Meliawati, Roza Elvyra, Yusfiati

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN HIDUNG BUDAK Ceratoglanis scleronema (Bleeker 1862) DI DESA MENTULIK SUNGAI KAMPAR KIRI PROVINSI RIAU

ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SELAIS DANAU (Ompok hypophthalmus, Bleeker 1846) DI SUNGAI TAPUNG HILIR PROVINSI RIAU

ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SENGARAT (Belodontichthys dinema, Bleeker 1851) DI SUNGAI TAPUNG PROVINSI RIAU. Devika Aprilyn 1, Roza Elvyra 2, Yusfiati 2

ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN TAPAH (Wallago leeri) DI PERAIRAN SUNGAI SIAK DAN SUNGAI KANDIS DESA KARYA INDAH KECAMATAN TAPUNG

ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DI PERAIRAN SUNGAI SIAK KECAMATAN RUMBAI PESISIR PROVINSI RIAU

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan di Suaka Margasatwa Muara Angke yang di

METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Pengambilan Data

ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN SENANGIN (Eleutheronema tetradactylum Shaw) DI PERAIRAN DUMAI

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan dimulai dari April hingga September

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SENGARAT (Belodontichtys dinema, Bleeker 1851) DI SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU ABSTRACT

Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 4(1) :22-26 (2016) ISSN :

3. METODE PENELITIAN

ASPEK BIOLOGI MAKANAN DAN MORFOMETRIK SALURAN PENCERNAAN IKAN BUNTAL HIJAU (Tetraodon nigroviridis) DI MUARA PERAIRAN BENGKALIS

ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN HIDUNG BUDAK (Ceratoglanis scleronema Bleeker, 1862) DI SUNGAI MENTULIK, KAMPAR KIRI PROVINSI RIAU

3.3. Pr 3.3. P os r ed e u d r u r Pe P n e e n l e iltiitan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Desember 2013 di Sungai

ASPEK REPRODUKSI IKAN LAIS DANAU (Ompok hypophthalmus Bleeker, 1846) DI SUNGAI TAPUNG HILIR PROVINSI RIAU

3 METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan lokasi

III. METODOLOGI. Bawang, Provinsi Lampung selama 6 bulan dimulai dari bulan April 2013 hingga

3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi Penelitian

Stomach Content Analysis of Mystacoleucus padangensis in Waters Naborsahan River and Toba Lake, Tobasa Regency, North Sumatra Province.

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Prosedur Penelitian

PENGAMATAN FEKUNDITAS IKAN MOTAN (Thynnichthys polylepis) HASIL TANGKAPAN NELAYAN DARI WADUK KOTO PANJANG, PROVINSI RIAU

Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian Sumber Dinas Hidro-Oseanografi (2004)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013

Indeks Gonad Somatik Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr.) Yang Masuk Ke Muara Sungai Sekitar Danau Singkarak

KEPADATAN POPULASI IKAN JURUNG (Tor sp.) DI SUNGAI BAHOROK KABUPATEN LANGKAT

3. METODE PENELITIAN. Gambar 3. Peta daerah penangkapan ikan kuniran di perairan Selat Sunda Sumber: Peta Hidro Oseanografi (2004)

III. METODE PENELITIAN

Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) VII (1): ISSN:

KEBIASAAN MAKAN DAN HUBUNGAN PANJANG BOBOT IKAN GULAMO KEKEN (Johnius belangerii) DI ESTUARI SUNGAI MUSI

3. METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan dimulai dari bulan Agustus 2011

Fudoh Nurhidayah, Moh. Mustakim dan S. Alexander Samson

ASPEK REPRODUKSI IKAN LELAN (Osteochilus vittatus C.V) Di SUNGAI TALANG KECAMATAN LUBUK BASUNG KABUPATEN AGAM

METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan kembung perempuan (R. brachysoma)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kampus Bina Widya Pekanbaru, 28293, Indonesia ABSTRACT

STUDI MAKANAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN BUJUK (Channa lucius CV) DI RAWA BANJIRAN SUNGAI TAPUNG KIRI, KAMPAR RIAU

3. METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan Baung menurut Kottelat dkk.,(1993) adalah sebagai. Nama Sinonim :Hemibagrus nemurus, Macrones nemurus

3. METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Octinopterygii. : Cypriniformes. Spesies : Osteochilus vittatus ( Valenciennes, 1842)

LIRENTA MASARI BR HALOHO C SKRIPSI

Tingkat Kematangan Gonad Ikan Lais (Ompok hypopthalmus) yang Tertangkap di Rawa Banjiran Sungai Rungan Kalimantan Tengah

Keragaman ikan di Danau Cala, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

