17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Pesisir Teluk Jakarta terletak di Pantai Utara Jakarta dibatasi oleh garis bujur 106⁰33 00 BT hingga 107⁰03 00 BT dan garis lintang 5⁰48 30 LS hingga 6⁰10 30 LS yang membentang dari Tanjung Kait di bagian barat hingga Tanjung Karawang di bagian timur dengan panjang pantai sekitar 89 Km. Pada teluk ini bermuara 13 sungai yang membelah kota Jakarta namun dengan kondisi muara sungai yang sudah buruk (Winardi 2011). Adapun luas dari teluk Jakarta ialah sekitar 514 km 2 yang merupakan wilayah perairan dangkal dengan kedalaman rata-rata mencapai 15 meter. Teluk Jakarta juga memiliki gugusan kepulauan yang bernama Kepulauan Seribu dimana terdiri atas 108 pulau, salah satunya ialah Pulau Damar. Teluk Jakarta merupakan lingkungan perairan pesisir yang terletak di bagian utara kota Jakarta dan salah satu lokasi kegiatan perikanan yang terdiri dari perikanan pelagis, demersal, dan karang. Ikan yang ditangkap dari perairan Teluk Jakarta kemudian didaratkan di beberapa tempat pendaratan ikan (TPI) yang terdapat di DKI Jakarta, salah satunya yaitu TPI Kali Baru. Teluk Jakarta merupakan ekosistem perairan yang menyediakan berbagai produk dan jasa lingkungan bagi kehidupan manusia, potensi wisata bahari, pendidikan, budaya, perdagangan, dan pelayaran. Di sekitar Teluk Jakarta hanya tersisa dua lokasi mangrove, yaitu Muara Angke dan Muara Gembong. Muara Angke merupakan lokasi mangrove yang dengan kondisi mangrove cukup baik sebab merupakan daerah yang dilindungi. Tetapi berbeda yang terjadi pada Muara Gembong dengan jarak 30 mil dari TPI Kali Baru, kondisi mangrove sudah berkurang. Daerah yang menjadi penangkapan ikan selanget A. selangkat ialah disekitar Pulau Damar (Pulau Edam), Kepulauan seribu, Jakarta Utara. Jarak antara Pulau Damar dengan Pantai Jakarta Utara ialah 1,7 km (www.republika.co.id). Pantai pulau ini hampir seluruhnya merupakan pantai bermangrove yaitu dari ujung barat pulau ke arah utara dan melingkar sampai
18 ujung sebelah timur pulau. Namun kondisi terumbu karang di Pulau Damar ini mengindikasikan mengalami kerusakan sebab adanya sedimen akibat penumpukan rampart yang terangkut ke pantai menjadi tanggul-tanggul pantai (di sebelah barat dermaga). Mangrove di sekitar Pulau Damar yang memberikan ketersediaan makanan untuk ikan selanget dan kondisi lingkungan yang tak terlalu buruk bila dibandingkan dengan kondisi lingkungan di Teluk Jakarta. 4.2. Hubungan Panjang - Berat Ikan Selanget (A. selangkat) Jantan dan Betina Panjang total ikan dengan berat ikan terdapat korelasi yang erat, hal ini ditunjukkan oleh nilai r (koefisien korelasi). Nilai R 2 menunjukkan seberapa hubungan yang nyata antara panjang dengan berat. Nilai b menunjukkan kecenderungan pertambahan panjang dan berat. Hal ini disebabkan oleh faktorfaktor disekitar organisme seperti kondisi lingkungan perairan dan ketersediaan makanan. berat (g) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 W = 0,087L 3,0280 R² = 0.928 r = 0,9633 n = 121 0 100 200 panjang (mm) berat (g) 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 W = 0,077L 3,0097 R² = 0.938 r = 0,9685 n = 279 0 50 100 150 200 panjang (mm) Gambar 4. Hubungan panjang dengan berat ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Jantan dan betina Koefisien korelasi (r) ikan jantan dan ikan betina masing-masing sebesar 0,9633 dan 0,9685 yang bermakna hubungan antara log panjang dengan log berat baik ikan jantan maupun ikan betina memiliki korelasi yang sangat erat. Koefisien determinasi (R 2 ) untuk ikan jantan sebesar 0,928 yang bermakna variabel panjang
