BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
melalui Tridharma, dan; 3) mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan nilai Humaniora.

PENTINGNYA ASPEK SOFT SKILLS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

ETIK UMB MANFAAT SOFT SKILL. Nabil Ahmad Fauzi, M.Soc.Sc. Ekonomi. Manajamen. Modul ke: Fakultas. Program Studi.

BAB I PENDAHULUAN. ketat, dan pada umumnya para pengguna jasa (stakeholders) menginginkan

BAB I PENDAHULUAN. Bab II Kedudukan, Fungsi dan Tujuan pasal 6 menyatakan bahwa: Pendidikan mensyaratkan adanya kompetensi pedagogik, kompetensi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Robert Bolton,

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta

BAB I PENDAHULUAN. jawab. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Tahap penyusunan agenda Tahap formulasi kebijakan Tahap adopsi kebijakan Tahap implementasi kebijakan Tahap evaluasi kebijakan

BAB I PENDAHULUAN. universitas, institut atau akademi. Sejalan dengan yang tercantum pasal 13 ayat 1

BAB I PENDAHULUAN. yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Begitu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. tercapai. Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh kesiapan sumber daya. penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. melibatkan partisipasi masyarakat sebagai elemen penting dalam proses. penyusunan rencana kerja pembangunan daerah.

BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan otonomi daerah yang didasarkan kepada Undang-Undang. Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Derah, menekankan adanya

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR TABEL... xxi. DAFTAR GAMBAR... xxiii. DAFTAR LAMPIRAN... xxv

BAB I PENDAHULUAN. sejalan dengan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih menjadi. perbincangan para pakar pendidikan dari tingkat daerah sampai dengan pusat,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Kinerja birokrasi pada era reformasi dan otonomi daerah menjadi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rizkika Fitri, 2014

I. PENDAHULUAN. manusia menjadi semakin beragam dan kompleks sifatnya. Berbagai hal sebisa

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN, PROFESIONALISME, KOMITMEN ORGANISASI, DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN BAGIAN AKUNTANSI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Thomas Dye dalam Subarsono (2013: 2), kebijakan publik adalah

Apa yang dimaksud dengan Interpersonal Skill?

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan

MAKALAH KAJIAN KEBIJAKAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PROFES PRO SIONALISM

Model van Horn & van Metter dan Marlee S. Grindle

I. PENDAHULUAN. identifikasi masalah, pembatasan masalah dan rumusan masalah. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. pada kemampuan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pendidikan yang dilakukan pemerintah saat ini sangatlah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dessy Asri Astrianty, 2013

BAB I PENDAHULUAN. banyak faktor diantaranya lingkungan, keluarga dan pendidikan.

LAPORAN HASIL AUDIT MUTU INTERNAL TAHUN AKADEMIK

akibatnya fenomena seperti ini menjadi hal yang berdampak sistemik. Tawuran pelajar yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berkembangnya suatu organisasi tentunya tidak terlepas dari sumber daya

PENGARUH KOMPENSASI DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PT. EZYLOAD NUSANTARA DI SURAKARTA

BAB VI PENUTUP Kesimpulan 1. Implementasi Kebijakan Penjaminan Mutu Pada Perguruan Tinggi

BAB I PENDAHULUHUAN. A. Latar Belakang Masalah. UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. adanya quality controll yang mengawasi jalannya proses dan segala. Sekolah adalah sebuah people changing instituation, yang dalam

BAB I PENDAHULUAN. kepatuhan dan audit laporan keuangan (Arens dan Loebbecke, 2003). Akuntan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sekolah adalah salah satu institusi yang berperan dalam menyiapkan

Profil Lulusan Program Studi Sosiologi FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS UDAYANA LAPORAN

RENCANA STRATEGIS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. penghargaan atas dasar prestasi dan kinerjanya. dengan meningkatkan profesionalisme dalam melakukan pekerjaan sebagai guru.

