BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
|
|
|
- Yuliana Veronika Pranoto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi/universitas dihadapkan pada situasi dimana universitas harus mengedepankan lulusan mahasiswa yang berkualitas (memiliki kompetensi). Mahasiswa sendiri juga dituntut untuk mempunyai kualitas hardskill dan juga softskill yang berguna ketika mahasiswa terjun ke dalam masyarakat. Pihak universitas berusaha mewadahi mahasiswa dengan berbagai fasilitas yang berguna untuk menunjang kemampuan hardskill dan juga softskill mahasiswa. Harapannya adalah mahasiswa lulus dengan kemampuan yang seimbang, yaitu kemampuan akademik yang bagus dan juga kemampuan softskill yang memadai. Namun kebanyakan mahasiswa hanya ingin berkutat mengejar IPK berupa hardskill tanpa diimbangi dengan kegiatan ekstrakurikuler dimana mahasiswa dapat mengasah kemampuan softskill. Hal ini didapatkan dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dari 2 mahasiswa mengenai hardskill berupa nilai perkuliahan dan softskill terkait dunia kerja sebagai berikut: Hmm menurutku sih aku lebih milih untuk fokus kuliah aja ce ketimbang harus ikut kayak kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan. Soale aku takut ikut kegiatan malah bikin nilai IPK- ku anjlok. Lagian di dunia kerja kan untuk bisa diterima di perusahaan kan mesti liat IPK-nya juga. (I, Perempuan, Semester 6, Fakultas Psikologi). Pernah sih coba ikut kepanitiaan ormawa, tapi hasilnya aku jadi keteteran gak bisa bagi waktu antara belajar dengan kegiatan ormawa. Nilai IPK ya turun. Mama Papaku marah dan menyuruhku untuk fokus kuliah dan berhenti ikut ormawa karna takut nilai kuliahku jelek. (C, Perempuan,Semester 8, Fakultas Bisnis) 1
2 2 Berdasarkan hasil wawancara tersebut maka perlu disosialisasikan lagi pentingnya softskill kepada mahasiswa bagaimana pentingnya softskill tersebut jika diterapkan dalam dunia kerja. Sebuah survey yang dilakukan oleh NACE (National Association of Colleges and Employers) pada tahun 2011 menunjukkan terdapat sepuluh keahlian kerja softskill yaitu kemampuan komunikasi verbal, mempunyai etos kerja yang tinggi, kemampuan bekerja dalam tim, keterampilan dalam menganalisa, memiliki inisiatif, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan untuk membuat rencana dan membuat prioritas, kemampuan memperoleh dan mengolah informasi, keterampilan komunikasi menulis, keterampilan interpersonal (berhubungan dengan orang lain), dan mudah beradaptasi. Dari penjelasan survey di atas maka untuk bisa mendapatkan softskill tersebut maka perlu diadakannya kegiatan yang dapat membentuk, mengembangkan, dan meningkatkan keahlian softskill mahasiswa. Keahlian softskill tersebut salah satunya bisa didapatkan dengan diadakannya kegiatan LKMM. Dalam buku Pedoman Umum Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2012), seorang mahasiswa diharapkan menjadi agent of change yang dapat membawa perubahan dan dituntut untuk memiliki kompetensi hardskill yang lebih banyak didapatkan pada kegiatan kurikuler juga harus memiliki keterampilan softskill yang diperoleh melalui kegiatan ekstrakurikuler. Salah satu bentuk kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan berorganisasi baik di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun Badan Eksekutif Mahasiswa, Senat Mahasiswa, dan atau Himpunan Mahasiswa yang menuntut pengetahuan dan keterampilan manajerial. Berdasarkan pada uraian tersebut, maka Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) memahami pentingnya pembangunan
