STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN 2014 ISSN : 2303-3479 No. Publikasi : 9106.14.07 Katalog BPS : 1102002.9106 Ukuran Buku : 17.6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : x + 65 halaman Naskah : Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan Kulit : Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan Penyunting : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan Diterbitkan Oleh : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya iii STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
Kata Pengantar Publikasi Statistik Daerah Kabupaten Sorong Selatan 2014 diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan yang berisi berbagai data dan informasi terpilih seputar Kabupaten Sorong Selatan yang dianalisis secara sederhana untuk membantu para pengguna data terutama yang berkepentingan bagi kemajuan daerah ini memahami perkembangan pembangunan dan potensi yang ada di Sorong Selatan. Dengan publikasi ini diharapkan potret pembangunan di Kabupaten Sorong Selatan dapat digambarkan sesuai dengan fakta lapangan. Publikasi Statistik Daerah Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2014 yang diterbitkan keempat kalinya ini untuk melengkapi publikasi-publikasi statistik yang sudah terbit secara rutin setiap tahun. Berbeda dengan publikasipublikasi yang sudah ada seperti Kabupaten Sorong Selatan Dalam Angka, publikasi ini lebih menekankan pada analisis. Materi yang disajikan dalam Statistik Daerah Kabupaten Sorong Selatan 2014 memuat berbagai informasi/ indikator terpilih yang terkait dengan pembangunan di berbagai sektor di Kabupaten Sorong Selatan dan diharapkan dapat menjadi bahan rujukan/kajian dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan pembangunan. Kritik dan saran konstruktif berbagai pihak kami harapkan untuk penyempurnaan penerbitan mendatang. Semoga publikasi ini mampu memenuhi tuntutan kebutuhan data statistik, baik oleh instansi/dinas pemerintah, swasta, kalangan akademisi maupun masyarakat luas. Teminabuan, Oktober 2014 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan, Ir. Nurhaida Sirun STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 iii
Statistik Kunci Statistik Kunci Uraian Satuan 2011 2012 2013 Jumlah penduduk 1 orang 39 297 41 291 41 291 Jumlah penduduk 15 tahun keatas yang bekerja 2 orang 16 415 17 572 17 572 Jumlah penganggur 2 orang 813 706 706 Jumlah angkatan kerja 2 orang 17 228 18 278 18 278 TPAK 2 persen 72,10 72,74 72,74 TPT 2 persen 4,72 3,86 3,86 Persentase pekerja di sektor formal 2 persen 21,42 24,90 24,90 Pertumbuhan ekonomi persen 7,94 7,53 7,53 PDRB ADHB (juta) rupiah 468 617,52 553 679,48 553 679,48 PDRB ADHK (juta) rupiah 192 513,86 207 004,43 207 004,43 PDRB per kapita rupiah 11 925 020,32 13 409 204,91 13 409 204,91 Jumlah penduduk miskin 3 orang 9 093 9 093 9 093 Persentase penduduk miskin 3 persen 22,93 19,48 19,48 Angka partisipasi sekolah 7-12 tahun 3 persen 91,81 91,55 91,55 Angka partisipasi sekolah 13-15 tahun 3 persen 85,46 97,59 97,59 Angka partisipasi sekolah 16-18 tahun 3 persen 64,09 68,81 68,81 Angka partisipasi murni (SD) 3 persen 89,25 88,16 88,16 Angka partisipasi murni (SLTP) 3 persen 45,80 49,93 49,93 Angka partisipasi murni (SLTA) 3 persen 36,25 37,95 37,95 Angka partisipasi murni (PT) 3 persen 5,15 6,85 6,85 Angka harapan hidup 3 tahun 66,82 66,99 66,99 Rata-rata lama sekolah 3 tahun 8,06 8,09 8,09 Angka melek huruf 3 persen 88,43 88,45 88,45 Paritas daya beli (PPP) (ribu) 3 rupiah 590,23 591,79 591,79 IPM 3 persen 66,59 66,83 66,83 Rata-rata pengeluaran perkapita 3 rupiah 502 621 486 174 486 174 Catatan: 1. Berdasarkan Hasil Proyeksi SP 2010 2. Kondisi bulan Agustus (Sakernas) 3. Data tahun 2009 adalah data gabungan Sorong Selatan dan Maybrat STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 v
Penjelasan Teknis Daerah administrasi adalah wilayah administrasi yang sudah memiliki dasar hukum yang sah menurut Departemen Dalam Negeri. Desa pesisir/tepi laut adalah desa/kelurahan termasuk nagari atau lainnya yang memiliki wilayah yang berbatasan langsung dengan garis pantai/laut (atau merupakan desa pulau). Desa bukan pesisir adalah desa/kelurahan termasuk nagari atau lainnya yang tidak berbatasan langsung dengan laut atau tidak mempunyai pesisir. Kepadatan Penduduk adalah jumlah penduduk di suatu daerah dibagi dengan luas daratan daerah tersebut, biasanya dinyatakan sebagai penduduk per Km 2. Laju pertumbuhan penduduk adalah rata-rata tahunan laju perubahan jumlah penduduk di suatu daerah selama periode waktu tertentu. Angkatan Kerja adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau sementara tidak bekerja, dan yang sedang mencari pekerjaan. Angka Kematian Balita adalah probabilita bayi meninggal sebelum mencapai usia lima tahun, dinyatakan dalam per seribu kelahiran. Angka Harapan Hidup pada waktu lahir adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur. Rata-rata Lama Sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani. Angka Melek Huruf Dewasa adalah perbandingan antara jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis, dengan jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas. Angka Partisipasi Murni adalah proporsi anak sekolah pada satu kelompok usia tertentu yang bersekolah pada jenjang yang sesuai dengan kelompok usianya. Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja. perbandingan antara jumlah penduduk kelompok usia sekolah (7-12 th; 13-15 th; 16-18 th) yang bersekolah terhadap seluruh penduduk kelompok usia sekolah (7-12 th; 13-15 th; 16-18 th). Bersekolah adalah mereka yang perlu mengikuti pendidikan di jalur formal (SD/MI, SMP/MTs, SMA/ SMK/MA atau PT) maupun non formal (paket A, paket B atau paket C). STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 vii
IPM adalah indeks komposit dari gabungan 4 (empat) indikator yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per kapita. Industri Pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih kepada pemakai akhir. Angka Koefisien Gini adalah ukuran kemerataan pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas pendapatan. Angka koefisien Gini terletak antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nol mencerminkan kemerataan sempurna dan satu menggambarkan ketidakmerataan sempurna. Garis kemiskinan adalah besarnya nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan nonmakanan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk tetap berada pada kehidupan yang layak. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Indeks Harga Konsumen adalah angka/indeks yang menunjukkan perbandingan relatif antara tingkat harga (konsumen/eceran) pada saat bulan survei dan harga tersebut pada bulan sebelumnya. Inflasi adalah indikator yang dapat memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu. Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita adalah Produk Domestik Regional Bruto dibagi dengan penduduk pertengahan tahun. PDRB Harga Berlaku adalah nilai tambah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masingmasing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun. PDRB Harga Konstan adalah nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar. viii STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
Daftar Isi Kata Pengantar Statistik Kunci Penjelasan Teknis Daftar Isi Geografi dan Iklim Pemerintahan Penduduk Ketenagakerjaan Pendidikan Kesehatan Perumahan dan Lingkungan Pembangunan Manusia Pertanian Pertambangan dan Energi 1 4 7 12 15 19 22 25 31 34 Industri Pengolahan Konstruksi Hotel dan Pariwisata Transportasi dan Komunikasi Perbankan dan Investasi Harga-harga Pengeluaran Penduduk Perdagangan Pendapatan Regional Perbandingan Regional Lampiran Tabel iii v vii ix 37 38 40 42 45 46 47 49 50 53 59 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 ix
GEOGRAFI DAN IKLIM Luas Wilayah Kabupaten Sorong Selatan Sebesar 7.789,911 km 2 Melalui Permendagri No.18 Tahun 2013, luas wilayah Kabupaten Sorong Selatan sebesar 7.789,911 km 2 yang mencakup luas daratan dan lautan 1 Secara astronomis letak Kabupaten Sorong Selatan berada pada koordinat 01 00' hingga 02 30' Lintang Selatan dan 131 00' hingga 133 00' Bujur Timur. Kabupaten ini berada pada ketinggian 0 sampai 1.362 meter dari permukaan laut dan daerah terendahnya berada di sepanjang garis pantai Laut Seram meliputi wilayah Distrik Kokoda, Inanwatan, Teminabuan, Kais dan Seremuk. Ibukota Kabupaten Sorong Selatan, yaitu Teminabuan, terletak pada ketinggian 40 meter dari permukaan laut. adalah : Utara Selatan Barat Timur Batas-batas wilayah Kabupaten Sorong Selatan : Kabupaten Maybrat : Teluk Bintuni dan Laut Seram : Laut Seram dan Sorong : Kabupaten Maybrat dan Teluk Bintuni Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2013 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan disebutkan luas wilayah Kabupaten Sorong Selatan adalah 7.789,911 km² meliputi wilayah daratan seluas 6.812,863 km 2 (87,46 persen) dan luas lautan 977,046 km2 (12,56 persen). Wilayah terluas adalah Distrik Kais (1.099,95 km 2 atau 14,12%) dan wilayah terkecil adalah Distrik Seremuk (208,04 km 2 atau 6,91%). Distrik Kais memiliki wilayah daratan terluas sebesar 962.98 km 2 sedangkan Distrik Saifi memiliki wilayah lautan terluas sebesar 182.62 km 2. Distrik Teminabuan hanya memiliki 4,99 persen dari luas Kabupaten Sorong Selatan secara keseluruhan. 1.1 1.2 Seremuk 2.67% Konda 7.87% Sumber: Permendagri No.18 Tahun 2013 Peta Kabupaten Sorong Selatan Persentase Luas Wilayah Sorong Selatan menurut Distrik 2013 Sawiat Wayer 5.82% 4.08% Saifi 11.96% Teminabuan 4.99% Fkour 3.92% Moswaren Matemani 5.23% 6.82% Inanwatan 12.33% TAHUKAH ANDA Kais 14.12% Kokoda 13.32% Kokoda Utara 6.86% Karakteristik dataran rendah (88%) di wilayah Kabupaten Sorong Selatan ditutupi dengan hutan yang didominasi oleh hutan bakau dan sagu. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 1
1 GEOGRAFI DAN IKLIM Sebesar 80,16 Persen Wilayah Sorong Selatan Berupa Dataran Topografi sebagian besar wilayah Sorong Selatan atau sekitar 880,16 persen merupakan daerah dataran rendah (termasuk pantai), sisanya pegunungan. 1.3 Sumber: Sensus Potensi Desa (PODES), 2014 Tabel 1.1 Persentase Desa/Kelurahan Menurut Posisi terhadap Laut (%) Banyaknya Desa/Kelurahan Berdasarkan Topografi Wilayah di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Distrik Bukan Tepi Laut 81.82% Sumber: Sensus Potensi Desa (PODES), 2014 Tepi Laut 18.18% Kelurahan/Desa Lereng Lembah Dataran Inanwatan 0 0 7 Kokoda 1 0 15 Kokoda Utara 0 0 9 Kais 1 0 11 Matemani 0 0 6 Moswaren 0 0 7 Teminabuan 0 2 14 Sejarah terbentuknya Kabupaten Sorong Selatan tidak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya Kabupaten Sorong. Kabupaten ini terbentuk berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2002. Pada awal pemekarannya, Kabupaten Sorong Selatan terdiri dari 14 distrik yang meliputi 210 desa dan 3 kelurahan. Hingga saat ini telah menjadi 13 distrik dengan 120 desa dan 1 kelurahan. Kabupaten Sorong Selatan sebagian wilayahnya berupa perairan sebesar 12,56 persen. Dari luas tersebut, sebanyak 18,18 persennya mengelilingi total desa/kelurahan di Sorong Selatan. Sedangkan sisanya sebanyak 81,82 persen merupakan desa/kelurahan yang berada di daratan dan tidak berbatasan dengan laut. Berdasarkan hasil Sensus Potensi Desa (PODES) tahun 2014, Kabupaten Sorong Selatan sebagian besar berupa dataran sebanyak 97 desa/ kelurahan atau 80,16 persen dari total topografi wilayah Sorong Selatan. Sebanyak 14 desa/kelurahan berupa lembah dan 10 desa/kelurahan sisanya berupa lereng atau puncak. Penyebaran wilayah di Kabupaten Sorong Konda 0 0 5 Seremuk 0 0 8 Saifi 1 0 9 Wayer 0 2 6 Sawiat 7 6 0 Fkour 0 4 0 Total 10 14 97 Selatan adalah sebagai berikut: Daerah pegunungan terdapat di sebagian besar desa di Distrik Sawiat. Daerah lembah; tersebar di Distrik Sawiat, Fkour dan sebagian Distrik Wayer. Daerah dataran, tersebar di Distrik Inanwatan, Matemani, Kokoda, Kokoda Utara, Kais, Moswaren, Teminabuan, Konda, Saifi dan Seremuk. 2 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
GEOGRAFI DAN IKLIM Lebih dari Sembilan Bulan Diguyur Hujan Wilayah Sorong Selatan memiliki curah hujan tinggi dengan jumlah hari hujan mencapai 274 hari atau lebih dari 9 bulan hujan terus-menerus pada tahun 2013. 1 Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat suhu udara rata-rata Kabupaten Sorong Selatan selama tahun 2013 berada pada kisaran 24,30 C hingga 31,30 C dengan kelembaban udara sebesar 86 C dan rata-rata penyinaran matahari sebesar 45,80 persen. Adapun suhu udara terendah terjadi pada bulan Juli sebesar 25,8 C, sedangkan suhu udara tertinggi terjadi pada bulan Maret sebesar 28,5 C. Selama tahun 2013 banyaknya curah hujan tercatat sebesar 3.349 mm dengan intensitas bervariasi. Curah hujan terendah tercatat 122 mm pada bulan Oktober dan yang tertinggi 661 mm pada bulan Mei. Sementara hari hujan terendah terjadi pada bulan Maret, yaitu hanya 15 hari. Sedangkan pada bulan Juli 2013, Kabupaten Sorong Selatan diguyur hujan terbanyak yaitu sebanyak 29 hari. Dari bulan April intensitas curah hujan mulai bertambah dari 155 mm pada bulan Maret hingga mencapai puncak sebesar 661 mm di bulan Mei. Meski sempat kering sejenak di bulan Juni, curah hujan kembali meninggi di bulan Juli (491 mm) kemudian menurun perlahan hingga hanya sebesar 122 mm di bulan Oktober. Karakteristik wilayah Papua pada umumnya memiliki iklim yang tidak menentu. Dimana di wilayah lain terjadi musim penghujan karena pengaruh angin muson, di wilayah Papua justru mengalami kemarau. Begitu pula sebaliknya jika wilayah lain terjadi kemarau, di wilayah Papua justru penghujan. 1.4 Curah Hujan Per Bulan Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 (mm) 221 200 155 Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Kota Sorong, 2013 Tabel 1.2 357 Curah Hujan (mm) 661 171 491 284 221 Keadaan Iklim Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Uraian Satuan 2013 Suhu Udara Rata-rata Min. C 24,3 Suhu Udara Rata-rata Max. C 31,3 Rata-rata Kelembaban Udara C 86 Rata-rata Tekanan Udara Mbs 1 010,2 Curah Hujan mm 3 349 Hari Hujan hari 274 Rata-rata Penyinaran Matahari % 45,80 Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Kota Sorong, 2013 TAHUKAH ANDA 122 247 219 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun 2013, hujan di Sorong Selatan lebih banyak dan lebih deras STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 3
2 PEMERINTAHAN Pemekaran Kampung Slakma dan Kampung Kamundan II Hingga tahun 2013 tidak ada pemekaran distrik namun ada pemekaran kampung di Kabupaten Sorong Selatan. Yaitu Kampung Slakma di Distrik Sawiat dan Kampung Kamundan II di Distrik Kokoda Utara. 2.1 Drs. OTTO IHALAUW, MA Tabel 2.1 BUPATI Bupati dan Wakil Bupati Sorong Selatan Periode 2010-2015 Perkembangan Distrik dan Kelurahan/Desa di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Distrik Sumber: Pemda Kabupaten Sorong Selatan, 2013 SAMSUDIN ANGGILULI, SE WAKIL BUPATI Kelurahan/Desa 2011 2012 2013 Inanwatan 8 9 7 Kokoda 16 16 16 Kokoda Utara 8 8 9 Kais 12 12 12 Matemani 6 6 6 Moswaren 6 7 7 Teminabuan 16 16 16 Konda 5 5 5 Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.181-193-2003 tanggal 6 Juni 2003, mengangkat Drs. Otto Ihalauw sebagai Pejabat Bupati Sorong Selatan yang kemudian pelantikannya dilaksanakan oleh Mendagri pada 9 Juni 2003. Peresmian Pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan dilakukan oleh Gubernur Papua Barat pada tanggal 6 Agustus 2003 yang ditandai dengan pelantikan Pejabat Struktural Eselon II dan III. Hal ini yang melahirkan kesepakatan bahwa tanggal 6 Agustus diperingati sebagai HUT Kabupaten Sorong Selatan. Secara administratif, Kabupaten Sorong Selatan terdiri dari 13 distrik (setingkat dengan kecamatan), yaitu Distrik Inanwatan, Kokoda, Kokoda Utara, Kais, Matemani, Moswaren, Teminabuan, Konda, Seremuk, Saifi, Wayer, Sawiat dan Fkour. Struktur hierarki dalam pembagian administrasi pemerintahan digolongkan menjadi kecamatan (distrik), kelurahan dan desa (kampung). Pembagian wilayah distrik menjadi 13 distrik sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 13 tahun 2009 tentang Pembentukan kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat. Kabupaten Maybrat mendapat 11 distrik yang sebelumnya berada di bawah Seremuk 8 8 8 Saifi 10 10 10 Wayer 8 8 8 Sawiat 12 12 13 Fkour 4 4 4 Sorong Selatan 117 119 121 pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan. Hingga tahun 2013, Kabupaten Sorong Selatan yang sebelumnya memiliki 13 distrik dan 119 desa/ kelurahan mengalami pemekaran desa/kampung di Distrik Kokoda Utara (Kampung Kamundan II) dan Sawiat (Kampung Slakma) sehingga total wilayah administratifnya menjadi 13 distrik dan 121 desa dan 2 kelurahan. 4 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PEMERINTAHAN PNS Golongan II Terbanyak di Sorong Selatan Tahun 2013 Dari 1.104 PNS di Sorong Selatan, sebanyak 469 orang bergolongan II, 424 orang bergolongan III, sisanya golongan I dan IV. 2 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Sorong Selatan tahun 2013 berjumlah 1.104 orang dengan rincian 828 orang berjenis kelamin laki-laki dan 276 orang berjenis kelamin perempuan. Jumlah total PNS ini menurun signifikan dari tahun sebelumnya. Dari komposisinya terlihat bahwa jumlah PNS laki-laki jauh lebih banyak dibandingkan PNS perempuan dengan perbandingan yang cukup jauh. Persentase PNS lakilaki sebesar 75 persen. Dengan demikian, jika terdapat 1 PNS perempuan, disitu terdapat 3 PNS laki-laki. Sedangkan menurut golongan, sebanyak 42,48 persen PNS masih bergolongan II (469 orang) dan 38,41 persen PNS golongan III (424 orang). Sisanya sebesar 19,12 persen merupakan PNS yang bergolongan I dan IV. Dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan, kualitas PNS Kabupaten Sorong Selatan tergolong cukup baik. Hal ini ditunjukkan dari kecilnya PNS yang berpendidikan rendah (SD dan SMP). Sedangkan PNS yang berlatar belakang pendidikan sarjana (S1 dan S2) memiliki persentase yang cukup tinggi sebesar 38,24 persen. Selama tahun 2012-2013, terjadi peningkatan kualitas PNS di sebagian jenjang pendidikan dan penurunan pada jenjang pendidikan lainnya. PNS berpendidikan sarjana meningkat dari tahun 2012 (34,98 persen) menjadi 38,24 persen di tahun 2013. Jika dilihat secara lebih rinci, peningkatan terbesar PNS berlatar pendidikan sarjana terdapat di Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan pegawai distrik. Hal ini sudah sesuai dengan program pemerintah untuk 2.2 Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Sorong Selatan, 2013 2.3 Persentase PNS Pemda Kabupaten Sorong Selatan menurut Golongan dan Jenis Kelamin 2013 (%) Persentase PNS Pemda Kabupaten Sorong Selatan menurut Tingkat Pendidikan 2013 (%) Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Sorong Selatan, 2013 TAHUKAH ANDA Mayoritas Kepala Kampung/Desa di Sorong Selatan berijazah SD dan mayoritas Sekretaris Kampung berijazah SMA STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 5
