STANDART OPERASIONAL PROCEDURE

dokumen-dokumen yang mirip
PEMAKAIAN RAMBU-RAMBU TAMBANG. Untung Uzealani, SE Project Manager

BAB IV PENAMBANGAN 4.1 Metode Penambangan 4.2 Perancangan Tambang

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Metode Penambangan 5.2 Perancangan Tambang Perancangan Batas Awal Penambangan

Artikel Pendidikan 23


DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH

BAB II TINJAUAN UMUM

METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERMODELAN DAN PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA PADA PIT 2 BLOK 31 PT. PQRS SUMBER SUPLAI BATUBARA PLTU ASAM-ASAM KALIMANTAN SELATAN

METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES

DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB

DAFTAR ISI. Halaman RINGKASAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR LAMPIRAN...

BAB IV DATA DAN PERHITUNGAN

[TAMBANG TERBUKA ] February 28, Tambang Terbuka

BAB VII METODE PELAKSANAAN

Metode Tambang Batubara

Prodi Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung Jl. Tamansari No. 1 Bandung

PROSES PENAMBANGAN BATUBARA

BAB III LANDASAN TEORI

Penggalian dengan menggunakan metode kerja yang menjamin stabilitas kemiringan lereng samping dan tidak membahayakan

BAB V PEMBAHASAN. lereng tambang. Pada analisis ini, akan dipilih model lereng stabil dengan FK

PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS BULLDOZER PADA AKTIVITAS DOZING DI PT. PAMAPERSADA NUSANTARA TABALONG KALIMANTAN SELATAN

PASCA TAMBANG. IZIN USAHA PERTAMBANGAN EKSPLORASI NOMOR: 545 / Kep. 417 BPMPPT / 2014

2. DETONATOR 1. DEFINISI BAHAN PELEDAK

RANCANGAN BUKAAN TAMBANG BATUBARA PADA PIT JKG PT. BBE SITE KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, MENGGUNAKAN APLIKASI MINESCAPE 4.118

BAB I PENDAHULUAN. PT. ABC adalah perusahaan penyedia jasa pertambangan yang memiliki

BAB III LANDASAN TEORI

RENCANA TEKNIS PENIMBUNAN MINE OUT PIT C PADA TAMBANG BATUBARA DI PT. AMAN TOEBILLAH PUTRA SITE LAHAT SUMATERA SELATAN

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

USULAN JUDUL. tugas akhir yang akan saya laksanakan, maka dengan ini saya mengajukan. 1. Rancangan Jalan Tambang Pada PT INCO Tbk, Sorowako

1 Membangun Rumah 2 Lantai. Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Tugas Struktur Utilitas II PSDIII-Desain Arsitektur Undip

Pokok Bahasan Pedoman Pelaksanaan Pembangunan Tapak. Subject Matter Expert Ir. Irina Mildawani, MT. Agus Suparman, ST., MT.

METODE PELAKSANAAN. Pekerjaan Perbaikan Darurat Bencana Erupsi Gunung Merapi (Paket 2) - Lanjutan 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN. tinggi dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan,

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan

ejournal Teknik sipil, 2012, 1 (1) ISSN ,ejurnal.untag-smd.ac.id Copyright 2012

AUDIT ENERGI DI SEKTOR TRANSPORTASI AREA PERTAMBANGAN BATUBARA STUDI KASUS ANALISIS INDEKS BAHAN BAKAR (FUEL INDEKS) BAB I PENDAHULUAN

DISAIN TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH DENGAN CAD

BAB II TINJAUAN UMUM

PEDOMAN PENERBITAN IJIN GUDANG BAHAN PELEDAK

BAB I PENDAHULUAN. yang berlimpah. Didalamnya terkandung kekayaan migas dan non-migas.

ANALISIS KEMAJUAN PENAMBANGAN BATUBARA MENGGUNAKAN SOFTWARE DAN PRISMOIDAL DI KALIMANTAN TIMUR

Penambangan Bijih Nikel di Pomalaa

ContohPenilaianPROPER: PengelolaanLimbahB3Kegiatan Pertambangan

DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN UMUM PERSYARATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BARANG TAMBANG INDONESIA II. Tujuan Pembelajaran

Aplikasi Teknologi Informasi Untuk Perencanaan Tambang Kuari Batugamping Di Gunung Sudo Kabupaten Gunung Kidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

KAJIAN TEKNIS KERJA ALAT GALI MUAT UNTUK PENGUPASAN LAPISAN TANAH PUCUK PADA LOKASI TAMBANG BATUBARA DI PIT

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 62 TAHUN 2010 TENTANG

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT. Proyek Menara Sentraya dilakukan oleh PT. Pionir Beton Industri

