BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu cekungan di Indonesia yang berada di belakang busur dan terbukti menghasilkan minyak dan gas bumi. Cekungan Sumatera Selatan terbagi menjadi empat subcekungan yaitu Jambi, Palembang Utara, Palembang Tengah dan Palembang Selatan. Cekungan Tersier belakang busur di Sumatera Selatan merupakan hasil dari tiga periode tektonik (Ginger & Fielding, 2005) yaitu fase synrift, post rift dan fase syn-orogenic. Fase rifting membentuk cekungan graben dan setengah graben. Pembentukan cekungan mekanisme rifting akan menyebabkan penipisan kerak, sehingga jarak antara dasar cekungan sedimen dengan mantel semakin dekat, akibatnya akan terjadi kenaikan panas di dalam cekungan sedimen. Pada fase post rift dicirikan dengan tektonik stabil, yang kemudian dilanjutkan dengan tektonik kompresi (fase syn-orogenic) dan diakhiri dengan aktifitas volkanik yang dicirikan dengan kehadiran endapan sedimen tuff pada Formasi Air Benakat. Fase rifting diisi oleh endapan kelompok Lahat berupa Formasi Benakat dan Formasi Lemat, dalam kondisi tertentu fase rifting ini terisi oleh Formasi Talang Akar, sedangkan fase berikutnya diisi oleh endapan Formasi Talang Akar hingga yang termuda yaitu Formasi Kasai. Kemunculan hidrokarbon di Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara tidak terlepas dari peran batuan induk yang berpotensi atau mampu menggenerasikan hidrokarbon. Ada beberapa batuan induk yang berpotensi menghasilkan hidrokarbon di Cekungan Sumatera Selatan yaitu batulempung Formasi Lemat, batulempung Formasi Talang Akar dan batulempung Formasi Gumai. Batuan induk merupakan salah satu bagian dari sistem perminyakan yang berfungsi sebagai penghasil hidrokarbon. Beberapa peneliti bahkan menempatkan 1
batuan induk sebagai prioritas nomor satu yang harus ada dalam petroleum system (Magoon dan Dow, 1994). Batuan induk umumnya berukuran butir halus dan disusun oleh material klastik, karbonat, dan karbon organik. Kandungan material karbon organik inilah yang secara langsung mempengaruhi kualitas suatu batuan induk. Semakin tinggi kandungan organiknya, maka akan semakin bagus kualitas batuan induknya. Menurut Waples (1981), batuan induk dengan kandungan organik lebih dari 0.5% mampu menggenerasikan hidrokarbon dengan kapasitas terbatas baik. Batuan induk memiliki peran utama dalam pembentukan hidrokarbon, sehingga keberadaan batuan yang menjadi sumber penghasil hidrokarbon ini perlu diteliti kandungan organiknya, tingkat kematangan dan penyebarannya dalam suatu cekungan. Menurut Passey (1990) batuan yang berpotensi menjadi batuan induk adalah serpih dan batulempung gampingan yang memiliki nilai TOC yang cukup signifikan. Batuan selain batuan induk, kemungkinan mengandung TOC tetapi dengan jumlah yang kurang signifikan (kurang dari 1%). Kandungan TOC bisa diturunkan melalui pendekatan well log dengan menggunakan formula Passey. Distribusi batuan induk tidak lepas dari proses sedimentasi yang terjadi di dalam cekungan sedimentasi. Identifikasi dan korelasi kualitas batuan induk dengan fasies seismik dan stratigrafi sekuen, di sisi lain akan memberikan pemahaman yang lebih kuat, sehingga posisi dan origin batuan induk yang potensial bisa dijelaskan secara sedimentologi dan stratigrafi. Dengan memperhatikan mekanisme pembentukan cekungan, kandungan material organik pada batuan induk interval Formasi Talang Akar Lemat, karakternya dalam well log dan karakternya dalam seismik, serta mekanisme sedimentasi dengan prinsip sekuen stratigrafi, penulis bermaksud untuk menentukan nilai kandungan organik dengan log GR, resistivitas dan sonik pada sumur yang tidak memiliki data kandungan material organik, meneliti distribusi keberadaan kandungan material organik pada batuan induk baik secara lateral maupun vertikal serta membandingkan distribusi material organik di Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara. 2
