EVALUASI RANCANGAN KURIKULUM DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT Meity Martaleo 1, *) dan Togar M. Simatupang 2) 1) Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri Universitas Katolik Parahyangan Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung 40141 E-mail: meity.martaleo@gmail.com 2) Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung ABSTRAK Pendidikan merupakan salah satu sektor jasa yang tidak hanya berfungsi sebagai entitas bisnis namun juga memiliki misi sosial untuk meningkatkan taraf hidup manusia melalui ilmu pengetahuan. Saat ini persaingan antar penyedia layanan pendidikan tinggi berlangsung semakin ketat, baik antar sesama program studi maupun antar universitas. Program studi dituntut untuk selalu melakukan perbaikan dan inovasi secara berkelanjutan (continuous improvement). Objek penelitian merupakan salah satu penyedia layanan pendidikan tinggi di Kota Bandung. Sasaran akademis yang dirumuskan adalah menghasilkan lulusan sarjana yang unggul dan berdaya saing tinggi sesuai dengan bidang keahliannya. Selain menghasilkan lulusan yang bermutu, perlu juga diperhatikan mengenai faktor lama studi mahasiswa. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa rata-rata lama studi mahasiswa hingga Maret 2011 adalah 4,8 tahun, terjadi peningkatan sebanyak 0,4 tahun dibandingkan tahun 2010. Analisis akar masalah menunjukkan bahwa penyebab meningkatnya rata-rata lama studi mahasiswa karena adanya masalah pada rancangan kurikulum. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan melakukan evaluasi kurikulum menggunakan QFD (Quality Function Deployment). Kata kunci: pendidikan tinggi, kurikulum, continuous improvement, quality function deployment. PENDAHULUAN Salah satu sektor jasa berdasarkan jenis kegiatannya adalah industri pendidikan, yang termasuk sekolah, universitas, pelatihan, dan pengembangan. Perkembangan sektor jasa erat kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan aktivitas perekonomian. Bisnis pendidikan termasuk ke dalam tahap kuiner, di mana tahap ini merupakan tahap perbaikan dan peningkatan kapasitas manusia. Jasa pendidikan memiliki keunikan dibandingkan dengan sektor jasa lainnya, karena tidak hanya berfungsi sebagai entitas bisnis, namun juga memiliki misi sosial untuk meningkatkan taraf hidup manusia melalui ilmu pengetahuan. Jasa pendidikan bersifat kompleks karena berhubungan dengan banyak pemangku kepentingan baik. Jasa pendidikan merupakan jasa yang ditujukan pada pikiran manusia, artinya pelanggan harus hadir secara mental untuk dapat memperoleh manfaat dari jasa pendidikan tersebut. Seiring berjalannya waktu, jumlah institusi penyedia layanan pendidikan tinggi semakin banyak. Universitas maupun program studi mengalami persaingan dari pihak internal maupun eksternal. Dalam menghadapi persaingan tersebut, Menteri Pendidikan Nasional (2000) mensyaratkan bahwa pendidikan tinggi harus melakukan proses penjaminan mutu secara konsisten dan benar agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan A-31-1
berkelanjutan. Salah satu proses penjaminan mutu adalah dengan melakukan tindakan perbaikan internal secara berkelanjutan (continuous improvement) terhadap kurikulum. Peran kurikulum di dalam sistem pendidikan tinggi amatlah penting, karena kurikulum dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum seharusnya juga memuat standar kompetensi lulusan yang terstruktur dalam kompetensi utama, pendukung, dan lainnya yang mendukung tercapainya tujuan, terlaksananya misi, dan terwujudnya visi program studi. Hasil implementasi penyesuaian kurikulum pada program studi yang menjadi objek penelitian yaitu pengurangan waktu studi mahasiswa yang semula 8 semester menjadi 7 semester. Hal ini dilakukan karena adanya tuntutan dari pihak internal dan persaingan dari pihak eksternal. Penyesuaian juga dilakukan agar kurikulum tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna lulusan. Dengan pemberlakuan kurikulum baru diharapkan lama studi lulusan dapat mendekati 7 semester atau 3,5 tahun. Akan tetapi pada kenyataannya diketahui bahwa lama studi lulusan yaitu selama 4,8 tahun, atau selisih 1,3 tahun dengan lama studi yang diharapkan oleh program studi. Perbedaaan sebesar 1,3 tahun tersebut mengindikasikan terdapat gap antara lama studi lulusan yang diharapkan dengan kenyataan. