BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Pandangan konstruktivis memelihat realitas sebagai hasil konstruksi

BAB I PENDAHULUAN. bentuk atau gambar. Bentuk logo bisa berupa nama, angka, gambar ataupun

12Ilmu. semiotika. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom. Sejarah semiotika, tanda dan penanda, macam-macam semiotika, dan bahasa sebagai penanda.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek kajian dalam penelitian ini adalah topeng dari grup band Slipknot.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. lagi pendekatan yang mencoba berebut nafas yaitu pendekatan Post

13Ilmu. semiotika. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom. Analisis semiotik, pisau analis semiotik, metode semiotika, semiotika dan komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah tersebut

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

BAB I PENDAHULUAN. juga sebagai alat komunikator yang efektif. Film dengan kemampuan daya

Semiotika, Tanda dan Makna

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mendeskripsikan apa-apa yang berlaku saat ini. Didalamnya terdapat upaya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari sering menemukan banyak tanda,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian deskriptif, dimana

dalam arti penelitian merupakan saran untuk pengembangan ilmu ilmu yang mempelajari metode-metode penelitian 49. Metodologi berasal

BAB IV ANALISIS DATA. Dalam tahap ini, peneliti mulai menerapkan proses representasi yaitu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang mendasar dari suatu kelompok saintis (Ilmuan) yang menganut suatu pandangan

BAB I PENDAHULUAN. selalu berinovasi dan memenuhi perkembangan kebutuhan konsumen tersebut. Bukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN\ sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti. 1. Penelitian deskriptif yang ditujukan untuk: 2

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan tema yang diangkat oleh peneliti yaitu berbicara. mengenai makna apa yang mengandung pesan dakwah anak dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. gerakan antara dua atau lebih pembicaraan yang tidak dapat menggunakan

11ILMU. Modul Perkuliahan XI. Metode Penelitian Kualitatif. Metode Analisis Semiotik. Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm KOMUNIKASI.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

NIM : D2C S1 Ilmu Komunikasi Fisip Undip. Semiotika

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. komunikasi yang terjadi antarmanusia. Menurut Moloeng paradigma merupakan pola

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian baik yang mencakup objek penelitian, metode penelitian, dan hasil

BAB IV ANALISIS DATA. Film sebagai salah bentuk komunikasi massa yang digunakan. untuk menyampaikan pesan yang terkandung didalamnya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Membongkar Makna Pesan Verbal Dalam Lagu Dangdut Kontemporer (Analisis Semiotika Dalam Lirik Lagu Hamil Duluan Yang Dipopulerkan oleh Tuty Wibowo)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif adalah karena penelitian ini

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian pada film animasi Barbie The Princess And The Popstar ini

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. menimbulkan perhatian pada makna tambahan (connotative) dan arti

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. atau nonlapangan yang menggunakan pendekatan paradigma kritis dan jenis

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan topeng sebagai ciri khasnya. Tari topeng Betawi awalnya dipentaskan

BAB I PENDAHULUAN. saat itu dalam berbagai bentuk film-film ini akhirnya memiliki bekas nyata di benak

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. juga disebut dengan istilah sekar, sebab tembang memang berasal dari kata

BAB I PENDAHULUAN. Televisi merupakan salah satu media massa yangcukup populer di tengah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan adalah kualitatif (data yang tidak berupa angka-angka) 35

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek penelitian ini adalah perempuan dan segala permasalahannya,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan paradigma konstruktivis.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. menyalakan lampu sen bagian kanan yang berarti memberikan isyarat atau tanda

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. materi yang akan dikaji menjadi linear (terarah) tidak melebar kepada hal-hal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. digali sedalam-dalamnya serta tidak mengutamakan jumlah populasi atau sampling.