2 PEMERINTAHAN Sekitar 93,48 persen, APBD Dibiayai dari Pendapatan Transfer Sumber pembiayaan terbesar dalam pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar 335,48 milyar rupiah. 2.4 Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Sorong Selatan, 2013 2.5 Persentase PNS Daerah di Distrik dan Persentase PNS Daerah menurut Jenis Kelamin 2013 Realisasi Pendapatan Daerah Otonom Kabupaten Sorong Selatan 2012-2013 (%) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Lalu 2012 11.19 3.52 2.01 2.33 Pendapatan Asli Daerah 93.48 86.38 Pendapatan Transfer Sumber: BPKAD Kabupaten Sorong Selatan, 2012-2013 TAHUKAH ANDA 0.42 0.67 Lain-lain Pendapatan yang Sah Sebanyak 32,22 persen APBD habis untuk belanja pegawai dan 33,07 persen dibelanjakan untuk barang modal. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2012. meningkatkan mutu pendidikan dan pelayanan publik baik di bidang kemasyarakatan maupun kesehatan. Hal ini juga ditunjukkan dengan penurunan PNS berlatar belakang pendidikan SMA. Sedangkan penurunan jumlah PNS berpendidikan rendah (SD dan SMP) menjadi indikasi perbaikan mutu pendidikan para abdi masyarakat di Kabupaten Sorong Selatan. Persentase PNS tamatan SD dan SMP menurun masing-masing dari 3,15 persen dan 3,93 persen di tahun 2012. PNS yang berkedudukan di distrik mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 80,54 persen. Jika dilihat distribusi persentasenya, Distrik Teminabuan memiliki jumlah PNS terbanyak (14,07 persen atau 47 orang). Sedangkan persentase terkecil dimiliki oleh Distrik Fkour (1,50 persen) dengan jumlah PNS hanya sebanyak 5 orang. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, mayoritas PNS di distrik merupakan tamatan SMA (44,35 persen). Sedangkan lulusan S1 berkisar 24,40 persen, lebih tinggi persentasenya jika dibandingkan lulusan SD (15,18 persen), SMP (13,69 persen) dan diploma (2,38 persen). Sumber pembiayaan terbesar dalam penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan berasal dari pendapatan transfer (93,48 persen) sebesar 606,84 milyar rupiah. Pendapatan transfer berasal dari dana perimbangan, transfer pemerintah pusat dan provinsi. Nilai ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 86,38 persen. Sementara itu, meskipun hanya sebesar 2,33 persen, Pendapatan Asli Daerah kabupaten ini meningkat dari tahun 2012. 6 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PENDUDUK Jumlah Penduduk Sorong Selatan Sebanyak 41.085 jiwa Jumlah penduduk Sorong Selatan tahun 2013 tercatat 41.085 jiwa. Dengan kontribusi hanya sekitar 4,93 persen terhadap total penduduk Papua Barat. 3 Dinamika penduduk memiliki karakteristik yang berbeda pada setiap daerah. Namun dinamika tersebut selalu merupakan akibat dari perubahan pola fertilitas, mortalitas dan migrasi penduduk. Demikian pula dengan dinamika penduduk di Provinsi Papua Barat khususnya di Kabupaten Sorong Selatan. Sejak pertama kali dilaksanakan Sensus Penduduk tahun 1971, Provinsi Papua Barat masih tergabung dalam Provinsi Papua dan hanya terdiri dari tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Fak-fak, Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Sorong. Sensus Penduduk 2010 merupakan sensus kelima di Indonesia dan sensus pertama bagi Kabupaten Sorong Selatan setelah definitif sebagai kabupaten pemekaran dari Kabupaten Sorong. Dari hasil estimasi backasting untuk tahun 2000-2009, jumlah penduduk Kabupaten Sorong Selatan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini ditunjukkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang selalu positif kecuali di tahun 2008 dimana pemekaran Kabupaten Maybrat terjadi. Pengurangan penduduk sebesar 43,98 persen dikarenakan faktor migrasi keluar kabupaten. Hingga tahun 2013, penduduk Kabupaten Sorong Selatan berjumlah 41.085 jiwa atau mengalami peningkatan sebesar 2,43 persen jika dibandingkan tahun 2012. Laju pertumbuhan ini yang terendah sejak tiga tahun terakhir. Sedangkan menurut kelompok umur, mayoritas penduduk Sorong Selatan berusia 15-64 tahun sebesar 58,49 persen. Sedangkan penduduk usia lebih dari 65 tahun memiliki persentase terkecil. 3.1 10 0-10 -20-30 -40-50 Laju Pertumbuhan Penduduk Sorong Selatan Tahun 2001-2013 Sumber: Hasil Estimasi Backcasting 2001-2009, SP 2010, Proyeksi Penduduk 2011-2013 BPS Tabel 3.1 2 1.95 1.78 2 2.03 0.33 5.2 Indikator Kependudukan Kabupaten Sorong Selatan 2010-2012 Uraian 2011 2012 2013 Jumlah Penduduk (jiwa) 39 071 40 110 41 085 Pertumbuhan Penduduk (%) 2,49 2,66 2,43 Sex Ratio (%) 110,22 109,87 109,60 Jumlah Rumah Tangga (ruta) 7 753 7 959 8 152 Rata-rata ART (jiwa/ruta) 5,04 5,04 5,04 Penduduk menurut Kelompok Umur (%) -43.98 0-14 tahun 39,77 39,77 39,77 15-64 tahun 58,49 58,49 58,49 > 65 tahun 1,74 1,74 1,74 Sumber: Proyeksi Penduduk dan SP 2010, BPS (Penduduk Pertengahan Tahun) TAHUKAH ANDA 5.29 4.822.49 2.66 2.43 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 LPP Penduduk asli Kabupaten Sorong Selatan berasal dari Suku Tehit, Maybrat dan Inanwatan. Kemudian berdatangan suku pendatang karena migrasi, yaitu Suku Bugis, Jawa, Toraja, dsb. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 7
3 PENDUDUK Tiga Angka Kelahiran Tertinggi berada di Distrik Kokoda, Kokoda Utara dan Teminabuan Berdasarkan data Podes 2014, Distrik Kokoda memiliki kelahiran sebanyak 84 bayi, Distrik Kokoda Utara sebanyak 97 bayi dan Distrik Teminabuan sebanyak 84 bayi. Tabel 3.2 Sumber : Podes, 2014 3.2 Fkour Seremuk Kokoda Utara Wayer Saifi Konda Sawiat Matemani Inanwatan Moswaren Kais Kokoda Teminabuan Banyaknya Kelahiran, Kematian dan Migrasi Menurut Distrik di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Jumlah Rumah Tangga menurut Distrik di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 179 249 276 322 332 345 439 491 518 548 654 Sumber: Hasil Proyeksi Penduduk 2013 1185 2614 Tinggi rendahnya pertumbuhan penduduk sangat dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi/ perpindahan penduduk. Pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh fertilitas terutama terkait dengan kemampuan dalam mengontrol jumlah kelahiran. Dilihat dari Tabel 3.2, angka kelahiran di Kabupaten Sorong Selatan cukup tinggi. Kelahiran tertinggi berada di Distrik Kokoda Utara sebanyak 97 bayi. Sedangkan angka kematian dan migasi tertinggi terdapat di Distrik Teminabuan. Sebagaimana konsep pengaturan rumah tangga oleh BPS, disebut satu rumah tangga jika pengelolaan pengeluaran di suatu rumah dikelola oleh satu dapur, meskipun dalam rumah tersebut terdiri dari beberapa kepala keluarga (KK). Rumah tangga terbanyak di Kabupaten Sorong Selatan berada di Distrik Teminabuan yang berjumlah 2.614 rumah tangga (32.07 persen). Sedangkan distrik yang paling sedikit jumlah rumah tangganya, yaitu Fkour, hanya berjumlah 179 rumah tangga (2,20 persen) dari total seluruh rumah tangga di Kabupaten Sorong Selatan. Fenomena menarik yaitu Distrik Moswaren memiliki jumlah rumah tangga terbanyak keempat namun dilihat dari jumlah penduduknya lebih kecil jika dibandingkan dengan distrik Inanwatan dan Matemani. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh budaya karena ada kecenderungan bagi penduduk pribumi (asli Papua) untuk mengumpulkan beberapa kepala keluarga dalam satu rumah tangga. Berbeda dengan mayoritas penduduk Distrik Moswaren yang merupakan transmigran. 8 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PENDUDUK Teminabuan Menjadi Distrik Dengan Jumlah Penduduk Terbanyak Sekaligus Terpadat Distrik Teminabuan adalah ibukota Kabupaten Sorong Selatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak dengan distribusi sebesar 30,44 persen dengan kepadatan penduduk sebanyak 32 jiwa/km 2. 3 Sebaran penduduk Kabupaten Sorong Selatan menurut distrik dominan di dua wilayah yaitu di Distrik Teminabuan (30,44%) dan Distrik Kokoda (15,74%). Distrik Teminabuan merupakan ibukota kabupaten dan menjadi tujuan mata pencaharian sekitar 31 persen penduduk. Selain itu, fasilitas sarana dan prasarana di distrik ini tergolong lebih lengkap dan maju dibandingkan distrik lain di Kabupaten Sorong Selatan. Distribusi sebaran penduduk yang terkecil terdapat di Distrik Fkour, hanya sekitar 1,97 persen saja. Meskipun secara geografis, letak Distrik Fkour termasuk strategis sebagai penghubung antara Kabupaten Sorong dan Kabupaten Maybrat namun tidak berpengaruh besar terhadap migrasi penduduk sehingga mempengaruhi populasi setempat. Distrik ini merupakan distrik pemekaran dari Distrik Sawiat berdasarkan Perda Kabupaten Sorong Selatan No. 23 Tahun 2007. Kepadatan penduduk Kabupaten Sorong Selatan tahun 2013 sebesar 5,27 jiwa per Km 2. Dengan luas wilayah 7.789,91 Km 2, penyebaran penduduk di setiap distrik cenderung tidak proporsional. Hal ini disebabkan mayoritas penduduk lebih memilih tinggal di distrik yang potensial secara ekonomi dan memiliki fasilitas yang memadai (listrik, jaringan telekomunikasi, jalan, dsb). Kondisi yang pasti terjadi di setiap ibukota kabupaten/kota demikian pula yang terjadi di Teminabuan, memiliki kepadatan penduduk yang jauh melebihi distrik lain sebesar 32-33 jiwa per Km 2 meskipun luas wilayahnya terendah keempat dari total luas wilayah Sorong Selatan. 3.3 Seremuk 3.00% Konda 4.88% Teminabuan 30.44% Persentase Distribusi Sebaran Penduduk 2013 Sumber: Hasil Proyeksi Penduduk Kabupaten Sorong Selatan, 2013 3.4 Teminabuan Kokoda Seremuk Moswaren Sorong Selatan Wayer Matemani Sawiat Kokoda Utara Konda Inanwatan Kais Fkour Saifi WayerSawiat Saifi 3.83% 4.74% 4.51% Fkour 1.97% Kepadatan Penduduk Kabupaten Sorong Selatan menurut Distrik Tahun 2013 6.23 5.93 5.64 5.27 4.95 4.38 4.29 3.43 3.27 3.23 2.84 2.65 1.99 Sumber: Luas: Permendagri No 18 Thn 2013 Inanwatan 7.55% Moswaren 5.60% TAHUKAH ANDA Kokoda 15.74% Matemani 5.67% Luas Kabupaten Sorong Selatan (7794,911 km2) lebih 11 kali lipat dari luas Negara Singapura (697 km2) Kokoda Utara 4.46% Kais 7.62% 32.15 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 9
3 PENDUDUK Penduduk Laki-laki 10 Persen Lebih Banyak Daripada Perempuan. Berdasarkan Sex Ratio yang mencapai 109,60 persen, terlihat bahwa penduduk laki-laki hampir 10 persen lebih banyak daripada penduduk perempuan. Salah satu penyumbangnya diduga akibat migrasi masuk lebih banyak berasal dari penduduk laki-laki. 3.5 Matemani Wayer Teminabuan Moswaren Sorong Selatan Kais Inanwatan Konda Sawiat Seremuk Kokoda Fkour Kokoda Utara Saifi Sumber : Hasil Proyeksi Penduduk Kabupaten Sorong Selatan, 2013 3.6 Sex Ratio Kabupaten Sorong Selatan 2013 Piramida Penduduk Sorong Selatan 2013 Sumber: Hasil Proyeksi Penduduk Kabupaten Sorong Selatan, 2013 TAHUKAH ANDA 122.45 122.03 116.63 113.85 109.60 109.30 108.96 107.02 102.92 102.13 101.78 101.00 98.59 94.95 Bonus Demografi adalah sebuah kondisi dimana rasio ketergantungan mencapai nilai terendahnya atau penduduk usia produktif (15-64 tahun) berada pada jumlah maksimum Berdasarkan rasio jenis kelamin (sex ratio), penduduk Kabupaten Sorong Selatan yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penduduk berjenis kelamin perempuan kecuali di Distrik Kokoda Utara dan Saifi, hal ini dapat dilihat dari nilai sex rasio yang kurang dari 100 (98,59 persen dan 94,95 persen). Tahun 2013, untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 110 jiwa penduduk lakilaki. Menurut distrik, sex rasio tertinggi berada di distrik Matemani (122,45 persen) dan terendah di Distrik Saifi. Jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Sorong Selatan yang lebih banyak dari jumlah penduduk perempuan salah satunya diduga disebabkan migrasi masuk di Sorong Selatan. Umumnya migrasi jarak jauh terjadi pada penduduk berjenis kelamin laki-laki, dan penduduk perempuan lazimnya bermigrasi pada jarak dekat (Teori Migrasi Ravenstein). Faktor penarik Sorong Selatan sebagai kabupaten baru sehingga kesempatan dan lapangan pekerjaan lebih terbuka. Hal ini menyebabkan penduduk laki-laki cenderung bermigrasi untuk mendapatkan pekerjaan. Struktur dan komposisi penduduk dapat dilihat dari piramida penduduk menurut kelompok umur di wilayah tersebut. Dari komposisi sebaran penduduk menurut kelompok umur tersebut, Kabupaten Sorong Selatan termasuk sebagai struktur penduduk muda. Hal ini tampak dari bentuk piramida penduduk dimana penduduk lebih terdistribusi ke dalam kelompok umur muda atau terjadi pelebaran pada alas piramida penduduk. 10 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PENDUDUK Angka Dependency Ratio Menurun Besarnya rasio ketergantungan Kabupaten Sorong Selatan tahun 2013 menurun jika dibandingkan tahun 2012, yaitu dari 70,06 persen menjadi 68,56 persen. Komposisi ketergantungan penduduk lakilaki lebih tinggi dibandingkan penduduk perempuan meskipun hanya selisih 1 orang. 3 Dari piramida penduduk Kabupaten Sorong Selatan terlihat perkembangan arah pertumbuhan penduduk pada kelompok umur 0-4 tahun dan 5-9 tahun. Pada kelompok umur 0-4 tahun mempunyai jumlah yang lebih banyak daripada kelompok umur 5-9 tahun. Hal ini berarti pertumbuhan penduduk yang tinggi dipicu dari faktor fertilitas belum mampu terkontrol dengan baik. Strukur piramida penduduk Sorong Selatan adalah struktur umur muda yang berdampak pada rasio ketergantungan (dependency ratio) yang tinggi. Dependency ratio digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat mengindikasikan keadaan ekonomi suatu daerah tergolong sebagai daerah maju atau daerah sedang berkembang. Persentase penduduk yang produktif dan non produktif baik secara agregat maupun gender menunjukkan kecenderungan yang sama dimana persentase penduduk produktif (umur 15-64 tahun) menunjukkan persentase terbesar lebih dari 50 persen. Besarnya rasio ketergantungan Sorong Selatan Tahun 2013 adalah 70,97 persen, menurun dari tahun 2012 (71,68 persen). Artinya dari 100 orang yang masih produktif (15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 70-71 orang yang belum produktif (0-14 tahun) dan tidak produktif (65 tahun ke atas). Angka ini hampir mendekati rasio ketergantungan tahun 2011. Secara gender, rasio ketergantungan penduduk laki-laki dan perempuan tidak berbeda signifikan, hanya selisih I orang pada tahun 2013 untuk penduduk laki-laki. 3.7 Sumber: Hasil Proyeksi Penduduk 2013 3.8 Persentase Penduduk menurut Kelompok Umur Produktif dan Non Produktif 2013 Dependency Ratio menurut Jenis Kelamin Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 (%) Sumber: Hasil Proyeksi Penduduk 2013 TAHUKAH ANDA Pada tahun 2013, Dependency Ratio Kabupaten Sorong Selatan diatas angka Provinsi Papua Barat dengan selisih sebanyak 18 orang (L+K). Selisih perempuan sebanyak 19 orang, selisih lakilaki sebanyak 21 orang. 0-14 15-64 65+ 1.80 1.68 1.74 58.71 58.25 58.49 39.50 40.07 39.77 Laki-laki Perempuan L+P 72.00 71.00 70.00 69.00 68.00 67.00 66.00 70.3470.22 71.68 70.97 69.89 70.06 68.64 68.46 68.56 Laki-laki Perempuan L+P 2013 2012 2011 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 11
4 KETENAGAKERJAAN Peningkatan Angkatan Kerja Diiringi dengan Penurunan Penduduk yang Bersekolah Jumlah angkatan kerja Kabupaten Sorong Selatan meningkat sebesar 1,24 persen dari tahun 2012. Kondisi ini diiringi dengan penurunan penduduk yang bersekolah sebesar 7,48 persen. 4.1 Skema Ketenagakerjaan Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan tidak dibayar yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. Pada dasarnya ketenagakerjaan di suatu wilayah dengan struktur penduduk usia muda ditandai dengan peningkatan penduduk usia kerja. Sesuai dengan struktur penduduk Kabupaten Sorong Selatan yang tergolong dalam struktur penduduk usia muda, maka perkembangan penduduk usia kerja (15 tahun keatas) akan tumbuh relatif cepat. Jumlah penduduk usia kerja pada tahun 2013 sebanyak 25.452 orang, mengalami kenaikan sebesar 1,28 persen dari tahun 2012. Sementara yang termasuk angkatan kerja sebanyak 18.505 orang atau sekitar 72,71 persen dari total penduduk usia kerja. Sisanya sebesar 27,29 persen merupakan bukan angkatan kerja yaitu mereka yang masih bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya sebanyak 6.947 orang. Jumlah angkatan kerja juga mengalami peningkatan sebesar 1,24 persen dari tahun 2012 (18.278 orang), meskipun peningkatannya tidak sepesat pada periode 2011-2012 sebesar 6,09 persen (17.228 orang). Kondisi yang sama juga terjadi pada golongan bukan angkatan kerja yang mengalami kenaikan persentase dari tahun 2012 (1,40 persen). Pertumbuhan angkatan kerja lebih kecil TAHUKAH ANDA Hampir 3/4 penduduk Sorong Selatan bekerja di Sektor Pertanian (bertani, berburu, beternak, berkebun dan nelayan). dibandingkan bukan angkatan kerja memberikan indikasi berkurangnya motif seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja. Angka ini terlihat dari bertambahnya persentase mengurus rumah tangga sebesar 16,85 persen. Pertumbuhan angkatan kerja diiringi dengan berkurangnya persentase bersekolah sebesar 7,48 persen di tahun 2013 terhadap tahun 2012. Kondisi ini memberikan 12 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
KETENAGAKERJAAN Sebagian Besar Penduduk Sorong Selatan Bekerja di Sektor Informal Di Kabupaten Sorong Selatan, sebanyak 75,10 persen penduduk bekerja di sektor informal, menurun dibandingkan tahun 2011 sebesar 78,58 persen. 4 gambaran bahwa pada tahun 2013 semakin banyak penduduk yang memilih bekerja dibandingkan sekolah. Dari total angkatan kerja di tahun 2013, sebanyak 18.505 orang atau sekitar 97,38 persen sudah bekerja dan sisanya sebanyak 484 orang adalah pengangguran. Jumlah orang yang sudah bekerja mengalami peningkatan sebesar 2,56 persen dibandingkan tahun 2012. Hal ini memberikan indikasi semakin banyaknya kesempatan kerja di Kabupaten Sorong Selatan. Kondisi ini diperkuat dengan semakin menurunnya angka pengangguran sebesar 31,44 persen dari 706 orang di tahun 2012 menjadi 484 orang di tahun 2013. Di Kabupaten Sorong Selatan sebanyak 75,10 persen penduduk bekerja di sektor informal. Dengan capaian ini berarti sektor informal mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dibandingkan sektor formal dikarenakan lebih terbukanya kesempatan kerja. Meskipun mayoritas, capaian ini menurun jika dibandingkan tahun 2011 (78,58 persen). Hal ini berarti minat masyarakat untuk bekerja di sektor formal bertambah. Kesempatan untuk menjadi karyawan ataupun pegawai lebih besar. Ditunjukkan oleh gambar 4.1, sebanyak 70,40 persen masyarakat bekerja di sektor pertanian (pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan). Di urutan kedua ditmpati oleh sektor jasa kemasyarakatan, social dan perorangan sebesar 12,65 persen), yaitu mereka yang bekerja sebagai pegawai negri dan wirausaha. Tabel 4.1 Uraian Satuan 2011 2012 2013 Bekerja orang 16 415 17 572 18 021 Pengangguran orang 813 706 484 Angkatan kerja orang 17 228 18 278 18 505 Penduduk Usia Kerja orang 23 894 25 129 25 452 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumber: Sakernas 2011-2013 persen 4,72 3,86 2,62 persen 72,10 72,74 72,71 Bekerja di Sektor A persen 71,75 70,40 Bekerja di Sektor M persen 6,75 4,70 Bekerja di Sektor S persen 21,50 24,9 Persentase Pekerja Informal 4.1 1.98% 0.00% 1.32% Indikator Ketenagakerjaan 2011-2013 persen 78,58 75,10 Persentase Lapangan Usaha Masyarakat Kabupaten Sorong Selatan menurut KBLUI 1990 (%) 1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan 2 Pertambangan dan Penggalian 3 Industri 4 Listrik, Gas dan Air Minum 5 Konstruksi 6 Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 7 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi 8 Lmbg Keuangan, Real Estate, Ush Persewaan & Js Perusahaan 9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 2.98% 0.41% 0.80% 9.46% 12.65% 70.40% Sumber: Sakernas 2012 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 13