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana mahasiswa dapat lulus tepat waktu dan bermutu sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan oleh program studi. METODE Penelitian terdiri dari empat bagian utama yaitu penemuan ( discovery), diagnosis, desain ( design), dan penyampaian ( delivery). Tahap penemuan memuat penentuan latar belakang masalah yang mendasari mengapa penelitian ini dilakukan, yaitu pentingnya melakukan perbaikan internal secara berkelanjutan bagi institusi penyedia layanan pendidikan tinggi. Penelitian dilanjutkan dengan mencari isu bisnis melalui wawancara dengan pihak program studi yang diwakili oleh dosen dan mahasiswa. Tahap diagnosis dimulai dengan identifikasi masalah yang dicurigai menjadi penyebab terjadinya isu bisnis yang diperoleh dari tahap penemuan. Setelah menemukan masalah apa saja yang dianggap layak untuk diteliti, kemudian dilakukan analisis lanjutan untuk mengetahui akar masalah yang terjadi dengan metode Why-Why Chart (Doggett, 2005). Tahap diagnosis ini diakhiri dengan menetapkan hubungan antar masalah untuk menemukan akar masalah utama sehingga dapat ditentukan metode penyelesaian yang tepat. Tahap desain berisi penyusunan solusi dari akar masalah yang diperoleh dari tahap diagnosis. Penyusunan solusi akar masalah dilanjutkan dengan menyusun solusi bisnis menggunakan tool yang dianggap sesuai. Pemilihan tool yang tepat diharapkan mampu memberikan solusi bisnis yang tepat sasaran dan tepat guna sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Tahap penyampaian merupakan tahap akhir dari penelitian ini berupa rekomendasi solusi. HASIL DAN PEMBAHASAN Isu bisnis yang dihadapi oleh program studi adalah adanya gap antara lama studi lulusan yang diharapkan dengan kenyataan. Ekplorasi isu bisnis dilakukan melalui wawancara dan observasi untuk mengetahui penyebab terjadinya isu bisnis. Hasil yang diperoleh antara lain: 1. Mengulang kembali mata kuliah inti dengan syarat nilai akhir minimal C. 2. Adanya syarat lulus untuk mata kuliah tertentu sebelum mengambil mata kuliah lain. 3. Terhambat dalam proses pengerjaan tugas akhir atau skripsi. A-31-2
Gambar 1. Analisis Akar Masalah Hasil analisis akar masalah pada Gambar 1. menunjukkan bahwa terdapat dua permasalahan yang terletak pada rancangan kurikulum yaitu rancangan urutan MK prasyarat dan rancangan penyelesaian TA. Kedua permasalahan rancangan kurikulum tersebut mengakibatkan munculnya isu bisnis. Berdasarkan penemuan akar masalah dilakukan penyusunan solusi bisnis, namun sebelumnya perlu dilakukan tahapan pemecahan terhadap akar masalah yang ada. Tahapan pemecahan masalah dapat dipetakan seperti terlihat pada Gambar 2. Kebutuhan Rancangan Sistem MK Prasyarat Belum Mempertimbangkan Pelaksanaan di Lapangan Kelompok MK Rancangan Penyelesaian TA Belum Terpadu Dengan Agenda Penelitian Dosen & Terkait Evaluasi Rancangan Kurikulum Sehingga Pelaksanaan Kurikulum Menjadi Efektif Urutan MK Sistem Pembelajaran Gambar 2. Tahapan Pemecahan Masalah Salah satu metode yang dapat digunakan untuk evaluasi rancangan kurikulum adalah QFD ( Quality Function Deployment). Dalam QFD hubungan antar kolom dan HOW digambarkan melalui tiga simbol berbeda (Akao, 1990). Ketiga simbol tersebut memiliki arti yang berbeda, terdiri dari bulatan penuh [ ], bulatan kosong [ ], dan segitiga terbalik [ ]. Simbol [ ] berarti hubungan yang terjadi kuat, simbol [ ] berarti hubungan yang terjadi sedang, dan simbol [ ] berarti hubungan yang terjadi lemah. Studi kasus yang dilakukan Benjamin (1999) menyarankan penggunaan QFD dengan tiga level pada perancangan kurikulum, terdiri dari tahap perencanaan, perancangan, dan implementasi mata kuliah. A-31-3
