PROPOSAL KONSEP KARYA Pameran Nusantara 2009 Menilik Akar Gagasan Dasar Latar belakang atau dasar inspirasi karya beranjak dari realita kekinian yang sedang berlangsung dalam konteks budaya pendidikan yang sudah dan yang sedang berlangsung. Konteks budaya pendidikan tersebut mengacu pada fenomena pola pembelajaran di masa lalu yang melulu pada pencekokan ilmu dengan proses hafalan dan tanpa diiringi cara-cara yang membuka diskusi kritis. Khususnya dalam konteks sejarah dan budaya kebangsaan. Pembelajaran sejarah begitu otoriternya sehingga tak ada celah bagi murid untuk belajar kritis misalnya mengapa novel-novelnya Pramudia begitu terlarang untuk dibaca. Mengapa Tjakarabirawa membunuh para jenderal? Siapakah pasukan Tjakrabirawa itu? Di manakah keberadaan surat Supersemar? Mengapa partai PKI kemudian menjadi sebutan yang jorok sehingga nama partai tersebut jadi salah satu bentuk umpatan? Pertanyaan-pertanyaan yang kritis yang dapat menyeret seseorang ke penjara jika diungkap di ruang-ruang publik saat itu. Akhirnya pelajaran sejarah dan kebudayaan menjadi hafalan seragam di setiap generasi ke generasi. Pelajaran sejarah Indonesia kemudian berisi hafalan budaya kapak perimbas, artefak-artefak sejarah yang dingin hanya berisi hafalan angka tahun dan nama-nama raja berbahasa Sanskerta. Sejak dulu tak pernah diajarkan apakah kondisi sejarah-sejarah kuno itu sudah menjelaskan eksistensi tentang keindonesiaan? Bukankah Indonesia resmi sebagai bangsa baru ada sejak 17 Agustus 1945? lalu kita lihat lagi pada runtutan sejarah selanjutnya yang pernah kita pelajari di masa-masa tahun 70an banyak sekali hafalan yang seragam tentang Indonesia yang tidak mengarah pada diskusi,
misalnya kenapa semua pergantian raja di kerajaan-kerajaan kuno seringkali diwarnai oleh pertumpahan darah, saling bunuh demi kekuasaan. Bahkan sampai pada masa pemerintahan yang bernama Indonesia masih ada pertumpahan darah dalam pergantian kepala pemerintahannya. Pada dasarnya masih ada jurang yang memisahkan antara sejarah, kebudayaan dan proses pembelajaran pada masyarakat yang diakibatkan oleh proses transfer pengetahuan yang sepihak / satu arah. Dan rejim berkuasa saat itu yang membuat sejarah dan konsep kebudayaan selama berpuluh tahun ditanamkan dengan berbagai media propaganda secara sistematis dan semua mengatasnamakan Pancasila dan UUD 45. Lemahnya sikap generasi muda dalam merespons realita terkait dengan kebijakankebijakan penguasa, kebijakan ekonomi, politik, sosial dan budaya saat ini mungkin juga terkait adanya jarak antara urusan pemerintah yang mestinya juga menjadi urusan masyarakat. Seolah-olah masyarakat tak perlu ikutan memikirkan hal-hal strategis yang menyangkut keberlangsungan masa depan bangsanya. Seolah-olah sudah terbentuk di masyarakat adanya konsep hirarki penguasa dan rakyat yang dikuasai seperti halnya zaman feodalisme dan masa-masa pendudukan Belanda di tanah air selama ratusan tahun silam. Akibatnya adanya koneksitas yang terputus antara dunianya masyarakat dan dunianya para penguasa / pemerintah. Seperti adanya dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia impian yang dapat dikejar melalu cara-cara instan misalnya dengan ikutan berpolitik sebagai caleg. Cara-cara yang ditempuh pun bukan dengan belajar sebagai politisi dulu tapi dengan cara-cara penggalangan dukungan padat modal. Seperti hal-hal impian lain untuk mencapai sesuatu sekarang ditempuh dengan cara instan, pengumpulan jumlah sms terbanyak untuk menjadi artis idola misalnya.