4 KETENAGAKERJAAN TPAK Sorong Selatan Naik Tipis Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Kabupaten Sorong Selatan tahun 2012 sebesar 72,74 persen, naik 0,64 persen dibandingkan tahun 2011 (72,1 persen). 4.2 80 78 76 74 72 70 68 66 64 62 60 Sumber: Sakernas 2009-2013 4.1 2013 2012 2011 77.54 TPAK Sorong Selatan 2009-2013 (%) Persentase Bekerja dan Pengangguran Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2011-2013 (%) 95.28 Sumber: Sakernas 2013 66.5 96.14 97.38 Bekerja 72.1 Pengangguran TAHUKAH ANDA 72.74 72.71 2009 2010 2011 2012 2013 4.72 3.86 2.62 TPAK Sorong Selatan lebih tinggi 5,62 persen dibandingkan TPAK Papua Barat dan mengungguli TPAK 6 kabupaten/kota lainnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menggambarkan persentase penduduk 15 tahun ke atas yang termasuk angkatan kerja. TPAK Sorong Selatan sebelum pemekaran Maybrat berada pada posisi 77,54 persen. Setelah terpisah dari Maybrat, TPAK Sorong Selatan menjadi sekitar 66,50 persen di tahun 2010 kemudian naik sebesar 72,71 persen pada tahun 2013 seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Isu ketenagakerjaan yang paling disoroti adalah masalah pengangguran. Secara ekonomi pengangguran adalah produk dari ketidakmampuan pasar kerja dalam menyerap angkatan kerja yang tersedia. Ketersediaan lapangan kerja yang relatif terbatas tidak sanggup menyerap para pencari kerja yang senantiasa bertambah setiap tahun seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Indikator ini adalah ukuran pasar tenaga kerja yang paling banyak digunakan di seluruh dunia dalam mengukur keberhasilan ketenagakerjaan. Sesuai dengan kesepakatan internasional, pengangguran didefinisikan sebagai semua penduduk usia kerja yang pada suatu referensi waktu tidak punya pekerjaan (without work), sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (currently available for work), dan sedang mencari pekerjaan (seeking for work). Selama 2011-2013, persentase pengangguran di Kabupaten Sorong Selatan mengalami penurunan. Kondisi pengangguran menurun dari sebesar 4,72 persen di tahun 2011 menjadi hanya sebesar 2,62 persen pada tahun 2013. 14 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
5 PENDIDIKAN Selama Tahun 2012 terdapat Penambahan 1 Gedung SD, 2 Gedung SMP dan 3 Gedung SMA Pada tahun 2012 dibandingkan kondisi 2011, jumlah sekolah SD/sederajad berjumlah 73 unit dari sebelumnya 72 unit. Jumlah gedung SMP dan SMA berjumlah 17 unit dan 7 unit dari sebelumnya 15 unit dan 4 unit. Tabel 5.1 Uraian SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK Jumlah Sekolah 79 19 6 Jumlah Guru 381 179 97 Jumlah Murid 9 999 2 182 1 223 Rasio Murid Sekolah 126,56 114,84 203,83 Rasio Murid Guru 26,24 12,18 12,61 Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong Selatan 2013 5.1 126.56 Rasio Murid Sekolah dan Rasio Murid Guru Kabupaten Sorong Selatan 2013 26.24 Indikator Pendidikan Kabupaten Sorong Selatan 2013 Rasio Murid Sekolah 114.84 Rasio Murid Guru Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong Selatan 2013 203.83 12.18 12.61 SD SMP SMA Kualitas pendidikan perlu ditunjang oleh ketersediaan fasilitas pendidikan terutama gedung sekolah dan ketercukupan guru. Ketersediaan sekolah turut berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Jarak ke sekolah terdekat dan keterbatasan sarana transportasi merupakan salah satu hambatan dalam pendidikan. Pada tahun 2013, jumlah sekolah SD/sederajat di Sorong Selatan sebanyak 79 unit, dengan jumlah siswa sebanyak 9.999 siswa dan 381 guru. Jumlah bangunan gedung sekolah untuk tingkat SD hanya berjumlah 79 unit ini berarti bahwa belum semua desa/ kelurahan memiliki fasilitas SD karena jumlah desa/ kelurahan mencapai 121 buah (119 desa/2 kelurahan). Sedangkan untuk tingkat SMP terdapat 19 sekolah, 179 guru dan 2.182 murid. Jumlah distrik di Sorong Selatan sebanyak 13 distrik, sehingga dapat dikatakan rata-rata distrik telah memiliki fasilitas gedung SMP. Pada kenyataanya, tahun 2013, seluruh distrik di Sorong Selatan telah memiliki gedung SMP. Distrik Teminabuan bahkan memiliki 2 gedung SMP negeri dan 2 gedung SMP swasta. Sementara pada jenjang pendidikan SMA/sederajat, jumlah sekolah yang berdiri TAHUKAH ANDA 10 siswa berprestasi dari SMAN 1 Teminabuan disekolahkan oleh Pemda Sorsel di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya Jakarta dibawah asuhan Yohanes Surya Institut untuk dididik menjadi tenaga guru MIPA yang handal. hanya 6 unit dengan jumlah guru 97 orang dan jumlah murid sebanyak 1.223 orang. Semakin tinggi jenjang pendidikan maka beban seorang guru semakin sedikit. Hal ini ditunjukkan oleh rasio jumlah murid terhadap guru. Pada tingkat pendidikan SD, seorang guru rata-rata mengajar sebanyak 26-27 orang. Sedangkan seorang guru SMP dan SMA rata-rata mempunyai beban mengajar relatif STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 15
PENDIDIKAN Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah Meningkat Setiap Tahun Selama 2008-2012, AMH dan RLS Kabupaten Sorong Selatan mengalami peningkatan dari 88,07 persen dan 7,90 tahun pada tahun 2008 menjadi 88,45 persen dan 8,09 tahun pada tahun 2012. 5 sama yaitu sebanyak 12-13 murid. Sebaliknya pada rasio murid terhadap sekolah, semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin banyak murid yang harus ditampung. Rasio murid terhadap sekolah untuk tingkat SD mencapai 126,56 artinya rata-rata setiap SD memiliki jumlah murid sebanyak 126-127 orang atau bila setiap sekolah minimal memiliki 6 kelas berarti setiap kelas rata-rata menampung sebanyak 21-22 siswa. Untuk tingkat SMP, setiap sekolah memiliki rata-rata sebanyak 114-115 murid. Sedangkan pada jenjang pendidikan SMA/ Sederajat, setiap sekolah SLTA/Sederajat rata-rata menampung sekitar 203-204 siswa. Rasio muridsekolah untuk jenjang pendidikan SMP lebih rendah dibandingkan jenjang pendidikan SD, dikarenakan pertumbuhan gedung SMP yang dibangun lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan jumlah murid. Ukuran yang sangat dasar dalam pencapaian pembangunan di bidang pendidikan adalah kemampuan membaca dan menulis. Keberhasilan pemerintah dalam memberantas buta huruf di Sorong Selatan dapat dilihat dari tingginya angka melek huruf atau kecilnya angka buta huruf. Hal ini dikarenakan buta huruf selalu identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Selama periode 2009-2013, AMH Sorong Selatan mengalami peningkatan 0,11 persen dengan rata-rata peningkatan per tahun sebesar 0,1 persen. Angka buta huruf Sorong Selatan pada tahun 2013 masih tergolong tinggi, yaitu sebesar 11,44 persen. Hal ini seringkali disebabkan adanya penduduk yang tidak 5.2 Sumber: Susenas, 2009-2013 5.3 Angka Melek Huruf Usia 15 Tahun Keatas Kabupaten Sorong Selatan 2009-2013 (%) 88.20 Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten Sorong Selatan 2009-2013 (tahun) Sumber: IPM, 2009-2013 88.32 88.43 88.45 TAHUKAH ANDA 88.56 2009 2010 2011 2012 2013 7.94 7.98 8.06 8.09 8.10 2009 2010 2011 2012 2013 Agustina Kohoin Marandey, putra dah Sorsel, berhasil menorehkan prestasi pada ajang Olimpiade Sains tingkat Internasional pada tahun 2012. 16 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
5 PENDIDIKAN APS 7-12 Tahun Menurun pada Tahun 2012 Sebagaimana Kondisi Umum APS yang selalu berangsur menurun searah dengan tingkat umur sekolah. Di tahun 2012, APS 7-12 tahun mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yaitu dari 91,81 persen menjadi 91,55 persen. 5.4 Sumber: Susenas, 2011-2013 5.5 PT SMA SMP SD Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Kelompok Umur Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 (%) Angka Partisipasi Kasar (APK) menurut Tingkat Pendidikan Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 (%) 11.91 15.05 10.18 Sumber: Susenas, 2010-2012 57.57 62.48 54.26 2013 2012 2011 88.01 84.62 73.6 103.51 109.85 111.69 pernah bersekolah maupun putus sekolah sementara belum memiliki kemampuan baca tulis yang baik. Rata-rata lama sekolah (RLS) artinya rata-rata jumlah tahun dimana penduduk Sorong Selatan yang berusia 15 tahun ke atas menempuh semua jenis pendidikan formal. RLS di Kabupaten Sorong Selatan bergerak sangat lambat. Pada tahun 2013, RLS Sorong Selatan mencapai 8,10 tahun, hanya naik 0,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan capaian terendah pertumbuhan RLS selama kurun waktu 5 tahun. Selama 2009-2013, ratarata penduduk Kabupaten Sorong Selatan hanya mengenyam pendidikan sampai dengan kelas 2 SLTP atau putus sekolah pada kelas 3 SLTP. Pemerintah daerah perlu memberi perhatian serius pada perbaikan angka putus sekolah agar setidaknya penduduk dapat bersekolah hingga tamat SLTP. Secara keseluruhan, APS menurut kelompok usia mengalami penurunan pada tahun 2013 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya kecuali APS penduduk usia 7-12 tahun yang justru meningkat sebesar 1,66 persen dibandingkan tahun 2012. Dari ketiga kelompok usia, APS usia 19-24 tahun paling kecil rata-rata persentase per tahunnya. Pada tahun 2013, APS penduduk usia 7-12 tahun mencapai 93,21 persen berarti masih ada sekitar 6,79 persen penduduk usia 7-12 tahun yang tidak dapat mengenyam pendidikan atau putus sekolah. Peningkatan APS di kelompok umur ini mengindikasikan kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan anak sejak usia dini bertambah. Hal ini sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 17
PENDIDIKAN APK Sekolah Dasar Lebih dari 100 Persen. APK SD Sorong Selatan tahun 2012 mencapai 109,85 persen, artinya sebesar 9,85 persen penduduk berusia diluar 7-12 tahun bersekolah SD. Diduga banyak anak sekolah SD memiliki umur diatas usia 7-12 tahun. 5 Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar. Sedangkan penurunan APS penduduk usia 13-15, 16-18 dan 19-24 mengindikasikan bahwa partisipasi penduduk untuk bersekolah SLTP/MTs, SLTA/MA dan perguruan tinggi mengalami penurunan. Penurunan partisipasi ini bisa disebabkan karena faktor ekonomi, yaitu murid putus sekolah demi mencari nafkah. Atau orang tua tidak mampu membiayai sekolah anaknya lebih lanjut. Di tahun 2013 terjadi penurunan APK di hampir seluruh jenjang pendidikan kecuali pada jenjang pendidikan SMP dibandingkan tahun 2012. APK SMP tahun 2013 sebesar 88,01 persen mengandung arti banyaknya penduduk yang sedang bersekolah di SMP hanya sebesar 88,01 persen diantara penduduk berumur 13-15 tahun. Peningkatan APK pada jenjang pendidikan ini menunjukkan semakin banyak murid yang bersekolah SMP tepat berumur 13-15 tahun. APM Kabupaten Sorong Selatan tahun 2013 mengalami peningkatan di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Sedangkan APM SD/MI dan PT menurun. Peningkatan APM terbesar terjadi pada jenjang pendidikan SMA dari 37,95 persen tahun 2012 menjadi 46,52 persen tahun 2013. APM SMA sebesar 46,52 persen mengandung arti hampir 47 orang diantara 100 penduduk usia APM SD/MI menurun menjadi sebesar 88,16 persen dari 89,25 persen pada tahun 2011 dan 89,17 persen pada tahun 2010. APM SD/MI sebesar 88,16 persen mempunyai makna kurang lebih 88 orang diantara 100 penduduk usia 16-18 tahun sedang bersekolah murid SMA dan tepat berumur 16-18 tahun. 5.5 PT SMA SMP SD Angka Partisipasi Murni (APM) menurut Tingkat Pendidikan Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 (%) 6.84 6.85 5.15 Sumber: Susenas, 2011-2013 2013 2012 2011 46.52 37.95 36.25 50.8 49.93 45.8 87.41 88.16 89.25 Angka Melek Huruf (AMH) adalah perbandingan antara jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis dengan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas. Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah perbandingan antara penduduk usia tertentu yang masih sekolah terhadap penduduk usia tertentu yang dimaksud. Pengelompokan APS dibagi menurut 4 kelompok umur : APS 7-12; APS 13-15; APS 16-18 dan APS 19-24 Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk usia yang seharusnya pada jenjang pendidikan tersebut. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan usia seharusnya terhadap jumlah penduduk usia yang seharusnya pada jenjang pendidikan tersebut. 18 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
6 Tahun KESEHATAN 2012, Terdapat Penurunan Jumlah Pustu dan Puskesling Masing-masing distrik di Kabupaten Sorong Selatan telah memiliki puskesmas. Sedangkan fasilitas puskesmas pembantu (pustu) menurun jumlahnya dari 43 unit pada tahun 2011 menjadi 26 unit di tahun 2012. Demikian pula fasilitas puskesmas keliling (puskesling) menurun dari 15 unit menjadi 12 unit. Tabel 6.1 Uraian 2011 2012 2013 Angka Harapan Hidup *) 66,82 66,99 67,07 Jumlah Rumah Sakit 1 1 1 Jumlah Puskesmas 13 13 13 Jumlah Pustu 43 26 26 Jumlah Balai Pengobatan 0 0 0 Jumlah Puskesmas Keliling 15 12 12 Jumlah Dokter 12 15 21 Jumlah Perawat 100 111 151 Jumlah Non-Perawat 40 3 105 Persentase Penolong Kelahiran dengan Medis (%) Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Sorong Selatan dan Susenas *), 2011-2013 6.1 55,42 68,09 68,46 Distribusi Puskesmas dan Pustu menurut Distrik di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 (unit) Fkour Sawiat Wayer Saifi Seremuk Konda Teminabuan Moswaren Matemani Kais Kokoda Utara Kokoda Inanwatan Indikator Kesehatan Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 puskesmas pembantu 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 2 1 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong Selatan, 2013 puskesmas 3 3 3 4 Angka Harapan Hidup (AHH) umumnya digunakan untuk mengukur derajat kesehatan suatu wilayah. AHH dihitung berdasarkan harapan hidup waktu lahir. Pada tahun 2011, AHH sebesar 66,82 tahun meningkat menjadi 66,99 tahun pada tahun 2012 dan bertambah sebanyak 0,08 tahun menjadi 67,07 tahun pada tahun 2013. Angka harapan hidup per tahun di Sorong Selatan tercatat tidak melebihi satu tahun dalam periode jangka waktu satu tahun. Artinya kondisi angka kematian bayi (infant mortality rate) di Sorong Selatan termasuk dalam kategori hardrock, yaitu dalam satu tahun penurunan angka kematian bayi yang tajam sulit terjadi. Sehingga implikasinya adalah AHH yang dihitung berdasarkan harapan hidup waktu lahir menjadi lambat untuk mengalami kemajuan. Hingga tahun 2013, hanya tersedia satu unit rumah sakit di Sorong Selatan yang pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah daerah. Untuk melayani sebanyak 41.085 jiwa penduduk Sorong Selatan pada tahun 2013, pelayanan kesehatan juga dibantu oleh fasilitas puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu) yang telah tersedia di seluruh distrik. Jumlah puskesmas tersebar merata sebanyak satu unit di masing-masing distrik. Sedangkan Distrik Moswaren memiliki jumlah pustu terbanyak yaitu sebanyak 4 unit. Jumlah pustu tidak berubah dari tahun 2012, yaitu sebanyak 26 unit. Terdapat peningkatan yang relatif tinggi pada penolong kelahiran bayi oleh medis (dokter, bidan dan paramedis) di tahun 2013 menjadi 68,46 persen. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 19
KESEHATAN Sebagian Besar Penduduk Memilih Berobat di Puskesmas Pembantu (Pustu) Adanya pustu sebagai fasilitas kesehatan disamping puskesmas, menjadi pilihan mayoritas penduduk Sorong Selatan. Selama 2010-2012, persentase penduduk yang berobat di pustu selalu di atas 70 persen. 6 Dari 119 desa/kelurahan terdapat 26 puskesmas pembantu (pustu) sehingga rasio penduduk terhadap pustu tercatat yaitu 1 : 1.580, artinya satu pustu di Kabupaten Sorong Selatan harus melayani sebanyak 1.580 penduduk. Nilai ini merupakan gambaran kasar karena pada kenyataannya cakupan wilayah yang luas dan letak geografis Sorong Selatan yang cukup sulit dapat menghambat pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Teminabuan sebagai ibukota kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak hanya memiliki 3 pustu yang melayani 4.169 penduduk. Fasilitas pustu sangat diperlukan untuk menunjang kualitas kesehatan masyarakat sampai pada level wilayah administrasi terkecil yaitu desa/ kelurahan. Dari total 13 kecamatan di Sorong Selatan ternyata jumlah pustu hanya mencapai 26 unit. Jumlah tersebut belum setara dengan jumlah desa/kelurahan di Sorong Selatan yang mencapai 121 desa/kelurahan (119 desa dan 2 kelurahan), artinya rata-rata satu pustu harus melayani 4-5 desa/kelurahan. Padahal persentase penduduk yang memilih berobat jalan ke puskesmas/pustu adalah yang tertinggi di antara fasilitas tempat berobat lainnya, mencapai 85,75 persen pada tahun 2013. Tahun 2013, persentase penduduk yang berobat jalan ke puskesmas/pustu meningkat sebesar 1,22 persen dibandingkan tahun 2012, seiring dengan berkurangnya persentase penduduk yang berobat jalan ke praktek/tenaga kesehatan. Ketersediaan tenaga kesehatan juga merupakan kebutuhan yang bersifat urgen selain fasilitas sarana 6.2 Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Sorong Selatan (jumlah puskesmas), 2013 6.3 Jumlah Puskesmas dan Rasio Penduduk terhadap Puskesmas per 1000 penduduk di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Persentase Penduduk Berobat Jalan di Kabupaten Sorong Selatan menurut Tempat Berobat 2011-2013 (%) Sumber: Susenas, 2010-2012 Sumber: Susenas, 2011-2013 TAHUKAH ANDA Selama 2 tahun terakhir, ISPA menjadi penyakit yang paling banyak diderita penduduk Sorong Selatan, Sedangkan malaria meraih peringkat ketiga. 20 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