II. TINJAUAN PUSTAKA. secara umum memberikan penafsiran yang berbeda-beda akan tetapi ada juga yang

BAB IV ANALISIS KUALITAS SOFT SKILL MAHASISWA PRODI EKONOMI SYARI AH DALAM KESIAPANNYA MENGHADAPI DUNIA KERJA

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhuk sosial, yang antar individunya membutuhkan

Pengaruh Tipe Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kemajuan Sekolah di SMP Kabupaten Karanganyar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

2015 SOFT SKILL PADA PEMBELAJARAN DI KAMPUS DAN PELAKSANAAN PROGRAM LATIHAN PROFESI MAHASISWA PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

(Development of Soft Skills Learners in Schools)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB VI PENUTUP. dapat mendorong proses penganggaran khususnya APBD Kota Padang tahun

I. PENDAHULUAN. Dalam mencapai tujuan, setiap organisasi dipengaruhi oleh perilaku

BAB I PENDAHULUAN. skills termasuk komunikasi dan kemampuan berinkteraksi, kemampuan

LAPORAN HASIL AUIDT MUTU INTERNAL TAHUN AKADEMIK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Persoalan utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah minimnya nilainilai

RESPON GURU TERHADAP VISI SUPERVISI

BAB I PENDAHULUAN. berkeinginan untuk mengikuti pendidikan di Kota ini. Khusus untuk pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi. sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran.

BAB II KAJIAN TEORITIS. menentukan keberhasilan sebagai bentuk dari pencapaian tujuan bersama yang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang menitikberatkan pada

BAB I PENDAHULUAN. menentukan keberhasilan pendidikan untuk mewujudkan tujuannya. Guru

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. sekolah dengan keefektifan sekolah di MTs Kabupaten Labuhanbatu Utara.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Hasanah Ratna Dewi, 2015

11 LEMBARAN DAERAH Januari KABUPATEN LAMONGAN 1/E 2006 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 01 TAHUN 2006 TENTANG

Tujuan pendidikan nasional seperti disebutkan dalam Undang-Undang. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal (3)

SPESIFIKASI PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA. Universitas Brawijaya, 2008 All Rights Reserved

BAB I PENDAHULUAN. manusia di dalam penyelenggaraan pendidikan sangat penting. pengelolaan sumber daya manusia dapat berjalan sesuai dengan apa yang

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang dianut pemangku kebijakan. Kurikulum memiliki. kedudukan yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. besar dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Selain sebagai pengajar, guru juga

1. PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan generasi muda penerus bangsa yang

BAB I PENDAHULUAN. harus mempunyai nilai kompetensi (Mony, 2012:6). yang cukup panjang dan bukan hal yang kebetulan sesaat semata.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Soft skill mahasiswa menurut pendapat Setditjend Dikti (2010)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat,

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kompetensi pendidik yang termasuk soft skills mencakup kompetensi kepribadian dan sosial. Kompetensi kepribadian disebut dengan intrapersonal skills sedangkan kompetensi sosial disebut interpersonal skills. Berthal (dalam Muqowim, 2012) mendefinisikan soft skills sebagai perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia seperti membangun tim, pembuatan keputusan, inisiatif dan komunikasi. Neff & Citrin (dalam Muqowim, 2012) mengatakan bahwa yang paling menentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis melainkan kualitas diri yang termasuk dalam keterampilan lunak (soft skills) atau keterampilan yang berhubungan dengan orang lain (people skills). Soft skills tidak termasuk kemampuan teknis melainkan nonteknis, ketrampilan yang dapat melengkapi kemampuan akademik, dan kemampuan ini harus dimiliki oleh setiap orang, apapun profesi yang ditekuni. Proses mendidik tidak hanya berlangsung di kelas, berbeda dengan mengajar yang pada umumnya hanya di kelas. Mendidik adalah proses transfer nilai (transfer of values), sedangkan mengajar merupakan proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge). Direktorat Akademik Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional (2008) mengatakan: Keberhasilan pendidik 80% ditentukan oleh soft skills kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, dan hanya 20% hard skills kompetensi pedagogik dan professional. Hasil penelitian dari Harvard University Amerika Serikat tentang dunia pendidikan di Indonesia (dalam Muqowim, 2012) pendidikan di Indonesia memberikan kontribusi soft skills hanya 20% dan yang 80% bersifat hard skills. Ketidakseimbangan ini harus segera diatasi dengan melakukan perubahan regulasi jangka panjang yang didasarkan pada analisa pendidikan. Dalam hasil penelitian lain dari Putra dan Pratiwi (dalam Rizky, 2012) menjelaskan bahwa menurut survei dari 457 pemimpin perusahaan yang 1

