Estimasi Demand Angkutan Barang Shortcut

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sekitar Rp 559,54 trilliun ditambah. Rp 323,67 trilliun (Natsir, 2011).

MODEL TRIP DISTRIBUTION PENUMPANG DOMESTIK DAN INTERNASIONAL DI BANDARA INTERNASIONAL JUANDA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota sebagai perwujudan aktivitas manusia senantiasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

I. PENDAHULUAN. adanya ketimpangan dan ketidakmerataan. Salah satu penyebabnya adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. murah, aman dan nyaman. Sebagian besar masalah transportasi yang dialami

Analisis Pola Operasi Mempawah-Sanggau Kalimantan Barat

Penentuan Koefisien Hambatan β Asal Tujuan Transportasi di Provinsi Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta

ANALISIS KEBUTUHAN ANGKUTAN KOTA MANADO (STUDI KASUS: TRAYEK PUSAT KOTA MALALAYANG DAN TRAYEK PUSAT KOTA KAROMBASAN)

BAB. I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1

BAB III LANDASAN TEORI. International Airport akan melibatkan partisipasi dari stakeholders termasuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PENYIAPAN DOKUMEN PROYEK INVESTASI PENYELENGGARAAN MONOREL DI PULAU BATAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ESTIMASI MATRIK INFORMASI LALU LINTAS MODEL GRAVITY ASAL TUJUAN ANGKUTAN PRIBADI-UMUM

STUDI DEMAND PADA RENCANA PEMBANGUNAN JALAN SORONG-KEBAR-MANOKWARI DENGAN MODEL GRAVITY

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sebuah perusahaan kereta api merupakan suatu organisasi yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Studi Demand Kereta Api Komuter Lawang-Kepanjen

I. PENDAHULUAN. Administrasi (2010), Jakarta mempunyai luas 7.659,02 km 2. penduduk sebesar jiwa. Jakarta juga mempunyai kepadatan penduduk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

PREDIKSI POLA DAN JUMLAH PERGERAKAN BARANG DI PROVINSI LAMPUNG. Tas an Junaedi 1)

PELUANG INVESTASI PEMBANGUNAN LRT DAN BRT

BAB III LANDASAN TEORI

MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA LIGHT RAIL TRANSIT (LRT) DENGAN SEPEDA MOTOR DI JAKARTA

MODEL BANGKITAN PERGERAKAN ZONA KECAMATAN PALU BARAT KOTA PALU

ALTERNATIF PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI UMUM (STUDI KASUS: BUS DAN KERETA API TRAYEK KOTA PADANG- KOTA PARIAMAN)

PENENTUAN TARIF ANGKUTAN BARANG MODA KERETA API JALUR PADANG-SOLOK ABSTRAK

BAB IV ANALISA DAN HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS ANGKUTAN KERETA API DAN IMPLIKASINYA PADA BUMN PERKERETAAPIAN INDONESIA

PENGANGKUTAN BARANG DI JALUR PANTURA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. usaha perkebunan mendukung kelestarian sumber daya alam dan lingkungan

2 Program Studi Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganeca 10 Bandung

STUDI PEMODELAN TRANSPORTASI DI RUAS JALAN NGINDEN AKIBAT JALAN MERR II-C ( SEGMEN KEDUNG BARUK SEMOLOWARU ) SURABAYA TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. dalam masyarakat dapat dikatakan baik apabila transportasi tersebut dapat

KAJIAN POLA PERGERAKAN DI PROPINSI LAMPUNG

KARAKTERISTIK BANGKITAN DAN SEBARAN PERGERAKAN PENDUDUK PADA JALUR PERENCANAAN KERETA KOMUTER LAWANG-KEPANJEN DI MALANG RAYA

I. PENDAHULUAN. Perkotaan yang mengalami perkembangan selalu menghadapi permasalahan

PERENCANAAN ANGKUTAN BUS KORIDOR TERMINAL TAMBAK OSOWILANGUN PERAK KENJERAN SURABAYA

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Rencana Jaringan Kereta Api di Pulau Sumatera Tahun 2030 (sumber: RIPNAS, Kemenhub, 2011)

III. METODOLOGI. Metodologi penelitian ini bertujuan untuk mempermudah. masalah dengan maksud dan tujuan yang telah ditetapkan secara sistematis.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. 2006), hampir 83% pergerakan barang di Indonesia terjadi di pulau Jawa, 10% di