3 3 softskill bagi mahasiswa dengan diselenggarakannya Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Tingkat Dasar oleh masing-masing fakultas dan masing-masing fakultas mempunyai kriteria tersendiri dalam menentukan kriteria softskill pada mahasiswanya. Tujuan dari diadakannya LKMM yang dikutip dari buku pedoman LKMM fakultas Psikologi UKWMS: Kurikulum Minimal dan Contoh Bahan Pelatihan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar. (Departemen Pendidikan Nasional, dkk., 2005:1) yaitu untuk membekali mahasiswa agar mampu menyelenggarakan kegiatan dengan lebih sistematis dan terencana. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan LKMM peserta mampu: (1). Merumuskan sasaran yang ingin dicapai dan menjabarkannya ke dalam sebuah program kerja, (2). Mengantisipasi berbagai hambatan yang mungkin ditemui dalam mewujudkan rencana kerjanya, (3). Mengidentifikasikan berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pencapaian rencana kerjanya, (4). Memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di lingkungannya, (5). Memikat rekan mahasiswanya agar mau bergabung dan aktif berpartisipasi dalam kelompok yang dibentuknya, (6). Mengendalikan partisipasi anggota unit kerjanya agar mampu menguasai hal-hal tersebut. Selain kemampuan hardskill dan softskill, mahasiswa juga diharapkan mempunyai keyakinan diri atas kemampuannya dalam menjalankan suatu tugas, dalam konteks ini adalah membuat suatu program LKMM. Pada sebuah kepemimpinan terdapat beberapa tahapan yang mempengaruhi individu dalam membentuk leadership identity. Mengingat peran penting yang diemban mahasiswa, maka perlu adanya proses pembelajaran kepemimpinan dalam dunia kemahasiswaan. Komives, Owen, Longerbeam, dan Osteen (2006: 402) mengatakan perlu kesadaran
4 4 individu atau self awareness pada mahasiswa dalam keyakinan dirinya mengenai kemampuannya dalam menjalani kepemimpinan dan sejauhmana pengetahuan yang dimiliki individu mengenai tahapan leadership identity melalui potensi yang dimiliki dan dikembangkan pada seluruh rentang kehidupan. Individu punya kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Komives, Lucas, dan McMahon (1998 dalam Komives, Owen, Longerbeam, dan Osteen, 2005:594) mengatakan bahwa dalam proses menjadi pemimpin, individu harus dapat mengetahui potensi yang dimilikinya kemudian belajar melalui berbagai pengalaman dalam kepemimpinan, dimana hal ini berguna sebagai pembelajaran awal individu untuk menjadi pemimpin yang efektif. Pembelajaran awal ini dimulai ketika individu mulai memahami mengenai proses kepemimpinan dengan memahami individu lain sampai akhirnya dapat mengaplikasikan pembelajaran yang didapat dalam kepemimpinan. Dari segi eksternal, tokoh yang terkenal dengan kemampuan kemimpinannya adalah Mahatma Gandhi sebagai pemimpin kharismatik bagi kemerdekaan India dan pemimpin politik yang asketis, yang mengedepankan keteladanan dan konsistensi prinsip yang diyakininya. Dalam melawan kolonial, ia berjuang melalui gerakan ahimsa, anti kekerasan. Mahatma Gandhi sangat toleran dan cinta damai yang memudahkannya dalam meraih simpati dalam menentang penjajahan (Alfian, 2009:93). Dari segi internal, tokoh Indonesia yang terkenal dengan kepemimpinannya yaitu Ki Hajar Dewantara yang merupakan tokoh pendiri Taman Siswa dengan gaya kepemimpinan yang diajarkan seperti Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, yaitu di depan harus menjadi teladan, di tengah harus mendukung, dan di
5 5 belakang harus mengikuti merupakan salah satu gaya kepemimpinan dengan landasan budaya Indonesia (Abdurrachman, 1986:10) Memperluas kesadaran diri pada setiap tahap sangat penting. McCormick (2001 dalam Komives, dkk., 2006:415) menyatakan bahwa menghubungkan kesadaran diri dengan strategi yang disengaja untuk membangun self-efficacy bagi kepemimpinan merupakan aspek penting dari pengembangan identitas kepemimpinan. Dalam kepemimpinan dibutuhkan self awareness bagi individu yaitu dengan mengalami sejumlah pengalaman kepemimpinan agar individu sadar mengenai pentingnya peran kepemimpinan. Komives, dkk., (2006:417) menjelaskan bahwa self awareness penting bagi individu sebagai pembentukan leadership identity khususnya bagi pengembangan diri individu. Untuk dapat mengembangkan diri maka diperlukannya kesadaran individu (self awareness) akan leadership identity yang dimiliki yaitu sejauhmana individu dapat menilai dirinya sendiri, baik kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki, karena