TOLERANSI KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA (Analisis Semiotik Pada Film Tanda Tanya) NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era globalisasi dan seiring dengan perkembangan teknologi,

BAB III METODE PENELITIAN. Tipe penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN. A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

KONSEP DIRI DALAM IKLAN ROKOK A MILD (Analisis Semiotika Tentang Konsep Diri dalam Iklan Rokok A Mild Versi Cowok Blur Go Ahead 2011) Fachrial Daniel

BAB III METODE PENELITIAN. dan jenis penelitiannya adalah analisis wacana. Analisis wacana. ilmiah, yang objeknya representatif perempuan muslim dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Paradigma didefinisikan bermacam-macam, tergantung pada sudut


BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang spesifik. Paradigma ini meliputi asumsi asumsi tentang berbagai hal dari

BAB III METODE PENELITIAN. sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah

Resume Buku SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA Bab 8 Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini Karya: Prof. Dr. Benny H. Hoed

ANALISIS PENANDA DAN PETANDA IKLAN ROKOK PADA PAPAN REKLAME DI KOTA MEDAN. Oleh. Ebenezer Simorangkir M. Oky F. Gafari, S. Sos., M. Hum.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

METODE PENELITIAN. penelitian kualitatif. Seperti pendapat yang dikemukakan Bog dandan Taylor

PEMAKNAAN LIRIK LAGU Jablay (Analisis Semiotika Pemaknaan Lirik Lagu Jablay Yang Dipopulerkan Oleh Titi Kamal) Frydo Faisal Monardi

BAB III METODE PENELITIAN. menerangkan metode-metode atau cara-cara. Sedangkan penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang ditempuh melalui

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

MITOS SOSOK MALAIKAT DALAM LUKISAN SERIAL BK SYUGA SERIES

BAB III METODELOGI PENELITIAN. terstruktur/rekonstruksi pada iklan Cocacola Versi Live Positively disini peneliti

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa sebagai media komunikasi telah dijadikan instrumen untuk

BAB I PENDAHULUAN. Media cetak dan elekronik merupakan hasil perkembangan teknologi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah jenis penelitian deskriptif.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan

ABSTRACT. Semiotics, Signifier, Signified, Denotation, Connotation. yang terlintas di dalam hati. Bloomfield (1996:3-4) mengatakan bahwa bahasa

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan menjelaskan atau menganalisis

BAB III METODE PENELITIAN. Barthes. Sebagai sebuah penelitian deskriptif, penelitian ini hanya memaparkan situasi atau

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ketiga dari rangkaian lima bab penulisan tesis ini akan diuraikan mengenai metode penelitian. Adapun dalam metode penelitian ini berisi tentang jenis penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan penutup. Berikut ini adalah uraiannya. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam peneltian ini metode kualitatif deskriptif. Metode penelitian ini dengan menerapkan analisis kualitatif dengan spesifikasi pada deskripsi. Dikatakan kualitatif juga hal itu karena temuan dalam penelitian ini diperoleh bukan melalui prosedur statistik ataupun bentuk hitungan lainnya (lihat Syamsuddin dan Damaianti, 2009), sedangkan menurut Fraenkel, Wallen, and Hyun, 2012:440), The term Qualitative research refers to studies that investigate the quality of relattionship, activities, situations, or materials The nature setting is a direct source of data, and the researcher is a key part of the instrumentation process in qualitative research. Qualitative data are collected mainly in the form of words or pictures and seldom involve numbers. Coding is primary technique used in data analysis. Qualitative researchers are especially interested in how things occur and particularly in the perspectives of the subjects of a study. Perihal penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data (lihat Moleong, 2002; Djajasudarma, 2006). Moleong (2000:15) menyatakan bahwa "Penelitian kualitatif disebutkan dengan penyelidikan naturalistik". Sobur (2004:187) menjelaskan bahwa objek-objek kajian sosial sebenarnya bukanlah apa yang sebatas penampakannya di alam indrawi, tetapi dunia kehidupan manusia adalah dunia simbolisme. Setiap wujud yang indrawi dalam kehidupan manusia merupakan simbolsimbol yang merefleksikan makna-makna. Berdasarkan fokus data yang