6 KESEHATAN Tahun 2012, Lebih Sedikit Dokter yang Menolong Kelahiran Balita Tahun 2012, persentase penolong kelahiran terakhir dibantu dokter sebesar 2,49 persen, menurun dibandingkan tahun 2011 (13,79 %). 6.4 2.49 Sumber : Susenas, 2011-2012 6.5 7.50 Persentase Penolong Kelahiran Akhir Balita Kabupaten Sorong Selatan 2012-2013 (%) 35.00 30.60 27.69 24.42 Dokter Bidan Tenaga Paramedis lain Sumber: SUsenas, 2011-2012 16.23 34.71 10.90 Persentase Anak Usia 2-4 Tahun yang Pernah Disusui Menurut Lamanya Disusui di Kabupaten Sorong Selatan 2011-2012 (%) TAHUKAH ANDA 2012 2013 5.68 4.79 0.00 Dukun Famili Lainnya Kabupaten Sorong Selatan masih daerah endemik malaria. Pasien terbanyak dirawat inap di RSUD Scholoo terdiagnosa malaria. kesehatan. Tahun 2013, jumlah tenaga kesehatan, terkhusus untuk ketersediaan tenaga dokter sangat minim meskipun mengalami kenaikan. Jumlah dokter yang tersedia hanya 21 orang sedangkan perawat tersedia sebanyak 151 orang. Untuk melayani seluruh penduduk Sorong Selatan, beban kerja seorang dokter umum di Sorong Selatan harus melayani sekitar 1.956 orang. Sementara satu orang perawat harus melayani sekitar 272 orang. Persentase penolong kelahiran akhir balita di Sorong Selatan yang berasal dari tenaga medis bervariasi. Penolong kelahiiran oleh dokter melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2012 menjadi sebesar 7,50 persen. Namun penolong kelahiran oleh bidan dan tenaga paramedis lain justru menurun. Sementara itu penolong kelahiran oleh dukun justru melonjak dari 16,23 persen di tahun 2012 menjadi 34,71 persen di tahun 2013. Masih tingginya persentase penolong kelahiran tenaga non medis menunjukkan berkurangnya kesadaran masyarakat terhadap kelahiran yang sehat dan aman menggunakan jasa medis. Sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Asi Eksklusif, yaitu 0-6 bulan dilanjutkan sampai 2 tahun, sekitar 32,11 persen anak usia 2-4 tahun di Kabupaten Sorong Selatan tahun 2013 disusui selama lebih atau sama dengan 24 bulan (2 tahun). Nilai ini lebih besar jika dibandingkan dengan data tahun 2012 (27,61 persen). Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran ibu terhadap pentingnya ASI terhadap bayi meningkat. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 21
PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN Kondisi Perumahan di Sorong Selatan Mengalami Sedikit Perbaikan Kualitas Beberapa indikator perumahan di Sorong Selatan masih relatif baik kondisinya diantaranya kepemilikan rumah, jenis lantai terluas dan fasilitas buang air besar/jenis kloset. 7 Perumahan atau tempat tinggal yang layak merupakan salah satu kebutuhan dasar hidup manusia. Rumah dikategorikan sebagai kebutuhan dasar karena pengaruhnya sangat krusial bagi kelangsungan hidup seseorang. Salah satu indikator untuk penghitungan garis kemiskinan adalah kebutuhan dasar akan tempat tinggal. Rumah dikatakan kumuh jika memenuhi kriteria: (1) Akses air minum tidak layak, adalah rumah tangga yang sumber air minumnya bukan berasal dari ledeng, air hujan, pompa/sumur bor, sumur terlindungi, mata air terlindung dengan jarak < 10 m dari penampungan kotoran; (2) Akses sanitasi tidak layak adalah rumah tangga yang tidak mempunyai fasilitas buang air besar sendiri dan bersama, kloset leher angsa dan tangki septik pembuangan kotoran; (3) Kecukupan luas lantai perkapita < 7,2 m 2 ; (4) Daya tahan rumah mempunyai kriteria : jenis atap terluas ijuk/rumbia, jenis dinding terluas bambo, jenis lantai terluas tanah. Kriteria ini dikatakan tidak tahan apabila minimal dua kriteria terpenuhi. Kondisi perumahan di Kabupaten Sorong Selatan pada tahun 2013 mengalami perbaikan kualitas. Terjadi peningkatan satus kepemilikan rumah milik sendiri menjadi 89,28 persen. Juga dalam hal luas lantai terjadi peningkatan pada pemilik luas lantai lebih dari 8 m 2 menjadi 58,89 persen. Sementara dari dinding terluas, jenis tembok meningkat menjadi sebesar 38,33. Demikian pula dari sisi atap terluas, jenis beton dan seng meningkat menjadi masingmasing sebesar 1,98 persen dan 72,24 persen. Uraian Kepemilikan Rumah (%) Sumber : Susenas, 2012-2013 2012 2013 Milik Sendiri 82,37 89,28 Kontrak 0,60 0,00 Sewa 3,73 3,29 Lainnya 13,30 7,43 Luas Lantai (m 2 ) Indikator Perumahan dan Lingkungan Kabupaten Sorong Selatan 2011-2012 8 77,26 41,11 > 8 22,74 58,89 Jenis Lantai Terluas (%) Bukan Tanah 97,62 96,45 Tanah 2,38 3,55 Jenis Dinding Terluas (%) Tembok 27,28 38,33 Kayu 47,64 47,32 Bambu 0,43 0,01 Lainnya 24,65 14,34 Jenis Atap Terluas (%) Beton 0,00 1,98 Genteng 0,89 0,39 Kayu Sirap 0,00 0,00 Seng 69,43 72,24 Ijuk/Rumbia 24,82 23,34 Lainnya 4,86 0,55 Tabel 7.1 Kondisi Rumah di Distrik Sawiat, Kabupaten Sorong Selatan Sumber: Dokumentasi Lapangan 22 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
7 PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN Sorong Selatan Belum Terbebas dari Kriteria Kumuh Meskipun secara akses sanitasi, kecukupan luas lantai dan daya tahan rumah di Kabupaten Sorong Selatan cukup memenuhi syarat, namun secara sanitasi dan akses air minum layak, kabupaten ini masih belum memenuhi standar. 7.1 Sumber: : Susenas, 2013 7.2 Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Air Minum dan Air Mandi/Cuci di Kabupaten Sorong Selatan 2013 (%) 7.39 10.88 7.61 8.15 4.23 6.81 3.97 4.34 4.43 0.480.87 0.47 4.43 1.82 0.00 0.11 Air isi ulang Leding meteran Sumber: : Susenas, 2013 air minum air mandi/cuci 42.74 60.85 24.65 5.08 0.70 0.00 Leding Sumur bor Sumur Sumur tak Mata air Mata air Air sungai Air hujan Lainnya eceran terlindungi terlindungi terlindungi tak terlindungi Persentase Rumah Tangga menurut Fasilitas Buang Air Besar dan Jenis Kloset di Kabupaten Sorong Selatan 2013 (%) Mayoritas rumah tangga di Kabupaten Sorong Selatan menggunakan air sungai sebagai sumber air minum (42,74 persen) dan air hujan (24,65 persen). Sedangkan yang menggunakan air isi ulang dan ledeng hanya sebesar 7,39 persen dan 7,61 persen. Sementara yang menggunakan air dari mata air terlindungi hanya sebesar 4,43 persen. Dengan demikian, persentase rumah tangga yang memenuhi akses air minum layak masih minim. Sedangkan untuk kebutuhan mandi/cuci mayoritas rumah tangga menggunakan air sungai (60,85 persen) dan ledeng meteran (10,88 persen). Salah satu indikator rumah layak huni adalah memiliki fasilitas tempat buang air besar (WC) sendiri. Sebanyak 29,04 persen rumah tangga di Sorong Selatan telah memiliki tempat pembuangan air besar sendiri. Angka ini lebih tinggi dibandingkan angka rumah tangga yang menggunakan fasilitas bersama (28,51 persen) dan umum (22,47 persen). Kondisi ini menunjukkan bahwa, rumah tangga di Sorong Selatan semakin peduli terhadap aspek kesehatan dengan memiliki fasilitas BAB sendiri. Sementara itu masih ada sebesar 19,98 persen rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air besar. Sementara itu kloset yang paling banyak digunakan berjenis leher angsa (67,03 persen) dan plengsengan (28,93 persen). Penggunaan dua jenis kloset ini memberikan dampak sanitasi yang baik, meskipun masih ada sebesar 4,04 persen yang memiliki jenis kloset cemplung dimana menurut standar sanitasi kurang memenuhi syarat. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 23
PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN Kayu Bakar Masih Menjadi Bahan Bakar Utama Pengunaan bahan bakar kayu bakar untuk memasak tergolong sangat fantastis, yaitu mencapai 75,12 persen dari total rumah tangga di Sorong Selatan, diikuti penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar memasak oleh sekitar 23,61 persen. 7 Secara umum kondisi perumahan di Sorong Selatan sudah cukup syarat untuk terbebas dari kriteria kumuh meskipun masih terdapat satu kriteria yang nilainya masih tinggi yaitu sumber air minum. Mayoritas rumah tangga masih menggunakan sumber air minum terbuka, yaitu air sungai. Padahal air sungai juga menjadi sumber utama mayoritas rumah tangga untuk mandi/cuci. Selain itu masih ada yang tidak memiliki atau menggunakan fasilitas buang air besar. Sebagian besar rumah tangga di Sorong Selatan menggunakan kayu bakar untuk memasak, yaitu sebesar 80,14 persen, meningkat dari tahun 2012. Sedangkan pengguna minyak tanah sebesar 18,97 persen menurun dari tahun sebelumnya. Hal ini diduga disebabkan saat terjadinya kelangkaan minyak sehingga rumah tangga beralih ke bahan bakar yang mudah dijangkau. Penggunaan bahan bakar gas/elpiji masih jarang di Sorong Selatan dan persentasenya menurun di tahun 2013 (0,89 persen). Untuk sumber penerangan, rumah tangga di Sorong Selatan hanya 28,51 persen yang menggunakan listrik PLN. Angka ini lebih baik jika dibandingkan penggunaan listrik non PLN oleh rumah tangga sebesar 27,70 persen. Hal ini disebabkan karena belum seluruh distrik dan desa yang teraliri listrik. Hal ini pula yang menyebabkan mayoritas masyakarat masih menggunakan sumber penerangan paling tradisional yaitu pelita/sentir/obor (42,30 persen). Pemerintah daerah perlu memperhatikan faktor penerangan dikarenakan berkaitan langsung dengan aspek lain, misal pendidikan dan kesehatan. 7.3 Sumber: Susenas, 2012-2013 7.4 Persentase Rumah Tangga menurut Bahan Bakar Memasak di Kabupaten Sorong Selatan 2012-2013 (%) Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Penerangan di Kabupaten Sorong Selatan 2012-2013 (%) 2013 2012 Sumber: Susenas, 2012-2013 2012 2013 TAHUKAH ANDA Tahun 2012, Sorong Selatan menjadi pengguna pelita/sentir/obor tertinggi se- Papua Barat sebesar 49,34 persen. 24 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
8 PEMBANGUNAN MANUSIA Capaian IPM Sorong Selatan Termasuk Kelompok Menengah Atas IPM Sorong Selatan sebesar 66,83 persen berada pada kelompok menengah atas (66 IPM<80) pada klasifikasi yang ditetapkan oleh UNDP. Tabel 8.1 Komponen IPM Maksimum Minimum Keterangan (1) (2) (3) (4) Angka Harapan Hidup 85 25 Standar UNDP Angka Melek Huruf 100 0 Standar UNDP Rata-rata Lama Sekolah Daya Beli Indikator Pembangunan Manusia Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 Uraian 2011 2012 2013 IPM 66,59 66,83 67,28 Angka Harapan Hidup (th) 66,82 66,99 67,07 Angka Melek Huruf (%) 88,43 88,45 88,56 Rata-rata Lama Sekolah (th) Pengeluaran per Kapita Riil Disesuaikan (PPP) (ribu Rp) 732.720 a 15 0 a) Perkiraan maksimum pada akhir PJP II tahun 2018 8,06 8,09 8,10 586.84 588,85 590,23 Indeks Kesehatan (%) 69,70 70,00 70,11 Indeks Pendidikan (%) 76,86 76,90 76,94 Indeks Pengeluaran (%) 53,20 53,60 53,57 Peringkat IPM 7 8 9 Sumber: Susenas, 2011-2013 FORMULASI PENGHITUNGAN IPM IPM terdiri dari 3 indeks, yaitu indeks kesehatan, indeks pendidikan dan indeks daya beli. UNDP menggunakan Combined Gross Enrollment Ratio 300.000 UNDP menggunakan PDB riil per 360.000 b kapita yang telah disesuaikan b) Penyesuaian garis kemiskinan lama dengan garis kemiskinan yang baru Pengukuran kinerja pembangunan seringkali identik dengan nominal PDRB dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Padahal asumsi tersebut tidak selamanya efektif. Pertumbuhan ekonomi tinggi namun tidak berkualitas kadang gagal dalam mengentaskan kemiskinan dan menekan angka pengangguran. Apalagi tanpa disertai dengan pemerataan distribusi pendapatan masyarakat. Diperlukan sebuah parameter lainnya yang bersama-sama dapat digunakan sebagai alat ukur keberhasilan pembangunan. Paradigma baru muncul untuk mengukur pembangunan dari sisi manusia atau dikenal dengan indeks pembangunan manusia (IPM). IPM adalah indeks komposit yang terbentuk atas empat komponen indikator, yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan kemampuan daya beli/purchasing power parity (PPP). Indikator angka harapan hidup merefleksikan dimensi hidup sehat dan umur panjang. Indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah merepresentasikan output dari dimensi pendidikan. Indikator kemampuan daya beli untuk menjelaskan dimensi hidup layak. IPM Kabupaten Sorong Selatan terus meningkat setiap tahun. Di tahun 2013 IPM meningkat menjadi 67,28 persen dibandingkan tahun 2012 dan 2011 sebesar 66,83 persen dan 66,59 persen. Dalam klasifikasi UNDP capaian IPM Sorong Selatan masih termasuk ke dalam golongan menengah atas (66 IPM<80). Komponen-komponen penyusun IPM juga terus mengalami peningkatan. Seperti Angka Harapan Hidup STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 25
PEMBANGUNAN MANUSIA Peringkat IPM Sorong Selatan Menurun Capaian IPM Sorong Selatan tahun 2012 sebesar 66,83 persen menempatkan kabupaten ini pada peringkat 8 dari 11 kab/kota se-papua Barat atau menurun satu level dibandingkan tahun 2011, namun seluruh komponennya meningkat. 8 yang meningkat selama dari 2010-2012 meski hanya rata-rata sebesar 0,20 tahun. Pada tahun 2013, Angka Harapan Hidup meningkat menjadi 67,07 tahun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 66,99 tahun. Indikator pendidikan yang meliputi Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah juga mengalami peningkatan. Angka Melek Huruf di tahun 2012 sebesar 88,45 persen meningkat menjadi 88,56 persen di tahun 2013. Sedangkan Rata-rata Lama Sekolah meningkat menjadi 8,10 tahun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 8,09 tahun. PPP Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 telah mengalami kenaikan 1,38 ribu rupiah menjadi 590,23 ribu rupiah pada tahun 2013 dengan indeks sebesar 53,57 persen. Secara regional peringkat IPM Kabupaten Sorong Selatan berada pada ranking 9 dari 13 kabupaten/kota. Peringkat tersebut masih berada di atas Raja Ampat (10), Manokwari Selatan(11), Peg. Arfak(12) dan Tambrauw(11). Meskipun peringkat IPM Sorong Selatan menurun satu tingkat untuk regional Papua Barat, namun semua komponennya meningkat dibandingkan tahun 2012. Reduksi shortfall menunjukkan kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu tertentu. Reduksi shortfall Kabupaten Sorong Selatan tahun 2012-2013 mencapai 1,34 persen atau meningkat dibandingkan dengan tahun 2011-2012 yang mencapai 0,74 persen. Hal ini menunjukkan semakin tingginya kinerja ketiga indeks IPM selama tahun 2009-2013. Reduksi shortfall tahun 2012-2013 juga merupakan capaian tertinggi kurun waktu 5 tahun ini. 8.1 Sumber: BPS RI, 2009-2013 8.2 IPM Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2009-2013 (%) Reduksi Shortfall IPM Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2009-2013 (%) Sumber: BPS RI, 2009-2013 TAHUKAH ANDA IPM Provinsi Papua Barat selama dua tahun berturut-turut bertengger di posisi 29 se- Indonesia. Mengalahkan Provinsi Maluku Utara, NTB, NTT dan Papua. 26 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
8 PEMBANGUNAN MANUSIA Garis Kemiskinan Sorong Selatan Meningkat Garis Kemiskinan meningkat menjadi 236.827 rupiah di tahun 2011, selisih 8.859 rupiah dibandingkan garis kemiskinan tahun 2010. Potret Kemiskinan di Sorong Selatan Sumber: Dokumentasi Lapangan Tabel 8.2 Uraian 2010 2011 2012 2013 Garis Kemiskinan (GK) GK Total 227 968 236 827 245 904 255 932 Penduduk Miskin Jumlah (ribu) 10,60 9,09 8,10 8,50 Persentase (%) 23,02 22,93 19,96 20,50 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) (%) Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2 ) (%) Indikator Kemiskinan Sorong Selatan 2010-2013 4,15 4,09 3,76 2,82 1,19 1,22 1,14 0,56 Metode penghitungan jumlah penduduk miskin dilakukan dengan pendekatan benchmark garis kemiskinan. Garis kemiskinan terdiri dari dua komponen, yaitu garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan non makanan. Garis kemiskinan adalah nilai rupiah yang harus dikeluarkan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimumnya, baik itu kebutuhan dasar makanan maupun non makanan. Seseorang dikatakan miskin bila berada dibawah garis kemiskinan. Pendekatan garis kemiskinan makananan digunakan standar kebutuhan hidup minimum 2.100 kilo kalori didasarkan pada konsumsi makanan, sedangkan garis kemiskinan non makanan untuk memenuhi kebutuhan dasar bukan makanan seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, pakaian, serta aneka barang dan jasa. Berdasarkan metode tersebut maka diperoleh garis kemiskinan Sorong Selatan 2013 sebesar 255.932 rupiah. Garis kemiskinan tersebut meningkat dari 245.904 rupiah pada tahun 2012 atau bertambah 10.028 rupiah. Kenaikan garis kemiskinan dipicu oleh kenaikan harga barang dan jasa. Garis kemiskinan tercatat terus mengalami peningkatan dari tahun ke Sumber: Susenas Juli, 2009-2010; September 2011-2013 TAHUKAH ANDA Garis Kemiskinan Kabupaten Sorong Selatan selama 2008-2011 adalah yang terendah se-provinsi Papua Barat, Hal ini memberikan peluang semakin kecil penduduk miskin jika dibandingkan kabupaten/kota lain di Papua Barat. tahun. Peningkatan signifikan terjadi pada tahun 2010 dimana garis kemiskinan bertambah sebesar 18.653 rupiah. Peningkatan garis kemiskinan ini memberikan peluang untuk terjadinya penambahan penduduk miskin jika tidak diimbangi dengan peningkatan tingkat pendapatan masyarakat. Fenomena ini nampaknya semakin kuat terjadi dikarenakan persentase penduduk miskin tahun 2013 mengalami peningkatan STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 27
PEMBANGUNAN MANUSIA Persentase Penduduk Miskin Menurun Jumlah penduduk miskin Sorong Selatan berkurang dari 9.093 jiwa di tahun 2011 menjadi 8.900 jiwa di tahun 2012. Dilihat dari persentasenya, penduduk miskin menurun dari 22,93 persen di tahun 2011 menjadi 19,48 persen di tahun 2012. 8 menjadi sebesar 20,50 persen. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk miskin tahun 2013 sebesar 8.500 jiwa atau mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi tahun 2012 yang mencapai 8.100 jiwa atau terjadi penambahan penduduk miskin sekitar 400 jiwa. Meskipun begitu persentase penduduk miskin di Sorong Selatan relatif kecil atau menempati urutan ke- 9 dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat. Jumlah dan persentase kemiskinan di Kabupaten Sorong Selatan mengalami peningkatan, namun tidak terjadi dengan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1). Indeks P1 turun dari 3,76 persen di tahun 2012 menjadi 2,82 persen di tahun 2013. Penurunan ini memberikan indikasi semakin dekatnya rata-rata penduduk miskin dengan garis kemiskinan. Demikian pula dengan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang menurun pada tahun 2013 menjadi sebesar 0,56 persen. Kondisi ini memberi indikasi ketimpangan pendapatan antar penduduk miskin semakin rendah. Upaya pengentasan kemiskinan perlu memprioritaskan program-program pembangunan yang pro penduduk miskin (pro poor policy). Penanggulangan kemiskinan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan penduduk miskin dan mengurangi pengeluaran kebutuhan dasar penduduk miskin, misalnya pelayanan pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat miskin. Selain itu juga perlu disinergikan kebijakan pemerintah daerah dengan pemerintah pusat terkait program-program pembangunan, seperti program pemberdayaan masyarakat semisal PNPM Respek. 8.3 Dimana: Formulasi Ukuran Kemiskinan: α = 0,1,2 z = garis kemiskinan yi = rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan q = banyaknya penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan n = jumlah penduduk α = 0 Head Count Index (P0) = Persentase Penduduk Miskin α = 1 Poverty Gap Index (P1) = Indeks Kedalaman Kemiskinan α = 2 Poverty Saverity Indeks (P2) = Indeks Keparahan Kemiskinan DEFINISI: Ilustrasi Kemiskinan Indeks Kedalaman Kemiskinan/Proverty Gaps Index (P1) adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas miskin. Indeks Keparahan Kemiskinan/Proverty Severity Index (P2) digunakan untuk mengukur ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. 28 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