individu sendirilah yang lebih mengerti mengenai kemampuan yang dimiliki. Pada teori leadership identity development atau pengembangan identitas kepemimpinan, McEwen (2003 dalam Komives, 2006:401) menjelaskan bahwa pengembangan mahasiswa merupakan pengembangan dari identitas terhadap kompleksitas, integrasi, dan mengubah. Komives, dkk., (1998 dalam Komives, dkk., 2006:402) menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah proses relasional orang yang bekerja sama untuk mencapai perubahan atau untuk membuat perbedaan yang akan menguntungkan kebaikan bersama. Teori leadership identity development atau teori pengembangan kepemimpinan yaitu mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan berkembang seluruh rentang kehidupan. Kebutuhan
6 6 pengembangan dan pendidikan kepemimpinan dihubungkan untuk membantu pendidik kepemimpinan memahami intervensi pendidikan. Penelitian leadership identity development menghubungkan pembangunan dengan proses kepemimpinan untuk membantu pendidik dalam memfasilitasi pengembangan kepemimpinan siswa (Komives, dkk., 2006:403). Berdasarkan teori leadership identiy yang dikemukakan oleh Komives, dkk., (2006:404) tentang 6 tahapan leadership identity yaitu (1) Awareness yaitu individu mulai menyadari mengenai figur pemimpin di lingkungannya namun belum terlibat aktif dalam kelompok. (2) Exploration yaitu individu belajar untuk terlibat dalam kegiatan kelompok maupun organisasi. (3) Leader identified yaitu individu mampu membedakan antara peran pemimpin maupun peran anggota. (4) Leader differentiated individu dapat membedakan antara pemimpin dan yang bukan pemimpin seperti anggota kelompok berdasarkan tugas kepemimpinannya. (5) Generativity yaitu individu mulai mengembangkan peran kepemimpinannya kepada anggota-anggota kelompoknya. (6) Integration yaitu individu menerapkan nilai dan peran kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian awal oleh Komives mengenai teori leadership identity development berdasar Grounded Theory dipilih untuk penelitian karena bekerja inklusif dengan orang lain, yang sadar proses kelompok, memberdayakan diri sendiri dan orang lain untuk keterlibatan yang tinggi, komitmen proses etika, dan mampu bekerja menuju tujuan umum, yaitu terlibat dalam kepemimpinan relasional (Komives, dkk., 2006:403). Selain itu, proses perkembangan mengidentifikasi bagaimana siswa menempatkan diri dalam membangun kepemimpinan dari waktu ke waktu (Komives, dkk., 2005). Lima kategori yang dipengaruhi pengembangan identitas
7 7 kepemimpinan adalah: memperluas pandangan kepemimpinan, pengembangan diri, pengaruh kelompok, pengaruh perkembangan, dan mengubah pandangan diri dengan orang lain. Mengembangkan diri termasuk memperdalam kesadaran diri, membangun kepercayaan diri, membangun antarpribadi, menerapkan keterampilan baru, dan memperluas motivasi. Pengaruh kelompok termasuk terlibat dalam kelompok, belajar dari keanggotaan secara berkelanjutan, dan mengubah persepsi kelompok. Pengembangan kepemimpinan melibatkan individu untuk belajar dalam lingkungan untuk membentuk kapasitas untuk terlibat dalam kepemimpinan. Brungardt; Zimmerman-Oster dan Burkhart (1999 dalam Komives, dkk., 2006:403) menyatakan bahwa penelitian tentang pendidikan kepemimpinan menguji peran kepemimpinan khusus intervensi pendidikan. Kursus, seminar, retret, lokakarya, dan pendidikan intervensi menunjukkan kepemimpinan yang dapat dipelajari dan diajarkan, meskipun dampaknya program pendidikan kepemimpinan ini adalah sering tidak dinilai. Adanya pengembangan kepemimpinan pada mahasiswa diharapkan individu dapat menyadari leadership identity yang dimiliki dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, berorganisasi, maupun dalam bermasyarakat. Komives, dkk., (2005 dalam Komives, dkk., 2006:404) mengatakan bahwa tugas pemimpin dalam sebuah organisasi adalah dapat melakukan berbagai hal secara berbeda dan dapat secara berkelanjutan. Tugas pemimpin yaitu dapat terbuka terhadap informasi baru, dapat mendengarkan secara mendalam sehingga dapat melakukan perbaikan, perubahan, dan pengembangan yang dapat dilakukan secara benar, teratur, sistematis, ilmiah, objektif dan akurat. Oleh karena itu tugas terpenting dari pemimpin