19 tubuh ikan jantan dapat menjelaskan berat tubuh sebesar 92,8% dan untuk ikan betina memiliki R 2 sebesar 0,938 yang bermakna variabel panjang tubuh dapat menjelaskan berat tubuh sebesar 93,8%, sehingga setiap penambahan panjang tubuh akan menyebabkan berat tubuh bertambah pula. Ikan jantan memiliki nilai b = 3,0280 dan ikan betina b = 3,0097 (Gambar 4). Uji t yang dilakukan terhadap ikan jantan dan ikan betina, keduanya menghasilkan pola pertumbuhan isometrik yang menunjukkan nilai b = 3 (lampiran 1). Pertumbuhan isometrik menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang seimbang dengan pertumbuhan berat. Menurut Anwar (2005) ikan selanget A. chacunda di pantai Mayangan, Subang tipe pertumbuhan ikan jantan bersifat isometrik sedangkan ikan betina bersifat allometrik negatif. 4.3. Hubungan Panjang - Tinggi Ikan Selanget (A. selangkat) Jantan dan Betina Dalam pengelolaan penangkapan ikan haruslah dikontrol alat tangkap yang digunakan, baik berupa jaring maupun alat pancing. Pengelolaan ikan- ikan yang ditangkap oleh jaring haruslah diatur ukuran mata jaring tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberi kesempatan ikan melakukan pemijahan terlebih dahulu sebelum tertangkap, supaya tetap ada keberlangsungan spesies tersebut. Data hubungan panjang total dengan tinggi tubuh ini diperlukan dalam pengelolaan penerapan ukuran mata jaring yang digunakan dalam proses penangkapan. Dalam pengelolaan mesh size diperlukan data tinggi tubuh ikan. Hubungan tinggi tubuh dengan panjang ikan dapat dilihat pada Gambar 5 berdasarkan Lampiran 2. Jumlah contoh ikan yang diambil untuk menganalisis hubungan panjang dengan tinggi tubuh ikan berjumlah 11 ekor. Koefisien korelasi yang didapat dari hubungan panjang dengan tinggi tubuh ikan ialah 0,958 hal ini menunjukkan bahwa hubungan panjang dengan tinggi tubuh memiliki hubungan yang sangat erat. Koefisien determinasi (R 2 ) yang didapat sebesar 0,919 yang bermakna variabel panjang ikan dapat menjelaskan tinggi tubuh ikan sebesar 91,9%. Persamaan yang dihasilkan dapat menduga tinggi ikan pada saat panjang ikan matang gonad pertama kali.
20 tinggi tubuh (mm) 70 60 50 40 30 20 10 0 y = 0.429x 10.99 R² = 0.919 r = 0,958 n = 11 0 50 100 150 200 panjang (mm) Gambar 5. Hubungan panjang dengan tinggi ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) 4.4. Faktor Kondisi Effendie (2005) mengungkapkan bahwa faktor kondisi menunjukkan baik buruknya dari ikan yang dilihat dari segi kapasitas fisik untuk bertahan hidup dan bereproduksi yang dinyatakan dalam angka berdasarkan pada data panjang dan berat. Faktor kondisi ikan selanget A. selangkat dihitung menggunakan rumus faktor kondisi yang isometrik baik pada jantan maupun betina. Pada Gambar 6 faktor kondisi baik jantan maupun betina mengalami fluktuasi terhadap ukuran ikan. Nilai faktor kondisi rata-rata ikan selanget jantan berkisar 1,4136-1,5564 dengan nilai tertinggi terdapat pada selang ukuran panjang 123-130, sedangkan untuk betina berkisar 1,3434-1,5384 dengan nilai tertinggi terdapat pada selang 107-114. Hal ini didukung oleh pernyataan Patulu (1963) in Effendie (1997) bahwa faktor kondisi dapat berflukuasi terhadap ukuran ikan. faktor kondisi rata rata 2.00 1.50 0.50 107 114 115 122 123 130 131 138 139 146 147 154 155 162 163 170 selang kelas (mm) 171 178 179 186 faktor kondisi rata rata 2.00 1.50 0.50 107 114 115 122 123 130 131 138 139 146 147 154 155 162 selang kelas (mm) 163 170 171 178 179 186 Gambar 6. Faktor kondisi ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Jantan dan betina berdasarkan selang ukuran panjang