dikumpulkan, analisis yang dilakukan, dan model laporan yang dituliskan, dipilihlah jenis penelitian yang sesuai dengan ketentuan tersebut. Jenis penelitian yang dimaksud adalah penelitian kualitatif (Danim, 2002). Dia menginterpretasikan dan mendeskripsikan data yang diperoleh menurut teori tentang semiotika. Penelitian ini menerapkan model order of signification Barthes dan segitiga proses semiosis dan klasifikasi hubungan tanda dan objek dalam semiotika Peirce. 3.2 Definisi Oprasional Untuk memberikan pemahaman terhadap beberapa istilah dalam penelitian ini, perlu diuraikan beberapa definisi operasional. Adapun beberapa definisi operasional tersebut meliputi semiotika, pamali, order of signification. Menurut KBBI Online, semiotika adalah ilmu (teori) tentang lambang dan tanda (dalam bahasa, lalu lintas, kode morse, dsb); semiotik sering disebut juga semiologi. Semiotika sering didefinisikan sebagai kajian mengenai tanda. Beberapa ahli memiliki pendapat sendiri mengenai definisi semiotik. Saussure (Chandler, 2007:2) mendefinisikan semiologi sebagai suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di dalam kehidupan sosial. Sementara Barthes (Taufiq, 2008: 26) menyebutkan bahwa semiologi adalah ilmu tentang bentuk-bentuk, karena hal itu mempelajari pertandaan terlepas dari kandungannya. Teori yang dikemukakan oleh Saussure dikembangkan oleh pemikir-pemikir lain, salah satunya adalah Roland Barthes. Kridalaksana (Kamaluddin, 2011: 12-13) menyebut Roland Barthes sebagai seorang sarjana yang secara konservatif menjabarkan teori-teori Saussure. Barthes beranggapan bahwa sistem sistem semiologi Saussure hanya merupakan sistem semiologi tahap pertama dan masih diperlukan sistem semiologi tahap kedua. Oleh karena itu Barthes membedakan apa yang ia sebut sebagai tingkatan pemaknaan (orders of signification). Pemaknaan tahap pertama dinamakan the first order of signification atau denotasi dan pemaknaan tahap kedua dinamakan the second order of signification atau konotasi, dan seterusnya ketika ada

pemaknaan lain (Sukyadi, 2011: 40). Dalam KBBI online pantangan; larangan (berdasarkan adat dan kebiasaan). Pamali atau pantangan adalah hal-hal yang sering kita dengar dari orang tua kita atau kakek/nenek kita. Pantangan tersebut tentunya berawal dari banyaknya kasus yang terjadi karena melanggar pantangan tersebut meski segala sesuatunya adalah bersandarkan atas kehendak Tuhan. 3.3 Data dan Sumber Data Data diambil dari informan di desa Cibingbin, Kecamatan Cibingbin Kabupaten. Ada beberapa sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yang pertama diperoleh secara langsung melalui wawancara dengan informan di desa Cibingbin yakni berupa tuturan atau ujaran-ujaran tentang pamali dari informan yang ditranskripsikan dalam bentuk teks, sedangkan data sekunder berupa informasi yang berhubungan dengan data yang diperoleh melalui informan. Penelitian ini difokuskan pada analisis tentang ujaran-ujarannya tersebut..penelitian Kualitatif ditulis biasanya diperoleh dari wawancara, observasi, dan kelompok fokus (Fraenkel, Wallen, and Hyun,. 2012:443). 3.4 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan dengan tehnik obervasi, teknik mencatat serta interview atau wawancara. Arikunto (2006:155) menyatakan bahwa observasi meliputi kegiatan memusatkan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Selain observasi, penelitian ini pun menggunakan teknik interview dari sumber data (informan). Teknik wawancara merupakan teknik komunikasi lisan, melainkan digunakan untuk mengumpulkan data melalui cara dengan melakukan komunikasi secara langsung (Arikunto, 2006:156). Arikunto (2006:156) mengatakan bahwa observasi meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: 1. Mengobservasi 2. Mewawancara dan mencatat ujaran-ujaran pamali yang diperoleh