8 8 adalah mampu bekerjasama dalam tim, menghormati ide, pendapat, pemikiran, dan menghargai perbedaan persepsi. Dalam menjalankan program tentunya masing-masing anggota dalam kelompok mempunyai peran dan tugasnya masing-masing (panitia program) yang mana di dalam kelompok tersebut terdapat ketua dan pengikut sehingga juga melatih jiwa kepemimpinan mahasiswa sehingga dapat terbentuklah identitas kepemimpinan. Identitas kepemimpinan yang merupakan kemampuan memimpin baik kemampuan memimpin diri sendiri maupun memimpin orang lain sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini ada kaitannya dengan self-efficacy dengan leadership identity mahasiswa yaitu mahasiswa yang menjadi pemimpin dalam kelompok akan melaksanakan tanggung jawab dan menerapkan nilai kepemimpinannya dalam kelompok serta selalu mengkoordinir anggotanya agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Sedangkan anggota yang merupakan pengikut akan mengamati bahwa ketua kelompok merupakan sosok yang berpengaruh untuk menjaga kekompakan suatu kelompok. Dari penjelasan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan self-efficacy terhadap leadership identity pada mahasiswa Batasan Masalah Batasan masalah dalam penelitian menjelaskan batas-batas permasalahan yang akan diteliti sehingga permasalahan yang diteliti menjadi tidak terlalu luas. Prihanto dan Tjahjanindijah (1991 dalam Fakultas Psikologi UKWMS, 2005:8) batasan masalah biasanya mencakup ruang lingkup penelitian, cara dilakukannya penelitian, dan populasi
9 9 penelitian. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini dikemukakan sebagai berikut: a. Faktor yang dapat mempengaruhi leadership identity pada mahasiswa dalam penelitian ini hanya difokuskan pada self-efficacy terhadap leadership identity mahasiswa UKWMS. b. Untuk mengetahui hubungan self-efficacy terhadap leadership identity pada mahasiswa, maka dilakukan penelitian yang bersifat korelasi yaitu penelitian yang bertujuan menguji ada tidaknya hubungan self-efficacy terhadap leadership identity pada mahasiswa dilihat dari diadakannya program LKMM. c. Subjek dalam penelitian ini yaitu mahasiswa aktif UKWMS yang sudah mengikuti LKMM yang terdiri dari mahasiswa D3 dan S1 UKWMS Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah, maka masalah yang diteliti adalah apakah ada hubungan antara self-efficacy terhadap leadership identity pada mahasiswa UKWMS? 1.4. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada hubungan selfefficacy terhadap leadership identity pada mahasiswa UKWMS yang sudah mengikuti LKMM, mengidentifikasi kepemimpinan pada mahasiswa mengenai hubungan self-efficacy terhadap leadership identity pada mahasiswa, dan menjawab kebutuhan penelitian dan memperoleh gambaran mengenai hubungan self-efficacy terhadap leadership identity pada
10 10 mahasiswa UKWMS yaitu sejauhmana tahapan identitas yang dicapai mahasiswa mengenai leadership identity yang dimiliki ketika berada pada suatu komunitas maupun dalam kehidupan sehari-hari Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pengembangan teori yaitu self-efficacy yang dikaitkan dengan leadership identity serta untuk menambah teori baru kepemimpinan khususnya dalam teori leadership identity Manfaat Praktis a. Bagi Subjek Penelitian Ini 1. Berguna untuk mengetahui kepemimpinan mahasiswa khususnya pengembangan self-efficacy dalam leadership identity pada mahasiswa yang berguna untuk mengembangkan kepemimpinan yang dimiliki dan dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki mahasiswa. 2. Bagi mahasiswa penelitian ini berguna untuk mengetahui sejauhmana tahapan leadership identity atau identitas kepemimpinan yang telah dicapai oleh mahasiswa baik setelah mengikuti kegiatan LKMM, organisasi, maupun dalam kegiatan sehari-hari.