BAB I PENDAHULUAN. ketepatan waktu, sehingga kereta api sangat dapat diandalkan (reliable). Pesaing

KAJIAN POTENSI PENUMPANG ANGKUTAN KERETA API LINTAS MADURA (BANGKALAN SUMENEP PP) DENGAN MENGGUNAKAN METODE STATED PREFERENCE

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Peran dan Karakteristik Moda Transportasi Kereta Api Nasional

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran dan Karakteristik Angkutan Kereta Api Nasional

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

PERKIRAAN DISTRIBUSI PERGERAKAN PENUMPANG DI PROVINSI JAWA BARAT BERDASARKAN ASAL TUJUAN TRANSPORTASI NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi

2013, No Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah diubah terakhir deng

Syafi i Dosen Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36 A Surakarta Telp. (0271)

[ U.30 ] PENELITIAN FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI TERHAMBATNYA ARUS DISTRIBUSI BARANG PADA TERMINAL PETI KEMAS GEDEBAGE BANDUNG

KAJIAN PENGARUH JEMBATAN KAPUAS TERHADAP LALU LINTAS AIR MAUPUN DARAT DI KOTA SINTANG

BAB I PENDAHULUAN. pemanfaatan seluruh potensi daerah guna mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan

PENGARUH PEMBUKAAN JALAN RUAS WAMENA- KARUBAGA-MULIA TERHADAP LALU LINTAS DAN PERKERASAN DI JALAN ARTERI DI KOTA WAMENA

Syafi i Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36 A Surakarta Telp. (0271)

gerak yang ada, keselamatan, kenyamanan, dan lain-lain.

BAB III LANDASAN TEORI. mengetahui pelayanan angkutan umum sudah berjalan dengan baik/ belum, dapat

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA BARAT FEBRUARI 2015

JUDUL MAKALAH SEMINAR STUDI DEMAND PENUMPANG TRANSPORTASI UDARA MENUJU DAN KELUAR KABUPATEN FAKFAK

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

NASKAH SEMINAR TUGAS AKHIR STUDI POLA OPERASI JALUR KERETA API GANDA SEMBAWA-BETUNG 1

ANALISIS POLA PERJALANAN MASYARAKAT KOTA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Bertambahnya penduduk seiring dengan berjalannya waktu, berdampak

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Rancangan Tata Letak Jalur Stasiun Lahat

GREEN TRANSPORTATION

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KENAPA TRANSPORTASI PERLU DIRENCANAKAN?

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

K E P U T U S A N PIMPINAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR : 12 /KEP.PIMP/ 2004 T E N T A N G

BAB I PENDAHULUAN. kondisi jalan raya terjadi banyak kerusakan, polusi udara dan pemborosan bahan

KARAKTERISTIK TRANSPORTASI KABUPATEN BANYUASIN SEBAGAI DAERAH PENYANGGA KOTA PALEMBANG

KAJIAN PERPINDAHAN MODA (MODE SHIFTING) DARI PENGGUNA KENDARAAN PRIBADI KE KENDARAAN UMUM (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1.1 Latar Belakang Masalah

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari peforma pembangunan infrastrukturnya. Maka dari itu, perbaikan

Transkripsi:

Estimasi Demand Angkutan Barang Shortcut Padang Solok dari Peralihan Moda Truk ke Kereta Api Sebagai Bahan Pertimbangan Proyek Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) TRI SEFRUS 1 ABSTRACT Commodity movement area of Jambi, Riau and West Sumatra eastern part transported by road transport with the same line, namely Padang - Solok. The transport flow reached 8158 vehicles with payloads reached 2,338,834 tons per year (Department of Communication and Information, 2011). The traffic flow is causing congestion and road damage. To that end, it is necessary to limit the load of freight trucks. One of them with modal shifts to rail. And one of the technical aspects to be considered, is taking into account the number of requests (estimated demand) in the long term. Estimates of origin destination matrix made by the method of Gravity types without limitation, by using secondary data from the Department of Transportation West Sumatra Province. From the estimation, predictable amount of freight that passes through Padang - Solok in 2015 amounted to 2.29512 million tons with a growth rate of 1.52% per year. So predictable amount of freight in 2040 amounted to 3.34632 million tons / year. Keywords: Demand Estimates, modal shifts. PENDAHULUAN Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Infrastruktur juga memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Ini mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi. Oleh karena itu, pembangunan sektor ini menjadi pondasi dari pembangunan ekonomi selanjutnya. Seperti halnya Sumatera Barat, provinsi yang saat ini sedang berkembang dengan jumlah penduduk 4.845.998 orang per 42.130,82 km 2 (Biro Administrasi Pembangunan, 2010). Moda transportasi jalan menjadi satu-satunya andalan transportasi baik penumpang maupun barang di Sumatera Barat. Komoditi daerah baik yang berasal dari Provinsi Jambi maupun Sumatera Barat bagian timur diangkut melalui transportasi jalan dengan jalur yang sama, yaitu Muaro Bungo - Dharmasraya Sijunjung Solok Padang - Teluk bayur. Arus angkutan ini cukup padat mencapai angka 8.158 kendaraan dengan muatan mencapai 2.338.834 ton di tahun 2010 ( Kendaraan Bermotor, 2011). Kepadatan ini menimbulkan kemacetan dan kerusakan jalan, terlebih banyaknya truk angkutan yang membawa beban melebihi kapasitas yang disyaratkan. Sehingga, waktu tempuh dari Padang ke Solok dan sebaliknya 1 Dosen Prodi Sipil Fakultas Teknik 55

membutuhkan waktu yang cukup lama dari biasanya. Untuk mengatasi hal ini, disamping membatasi muatan truk juga dapat dilakukan melalui pengalihan moda transportasi angkutan barang. Salah satunya adalah dengan penggunaan moda transportasi kereta api. Dalam hal ini pemerintah perlu mempertimbangkan kembali penggunaan kereta api untuk mengangkut barang dari Padang ke Solok dan sebaliknya. Oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada tahun 2011 sedang disusun rencana pengembangan perkeretaapian Sumatera Barat, dan dalam jangka pendek akan dibangun jalur kereta api shortcut Padang - Solok. Rencana pembangunan shortcut Padang - Solok ini telah masuk dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Barat. Peralihan moda ke kereta api ini didasari oleh pertimbangan bahwa kereta api merupakan salah satu moda transportasi yang memiliki keunggulan terutama dilihat dari segi sifatnya sebagai angkutan massal yang efektif, keselamatan dan ketepatan waktu tinggi, ramah lingkungan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Disisi lain pengembangan moda kereta api diharapkan dapat menekan kerusakan jalan, kepadatan lalu lintas jalan, minimalisasi biaya angkutan dan distribusi logistik. Namun pembiayaan pembangunan jalur kereta api baru membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Biaya pembangunannya diperkirakan mencapai Rp. 10,9 triliun rupiah (Divre II b, 2011). Mengingat bahwa biaya yang dibutuhkan dalam jumlah besar, alternatif pembiayaan yang ditawarkan adalah melalui bentuk Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Dimana Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) adalah perjanjian kontrak antara sektor publik (pemerintah) dengan pihak swasta dalam penyediaan pelayanan infrastruktur publik atau pelayanan dasar lainnya yang pelayanan tersebut secara tradisional biasanya disediakan oleh pemerintah. Melihat kepada definisi KPS, melalui perjanjian ini keahlian dan aset dari kedua belah pihak (pemerintah dan swasta) dikerjasamakan dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat. Dalam melakukan kerjasama ini resiko dan manfaat potensial dalam menyediakan pelayanan ataupun fasilitas dipilah/dibagi kepada pemerintah dan swasta. Salah satu resiko yang harus dipertimbangkan untuk menarik minat swasta sebelum diambil keputusan kerjasama adalah memperhitungkan jumlah permintaan dalam jangka waktu panjang. Hal ini dikarenakan perubahan jumlah permintaan akan sangat mempengaruhi keberlangsungan profit kerjasama. Disini jelas terlihat bahwa estimasi jumlah permintaan merupakan salah satu hal terpenting yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan keputusan investasi kepada proyek infrastruktur berbasis kemitraan pemerintah swata. Dan perkiraan besarnya permintaan ini biasanya diperoleh melalui suatu proses modeling. Berangkat dari kondisi diatas, maka dilakukan penelitian mengenai estimasi jumlah permintaan terhadap jenis angkutan barang yang akan melewati jalur Solok - Padang sebagai pertimbangan besar dalam perencanaan pembangunan jalur perkeretaapian shortcut Padang - Solok yang direncanakan berbasiskan kerjasama pemerintah swasta di Sumatera Barat. Em METODE PENELITIAN Penelitian ini difokuskan pada arus angkutan barang yang melewati jalur Padang - Solok. Namun angkutan barang yang melewati 56

