro

BAB I PENDAHULUAN. di kenal oleh masyarakat. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat (Kemenkes, 2012).

BAB I PENDAHULUAN. penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini

HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT KONTAK, KELEMBABAN, PENCAHAYAAN, DAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK DI KABUPATEN SUKOHARJO

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA


BAB I PENDAHULUAN. sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu

ANALISA DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT TUBERKULOSIS (TBC) DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

BAB I PENDAHULUAN. kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Masa tunas dari

ANALISIS SPASIAL PERSEBARAN PREVALENSI PENYAKIT KUSTA DI KECAMATAN BANGSRI JEPARA TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN. Asam) positif yang sangat berpotensi menularkan penyakit ini (Depkes RI, Laporan tahunan WHO (World Health Organitation) tahun 2003

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Puskesmas Nuangan terletak di Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tutuyan

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WHO (World Health Organisation) pada tahun 2014,

KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE DAN MANDAI KABUPATEN MAROS

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH

BAB I PENDAHULUAN. karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan. Terutama

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN PENYAKIT KUSTA DI KABUPATEN REMBANG TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. penyakit di seluruh dunia, setelah Human Immunodeficiency Virus (HIV). negatif dan 0,3 juta TB-HIV Positif) (WHO, 2013)

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi Directly

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Secara epidemiologi, Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

FAKTOR RISIKO KONDISI HUNIAN TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT KUSTA DI KOTA MAKASSAR

BAB I PENDAHULUAN. Menurut laporan World Health Organitation tahun 2014, kasus penularan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

SKRIPSI. Penelitian Keperawatan Komunitas

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Tingginya prevalensi kusta di Kabupaten Blora juga didukung oleh angka penemuan kasus baru yang cenderung meningkat dari tahun 2007 sampai dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome). Virus. ibu kepada janin yang dikandungnya. HIV bersifat carrier dalam

Tedy Candra Lesmana. Susi Damayanti

ANALISIS SPASIAL KEJADIAN KUSTA DI KOTA MANADO TAHUN Yuni E. Kaluku*, Budi T. Ratag*, Paul A. T. Kawatu*

HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA

peningkatan dukungan anggota keluarga penderita kusta.

KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUNAN KABUPATEN PEMALANG

Profil Program P2 Kusta Dinkes Kayong Utara

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium Tuberculosis dan paling sering menginfeksi bagian paru-paru.

BAB 1 PENDAHULUAN. karena penularannya mudah dan cepat, juga membutuhkan waktu yang lama

Happy R Pangaribuan 1, Juanita 2, Fauzi 2 ABSTRACT

WHO memperkirakan setiap tahun akan terdapat sekitar sembilan juta penderita baru TB paru dengan kematian sekitar tiga juta orang (Depkes, 2009)

HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH RESEARCH AND DEVELOPMENT

HUBUNGAN ANTARA KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI

FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT KUSTA DI KOTA MAKASSAR. Risk Factors of Disease Leprosy in Makassar

BAB I PENDAHULUAN. infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar. dan HIV/AIDS, Tuberkulosis menjadi salah satu penyakit yang

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado **Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado

HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUNAN KABUPATEN PEMALANG ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH

Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD, Kota Manado

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD

CIRI TANDA KUSTA TERHADAP BTA SWAB HIDUNG SISWA SD DI DAERAH ENDEMIS KUSTA KABUPATEN KAYONG UTARA

I. PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO)

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Gejala utama

PROFIL PENDERITA MORBUS HANSEN (MH) DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2012

BAB I PENDAHULUAN. AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan

PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI DEPRESI PENDERITA PENYAKIT KUSTA DI DESA SUMBERGLAGAH KECAMATAN PACET MOJOKERTO


FAKTOR LINGKUNGAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA SUMBER BENING KECAMATAN BRINGIN KABUPATEN NGAWI ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

JIMKESMAS JURNAL ILMIAH MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT VOL. 2/NO.6/ Mei 2017; ISSN X,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Puskesmas Bintauna Kecamatan Bintauna terletak kurang lebih 100 M 2 dari

BAB 1 PENDAHULUAN. darah. Kejadian hipertensi secara terus-menerus dapat menyebabkan. dapat menyebabkan gagal ginjal (Triyanto, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. prevalensinya paling tinggi di dunia. Berdasarkan laporan World Health

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS (TBC) PADA KELOMPOK USIA PRODUKTIF DI KECAMATAN KARANGANYAR, DEMAK