11 11 b. Bagi UKWMS Bagi Universitas penelitian ini diharapkan dapat menginspirasi dengan terus berinovasi ketika mengadakan kegiatan kemahasiswaan, khususnya LKMM, yang berguna untuk mengembangkan potensi dan selfefficacy mahasiswa dalam pembentukan leadership identity pada mahasiswa. c. Bagi Masyarakat Bagi masyarakat penelitian ini berguna untuk mengidentifikasi tahapan-tahapan kepemimpinan pada masyarakat dan untuk menambah pengetahuan pada masyarakat bahwa setiap individu mempunyai kemampuan untuk menjadi pemimpin.
BAB I PENDAHULUAN. anak didik kita diberi bekal ilmu yang memadai melalui jalur pendidikan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini perkembangan global begitu cepat dan sangat dinamis. Pendidikan menjadi alat untuk mengatasi keadaan tersebut dan hal itu dapat dilakukan apabila anak didik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Meina Nurpratiwi, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada umumnya pengamatan orang tentang sekolah sebagai lembaga pendidikan berkisar pada permasalahan yang nampak secara fisik terlihat mata, seperti gedung,
BAB V PENUTUP. memberikan bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh
BAB V A. Kesimpulan PENUTUP Dalam upaya mewujudkan Pendidikan yang secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan
Apa yang dimaksud dengan Interpersonal Skill?
INTERPERSONAL SKILL Interpersonal Skill adalah kecakapan dalam berinteraksi dengan orang dan atau pihak lain. Oleh karena itu dalam keterampilan interpersonal ini dibutuhkan kemampuan berkomunikasi baik
BAB I. pasien selama 24 jam. Gillies (1994), menyatakan bahwa 60-70% sumber daya
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang sangat kompleks karena sumber daya manusia yang bekerja terdiri dari multi disiplin dan berbagai jenis keahlian.
MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN SEKOLAH
Bimbingan Teknis Program Penguatan Pendidikan Karakter bagi Kepala Sekolah & Pengawas Sekolah MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN SEKOLAH Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia KOSEP PPK Program
BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa merupakan subjek yang selalu menarik untuk dibahas.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa merupakan subjek yang selalu menarik untuk dibahas. Ada kalanya mahasiswa dielu-elukan karena berhasil membuat sebuah perubahan besar bahkan revolusi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk belajar bagi setiap individu dengan mengembangkan dan mengasah keterampilan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana untuk belajar bagi setiap individu dengan mengembangkan dan mengasah keterampilan yang dimilikinya melalui Perguruan Tinggi. Perguruan
KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR. Oleh: Anik Ghufron FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2008
KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR Oleh: Anik Ghufron FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2008 RASIONAL 1. Jabatan guru sebagai jabatan yang berkaitan dengan pengembangan SDM 2. Era informasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan taraf hidup ke arah yang lebih sempurna. Pendidikan juga merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar
I. PENDAHULUAN. meningkatkan mutu pendidikan antara lain dengan perbaikan mutu belajarmengajar
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu usaha yang mencetak seseorang menjadi generasi yang berkualitas dan memiliki daya saing. Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan antara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan selanjutnya yang ditempuh oleh individu setelah lulus SMA. Individu yang melanjutkan pada jenjang perguruan tinggi akan
Standar Proses Pembelajaran. Standar Isi. Lulusan. Peserta didik. Lingkungan. Standar Pembiayaan. Standar Sar. & Pras.