Disampaikan pada acara:

RINTA ANGGRAINI

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

BAB X METODE PELAKSANAAN

BEBERAPA KESALAHAN UMUM WAKTU MEMBUAT JSA OLEH PENGAWAS SERTA BAGAIMANA SEHARUSNYA

ZULFIKAR JAUHARI NRP

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:


BAB IV TINJAUAN KHUSUS

Laporan Bulanan Kegiatan Eksplorasi PT Toba Bara Sejahtra Tbk

Standard Operating Procedure PENGOPERASIAN CHAINSAW (CHAINSAW OPERATION)

KAJIAN TEKNIS PENCEGAHAN SWABAKAR BATUBARA DI PT BUKIT BAIDURI ENERGY KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR ABSTRAK

BDE QSHE PADA METODE OPEN CUT BOTTOM UP NO : BDEQSHE/GEDUNG/2015/076

Civil Work of STP (Sewage Treatment Plant)

BAB V PEMBAHASAN. 785 TKPH Site vs TKPH Rating. Gambar 5.1. Grafik TKPH site vs TKPH rating HD-785

BAB III LANDASAN TEORI

METODE PELAKSANAAN. Pekerjaan Perbaikan Darurat Bencana Erupsi Gunung Merapi (Paket 2) - Lanjutan 1

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pengupasan tanah pucuk (top soil removal). Top Soil Removal dilakukan

STANDARD OPERATION PROCEDURE DISPOSAL MANAGEMENT

TINJAUAN PELAKSANAAN PEMADATAN TANAH UNTUK PEKERJAAN JALAN DI KABUPATEN PURBALINGGA

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT

TEMPAT PENIMBUNAN STOCK PILE AND WASTE DUMP

Perencanaan Sequence Penambangan Batubara pada Seam 16 Phase 2 di PT. KTC Coal Mining & Energy, Kec. Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015

DAFTAR ISI... RINGKASAN... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Dalam setiap Proyek Konstruksi, metode pelaksanaan yang dilakukan memiliki

PRA - RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (PRA-RK3K)

Proposal Kerja Praktek Teknik Pertambangan Universitas Halu Oleo

REKAPITULASI DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA

BAB V PEMBAHASAN. menentukan tingkat kemantapan suatu lereng dengan membuat model pada

Stockpile Management berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses.

NO URUTAN LANGKAH TUGAS-TUGAS BAHAYA TINDAKAN DAN PROSEDUR YANG DISARANKAN

Variabel yang mempengaruhi pekerjaan land clearing yaitu :

DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DESAIN TAMBANG PERTEMUAN KE-3

1. PERANCANGAN PIT DAN PUSHBACK

STANDARD OPERATING PROCEDURE. Sampah Padat Perumahan

BAB II LANDASAN TEORI

LAMPIRAN 1 Kuisioner Tahap I (Mencari Peristiwa Risiko Tinggi)

Secara harfiah berarti keteraturan, kebersihan, keselamatan dan ketertiban

Gambar. Diagram tahapan pengolahan kakao

BAB III METODOLOGI Data Data-data yang didapat dalam proyek gedung Ditjen Dikti Jakarta merupakan data-data umum dan teknis berupa :

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber cadangan batubara yang cukup besar, akan tetapi

Transkripsi:

STANDART OPERASIONAL PROCEDURE I. TUJUAN 1. Memberikan panduan standar operasional penambangan bagi kontraktor 2. Menghilangkan atau mencegah terjadinya kecelakaan kerja II. SASARAN Memastikan operasional penambangan dilakukan sesuai standar perusahaan sehinga kegiatan penambang dapat mencapai hasil sesuai yang direncanakan (produktivitas, SR, kuantitas, dan kwalitas batu bara). III. RUANG LINGKUP OPERASIONAL PENAMBANGAN Ruang Lingkup Operasional Penambangan meliputi : 1. LAND CLEARING DAN MANAJEMEN SOIL Pelaksanaan land clearing dan manajemen Soil harus dilaksanakan dengan benar dan sesuai dengan standar sebagai berikut : a. Land clearing dilakukan hanya pada batas areal lahan sesuai dengan boundary clearing design yang telah ditanda tangani bersama. b. Penanganan top soil dan sub soil harus dilakukan secara benar, baik pada saat pengupasan maupun pembuangan. - Top soil dikupas dengan cara didorong perlahan-lahan dengan menggunakan bulldozer 60 80 ton dan dikumpulkan sementara ditempat yang telah ditentukan untuk selanjutnya harus dimuat dan di angkut ke waste dump yang telah ditentukan. - Penggalian/ pengupasan top soil dan sub soil tidak boleh tercampur dengan galian batuan dasar. c. Unit/Alat yang digunakan serta operator tersedia secara memadai (minimal tersedia dozer ukuran 60 ton s/d 80 ton dan atau excavator sekelas PC 200 dengan Operator yang cukup berpengalaman untuk melakukan pekerjaan land clearing dan pengupasan top soil / sub soil). d. Selalu melakukan komunikasi dan kordinasi dengan perusahaan, pengawas produksi, dan surveyor apabila terdapat penemuan-penemuan penyimpangan dilapangan yang tidak sesuai dengan rencana.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum kegiatan land clearing dilakukan : a. Peta beserta koordinat area yang akan di bersihkan /diclearing yang telah ditanda tangani oleh pihak perusahaan dan kontraktor (boundary clearing design) b. Rencana tempat penampungan top soil dan sub soil. c. Kartu tanda dan fungsi bendera 2. PENGGALIAN BATUAN DASAR (Over Burden/OB) Pelaksanaan penggalian batuan dasar / OB harus dilaksanakan sesuai dengan rencana perusahaan, untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik sangat perlu diperhatikan bahwa kontraktor benar-benar sudah memahami dan mengerti secara detail mengenai rencana dan target perusahaan. Untuk intu kontraktor perlu mempelajari dengan seksama rencana dan target perusahaan baik berdasarkan gambar-gambar design maupun penjelasan/pengarahan teknis dari bagian surveyor dan planner perusahaan, diantaranya : Design (Pit, Disposal, In Pit Road, Benches) Rencana volume produksi (cadangan batu bara, batubara yang harus di produksi, volume OB, rencana SR) Parameter Penambangan (kemiringan lapisan batubara, lebar lantai pit, kriteria dan ketebalan minimum batubara yang wajib digali, Ketebalan Batubara yang lapuk, ketebalan parting didalam lapisan batubara yang harus dibuang, ketebalan bagian atas dan bagian bawah batubara yang mungkin tidak tergali). Sequence Penambangan Sistem Drainage Rambu-rambu / bendera / tanda batas atau petunjuk dari bagian survey. Standar operasional penggalian batuan dasar/ob adalah sebagai berikut : a. Pelajari dan pastikan bahwa batas batas atau tanda batas boundary pit dan paduan crop line telah terpasang secara memadai (sesuai dengan ketentuan dan rencana perusahaan).

b. Penggalian OB pada saat pembukaan pit baru, harus dimulai dari batas panduan crop batu bara (boundary low wall) sampai batas pit yang telah ditentukan (boundary high wall). Apabila telah ditemukan crop batubara pastikan bahwa telah dilakukan pemasangan pita crop line batubara. Apabila terdapat penyimpangan actual crop batubara dari rencana, segera mungkin melakukan komunikasi dengan bagian pengawas, survey dan mine planner perusahaan atas perubahan tersebut. Untuk menjaga kualitas batubara (mencegah air dan longsor) dibelakang cropline harus disiapkan area untuk rencana pembuatan parit sepanjang cropline (+ 1 meter kebelakang dari batas cropline). c. Setiap penggalian OB harus bertujuan untuk expose batubara. d. Penggalian OB tidak boleh langsung mengenai permukaan Batubara, harus disisakan OBnya sekitar 5 cm sampai dengan 10 cm. e. Kegiatan penggalian OB harus sesuai dengan : Rencana arah kegiatan penggalian. Rencana blok kegiatan perusahaan f. g. Dimensi lereng (slope) baik high wall maupun side wall yang akan dibentuk selama penggalian harus sesuai dengan ketentuan mine desigh antara lain : tinggi jenjang, lebar bench, kemiringan lereng baik sebagai lereng tunggal (single slop) maupun lereng keseluruhan (ultimate pit slope). Untuk itu perlu diperhatikan, bahwa : Sebelum melakukan kegiatan pembentukan slope apakah papan panduan slope sudah terpasang sesuai yang direncanakan dan penggalian dilakukan mengikuti panduan tersebut. Penggalian OB tidak boleh menyimpang dari panduan tersebut untuk mencegah terjadinya slope menjadi bunting (under cut).