21 faktor kondisi 1.70 1.65 1.60 1.55 1.50 1.45 1.40 1.35 1.30 1.25 1.20 faktor kondisi 1.80 1.60 1.40 1.20 0.80 0.60 0.40 0.20 Bulan Bulan Gambar 7. Faktor kondisi ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Jantan dan betina berdasarkan bulan pengamatan Pada Gambar 7 tampak bahwa faktor kondisi ikan selanget A. selangkat (Bleeker 1852) berfluktuasi tiap waktunya. Nilai faktor kondisi ikan jantan berkisar 1,4794-1,5539 dengan rata-rata 1,5151 sedangkan ikan betina diperoleh faktor kondisi 1,4378-1,5490 dengan rata-rata 1,4955 (Lampiran 3). Faktor kondisi ikan jantan lebih besar dibandingkan ikan betina, hal ini menunjukkan bahwa ikan jantan lebih gemuk dibandingkan ikan betina. Nilai faktor kondisi baik pada ikan jantan maupun ikan betina tertinggi terjadi pada bulan November. Fluktuasi nilai faktor kondisi pada ikan jantan dan betina tiap waktu dapat disebabkan oleh ketersediaan makanan di dalam perairan. Pada dasarnya faktor kondisi ikan jantan dan betina tertinggi terdapat pada musim barat daya dimana musim ini terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April yang mengindikasikan bulan basah (penghujan) sehingga makanan akan terbawa dari darat (hulu sungai) yang berupa detrivora dari mangrove. Hal ini didukung oleh pernyataan Effendie (1997) bahwa hal-hal yang mempengaruhi faktor kondisi selain kematangan gonad adalah jenis kelamin, ukuran, dan kondisi lingkungan. 4.5. Nisbah Kelamin Nisbah kelamin merupakan perbandingan jenis kelamin antara ikan jantan dengan betina. Nisbah kelamin dilakukan dari 400 ekor ikan selanget yang terdiri
22 dari 121 jantan dan 279 betina. Persentase jenis kelamin ikan jantan dengan betina dapat dilihat pada Gambar 8 berdasarkan Lampiran 4. Gambar 8. Persentase jenis kelamin ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) TKG IV ; semua TKG Jumlah TKG IV pada ikan jantan sebanyak 12 ekor sedangakan pada ikan betina sebanyak 45 ekor. Pada Gambar 9 terlihat bahwa terdapat fluktuasi jumlah antara ikan jantan dengan ikan betina yang TKG IV pada tiap bulannya. Semua bulan pengambilan ikan contoh, jenis kelamin yang paling banyak ditemukan ialah ikan betina, kecuali pada bulan November. nisbah kelamin 1.60 1.40 1.20 0.80 0.60 0.40 0.20 nisbah kelamin total nisbah kelamin TKG IV bulan penelitian Gambar 9. Nisbah kelamin ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Nisbah kelamin ikan selanget secara keseluruhan adalah 1 : 2,30 atau (30,3% berbanding 69,7%) sedangkan nisbah kelamin berdasarkan TKG IV mendapatkan nilai 1 : 3,75 (Lampiran 5). Berdasarkan uji chi-square yang
23 dilakukan terhadap nisbah kelamin antara ikan jantan dengan betina mendapatkan hasil tidak ideal baik untuk semua TKG maupun TKG IV saja dengan ikan selanget betina lebih banyak daripada jantan. Ketidakseimbangnya nisbah kelamin ini kemungkinan adanya perbedaan tingkah laku antara ikan jantan dan ikan betina. Hasil nisbah kelamin ini belum bisa dikatakan ideal atau tidak ideal sebab diperlukan beberapa penelitian terkait nisbah kelamin ini pada waktu dan tempat yang berbeda untuk dapat memastikan atau mendukung perbandingan tersebut. Tidak idealnya nisbah kelamin ikan selanget bukan merupakan suatu masalah sebab menurut Effendie (1997) dalam mempertahankan kelangsungan hidup suatu populasi, perbandingan ikan jantan dan betina diharapkan dalam keadaan ideal (1:1) atau setidaknya ikan betina lebih banyak. Ikan betina lebih banyak diduga satu ikan selanget jantan membuahi lebih dari satu betina. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Anwar (2005), nisbah kelamin ikan selanget A. chacunda di perairan Pantai Mayangan, Subang tidaklah ideal (1:1). 4.6. Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Perhitungan ukuran pertama kali matang gonad dilakukan dengan melihat TKG IV yang pertama kali dari semua selang kelas ukuran panjang baik pada ikan jantan maupun ikan betina. Ukuran pertama kali matang gonad ikan selanget A. selangkat jantan terdapat pada ukuran panjang 139-146 mm sedangkan ikan betina terdapat pada ukuran panjang 131-138 mm (Gambar 10). 10 8 6 4 TKG (%) 2 107 114 115 122 123 130 131 138 139 146 147 154 155 162 163 170 171 178 179 186 TKG 4 TKG 3 TKG 2 TKG 1 TKG (%) 100.0 80.0 60.0 40.0 20.0 0.0 107 114 115 122 123 130 131 138 139 146 147 154 155 162 163 170 171 178 179 186 TKG 4 TKG 3 TKG 2 selang kelas panjang (mm) selang kelas panjang (mm) Gambar 10. Tingkat kematangan gonad ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Jantan dan betina berdasarkan selang ukuran panjang