SUPERVISI AKADEMIK DALAM KAITANNYA DENGAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (Makalah disampaikan pada Workshop Penjaminan Mutu) Para Kepala Sekolah Se Kabupaten Karangasem 28 Oktober 2006 ---------------------------------------------------------------------
PENTINGNYA ASPEK SOFT SKILLS
PENTINGNYA ASPEK SOFT SKILLS Oleh : Widarto Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Pebruari 2012 1 Latar Belakang Hasil penelitian Widarto, dkk. (2007-2008), kompetensi lulusan SMK aspek hard skills
Siaran Pers Kemendikbud: Penguatan Pendidikan Karakter, Pintu Masuk Pembenahan Pendidikan Nasional Senin, 17 Juli 2017
Siaran Pers Kemendikbud: Penguatan Pendidikan Karakter, Pintu Masuk Pembenahan Pendidikan Nasional Senin, 17 Juli 2017 Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi)
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN LAMANYA BERORGANISASI DENGAN PERSEPSI TERHADAP PRESTASI AKADEMIK DI KAMPUS
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN LAMANYA BERORGANISASI DENGAN PERSEPSI TERHADAP PRESTASI AKADEMIK DI KAMPUS Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi
BAGIAN SATU. Mengapa Harus Berubah? Penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL)
BAGIAN SATU Mengapa Harus Berubah? Penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL) 1 2 Elsa Krisanti, Ph.D. & Kamarza Mulia, Ph.D. Aniek dan Tara adalah dua mahasiswa jurusan Teknik Kimia semester tiga yang
Siaran Pers Kemendikbud: Hardiknas 2017, Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas Selasa, 02 Mei 2017
Siaran Pers Kemendikbud: Hardiknas 2017, Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas Selasa, 02 Mei 2017 Mendikbud: Pembentukan Karakter Harus Menjadi Prioritas     Jakarta, Kemendikbud â Peringatan
BAB I PENDAHULUAN. guru, siswa, orang tua, pengelola sekolah bahkan menjadi tujuan pemerintah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekolah memiliki keunggulan dan berkualitas adalah dambaan bagi guru, siswa, orang tua, pengelola sekolah bahkan menjadi tujuan pemerintah. Sebagai kepala sekolah sudah
Psikologi Kepemimpinan *)
Psikologi Kepemimpinan *) Oleh Edi Purwanta **) Membahas mengenai psikologi kepemimpinan tidak dapat lepas dari pengertian kepemimpinan itu sendiri, pemimpin, dan kelompok. Kajian kepemimpinan sendiri
V. PENUTUP SIMPULAN, FORMULASI, DAN REKOMENDASI
79 V. PENUTUP SIMPULAN, FORMULASI, DAN REKOMENDASI A. Simpulan 1. Etika kepemimpinan Jawa, merupakan ajaran-ajaran yang berupa nilainilai dan norma-norma yang bersumber dari kebudayaan Jawa tentang kepemimpinan,
PERANAN DIREKTUR UTAMA DALAM MEMOTIVASI PEGAWAI DI CV. KENCONO WUNGU SURABAYA SKRIPSI
PERANAN DIREKTUR UTAMA DALAM MEMOTIVASI PEGAWAI DI CV. KENCONO WUNGU SURABAYA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Negara Pada FISIP UPN Veteran Jawa
KODE ETIK PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH
KODE ETIK PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH PEMBUKAAN Atas rahmat Allah SWT Pengawas Sekolah/Madrasah menyadari bahwa jabatan Pengawas Sekolah/Madrasah/Madrasah adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Pengawas
I. PENDAHULUAN. mengkaji berbagai aspek kehidupan masyarakat secara terpadu, karena memang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah IPS atau Social Studies adalah salah satu mata pelajaran di sekolah yang mempunyai tugas mulia dan menjadi fondasi penting bagi pengembangan kecerdasan personal,
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kompetensi Guru Guru memiliki peran penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Pendapat Slameto (2012) bahwa kualitas pendidikan, terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar
BAB I PENDAHULUAN. komponen, yaitu : pengajar (Dosen, Guru, Instruktur, dan Tutor) siswa yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya dalam proses belajar mengajar (PBM) itu terdiri dari tiga komponen, yaitu : pengajar (Dosen, Guru, Instruktur, dan Tutor) siswa yang belajar dan bahan