KONSEP PENCIPTAAN Berdasarkan fenomena-fenomena yang terurai penulis mengambil simpul-simpul penting sebagai dasar gagasan besar penciptaan karya. Pertama penulis mengambil seting pendidikan masa lalu yang sarat pelajaran hafalan yang serba seragam dan tak membuka celah kritis pada materi pembelajaran (khususnya pada sejarah dan kebudayaan). Kemudian fokus pendidikan lebih diarahkan pada pembelajaran ilmu-ilmu eksakta sebagai model pembelajaran paling mutakhir. Pelajaran bidang eksakta sebagai tolok ukur tertinggi dalam bidang akademis, pelajaran-pelajaran non eksakta dianggap pelajaran nomor dua dan terkesan tak terlalu penting untuk bangsa yang sedang membangun saat itu. Cita-cita anak didik selalu berbunyi seragam kalau tak jadi dokter, pasti jadi insinyur, atau tentara dengan model cita-cita favorit anak SMU saat itu adalah menjadi siswa di Akabri. Ada kesan bahwa dengan menjadi perwira lulusan akabri akan bisa menjadi jaminan hidup yang layak (kaya raya) dan dapat menduduki jabatan apa pun mulai dari gubernur, menteri, hingga komisaris perusahaan strategis. Berdasarkan gambaran tersebut penulis mengambil simbolisasi visual dan artistik untuk mewadahi gagasan besarnya. Pesan visual yang tergambar memang cenderung lebih transparan, dengan demikian pengamat dapat membaca pesan yang tersirat maupun tersurat. Secara visual penulis ingin menggambarkan proses penanaman / transfer ilmu yang cenderung satu arah pada anak didik di masa lalu misal pada pelajaran sejarah yang dibuat penguasa (digambarkan dengan robot berwarna hijau tentara mengeluarkan buku-buku sebagai amunisi). Proses transfer seperti itu merupakan akar permasalahan yang menjadi budaya pada masyarakat masa kini sebagai produk budaya pendidikan masa lalu. Masyarakat korban hegemoni kekuasaan rejim pemerintahnya sendiri. Kepala-kepala yang dipaksa menerima transfer pengetahuan melalui penataran-penataran dengan satuan jam selama berpuluh tahun. (tompuzo09)
DATA KARYA Judul lukisan : KORBAN ROBOT PENANAM SEJARAH Tahun : 2009 Media : Akrilik di atas kanvas Ukuran : 170 x 150 cm Pelukis : Toto Mujio Mukmin aka Tompuzo BIODATA PERUPA Nama : Toto Mujio Mukmin aka Tompuzo Tempat/tgl lahir : Plaju, 17 Mei 1967 Pekerjaan : Perupa, Desainer grafis, Ilustrator, Dosen Alamat : Puri Permata - Taman Buah Blok C3 / 45 Jl. KH.Maulana Hasanudin Cipondoh Tangerang Telepon : 021 55702371 Mobile : 08881905779 E-mail : tompuzo@yahoo.com Blog : idearupa.blogspot.com Aktivitas pameran : 2009 - Pameran karya dalam Jakarta Bienalle 2009 2008 - Pameran Lukis dan Patung alumni ASR/ISI di Senayan City Jakarta 2007 - Pameran Lukis dan Patung alumni ASR/ISI di Bellagio Jakarta 2006 - Pameran Kelompok Pintu Lima di Galeri Grya Rupa Reka 2005 - Pameran bersama kelompok HPSPP di Plaza Kantor pusat Pertamina Jakarta 2004 - Pameran bersama kelompok HPSPP di Plaza Kantor Pusat Pertamina 2003 - Pameran bersama kel HPSPP di Plaza kantor pusat Pertamina
2000 - Nominasi 100 besar Phillip Morris Award 1999 - Juara Pertama Lomba Lukis DKI oleh Deparsenibud Indonesia 1991 - Nominasi dalam Festival of Print di Osaka Trienalle Jepang 1992 Karya terbaik dalam pameran Lustrum ISI Yogyakarta