2 dilakukan oleh National Association of Colleges (NACE) tahun 2002 di Amerika Serikat, diperoleh kesimpulan bahwa Indeks Prestasi (IP) hanya menempati urutan nomor 17 dari 20 kualitas skills yang perlu dimiliki mahasiswa. Tabel 1. Hasil Survei NACE USA Mengenai Soft Skills di Dunia Kerja Sumber Putra dan Pratiwi 2005 Jika kita melihat hasil penelitian di atas, keberhasilan seorang profesional sangat ditentukan oleh penguasaan soft skills ketimbang hard skills. Pemahaman bahwa soft skills memiliki peranan penting dalam kesuksesan mahasiswa, dan cara untuk mengasah soft skills salah satunya melalui kegiatan kemahasiswaan. Namun kenyataanya, keikutsertaan mahasiswa dalam organisasi mahasiswa kurang dari 10% (Keluarga Mahasiswa UMS, 2015). Padahal kalau melihat data jumlah keseluruhan mahasiswa aktif kurang lebih 28.000 (BAA UMS, 2015). Mestinya organisasi mahasiswa menjadi salah tempat pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan dan meningkatkan soft skills mahasiswa. Kenyataannya, hanya sedikit mahasiswa yang berkecimpung dalam kepengurusan organisasi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

3 Sebagai hasil kesepakatan bersama antara pimpinan universitas dan pimpinan fakultas dalam menyikapi realita yang ada, lahirlah buku Pedoman Sistem Kredit Karakter Mahasiswa (SKKM) tahun 2012 sebagai kerangka acuan dalam proses pembentukan karakter mahasiswa. Kebijakan ini dibuat sebagai sarana dalam menyeimbangkan peranan soft skills dan hard skills, yang pada intinya sebagai syarat mendapatkan gelar kesarjanaan mahasiswa tidak hanya dituntut dengan IPK yang tinggi (bersifat akademik) namun juga wajib menyerahkan sertifikat keikutsertaan dalam organisasi/ kegiatan/ seminar/ kejuaraan, dsb (bersifat non akademik) sebagai kelengkapan pemenuhan kredit point. Dalam pelaksanaan kebijakan sistem kredit karakter mahasiswa dibutuhkan sinergisitas antara stake-holders universitas dan fakultas. Mencermati keputusan yang dibuat seorang pemimpin ada beberapa aspek individual dalam menjelaskan perilaku. Lewin (dalam Cottam, Beth, Elena, & Thomas, 2012) berpendapat bahwa untuk memahami perilaku perlu memahami kepribadian seseorang dan menekankan interaksi antara seseorang dengan situasi tertentu. Fred Greenstein (dalam Cottam, Beth, Elena, & Thomas, 2012) meninjau bahwa, meskipun kepribadian sering kali tidak begitu berpengaruh dalam pengambilan kebijakan namun terjadi pada dampak pribadi (aktor politik): pertama, meningkat hingga sejauh mana lingkungannya memungkinkan restrukturisasi; kedua, bervariasi sejalan dengan lokasi/situasi aktor politik tersebut di lingkungannya; dan ketiga, ketika individu-individu memiliki sumber kekuasaan pribadi dikarenakan posisi mereka dalam sistem politiknya (jabatan) sehingga dapat memengaruhi proses kebijakan. Levine & Moreland (dalam Cottam, Beth, Elena, & Thomas, 2012) berpendapat bahwa setiap kelompok atau organisasi dapat dipastikan memiliki sebuah struktur dan struktur cenderung berkembang dengan cepat dan berubah dengan lambat dalam kebanyakan kelompok. Penetapan kebijakan mempunyai peran dalam kemajuan sebuah kelompok, Karft & Furlong (dalam Hamdi, 2014) mengataka penetapan kebijakan (policy legitimation) merupakan mobilisasi dari dukungan politik dan penegasan kebijakan secara formal termasuk justifikasi untuk tindakan kebijakan. Dalam hal ini terdapat dua makna dari penetapan