KEPEMIMPINAN EFEKTIF. Riza Aryanto [email protected] [email protected] @riza_ary. PPM School of Management
KEPEMIMPINAN EFEKTIF Riza Aryanto [email protected] [email protected] @riza_ary PPM School of Management Tantangan di Organisasi Mengelola keragaman anggota organisasi Meningkatkan kualitas dan produktivitas
BAB I PENDAHULUAN. ketat, dan pada umumnya para pengguna jasa (stakeholders) menginginkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha atau dunia industri tingkat lokal, nasional, dan global begitu tinggi. Persaingan dalam dunia kerja juga semakin
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi adalah pendidikan tinggi yang merupakan lanjutan dari pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk mempersiapkan peserta
Sejarah pendidikan Indonesia 1. Dyah Kumalasari
Sejarah pendidikan Indonesia 1 Dyah Kumalasari PENDAHULUAN Francis Bacon Knowledge is power Pendidikan untuk Manusia.Sumber pokok kekuatan bagi manusia adalah Pengetahuaan. Mengapa...? Karena manusia dgn
PENGEMBANGAN MODEL EVALUASI METODE PEMBELAJARAN DALAM PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN GURU
PENGEMBANGAN MODEL EVALUASI METODE PEMBELAJARAN DALAM PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN GURU Donald Samuel Slamet Santosa, Progdi Pendidikan Ekonomi UKSW, [email protected] Gracia Miranda, Progdi Pendidikan Ekonomi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mewujudkan semua potensi diri manusia dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk
BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam dunia pendidikan, pada setiap jenjang pendidikan, baik itu Sekolah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia pendidikan, pada setiap jenjang pendidikan, baik itu Sekolah Dasar(SD), Sekolah Menengah Pertama(SMP), Sekolah Menengah Atas(SMA), maupun Perguruan Tinggi(PT),
STUDI KOMPARATIF BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA TINGKAT UNIVERSITAS DAN FAKULTAS DALAM KONTEKS PENDIDIKAN POLITIK
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan butuh berinteraksi dengan yang lainnya, interaksi dapat dilakukan dengan aktif atau
WHAT ARE YOU GOING TO BE
SAP 2 Mata Kuliah Critical and Creative Thinking Mata Kuliah Critical and Creative Thinking GAMBARAN PRIBADI UNGGUL METODOLOGI BELAJAR DI PT WHAT ARE YOU GOING TO BE MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR YANG
BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhuk sosial, yang antar individunya membutuhkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhuk sosial, yang antar individunya membutuhkan dan saling bergantung satu sama lainnya. Maka berawal dari latar belakang inilah, terciptanya
PERSEPSI MAHASISWA PGSD TERHADAP KONSEP PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA
PERSEPSI MAHASISWA PGSD TERHADAP KONSEP PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA oleh Naniek Sulistya Wardani Program Studi S1 PGSD FKIP Universitas Kristen Satya Wacana [email protected] HP 0856 2698 547
PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, KOMPETENSI GURU DAN MOTIVASI KERJA GURU TERHADAP KINERJA GURU SMP NEGERI DI SUB RAYON 03 KABUPATEN SEMARANG TAHUN
PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, KOMPETENSI GURU DAN MOTIVASI KERJA GURU TERHADAP KINERJA GURU SMP NEGERI DI SUB RAYON 03 KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2006 Oleh SUGIYARTO NIM : Q.100050189 Program Studi
Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah Hotel Grand Mercure, DKI Jakarta, 2017
Pelatihan Calon Fasilitator Penguatan Pendidikan Karakter Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah Hotel Grand Mercure, DKI Jakarta, 2017 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tujuan Tujuan
BAB V P E N U T U P. berbasis prestasi di SMP Al Islam 1 Surakarta. perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi.