24 Perbedaan ukuran pertama kali matang gonad pada ikan jantan dengan betina walaupun dalam spesies yang sama, hal ini dikarenakan dua hal yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yang mempengaruhinya ialah umur, ukuran dan sifat-sifat fisiologis ikan tersebut seperti kemampuan adaptasi terhadap lingkungannya sedangkan yang menjadi faktor luar adalah kelimpahan makanan di habitat. Hasil ini didukung oleh pernyataan Nielsen et al. (1983) yang mengatakan bahwa perbedaan kemampuan matang gonad pertama kali disebabkan oleh perbedaan pertumbuhan gonad antara ikan jantan dan betina. Hasil penelitian yang didapatkan oleh Anwar (2005) pun mendukung hasil ini. Menurut Anwar (2005) di perairan Pantai Mayangan, Subang, ukuran matang gonad pertama kali ikan selanget A. chacunda betina lebih kecil yaitu pada ukuran panjang 134-172 mm dibandingkan jantan pada ukuran panjang 137-165 mm. Hasil ini dimungkinkan adanya perbedaan laju pertumbuhan antara ikan jantan dan betina. 4.7. Waktu pemijahan Tingkat kematangan gonad ikan selanget A. selangkat ditentukan setelah melakukan pembedahan dengan berpacu pada klasifikasi tingkat kematangan gonad yang dimodifikasi oleh Cassie (Effendie 1997) (Tabel 1). Berikut ialah gambar tingkat kematangan gonad berdasarkan bulan penelitian. frekuensi 100% 80% 60% 40% 20% 0% TKG 4 TKG 3 TKG 2 frekuensi 100% 80% 60% 40% 20% TKG 1 0% TKG 4 TKG 3 TKG 2 TKG 1 bulan bulan Gambar 11. Tingkat kematangan gonad ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Jantan dan betina berdasarkan bulan penelitian
25 Total 400 ekor ikan selanget yang terdiri dari 121 ikan jantan dan 279 ikan betina diperoleh tingkat kematangan gonad (TKG) yang bervariasi tiap bulan (Lampiran 6). Pada ikan jantan dan betina ditemukan semua TKG (I,II,III dan IV) pada tiap bulannya (Gambar 11). Persentase ikan baik jantan dan betina TKG IV ditemukan sepanjang bulan penelitian namun TKG IV terbanyak pada bulan Agustus. Hal ini mengindikasikan bahwa bulan Agustus merupakan puncak pemijahan ikan selanget. Nilai IKG tertinggi pada bulan Agustus dan bulan berikutnya (bulan September) mengalami penurunan, hal ini mengindikasikan bahwa bulan Agustus merupakan puncak pemijahan. Gambar 12 dapat diketahui bahwa ikan selanget A. selangkat memijah sepanjang bulan Agustus sampai dengan November dengan puncak pemijahan pada bulan Agustus. Hal ini dapat dilihat pada nilai persentase TKG IV yang tinggi pada bulan Agustus, nilai IKG yang tertinggi pada bulan Agustus dan penurunan sedikit nilai IHS akibat banyaknya ikan TKG IV. Indeks hepatosomatik akan meningkat dengan meningkatnya berat dan panjang tubuh sewaktu perkembangan kematangan gonad, namun puncak nilai IHS terjadi pada saat ikan mengalami TKG III dan pada saat TKG IV, IHS akan mengalami penurunan. Di lingkungan buruk biasanya ikan memiliki cadangan energi kecil. Nilai IKG pada jantan dan betina dominan meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad. Hal ini didukung oleh pernyataan Effendie (1997) yang menyatakan bahwa pada masa gonad semakin berkembang seiring dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad. IKG akan terus meningkat dan mencapai nilai tertinggi pada saat mencapai TKG IV kemudian menurun setelah ikan melakukan pemijahan. Hal ini dikarenakan ikan telah mengeluarkan semua telurnya sewaktu terjadi pemijahan dan pada saat itu pula IKG hampir sama dengan TKG I dan TKG II. Hasil ini pula didukung oleh pernyataan Effendie (1997) yang menyatakan bahwa berat gonad akan mencapai maksimum saat ikan memijah. Kemudian menurun kembali secara cepat selama berlangsungnya pemijahan hingga pemijahan selesai.