4 kebijakan. Pertama, penetapan kebijakan merupakan proses yang dilakukan pengambil kebijakan untuk melaksanakan suatu pola tindakan tertentu atau sebaliknya, untuk tidak melakukan tindakan tertentu. Kedua, penetapan kebijakan berkaitan dengan pencapaian konsensus dalam pemilihan alternatif-alternatif yang tersedia. Tahap ini juga berkenaan dengan legitimasi dari alternatif yang dipilih, yakni berupa suatu rancangan tindakan-tindakan yang ditetapkan menjadi peraturan baru yang dilaksanakan. Fromm (dalam Cottam, Beth, Elena, & Thomas, 2012) mengeksplorasi interaksi-interaksi antara orang-orang dalam masyarakat dan berpendapat bahwa perubahan dalam masyarakat dapat menghasilkan kebebasan dari pengekangan sehingga masyarakat humanis dapat mengejar suatu kebebasan positif yang didalamnya orang-orang memperlakukan satu sama lain dengan menyertakan rasa hormat dan rasa cinta atau mereka dapat melepaskan kebebasan dan menerima sistem politik dan sistem sosial yang totaliter dan otoriter. Kebutuhan akan kekuasaan merupakan sebuah karakteristik kepribadian yang selama ini telah dipelajari secara luas dan dikaitkan dengan jenis-jenis perilaku dan gaya-gaya interaksi yang spesifik dengan orang lain Winter dkk (dalam Cottam, Beth, Elena, & Thomas, 2012). Secara khusus seseorang akan menduga para pemimpin yang memiliki kebutuhan psikologis akan kekuasaan yang semakin tinggi akan semakin dominan dan asertif pada gaya kepemimpinan mereka saat menjabat dan menuntut kontrol yang lebih besar atas bawahannya dan keputusan-keputusan kebijakan. Hermann dkk (dalam Cottam, Beth, Elena, & Thomas, 2012) mengatakan bahwa pengalaman atau keahlian sebelumnya yang dimiliki oleh para pemimpin berdampak signifikan pada kepemimpinan, karakteristik interaksi kelompok dan seberapa kuat para pemimpin menegaskan posisi mereka dalam isu-isu kebijakan. Barber dkk, (dalam Cottam, Beth, Elena, & Thomas, 2012). Pengalaman masa lalu menyediakan para pemimpin suatu pendirian tentang tindakan apa yang akan efektif dan tidak efektif dalam situasi-situasi politik yang spesifik, serta manakah petujuk dari lingkungannya yang seharusnya diperhatikan dan mana yang tidak relevan. Dilihat dari pengalaman masa lalu pemimpin dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dalam capaian pekerjaan tertentu. Keputusan politik dapat

5 dibuat untuk menanggapi isu-isu yang dipersepsikan oleh para pemimpin sehingga setiap pengambilan keputusan memiliki cara yang berbeda dan pola perilaku yang berbeda tergantung pada dinamika yang terjadi di lingkungan kebijakan. Thomas R. Dye (dalam Dunn, 2003) mengatakan suatu sistem kebijakan dibuat mencakup hubungan timbal balik diantaranya tiga unsur yaitu kebijakan publik, pelaku kebijakan dan lingkungan kebijakan. Definisi dari masalah kebijakan tergantung pada pola keterlibatan pelaku kebijakan (policy stakeholders) yang khusus yaitu para individu atau kelompok yang mempunyai andil dalam kebijakan, misalnya warga masyarakat, pemimpin terpilih dan para analis kebijakan yang berkenaan dengan lingkungan kebijakan. Lingkungan kebijakan (policy environment) yaitu konteks khusus dimana kejadian-kejadian di sekeliling isu kebijakan, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pembuat kebijakan dan kebijakan publik. Sistem kebijakan berisi proses dialektis yang bersifat subjektif dan objetif dari pembuat kebijakan, sistem kebijakan merupakan realiatas objektif yang dimanifestasikan kepada tindakan-tindakan yang teramati yang bersifat konsekuensi; para pelaku kebijakan merupakan produk dari sistem kebijakan. Pelaksanaan kebijakan dapat diikhtiarkan dalam musyawarah bersama yang menghadirkan segenap civitas akademika diantaranya pimpinan universitas, pimpinan fakultas dan keterwakilan mahasiswa ditingkat universitas dan fakultas. Mengingat makna dan sifat implementasi yang dapat dipahami dari berbagai dimensi, makna tahap ini dengan sendirinya menunjukkan signifikansinya. Matland (dalam Hamdi, 2014) mencatat bahwa literatur mengenai implementasi kebijakan secara umum terbagi dalam dua kelompok, yakni kelompok dengan pendekatan dari atas (top-down) dan kelompok dengan pendekatan dari bawah (bottom-up). Kelompok dengan pendekatan top-down melihat perancangan sebagai aktor sentral dalam implementasi kebijakan dan memusatkan perhatiannya dalam faktor-faktor yang dapat dimanipulasi pada tingkat sentral atau pada variabel yang bersifat makro. Pada lain sisi, kelompok bottom up