Pada penelitian ini, disusun lima matriks yang akan menerjemahkan kebutuhan konsumen menjadi metode pembelajaran (Carew & Cooper, 2005). Penyusunan lima matriks seperti terlihat pada Gambar 3 membutuhkan enam data, yaitu kebutuhan konsumen, kompetensi lulusan, kelompok mata kuliah, mata kuliah, kebijakan penyusunan mata kuliah prasyarat, dan metode pembelajaran. Sumber data kebutuhan konsumen diperoleh melalui pihak eksternal, antara lain pengguna lulusan (perusahaan), alumni, maupun dari literatur. Sedangkan lima sumber data lainnya diperoleh melalui pihak internal program studi. HOW HOW HOW HOW HOW Kelompok MK Metode Pembelajaran Kebutuhan A B Kelompok MK C1 C2 D Gambar 3. QFD Evaluasi Kurikulum Setelah melakukan evaluasi kurikulum, langkah selanjutnya adalah menyusun rekomendasi solusi bisnis bagi permasalahan yang ada. Rekomendasi solusi bisnis menggunakan data yang diperoleh pada tahapan pemecahan masalah. Solusi bisnis yang direkomendasikan berkaitan dengan dua akar masalah, yaitu mengenai urutan mata kuliah dan pengerjaan tugas akhir (skripsi) dapat dilihat pada Gambar 4. Kedua solusi bisnis disusun dengan turut memperhatikan ketersediaan sumber daya serta sarana dan prasarana. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Gambar 4. Peta Solusi dan Efek Positif Rata-rata lama studi dan mutu lulusan adalah permasalahan yang diamati pada penelitian ini, diperoleh melalui hasil pengamatan serta wawancara. Dari hasil analisis akar masalah diperoleh kesimpulan bahwa penyebab utama terjadinya kedua permasalahan tersebut berhubungan dengan rancangan kurikulum. Masalah rancangan kurikulum ini dievaluasi melalui tahapan pemecahan masalah dengan menggunakan tool QFD ( Quality Function A-31-4
Deployment). Solusi yang diberikan yaitu penyusunan urutan mata kuliah serta pedoman pengerjaan tugas akhir (skripsi). Rekomendasi yang diberikan terhadap masalah urutan mata kuliah yaitu penggunaan struktur kurikulum yang membagi mata kuliah ke dalam lima kategori ilmu pengetahuan (Pérez, 2009). Struktur kurikulum ini digunakan untuk membantu penyusunan kebijakan mata kuliah prasyarat. Adapun rekomendasi yang diberikan bagi masalah pengerjaan tugas akhir (skripsi) terdiri dari dua hal, yaitu penyusunan pohon penelitian bagi dosen dan panduan penyusunan skripsi bagi mahasiswa. Penyusunan pohon penelitian bagi dosen ini bertujuan agar topik skripsi yang dipilih oleh mahasiswa sejalan dengan agenda penelitian dosen serta untuk meminimasi terjadinya duplikasi topik skripsi. Selain penyusunan pohon penelitian bagi dosen yang bermanfaat bagi tahap pemilihan topik skripsi, pihak mahasiswa juga memerlukan adanya sebuah panduan dalam menyusun skripsi. Panduan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam proses pembuatan skripsi. Panduan skripsi ini juga memuat persyaratan yang harus dipenuhi mahasiswa pada saat pengambilan skripsi, seminar skripsi, dan sidang skripsi. Dari panduan skripsi tersebut dapat dibuat sebuah diagram alir proses penyusunan skripsi DAFTAR PUSTAKA Akao, Y., ed., 1990, Quality Function Deployment, Cambridge MA, Productivity Press Becker Associates Inc. Benjamin, Collin O. et.al, 1999, A QFD Framework for Curriculum Planning, Tallahassee Florida: Florida A & M University. Carew, Anna L. dan Cooper, Paul., 2008, Engineering Curriculum Review: Processes, Frameworks and Tools, Melbourne: Proceedings of the Annual SEFI Conference. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 2008, Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Pendidikan Tinggi (Sebuah alternatif penyusunan kurikulum), Jakarta. Doggett, A. Mark, 2005, Root Cause Analysis: A Framework for Tool Selection, Humboldt State University: Quality Management Journal Vol. 12 No. 4. Menteri Pendidikan Nasional, 2002, Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 045/U/2002 Tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi, Jakarta. Menteri Pendidikan Nasional, 2000, Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, Jakarta. Pérez, Juan Sillero dan Aleu, Fernando González, 2009, Industrial Engineering Approach to Develop an Industrial Engineering Curriculum, México: 2009 Industrial Engineering Research Conference Tim Pengusul SBM ITB, 2011, Dokumen Studi Kelayakan Program Studi Sarjana Ekonomika, Bandung: SBM ITB. A-31-5