jalur ini berasal dari/ bertujuan ke beberapa kota dan kabupaten di Sumatera Barat dan sekitarnya. Wilayah asal tujuan angkutan barang ini berasal dari sembilan kabupaten di Sumatera Barat, tiga kota di Sumatera Barat, Provinsi Jambi, dan Provinsi Riau. Mengenai letak lokasinya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut : dan Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi, serta Provinsi Riau. Pada penelitian ini, langkah penelitian yang dilakukan terlihat pada Gambar 2 berikut. Persiapan Latar belakang Perumusan masalah Identifikasi data yang dibutuhkan Pengumpulan data Pengambilan data sekunder Pemodelan Estimasi pergerakan angkutan barang Hasil Analisa dan pembahasan Kesimpulan Gambar 2. Alur tahapan penelitian Gambar 1. Batas Administrasi Sumatera Barat Sumber : Tatrawil Sumatera Barat (2006) Kabupaten dan kota yang diteliti asal tujuan angkutan barangnya tersebut meliputi Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Tanah Datar, Kota Sawahlunto, Kota Padang, Kabupaten Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten 50 kota, Kabupaten Muaro Bungo Tahap ini dimulai dari menetapkan zona, menghitung matriks aksesibilitas, menghitung matriks hambatan, menghitung MAT (matriks asal tujuan), menghitung angka pertumbuhan, dan meramal jumlah permintaan di tahun rencana. Seperti yang terlihat pada Gambar 3, metode yang digunakan dalam pemodelan adalah metode gravity jenis tanpa batasan/ucgr (unconstrained gravity). Dari model permintaan jumlah angkutan dan model peralihan moda yang didapatkan, akan diperoleh konsep perencanaan transportasi berupa peramalan nilai pergerakan angkutan barang Padang - 57

Solok menggunakan moda jalan baja (kereta api) selama 30 tahun yang akan datang. angkutan barang (via shortcut Padang - Solok) terlihat pada Tabel 1 berikut. Metode Gravity Penetapan zona (internal dan eksternal) Menghitung matriks aksesibilitas Menghitung fungsi hambatan Menghitung MAT (matriks asal tujuan) tahun sekarang Menghitung angka pertumbuhan Mengestimasi jumlah permintaan angkutan barang Gambar 3. Tahap Pemodelan Tabel 1. Penomoran zona pergerakan No zona Pusat zona 1 Padang 2 Bukit Putus 3 Indarung 4 Solok 5 Muaro Kalaban 6 Sawahlunto 7 Padang Sibusuk Pola matriks asal tujuan Sumatera Barat yang ada pada dokumen tatrawil dan dinas perhubungan Provinsi Sumatera Barat. Kemudian disesuaikan dengan zona penelitian didapatkan nilai bangkitan dan tarikan antar zona seperti pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Matriks asal tujuan PEMBAHASAN Sesuai dengan perencanaan pembangunan shortcut Padang - Solok yang rencananya akan mulai dibangun pada tahun 2014 untuk mengangkut komoditi angkutan barang, berikut analisa perhitungan ramalan permintaan angkutan barang untuk 30 tahun ke depan sebagai titik tolak perencanaan jalur transportasi yang berbasiskan kerjasama pemerintah swasta (KPS). Disesuaikan dengan jalur perkeretaapian yang sudah ada, dan ditambah dengan perencanaan pembangunan jalur perkeretaapian baru, jalur kereta api yang akan dilewati untuk zona 1 2 3 4 5 6 7 Oi 1 6,25 2 2,68 3 6,58 4 2,26 5 2,34 6 3,51 7 7,25 Dd 4,44 6,42 3,16 3,12 1,75 3,37 8,59 30,87 58