PRESENTASE JENIS MAKANAN DALAM LAMBUNG IKAN LAIS (Ompok hypopthalmus) DI RAWA SUNGAI RUNGAN, KOTA PALANGKA RAYA

MORFOMETRI DAN KOMPOSISI ISI LAMBUNG IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) YANG DIDARATKAN DI PANTAI PRIGI JAWA TIMUR

2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi

JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman Online di :

EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN

JENIS - JENIS IKAN SELAIS (Pisces: Siluridae) DI SUNGAI KUMU KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

KEBIASAAN MAKANAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) di Sungai Bingai Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara

Kajian Aspek Reproduksi Ikan Lais Ompok hypophthalmus di Sungai Kampar, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau

KEANEKARAGAMAN IKAN SUNGAI LAHEI BERDASARKAN ALAT TANGKAP IKAN OLEH MASYARAKAT DESA LAHEI KABUPATEN BARITO UTARA

- Keterkaitan faktor fisika-kimia perairan terhadap karakter morfometrik tubuh. spp. dari bebcrapa lokasi penelitian di sungai Kampar dan sungai

ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LEMEDUK (Barbodes schwanenfeldii) DI SUNGAI BELUMAI KABUPATEN DELI SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA

MORFOMETRIK IKAN SELAIS PANJANG LAMPUNG (Kryptopterus apogon) DI SUNGAI KAMPAR KIRI DAN SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU

KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN LAIS DANAU (Ompok hypophthalmus Bleeker, 1846) DI SUNGAI TAPUNG DAN SUNGAI SIAK

ANALISIS ISI USUS IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) PADA PERAIRAN PANTAI LABU KABUPATEN DELI SERDANG SUMATERA UTARA

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2014.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

STUDI ASPEK REPRODUKSI IKAN BAUNG (Mystus nemurus Cuvier Valenciennes) DI SUNGAI BINGAI KOTA BINJAI PROVINSI SUMATERA UTARA

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).

ANALISIS KELEMBAGAAN PEMASARAN DAN MARGIN TATANIAGA HASIL PERIKANAN TANGKAP DIDESA BULUH CINA KECAMATAN SIAK HULU KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU By

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir

Keywords: Kampar rivers, Ompok sp, relative growth, Siak rivers

MATERI DAN METODE PENELITIAN

ASPEK BIOLOGI MAKANAN DAN MORFOMETRIK SALURAN PENCERNAAN IKAN BUNTAL MAS (Tetraodon fluviatilis) DI MUARA PERAIRAN BENGKALIS, RIAU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013

I. PENDAHULUAN. tengah dan selatan wilayah Tulang Bawang Provinsi Lampung (BPS Kabupaten

Gambar 3. Karakter morfometrik dan meristik Kryptopterus spp. yang diukur

STUDI KOMPOSISI MAKANAN IKAN SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus) DI RAWA TERGENANG DESA MARINDAL KECAMATAN PATUMBAK HADI SYAHPUTRA

STRUKTUR INSANG IKAN Ompok hypophthalmus (Bleeker 1846) DARI PERAIRAN SUNGAI SIAK KOTA PEKANBARU

ANALISIS HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN HIMMEN (Glossogobius sp) DI DANAU SENTANI KABUPATEN JAYAPURA ABSTRAK

SIKLUS REPRODUKSI TAHUNAN IKAN RINGAN, TIGER FISH (Datnioides quadrifasciatus) DI LINGKUNGAN BUDIDAYA AKUARIUM DAN BAK

TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG

KAJIAN ISI LAMBUNG DAN PERTUMBUHAN IKAN LAIS (Cryptopterus lais) DI WAY KIRI, TULANG BAWANG BARAT, LAMPUNG ABSTRAK

HASIL DAN PEMBAHASAN

POLA PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI IKAN KUNIRAN Upeneus moluccensis (Bleeker, 1855) DI PERAIRAN LAMPUNG ABSTRAK

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Cuvier (1829), Ikan tembakang atau lebih dikenal kissing gouramy,

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH BENTUK DAN LETAK CELAH PELOLOSAN (Escape Gap) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR TERHADAP KELESTARIANSUMBERDAYA IKAN

Beberapa contoh air, plankton, makrozoobentos, substrat, tanaman air dan ikan yang perlu dianalisis dibawa ke laboratorium untuk dianalisis Dari

3. METODE PENELITIAN

KAJIAN MAKANAN DAN KAITANNYA DENGAN REPRODUKSI IKAN SENGGARINGAN (Mystus nigriceps) DI SUNGAI KLAWING PURBALINGGA JAWA TENGAH BENNY HELTONIKA

Naskah Publikasi TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN WADER. (Rasbora argyrotaenia) DI SEKITAR MATA AIR PONGGOK KLATEN JAWA TENGAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam

METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

Transkripsi:

ANALISIS ISI LAMBUNG IKAN LAIS PANJANG LAMPUNG (Kryptopterus apogon) DI DESA MENTULIK SUNGAI KAMPAR KIRI DAN DESA KOTA GARO SUNGAI TAPUNG PROVINSI RIAU Meliawati, Roza Elvyra, Yusfiati Mahasiswa Program S1 Biologi Dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kampus Bina Widya Pekanbaru, 28293, Indonesia melatiti663@yahoo.com ABSTRACT The study on stomach content of lais panjang lampung fish (Kryptopterus apogon) in Mentulik village of Kampar Kiri River and Kota Garo village of Tapung River was conducted from October 2013 to March 2014. This study aimed to observe the stomach content of lais fish which were categorized into main food, supplement food, and additional food, as well as to determine the ratio of the length of gut toward total body length. The method used in this study was a survey method. The analysis indicated that the food which had the highest value in index of preponderance in both stations based on the type of food and sex was those of animal debris. Furthermore, analysis on the ratio of the length of gut towards the total body length showed that the length of gut never exceed the total body length. Based on the analysis of index of preponderance and the ratio of the length of gut towards the total body length, lais panjang lampung fish (K. apogon) was considered carnivorous. Keywords: Kryptopterus apogon, Kampar Kiri River, Stomach content analysis, Tapung River. ABSTRAK Penelitian analisis isi lambung ikan lais panjang lampung (Kryptopterus apogon) di Desa Mentulik sungai Kampar Kiri dan Desa Kota Garo sungai Tapung dilakukan pada bulan Oktober 2013 sampai Maret 2014. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi lambung ikan lais yang terdiri dari makanan utama, makanan pelengkap, dan makanan tambahan yang dimakannya di kedua stasiun penelitian, juga untuk mengukur rasio panjang usus ikan lais terhadap panjang total tubuh. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode survei. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai index of preponderance tertinggi di kedua stasiun penelitian berdasarkan jenis makanan dan jenis kelamin adalah kelompok makanan debris hewan. Kemudian, hasil analisis dari JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 500

rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh menunjukkan bahwa panjang usus tidak pernah melebihi panjang total tubuh. Berdasarkan hasil analisis dari indeks of preponderance dan rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh, ikan lais panjang lampung (K. apogon) merupakan ikan karnivora. Kata kunci: Analisis isi lambung, Kryptopterus apogon, sungai Kampar Kiri, sungai Tapung PENDAHULUAN Sungai Kampar dan Sungai Tapung termasuk sungai paparan banjir yang dikenal dengan istilah floodplain river (Elvyra dan Yus, 2012). Pada sungai ini terdapat ikan endemik yang menjadi maskot Kota Pekanbaru, yaitu ikan lais atau ikan selais dalam bahasa melayu. Salah satunya adalah ikan lais panjang lampung (Kryptopterus apogon). K. apogon merupakan salah satu fauna endemik paparan banjir yang berpotensi di daerah Riau dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Populasi ikan K. apogon semakin lama semakin menurun. Hal ini disebabkan karena nelayan selalu menangkap ikan secara terusmenerus tanpa memperhatikan waktu pemijahan. Selain itu, juga disebabkan oleh berbagai aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Kampar dan sungai Tapung tersebut, seperti menjadikan sungai ini sebagai tempat MCK, pembuangan sampah industri rumah tangga, dan sebagainya. Sehingga mempengaruhi kondisi biotik perairan dan kemungkinan ketersediaan makanan ikan K. apogon di sungai ini menjadi terganggu dan terjadi pengurangan. Akibatnya, kehidupan ikan ini juga ikut terancam. Makanan alami ikan dalam suatu perairan cukup beragam baik dari golongan hewan, tumbuhan maupun organisme mati. Makanan alami yang diketahui dari ikan tersebut dapat menentukan pakan yang baik dan cocok bagi ikan ini. Dengan analisis isi lambung maka dapat dikaji hubungan antara komposisi pakan alami dalam lambung dengan habitatnya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu meneliti analisis isi lambung ikan K. apogon dari dua sungai yang berbeda yaitu sungai Kampar dan sungai Tapung agar diketahui makanan alaminya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis isi lambung ikan K. apogon yang terdiri dari makanan utama, makanan pelengkap dan makanan tambahan yang dimakan oleh ikan tersebut di desa Mentulik, sungai Kampar Kiri dan desa Kota Garo, sungai Tapung, Provinsi Riau, juga mengamati rasio panjang usus ikan lais terhadap panjang total tubuhnya. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 501