BAB I PENDAHULUAN. mencanangkan TB sebagai kegawatan dunia (Global Emergency), terutama

ANALISA FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU Dhilah Harfadhilah* Nur Nasry Noor** I Nyoman Sunarka***

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau sering disebut dengan istilah TBC merupakan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan terutama di Negara berkembang seperti di Indonesia. Penyebaran

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA LEPRA DI KECAMATAN ANGKAISERA DAN YAPEN SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN YAPEN, PAPUA PERIODE

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini tergolong

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Departemen Kesehatan RI (2008) tuberkulosis merupakan

EFEKTIFITAS PELATIHAN PERAWATAN DIRI TERHADAP DUKUNGAN EMOSIONAL DAN INSTRUMENTAL KELUARGA PENDERITA KUSTA. Universitas Muhammadiyah Surakarta

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BAYI. Nurlia Savitri

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis

BAB I PENDAHULUAN. sosial dan ekonomi (Depkes, 2007). Para penderita kusta akan cenderung

BAB 1 : PENDAHULUAN. tahun 2013 terjadi kenaikan jumlah kasus terinfeksi kuman TB sebesar 0,6 % pada tahun

Transkripsi:

ANALISIS SPASIAL PERSEBARAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI TAHUN 2014 NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : VIDIYANITA SEPTIAN KARISTYA PUTRI J 410 100 038 PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2014

ANALISIS SAPSIAL PERSEBARAN PENYAKIT KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADAS KABUPATEN NGAWI TAHUN 2014 Vidiyanita Septian Karistya Putri J410100038 Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A. Yani Pabelan Tromol I Pos Kartasura Telp (0271) 717417 Surakarta 57102 ABSTRAK Kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi bakteri M.leprae. PR kusta di Puskesmas Padas pada tahun 2013 sebesar 0,9 per 10.000 penduduk dan CDR sebesar 9,9 per 100.000 penduduk. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan analisis persebaran penyakit kusta dan menganalisis buffer jarak puskesmas dengan rumah penderita kusta dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persebaran penyakit kusta pada tahun 2014 merata hampir di semua wilayah kerja puskesmas Padas dengan kasus tertinggi di Desa Tambakromo sebesar 40 responden(48,81%) dan terendah di Desa Pacing sebesar 1responden(1,16%). Penderita kusta banyak berusia dewasa sebanyak 84 orang, jumlah laki-laki lebih banyak dari pada perempuan dengan tingkat pendidikan yang masih rendah, dan sebagian besar penderita bekerja sebagai petani dengan penghasilan per bulan kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penderita tipe MB lebih banyak dan persebarannya merata hampir di wilayah kerja Puskesmas Padas. Sebagian besar rumah penderita masih kedap air, dengan pencahayaan dari sinar matahari yang kurang terang, dan ventilasi rumah penderita jarang dibuka sehingga sirkulasi udara di dalam rumah kurang baik. Hasil pemetaan persebaran penderita kusta banyak terdapat di daerah yang memiliki kepadatan penduduk, lembab, dan pada buffer 5 km dari puskesmas. Kata Kunci : Persebaran, Kusta, Analisis Spasial ABSTRACT Leprosy is infect disease caused by bacteria infection Mycobacterium leprae. PR Leprosy in Padas Local Clinic on 2013 amounts 0,9 per 10.000 people and CDR amounts 9,9 percent per 100.000 people. The purpose of this result is explaining leprosy dissemination analytic and analyze buffer of local clinic distance with leper s home, with Geographic Information System (SGI). The type of this research is descriptive research with quantitative. The result of research showed that leprosy spread on 2014 evenly almost all of work area in Padas local clinic with highest case at Tambakromo village as big as 40 respondent(48,81%) and low case at Pacing village as big as 1 respondent(1,16%). The adult lepers as many 84 persons, total of man is more than women that poor education degree and majority of leper, work as farmer

