Pameran Nusantara 2009 Menilik Akar

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. Museum Sejarah Jakarta merupakan museum sejarah yang diresmikan

PROPOSAL KARYA. PAMERAN SENI RUPA NUSANTARA 2009 MENILIK AKAR Galeri Nasional Indonesia Mei Nama : Sonny Hendrawan

B. Jumlah Peserta Pameran Guru yang diikutkan dalam kegiatan pameran secara keseluruhan akan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Raymond Williams dalam Komarudin (2007: 1).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

MODUL PANDUAN Lomba Karya Tulis Ilmiah SMA/SMK Sederajat INDONESIA DALAM DUNIA ELEKTRONIKA

PROPOSAL PENGAJUAN KARYA SENI LUKIS Menilik Akar - Galeri Nasional Indonesia 2009

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. lain. Penggunaan suatu kode tergantung pada partisipan, situasi, topik, dan tujuan

No kementeriannya diatur dalam undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Pas

BAB I PENDAHULUAN. hampir bersamaan muncul gerakan-gerakan pendaulatan dimana targetnya tak

H.M.Umar Djani Martasuta

BAB I PENDAHULUAN. apapun kemasan atau hasil film, apabila tidak memiliki konsep yang kuat tidak akan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GUIDELINES LOMBA KARYA TULIS ILMIAH SCIENCE FESTIVAL 2012

STREET PARADE MARCHING BAND FESTIVAL BUAH DAN BUAH DAN BUNGA NUSANTARA IPB 2015 REGISTRATION FORM. Jumlah Anggota Male: Female: Total:

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA <<JUDUL>> BIDANG KEGIATAN : PKM ARTIKEL ILMIAH. Diusulkan oleh :

-2- MEMUTUSKAN : Pasal I

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian merupakan kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk kebutuhan,

UNDANGAN TERBUKA PAMERAN BESAR SENI RUPA 2016 Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

BAB 4 KESIMPULAN. 69 Universitas Indonesia. Memori kolektif..., Evelyn Widjaja, FIB UI, 2010

BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK

BAB 1 PENDAHULUAN. khasanah pengetahuan suatu masyarakat atau suku bangsa. Kehidupan

PANDUAN LOMBA KARYA TULIS ILMIAH FAPERTA UNSOED

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PENDAHULUAN Latar Belakang

KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN KENDAL

No kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, berasaskan Pancasila. Peran optimal ini dapat diwujudkan dengan menjadikan perguruan tin

BAB II MENGGAMBARKAN KONDISI OBJEKTIF SMA NEGERI 1 BALARAJA KAB. TANGERANG

BAB I PENDAHULUAN. Negara eropa yang paling lama menjajah Indonesia adalah Negara Belanda

BAB V PROTOTYPE. Menurut Soegard, prototyping adalah metode yang digunakan oleh pembuat

2015 BATIK BERMOTIF ANGKLUNG PADA TIRAI PINTU (DOOR CURTAIN PORTIERE)

EKSISTENSI PANCASILA DALAM KONTEKS GLOBAL DAN MODERN PASCA REFORMASI

Mencari Sosok Kedua (126/M) Oleh : Indah Permatasari Senin, 18 Juni :02

BAB I PENDAHULUAN. pemilihan umum (Pemilu). Budiardjo (2010: 461) mengungkapkan bahwa dalam

PEMERINTAH KOTA SEMARANG DINAS PENDIDIKAN SMP NEGERI 37 SEMARANG

Eksistensi Pancasila dalam Konteks Modern dan Global Pasca Reformasi

SURAT PENDAFTARAN SEBAGAI CALON ANGGOTA PPK/PPS*) PEMILU GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2013

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2003 TENTANG TANDA KEHORMATAN SATYALANCANA DHARMA NUSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

CURICULUM VITAE Iswandi. S. Pd PENDIDIKAN FORMAL AKTIVITAS KESENIAN Ritme Baru Dimensi Dua Pekan Seni Mahasiswa Nasional IV

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG SEKRETARIAT DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan. mengembangkan diri sebagai manusia Indonesia seutuhnya.