3. Mengidentifikasi makna 4. Menganalisis dan mendeskripsikan data 5. Menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian 6. Membuat kesimpulan penelitian 3.5 Teknis Analisis Data Teknik analisis data yang pertama kali dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data terlebih dahulu, kemudian mengidentifikasi ujaranujaran tabu/pamali, selanjutnya mengklasifikasikan ujaran-ujaran pamali berdasarkan kemunculannya dalam masyarakat desa Cibingbin, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerjemahan ini dianggap penting, selain karena untuk memudahkan pemahaman umum, laporan penelitian yang berbentuk tesis ini pun ditulis dalam bahasa Indonesia. Setelah semua itu dilakukan lalu masing-masing data yang sudah dikelompokan dianalisis dengan mengambil sampel dari setiap kelompok, yakin 20% dari jumlah data (Arikunto (2006:156) dan dianalisis berdasarkan model semiotik Barthes dan segitiga proses semiosis Pierce untuk mencari hubungan tanda dan objek semiotika aliran Peirce. Namun sebelumnya terlebih dahulu menjawab pertanyaan (a) Bagaimana deskripsi dan klasifikasi ujaran-ujaran pamali dalam masyarakat Sunda Desa Cibingbin-Kabupaten? (b) Bagaimana makna ujaran-ujaran pamali dalam masyarakat Sunda Desa Cibingbin-Kabupaten menggunakan teori Barthes? (c) Bagaimana representasi terhadap ujaran-ujaran pamali dalam masyarakat Sunda Desa Cibingbin-Kabupaten serta hubungan antar tandanya? Contoh analisis data sebagai berikut: Data yang diperoleh 1. ulah sok kuliat mun beres barangtuang 2. anak parawan nu haid ulah mandi sareupna 3. Mun nu hamil kudu mawa gunting

Keempat data tersebut diidentifikasi kemudian dikelompokan atau diklasifikasikan, hasilnya sebagai berikut: data 1 merupakan ujaran atau tuturan berupa larangan terkait makanan. Data 3 merupakan ujaran atau tuturan berupa larangan melakukan sesuatu pekerjaan. Sedangkan data 4 merupakan ujaran berupa perintah. Jadi klasifikasi/kelompok ujaran yang diperoleh yakni: 1. Larangan : Makanan; melakukan pekerjaan Larangan : Perempuan 2. Perintah : Pekerjaan=Perempuan Setelah pengidentifikasi dan pengklasifikasian selesai, kemudian data diterjemahkan. 1) ulah sok kuliat mun beres barangtuang (kalau sudah makan tidak boleh menggeliat) 2) anak parawan nu haid ulah mandi sareupna (anak perawan yang sedang haid tidak boleh mandi di waktu senja/sore) 3) Mun nu hamil kudu mawa gunting (wanita hamil harus membawa gunting) Kemudian tahap analisis data selanjutnya makna ujran pamali menggunakan teori Barthes. Contoh analisis no. 1 #1 mun beres barangtuang ulah sok kuliat SIGNIFIER SIGNIFIED DENOTASI mun beres biasanya habis barangtuang ulah bangun tidur sok kuliat = orang menggeliat kalau sudah makan tidak boleh menggeliat PEMAKNAAN TINGKAT I

mun beres barangtuang ulah sok KONOTASI kuliat = kalau sudah makan tidak boleh menggeliat memberitahukan kepada setiap orang agar segera setelah makan membersihkan bekas PEMAKNAAN TINGKAT II makanan bukan malah bermalasmalasan. (nilai kearifan lokal) mun beres barangtuang ulah sok kuliat = kalau sudah makan MITOS tidak boleh menggeliat Mitos yang menyebar di suku sunda PEMAKNAAN TINGKAT III kalau orang menggeliat itu pemalasan Tabel 3.1 contoh analisis pamali no 1 Dari hasil analisis di atas menunjukan bahwa: mun beres barangtuang ulah sok kuliat - kalau sudah makan tidak boleh menggeliat = denotasi (signifier, tingkat I) - biasanya habis bangun tidur orang menggeliat= denotatif (signified, tingkat I, makna kearifan lokal)