8 PEMBANGUNAN MANUSIA Ketimpangan Pendapatan Masih Terjadi Distribusi pendapatan Sorong Selatan belum mencapai pemerataan yang ideal. Menurut Kemerataan Bank Dunia, ketimpangan pendapatan terutama terjadi pada 40 persen pendapatan terbawah dan 20 persen pendapatan teratas. Tabel 8.3 Uraian 2011 2012 2013 Gini Ratio (%) 0,42 0,36 0,27 Kemerataan Bank Dunia (%): 40 persen pendapatan terbawah 40 persen pendapatan menengah 20 persen pendapatan teratas Sumber: Susenas, 2011-2013 8.4 Sumber: Susenas, 2013 Indikator Kemerataan Pendapatan Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 17,03 22,82 21,03 33,15 36,22 39,39 49,82 40,96 39,57 Kemerataan Distribusi Pendapatan menurut Bank Dunia di Kabupaten Sorong Selatan 2013 (%) 20 40 40 ideal CATATAN 39.57 39.39 21.03 ketimpangan Ukuran Kemerataan Bank Dunia: Proporsi jumlah pendapatan dari 40 persen terbawah: < 12 persen : ketimpangan tinggi 12-17 persen : ketimpangan sedang > 17 persen : ketimpangan rendah Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selamanya dapat secara langsung mengentaskan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi tinggi bila tidak diikuti oleh pemerataan distribusi pendapatan tidak akan berdampak pada masyarakat bawah karena sebagian besar pendapatan dikuasai oleh sekelompok kecil masyarakat elit sedangkan sebagian masyarakat lain yang berpendapatan rendah tetap berada dalam keadaan miskin. Kemerataan menurut Bank Dunia dikelompokkan kedalam 40 persen pendapatan terbawah, 40 persen pendapatan menengah, dan 20 persen pendapatan teratas. Idealnya, setiap kelompok pendapatan terdistribusi kedalam kumulatif jumlah penduduk pada kelompok yang sama agar tercapai kemerataan sempurna. Namun pada kenyataanya kondisi ideal tersebut sangat sulit terbentuk. Kondisi kemerataan pendapatan di Sorong Selatan menunjukkan masih terjadi ketidakmerataan pendapatan. Secara umum kondisi yang paling tidak merata adalah pada 40% pendapatan terbawah dan 20% pendapatan teratas. Di tahun 2013, pada 40 persen pendapatan terbawah yang seharusnya dinikmati oleh 40 persen penduduk ternyata 40 persen penduduk hanya menikmati 21,03 persen pendapatan. Keadaan justru terbalik di 20% pendapatan teratas yang seharusnya dinikmati oleh 20% penduduk. Ternyata 20% penduduk menikmati 39,57 persen pendapatan. Berarti bahwa sekelompok kecil orang memiliki pendapatan yang tinggi sementara sebagian besar lain memiliki pendapatan yang rendah. Situasi ini STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 29
PEMBANGUNAN MANUSIA Gini Ratio Sorong Selatan 0,36 Persen Gini Ratio Sorong Selatan tahun 2012 sebesar 0,36 persen yang termasuk dalam kategori sedang, angka ini tertinggi keenam se-provinsi Papua Barat. 8 juga mengandung makna sekelompok masyarakat yang jumlahnya relatif kecil menguasai pendapatan yang besar, sebaliknya masyarakat miskin jumlahnya lebih banyak namun pendapatannya rendah. Pola kemerataan menurut Bank Dunia untuk distribusi pendapatan di Sorong Selatan tahun 2012-2013 menunjukkan kondisi yang tidak ideal dan seragam dan secara tren menunjukkan sedikit perbaikan. Pada 40% pendapatan terbawah, di tahun 2012 yang persentase idealnya 40 persen penduduk, yang terjadi adalah hanya ditempati oleh 22,82 persen namun menurun menjadi 21,03 persen di tahun 2012. Demikian pula untuk 20% penduduk berpendapatan tinggi menguasai pendapatan yang besar sebanyak 40,96 persen pendapatan di tahun 2012 kemudian menurun menjadi 39,57 persen di tahun 2013. Ukuran ketimpangan pendapatan lainnya adalah menggunakan koefisien gini (gini ratio). Gini ratio Kabupaten Sorong Selatan pada tahun 2013 menurun dibandingkan tahun 2012 menjadi sebesar 0,27. Berdasarkan p e n g e lomp o k a n n y a, t ingka t ketidakmerataan distribusi pendapatan di Sorong Selatan termasuk ke dalam kategori rendah. Jika dibandingkan tahun 2012, tingkat kemerataan di Sorong Selatan tahun 2013 lebih baik. Gini ratio Sorong Selatan menjadi terendah ketiga bahkan lebih baik dari angka Provinsi Papua Barat. Hal ini berarti, dibandingkan 8 kabupaten/kota lain, ketimpangan distribusi pendapatan di Sorong Selatan lebih rendah. Gini ratio Sorong Selatan terpaut cukup jauh dibandingkan Tambrauw (0,21) dan Maybrat (0,25). 8.5 Sumber: Susenas, 2013 Angka Koefisien Gini adalah ukuran kemerataan pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas pendapatan. Angka koefisien Gini terletak antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nol mencerminkan kemerataan sempurna dan satu menggambarkan ketidakmerataan sempurna. Nilai 0,5-0,7 menggambarkan ketidakmerataan tinggi; 0,36-0,49 ketidakmerataan sedang; dan 0,20-0,35 mengalami ketidakmerataan rendah. 8.6 DEFINISI Gini Ratio Kabupaten Sorong Selatan 2012 Gini Ratio Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2013 Sumber: Susenas, 2013 GR = 0,27 Manokwari Papua Barat Fak-Fak Kaimana Raja Ampat Kota Sorong Teluk Wondama Teluk Bintuni Sorong Sorong Selatan Maybrat Tambrauw 0.42 0.41 0.39 0.38 0.37 0.37 0.35 0.30 0.29 0.27 0.25 0.21 30 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
9 PERTANIAN Luas Panen dan Produksi Jagung dan Kedelai Meningkat Di tahun 2012 luas panen dan poduksi tanaman jagung dan kedelai mengalami peningkatan, namun untuk padi, ubi jalar dan ubi kayu menurun. 9.1 Sumber: BPS Kabupaten Sorong Selatan, 2013 Tabel 9.1 Padi Ladang Uraian 2011 2012 2013 Luas Panen (Ha) 111 95 55 Produksi (Ton) 226 200 125 Produktivitas (Ton/Ha) 2,04 2,11 2,27 Jagung Luas Panen (Ha) 62 93 51 Produksi (Ton) 126 187 103 Produktivitas (Ton/Ha) 2,03 2,01 2,02 Kedelai Luas Panen (Ha) 26 74 67 Produksi (Ton) 28,6 96 87 Produktivitas (Ton/Ha) 1,1 1,3 1,3 Ubi Jalar Luas Panen (Ha) 47 42 11 Produksi (Ton) 295 257,4 69.3 Produktivitas (Ton/Ha) 6,3 6,12 6,3 Ubi Kayu Share Sektor Pertanian terhadap PDRB Sorong Selatan Tahun 2011-2013 (%) Indikator Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2011-2013 Sektor pertanian merupakan sektor primer yang berbasis pada sumber daya alam dimana sebagian besar produknya digunakan untuk bahan baku sektor lainnya dan konsumsi rumah tangga. Sektor ini memberikan share utama pada PDRB di Kabupaten Sorong Selatan. Di tahun 2013 kontribusi sektor pertanian mencapai 34,85 persen dari total PDRB Sorong Selatan. Selain itu jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini terbanyak dibanding sektor lain, mencapai 70,04 persen. Dalam tiga tahun terakhir kontribusi sektor ini cenderung mengalami penurunan. Selama tiga tahun terakhir, produksi padi ladang mengalami penurunan yang cukup signifikan dari sebesar 226 Ton tahun 2011 menjadi hanya 125 ton tahun 2013. Dengan 70,04 persen tenaga kerja hanya mampu memberikan sumbangan sebesar 34,85 persen. Pertumbuhan ekonomi yang mampu diberikan oleh sektor pertanian juga relatif rendah (4,25 persen) dibandingkan dengan sektor lain yang digerakkan oleh sumber daya manusia yang lebih kecil. Contohnya sektor industri pengolahan, dengan persentase tenaga kerja hanya 1,3 persen saja mampu menciptakan pertumbuhan Luas Panen (Ha) 56 39 32 Produksi (Ton) 187 127 106 Produktivitas (Ton/Ha) 3,3 3,26 3,31 Sumber: Diolah dari Hasil Laporan Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan, 2010-2012 ekonomi 13,99 persen. Produksi padi ladang di Sorong Selatan tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 37,50 persen dibandingkan tahun 2012. Penurunan ini terjadi pengurangan luas panen dari 95 Ha di tahun 2012 menjadi 55 Ha di tahun 2013. Hanya saja meskipun terjadi penurunan luas lahan dan produksi tidak berdampak pada penurunan produktivitas. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 31
PERTANIAN Produksi Kelapa dan Kakao Kurang Menggembirakan Pada tahun 2012, produksi tanaman perkebunan di Sorong Selatan, yaitu kelapa dan kakao belum optimal. Produksi kelapa hanya bertambah 1 ton sedangkan produksi kakao justru jatuh drastis hanya sebesar 2,6 ton dari sebelumnya 727,5 ton (tahun 2011). 9 Berdasarkan perbandingan hasil Sensus Pertanian (ST) tahun 2003 dan 2013, terjadi pengurangan jumlah rumah tangga usaha pertanian dari 5.355 rumah tangga tahun 2003 menjadi 4.782 rumah tangga pada tahun 2013. Apabila dilihat secara subsektor, rumah tangga usaha pertanian tanaman pangan dan rumah tangga usaha kehutanan yang mengalami penurunan masing-masing sebesar 34,46 persen dan 24,51 persen. Sedangkan jumlah rumah tangga lima subsektor lainnya justru mengalami peningkatan. Jumlah rumah tangga subsektor perikanan mengalami lonjakan yang sangat signifikan sebesar 98,02 persen. Sedangkan untuk rumah tangga usaha jasa pertanian yang sebelumnya tidak ditemukan pada ST2003, kini terdapat sebanyak 110 rumah tangga pada ST2013. Komoditas unggulan subsektor perkebunan di Sorong Selatan adalah kelapa dan kakao. Namun selama periode 2009-2012, perkembangan produksi kedua jenis komoditi ini kurang menggembirakan. Produksi kelapa dalam empat tahun terakhir tidak mengalami peningkatan berarti, dari 107 ton tahun 2011 menjadi 108 ton tahun 2012. Demikian pula dengan komoditi kakao, yang nasibnya jauh lebih tragis dengan penurunan produksi hampir 100 persen menjadi hanya sebesar 2,6 ton di tahun 2012. Disamping perencanaan program pertanian yang matang dan sinergis, pemerintah daerah hendaknya juga menyiapkan pemasaran yang tepat untuk menjual komoditi pertanian yang dihasilkan. Sehingga program yang disiapkan benar-benar bernilai ekonomis bagi petani atau masyarakat pada umumnya. 9.2 Sumber: ST2013 9.3 Sumber: Dinas Pertanian Kab. Sorong Selatan, 2009-2012 32 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian di Kabupaten Sorong Selatan Menurut Subsektor ST2003 dan ST2013 Produksi Tanaman Kelapa dan Kakao Sorong Selatan Tahun 2009-2012 (Ton) 1350 1160 152 176 727.5 107 108 2.6 2009 2010 2011 2012 Kelapa Kakao TAHUKAH ANDA Sentra tanaman padi di Sorong Selatan adalah Distrik Moswaren. Produksi padinya mencapai 85 persen dari total produksi padi ladang Sorong Selatan.
9 PERTANIAN Banyaknya Rumah Tangga Pertanian Menurun Banyaknya Rumah Tangga Pertanian (RTP) dari hasil Sensus Pertanian 2013 mengalami penurunan jika dibandingkan data Sensus Pertanian 2003, yaitu dari 5.355 RTP menjadi 4.782 RTP. 9.5 Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sorong Selatan, 2013 Tabel 9.2 Persentase Komoditi Perikanan di Kabupaten Sorong Selatan 2013 (%) Banyaknya Rumah Tangga Pertanian dan Sapi Potong Berdasarkan Hasil Sensus Pertanian 2003 dan 2013 dan PSPK 2011 di Kabupaten Sorong Selatan Distrik Rumah Tangga Pertanian (RTP) Sapi Potong 2003 2013 2011 2013 Inanwatan 427 407 1 - Kokoda 815 540 - - Kokoda Utara 320 231 - - Kais 519 427 - - Matemani 404 287 - - Moswaren 307 361 436 420 Teminabuan 984 952 117 118 Perikanan di Kabupaten Sorong Selatan menjadi salah satu unggulan dari sektor pertanian karena komoditas ini berkontribusi sekitar 11,92 persen terhadap total PDRB Kabupaten Sorong Selatan dan penyumbang kedua terbesar setelah subsektor kehutanan terhadap PDRB sektor pertanian. Dilihat dari persentasenya, base komoditi perikanan Kabupaten Sorong Selatan berupa udang (31,43 persen), ikan kembung (37,27 persen) dan ikan manyung (18,95 persen). Sisanya berupa ikan kakap, cucut, kepiting, bobara, belanak, tengiri dan ikan jenis lainnya yang masing-masing persentasenya tidak lebih dari 2 persen. Dilihat dari potensinya yang besar tersebut, tahun 2012, telah berdiri perusahaan es dan pengepakan udang (coolstorage) di Sorong Selatan. Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013, jumlah usaha pertanian di Kabupaten Sorong Selatan sebanyak 4.782, yang seluruhnya dikelola oleh rumah tangga, tidak ada yang berbentuk perusahaan berbadan hukum. Jumlah ini turun sebesar 10,70 persen dibandingkan RTP saat Sensus Pertanian 2003. Jumlah RTP terbanyak berada di Distrik Teminabuan Konda 272 307 - - Seremuk 176 195 - - Saifi 293 282 - - Wayer 236 240 59 32 Sawiat 364 411 - - Fkour 238 142 - - Sorong Selatan 5 355 4 782 613 570 Sumber: Angka Sementara Sensus Pertanian, 2013 ; PSPK 2011 sebanyak 952 rumah tangga. Sementara itu, keberadaan ternak khususnya sapi potong hasil Sensus Pertanian 2013 di Sorong Selatan sebanyak 570 ekor. Jumlah ini turun sebesar 7,01 persen dari saat Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah dan Kerbau (PSPK) 2011 yang berjumlah 613 ekor. Distrik Moswaren memiliki potensi ternak sapi potong terbesar dari total keseluruhan (73,68 persen). STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 33
PERTAMBANGAN DAN ENERGI Kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian Terendah Ketiga Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian menurun pada tahun 2012. Kontribusinya hanya sebesar 1,80 persen saja terhadap total PDRB Sorong Selatan. 10 Potensi Sorong Selatan di sektor pertambangan dan penggalian terletak di subsektor penggaliannya. Jenis galian C paling banyak ditemukan di Distrik Konda dan Teminabuan yaitu penggalian pasir. Pasca penghentian eksplorasi PT Total Indonesia di wilayah offshore Distrik Matemani-Kais pada pertengahan tahun 2013, memupus harapan pemerintah daerah dan masyarakat Sorong Selatan untuk segera memiliki sumber daya gas alam (LNG). Sementara untuk subsektor penggalian, besarnya PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Sektor Pertambangan dan Penggalian di Sorong Selatan tahun 2013 mencapai 13.327,07 juta rupiah atau sekitar 2,05 persen dari total PDRB Sorong Selatan yang mencapai 650.894,03 juta rupiah. Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian mengalami fluktuasi selama 2009-2013. Sharenya sebesar 2,25 persen pada tahun 2009 dan sempat turun cukup signifikan menjadi sebesar 1,94 persen di tahun 2012. Meskipun share sektor ini belum pernah menembus angka 3, namun sektor ini potensial memberikan kontribusi terhadap PDRB Sorong Selatan jika ditertibkan dengan baik. Hingga tahun 2013, belum satupun perusahaan penggalian yang diterbitkan SIUP -nya. Dilihat dari sumbangannya terhadap total PDRB tahun 2013, produktivitas sektor pertambangan dan penggalian menempati posisi ketujuh setelah sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian meningkat jika dibandingkan tahun 2012 (5,33 persen) 10.1 Share Sektor Pertambangan dan Penggalian terhadap PDRB Sorong Selatan 2009-2013 (%) Sumber: BPS Kabupaten Sorong Selatan, 2009-2013 10.2 2.25 2.05 Share PDRB Sorong Selatan menurut Sektor 2013 (%) Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Pertambangan dan Penggalian Keuangan, Persewaan dan Jasa Pengangkutan dan Komunikasi Jasa-jasa Perdagangan, Hotel dan Restoran Bangunan Pertanian 0.39 1.01 2.05 2.73 2.09 3.82 Sumber: BPS Kabupaten Sorong Selatan, 2013 10.73 12.76 1.94 TAHUKAH ANDA 2.05 31.65 Potensi Kekayaan Alam/Minyak Kabupaten Sorong Selatan baru-baru ini diteliti dan dieksplorasi oleh perusahaan minyak dunia, Total EP Indonesia di wilayah Distrik Matemani-Kais. Hanya saja belum berhasil. 34.85 34 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
10 PERTAMBANGAN DAN ENERGI Baru 3 Distrik yang Memiliki Pembangkit Listrik Saat ini baru tiga distrik di Kabupaten Sorong Selatan yang memiliki pembangkit listrik. Masingmasing di Distrik Teminabuan sebanyak 6 unit, Inanwatan 2 unit dan Moswaren 2 unit. Sebagian besar pelanggan PLN dari golongan rumah tangga. Mayoritas rumah tangga Sorong Selatan menggunakan pelita Sumber: Dokumentasi Lapangan 2.5 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 Persentase Pelanggan PLN Kabupaten Sorong Selatan menurut Distrik 2013 (%) 2.38 70.86 22.09 4.67 26.67 50.00 Sumber: PLN Wilayah X Cabang Sorong Ranting Teminabuan, 2013 TAHUKAH ANDA 90.69 16.67 6.67 5.86 2.41 1.03 Teminabuan Inanwatan Moswaren Sosial Rumah Tangga Bisnis Publik/Pemerintah Tahun 2012, di Sorong Selatan baru 23,55 persen rumah tangga yang telah teraliri listrik PLN. Nilai ini terendah keempat di antara kabupaten/kota se-papua Barat setelah Tambrauw, Raja Ampat dan Maybrat. menjadi 16,67 persen di tahun 2013. Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian masih lebih baik jika dibandingkan sektor pertanian yang memiliki share terbesar terhadap total PDRB Sorong Selatan. Sebagai sumber penerangan, listrik memegang peranan vital dalam aktivitas dan kegiatan ekonomi di Kabupaten Sorong Selatan. Kondisi penggunaan energi listrik terutama yang memanfaatkan listrik negara (PLN) masih belum maksimal. Belum semua desa/kampung di Sorong Selatan teraliri listrik, termasuk di ibukota kabupaten. Sulitnya kondisi geografis, minimnya anggaran untuk kebutuhan energi dan terbatasnya ketersediaan sumber energi listrik menjadi penyebab listrik belum sampai menjangkau seluruh desa/kampung di Kabupaten Sorong Selatan. Saat ini baru tiga distrik di Kabupaten Sorong Selatan yang memiliki pembangkit listrik, yaitu Distrik Teminabuan, Inanwatan dan Moswaren dengan jumlah terbanyak berada di Teminabuan sebanyak 6 unit. Dari tiga distrik tersebut, persentase pelanggan PLN tertinggi adalah dari golongan rumah tangga. Distrik Moswaren memiliki pelanggan rumah tangga terbanyak (90,69 persen) dari total pelanggan tahun 2013, diikuti Teminabuan (70,86 persen) dan Inanwatan (50 persen). Persentase pelanggan rumah tangga di Distrik Inanwatan dan Moswaren tahun 2013 menurun dibandingkan tahun 2011. Distrik Inanwatan memiliki perubahan paling mencolok dimana pelanggan rumah tangga menurun drastis dari 91,07 persen di tahun 2011 menjadi 50 persen tahun 2013. Hal ini kontradiktif dengan jenis pelanggan lain yang STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 35