with income per month is less to meet the need every day. Leper type MB is more and their dissemination evenly spread in work area Padas local clinic. Many of the leper s home are waterproof, with lighting from the sun is not bright and ventilation never be opened so, air circulation is bad. The result of leper dissemination cartography is most located in humid people density, and at the 5 km buffer of local clinic. Keyword: Dissemination, Leprosy, Spatial Analysis PENDAHULUAN Kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae (M.leprae). Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif dan menyebabkan kecacatan pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata (Kemenkes RI, 2012). World Health Organization (WHO) (2012), melaporkan prevalensi kusta di dunia pada bulan Agustus tahun 2012 (181.941 kasus), sedangkan penderita baru penyakit kusta di dunia tahun 2012 mengalami peningkatan 2,75% (232.857 kasus). Pada akhir bulan Agustus tahun 2013 mengalami peningkatan 0.33% (189.018 kasus) (WHO, 2013). Kusta juga menyebar luas di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur yang menempati peringkat pertama penemuan penderita kusta tipe Multi basiler (MB) dan cacat tingkat II. Penderita kusta menyebar di hampir seluruh kabupaten yang ada di wilayah Jawa Timur. Newly Case Detection Rate (NCDR) penyakit kusta di Indonesia tahun 2012 sebesar 6,6 per 100.000 penduduk, dan Case Detection Rate (CDR) di wilayah Jawa Timur sebesar 9,41 per 100.000 penduduk. Jumlah penderita kusta tipe Multi basiler (MB) sebanyak 13.268 penderita dengan proporsi kecacatan kusta tingkat II sebesar 11,40%. Untuk kasus kusta pada anak usia 0-14 tahun sebesar 11,12% (Kemenkes RI, 2013). 1

Penemuan kasus baru penderita kusta di Kabupaten Ngawi sejak tahun 2008-2013 bersifat fluktuatif (46 orang, 57 orang, 42 orang, 38 orang, 55 orang, dan 41 orang) sehingga masih menjadi perhatian khusus oleh tenaga kesehatan. Tahun 2013 angka Case Detection Rate (CDR) sebasar 4,61 per 100.000 penduduk dengan proporsi penderita usia anak sebesar 0% dan cacat tingkat 2 sebesar 12%. Hal ini menggambarkan Kabupaten Ngawi merupakan daerah dengan beban kusta rendah tetapi jumlah penemuan kasus baru masih di atas standart Nasional ( 30 kasus per tahun selama 3 tahun berturut-turut) serta kurang efektifnya kinerja petugas dalam upaya penemuan kasus baru kusta (Dinkes Ngawi, 2013). Tahun 2012 tercatat ada 7 orang penderita kusta baru di wilayah kerja Puskesmas Padas. Jumlah penderita kusta baru pada tahun 2013 (3 orang) mengalami penurunan 42,85% dengan Case Detection Rate (CDR) 9,9 per 100.000 penduduk, Prevalensi Rate (PR) 0,9 per 10.000 penduduk (Puskesmas Padas, 2013). Puskesmas Padas telah menerapkan program Rapid Village Survey (RVS) secara rutin per bulan dengan prioritas kegiatan upaya penemuan penderita baru kusta dalam lingkup kecil (desa) melalui deteksi dini pada kelompok rentan, kelompok beresiko tertular, dan kelompok tertular. Berdasarkan analisa Wasor kusta Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi data penyakit kusta yang telah terkumpul hanya dilakukan sampai pengolahan data dalam bentuk tabel dan grafik di kusta elektronik. Seharusnya pengendalian penyakit kusta memerlukan analisis data yang telah diolah sehingga kegiatan pengendalian penyakit kusta tepat sasaran. Kondisi ini sama halnya dengan data penyakit kusta Puskesmas Padas berasal dari pencatatan di kartu penderita yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan tanpa melalui proses pengolahan dan analisis data sehingga upaya pengendalian 2

penyakit kusta kurang efektif. Salah satu analisis data yang mendukung pengendalian kusta dengan menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan analisis persebaran penyakit kusta dan menganalisis buffer jarak puskesmas dengan rumah penderita kusta dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis (SIG) menurut World Health Organization (WHO) dalam pengendalian penyakit menular bermanfaat untuk menentukan distribusi geografis penyakit, analisis trend spasial dan temporal, pemetaan populasi berisiko, stratifikasi faktor risiko, penilaian distribusi sumber daya, perencanaan dan penentuan intervensi, monitoring penyakit (Setyawan, 2014). Berdasarkan manfaat yang ada Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan salah satu pendekatan analisis yang tepat guna meningkatkan upaya penemuan penderita kusta baru dan diagnosis dini di masyarakat. Kemampuan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat menyajikan peta dengan informasi yang lebih banyak daripada penyajian data dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram adapun macam-macam analisis spasial menurut fungsinya yaitu query spasial, klasifikasi, overlay, buffering, neighbourhood, network, 3D analyst (Aronoff, 1989 dalam Albert et al., 2005). Peta pada SIG dapat menggambarkan persebaran penyakit berbasis wilayah sehingga kantong-kantong penyakit khususnya kusta dapat segera diketahui dan upaya pencegahan penularan dapat dilakukan sedini mungkin. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian ini di wilayah kerja Puskesmas Padas Kabupaten Ngawi yang dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah 3