0-2500 2500-5000 5000-7500 7500-10000 10000-12500 12500-15000 Jumlah pergerakan Pada penelitian ini, aksesibilitas yang digunakan adalah biaya gabungan (Cid) dari biaya per satu kali perjalanan menggunakan satu rangkaian penuh kereta api (20 gerbong) yang dihitung dalam satuan rupiah. Aksesibilitas ini kemudian di masukkan dalam bentuk matriks yang disebut matriks biaya, seperti yang terlihat pada Tabel 3 berikut : Tabel 3. Aksesibilitas antar zona Zona 1 2 3 4 5 6 7 70 60 50 40 30 20 10 0 Sebaran biaya pergerakan Biaya pergerakan per ton Gambar 4. Sebaran biaya pergerakan 1 4 6 17 42 60 64 65 2 6 4 12 36 55 58 60 3 17 12 4 34 53 56 57 4 42 36 34 4 19 22 24 5 60 55 53 19 4 2 5 6 64 58 56 22 3 4 8 7 65 60 57 24 5 8 4 Dalam penelitian digambarkan sebaran pergerakan menggunakan perbandingan biaya pengangkutan untuk masing masing 1 ton komoditi pada masing masing zona, seperti yang terlihat pada Gambar 4 berikut : Berdasarkan jenis hambatan yang disarankan Hyman (1969), maka bentuk grafik seperti diatas lebih mendekati menggunakan fungsi hambatan eksponensial negatif. Yaitu, dengan rumus f Cid = e βc id. Dengan nilai parameter β di dapatkan menggunakan kalibarasi metode Hyman, yaitu β= k C id, dengan nilai k = 2~3 dan Cid adalah rata rata nilai Cid. Dengan memasukkan nilai pada matriks biaya (Cid) ke dalam rumus eksponensial negatif, maka akan didapatkan nilai hambatan seperti yang tergambar pada matriks di Tabel 4 berikut. Tabel 4. Matriks exp(-β.cid) Zo na 1 2 3 4 5 6 7 1 0.728 0.638 0.253 0.036 0.008 0.006 0.005 2 0.638 0.728 0.397 0.056 0.012 0.001 0.008 3 0.253 0.397 0.728 0.067 0.015 0.012 0.010 4 0.036 0.056 0.067 0.728 0.225 0.174 0.152 5 0.008 0.013 0.015 0.225 0.728 0.822 0.676 6 0.006 0.010 0.012 0.174 0.772 0.728 0.522 7 0.005 0.009 0.010 0.152 0.676 0.522 0.728 59

Untuk menghitung nilai MAT (matriks asal tujuan), pada penelitian ini digunakan metode gravity jenis UCGR (tanpa batasan). Adapun rumus yang digunakan yaitu Tid = Oi.Dd.Ai.Bd.f(Cid), dengan mengangap nilai Ai = 1 untuk seluruh i dan Bd = 1 untuk seluruh d. Adapun hasil perhitungan MAT (pergerakan antar zona) di tahun 2010, terlihat pada Tabel 5 berikut. Namun total jumlah bangkitan dan tarikan hasil perhitunga n sama dengan total jumlah bangkitan dan tarikan yang diprediksi kan, yaitu 30.867 ton/hari. Zona 1 2 3 4 5 6 7 oi Oi Ei Ai 1 2,518 2,600 641 147 27 43 99 6,076 6,250 1.0287 1 2 771 1,560 385 88 16 26 59 2,905 2,678 0.9219 1 3 948 1,919 1,887 247 46 72 166 5,284 6,577 1.2447 1 4 76 154 86 640 118 187 432 1,693 2,265 1.3375 1 5 26 51 29 217 372 619 1,362 2,676 2,341 0.8749 1 6 32 64 36 268 460 1,073 1,682 3,616 3,510 0.9707 1 7 59 120 68 501 860 1,363 5,646 8,618 7,246 0.8408 1 Dd 4,429 6,468 3,132 2,108 1,899 3,383 9,447 30,867 Dd 4,443 6,424 3,164 3,117 1,754 3,372 8,593 30,867 Ed 1.0031 0.9931 1.0102 1.4783 0.9234 0.9969 0.9096 Bd 1 1 1 1 1 1 1 Ada pun rumus pertumbuhan yang digunakan adalah sebagai berikut; dengan laju pertumbuhan terlihat pada tabel 6. Pn = Po*(1+r)^n Tabel 6. Laju pertumbuhan Tabel 5. Matriks asal tujuan tahun 2010 Laju Pertumbuhan (%) 2006 2007 E1 2007 2008 E2 4,623 4,737 2.46 4,737 4,878 2.99 Ratarata 2008 2009 E3 2009 2010 E4 ER 4,878 4,943 1.33 4,943 4,970 0.54 1.83 MAT diatas memperlihatkan nilai bangkitan yang tidak harus sama dengan nilai tarikan. 60