PERTAMBANGAN DAN ENERGI Produksi Listrik PLN Naik Signifikan Listrik yang diproduksi oleh PLN meningkat pada tahun 2012 menjadi sebesar 8.020.704 KWh dan sekitar 54,16 persen digunakan oleh rumah tangga. 10 justru naik secara signifikan diantaranya : sosial (26,67 persen), bisnis (6,67 persen) dan publik/pemerintah (16,67 persen). Hal ini diduga karena semakin berkembangnya pusat-pusat perekonomian dan membaiknya infrastruktur penunjang pemerintahan. Berbeda dengan dua distrik sebelumnya, pelanggan rumah tangga di Distrik Teminabuan mengalami peningkatan sebesar 70,86 persen dari 68,95 persen. Konsumsi atau penjualan energi listrik PLN tertinggi berasal dari golongan rumah tangga karena golongan ini juga yang memiliki jumlah pelanggan PLN terbanyak. Penjualan listrik PLN untuk pelanggan rumah tangga mencapai 54,16 persen tahun 2013. Sedangkan yang mengkonsumsi listrik dari kategori bisnis sebesar 25,10 persen. Meskipun jumlah pelanggan dari golongan publik/pemerintah lebih sedikit daripada pelanggan kategori sosial, namun penjualan listrik untuk jenis pelanggan publik/ pemerintah lebih besar, yaitu 17,23 persen. Hal ini diduga karena pemakaian listrik dari pelanggan publik/ pemerintah memilliki frekuensi lebih banyak dan lebih sering untuk menunjang aktivitas pekerjaan. Selama periode 2006-2013 produksi listrik PLN cenderung mengalami peningkatan kecuali tahun 2009 yang turun 10,34 persen. Hal ini disebabkan pasokan listrik dari PLN induk, yaitu PLN Cabang Sorong yang membatasi jumlah BBM listrik. Tahun 2010, produksi listrik kembali meningkat hingga mencapai 2.785.106 KWh, pasca program listrik 24 jam di ibukota kabupaten. Puncaknya pada tahun 2013, PLN mencapai produksi tertinggi sebesar 8.145.208 KWh. 10.4 Sumber: PLN Wilayah X Cabang Sorong Ranting Teminabuan 2013 10.5 9,000,000.00 8,000,000.00 7,000,000.00 6,000,000.00 5,000,000.00 4,000,000.00 3,000,000.00 2,000,000.00 1,000,000.00 Persentase Penjualan Listrik PLN menurut Jenis Pelanggan di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 (%) Produksi Listrik PLN Ranting Teminabuan 2006-2013 (KWh) - Bisnis 25.10% Rumah Tangga 54.16% Publik/Pem erintah 17.23% Sosial 3.51% 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 jual 110, 115, 1,86 1,66 2,78 4,59 8,02 8,14 Sumber: PLN Wilayah X Cabang Sorong Ranting Teminabuan 2006-2013 TAHUKAH ANDA Dari total pelanggan listrik PLN di Kabupaten Sorong Selatan, hanya 4,83 persen di Distrik Inanwatan dan 8,34 persen di Distrik Moswaren. Selebihnya di sekitar wilayah ibukota kabupaten. 36 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
11 INDUSTRI PENGOLAHAN Share Sektor Industri Pengolahan Terendah Industri pengolahan memberikan kontribusi terkecil terhadap PDRB Sorong Selatan yang hanya mencapai 0,37 persen saja, namun sektor ini mencatat kinerja pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan beberapa sektor lainnya. 11.1 Sumber: BPS Kabupaten Sorong Selatan, 2008-2013 Tabel 11.1 0.44 Sumber: Podes, 2014 Share Sektor Industri Pengolahan terhadap PDRB Sorong Selatan Tahun 2008-2013 0.38 0.41 0.40 0.37 0.39 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Banyaknya Industri Kecil dan Mikro Menurut Jenis Bahan Baku di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Distrik Kayu Industri Anyaman Makanan & Minuman Inanwatan - 71 - Kokoda - - - Kokoda Utara - - - Kais - - - Matemani - - - Moswaren 5 8 6 Kontribusi sektor industri pengolahan dalam perekonomian Sorong Selatan masih sangat kecil, bahkan belum mencapai satu persen. Sektor ini hanya memberikan share terhadap total PDRB sebesar 0,39 persen saja. Selama tahun 2008-2013 share sektor ini berkisar 0,37-0,44 persen. Kontribusinya meningkat setelah dua tahun berturut-turut. Sektor industri pengolahan merupakan penyumbang terkecil terhadap PDRB Sorong Selatan dari tahun ke tahun. Nilai agregat PBRD-nya pada tahun 2013 hanya mencapai 2.564,33 juta rupiah dengan laju pertumbuhan sektoral sebesar 13,99 persen. Meski share-nya paling kecil, namun di tahun 2013, sektor ini mencatat kinerja pertumbuhan yang lebih baik daripada sektor pertanian (4,25); listrik dan air bersih (9,73 persen); bangunan (9,79); perdagangan, hotel dan restoran (7,73); pengangkutan dan komunikasi (4,79 persen) dan jasajasa (6,53 persen). Karakteristik industri pengolahan di Kabupaten Sorong Selatan masih didominasi oleh industri rumah tangga, dimana lebih banyak ditemukan pemilik usaha merangkap sekaligus sebagai tenaga kerja. Tahun 2013, memberikan angin segar bagi pengelolaan Teminabuan 7 5 - Konda - - - Seremuk 1 - - Saifi - - - Wayer - - - Sawiat - - - Fkour - - - budidaya sagu sejak masuknya PT Austindo Nusantara Jaya Agri Papua (ANJAP) yang diberi hak untuk mengelola hutan sagu seluas 40 ribu hektar. Sedangkan dari hasil PODES, mayoritas industri kecil dan mikro di Kabupaten Sorong Selatan bergerak di bidang usaha kerajinan. Terdapat sebanyak 71 rumah tangga di Distrik Inanwatan yang memiliki usaha kerajinan anyaman dari kulit kayu. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 37
KONSTRUKSI Share dan Pertumbuhan Sektor Konstruksi Terbesar Kedua Selama 2007-2011, sektor konstruksi memberikan share kedua terbesar terhadap PDRB Sorong Selatan setelah sektor pertanian. Tahun 2011, laju pertumbuhan sektor ini juga terbesar kedua setelah sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 12 Sektor konstruksi atau bangunan berperan penting dalam pembangunan infrastruktur suatu daerah. Sejak resmi definitif pada tahun 2003, Kabupaten Sorong Selatan terus menggalakkan pembangunan fasilitas publik dan pemerintahan seperti pembangunan sarana prasarana pendidikan, kesehatan dan gedung-gedung pemerintahan. Selain itu, jalan dan jembatan terus dibangun dan diperbarui kualitasnya untuk memudahkan akses transportasi dan hubungan baik antar kabupaten maupun antar desa/ kampung di wilayah Sorong Selatan. Nilai tambah bruto di sektor konstruksi Sorong Selatan mencapai 205,98 miliar rupiah pada tahun 2013. Jumlah ini meningkat dibandingkan output pada tahun 2012 sebesar 164,72 miliar rupiah. Share sektor ini juga meningkat selama periode 2009-2013, dari 19,03 persen pada tahun 2009 menjadi 31,65 persen di tahun 2013. Selama tahun 2008-2012, sektor konstruksi memberikan konstribusi terbesar kedua setelah sektor pertanian kemudian diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor konstruksi memiliki prospek yang menjanjikan karena Sorong Selatan merupakan daerah berkembang sehingga wilayah ini akan terus membangun seiring dengan arus migrasi dan investasi di kabupaten ini. Selama tahun 2009-2012, sumbangan sektor konstruksi cenderung naik dari 2,16 persen di tahun 2009 menjadi sebesar 2,91 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Sorong Selatan pada tahun 2013. Kenaikan share ini hampir dua kali lipat dalam kurun waktu empat tahun. 12.1 19.03 12.66 Share terhadap PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi,Sektor Kostruksi Sorong Selatan Tahun 2009-2013 (%) 21.70 11.38 share Sumber: BPS Kabupaten Sorong Selatan, 2009-2013 Sumber: Dokumentasi Lapangan 26.21 laju pertumbuhan 29.73 20.41 19.86 TAHUKAH ANDA 31.65 9.79 2009 2010 2011 2012 2013 Sektor Konstruksi memiliki kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sorong Selatan sebesar 4,16 persen pada tahun 2012. 38 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
KONSTRUKSI IKK Sorong Selatan Peringkat Keenam Tahun 2012, IKK Sorong Selatan sebesar 148,89 meraih peringkat kelima ditinjau dari daerah dengan IKK tertinggi setelah Kabupaten Tambrauw, Maybrat,Teluk Bintuni dan Maybrat. 12 Tujuan utama penghitungan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) adalah menyediakan data dasar dalam rangka kebijakan dana perimbangan dan utamanya digunakan sebagai salah satu variabel kebutuhan fiskal dalam penghitungan Dana Alokasi Umum (DAU). Dalam Undang-undang No. 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa IKK digunakan sebagai proxy untuk menggambarkan tingkat kesulitan geografis suatu daerah, dengan demikian semakin suit letak geografis daerah tersebut maka semakin tinggi pula angka IKK-nya. IKK merupakan indeks spasial, sehingga dapat memperbandingkan kesulitan geografis antar wilayah kabupaten/kota di Papua Barat. Tahun 2013, Kabupaten Sorong Selatan menjadi daerah dengan kesulitan geografis peringkat ketujuh dari 11 kabupaten/kota se-papua Barat dan berjarak 76,43 poin dari Kabupaten Tambrauw yang memiliki kesulitan geografis tertinggi (206,04). Dengan angka IKK sebesar 129,61 dapat diartikan rata-rata harga konstruksi di Kabupaten Sorong Selatan 29,61 kali lebih tinggi dibandingkan harga konstruksi di Kota Samarinda sebagai kota acuan IKK. Juga dapat dijelaskan, secara proxy geografis, Kabupaten Sorong Selatan memiliki kondisi geografis yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan Kabupaten Tambrauw, Maybrat, Raja Ampat, Fak-fak, Kaimana dan Teluk Bintuni. Hal ini didukung oleh semakin mudahnya baik akses jalan darat menuju Kabupaten Sorong Selatan maupun akses jalan yang menghubungkan antar distrik atau kampung. Untuk menghitung indikator IKK dibutuhkan beberapa komponen, antara lain : 1. Data Harga Konstruksi, meliputi : > Harga bahan bangunan/konstruksi > Harga sewa alat-alat berat konstruksi > Upah jasa konstruksi 2. Data Bobot/Diagram Timbang Umum IKK Kabupaten/Kota Berupa nilai masing-masing bahan bangunan utama yang dibutuhkan untuk mrmbangun 1 (satu) unit bangunan per satuan ukuran luas dari 5 (lima) kelompok jenis bangunan. Survei IKK dilakukan di seluruh kabupaten/kota di seluruh Indonesia IKK 2010 disajikan dengan menentukan Kota Samarinda sebagai kota acuan karena memiliki IKK mendekati angka rata-rata nasional = 100. Pertimbangan peggunaan salah satu kota sebagai acuan adalah memberikan fleksibilitas dalam penghitungan IKK 12.2 Kota Sorong Manokwari Teluk Wondama Papua Barat Sorong Selatan Teluk Bintuni Kaimana CATATAN Fak-Fak Raja Ampat Maybrat Indeks Kemahalan Konstruksi Kabupaten/Kota di Papua Barat 2013 Sorong Tambrauw Sumber : Olah Survei IKK, 2013 110.34 113.64 117.42 118.18 121.01 129.61 143.74 147.79 172.40 173.13 177.68 TAHUKAH ANDA 206.04 0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00 Sebagian besar komoditi bangunan yang tidak dimiliki oleh lokal Sorong Selatan, dipasok dari Kota Sorong, Makassar dan Surabaya. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 39
13 HOTEL DAN PARIWISATA Beberapa Hotel/Penginapan Alih Fungsi Menjadi Rumah Sewa Tahun 2012, sebagian/seluruh fasilitas kamar hotel/penginapan di Kabupaten Sorong Selatan mengalami alih fungsi menjadi rumah sewa, diantaraya Hotel Wernas dan Penginapan Moswaren. Tabel 13.1 Statistik Perhotelan Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 Uraian 2011 2012 2013 Jumlah Hotel (unit) Melati 4 4 4 Jumlah Kamar (unit)* Melati 55 36 36 Jumlah Tempat Tidur (unit)* Melati 63 42 47 Tingkat Hunian Kamar (orang)* Melati 2 655 2 666 2 582 Rata-rata Lama Tamu Menginap (Hari/orang)* Melati 3,00 3,00 3,00 Sumber: Laporan Hotel BPS Kabupaten Sorong Selatan (diolah), 2011-2013 *) tidak termasuk data Hotel Mratua Sumber: Dokumentasi Lapangan Kawasan Timur Indonesia dikenal dengan potensi wisatanya yang berlimpah, terutama wisata bahari. Potensi bahari tersebut tersebar di seluruh kawasan, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Tak terkecuali Sorong Selatan, kabupaten ini memiliki potensi wisata air yang cukup diunggulkan. Banyaknya sumber mata air alami, sungai/danau dengan air jernih dan debit besar menjadi salah satu penyumbang pendapatan regional dari sektor pariwisata. Selain potensi bahari, Sorong Selatan yang memiliki sejarah perjuangan kemerdekaan, juga mengembangkan wisata budaya karena terdapat objek wisata yang bernilai sejarah seperti tugu, monumen dan rumah-rumah peninggalan penjajah. Hanya saja, pariwisata di Sorong Selatan belum berkembang dengan baik dan pengelolaannya masih dibawah dinas terkait. Perlu inovasi dan terobosan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor ini. Jumlah hotel di Sorong Selatan tahun 2013 adalah 4 unit hotel melati, secara keseluruhan terdapat di Distrik Teminabuan, yaitu Hotel Giok, Nusa Indah, Wernas dan Mratua. Jumlah kamar dan tempat tidur naik dibandingkan tahun 2012, dari sebesar 36 unit TAHUKAH ANDA Tim Tarian Tehit harumkan nama Kabupaten Sorong Selatan hingga tingkat nasional setelah meraih juara 1 Tari Tradisional pada Festival Budaya Provinsi Papua Barat. dan 42 buah menjadi 36 unit dan 42 buah. Adapun 1 penginapan yang terdapat di Distrik Moswaren sudah tutup sejak tahun 2012. Meskipun jumlah kamar dan tempat tidur meningkat namun jumlah tamu yang menginap mengalami penurunan dari 2.666 tamu pada tahun 2012 menjadi 2..582 tamu pada tahun 2013 dengan 40 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
HOTEL DAN PARIWISATA Output Subsektor Hotel dan Pariwisata Belum Optimal Share subsektor hotel selama lima tahun terakhir cenderung berfluktuasi. Tahun 2012, sharenya turun menjadi 0,08 persen. Share sektor perdagangan, hotel dan restoran didominasi oleh share subsektor perdagangan. 13 rata-rata lama tamu menginap sebanyak 3 hari per orang. Selama lima tahun terakhir, share subsektor hotel terhadap sektor 6 (sektor perdagangan, hotel dan restoran) cenderung stabil dan memberikan kontribusi terkecil dibandingkan tiga sektor lainnya. Pada tahun 2009 share-nya mencapai 0,10 persen terhadap PDRB Sorong Selatan kemudian menurun hingga hanya sebesar 0,08 persen di tahun 2013. Kondisi ini berlawanan dengan penurunan share sektornya (perdagangan, hotel dan restoran) menjadi sebesar 12,76 persen di tahun 2013 dibandingkan tahun 2012. Rendahnya share subsektor ini jika dibandingkan subsektor lain di sektor 6 menunjukkan bahwa outputnya belum optimal diserap oleh aktivitas perekonomian. Dari sisi pertumbuhan, subsektor hotel mencatat kinerja pertumbuhan yang melambat dari 9,90 persen menjadi 4,43 persen selama tahun 2012-2013 dengan mencatat nilai agregat PDRB subsektor hotel sebesar Rp 501,61 juta pada tahun 2013. Jumlah objek wisata di Sorong Selatan tahun 2013 sebanyak 9 objek. Objek wisata tersebut terdiri dari 6 objek wisata alam/ argo dan 3 objek wisata budaya. Distrik Teminabuan menawarkan berbagai pesona keindahan wisata seperti Air Terjun Kohoin, Kali Sembra dan Tugu Trikora. Sedangkan Distrik Konda menawarkan panorama Hutan Wisata Bariat dan Pantai Konda. Selain dua distrik tersebut, objek wisata alam dan budaya juga terdapat di Distrik Sawiat dan Inanwatan. 13.1 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2009-2013 13.2 13.75 13.25 Share Subsektor Hotel terhadap Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Sorong Selatan 2009-2013 (%) Share Subsektor Hotel Share Subsektor Restoran 12.57 12.30 12.49 12.26 0.41 0.38 0.37 0.37 0.42 0.10 0.09 0.09 0.08 0.08 2009 2010 2011 2012 2013 Jumlah Objek Wisata di Sorong Selatan 2013 Wisata Alam Share Subsektor Perdagangan Share Sektor 13.04 12.75 12.94 12.76 Wisata Budaya Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sorong Selatan, 2013 TAHUKAH ANDA Hutan Wisata Alam Bariat yang terdapat di Distrik Konda (Kampung Bariat) merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan dengan luas areal 10.000 hektar. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 41
14 TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI Pertumbuhan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Melambat Meskipun bukan menjadi yang terendah, pertumbuhan sektor transportasi dan komunikasi melambat pada tahun 2012 menjadi 2,41 persen dari 4,31 persen di tahun 2011. 14.1 Share terhadap PDRB dan Pertumbuhan Sektor Angkutan dan Komunikasi di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2009-2013 3.53 Share 4.59 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2009-2013 Sumber: Dokumentasi Lapangan 4.31 Laju Pertumbuhan 2.41 TAHUKAH ANDA 4.79 4.63 4.37 4.15 4.01 3.82 2009 2010 2011 2012 2013 Sudah ada sebanyak 30 angkutan pedesaan yang melayani rute dalam kota Teminabuan dan Teminabuan-Maybrat. Bus DAMRI juga sudah melayani rute kotamoswaren yang jarak tempuhnya cukup jauh. Sektor transportasi/angkutan dan komunikasi termasuk ke dalam sektor tersier bersama sektor perdagangan, hotel, dan restoran; keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; serta sektor jasajasa. Peranan sektor ini dalam perekonomian Sorong Selatan masih relatif kecil, meskipun berada di rangking 5 sharenya atas PDRB Sorong Selatan. Kontribusinya pada PDRB Sorong Selatan selama lima tahun terakhir berfluktuasi dan meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 4,79 persen di tahun 2013. Nilai agregat PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 24.894,95 juta rupiah. Share sektor ini di tahun 2013 masih lebih rendah dibandingkan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (12,76%); dan sektor jasa-jasa (10,73%) yang sama-sama berada di sektor tersier. Namun share sektor ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan empat sektor lainnya. Bila dilihat dari sisi pertumbuhan ekonominya, tahun 2009, pertumbuhan sektor ini mencapai 3,53 persen pasca Kabupaten Maybrat terpisah secara definitif. Kemudian pertumbuhan sektor ini mengalami percepatan hingga sebesar 4,59 persen tahun 2010. Hingga tahun 2013, pertumbuhannya kembali meningkat hingga mencapai 4,79 persen. Hal ini disebabkan bertambahnya output subsektor angkutan laut, sungai dan udara. Masuknya maskapai Susi Air di Sorong Selatan sangat menunjang mobilitas masyarakat keluar masuk wilayah Sorong Selatan termasuk Distrik Inanwatan. Selain itu, semakin lancarnya moda transportasi laut dan sungai turut memberikan andil membaiknya kinerja sektor ini. 42 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI Lebih dari Separuh Kondisi Jalan di Sorong Selatan dalam Kondisi Baik Dilihat dari persentasenya, lebih dari separuh kondisi jalan-jalan di Sorong Selatan dalam kondisi baik (56,89 persen) dan mayoritas permukaannya berupa kerikil (82,01 persen). 14 Subsektor angkutan jalan raya tahun 2013 di Kabupaten Sorong Selatan masih didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua sebanyak 79,52 persen. Angkutan ojek masih menjadi primadona bagi masyarakat dalam kota Teminabuan, meskipun secara kuantitas menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2013, pemerintah daerah juga telah membuat transportasi massal dan lebih terjangkau, yaitu bus DAMRI yang melayani rute dalam kota Teminabuan dan Teminabuan-Moswaren. Hasil kebijakan ini dimanfaatkan dengan baik oleh para pedagang, pegawai dan guru yang berdomisili di luar wilayah Teminabuan untuk menjangkau fasilitas publik. Secara persentase, kondisi jalan di Sorong Selatan masih dalam kategori baik. Separuh jalan di Sorong Selatan telah diaspal (50 %). Kondisi ini cukup terlihat di pusat kota Teminabuan, yaitu di jalan utama dalam kota-kompleks kantor Bupati yang masih dalam kondisi aspal dan minim kerusakan. Sementara itu sebanyak 38,64 persen permukaan jalan merupakan jalan yang diperkeras oelh kerikil, batu dan pasir. Di tahun ini pemerintah daerah juga mengusahakan pelebaran jalan, penambahan trotoar di samping kanan dan kiri jalan dan membaginya menjadi dua ruas jalur. Hal ini sangat menunjang aktivitas transportasi di Sorong Selatan yang semakin padat dengan kendaraan. Meskipun secara persentase, mayoritas jalan dalam kondisi baik, tetapi masih ditemukan jalan berupa tanah sebesar 2,27 persen. Kondisi jalan seperti ini masih banyak ditemukan pada akses ke 14.2 Sumber: Dinas Perhubungan Kab.Sorong Selatan 2013 14.3 Sumber: Podes, 2014 Persentase Kendaraan Bermotor per Jenis Kendaraan di Kabupaten Sorong Selatan 2013 (%) TAHUKAH ANDA Tukang ojek di Sorong Selatan memiliki wadah perkumpulan Mitra Buana yang bergerak di bidang advokasi dan sosial bagi para anggotanya. Perkumpulan ini terdiri dari multiras, baik pribumi maupn pendatang. Persentase Banyaknya Desa Menurut Jenis Permukaan Jalan Terluas di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 (%) Tanah 2.27% Lainnya 9.09% Diperkeras (kerikil, batu, dll) 38.64% Aspal 50.00% STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 43