semua penderita kusta yang terdaftar di Puskesmas Padas Kabupaten Ngawi sampai dengan Juni 2014. Besar sampel sebanyak 86 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh. Analisis data meliputi : analisis deskriptif dan Analisis overlay dan buffer peta dengan software perangkat lunak SIG. HASIL A. Karakteristik Responden 1. Karakteristik Responden berdasarkan Umur Tabel 1 No. Umur Frekuensi 1 Anak-anak (< 17 tahun) 2 2,25 2 Dewasa ( 17 tahun) 84 97,75 Jumlah 86 100 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa umur rata-rata responden penyakit kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Padas sebagian besar adalah dewasa ( 17 tahun) sebesar 87 responden (97,75%), sedangkan responden anak-anak (< 17 tahun) sebesar 2 responden (2,25%). Responden dewasa lebih banyak dibandingkan responden anak-anak. 2. Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 2 No. Jenis Kelamin Frekuensi % 1 Laki-laki 56 65,1 2 Perempuan 30 34,9 Jumlah 86 100 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata jenis kelamin responden penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Padas adalah laki-laki sebanyak 56 responden (66%) dan perempuan sebanyak 30 responden (34%). % 4

3. Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Pekerjaan Tabel 3 No. Jenis Pekerjaan Frekuensi % 1 Petani 75 87,2 2 Wiraswasta 7 8,3 3 Pelajar 2 2,25 4 Lain-lain 2 2,25 Jumlah 86 100 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata jenis pekerjaan responden penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Padas adalah petani sebanyak 75 responden (87,2%), wiraswasta sebanyak 7 responden (8,3), pelajar sebanyak 2 responden (2,25%), lain-lain sebanyak 2 responden (2,25%). 4. Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 4 No. Pendidikan Frekuensi % 1 Tamat SD 46 53,49 2 Tamat SMP 7 8,14 3 Tamat SMA 6 6,98 4 Sarjana 0 0 5 Tidak sekolah 27 31,39 Jumlah 86 100 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat pendidikan responden penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Padas yang terbanyak adalah Tamat Sekolah Dasar sebanyak 46 responden (53,49%), tidak sekolah sebanyak 27 responden (31,39%), tamat SMP sebanyak 7 responden (8,14%), tamat SMA 6 responden (6,98). 5

5. Karakteristik Responden berdasarkan Penghasilan Per Bulan Tabel 5 No. Penghasilan Per Bulan Frekuensi % 1 Lebih untuk memenuhi kebutuhan 0 0 2 Cukup untuk memenuhi kebutuhan 31 36,05 3 Kurang untuk memenuhi kebutuhan 55 63,95 Jumlah 86 100 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata penghasilan per bulan responden penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Padas sebagian besar adalah kurang untuk memenuhi kebutuhan yaitu sebesar 55 responden (63,95%). B. Karakteristik Lingkungan Rumah 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Pencahayaan Rumah Tabel 1 No. Pencahayaan Frekuensi % 1 Terang 2 2,33 2 Kurang terang 80 93,02 3 Tidak terang 4 4,65 Jumlah 86 100 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata pencahayaan rumah responden penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Padas sebagian besar kurang terang sebanyak 80 responden (93,02%), tidak terang sebanyak 4 responden (4,65%), terang 2 responden (2,33%). 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Lantai Rumah Tabel 2 No. Jenis Lantai Frekuensi % 1 Kedap air 16 18,61 2 Tidak kedap air 70 81,39 Jumlah 86 100 6