Perencanaan jaringan transportasi shortcut Padang - Solok yang pembangunan dan penggelolaannya direncanakan dengan skema Kerjasama Pemerintah Swasta ini, direncanakan dalam masa konsesi kerjasama minimal 25 tahun ke depan. Untuk itu, terlebih dahulu harus diketahui estimasi pergerakan angkutan barang hingga 30 tahun ke depan. Gambaran dari estimasi pergerakan angkutan barang inilah yang akan menjadi pertimbangan besar dalam memutuskan kerjasama. Apabila estimasi pergerakan ini dinilai cukup besar dan mampu memberikan jaminan finansial, maka wacana kerjasama pemerintah swasta bisa dilanjutkan. Pergerakan antar stasiun Setelah didapatkan jumlah pergerakan antar zona, maka bisa dilihat jumlah pergerakan antar titik stasiun. Misalnya pergerakan minyak tanah dari zona 7 (Padang Sibusuk) ke zona 1 (Padang), maka sebenarnya pergerakan ini tidak semata langsung dari stasiun Padang Sibusuk ke stasiun Padang melainkan melewati beberapa stasiun seperti stasiun di Muaro Kalaban Solok Pauh Limo Bukit Putus Padang. Pergerakan ini tentunya mempengaruhi jumlah pergerakan antar stasiun lainnya. Misal lainnya, jumlah pergerakan yang melewati Muaro Kelaban tidak hanya dilewati komoditi yang berasal dari muaro Kalaban, melainkan juga komoditi yang berasal dari stasiun Padang Sibusuk dan Sawahlunto yang akan menuju ke stasiun Bukit Putus ataupun Padang. Begitu pula pada saat di stasiun Solok, juga dilewati komoditi yang berasal dari Padang Sibusuk, Sawahlunto, Muaro Kalaban, dan juga Solok, dengan tujuan stasiun Indarung atau Bukit Putus atau Padang. Tabel 7. MAT tahun 2040 Zona 1 2 3 4 5 6 7 oi Oi Ei Ai 1 4,338 4,480 1,105 253 47 74 171 10,468 10,768 1.0287 1 2 1,328 2,688 663 152 28 44 102 5,005 4,614 0.0000 1 3 1,633 3,306 3,251 425 78 124 287 9,104 11,332 1.2447 1 4 131 265 148 1,103 204 323 744 2,918 3,902 1.3375 1 5 44 88 50 374 642 1,066 2,346 4,610 4,033 0.8749 1 6 55 111 62 462 793 1,849 2,898 6,230 6,048 0.9707 1 7 102 207 116 864 1,482 2,348 9,728 14,848 12,484 0.8408 1 Dd 7,631 11,145 5,396 3,633 3,273 5,828 16,277 53,182 Dd 7,655 11,068 5,451 5,370 3,022 5,810 14,805 53,182 Ed 1.0031 0.9931 0.0000 1.4783 0.9234 0.9969 0.9096 Bd 1 1 1 1 1 1 1 61