14 Jumlah TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI Penumpang Kapal Laut Meningkat Sejak beroperasinya Kapal Fajar Mulia rute Teminabuan-Inanwatan-Kokoda, jumlah penumpang kapal laut mengalami peningkatan di tahun 2012, yaitu sebanyak 229 orang dating dan 255 orang berangkat. Sumber: Podes, 2014 Banyaknya Desa Menurut Keberadaan Sinyal Telepon Seluler di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Distrik Sumber: Dokumentasi Lapangan Industri Kuat Lemah Tidak Ada Jumlah Inanwatan 4 0 3 7 Kokoda 0 1 15 16 Kokoda Utara 0 0 9 9 Kais 0 0 12 12 Matemani 0 0 6 6 Moswaren 5 0 2 7 Teminabuan 13 1 2 16 Konda 0 2 3 5 Seremuk 1 1 6 8 Saifi 0 0 10 10 Wayer 0 2 6 8 Sawiat 0 0 13 13 Fkour 0 0 4 4 TOTAL 23 7 91 121 kampung yang beberapa diantaranya hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk berkomunikasi. Hal ini tidak dibatasi oleh lingkungan geografis yakni baik di perkotaan atau di pedesaan. Namun hal ini tidak terealisasi dengan baik. Kesenjangan komunikasi antara desa dengan kota sangat mencolok. Beberapa desa di Indonesia amat tertinggal jauh perkembangan sistem komunikasinya jika dibandingkan dengan yang ada diperkotaan. Salah satu jawaban dari permasalahan tersebut adalah pembangunan yang tidak merata. Pembangunan cenderung hanya dilakukan di kota atau dimana pusat pemerintahan berada. Kemudahan komunikasi sangat penting untuk memfasilitasi masyarakat dalam memperbaiki mutu pendidikan, kesehatan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu sarana yang dapat diupayakan oleh pemerintah adalah kemudahan akses telepon. Dari 13 distrik di Sorong Selatan, terdapat 5 distrik yang tidak ada akses sinyal telepon yaitu Distrik Kokoda Utara, Matemani, Saifi, Sawiat dan Fkour. Sementara itu sebanyak 81,25 persen kampung di Distrik Teminabuan mampu menangkap sinyal telepon dengan kuat dan hanya 2 kampung yang tidak terjangkau sinyal. Melihat kondisi demikian pemerintah daerah perlu memperhatikan distrik dan kampung yang masih sulit terjangkau alat komunikasi. Meskipun kenyataannya masing-masing distrik yang tidak terjangkau komunikasi sudah dilengkapi dengan Radio SSB (Single Side Band). 44 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PERBANKAN DAN INVESTASI Pertumbuhan Subsektor Bank Tertinggi Subsektor bank mencapai pertumbuhan tertinggi selama kurun wkatu tiga tahun terakhir yaitu sebesar 35,92 persen. 15 Seiring dengan pembangunan yang pesat di Sorong Selatan, subsektor perbankan juga diperlukan untuk menunjang kegiatan perekonomian. Bank berfungsi untuk menghimpun dana masyarakat dan berperan penting dalam arus perputaran uang. Bank juga sebagai penyedia dana bagi yang membutuhkan dana kredit dan tempat transaksi uang misalnya transfer, pembayaran rekening listrik dan lain-lain. Kantor bank di Sorong Selatan tahun 2013 berjumlah lima unit : Bank BRI KCP Teminabuan, 2 unit BRI Teras Teminabuan, Bank Papua KCP Teminabuan dan satu unit Bank Papua Teras Inanwatan. Penambahan jumlah kantor bank di Sorong Selatan sejalan dengan penambahan unit Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Share subsektor bank meskipun tergolong sangat kecil pada level 1,00-2,41 persen namun terus meningkat selama tahun 2009-2013. Dibandingkan tahun 2012, sharenya mengalami lonjakan dari 1,78 persen menjadi 2,41 persen. Iklim perbankan yang bagus didorong oleh semakin tingginya minat masyarakat untuk menabung dan menggunakan jasa bank untuk melakukan pembayaran tagihan (PLN, telepon, pulsa, ticketing, belanja online, dll). Selain itu, semakin mudahnya kredit yang diberikan bank memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas keuangan. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, subsektor bank memiliki pertumbuhan yang fluktuatif. Tahun 2009, pertumbuhan subsektor bank berada pada level terendah hingga minus 5,02 persen hingga sebesar 29,23 persen di tahun 2013. 15.1 3.00 2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 0.00 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2008-2013 15.2 42.21 Share Subsektor Bank Terhadap PDRB Sorong Selatan, 2008-2013 (%) 1.00 1.06 1.24 1.50 2.02 Pertumbuhan Subsektor Bank di Kabupaten Sorong Selatan, 2008-2013 (%) Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2008-2013 TAHUKAH ANDA 2.41 2008 2009 2010 2011 2012 2013-5.02 49.23 24.39 26.35 29.23 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Kantor Cabang Pembantu (KCP) BRI Teminabuan memiliki kantor teras di kawasan Pasar Ampera dan Pasar Kajase di Kampung Wernas. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 45
16 HARGA-HARGA Harga Beberapa Sembako Cenderung Fluktuatif Harga beberapa sembako terpilih rata-rata berfluktuasi selama bulan Januari-Desember 2012, terutama komoditi lauk-pauk dan bumbu (cabe dan bawang). : Pasar Kajase dan Pasar Ampera Sumber : Dokumentasi Lapangan 16.1 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 500 00 0 Perkembangan Harga Sembako Terpilih di Sorong Selatan Desember 2011-Desember 2012 (Rp/Kg) Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Ju l Agt Sep Okt Nov Des 11 12 beras bawang merah besar minyak goreng curah telur daging ayam gula pasir curah bawang putih cabe rawit daging sapi ikan Sumber: BPS Kabupaten Sorong Selatan (hasil survei HKD1), 2012 Secara umu, inflasi merupakan indikator yang menggambarkan kecenderungan umum tentang perkembangan harga, dapat dipakai sebagai informasi dasar dalam pengambilan keputusan kebijakan ekonomi makro dan mikro, baik fiskal maupun moneter. Inflasi yang tinggi akibat dari kenaikan harga berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, berimbas juga pada menurunnya kinerja perkonomian dan kemiskinan cenderung tinggi. Inflasi harga di Sorong Selatan dipengaruhi oleh inflasi yang terjadi Kota Sorong, namun persentasenya lebih tinggi dibanding Kota Sorong karena adanya biaya angkut barang dari Kota Sorong ke Sorong Selatan. Perkembangan harga beberapa barang sembako di Sorong Selatan selama tahun 2012 mengalami fluktuasi setiap bulannya. Untuk komoditi lauk dan bumbu secara serempak mengalami lonjakan harga di Bulan April diantaranya ikan laut, telur, cabe rawit dan bawang-bawangan disebabkan kelangkaan barang akibat cuaca. Hal ini mempengaruhi distribusi barang yang sebagian besar menggunakan kapal. Kenaikan tertinggi pada komoditas cabe rawit hingga lebih dari TAHUKAH ANDA Harga cabe rawit di Sorong Selatan sempat melonjak drastis hingga 200 persen pada Bulan April. Dari Rp 35.000,-/kg menjadi Rp 75.000,-/kg. Hingga akhir tahun 2012, cenderung stabil di Rp 60.000,-/kg. 100 persen. Sementara itu harga daging sapi sudah terjadi sejak awal tahun 2012 hingga sebesar 28,57 persen. Setelah sempat turun, harga bahan pokok pilihan kembali merangkak naik menjelang hari raya Idul Fitri pada Bulan September. Untuk komoditas pangan pokok seperti beras dan gula pasir curah cenderung stabil dengan kenaikan sebesar 12-15 persen. 46 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PENGELUARAN PENDUDUK Pengeluaran Riil per Kapita Sorong Selatan Turun 3,27 Persen Pengeluaran riil per kapita Sorong Selatan menurun selama 3 tahun terakhir. 17 Sebagai pendekatan untuk mengukur indikator kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari tingkat pengeluaran per kapita. Selama tahun 2012-2013, pengeluaran riil per kapita Sorong Selatan mengalami peningkatan. Pada tahun 2011, pengeluaran riil per kapita penduduk sebesar 502.621 rupiah per bulan menurun menjadi 486.174 rupiah per bulan pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2013, pengeluaran riil per kapita meningkat menjadi sebesar 513.894 rupiah per bulan. Bertambahnya pengeluaran riil per kapita pada tahun 2013 hingga 5,70 persen seiring dengan berubahnya komposisi pengeluaran per kapita makanan dan non makanan yang dikonsumsi. Pengeluaran riil per kapita memiliki makna pengeluaran rata-rata satu orang per bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pengeluaran riil per kapita sebesar 513.894 rupiah berarti rata-rata satu orang menghabiskan uangnya sebesar 513.894 rupiah per bulan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran riil per kapita di Kabupaten Sorong Selatan menempati urutan kedelapan dari 11 kabupaten/kota dan masih di bawah rata-rata pengeluaran riil penduduk di Provinsi Papua Barat yang mencapai 876.253 rupiah per bulan. Berarti dalam setahun, rata-rata penduduk di Sorong Selatan menghabiskan uangnya sebanyak 6,17 juta rupiah pada tahun 2013. Jika dibandingkan dengan pendapatan riil per kapita dari pendekatan PDRB yang mencapai 15,84 juta rupiah. Ini berarti masih ada selisih sebesar 9,67 juta rupiah. Tabel 17.1 Uraian 2011 2012 2013 Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan (Rp) Persentase pengeluaran per kapita per bulan (Rp) Statistik Pengeluaran Penduduk Sorong Selatan 2011-2013 Sumber: Olahan Susenas, 2011-2013 502 621 486 174 513 894 Makanan (%) 58,33 58,33 62,23 Non Makanan (%) 41,67 41,67 37,77 Sumber: Dokumentasi Lapangan CATATAN Statistik pengeluaran rumah tangga yang disajikan dari hasil Susenas mampu mengukur pola konsumsi rumah tangga dan dapat juga mengukur tingkat pemerataan pendapatan yang didekati oleh tingkat pemerataan pengeluaran rumah tangga sebagai proxinya. TAHUKAH ANDA Selama 2008-2013, nilai pengeluaran non makanan melebihi pengeluaran makanan hanya terjadi di tahun 2010. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 47
17 PENGELUARAN PENDUDUK Persentase Pengeluaran Non Makanan Menurun Persentase pengeluaran non makanan tahun 2012 sebesar 41,67 persen, lebih rendah dibandingkan pengeluaran makanan (58,33 persen). Dan menurun dibandingkan tahun 2011. 17.1 Sumber: Susenas, 2013 17.2 67.26 32.74 Persentase Pengeluaran Makanan dan Non Makanan Sorong Selatan 2013 (%) Persentase Pengeluaran Makanan dan Non Makanan Sorong Selatan 2009-2013 (%) Sumber: Susenas, 2008-2012 Makanan Non Makanan 57.59 42.41 52.77 47.23 TAHUKAH ANDA Non Makanan 58.33 41.67 62.23 37.77 2009 2010 2011 2012 2013 Persentase pengeluaran rumah tangga per bulan untuk makanan di Sorong Selatan tahun 2013 adalah yang tertinggi keempat se-provinsi Papua Barat. Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia, komposisi pengeluaran untuk 40 persen berpendapatan terbawah dan menengah digunakan untuk pengeluaran makanan sedangkan 20 persen berpendapatan tinggi mengalokasikan pendapatannya untuk pengeluaran non makanan. Perbandingan antara pengeluaran makanan dan non makanan dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi persentase pengeluaran non makanan maka dapat dikatakan bahwa tingkat kesejahteraannya semakin membaik dengan tercukupinya kebutuhan pangan sebelum sandang dan papan. Persentase pengeluaran makanan tahun 2013 mencapai 62,23 persen, lebih tinggi dari pengeluaran non makanan sebesar 37,77 persen. Hal ini masih mengikuti pola tahun sebelumnya dimana persentase pengeluaran makanan sebesar 58,33 persen sedangkan pengeluaran non makanan sebesar 41,67 persen. Artinya, pola konsumsi masyarakat Sorong Selatan selama lima tahun terakhir cenderung berprioritas pada pengeluaran makanan dibandingkan non-makanan. Perubahan pola konsumsi hanya terjadi di tahun 2010. Jika dilihat menurut komoditi, pengeluaran untuk makanan ikan/udang/cumi/kerang memperoleh persentase tertinggi yaitu sebesar 11,74 persen dilanjutkan dengan pengeluaran untuk sayursayuran sebesar 9,17 persen. Sedangkan untuk nonmakanan, pengeluaran untuk perumahan dan fasilitas rumah tangga menempati posisi pertama (23,72 persen) diikuti dengan pengeluaran aneka barang dan jasa (11,33 persen) di peringkat kedua. 48 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PERDAGANGAN Share Subsektor Perdagangan Dominan di Sektor Enam Subsektor perdagangan sangat dominan di sektor enam (perdagangan, hotel dan restoran). Bahkan kontribusinya mencapai 96,50 persen pada tahun 2012, sisanya subsektor restoran (2,85%) dan subsektor hotel (0,65%). 18 Subsektor perdagangan dalam PDRB termasuk dalam sektor enam (perdagangan, hotel dan restoran). Agregat PDRB subsektor perdagangan tahun 2013 sebesar 79,82 miliar rupiah, meningkat sebanyak 10,64 miliar rupiah dibandingkan tahun 2012 (69,18 miliar rupiah). Peran subsektor perdagangan sangat dominan dalam sektor enam. Kontribusinya pada sektor enam bahkan mencapai 96,12 persen dari agregat PDRB sektor tersebut tahun 2013. Sedangkan kontribusi subsektor perdagangan terhadap PDRB total tahun 2013 adalah 12,49 persen. Meskipun selama 2010-2011 share subsektor perdagangan menurun, namun tahun 2012 sharenya kembali meningkat seiring dengan semakin baiknya iklim perdagangan di Sorong Selatan (12,76 persen). Seiring dengan penurunan share PDRB tahun 2013, subsektor perdagangan juga mencatat laju pertumbuhan yang melambat di tahun ini (7,73 persen). Pertumbuhan subsektor ini di tahun 2009 sebesar 15,08 kemudian mengalami perlambatan pada tahun 2010 secara signifikan menjadi 2,44 persen. Hingga tahun 2012, kembali tumbuh secara positif sebesar 10 persen. Sektor perdagangan merupakan 18.1 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2009-2013 18.2 PDRB menurut Subsektor Perdagangan Sorong Selatan 2009-2013 (juta rupiah) Share terhadap PDRB dan Pertumbuhan Subsektor Perdagangan Sorong Selatan 2009-2013 (%) sektor yang paling Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2009-2013 15.18 90,000.00 80,000.00 70,000.00 60,000.00 50,000.00 40,000.00 30,000.00 20,000.00 10,000.00 2009 2010 2011 2012 2013 Subsektor Perdagangan 44,811.30 49,637.44 57,728.34 69,175.87 79,821.22 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran - 2.48 Share 46,507.96 51,506.96 59,862.18 71,683.89 83,042.71 8.66 Laju Pertumbuhan 10.00 7.73 13.25 13.04 12.75 12.94 12.76 2009 2010 2011 2012 2013 TAHUKAH ANDA Subsektor perdagangan sangat dominan di sektor 6 (perdagangan, hotel, dan restoran), kontribusinya mencapai 96,50 persen di tahun 2012. STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 49
19 PENDAPATAN REGIONAL PDRB Papua Barat Share PDRB Kabupaten Sorong Selatan Terendah Keempat terhadap Dengan agregat PDRB sebesar Rp 553,68 miliar rupiah, Sorong Selatan memiliki share PDRB yang sangat kecil terhadap PDRB Provinsi Papua Barat, yaitu hanya sekitar 1,36 persen saja. Tabel 19.1 Lapangan Usaha ADHB ADHK 2012* 2013** 2012* 2013** Pertanian 205 635,37 226 864,88 80 929,08 84 371,36 Pertambangan dan Penggalian 10 721,79 13 327,07 4 212,45 4 914,72 Industri Pengolahan 2 069,08 2 564,33 1 266,59 1 443,76 Listrik, Gas & Air Bersih 5 315,34 6 593,40 1 709,18 1 875,44 Bangunan 164 721,22 205 980,11 48 330,37 53 061,94 Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 71 683,89 83 042,71 27 100,51 29 195,97 22 206,15 24 894,95 11 496,49 12 047,73 11 635,53 17 786,53 3 468,12 4 287,57 Jasa-jasa 60 036,99 69 840,05 29 623,75 31 558,84 PDRB 554 025,36 650 894,03 208 136,56 222 757,32 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2012-2013 19.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha Sorong Selatan 2012-2013 (jutaan rupiah) 338.28 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sorong Selatan 2009-2013 (milliar rupiah) 394.90 ADHB 469.40 ADHK 554.03 650.89 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2009-2013 Total PDRB Kabupaten Sorong Selatan tahun 2013 sebesar Rp 650,89 miliar atas dasar harga berlaku dan Rp 222,76 miliar atas dasar harga konstan. PDRB tahun 2013 tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2012, yaitu Rp 554,02 miliar atas dasar harga berlaku dan Rp 208,14 milliar atas dasar harga konstan 2000. Nilai PDRB baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan terus mengalami peningkatan dari tahun 2008-2013. PDRB ADHB dan ADHK tertinggi menurut lapangan usaha tercatat pada sektor pertanian yaitu sebesar Rp 226,86 milliar dan Rp 84,37 milliar. Sedangkan PDRB ADHB dan ADHK terendah menurut lapangan usaha yaitu sektor industri pengolahan sebesar Rp 2,56 miliar dan Rp 1,44 miliar. Sektor pertanian menyumbang sebesar 34,85 persen terhadap PDRB total Kabupaten Sorong Selatan. Sebaliknya sektor industri pengolahan hanya memiliki share 0,39 persen saja. Bila dibandingkan dengan distribusi PDRB secara nasional (berorientasi industri pengolahan) maka PDRB Sorong Selatan masih berkontribusi sangat kecil, bahkan dapat dikatakan tidak berdampak dalam mendongkrak nilai PDRB 167.62 178.35 194.00 208.14 222.76 2009 2010 2011 2012 2013 sehingga perlu dioptimalkan sumber dayanya. Bila dibandingkan dengan nilai PDRB Provinsi Papua Barat, maka PDRB Kabupaten Sorong Selatan hanya 1,37 persen saja atau sangat kecil berkontribusi terhadap PDRB total Papua Barat. PDRB Kabupaten Sorong Selatan adalah yang terendah keenam setelah Tambrauw (1), Pegunungan Arfak (2), Maybrat (3), Manokwari Selatan (4) dan Teluk Wondama (5). 50 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PENDAPATAN REGIONAL Kontribusi Sektor Sekunder Meningkat Signifikan Selama tahun 2009-2012, kontribusi sektor primer dan tersier cenderung mengalami penurunan. Kondisi berbeda ditunjukkan oleh sektor sekunder yang meningkat sebesar 31,08 persen dari tahun sebelumnya 27,63 persen. 19 Struktur perekonomian Kabupaten Sorong Selatan ditunjukkan melalui distribusi persentase nilai tambah atas dasar harga berlaku per sektor. Struktur ini dapat memperlihatkan sektor-sektor utama yang berkontribusi besar dalam perekonomian. Terdapat empat sektor unggulan penggerak perekonomian Sorong Selatan. Ketiga sektor itu adalah sektor pertanian yang memberikan kontribusi terbesar sebesar 34,85 persen, sektor industri bangunan sebesar 31,65 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 12,76 persen dan sektor jasa-jasa yang memberikan sumbangan sebesar 10,73 persen. Sementara sektor lainnya memberikan sumbangan terhadap PDRB masing-masing kurang dari 5 persen, bahkan terdapat sektor yang memberikan share kurang dari satu persen, yaitu sektor industri pengolahan (0,37%). Sedangkan sektor listrik dan air bersih tahun 2013 naik sharenya menjadi sebesar 1,01 persen. Struktur perekonomian Kabupaten Sorong Selatan menunjukkan kecenderungan terjadinya pergeseran dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Hal ini terlihat dari semakin menurunnya kontribusi sektor primer serta semakin meningkatnya share sektor sekunder dan tersier dalam setahun terakhir. Kelompok sektor primer pada tahun 2010 memberikan kontribusi sebesar 45,46 persen mengalami penurunan hingga 36,90 persen di tahun 2013. Sebaliknya terjadi peningkatan pada kelompok sektor sekunder dan tersier menjadi 33,05 persen dan 30,05 persen pada tahun 2013. 19.2 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2013 Tabel 19.2 Distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Lapangan Usaha Sorong Selatan 2013 (%) Share terhadap PDRB menurut Sektor Primer, Sekunder dan Tersier Sorong Selatan 2010-2013 (%) Tahun Primer Sekunder Tersier Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) 2010 45,46 22,83 31,71 100 2011 41,88 27,59 30,53 100 2012* 39,05 31,06 29,88 100 2013** 36,90 33,05 30,05 100 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2010-2013 Perdagangan, Hotel dan Restoran 12.76% Bangunan 31.65% CATATAN Pengangkutan dan Komunikasi 3.82% Keuangan, Persewaan dan Jasa Keuangan 2.73% Listrik dan Air Industri Bersih Pengolahan 1.01% 0.39% Pertanian 34.85% Pertambanga n dan Penggalian 2.05% Jasajasa 10.73 % Sektor Primer terdiri dari Pertanian dan Pertambangan & Penggalian Sektor Sekunder terdiri dari Industri Pengolahan; Listrik, Gas, dan Air Bersih; dan Konstruksi Sektor Tersier terdiri dari Perdagangan, Hotel dan Restoran; Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan, Persewaan, dan Jasa perusahaan; serta Jasa-Jasa STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 51