Pada setiap bench yang terbentuk pastikan bahwa pita informasi elevasi telah terpasang secara memadai sesuai dengan ketentuan perusahaan. (lihat ketentuan SOP Rambu-rambu Tambang). h. Kegiatan penggalian OB harus dilakukan sesuai dengan elevasi final pit sebagaimana direncanakan. i. Jumlah dan jenis unit/alat yang tersedia cukup memadai sesuai denngan rencana setting alat yang telah disepakati dan aman untuk melakukan penggalian OB. Operator harus memiliki keahlian untuk mengoperasikan unit yang tersedia dan memiliki kemampuan melakukan pekerjaan penggalian OB. j. Front penggalian di pit harus tetap rapi dan baik (cukup padat, bersih dari tumpukan spoil-spoil) dan tidak tergenang air k. Jalan untuk pengangkutan OB harus sesuai dengan rencana design jalan yang ditentukan oleh perusahaan (rute, lebar, grade dan permukaan) l. Perawatan jalan untuk kelancaran pengangkutan OB sudah dilakukan secara memadai meliputi : Penimbunan dan perataan jalan yang berlubang-lubang Penyiraman rutin untuk mencegah debu Perbaikan dan perapian tanggul-tanggul pengaman dan parit m. Pembuangan OB sudah dilakukan dengan cara yang benar dan ditempat yang telah ditentukan sesuai dengan mine design n. Area disposal sudah dilengkapi dengan batas- batas yang memadai. o. Mekanisme penanganan air permukaan yang berpotensi masuk kedalam pit harus dilakukan secara benar dan memadai sesuai dengan design dan layout yang direncanakan perusahaan diantaranya adalah pembuatan parit disekeliling batas terluar dari pit telah memenuhi syarat memadai untuk dapat mencegah mengalirnya air permukaan kedalam pit. p. Mekanisme penanganan air yang telah berada di dalam pit sudah dilakukan secara benar dan memadai diantaranya adalah : - Sump (sumuran tempat seluruh air akan terkumpul) telah disiapkan secara benar dan memadai (di daerah terendah dari lantai pit) - Pemompaan air untuk proses pengeringan telah dilakukan dengan benar 3. COAL CLEANING DAN COAL GETTING dan memadai. Unit water pump selalu tersedia dan siap digunakan.

Sasaran yang harus dicapai adalah dihasilkanya batu bara dengan kwalitas yang bersih. Batu bara yang bersih adalah batu bara yang bebas dari pengotor antar lain bagian-bagian dari pepohonan (akar, ranting, daun), sisa-sisa tanah atau batuan penutup. Dan bebas kontaminasi terutama logam dan plastic. Untuk mencapai sasaran tersebut maka kegiatan coal cleaning / coal getting harus dilaksanakan dengan benar, yaitu sebagai berikut : a. Batu bara yang terexpose dengan tinggi antara 0.25 meter s/d 1 meter harus segera di cleaning dan di coal getting untuk selanjutnya di hauling menuju stockpile / stockroom. b. Permukaan batu bara harus bersih dari kotoran-kotoran terutama sisa-sisa tanah atau batuan penutup. c. Kegiatan Cleaning batu bara sudah dilakukan dengan benar dalam arti : - Mengunakan unit excavator dengan bucket yang dilengkapi dengan cutting edge (bukan teeth) pada ujungnya. Pastikan bahwa ujung cutting edge melingkupi seluruh permukaan bucket (rata dan tidak ada yang terbelah atau gumpil). - Operator excavator harus mempunyai keahlian khusus untuk cleaning coal. d. Permukaan batu bara yang sudah dibersihkan tidak terkotori lagi dan sudah diberi tanda pembatas antara batu bara yang sudah dibersihkan dengan yang belum e. Sebelum coal getting dilakukan harus diteliti dan diperiksa secara seksama lokasi batu bara yang akan di gali /coal getting, antara lain: - pastikan bahwa permukaan batu bara yang akan di coal getting sudah benar-benar bersih bebas dari pengotor (sisa-sisa tanah atau batuan penutup) memberi alas (hamparan) dengan parting (bekas cleaning-an) pada bagian kemungkinan batu bara jatuh ke tanah pada saat coal getting dilakukan.