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata jenis lantai rumah responden penderita kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Padas sebagian besar tidak kedap air sebanyak 70 responden (81,39%), dan kedap air sebanyak 16 responden (18,61%). 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Ventilasi Rumah Tabel 3 No. Ventilasi Frekuensi % 1 Ada 69 80,23 2 Tidak ada 17 19,77 Jumlah 86 100 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata ventilasi rumah responden penderita kusta di wilayah kerja puskesmas Padas sebagian besar ada ventilasi sebanyak 69 responden (80,23%), tidak ada ventilasi sebanyak 17 responden (19,77%). PEMBAHASAN A. Persebaran Penyakit Kusta Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita kusta tipe Multi basiller (MB) lebih banyak dan persebarannya merata hampir semua di wilayah kerja puskesmas Padas. Dalam penelitian ini penderita kusta tipe MB terbanyak berada di desa Tambakromo dan yang paling sedikit berada di Desa Pacing. Hal ini berkaitan dengan sejarah kusta di wilayah kerja puskesmas Padas, awal mula terjadinya kantong kusta di Desa Tambakromo khususnya di Dusun Kuncen. Desa Kuncen merupakan wilayah terisolasi karena dikelilingi oleh sawah sehingga menyulitkan masyarakat untuk akses ke pelayanan kesehatan. Hal ini yang menyebabkan terlambatnya penemuan dan pengobatan sehingga tingkat infeksius dan kecacatanya tinggi. Oleh karena itu penularan penyakit kusta semakin cepat. 7

Berdasarkan variabel epidemiologi time, place, person menunjukkan bahwa menurut waktu (time) penemuan penderita baru terjadi secara fluktuatif setiap tahunnya. Menurut tempat (place) kejadian kusta lebih banyak ditemukan di daerah yang tropis seperti Dusun Kuncen dan Oto-Oto dengan kondisi rumah meliputi kondisi lantai tidak kedap air, pencahayaan kurang, ventilasi tidak berfungsi. Sedangkan menurut (person), sebagian besar responden berusia 17 tahun sebesar 97,75% dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah (31,39%) dan tamat SD (53,49%)). Pekerjaan paling banyak sebagai petani (87,2%). Responden lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki (66%) dibanding perempuan (34%), karena laki-laki lebih sering terpapar oleh penderita kusta yang lain pada saat bekerja di sawah maupun saat kontak sosial di luar rumah. Menurut Fischer et. al. (2008), kontak sosial memiliki faktor risiko penularan berkali-kali lebih tinggi dibandingkan dengan kontak serumah dengan penderita kusta. B. Jarak Layanan Kesehatan Hasil penelitian menunjukkan cakupan pelayanan kesehatan berada pada jarak paling jauh antara > 5 km sejumlah 66 responden (76,75%) dan jarak dekat < 1 km sejumlah 1 responden (1,16%). Akses ke fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai keterkaitan dengan penemuan penderita baru kusta. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rohmad (2012) di Kabupaten Rembang menjelaskan bahwa puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan pertama masyarakat sehingga semakin dekat dan mudah dijangkau fasilitas pelayanan kesehatan akan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi kesehatan dan keteraturan dalam mengambil obat. Dan semakin jauh jarak pelayanan kesehatan akan memperlambat 8

masyarakat untuk mendapatkan informasi kesehatan dan keteraturan dalam mengambil obat. C. Faktor Lingkungan Beberapa faktor yang menyebabkan persebaran penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas padas yaitu, lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan sanitasi yang buruk. Lingkungan sekitar rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu kondisi rumah yang berjenis lantai tanah (bakteri M.leprae bertahan di tanah sampai ± 6 bulan), ventilasi rumah yang jarang dibuka (sirkulasi udara yang buruk) dan sedikit sekali cahaya matahari yang masuk ke rumah memudahkan bakteri berkembang biak (sinar matahari dapat membunuh bakteri). Hal ini diperburuk dengan kebiasaan masyarakat tidak memakai alas kaki saat beraktifitas, dan perilaku masyarakat yang tidak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian dari Muharry (2014) dengan judul Faktor Risiko Kejadian Kusta yang menunjukkan bahwa penyebab penyebaran penyakit kusta adalah lingkungan fisik rumah. Dari hasil analisis variabel lingkungan fisik rumah dengan uji chi square diperoleh nilai p sebesar 0,020 yang artinya ada hubungan yang bermakna antara kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian kusta. Nilai Odds Ratio didapatkan OR = 10,532 (95%CI 1,287-86,208) berarti seseorang yang memiliki lingkungan fisik rumah buruk mempunyai risiko 10,532 kali lebih besar menderita kusta dibandingkan dengan seseorang yang memiliki lingkungan fisik rumah baik. 9