6 menekankan pada kelompok-kelompok sasaran dan para penyedia layanan. Pemberian tekanan pada kelompok bottom-up didasarkan pada pemikiran bahwa kebijakan senyatanya dibuat pada tingkat lokal dan berfokus pada variabel mikro. Model top-down memandang implementasi kebijakan sebagai pelaksanaan secara tepat pada tujuan yang telah direncanakan dari tingkat atas oleh para pelaksana pada tingkat lapangan sehingga akan dapat tercapainya tujuan. Melihat realita yang terjadi pimpinan mencoba melakukan uji coba di beberapa program studi di fakultas tertentu dan ketika dirasa berhasil akan diterapkan secara makro dan menyeluruh. Model yang dibuat oleh Van Meter dan Van Horn (dalam Hamdi, 2014) pada dasarnya dimaksud untuk mengidentifikasi hubungan antara kepentingan yang beragam dari analis kebijakan, perhatian langsung pada faktor penentu dari kebijakan publik dan memberikan penekanan pada keterkaitan yang sering kali tidak sempurna antara kebijakan yang ditetapkan dengan pelayanan yang nyata dilakukan. Model pandangan lain pendekatan top-down juga dikemukakan oleh Mazmanian dan Sabatier (dalam Hamdi, 2014) yang mendefinisikan implementasi sebagai pelaksanaan keputusan kebijakan dasar (basic polity decision), yang selalu terbentuk dalam peraturan perundangundangan namun juga dapat berbentuk perintah eksekutif. Titik awal model ini terletak pada keputusan yang bersifat mengikat dalam implikasinya, para aktor yang berada di pusat pembuatan keputusan dipandang sebagai relevansi untuk mewujudkan akibat atau hasil yang diinginkan. Dalam paparan diatas dapat disimpukan perlunya memahami pengambilan keputusan seorang pemimpin yang ditinjau dari perspektif psikologi, sosial, politik dan organisasi. Keputusan kebijakan dapat dibuat pemimpin dengan melihat realitas objektif yang diidentifikasi sebagai masalah publik dan cenderung dimunculkan secara berurutan dengan penyediaan proses alternatifnya. Kontribusi pencapaian nilai menjadi unsur utama dalam melihat masa depan kebijakan dalam implementasinya yang dilakukan secara sistematis, berjenjang dan konsisten yang diwujudkan melalui percontohan program studi di salah satu atau dua fakultas dalam proses memulainya. Dye (dalam Dunn, 2003) mengatakan

7 bahwa sistem kebijakan (policy system) atau seluruh pola institusional dimana kebijakan dapat saling mempengaruhi dan dipengaruhi diantaranya pelaku kebijakan, lingkungan kebijakan dan kebijakan publik. Dengan melihat pola institusional diatas, maka perlunya senergisitas seluruh elemen yang ada di civitas akademika Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam mengimplementasikan kebijakan sistem kredit karakter mahasiswa. B. Rumusan Masalah Kemampuan mahasiswa tidak hanya dibentuk melalui bangku perkuliahan namun akan lebih maksimal melalui proses pembelajaran dalam organisasi mahasiswa. Sebuah regulasi kebijakan telah dirancang dalam buku Pedoman Sistem Kredit Karakter Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 2012 yang terlahir dari konsensus bersama antara pimpinan universitas dan pimpinan fakultas, hingga tahun 2015 belum sepenuhnya kebijakan tersebut diterapkan. Dalam melihat realitas tersebut, fragmentasi organisasi dapat menjadi penghambat dalam koordinasi yang diperlukan guna keberhasilan kompleksifitas implementasi kebijakan. Diperlukan percontohan dalam memulai implementasi kebijakan dengan pola yang terstruktur dari aktor kebijakan dan lingkungan kebijakan melalui pengulangan tingkah laku dari mereka yang membuat dan mematuhi kebijakan. Maka dari itu muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimana proses kesiapan dan dinamika birokrasi dalam perspektif psikologi sosial/politik/organisasi yang dilakukan Pimpinan Universitas dan Pimpinan Fakultas dalam menerapkan kebijakan Sistem Kredit Karakter Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta? C. Tujuan Untuk memahami kesiapan dan dinamika birokrasi dalam perspektif psikologi sosial/politik/organisasi Pimpinan Universitas dan Pimpinan Fakultas dalam menerapkan kebijakan sistem kredit karakter mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta

8 D. Manfaat A. Hasil penelitian ini diharapkan menambah wawasan bagi peneliti dalam analisa kebijakan publik. B. Memberi masukan bagi kegiatan penelitian lain dalam proses perencanaan kebijakan publik dalam pembentukan karakter positif mahasiswa. C. Memberikan sumbangsih pemikiran dan saran pada stakeholder terkait dalam pelaksaan kebijakan publik.