BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab 4 yaitu penilaian kinerja keuangan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk yang akan dibandingkan dengan rata-rata industri di industri semen yang tercatat di Bursa efek Indonesia tahun 2008-2010 dengan menggunakan analisis rasio keuangan dan analisis metode Economic Value Added (EVA) dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: V.1.1. Analisis Likuiditas 1. Current Ratio Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam melunasi hutang jangka pendek pada tahun 2008 dikatakan tidak likuid karena rasio yang berada dibawah rata-rata industri karena kenaikan aktiva lancar yang lebih sedikit dibandingkan dengan kenaikan kewajiban jangka pendek yang lebih signifikan. Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam melunasi hutang jangka pendek pada tahun 2009-2010 dikatakan cukup likuid karena berada diatas rata-rata industri. 108
2. Acid Test Ratio Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tanpa memperhitungkan persediaan yaitu pada tahun 2008 perusahaan dikatakan tidak cukup likuid dalam kemampuan membayar hutang jangka pendek karena kenaikan aktiva lancar tanpa persediaan mengalami kenaikan yang lebih kecil dari kenaikan hutang jangka pendek, selain itu dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya persediaan paling besar adalah pada tahun 2008, maka hal itu mempengaruhi kecilnya acid test ratio. Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tanpa memperhitungkan persediaan yaitu pada tahun 2009 dan tahun 2010 perusahaan dikatakan cukup likuid karena berada diatas rata-rata insustri, hal tersebut terjadi karena aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan mengalami kenaikan lebih besar daripada penurunan kewajiban jangka pendek. 3. Receivable Turnover Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam penagihan piutangnya pada tahun 2008 dikatakan cukup likuid karena sama dengan ratarata industri. Hal tersebut ditunjukan pada kenaikan penjualan yang sebanding dengan kenaikan piutang usaha sedangkan pada tahun 2009 dan tahun 2010 dikatakan tidak cukup likuid karena lebih rendah dibandingkan dengan rata-ratarata industri dan lebih kecil dibandingkan dengan kedua pesaingnya. Hal yang menyebabkan ketidaklikuid pada tahun 2009 dan tahun 2010 adalah kenaikan 109
penjualan yang lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan piutangnya yang cukup signifikan. Hal itu menandakan pada tahun 2008 terdapat modal kerja yang lebih rendah pada piutang sehingga dinyatakan lebih bagus sedangkan modal kerja pada tahun 2009 dan tahun 2010 cenderung meningkat dalam piutangnya sehingga dinyatakan kurang bagus. 4. Average Collection Period Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam penagihan piutang yang akan dijadikan kas pada tahun 2008 dikatakan cukup baik karena sama dengan rata-rata industri. Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dalam penagihan piutang yang akan dijadikan kas pada tahun 2009 dan tahun 2010 dikatakan kurang baik karena periode penagihannya lebih lama dibandingkan dengan rata-rata industri serta lebih rendah bila dibandingkan dengan PT. Semen Gresik, Tbk serta pada tahun 2009 lebih rendah dibandingkan dengan PT. Holcim Indonesia, Tbk. Hal yang menyebabkan periode penagihan perusahaan kurang baik karena kegiatan dari penagihannya dikatakan kurang baik. 5. Inventory Turnover Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam mengelola persediaan pada tahun 2008-2010 dikatakan kurang baik karena berada dibawah rata-rata industri serta mengalami penurunan setiap tahunnya.pada tahun 2008 hal itu terjadi karena adanya kenaikan persediaan yang sangat signifikan yang tidak diimbangi dengan kenaikan HPP sehingga dapat disimpulkan masih ada 110