INDONESIA ART AWARDS 2013

1. Meningkatkan kompetensi generasi muda di bidang Akuntansi dan Perpajakan,

BAB I PENDAHULUAN. Pemikiran dan peradaban manusia senantiasa mengalami perkembangan seiring

BAB III DATA PERANCANGAN

BAB 5 KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Universitas Indonesia

LATIHAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2003 TENTANG TANDA KEHORMATAN SATYALANCANA DHARMA NUSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

B I O D A T A CURRICULUM VITAE TRI BAKDO S.

KOMPETISI KARIKATUR EKONOMI BEBAS KORUPSI VII 2016

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hidup mereka. Masa remaja merupakan masa untuk mencari identitas/ jati diri.

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA KERANGKA ACUAN LOMBA KARYA TULIS MAHKAMAH KONSTITUSI 2009 PENYELENGGARA SEKRETARIAT JENDERAL DAN KEPANITERAAN

Ha??? Serius kita mau ngambil jurusan itu??? Mau jadi apa ke depannya??? Mau makan apa kita???

negeri namun tetap menuntut kinerja politisi yang bersih.

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh

Buku «Memecah pembisuan» Tentang Peristiwa G30S tahun 1965

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Kehidupan manusia sehari-hari tidak dapat terpisahkan dengan komunikasi baik

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak adalah

pergelaran wayang golek. Dalam setiap pergelaran wayang golek, Gending Karatagan berfungsi sebagai tanda dimulainya pergelaran.

PANDUAN UMUM PENDAFTARAN DAN PENJURIAN

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia (NKRI) tidaklah kecil. Perjuangan perempuan Indonesia dalam

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya,

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Materi Kuliah. FALSAFAH PANCASILA (Pancasila Ideologi Bangsa dan negara) Modul 3

SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN HARI RAPAT RAKSASA IKADA 19 SEPTEMBER 1945

PEDOMAN MAHASISWA BERPRESTASI FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS SRIWIJAYA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN Kusrianto, Adi Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset halaman

5. Materi sejarah berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

Pancasila Idiologi dan Identitas Nasional. D.H.Syahrial/PPKn

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

JAKARTA 16 JULY 2006 Jl. Kembang Abadi Utama Blok A XI No 4 Puri Indah Kembangan - Jakarta Barat

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan karya seni kreatif yang menjadikan manusia

Veterinary Scientific Competition 2016

TUGAS AKHIR PANCASILA. Eksistensi Pancasila Dalam Konteks Modern. dan Global Reformasi

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan

KETENTUAN UMUM PETUNJUK PELAKSANAAN LOMBA MARCHING BAND FLORIKULTURA INDONESIA 2017

PERANCANGAN SIGN-SYSTEM PERPUSTAKAAN SEBAGAI MEDIA PENUNJANG AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI DI PERGURUAN TINGGI

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. didasarkan pada materi yang terdapat dalam kurikulum tersebut. Strandar

BAB I PENDAHULUAN. tentang dirinya sendiri. Semua usaha yang tidak menentu untuk mencari identitas-identitas

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

LOMBA ESAI DESKRIPTIF KREASI DAN INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN (KRENOBEL) TINGKAT MAHASISWA

PETUNJUK PELAKSANAAN LOMBA KARYA TULIS ILMIAH-MAHASISWA (LKTIM) SE-JAWA-BALI 2014

BAB I PENDAHULUAN. berhasil mempersatukan provinsi-provinsi di Jepang. Toyotomi Hideyoshi

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki keanekaragaman

PERANCANGAN VISUAL PUBLIKASI BUKU ILUSTRASI ANAK ASAL USUL KOTA DUMAI DAN PUTRI TUJUH

BAB I PENDAHULUAN. Novel Nijūshi No Hitomi ( 二二二二二 ) merupakan karya seorang penulis

Lampiran 1 Biodata Peneliti

SELEKSI CALON KETUA UMUM KUPASI

Transkripsi:

PROPOSAL KONSEP KARYA Pameran Nusantara 2009 Menilik Akar Gagasan Dasar Latar belakang atau dasar inspirasi karya beranjak dari realita kekinian yang sedang berlangsung dalam konteks budaya pendidikan yang sudah dan yang sedang berlangsung. Konteks budaya pendidikan tersebut mengacu pada fenomena pola pembelajaran di masa lalu yang melulu pada pencekokan ilmu dengan proses hafalan dan tanpa diiringi cara-cara yang membuka diskusi kritis. Khususnya dalam konteks sejarah dan budaya kebangsaan. Pembelajaran sejarah begitu otoriternya sehingga tak ada celah bagi murid untuk belajar kritis misalnya mengapa novel-novelnya Pramudia begitu terlarang untuk dibaca. Mengapa Tjakarabirawa membunuh para jenderal? Siapakah pasukan Tjakrabirawa itu? Di manakah keberadaan surat Supersemar? Mengapa partai PKI kemudian menjadi sebutan yang jorok sehingga nama partai tersebut jadi salah satu bentuk umpatan? Pertanyaan-pertanyaan yang kritis yang dapat menyeret seseorang ke penjara jika diungkap di ruang-ruang publik saat itu. Akhirnya pelajaran sejarah dan kebudayaan menjadi hafalan seragam di setiap generasi ke generasi. Pelajaran sejarah Indonesia kemudian berisi hafalan budaya kapak perimbas, artefak-artefak sejarah yang dingin hanya berisi hafalan angka tahun dan nama-nama raja berbahasa Sanskerta. Sejak dulu tak pernah diajarkan apakah kondisi sejarah-sejarah kuno itu sudah menjelaskan eksistensi tentang keindonesiaan? Bukankah Indonesia resmi sebagai bangsa baru ada sejak 17 Agustus 1945? lalu kita lihat lagi pada runtutan sejarah selanjutnya yang pernah kita pelajari di masa-masa tahun 70an banyak sekali hafalan yang seragam tentang Indonesia yang tidak mengarah pada diskusi,

misalnya kenapa semua pergantian raja di kerajaan-kerajaan kuno seringkali diwarnai oleh pertumpahan darah, saling bunuh demi kekuasaan. Bahkan sampai pada masa pemerintahan yang bernama Indonesia masih ada pertumpahan darah dalam pergantian kepala pemerintahannya. Pada dasarnya masih ada jurang yang memisahkan antara sejarah, kebudayaan dan proses pembelajaran pada masyarakat yang diakibatkan oleh proses transfer pengetahuan yang sepihak / satu arah. Dan rejim berkuasa saat itu yang membuat sejarah dan konsep kebudayaan selama berpuluh tahun ditanamkan dengan berbagai media propaganda secara sistematis dan semua mengatasnamakan Pancasila dan UUD 45. Lemahnya sikap generasi muda dalam merespons realita terkait dengan kebijakankebijakan penguasa, kebijakan ekonomi, politik, sosial dan budaya saat ini mungkin juga terkait adanya jarak antara urusan pemerintah yang mestinya juga menjadi urusan masyarakat. Seolah-olah masyarakat tak perlu ikutan memikirkan hal-hal strategis yang menyangkut keberlangsungan masa depan bangsanya. Seolah-olah sudah terbentuk di masyarakat adanya konsep hirarki penguasa dan rakyat yang dikuasai seperti halnya zaman feodalisme dan masa-masa pendudukan Belanda di tanah air selama ratusan tahun silam. Akibatnya adanya koneksitas yang terputus antara dunianya masyarakat dan dunianya para penguasa / pemerintah. Seperti adanya dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia impian yang dapat dikejar melalu cara-cara instan misalnya dengan ikutan berpolitik sebagai caleg. Cara-cara yang ditempuh pun bukan dengan belajar sebagai politisi dulu tapi dengan cara-cara penggalangan dukungan padat modal. Seperti hal-hal impian lain untuk mencapai sesuatu sekarang ditempuh dengan cara instan, pengumpulan jumlah sms terbanyak untuk menjadi artis idola misalnya.