METODE PENELITIAN a. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dari bulan Oktober 2013 sampai Maret 2014 dengan lokasi pengambilan sampel di desa Mentulik sungai Kampar Kiri dan desa Kota Garo sungai Tapung, Provinsi Riau. Pengamatan analisis faktor fisika dan kimia perairan dilakukan di laboratorium Biologi Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan. Sedangkan analisis isi lambung ikan lais dan parameter rasio panjang usus dilakukan di laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau, Pekanbaru. b. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan K. apogon, formalin 4%, aquades dan sampel air sungai. Alat-alat yang digunakan selama penelitian adalah alat bedah, botol film, gelas ukur, timbangan digital, penggaris, mikroskop, nampan, bak parafin, cawan petri, pipet tetes, pinset, kamera, kertas label, alat tulis, termometer air, turbidity meter, secchi disk, botol winkler dan kertas ph universal. c. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengambilan sampel ikan dilakukan selama 6 bulan sebanyak maksimal 60 ekor (30 jantan dan 30 betina) disetiap stasiun, sampai jumlah sampel terpenuhi. Sampel ikan K. apogon diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di kedua stasiun penelitian yaitu desa Mentulik sungai Kampar Kiri dan desa Kota Garo sungai Tapung menggunakan alat tangkap berupa jaring, bubu atau lukah, dan sempirai. d. Prosedur Penelitian Ikan sampel diukur panjang total (PT) nya mulai dari ujung mulut sampai ujung sirip ekor dengan satuan centimeter (cm), berat ikan diukur dengan satuan gram (g). Kemudian lebar bukaan mulutnya diukur juga menggunakan mistar. Perut ikan lais dibedah, dan diambil organ lambung dan ususnya. Ditentukan jenis kelamin ikan dengan melihat bentuk gonadnya. Kemudian panjang usus diukur dan dimasukkan ke dalam botol film yang berisi formalin 4%. Begitu pula dengan lambungnya, organ ini dimasukkan ke dalam botol film yang berisi formalin 4%, lalu sampel dianalisis. Analisis dilakukan dengan cara membedah lambung dan mengeluarkan isinya untuk diidentifikasi jenis dan jumlah makanannya. Isi lambung tersebut dikelompokkan berdasarkan jenisjenisnya. Sementara untuk pengukuran volume makanan ikan (ml) dilakukan dengan metode volumetrik. e. Analisis Data Dalam menganalisa jenis makanan yang dimakan oleh ikan K. apogon yaitu dengan menggunakan Index of Preponderance (IP) atau indeks Bagian Terbesar yang dikemukakan oleh Natarjan dan Jhingran dalam Effendie (1979) adalah : JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 502

Keterangan : IP = Index of Preponderance atau Indeks Bagian Terbesar Vi = Persentase volume satu jenis makanan Oi = Persentase frekuensi kejadian satu jenis makanan Vi Oi= Jumlah Vi Oi dari semua jenis makanan Persentase volume dinyatakan dengan cara menghitung volume makanan sejenis dibagi dengan volume makanan seluruhnya dengan menggunakan rumus : Persentase frekuensi kejadian dinyatakan dengan cara menghitung jumlah lambung yang berisi makanan sejenis dibagi dengan jumlah lambung yang berisi seluruhnya dengan rumus : Berdasarkan nilai IP yang diperoleh, maka pengelompokkan kebiasaan makanan ikan dapat dibedakan menjadi tiga macam, antara lain : IP > 40 % Sebagai makanan utama IP 4-40 % Sebagai makanan pelengkap IP < 4 % Sebagai makanan tambahan Pengukuran rasio panjang usus terhadap panjang total tubuh ikan dilakukan untuk menentukan ikan termasuk pada golongan ikan herbivora, ikan karnivora atau ikan omnivora. Cara pengukurannya yaitu : Rasio Panjang Usus = PU/PT Keterangan : PU = Panjang usus PT = Panjang total tubuh HASIL DAN PEMBAHASAN a. Hasil Tangkapan Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Pada kedua stasiun penelitian ini sampel ikan yang diambil tiap bulan maksimal sebanyak 120 ekor dengan ukuran yang beragam dan dikelompokkan kedalam ukuran kecil, sedang hingga besar. Jumlah dan ukuran ikan yang tertangkap selama penelitian berbeda-beda pada tiap stasiun. Ikan yang ditangkap pada stasiun 1 seluruhnya berjumlah 264 ekor dengan 78 ekor jantan dan 186 ekor betina, sedangkan pada stasiun II di Desa Kota Garo ikan yang diperoleh sebanyak 323dengan jumlah 113 ekor jantan dan 210 ekor betina. Jumlah ikan yang didapatkan pada masing-masing stasiun tidak sama diduga karena kondisi perairannya yang berbeda dan dipengaruhi oleh musim selama penelitian berlangsung. Pada stasiun I di desa Mentulik sungai Kampar Kiri ukuran ikan yang berhasil ditangkap berkisar antara 15,3 40,4 cm selama 6 bulan penelitian. Sementara pada stasiun II desa Kota Garo sungai Tapung ukuran ikan yang berhasil didapatkan berkisar antara 15,1-37,5 cm. Ukuran ikan yang berhasil ditangkap sangat beragam sehingga dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 503