Laju Pertumbuhan (%) 19 PENDAPATAN REGIONAL Pertumbuhan Ekonomi Mengalami Perlambatan Kinerja ekonomi yang diukur melalui pertumbuhan ekonomi menunjukkan gejala perlambatan di tahun 2012 yang melambat menjadi 7,53 persen dibandingkan tahun 2011 sebesar 7,94 persen. 19.3 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2003-2013 19.4 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 Laju Pertumbuhan Ekonomi Sorong Selatan Tahun 2003-2013 (%) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Tanpa Migas 7.12 10.89 3.73 8.71 8.67 7.95 8.11 6.40 8.78 7.28 7.02 Perkembangan PDRB per Kapita Sorong Selatan 2009-2013 (ribu rupiah) Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kab. Sorong Selatan, 2009-2013 TAHUKAH ANDA PDRB per Kapita Kabupaten Sorong Selatan tahun 2012 meningkat lebih dari 1,5 kali lipat dibandingkan PDRB per Kapita Tahun 2008. Pendekatan yang digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi di suatu daerah yaitu dengan membandingkan besarnya nilai tambah antar waktu menurut harga konstan. Dengan menggunakan dasar harga konstan dapat diketahui sejauh mana pertumbuhan riil (produktivitas) dari suatu daerah yang menggambarkan kondisi perekonomian sehingga dapat diperbandingkan antar waktu dan antar daerah. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sorong Selatan tahun 2013 sebesar 7,02 persen, melambat 0.26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sejak tahun 2003, pertumbuhan ekonomi kabupaten ini selalu diatas 6 persen dengan rata-rata 7,70 persen selama tahun 2003-2013. Puncaknya pada tahun 2004, pertumbuhan ekonomi menyentuh level dua digit di 10,89 persen. Hal ini sejalan dengan setahun pertama berjalannya Kabupaten Sorong Selatan sejak resmi definitif pada tahun 2003. Meskipun sempat melambat pada tahun 2005, perekonomian kembali tumbuh signifikan pada tahun 2006 dan terus berfluktuasi hingga saat ini. Hingga tahun 2008, perekonomian yang dihitung masih berupa gabungan Kabupaten Sorong Selatan dan Maybrat. Pendapatan per kapita digunakan sebagai indikator produktivitas tiap penduduk. Selama tahun 2009-2013, penduduk Sorong Selatan memiliki pendapatan per kapita yang meningkat. Pada tahun 2009, pendapatan per kapita rata-rata penduduk Sorong Selatan sekitar Rp 9,36 juta dan terus meningkat hingga mencapai Rp 15,84 juta pada tahun 2013. 52 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PERBANDINGAN REGIONAL PDRB per Kapita Kabupaten Fak-Fak Tertinggi se-papua Barat Tingkat kesejahteraan yang salah satu indikatornya diukur melalui PDRB per Kapita menempatkan Kabupaten Fak-fak pada nilai tertinggi melebihi Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. 20 Kabupaten Sorong Selatan yang merupakan bagian dari wilayah Provinsi Papua Barat adalah pemekaran dari Kabupaten Sorong pada tahun 2002. Pada tahun 2010 terdapat 11 kabupaten/kota se- Papua Barat sebagai dampak adanya pemekaran Kabupaten Tabrauw dan Maybrat pada tahun 2009. Diantara ke-11 kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat, Kota Sorong memiliki jumlah penduduk terbesar, yaitu 211.840 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk terkecil adalah Kabupaten Tabrauw, yaitu 13.376 jiwa. Sementara Sorong Selatan memiliki jumlah penduduk yang menempati urutan ke-8 (41.085 jiwa) atau terkecil keempat setelah Tambrauw (1), Teluk Wondama (2) dan Maybrat (3) dengan laju pertumbuhan penduduk selama tahun 2012-2013 sebesar 2,43 persen. PDRB per kapita yang lazim digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, tercatat sekitar 27,22 juta rupiah tahun 2013 di Papua Barat. PDRB per kapita di Kabupaten Sorong Selatan masih jauh lebih kecil, yakni hanya mencapai 15,84 juta rupiah. PDRB per kapita tanpa migas tertinggi dicapai oleh Kabupaten Fak-Fak sebesar 30,02 juta rupiah. Namun jika faktor migas dimasukkan, Kabupaten Teluk Bintuni memiliki per kapita tertinggi bahkan cenderung fantastis sebesar 425,12 juta rupiah. Hal ini disebabkan tingginya kontribusi sektor migas di daerah ini yang berasal dari LNG Tangguh yang merupakan penghasil gas alam cair. LNG Tangguh merupakan salah satu dari 3 perusahaan LNG terbesar yang dimiliki oleh Indonesia. 20.1 Sumber: Hasil Proyeksi Penduduk 2013 20.2 Jumlah Penduduk Papua Barat menurut Kabupaten/ Kota 2013 (jiwa) PDRB per Kapita Papua Barat ADHB (Tanpa Migas) menurut Kabupaten/Kota Tahun 2013 (juta rupiah) Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2013 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 53
20 PERBANDINGAN REGIONAL TPT Kota Sorong Tertinggi se-papua Barat Kota Sorong memiliki TPT tertinggi di Provinsi Papua Barat yang mencapai 11,39 persen, bahkan angkanya cukup jauh di atas TPT Papua Barat yang sebesar 5,49 persen. Sementara TPT terendah di Kabupaten Tambrauw yang hanya sekitar 1,10 persen saja. 20.3 Sorong Pegunungan Arfak Teluk Wondama Manokwari Selatan Maybrat Tambrauw Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Manokwari Fak-Fak Teluk Bintuni Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2013 20.4 Laju Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2013-0.30 3.48 4.79 4.95 5.48 5.51 6.65 7.02 8.13 9.08 9.30 9.59 9.83 TPT Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2013 Sumber: Statistik Ketenagakerjaan Prov. Papua Barat, 2013 TAHUKAH ANDA 13.27 Menurut beberapa literatur, idealnya jika TPT rendah maka kemiskinan juga akan rendah, namun hal tersebut tidak berlaku untuk kabupaten/kota se-provinsi Papua Barat. Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat pada tahun 2013 adalah 9,30 persen. Laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di Provinsi Papua Barat dicapai oleh Kabupaten Teluk Bintuni (13,27%). Adanya LNG Tangguh mendongkrak laju pertumbuhan daerah ini dengan angka yang cukup jauh dari kabupaten/kota lainnya, yaitu sebesar 47,26 persen. Sedangkan laju pertumbuhan terendah adalah sebesar minus 0,30 persen di Kabupaten Sorong. Laju pertumbuhan ekonomi Sorong Selatan tergolong menengah karena menempati urutan ketujuh tertinggi atau terendah kedelapan se-papua Barat. Situasi kinerja ketenagakerjaan umumnya direpresentasikan oleh angka pengangguran atau Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Kabupaten Tambrauw memiliki TPT terendah se-papua Barat, yaitu sekitar 1,10 persen. Sementara TPT tertinggi, yaitu sebesar 11,39 persen dimiliki oleh Kota Sorong. TPT Papua Barat secara rata-rata pada tahun 2012 adalah sebesar 5,49 persen. Kecenderungan perkembangan TPT Papua Barat bergerak fluktuatif selama tiga tahun terakhir, menurun dari sebesar 7,56 persen dan 7,68 persen pada tahun 2009 dan 2010. Kemudian meningkat dari tahun 2011 (5,09 %). Berbeda dengan TPT Papua Barat, TPT Sorong Selatan justru menunjukkan penurunan pada tahun 2012. Pada tahun 2011, TPT Sorong Selatan sebesar 4,72 persen menurun menjadi 3,86 persen pada tahun 2012. Kondisi ini tentu memberikan angin segar bagi kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Sorong Selatan dikarenakan menurunnya tingkat pengangguran. 54 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
PERBANDINGAN REGIONAL Lebih dari Seperlima Penduduk Miskin di Papua Barat terdapat di Kabupaten Manokwari Jumlah penduduk miskin terbanyak di Kabupaten Manokwari, namun persentase penduduk miskin tertinggi justru di Kabupaten Teluk Bintuni yaitu sebesar 39,54 persen. 20 Secara agregat, jumlah penduduk miskin terbesar selama lima tahun terakhir selalu ditempati oleh Kabupaten Manokwari. Selama tahun 2006-2008 jumlah penduduk miskin di Papua Barat terus menurun, namun pada tahun 2009 justru mengalami peningkatan, yaitu menjadi 256,84 ribu jiwa. Pada tahun 2013, jumlah penduduk miskin menurun menjadi 219,6 ribu jiwa. Jumlah penduduk miskin terendah berada di Kabupaten Tambrauw, yaitu sebesar 5,1 ribu jiwa di tahun 2013. Sedangkan kemiskinan di Kabupaten Sorong Selatan menempati urutan kesepuluh atau kedua terendah, yaitu sebanyak 8,1 ribu jiwa. Kemiskinan ditinjau dari persentase penduduk miskin terdapat fakta menarik bahwa meskipun Kabupaten Manokwari memiliki jumlah penduduk miskin terbesar di Papua Barat, namun persentase penduduk miskin tertinggi justru di Kabupaten Teluk Bintuni (40,53%). Persentase penduduk miskin di Papua Barat sebesar 27,04 persen, sedangkan penduduk miskin di Sorong Selatan masih dibawah Papua Barat sebesar 19,96 persen. Keberhasilan pembangunan manusia diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tahun 2013, tercatat IPM Sorong Selatan sebesar 67,28 berada dibawah IPM Papua Barat yang mencapai 70,62. Dalam pengkategorian UNDP, IPM Sorong Selatan termasuk kedalam kelompok menengah. Capaian IPM tertinggi diraih oleh Kota Sorong, yaitu sebesar 78,92 dan terendah berada di Kabupaten Tambrauw sebesar 51,54. 20.5 Teluk Wondama Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat Prov. Papua Barat, 2013 Teluk Bintuni 20.6 Tambrauw Maybrat Empat Kategori Pengelompokan IPM: IPM sangat tinggi : 90,00-100 persen IPM tinggi : 80,00-89,99 persen IPM menengah : 50,00-79,99 persen IPM rendah : kurang dari 50,00 persen Sumber: BPS RI, 2013 Persentase Penduduk Miskin Papua Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2013 (%) Sorong Fakfak Manokwari Papua Barat Raja Ampat Sorong Selatan Kota Sorong Kaimana Kota Sorong CATATAN Kaimana 21.16 19.27 18.6 20.5 28.45 27.14 29.84 35.64 35.48 39.43 39.43 38.68 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua Barat menurut Kab/Kota Tahun 2013 (%) Fak-Fak Papua Barat Sorong Manokwari Teluk Bintuni Maybrat Teluk Wondama Sorong Selatan Raja Ampat Manokwari Selatan Pegunungan Arfak Tambrauw 51.54 61.91 61.75 69.74 68.61 67.95 67.60 67.54 67.28 66.08 73.33 71.87 70.62 78.92 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 55
Lampiran Tabel 59 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
Tabel 1.1 Luas Wilayah Kabupaten Sorong Selatan menurut Distrik 2013 (km 2 ) Kecamatan Luas Wilayah Inanwatan 960,54 Kokoda 1 037,76 Kokoda Utara 534,34 Kais 1 099,95 Matemani 531,49 Moswaren 407,80 Teminabuan 388,98 Konda 612,70 Seremuk 208,04 Saifi 931,82 Wayer 317,88 Sawiat 453,62 Fkour 305,01 Sorong Selatan 7 789,91 Sumber: Peraturan Menteri Dalam Negeri No 18 Tahun 2013 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Kabupaten Sorong Selatan menurut Distrik dan Jenis Kelamin 2013 Distrik Laki-Laki Jenis Kelamin Perempuan Total Inanwatan 1 618 1 485 3 103 Kokoda 3 261 3 204 6 465 Kokoda Utara 910 923 1 833 Kais 1 634 1 495 3 129 Matemani 1 282 1 047 2 329 Moswaren 1 225 1 076 2 301 Teminabuan 6 733 5 773 12 506 Konda 1 037 969 2 006 Seremuk 623 610 1 233 Saifi 902 950 1 852 Wayer 864 708 1 572 Sawiat 988 960 1 948 Fkour 406 402 808 Sorong Selatan 21 483 19 641 41 085 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 60
Tabel 1.3 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Sorong Selatan 2013 Jenis Kelamin Kelompok Umur Total Laki-Laki Perempuan 0-4 2 989 2 944 5 933 5-9 2 917 2 685 5 602 10-14 2 579 2 226 4 805 15-19 2 017 1 796 3 813 20-24 1 813 1 647 3 460 25-29 1 956 1 858 3 814 30-34 1 693 1 535 3 228 35-39 1 443 1 219 2 662 40-44 1 116 1 005 2 121 45-49 934 856 1 790 50-54 779 715 1 494 55-59 576 485 1 061 60-64 285 302 587 65-69 229 201 430 70-74 81 70 151 75+ 76 58 134 Total 21 483 19 602 41 085 Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 61 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
Tabel 1.4 Penduduk Berumur 15 Tahun menurut Jenis Kelamin dan Jenis Kegiatan Utama Selama Seminggu yang Lalu di Kabupaten Sorong Selatan Tahun 2013 Jenis Kegiatan Utama Laki-Laki Sumber : BPS Provinsi Papua Barat, Sakernas Agustus 2013 Jenis Kelamin Perempuan Total 1. Penduduk Usia Kerja (15+) 13 430 12 022 25 452 a. Angkatan Kerja 10 914 7 591 18 505 1. Bekerja 10 546 7 475 18 021 2. Pengangguran 368 116 484 b. Bukan Angkatan Kerja 2 516 4 431 6 947 1. Sekolah 1 840 1 860 3 700 2. Mengurus Rumahtangga 390 2 571 2 961 3. Lainnya 286 0 286 2. TPAK (%) 81,27 63,14 72,71 3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) (%) Kabupaten/Kota 3,37 1,53 2,62 Tabel 1.5 Indeks Pembangunan Manusia menurut Komponen dan Kab/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2013 Komponen IPM AHH AMH RLS PPP (000 Rp) Kab. Fak-Fak 71.33 99.12 8.53 592.30 73.33 Kab. Kaimana 70.11 97.49 9.65 601.27 71.87 Kab. Teluk Wondama 68.06 85.79 8.39 601.97 67.54 Kab. Teluk Bintuni 68.90 87.41 7.62 600.33 67.95 Kab. Manokwari 68.73 89.98 7.22 589.12 68.61 Kab. Sorong Selatan 67.07 88.56 8.62 590.23 67.28 Kab. Sorong 68.65 92.09 8.10 600.62 69.74 Kab. Raja Ampat 67.07 94.86 8.19 562.22 66.08 Kab. Tambrauw 66.48 77.72 7.64 443.07 51.54 Kab. Maybrat 66.95 91.41 5.83 583.20 67.60 Kab. Manokwari Selatan 66.64 77.45 8.64-61.91 Kab. Pegunungan Arfak 66.93 74.89 7.10-61.75 Kota Sorong 72.80 99.71 8.09 638.70 78.92 IPM Papua Barat STATISTIK 69,14 DAERAH 94,14 KABUPATEN 8.53 SORONG 599,28 SELATAN TAHUN 70,62 2014 62 Sumber : BPS Provinsi Papua Barat, Sakernas Agustus 2013
Tabel 1.6 Garis Kemiskinan, Persentase Penduduk Miskin, dan Jumlah Penduduk Miskin menurut Kab/Kota di Papua Barat Tahun 2011 dan 2012 Kabupaten/Kota GK Rp/kap/bln Sumber : BPS Provinsi Papua Barat, Sakernas Agustus 2013 Kemiskinan Tahun 2012 Kemiskinan Tahun 2013 Po % Penduduk Miskin (000 jiwa) GK Rp/kap/bln Po % Penduduk Miskin (000 jiwa) Kab. Fak-Fak 369 929 29,22 20,4 394 248 29,84 21,3 Kab. Kaimana 292 731 17,97 8,9 309 655 18,60 9,6 Kab. Teluk Wondama 378 048 38,35 10,7 403 964 39,43 11,3 Kab. Teluk Bintuni 463 871 40,53 22,5 492 193 40,33 23,0 Kab. Manokwari 454 578 29,37 56,9 475 559 28,45 56,7 Kab. Sorong Selatan 245 904 19,96 8,1 255 932 20,50 8,5 Kab. Sorong 265 868 33,63 25,3 279 725 35,48 27,4 Kab. Raja Ampat 261 440 21,01 9,3 273 436 21,16 9,5 Kab. Tambrauw 269 975 38,68 5,1 281 586 38,68 5,2 Kab. Maybrat 272 202 34,92 12,3 283 440 35,64 12,8 Kota Sorong 496 815 19,32 40,0 536 584 19,27 41,1 Papua Barat 354 626 27,04 219,6 397 003 27,14 226,2 63 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014
Tabel 1.7 PDRB ADHB dan ADHK menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sorong Selatan 2011-2013 Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan Lapangan Usaha 2011 2012 2013 2011 2012 2013 1. Pertanian 186 806,95 205 635,37 226 864,88 78 939,84 80 929,08 84 371,36 2. Pertambangan dan Penggalian 9 795,69 10 721,79 13 327,07 3 999,29 4 212,45 4 914,72 3. Industri Pengolahan 1 876,71 2 069,08 2 564,33 1 170,93 1 266,59 1 443,76 4. Listrik dan Air Bersih 4 581,36 5 315,34 6 593,40 1 587,53 1 709,18 1 875,44 5. Bangunan 123 027,74 164 721,22 205 980,11 40 323,71 48 330,37 53 061,94 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 59 862,18 71 683,89 83 042,71 24 637,39 27 100,51 29 195,97 7. Pengangkutan dan Komunikasi 19 465,04 22 206,15 24 894,95 11 226,15 11 496,49 12 047,73 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 8 609,59 11 635,53 17 786,53 2 886,60 3 468,12 4 287,57 9. Jasa-Jasa 55 378,18 60 036,99 69 840,05 29 233,55 29 623,75 31 558,84 P D R B 469 403,44 554 025,36 650 894,03 194 004,99 208 136,56 222 757,32 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sorong Selatan 2013 Tabel 1.8 Distribusi PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sorong Selatan 2008-2013 Lapangan Usaha 2008 2009 2010 2011 2012 2013 1. Pertanian 46,57 43,07 43,16 39,80 37,12 34,85 2. Pertambangan dan Penggalian 1,59 2,25 2,05 2,09 1,94 2,05 3. Industri Pengolahan 0,44 0,38 0,41 0,40 0,37 0,39 4. Listrik dan Air Bersih 0,91 0,96 0,98 0,98 0,96 1,01 5. Bangunan 17,27 19,03 21,70 26,21 29,73 31,65 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 13,03 13,75 13,04 12,75 12,94 12,76 7. Pengangkutan dan Komunikasi 4,89 4,63 4,37 4,15 4,01 3,82 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 1,28 1,37 1,56 1,83 2,10 2,73 9. Jasa-Jasa 14,01 14,56 12,73 11,80 10,84 10,73 P D R B 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sorong Selatan 2013 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014 64
Tabel 1.9 Laju Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha 2008-2013 Lapangan Usaha 2008 2009 2010 2011 2012 2013 1. Pertanian 2,69 3,64 4,82 6,16 2,52 4,25 2. Pertambangan dan Penggalian 18,52 14,03 5,35 10,10 5,33 16,67 3. Industri Pengolahan 8,84 10,50 9,10 10,89 8,17 13,99 4. Listrik dan Air Bersih 13,34 14,83 10,39 7,60 7,66 9,73 5. Bangunan 11,26 12,66 11,38 20,41 19,86 9,79 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 8,76 15,18 2,48 8,66 10,00 7,73 7. Pengangkutan dan Komunikasi 10,79 3,53 4,59 4,31 2,41 4,79 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 33,12 2,10 33,81 21,10 20,15 23,63 9. Jasa-Jasa 20,31 11,28 6,99 2,48 1,33 6,53 Sorong Selatan 7,95 8,11 6,40 8,78 7,28 7,02 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sorong Selatan 2013 65 STATISTIK DAERAH KABUPATEN SORONG SELATAN TAHUN 2014