KONSEP PENCIPTAAN Berdasarkan fenomena-fenomena yang terurai penulis mengambil simpul-simpul penting sebagai dasar gagasan besar penciptaan karya. Pertama penulis mengambil seting pendidikan masa lalu yang sarat pelajaran hafalan yang serba seragam dan tak membuka celah kritis pada materi pembelajaran (khususnya pada sejarah dan kebudayaan). Kemudian fokus pendidikan lebih diarahkan pada pembelajaran ilmu-ilmu eksakta sebagai model pembelajaran paling mutakhir. Pelajaran bidang eksakta sebagai tolok ukur tertinggi dalam bidang akademis, pelajaran-pelajaran non eksakta dianggap pelajaran nomor dua dan terkesan tak terlalu penting untuk bangsa yang sedang membangun saat itu. Cita-cita anak didik selalu berbunyi seragam kalau tak jadi dokter, pasti jadi insinyur, atau tentara dengan model cita-cita favorit anak SMU saat itu adalah menjadi siswa di Akabri. Ada kesan bahwa dengan menjadi perwira lulusan akabri akan bisa menjadi jaminan hidup yang layak (kaya raya) dan dapat menduduki jabatan apa pun mulai dari gubernur, menteri, hingga komisaris perusahaan strategis. Berdasarkan gambaran tersebut penulis mengambil simbolisasi visual dan artistik untuk mewadahi gagasan besarnya. Pesan visual yang tergambar memang cenderung lebih transparan, dengan demikian pengamat dapat membaca pesan yang tersirat maupun tersurat. Secara visual penulis ingin menggambarkan proses penanaman / transfer ilmu yang cenderung satu arah pada anak didik di masa lalu misal pada pelajaran sejarah yang dibuat penguasa (digambarkan dengan robot berwarna hijau tentara mengeluarkan buku-buku sebagai amunisi). Proses transfer seperti itu merupakan akar permasalahan yang menjadi budaya pada masyarakat masa kini sebagai produk budaya pendidikan masa lalu. Masyarakat korban hegemoni kekuasaan rejim pemerintahnya sendiri. Kepala-kepala yang dipaksa menerima transfer pengetahuan melalui penataran-penataran dengan satuan jam selama berpuluh tahun. (tompuzo09)

DATA KARYA Judul lukisan : KORBAN ROBOT PENANAM SEJARAH Tahun : 2009 Media : Akrilik di atas kanvas Ukuran : 170 x 150 cm Pelukis : Toto Mujio Mukmin aka Tompuzo BIODATA PERUPA Nama : Toto Mujio Mukmin aka Tompuzo Tempat/tgl lahir : Plaju, 17 Mei 1967 Pekerjaan : Perupa, Desainer grafis, Ilustrator, Dosen Alamat : Puri Permata - Taman Buah Blok C3 / 45 Jl. KH.Maulana Hasanudin Cipondoh Tangerang Telepon : 021 55702371 Mobile : 08881905779 E-mail : tompuzo@yahoo.com Blog : idearupa.blogspot.com Aktivitas pameran : 2009 - Pameran karya dalam Jakarta Bienalle 2009 2008 - Pameran Lukis dan Patung alumni ASR/ISI di Senayan City Jakarta 2007 - Pameran Lukis dan Patung alumni ASR/ISI di Bellagio Jakarta 2006 - Pameran Kelompok Pintu Lima di Galeri Grya Rupa Reka 2005 - Pameran bersama kelompok HPSPP di Plaza Kantor pusat Pertamina Jakarta 2004 - Pameran bersama kelompok HPSPP di Plaza Kantor Pusat Pertamina 2003 - Pameran bersama kel HPSPP di Plaza kantor pusat Pertamina

2000 - Nominasi 100 besar Phillip Morris Award 1999 - Juara Pertama Lomba Lukis DKI oleh Deparsenibud Indonesia 1991 - Nominasi dalam Festival of Print di Osaka Trienalle Jepang 1992 Karya terbaik dalam pameran Lustrum ISI Yogyakarta