yaitu ukuran kecil, sedang, dan besar. Pada stasiun I ikan yang paling banyak didapatkan berukuran sedang sebanyak 151 ekor, dengan kisaran panjang tubuh 24,6-30,7 cm, sedangkan ikan yang berukuran kecil berhasil didapatkan sebanyak 82 ekor dengan kisaran panjang tubuh 15,3 24,5 cm dan untuk ikan berukuran besar hanya sebanyak 31 ekor yang berhasil diperoleh dengan kisaran panjang tubuh 30,8-40,4 cm. Pada stasiun 2 ikan yang paling banyak tertangkap juga yang berukuran sedang yaitu sebanyak 222 ekor dengan kisaran panjang tubuh 21,4 27,6 cm, sementara untuk ikan berukuran kecil yang berhasil diperoleh sebanyak 23 ekor dengan panjang tubuh antara 15,1-21,3 cm dan ikan yang berukuran besar sebanyak 78 ekor dengan kisaran panjang tubuh 27,7 37,5 cm. Pada awal penelitian, permukaan perairan naik karena musim penghujan dan mengakibatkan aliran air dari badan sungai utama dengan anak anak sungai menyatu sehingga diduga membuat ikanikan jadi sulit ditangkap karena menyebar ke seluruh perairan yang tergenang untuk memijah dan mencari makan. Terutama pada Stasiun I di desa Mentulik sungai Kampar Kiri jumlah ikan yang diperoleh lebih sedikit dari pada stasiun II di desa Kota Garo sungai Tapung juga karena nelayannya tidak mencari ikan saat permukaan perairan naik sehingga pada bulan tertentu ketersediaan ikan sampel penelitian ada yang kosong. Berbeda dengan stasiun II di Kota Garo, meskipun permukaan perairan naik aktivitas masyarakat setempat yang bekerja sebagai nelayan masih terus berlangsung sehingga ikan sampel yang dibutuhkan setiap bulan selalu tersedia. Pada akhir penelitian (awal musim kemarau), permukaaan perairan turun sehingga aliran air dari badan sungai utama dengan anak anak sungai sekitar jadi terputus. Hal ini menyebabkan ikan banyak terperangkap diperairan yang dalam dan masih tergenang sehingga diduga ikan-ikan tersebut lebih mudah tertangkap pada musim ini dari pada musim lainnya. Yuliani (2009) mengemukakan bahwa besarnya jumlah tangkapan ikan saat musim kemarau diduga karena pada musim tersebut volume air berkurang dan arus lebih lambat, serta ikan lebih banyak melakukan aktivitas sehingga peluang tertangkapnya lebih besar. b. Jenis Makanan Ikan Lais Panjang Lampung (K. apogon) yang Teridentifikasi Selama Penelitian Selama penelitian, lambung ikan yang tertangkap dalam keadaan berisi dan tidak ada yang kosong. Jenis makanan yang ditemukan pada lambung ikan K. apogon cukup bervariasi diantaranya adalah berbagai macam ikan, udang, arthropoda dan material yang tidak dapat dikenali lagi (unidentified). Pada Tabel 1 disajikan jenis makanan ikan K. apogon di kedua stasiun. Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa jenis makanan ikan K. apogon di kedua stasiun cukup bervariasi. Ikanikan yang dimakannya terdiri dari beberapa jenis, ada yg berasal dari Famili Cyprinidae seperti ikan Puntius sp dan ikan Rasbora sp, Famili Bagridae seperti ikan Mystus nemurus, Famili Siluridae dan Famili Osphronemidae seperti ikan Belontia hasselti. Sedangkan jenis makanan K. apogon lainnya adalah serangga (Arthropoda), udang JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 504