Apabila dihitung pergerakan komoditi yang melewati masing masing stasiun, diramalkan pada tahun 2040, didapatkan pula nilai seperti yang tampak pada Gambar 4.29. Pelabuhan Teluk Bayur Km. 0+000 St. Padang Km. 7+093 St. Sawahlunto Km 8+657 St. Bukit Putus Km. 1+933 St. Indarung Km 14+572 St. Sawahlunto Km. 72+871 St. Solok Km. 45+307 Gambar 5. Ramalan pergerakan antar stasiun tahun 2040 Gambar 5 memperlihatkan bahwa nilai pergerakan tertinggi merupakan pergerakan dari stasiun Padang ke stasiun Bukit Putus, dan sebaliknya. Nilai ini berkisar 14.000an pergerakan di tahun 2040. Nilai pergerakan ini didominasi oleh pergerakan komoditi inti sawit dan CPO yang diangkut dari Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat ke Pelabuhan Teluk Bayur. Setelah pergerakan dari stasiun Padang ke stasiun Bukit Putus, pergerakan tertinggi disusul oleh pergerakan dari stasiun Sawahlunto ke stasiun Padang Sibusuk. Pergerakan ini berkisar 12.000an pada tahun 2040. Pegerakan ini didominasi oleh pergerakan hasil pertanian dari Kabupaten Tanah datar dan Beras dari Sawahlunto ke Provinsi Riau. Selain itu, pergerakan minyak goreng, gula dan kelontong 5.000 St. Padang Sibusuk Km. 74+958 St. Muaro Kalaban Km. 68+793 8.000 9.000 11.000 12.000 14.000 yang jumlahnya cukup dominan dari Provinsi Riau (Pekanbaru) menuju ke beberapa kabupaten di Sumatera Barat. Sedangkan pergerakan dari stasiun Solok ke stasiun Pauh Limo memang tidak dominan, namun jumlah pergerakan ini mulai tampak dominan setelah melewati stasiun Pauh Limo ke Bukit Putus. Namun demikian, nilai pergerakan ini cukup besar, berkisar 9.000an ton/hari (tahun 2040 dengan pertumbuhan normal). KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa diramalkan 25 tahun ke depan jumlah angkutan barang yang melewati jalur Solok Padang sekitar 11.986 ton/hari ( atau 24,68% dari total pergerakan) dengan dominasi jenis komoditi batu bara dan semen. Dengan ramalan jumlah pergerakan tersebut dirasa layak mengalihkan moda pengangkutan angkutan barang dari moda truk ke moda pengangkutan kereta api. Untuk itu diharapkan pihak Divre II KAI bisa segera melakukan analisa studi kelayakan mengenai wacana pembangunan shortcut Solok Padang dengan berbasiskan kerjasama pemerintah swasta, meliputi aspek aspek vital yang harus ada di dalam studi kelayakan proyek kerjasama. Seperti yang tercantum di dalam Peraturan Menteri/Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun 2010 Tentang Panduan Umum Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur. Dan apabila wacana pembangunan shortcut Solok Padang ini benar akan direalisasikan dalam waktu dekat, berarti pemerintah harus benar benar mempersiapkan pembangunan termasuk regulasinya. Pemerintah harus bisa mengeluarkan regulasi bahwa apabila shortcut Solok Padang selesai dibangun, seluruh komoditi angkutan barang yang 62

melewati jalur ini diharuskan menggunakan moda transportasi kereta api barang atau dilarang menggunakan moda angkutan jalan raya. Hal ini untuk menjaga efisiensi jumlah pergerakan angkutan. DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, S. 2011. Jaringan Transportasi teori dan analisis. Yogyakarta : Penerbit Graha Ilmu. Departemen Perhubungan Ditjen Perkeretaapian. 2010. Buku -8A Laporan Akhir (Final Report). PT. Jasakons Putra Utama. Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian. 2010. DED Pembangunan Shorcut Jalan KA Solok Padang. Tahunan Tahun 2006. Padang. Tahunan Tahun 2007. Padang. Tahunan Tahun 2008. Padang. Tahunan Tahun 2009. Padang. Tahunan Tahun 2010. Padang. Dinas Perhubungan Propinsi Sumatera Barat. 2006. Tataran Transportasi Wilayah Propinsi Sumatera Barat. Divre II a. 2011. Bahan Paparan Divre II Sumbar. Laporan akhir. Divre II b. 2011. Laporan Program Kegiatan TA 2011 dan usulan kegiatan 2013-RKA 2014. Laporan akhir. Kementrian Perhubungan Ditjen Perkeretaapian. 2011. Rencana Induk Perkeretaapian Nasional. From http://perkeretaapian.dephub.go.id/dmdoc uments/ripnas-final.pdf, diakses 10 September 2011. Khisty, C. & Lall, K (2006). Dasar Dasar Rekayasa Transportasi. Jakarta : Penerbit Erlangga. Miro, F. 2005. Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa, Perencana, dan Praktisi. Jakarta : Penerbit Erlangga. Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta Syawaludin, 2011. Sejarah panjang kereta api. From http://sumbarpost.com/berita-402- sejarah-panjang-keretaapi.html#.tuvosrjam40, diakses 12 oktober 2011. Tamin, O.Z. 2000. Perencanaan Pemodelan Transportasi. Bandung : Penerbit Institut Teknologi Bandung. Tamin, O.Z. 1997. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung : Penerbit Institut Teknologi Bandung. Yulianto. 2009. Jejak kereta api sumbar. Majalah Travel Club tanggal 25 September 2009. From http://www.minangforum.com/thread- Jejak-Kereta-Api-Sumbar, diakses 23 Oktober 2011. 63