26 IKG (%) 2.00 1.50 0.50 IKG (%) 1 8.00 6.00 4.00 2.00 bulan Bulan IH (%) 2.50 2.00 1.50 0.50 IH (%) 2.00 1.80 1.60 1.40 1.20 0.80 0.60 0.40 0.20 bulan Bulan faktor kondisi 1.70 1.60 1.50 1.40 1.30 1.20 faktor kondisi 1.80 1.60 1.40 1.20 0.80 0.60 0.40 0.20 Bulan Bulan Gambar 12. Hubungan nilai TKG IV, IKG, IHS, dan faktor kondisi ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Jantan dan betina
27 4.8. Potensi reproduksi Fekunditas ikan berhubungan erat dengan lingkungannya karena lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan panjang dan berat ikan. Perubahan fekunditas berhubungan dengan ketersediaan makanan. Jumlah telur yang dikeluarkan pada saat akan memijah merupakan fekunditas mutlak atau fekunditas individu (Effendie 1997). Fekunditas sering dihubungkan dengan berat karena berat lebih mendekati kondisi ikan daripada panjangnya, walaupun berat dapat berubah setiap saat apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan dan kondisi fosiologis pada ikan. Jumlah ikan betina TKG IV didapatkan berjumlah 45 ekor untuk menganalisis fekunditas. Fekunditas yang didapatkan berkisar 63.392-387.543 butir. Fekunditas minimum (63.392 butir) ditemukan pada ikan berukuran panjang 142 mm, berat tubuh 42 gram dam berat gonad 3,2033 gram. Fekunditas maksimum (387.543 butir) ditemukan pada ikan yang berukuran panjang 150 mm, berat tubuh 48 gram dan berat gonad 4,8986 gram (Lampiran 6). Hubungan antara fekunditas dengan panjang total diperoleh nilai determinasi (R 2 ) 0,2227. Nilai ini menunjukkan bahwa hanya 22,27% dari keragaman nilai fekunditas ikan selanget A. selangkat dapat dijelaskan oleh panjang tubuh total. Diperoleh pula nilai koefisien korelasi (r) yang relatif kecil yaitu sebesar 0,4764, hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara panjang total dengan fekunditas kurang erat (Gambar 13). Rendahnya korelasi ini dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah ikan contoh yang TKG IV dalam menganalisis potensi reproduksi. Selain itu juga diduga dapat disebabkan oleh batas kisaran yang ekstrim pada ukuran yang sama merupakan hal yang biasa terjadi (Effendie 1997). Hubungan fekunditas dengan berat tubuh diperoleh nilai r yang relative kecil yaitu sebesar 0,4929, hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara berat tubuh dengan fekunditas kurang erat. Koefisien determinasi (R 2 ) yang didapat sebesar 24,3% yang berarti hanya 24,3% berat tubuh dapat menjelaskan keragaman fekunditas pada tiap ukuran ikan (Effendi 1997).