persediaan yang menumpuk. Pada tahun 2009 hal itu terjadi karena penurunan hpp yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan persediaan sehingga menimbulkan persediaan menumpuk. Pada tahun 2010 hal itu terjadi karena adanya kenaikan persediaan yang signifikan terutama pada barang jadi tidak disertai kenaikan harga pokok produksi yang signifikan sehingga menimbulkan persediaan yang menumpuk. 6. Average days to sell Inventory Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk pada tahun 2008-2010 dalam waktu pengelolaan persediaan kurang baik karena berada di atas rata-rata industri serta lebih tinggi dari kedua pesaingnya dalam waktu pengelolaan persediaan. Hal itu terjadi karena ketidakefektifan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam mengelola persediaannya. 7. Siklus konversi kas (Cash Conversion Cycle) Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk pada tahun 2008-2010 dalam konversi kas dikatakan kurang baik karena lebih tinggi dari rata-rata industri, hal itu dapat menyebabkan tingkat pendanaan yang dibutuhkan lebih tinggi sedangkan konversi kas lebih lama. Hal tersebut terjadi karena konversi persediaan dan piutang yang rendah serta periode penangguhan utang yang terlalu cepat. 111
V.1.2. Analisis Profitabilitas 1. Profit Margin kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam menghasilkan laba bersih dari setiap penjualan cukup baik pada tahun 2008-2010 karena berada diatas rata-rata industri. 2. Gross Profit Margin kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam menghasilkan laba kotor pada tahun 2008-2010 cukup bagus karena berada di atas rata-rata industri dan mengalami kenaikan dari tahun 2008-2010. Hal tersebut menandakan bahwa PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk cukup baik dalam menghasilkan laba kotor serta perhitungan hpp yang sudah sesuai dengan harga produk yang sesuai. 3. Asset Turnover Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam efisiensi penggunaan assetnya untuk menghasilkan penjualan pada tahun 2008 dikatakan cukup baik karena berada diatas rata-rata industri. Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam efisiensi penggunaan assetnya untuk menghasilkan penjualan pada tahun 2009-2010 dikatakan kurang baik karena Kenaikan penjualannya lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan total aktivanya, dan dapat disimpulkan bahwa kenaikan total asset tidak dapat mendorong kenaikan penjualan serta bisa dilihat dari perputaran persediaannya dan perputaran piutang 112
yang kurang baik di tahun 2009 dan tahun 2010 sehingga berpengaruh pada ketidakefektifan penggunaan total asset untuk menghasilkan penjualan. 4. Return on Asset Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. dari tahun 2008-2010 pada tingkat pengembalian atas aset cukup baik karena berada diatas ratarata industri hal itu menunjukan bahwa laba bersih yang meningkat dari tahun ke tahun. 5. Return on Equity Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam mengukur seberapa banyak laba bersih dalam rupiah yang diperoleh dari setiap rupiah yang diinvestasikan pada tahun 2008 dan tahun 2010 dikatakan cukup baik karena berada di atas rata-rata industri sedangkan pada tahun 2009 dikatakan kurang baik karena rasionya dibawah rata-rata industri serta lebih rendah dibandingkan dengan kedua pesaingnya karena Kenaikan ekuitas yang lebih besar dibandingkan dengan kenaikan laba bersih dari tahun sebelumnya sehingga menghasilkan rasio yang lebih kecil. 6. Earning per Share Kemampuan Laba bersih yang dihasilkan dari setiap lembar saham pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2008-2010 dikatakan cukup baik karena lebih unggul dibandingkan dengan kedua pesaingnya. 113
7. Price Earning Ratio Pada tahun 2008, Price Earning Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri, hal tersebut menunjukan bahwa harga saham perusahaan yang tidak terlalu mahal serta perusahaan mampu menghasilkan laba bersih. Pada tahun 2009, Price Earning Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk mengalami penurunan sebesar 1 kali dari tahun 2008 serta rasionya lebih tinggi dibandingkan kedua pesaingnya, hal tersebut menunjukan mahalnya harga saham pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. Pada tahun 2010 Price Earning Ratio PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk lebih tinggi bila dibandingkan dengan rata-rata industri serta lebih tinggi dari pesaingnya PT. Semen Gresik, Tbk, hal tersebut menunjukan bahwa harga saham PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk masih mahal harganya. 8. Payout Ratio Pada tahun 2008-2009 rasio pembayaran pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk lebih rendah dari rata-rata industri dan dari pesaingnya, hal itu menandakan bahwa PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk menginvestasikan sebagian laba bersihnya untuk perkembangan bisnis mereka. Pada tahun 2010 rasio pembayaran pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk lebih tinggi dari rata-rata industri yaitu 26% dengan 25% serta mengalami peningkatan 6 % dari tahun 2009, hal itu menandakan bahwa peningkatan perusahaan dalam membagikan devidennya dibandingkan dengan investasi kembali 114