(Macrobranchium sp) dan debris hewan. Potongan potongan hewan yang terdapat didalam lambung K. apogon dapat diidentifikasi dengan baik sampai ke tingkat spesies dan ada juga yang tidak dapat diidentifikasi. Potongan hewan yang tidak dapat teridentifikasi tersebut dikelompokkan ke dalam debris hewan. Hasil penelitian Saputra (2013) tentang komposisi makanan ikan selais danau (Ompok hypophthalmus) terdiri dari ikan Puntius sp, debris hewan, Periplaneta sp (Arthropoda) serta arthropoda yang lain. Jenis makanan ikan K. apogon yang ditemukan selama penelitian hampir mirip dengan ikan selais danau (O. hypophthalmus). Persamaan jenis makanan yang didapatkan diduga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan yang sama di stasiun penelitian mengingat bahwa salah satu stasiun penelitian Saputra (2013) yaitu di Kota Garo sama. Jenis makanan yang disukai ikan itu tergantung dari ukuran tubuh dan umurnya (Mudjiman, 1995). Ikan ukuran kecil dan besar tidak selalu menyukai jenis makanan yang sama. Ikan kecil memakan jenis makanan yang sesuai dengan lebar bukaan mulutnya yang kecil untuk pertumbuhan. Sementara ikan ukuran besar memakan jenis makanan yang lebih besar sesuai dengan bukaan mulutnya untuk persiapan pemijahan. Menurut Welcomme (2001), jenis makanan yang dimakan oleh ikan tergantung pada ketersediaan jenis makanan di alam, dan juga adaptasi fisiologis salah satunya adalah panjang usus. Berdasarkan jenis makanan yang telah teridentifikasi dari lambung K. apogon dapat dilihat bahwa ikan ini termasuk dalam kelompok karnivora. Jenis makanannya terdiri dari beberapa macam hewan mulai dari ikan, arthropoda bahkan udang. Tetapi pada stasiun I di desa Mentulik sungai Kampar Kiri jenis makanan ikan Belontia hasselti dan arthropoda tidak ditemukan, sedangkan pada stasiun II desa Kota Garo sungai Tapung terdapat ikan dan atrhropoda tersebut, sementara untuk jenis makanan yang lain samasama ditemukan di tiap stasiun. Hal tersebut disebabkan karena pada stasiun I di desa Mentulik keberadaan ikan Belontia hasselti memang tidak begitu banyak sehingga kemungkinan ditemukannya jenis makanan ini cukup kecil. Sementara tidak ditemukannya jenis makanan arthropoda diduga karena disekitar sungai Kampar Kiri di desa Mentulik tidak terdapat tumbuhtumbuhan yang secara alami bisa menyediakan tempat tinggal bagi arthropoda. Oleh sebab itu jenis makanan ini tidak ditemukan pada stasiun 1. Menurut warga setempat yang tinggal didesa Mentulik dalam sesi wawancara yaitu beberapa jenis ikan yang banyak ditemukan pada sungai tersebut adalah ikan lais, ikan baung (Mystus nemurus), ikan pantau (Rasbora sp), ikan kapiek (Puntius sp) dan ikan kelabau. Penjelasan tersebut sejalan dengan pernyataan Effendie (2002) yang mengemukakan bahwa kebiasaan makanan ikan secara alami tergantung pada lingkungan tempat ikan itu hidup. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 505

Tabel 1. Jenis makanan yang ditemukan dalam lambung ikan K. apogon pada stasiun penelitian. No Kelompok makanan Jenis makanan 1 Ikan Puntius sp Ikan-ikan kecil utuh dan potongan ikan yang masih dapat diidentifikasi 2 Ikan Rasbora sp Ikan utuh dan potongan ikan yang masih dapat diidentifikasi 3 Ikan Mystus nemurus Anakan ikan yang masih dapat diidentifikasi 4 Ikan lais jenis lain Anakan ikan yang masih dapat diidentifikasi 5 Ikan Belontia hasselti Ikan kecil utuh dan potongan ikan yang masih dapat diidentifikasi 6 Arthropoda Serangga dan potongan-potongan serangga 7 Udang Udang dan potongan-potongan udang 8 Debris hewan Sisa-sisa makanan berupa potongan hewan dan material yang tidak dapat diidentifikasi c. Nilai Index of Preponderance (Indeks Bagian Terbesar) Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Nilai index bagian terbesar atau Index of Preponderance (IP) digunakan untuk mengetahui jenis makanan terbanyak yang dijumpai pada lambung ikan. Dengan begitu dapat diduga jenis makanan utama, makanan pelengkap serta makanan tambahan pada ikan tersebut. Nilai Index of Preponderance (IP) ikan K. apogon dikedua stasiun penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Nilai persentase IP terbesar pada stasiun I desa Mentulik Kampar Kiri terdapat kelompok makanan debris hewan yaitu 97,37 %. Kemudian pada urutan kedua adalah kelompok makanan ikan lais jenis lain dengan nilai persentase sebesar 0,88 %. Urutan ketiga dan keempat adalah kelompok makanan Mystus nemurus dan Rasbora sp dengan persentase 0,82 % dan 0,59 %. Sementara untuk urutan kelima dan keenam memiliki nilai persentase terkecil yaitu sebesar 0,31 % dan 0,001 %. Berdasarkan hasil persentase IP tertinggi yang didapat, kelompok makanan debris hewan adalah makanan utama dari ikan K. apogon. Namun bukan berarti kelompok makanan debris hewan ini merupakan makanan utama yang sebenarnya. Besarnya nilai IP pada jenis makanan ini diduga karena saat dilakukan pengamatan analisis isi lambung, yang ditemukan jenis makanannya dalam keadaan tidak utuh dan sudah hancur sehingga sulit untuk diidentifikasi, jadi dikelompokkan ke dalam jenis makanan debris hewan. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 506