1.2 Identifikasi Masalah Dalam eksplorasi hidrokarbon konvensional dan shale gas, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah keberadaan dari batuan induk. Batuan yang berfungsi sebagai batuan induk yang efektif biasanya memiliki kandungan organik lebih dari 0.6%. Keberadaan material organik dalam batuan induk brsifat heterogen sehingga diperlukan stratifikasi secara vertikal. Mengingat keberadaan sumur eksplorasi minyak dan gas bumi yang menembus batuan induk pada bagian dasar cekungan sangat jarang, terutama pada graben atau dalaman, sehingga untuk mengetahui kandungan organik diperlukan perhitungan dengan data well log dengan pendekatan formula Passey. Identifikasi permasalahannya adalah sebagai berikut : 1. Tidak semua sumur di Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara memiliki TOC yang lengkap dengan interval yang detail. 2. Bagaimana pengaruh tektonik dan mekanisme sedimentasi di kedua subcekungan tersebut terhadap karakter kandungan TOC nya? 3. Bagaimana distribusi kandungan TOC secara vertikal dan lateral di kedua subcekungan tersebut? 4. Bagaimana posisi batuan induk yang potensial dalam pola sedimentasi dari kedua subcekungan yang diteliti? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Mendapatkan nilai kandungan TOC dari data log GR, log resistivitas dan log sonik berdasarkan teori ( Passey,1990). 2. Mendapatkan pola penyebaran kandungan organik pada batuan induk interval Formasi Lemat - Talang Akar baik secara vertikal maupun lateral. 3. Mendapatkan gambaran pengaruh tektonik dan mekanisme sedimentasi terhadap pola penyebaran TOC. 4. Mendapatkan potensi batuan induk yang berkualitas baik (TOC > 0.6) pada Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara. 3
1.4. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian berada di Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara, Cekungan Sumatera selatan (Gambar 1.1). Secara administrasi daerah penelitian berada di Kabupaten Musi Banyuasin (Sumatera Selatan) dan Kabupaten Batang Hari ( Jambi). Gambar 1.1 Peta indeks Cekungan Sumatera Selatan ( Sapiie dkk, 2005), peta Subcekungan Jambi dan Palembang Utara (Ginger & Fielding, 2005), yang telah dimodifikasi dari inameta ( bawah). 1.5. Batasan Masalah Penelitian ini akan dibatasi pada : 1. Analisis kandungan material organik dengan menggunakan log gamma ray, resistivitas dan sonik pada sumur yang tidak memiliki data TOC. 2. Analisis karakter accoustic impedance batuan induk dengan menggunakan metode inversi seismik. 4
3. Analisis pola distribusi kandungan organik pada shale Formasi Lemat - Talang Akar dengan menggunakan prinsip sekuen stratigrafi dan inversi seismik. 1.6. Manfaat Penelitian Penelitian tentang distribusi kandungan material organik (TOC) pada sedimen interval Formasi Lahat - Talang Akar pada Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara ini dalam segi keilmuan bermanfaat sebagai berikut : 1. Memberikan gambaran kandungan material organik (TOC) secara vertikal dan lateral pada interval yang diteliti. 2. Mendapatkan gambaran penyebaran batuan induk yang kaya kandungan TOC melalui karakter accoustic impedance. 3. Mendapatkan gambaran hubungan antara sistem tract pengendapan dengan karakter accoustic impedance batuan induk. Manfaat penelitian ini adalah dengan mengetahui sifat heterogenitas kandungan organik pada batuan sumber dan penyebarannya secara vertikal maupun lateral bermanfaat bagi eksplorasi minyak dan gas konvensional maupun shale gas (non-konvensional) terutama dalam penentuan kitchen atau lapisan batuan induk yang mengandung TOC yang tinggi. 