V.1.3. Analisis Solvabilitas 1. Debt to Total Asset Ratio kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam melunasi kewajiban yang jatuh tempo pada tahun 2008-2010 dikatakan cukup baik karena berada dibawah rata-rata industri, hal ini menunjukan bahwa PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk mampu dalam melunasi kewajibannya karena total asetnya yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan total kewajibannya. 2. Timed Interest Earned Kemampuan Perusahaan pada tahun 2008 Pada PT. Indocement Tunggal, Tbk dikatakan kurang mampu dalam melunasi pembayaran bunga ketika jatuh tempo tanpa memperhitungan pajak yang dibebankan dikarenakan Penurunan laba usaha sebelum bunga dan pajak lebih besar dibandingkan dengan penurunan beban bunga dari tahun sebelumnya sedangkan pada tahun 2009-2010 dikatakan cukup baik karena berada diatas rata-rata industri. V.1.4. Analisis Economic Value Added (EVA) Kemampuan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk dalam menghasilkan nilai tambah bagi pemegang saham pada tahun 2008-2010, menunjukkan nilai Economic Value Added yang positif, hal tersebut menunjukan kinerja manajemen yang baik dari tahun 2008-2010 serta adanya nilai tambah bagi pemegang saham, nilai tambah terus meningkat dari tahun 2008 sampai tahun 2010 dan 115
tertutupinya biaya modal dari tahun 2008-2010 karena NOPAT lebih besar dibandingkan dengan biaya modalnya. Kinerja PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk pada tahun 2008-2010 jika dinilai menggunakan Metode Economic Value Added (EVA) dinyatakan cukup baik dan lebih baik dari pesaingnya yaitu PT. Holcim Indonesia Tbk, tetapi kinerjanya dalam menghasilkan nilai tambah masih lebih rendah dibandingkan dengan PT. Semen Gresik, Tbk, hal itu terjadi karena NOPAT yang dihasilkan oleh PT. Semen Gresik, Tbk lebih besar dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk serta biaya modal yang lebih kecil dibandingkan dengan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. V.2. Saran menyarankan : Berdasarkan dari hasil penelitian dan kesimpulan maka penulis 1. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk diharapkan memperbaiki sistem penagihannya supaya piutang dapat tertagih sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan yaitu dengan cara pemberian potongan atau diskon apabila pelanggan mempercepat pembayaran dari tanggal yang telah ditetapkan. Selain itu, bagian penagihan harus menagih sesuai dengan waktu penagihan yang telah ditentukan. 2. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk diharapkan memperbaiki standar maximum persediaan yang sesuai sehingga tidak terjadinya penumpukan 116
persediaan, menyusun jadwal antara kebutuhan dengan tersedianya persediaan, sehingga perusahaan tidak menyimpan persediaan yang berlebih serta menaikan penjualan dengan cara meningkatkan promosi, meningkatkan pangsa pasar, distribusi dan penjualan secara kredit yang memungkinkan terpakainya persediaan dari aktifitas produksi. 3. Memperpanjang periode penangguhan utang dengan memperlambat pembayaran utang. 4. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk diharapkan lebih mengefektifkankan penggunakan total asset untuk menghasilkan penjualan yaitu dengan mengefektifkan penggunaan aktiva tetap, dalam hal ini lebih mengefektifkan penggunaan mesin-mesin produksi dalam menghasilkan penjualan. 5. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk diharapkan lebih meningkatkan laba usahanya dengan menaikkan penjualan, dan penghematan beban-beban karena akan meningkatkan Net Operating Profit After Tax serta mengurangi biaya-biaya yang kurang bermanfaat sehingga EVA akan semakin bertambah meskipun menghasilkan EVA positif tetapi EVA PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk lebih rendah dibandingkan dengan PT. Semen Gresik Tbk. 117
118