Puntius sp Puntius sp 97,37 % Rasbora sp Mystus nemurus Ikan lais lain Udang Debris hewan 89,63 % Rasbora sp Mystus nemurus Belontia hasselti Ikan lais lain Arthropoda Udang Debris hewan Gambar 1. Diagram lingkaran nilai Index of Preponderance makanan ikan K. apogon di Stasiun penelitian. (a) Nilai IP di stasiun I desa Mentulik sungai Kampar Kiri. (b) Nilai IP di stasiun II desa Kota Garo sungai Tapung Kelompok makanan debris hewan pada stasiun II desa Kota Garo Tapung memiliki persentase terbesar yaitu sebesar 89,63 %. Kelompok makanan yang memiliki persentase IP terbesar kedua setelah debris hewan adalah ikan Puntius sp dengan nilai 8,36 %, sedangkan untuk kelompok makanan urutan ketiga adalah ikan lais jenis lain dengan persentase sebesar 1,28 %. Kemudian untuk kelompok makanan urutan keempat dan kelima adalah jenis makanan Mystus nemurus dan Rasbora sp dengan hasil persentase sebesar 0,41 % dan 0,24 %. Kelompok makanan urutan keenam dan ketujuh adalah arthropoda dan udang dengan nilai persentase 0,03 % dan 0,02 %. Selanjutnya, untuk kelompok makanan yang memiliki persentase IP terkecil adalah jenis makanan Belontia hasselti yaitu 0,006 %. d. Nilai Index of Preponderance (Indeks Bagian Terbesar) Berdasarkan Jenis Kelamin Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Hasil pengamatan jenis makanan ikan K. apogon berdasarkan jenis kelamin di kedua stasiun penelitian menunjukkan bahwa kelompok makanan debris hewan yang mendominasi. Nilai IP (Index of Preponderance) makanan ikan lais panjang lampung (K. apogon) jantan dan betina pada kedua stasiun dapat dilihat pada Gambar 2. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 507

a b 95,37 % 98,29 % c d 96,73 % 81,68 % Puntius sp Rasbora sp Mystus nemurus Belontia hasselti Ikan lais lain Arthropoda Udang Debris hewan Gambar 2. Diagram lingkaran nilai Index of Preponderance makanan ikan K. apogon dengan perbedaan jenis kelamin, (a) Jantan Desa Mentulik, (b) Betina Desa Mentulik, (c) Jantan Desa Kota Garo dan (d) Betina Desa Kota Garo. Berdasarkan nilai IP yang didapatkan, diketahui bahwa kelompok makanan debris hewan selalu menjadi peringkat pertama terbanyak dan terbesar yang dijumpai dalam lambung ikan K. apogon jantan dan betina di kedua stasiun penelitian. Kemudian urutan kelompok makanan terbesar kedua pada stasiun 1 untuk ikan jantan adalah Puntius sp dengan persentase IP sebesar 2,35 % dan untuk ikan betina yaitu kelompok makanan ikan lais jenis lain dengan nilai persentase sebesar energi sehingga lebih banyak makan dengan volume yang lebih besar daripada ikan jantan untuk persiapan 0,74 %. Sementara kelompok makanan terbesar urutan kedua untuk ikan jantan dan betina pada stasiun II sama yaitu jenis makanan Puntius sp dengan hasil persentase IP sebesar 2,44 % dan 14, 84 %. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa jenis makanan yang dimakan ikan jantan dan betina dari kedua stasiun ada yang sama dan ada yang tidak. Hal itu diduga karena adanya perbedaan dalam kebutuhan energi pada ikan jantan dan betina. Ikan betina biasanya lebih banyak membutuhkan dalam proses pemijahan. Akan tetapi, karena jenis makanan yang dimakan ikan betina maupun jantan lebih banyak JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 508