1.7 Keaslian Penelitian Penelitian dengan tema penyebaran kandungan material organik berdasarkan seismik inversi dan sekuen stratigrafi pada interval batuan induk Formasi Lemat Talang Akar di Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara, sepengetahuan penulis, belum pernah dilakukan oleh penulis lain. Sarjono dan Sardjito (1989) dalam penelitiannya terhadap kandungan TOC pada Formasi Lahat di area Limau dan Kepayang berada pada kisaran 1.7 8.5% dan TOC pada batulempung Formasi Talang Akar pada area yang sama berada pada kisaran 1.5 8%. 5
Clure dan Fiptiani (2001) dalam penelitiannya mengenai geokimia dan kematangan batuan induk dalam eksplorasi hidrokarbon di area Merang Triangle, Jambi menyatakan bahwa pada batulempung pada Formasi Pendopo memiliki potensial hidrokarbon yang rendah terutama untuk menghasilkan gas, sedangkan pada batulempung Formasi Talang Akar memiliki potensial yang baik untuk menghasilkan minyak dan gas. Pematangan minyak pada Formasi Talang Akar dimulai pada akhir Miosen Tengah. Model geokimia pada area ini menunjukkan kematangan minyak pada 10.6 juta tahun yang lalu, sedangkan gas pada 4 juta tahun yang lalu. Heatflow yang tinggi akibat intrusi pada Pliosene-Pleistosene berpengaruh pada sumur Kaliberau-5, Batuampar-1, Sungai Medak- dan Sungai Merang-1 yang mengakibatkan peamtangan secara cepat batuan induk yang berlokasi di atas batuan dasar. Satyana dan Purwaningsih (2013) melalukan penelitian kandungan geokimia serta pengaruhnya terhadap karakteristik minyak di Cekungan Sumatra Selatan termasuk pada area yang di Subcekungan Jambi dan Subcekungan Palembang Utara. Hasil penelitiannya meyebutkan bahwa pada endapan lacustrine dan fluvio lacustrine yang terbentuk awal synrift pada umumnya kaya akan kandungan material alga (tipe I & II) yang akan menghasilkan minyak, sedangkan sejumlah kecil gas dihasilkan oleh batuan induk berupa batubara atau batulempung yang mengandung batubara. Pada akhir dari fase synrift diendapkan sedimen secara transgresif pada lingkungan delta dan transisi ( paralic ). Batuan induk tersusun oleh batulempung berbatubara dan batubara ( tipe II dan III). Batuan induk ini berselingan dengan reservoir dan batuan penyekat yang berkualitas baik. Pada fase awal postrift, secara prinsip batuan induk pada zona ini merupakan endapan laut. Dalam hal ini diperkirakan material tumbuhan darat mengalami transportasi ke lingkungan laut, kemudian mengalami pemendaman dan preservasi sebagai material organik terestrial tipe II/III. Endapan ini kadang mengalami transportasi ke lingkungan yang lebih dalam menjadi endapan batulempung intradeltaic neritic. Pada akhir dari postrift pada cekungan ini dicirikan hampir sama dengan tipe endapan akhir synrift berupa endapan progradasi. 6
Menurut Longley (1997, dalam Ginger & Fielding, 2005), hasil dari synrift megasekuen meyatakan bahwa tektonik pada Eosen Awal Oligosen membentuk sejumlah dalaman setengah graben dengan arah utara selatan dengan arah pengendapan sedimen barat timur. Sedimen ini diendapkan pada lingkungan lacustrine atau marginal lacustrine. TOC pada Formasi Lemat di lapangan Bentayan, Subcekungan Palembang Utara berkisar 1-3%. Pada saat postrift, terjadi pengendapan sedimen pada Oligosen Akhir Miosen Awal (Formasi Talang Akar) yang diendapkan pada lingkungan delta, laut marginal dan laut dangkal. Hasil evaluasi TOC pada lapangan Senyerang, Subcekungan Jambi menunjukkan TOC pada formasi ini mencapai 36%. 7