- memberitahukan kepada setiap orang agar segera setelah makan membersihkan bekas makanan bukan malah bermalas-malasan. (nilai kearifan lokal) - Mitos yang menyebar di suku sunda kalau orang menggeliat itu pemalasan = (tingkat III, mitos) Dalam analisis #1 di atas, ujaran mun beres barangtuang ulah sok kuliat= kalau sudah makan tidak boleh menggeliat menjadi penanda denotatif, yakni pemaknaan tingkat I. Sedangkan petanda denotatifnya yaitu biasanya habis bangun tidur orang menggeliat. Berdasarkan KBBI online (kbbi.web.id) menggeliat berasal dari kata geliat /ge li at/; selanjutnya ditambah dengan imbuhan me-geliat menjadi menggeliat /meng ge li at/ v, meregang-regang serta menarik-narik tangan dan badan (spt setelah bangun dr tidur), contohnya: telah menjadi kebiasaan, sebelum bangkit dr tidur ia ~ dulu; Penanda dan petanda denotatif ujaran tersebut menjadi penanda konotatif dalam tahap pemaknaan II. Petanda konotasi untuk ujaran #1 tersebut bermakna bahwa memberitahukan kepada setiap orang agar segera setelah makan membersihkan bekas makanan bukan malah bermalas-malasan. Konotasi selanjutnya bisa dimaknai menjadi mitos. Mitos dalam ujaran tersebut yaitu pemalasan. Makna konotasi dan mitos tersebut mengandung nilai dan makna kearifan lokal karena mengandung pesan di dalamnya. Hal ini dipertegas oleh Barthes dalam pamali juga sering dikaitkan dengan kearifan lokal yang ada dalam suatu daerah karena mitos yang terkandung di dalamnya, secara otomatis mengandung suatu pesan (Barthes, 2007). Tahap analisis selanjutnya menggunakan analisis Pierce dari tuturan #1 mun beres barangtuang ulah sok kuliat = kalau sudah makan tidak boleh menggeliat dengan menggunakan segitiga semiotik Pierce dilakukan melalui segitiga proses semiosis dua tahap seperti di bawah ini: (object) biasanya habis bangun tidur orang menggeliat (object) memberitahukan kepada setiap orang agar segera membereskan/ membersihkan perkakas makan bekas makanan

Bagan analisis ujaran pamali #1 Dari analisis di atas dapat dilihat bahwa yang menjadi tanda pada segitiga proses semiosis tahap pertama yaitu tuturan mun beres barangtuang ulah sok kuliat = kalau sudah makan tidak boleh menggeliat. Sementara itu, objek yang diacu oleh tanda tersebut yakni aktifitas menggeliat, aktifitas itu biasanya dilakukan setelah bangun tidur bukan setalah makan. Adapun interpretan pemalasan menjadi hasil interpretasi awal tuturan pamali #1. Selanjutnya, hasil interpretasi awal tuturan pamali #1, yakni pemalasan yang merupakan mitos yang terjadi di masyarakat desa Cibingbin menjadi tanda pada segitiga semiosis Pierce tahap kedua. Yang menjadi objek acuannya yakni ada makna tersembunyi dibalik mitos tersebut, yakni sebuah pesan tersirat memberitahukan kepada setiap orang agar segera membereskan/ membersihkan perkakas makan. Ketika sesorang setelah makan bukan malah menggeliat tapi membereskan peralatan setelah makan tersebut. Nilai kearifan lokal merupakan interpretan dari interpretasi akhir ujaran pamali #1. Adapun berikutnya yaitu menentukan jenis hubungan yang terbangun di antara tanda dan hasil akhir interpretasi tuturan pamali. Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa hubungan antara tanda dengan objeknya terdiri atas tiga macam hubungan. Ketiganya yaitu ikon yang dipengaruhi oleh faktor kemiripan, indeks yang dipengaruhi oleh faktor sebab dan akibat, dan simbol yang

dipengaruhi oleh faktor konvensi dari penutur bahasa. Maka hubungan tanda dan objeknya dari ujaran pamali di Desa Cibingbin yakni merupakan simbol, karena mun beres barang tuang ulah sok kuliat = kalau sudah makan tidak boleh menggeliat menjadi sebuah tanda kemalasan (objek), ini merupakan label yang diberikan oleh masyarakat bagi yang melakukan kegiatan tersebut. a. Kesimpulan Analisis Tuturan #1 mun beres barang tuang ulah sok kuliat= kalau sudah makan tidak boleh menggeliat menjadi sebuah tanda kemalasan, setelah diklasifikasikan merupakan tuturan pamali yang berupa larangan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan dan tidak ada penghususan bagi siapa larangan itu disebutkan. Kemudian tuturan tersebut diberi tanda mana yang merupakan petanda dan penandanya serta bentuk mitos tersebut dengan menggunakan diagram pemaknaan menurut Barhtes. Selanojutnya dianalisis menggunakan segitiga semiosis Pierce yang menunjukan nilai kearifan lokal sebagai interpretannya. 3.7 Penutup Demikianlah uraian tentang metode penelitian yang telah disajikan. Berikutnya yang akan disampaikan adalah uraian tentang bab keempat. Adapun dalam bab keempat akan dibahas mengenai analisis dan pembahasan tesis ini.