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Persebaran penyakit kusta merata hampir di semua wilayah kerja puskesmas Padas dengan kasus tertinggi di desa Tambakromo dengan jumlah 40 responden (48,83%) dan kasus terendah di desa Pacing dengan jumlah 1 responden (1,16%). Berdasarkan variabel epidemiologi time, place, person menunjukkan bahwa menurut waktu (time) penemuan penderita baru terjadi secara fluktuatif setiap tahunnya. Menurut tempat (place) kejadian kusta lebih banyak ditemukan di daerah yang tropis seperti Dusun Kuncen dan Oto-Oto dengan kondisi rumah meliputi kondisi lantai tidak kedap air, pencahayaan kurang, ventilasi tidak berfungsi. Sedangkan menurut (person), sebagian besar responden berusia 17 tahun sebesar 97,75% dan responden lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki (66%) dibanding perempuan (34%), karena laki-laki lebih sering terpapar oleh penderita kusta yang lain pada saat bekerja di sawah maupun saat kontak sosial di luar rumah. 2. Lingkungan rumah penderita kusta di wilayah kerja Puskesmas Padas dengan pencahayaan rumah terang dan tidak silau sejumlah 2 responden (2,33%), pencahayaan rumah kurang terang sejumlah 80 responden (93,02%), dan pencahayaan rumah tidak terang sejumlah 4 responden (4,65%). Rumah dengan jenis lantai rumah kedap air sejumlah 16 responden (18,61%) dan rumah dengan lantai rumah tidak kedap air sejumlah 70 responden (81,39%). Rumah dengan ada ventilasi rumah sejumlah 69 responden (80,23%), dan rumah yang tidak ada ventilasi sejumlah 17 responden (19,77%). 10

3. Buffer jarak pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas Padas diketahui jarak penderita kusta dengan jarak dekat sejumlah 1 responden (1,16%), jarak jauh sejumlah 19 responden (22,09%), dan jarak sangat jauh sejumlah 66 responden (76,75%). B. Saran Bagi Puskesmas sebaiknya Puskesmas berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan memanfaatkan aplikasi GIS untuk mengetahui persebaran penyakit kusta sehingga dapat mengendalikan penularan penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Padas. Bagi Masyarakat sebaiknya masyarakat, kader, dan orang yang pernah menderita kusta diharapkan ikut serta secara aktif dalam menyampaikan informasi penyakit kusta secara benar sehingga dapat melakukan deteksi dini penyakit kusta, bagi penderita kusta yang sudah cacat sebaiknya melakukan perawatan diri, dan bagi masyarakat yang terpapar sebaiknya melakukan pencegahan dengan melakukan tes serologi bagi yang mampu. Bagi Peneliti lain Peneliti lain dapat melanjutkan atau mengembangkan penelitian ini di daerah lain atau di daerah yang sama dengan mengganti atau menambah subjek variabel penelitian, agar diperoleh gambaran yang lebih luas mengenai analisis persebaran penyakit kusta dengan aplikasi GIS dengan menyajikan data potensi suatu daerah, menggambarkan unsur-unsur geografis, menentukan posisi atau letak suatu daerah yang berisiko terjadinya persebaran suatu penyakit, dan menganalisis jarak antar rumah penderita kusta dengan analisis Neighbourhood serta menganalisis percepatan penularan penyakit kusta di suatu daerah. 11

DAFTAR PUSTAKA Albert et al., 2005. Spatial Analysis, GIS, and Remote Sensing Applications in the Health Sciences. Michigan : Ann Arbor Press. Dinkes Kabupaten Ngawi, 2013. Tabel Data Pokok Penemuan Penderita Baru lima Tahun Terakhir. Ngawi: Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi. Fischer et.al., 2008. The spatial distribution of leprosy in four villages in Bangladesh: An observational study. The Netherlands: University Medical Center Rotterdam. Kemenkes RI. 2012. Profil Kesehatan Indonesia 2011. Jakarta: Depkes RI. Kemenkes RI. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Depkes RI. Muharry, Andy. 2014. Faktor Risiko Kejadian Kusta. Diperoleh dari http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas. (Diakses 15 Mei 2014). Puskesmas Padas, 2013. Data Dasar Puskesmas Padas. Padas: Puskesmas Padas. Rohmad. 2012. Analisis Spasial Kejadian Penyakit Kusta Di Kabupaten Rembang Tahun 2012. Skripsi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Surakarta. Setyawan D.A. 2014. Pengantar Sistem Informasi Geografis. Surakarta: Politeknik Kesehatan Surakarta. WHO. 2012. Weekly Epidemiological Record. No.34. August 87 th 2012. 87rd: 317-328. WHO. 2013. Weekly Epidemiological Record. No.35. August 88 th 2013. 88rd: 365-380. 12