28 fekunditas 450000 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 0 F = 5240 L 53538 R² = 0.227 0 100 200 panjang (mm) fekunditas 450000 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 0 F = 5409 W 22918 R² = 0.243 0 20 40 60 80 berat (g) Gambar 13. Hubungan panjang dan berat dengan fekunditas ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) Hasil yang didapat dari penelitian Anwar 2005 mengenai aspek reproduksi ikan selanget A. chacunda di perairan Pantai Mayangan, Pamanukan, Subang Jawa Barat tidak ada hubungan yang erat baik panjang total terhadap fekunditas maupun berat tubuh terhadap fekunditas, namun potensi reproduksi berkisar 125.083-1.828.222 butir sedangkan Teluk Jakarta hanya berkisar 63.392-387.543 butir. Perbedaan jumlah potensi reproduksi dikarenakan kondisi lingkungan perairan antara Jakarta Utara dengan Pantai Mayangan. 4.9. Pola pemijahan Pola pemijahan dapat diketahui dari sebaran diameter telur termasuk ke dalam pemijahan total atau bertahap. Sebaran frekuensi telur yang diamati pada gonad betina TKG IV yang berjumlah 45 ekor. Sebaran diameter telur bervariasi dari 0,250-0,886 mm (Lampiran 7). Terdapat modus penyebaran satu puncak yang mengindikasikan bahwa pola pemijahan ikan selanget adalah total spawner yaitu ikan selanget melepaskan telurnya dalam waktu singkat sekaligus. Ikan ikan yang tergolong dalam total spawner biasanya memiliki ukuran diameter telur yang kecil, fekunditas yang besar dan musim pemijahan yang tetap (Lowe-McConnell 1987). Pola pemijahan ikan selanget A. chacunda di perairan Pantai Mayangan, Pamanukan, Subang Jawa Barat ialah total spawner dengan ukuran diameter telur 355-403 µm.
29 frekuensi 600 500 400 300 200 100 0 1 0 65 252 564 459 417 348 107 15 21 0 1 selang panjang (mm) Gambar 14. Sebaran diameter telur (TKG IV) ikan selanget (A. selangkat Bleeker 1852) 4.10. Alternatif Pengelolaan Ikan selanget A. selangkat merupakan ikan demersal di perairan Teluk Jakarta. Ikan selanget ini memiliki nilai ekologis yaitu sebagai pemakan dasar dan detritus. Selain itu, ikan selanget juga memiliki nilai ekonomis penting sebab dapat dijadikan bahan konsumsi baik dalam bentuk segar maupun olahan (ikan asin, pindang). Kelimpahan ikan selanget haruslah dijaga sebab apabila populasi ikan selanget terlalu banyak maka yang menjadi mangsa ikan selanget akan mengalami penurunan demikian juga kalau populasi ikan selanget terlalu sedikit maka mangsa ikan selanget pun akan meningkat. Atau bahkan apabila populasi ikan selanget sudah menipis, lambat laun akan menyebabkan kepunahan. Oleh karena itu diperlukannya pengelolaan yang tepat untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya ikan di alam, yaitu pembesaran ukuran mata jaring > 2 inci dan melakukan pembatasan penangkapan terutama pada waktu puncak pemijahan. Pengelolaan ini dilakukan haruslah berdasarkan hasil kajian. Hasil kajian ini dapat dijadikan dasar pengelolaan. Berdasarkan hasil kajian, nisbah kelamin di perairan Teluk Jakarta cukup baik sebab jumlah ikan betina lebih banyak daripada ikan jantan walaupun tidak ideal (1:1). Walaupun ikan selanget hanya dijadikan hasil tangkapan sampingan, namun ukuran mata jaring dogol haruslah diperhatikan yang mengacu pada ukuran pertama kali matang gonad betina sebab ukuran pertama kali matang
30 gonad betina lebih pendek dibandingkan jantan. Ukuran mata jaring haruslah diperbesar (> 2 inci) sebab yang digunakan saat ini berukuran 1 inci (25,4 mm) sedangkan tinggi ukuran ikan pertama kali matang gonad ialah 51,644 mm pada ukuran panjang 139 mm supaya ikan selanget bisa melakukan pemijahan terlebih dahulu sebelum ditangkap agar ada recruitment alami yang berasal ikan selanget itu sendiri. Waktu penangkapan sebaiknya dilakukan setelah ikan mengalami puncak pemijahan yaitu setelah bulan Agustus sebab jumlah TKG IV pada bulan Agustus terbanyak pada bulan Agustus. Walaupun kondisi mangrove di Teluk Jakarta hanya ada dua titik namun haruslah dijaga kondisi supaya masih tetap tersedia makanan untuk ikan selanget.