- tidak ada aliran air masuk areal batu bara yang sudah dibersihkan. Aliran air berfotensi untuk membawa lumpur. Jika perlu buat parit kecil disekelilingi areal batu bara yang bersih. f. Pada prinsipnya, parting yang terdapat didalam lapisan batu bara harus dibuang / dibersihkan dari permukaan batu bara. Cara pembersihan parting sebagaimana proses cleaning tersebut di atas Pembersihan parting tidak diperbolehkan memakan / membuang terlalu banyak batu bara. Apabila karena kondisi tertentu dimana lapisan parting yang ada tidak dimungkinkan untuk dibersihkan secara keseluruhan atau apabila pembersihan parting terlalu banyak mengorbankan batu bara yang hilang (misalnya karena struktur batu bara dan partingnya), maka batas maksimal parting yang ditolerir untuk tidak di buang adalah maksimal setebal 10 cm. Apabila kondisi tersebut terjadi sebelum dilakukan coal getting, sesegera mungkin laporkan kepada perusahaan untuk dimintakan persetujuan mengenai hal tersebut. g. Peralatan yang digunakan untuk coal getting tersedia secara memadai dan dalam kondisi benar-benar bersih (track unit, bucket, bak Dump Truck). Apabila unit yang digunakan masih berpotensi menyebabkan batu bara terkontaminasi atau menjadi kotor (tidak bersih). Maka harus dibersihkan terlebih dahulu. h. Pada saat coal getting harus ada sisa ketinggian lapisan batu bara dengan permukaan tanah /batuan penutup (OB) sekitar 3 hingga 5 centimeter. Hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah lapisan batu bara terkotori oleh material sekitarnya atau terinjak oleh kendaraan atau alat berat. i. Pastikan area batu bara yang sudah selesai /habis digali telah deberi tanda /pita mine Out..

4. HAULING BATUBARA Mengikuti dan memastikan pelaksanaan Hauling batu bara dilaksanakan sesuai dengan rencana perusahaan, yang meliputi : a. Batu bara yang telah di gali (Coal Getting) harus segera diangkut untuk ditempatkan di stockpile / stock room. (tidak boleh ditumpuk atau di stock di front / langsung di masukan ke dalam bak dump truck. b. Unit Dump truck yang digunakan harus memadai baik jumlah maupun kondisinya c. Bak unit Dump truck yang digunakan harus benar-benar bersih dan tutup bak harus berfungsi dengan normal (layak dan memiliki kunci dikedua sisinya) d. Apabila terdapat batu bara yang kotor maka harus di angkut secara tersendiri (dipisahkan dari batu bara yang bersih / tidak boleh di campur dalam satu Dump truck). e. Sebelum kegiatan hauling dilakukan harus dipastikan kondisi jalan hauling dalam kondisi memadai f. Perawatan jalan untuk kelancaran pengangkutan batu bara sudah dilakukan secara memadai meliputi : Penimbunan dan perataan jalan yang berlubang-lubang Penyiraman rutin untuk mencegah debu Perbaikan dan perapian tanggul-tanggulpengaman dan parit g. Dumping batu bara di stock pile harus di area yang sudah diberi landasan (bedding) h. Untuk mencegah masuknya material pengotor (tanah, lumpur, spoil, lainnya) dump truck tidak boleh masuk / melintas di tempat untuk penumpukan batu bara. Pada saat dumping, ban Dump truck tidak menginjak area stock pile / room 5. OPERASIONAL DIMALAM HARI. Untuk operasional harus tersedia lampu penerangan (tower lamp) yang cukup untuk menerangi front-front pada saat penggalian OB, cleaning dan coal getting pada malam hari. 6. UMUM Persyaratan Kode Warna

Kode warna yang dipakai adalah kode warna internasional NO. DAERAH / PENGGUNAAN WARNA 1 Demarkasi, pelindung mesin, tangga, susuran tangga, lemari Kuning cairan mudah terbakar 2 Daerah jalan (clear walk way) Hijau 3 Tempat meletakan barang Abu-abu 4 Daerah kerja Biru 5 Daerah bebas (keep clear areas) Merah 6 Peralatan kebakaran Strip Merah-putih 7 Peralatan safety (K3) Strip Hijau-Putih 8 Identifikasi bahaya (atap rendah, ruang sempit,cekungan) Strip Hitam-Kuning 9 Distribusi listrik, peralatan berputar Oranye 10 Tempat sampah standar Hijau gelap, tulisan putih 11 Tempat sampah metal Biru muda, tulisan hitam 12 Tempat sampah karet Hitam, tulisan putih 13 Tempat sampah bahan mudah terbakar Kuning, tutup hitam 14 Tempat sampah Asbestos Merah muda (pink) Jalur Perpipaan 15 Air Hijau 16 Uap Perak - abu-abu 17 Oli, solar, minyak sawit, cairan lain mudah terbakar Coklat 18 Gas, LPG, bahan uap lain yang ditransportasi Kuning tua 19 Asam & basa Ungu 20 Udara Biru muda 21 Cairan lain (termasuk drainase) Hitam 22 Pemadam api (hidran, alat lain) Merah 23 Jasa berbahaya Kuning 24 Listrik Oranye muda 25 Komunikasi Putih KETENTUAN PEMBERLAKUAN a. Ketentuan ini berlaku sejak tanggal ditandatangani b. Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan ini akan ditetapkan kemudian dengan mempertimbangkan ketentuan-ketentuan yang berlaku.