yang hancur maka sulit untuk membuktikan jenis makanan yang paling disukai. Menurut Welcomme (1979), setiap ikan memiliki pola kebiasaan atau tingkah laku yang berbeda untuk mempertahankan hidupnya. Pola tingkah laku ikan K. apogon yaitu selalu memakan dan menelan mangsa yang secara utuh tanpa harus mencabiknya dahulu. e. Rasio Panjang Usus Ikan Lais Panjang Lampung (Kryptopterus apogon) Selama Penelitian Hasil pengukuran panjang usus ikan K. apogon terhadap panjang total tubuhnya menunjukkan bahwa ikan sampel memang merupakan ikan karnivora. Selama 6 bulan penelitian ukuran rasio panjang ususnya yang tidak pernah melebihi panjang total tubuh dan makanan yang dimakannya berupa ikan-ikan atau hewan lain yang lebih kecil dari tubuhnya. Oleh karena itu dalam proses pencernaannya tidak membutuhkan waktu yang lama seperti ikan herbivora sehingga ususnya berukuran lebih pendek. Hal ini berbeda dengan ikan buntal pisang di daerah estuarin perairan sungai Ibu Mandah yang beradaptasi terhadap lingkungan perairan disekitarnya. Ikan ini beradaptasi sesuai dengan jenis makanan yang tersedia disana sehingga yang awalnya merupakan ikan karnivora menjadi ikan omnivora, yang ditandai dengan penambahan terhadap panjang ususnya (Yusfiati, 2006). Nikolsky (1963) menyatakan bahwa panjang usus relatif untuk ikan karnivora < 1, untuk ikan omnivora antara 1 3, sedangkan untuk ikan herbivora > 3. Menurut Kramer dan Bryant (1995), kisaran panjang usus untuk ikan karnivora adalah 0,5-2,4 kali panjang tubuhnya, ikan omnivora 0,8-5 kali panjang tubuhnya, dan ikan herbivora memiliki panjang usus antara 2-21 kali panjang tubuhnya. Umumnya ikan karnivora memiliki gigi yang runcing, usus yang relatif pendek, memakan daging atau hewan, dinding ususnya tebal dan tapis insang yang tidak rapat. KESIMPULAN Jenis makanan ikan K. apogon yang teridentifikasi pada kedua stasiun selama penelitian ada 8 yaitu Puntius sp, Rasbora sp, Mystus nemurus, ikan lais jenis lain, Belontia hasselti, arthropoda, udang dan debris hewan. Hasil persentase IP terbesar pada ikan K. apogon berdasarkan jenis makanan yang diperoleh perstasiun dan jenis kelamin didominasi oleh kelompok makanan debris hewan karena proses pencernaan di dalam lambungnya sudah mulai berjalan. Rasio panjang usus ikan K. apogon tidak pernah melebihi panjang tubuhnya dan termasuk ke dalam kelompok ikan karnivora. DAFTAR PUSTAKA Effendie, M. I. 1979. Biologi Perikanan. Yogyakarta. Yayasan Pustaka Nusantara. Elvyra, R dan Yus, Y. 2012. Ikan Lais Dan Sungai Paparan Banjir Di Provinsi Riau. Pekanbaru. UR Press Pekanbaru. Kottelat, M., Whitten, A. J., Kartikasari, S. N. and Wirdjoatmodjo, S. 1993. Freshwater fishes of JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 509

western Indonesia and Sulawesi. Jakarta. Periplus edition (HK) in collaboration with the environment Rep. of Indonesia. Kramer, DL. and MJ. Bryant 1995. Intestine lenght in the fishes of a tropical stream : 1. Ontogenetic allometry, 2. relation to diet the long and short of a convoluted issue. Environ. Bioi. Fish 42: 115-141. Mudjiman A. 1995. Makanan ikan. Jakarta. Penebar Swadaya. Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes. New York. Academic Press. Saputa, I.I. 2013. Analisis Isi Lambung Ikan Selais Danau (Ompok hypophthalmus, Bleeker 1846) Di Sungai Tapung Hilir Provinsi Riau. Pekanbaru. FMIPA Universitas Riau. Sudirman dan A, Iwan. 2003. Mina Padi : Budidaya Ikan Bersama Padi. Jakarta. Penebar Swadaya. Welcome R.L.1979. Fisheries ecology of floodplain rivers. London. Longman Group Limited. Welcomme, R.L. 2001. Inland Fisheries, ecology and managenent. Iowa USA. Blackwell Science Company. Yuliani W. 2009. Kebiasaan makanan ikan tilan (Mastacembelus erythrotaenia, Bleeker 1850) di Sungai Musi, Sumatera Selatan. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Yusfiati. 2006. Anatomi Saluran Pencernaan Ikan Buntal Pisang (Tetraodon lunaris). Bogor. Tesis IPB. JOM FMIPA Volume 1 No. 2 Oktober 2014 510