BAB V P E N U T U P A. Simpulan 1. Kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola Sumberdaya Manusia berbasis prestasi di SMP Al Islam 1 Surakarta Kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sumber daya manusia
BAB I PENDAHULUAN. memiliki tugas perkembangan yang sangat penting yaitu mencapai status
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mahasiswa termasuk di dalam kategori remaja akhir dan dewasa awal. Pada masa itu umumnya merupakan masa transisi. Mereka masih mencari jati diri mereka masing-masing,
NASKAH JURNAL PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
1 NASKAH JURNAL PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN PROFIL TEAMWORK SKILL SEBAGAI GAMBARAN KEMAMPUAN KOMPETITIF MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BOGA DAN TEKNIK BOGA ANGKATAN TAHUN 2009-2011 Ichda
BAB I PENDAHULUAN. hanya manusia yang berkualitas saja yang mampu hidup di masa depan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bagi suatu bangsa, peningkatan kualitas pendidikan sudah seharusnya menjadi prioritas pertama. Kualitas pendidikan sangat penting artinya, sebab hanya manusia
Lampiran 1 Alat Ukur DATA PRIBADI. Jenis Kelamin : Pria / Wanita IPK :... Semester ke :...
LAMPIRAN Lampiran 1 Alat Ukur DATA PRIBADI Jenis Kelamin : Pria / Wanita IPK :... Semester ke :... DATA PENUNJANG PENGALAMAN INDIVIDU Jawablah pertanyaan berikut ini dengan cara melingkari pilihan jawaban
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian ini menggambarkan tentang Studi Komparatif Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas dan Fakultas dalam Konteks Pendidikan Politik. Adapun kesimpulan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pengelolaan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Serpong sudah menggunakan pendekatan-pendekatan model madrasah efektif mulai dari input, proses, dan outputnya.
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara merupakan sistem konsep pendidikan yang bersifat kultural nasional. Sekalipun Ki Hadjar
Tugas Kepala Sekolah Oleh : M. H. B. Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia
Tugas Kepala Sekolah Oleh : M. H. B. Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Kepala Sekolah adalah pemimpin tertinggi di sekolah. Jika dalam bahasa Jawa disebut Sirahe Sekolah. Kepemimpinan dari kepala sekolah
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini, semua
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu sasaran pokok pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini, semua orang berkepentingan
BAB 1 PENDAHULUAN. education). Pendidikan sangat penting bagi peningkatan kualitas sumber daya
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat (long life education). Pendidikan sangat penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, dengan demikian
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pendidikan yang dilakukan pemerintah saat ini sangatlah
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan pendidikan yang dilakukan pemerintah saat ini sangatlah pesat mengingat perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi dunia yang
BAB 1 PENDAHULUAN. Ekonomi Asean (MEA) untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di. bidang ekonomi antar negara ASEAN (www.bppk.kemenkeu.go.id).
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada
LAMPIRAN I KATA PENGANTAR
LAMPIRAN I KATA PENGANTAR Dengan hormat, Saya adalah mahasiswi Fakultas Psikologi. Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai hubungan antara kemandirian dan prestasi akademik pada mahasiswa Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem,
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI PADA UPACARA HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2017 2 MEI 2017 ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH. SALAM SEJAHTERA DAN BAHAGIA
Annisa Restu Purwanti, 2015 MANAJEMEN PEMBINAAN PESERTA DIDIK FULL DAY SCHOOL
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil suatu kesimpulan berikut : manajemen pembinaan peserta didik di SDIT
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan paradigma dalam bidang pendidikan dan berbagai perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang membawa implikasi terhadap berbagai
BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA KONSOLIDASI PERSATUAN PERANGKAT DESA INDONESIA
1 BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA KONSOLIDASI PERSATUAN PERANGKAT DESA INDONESIA TANGGAL 2 OKTOBER 2014 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG 2 Assalamu alaikum Wr. Wb. Selamat
SKRIPSI. Oleh Siti Romawiyah
1 PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS I SD ADINUSO 02 KECAMATAN SUBAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
MENTERI RISET DAN PERGURUAN TINGGI SAMBUTAN MENTERI RISET DAN PERGURUAN TINGGI PADA ACARA PERINGATAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2016
1 MENTERI RISET DAN PERGURUAN TINGGI SAMBUTAN MENTERI RISET DAN PERGURUAN TINGGI PADA ACARA PERINGATAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2016 TANGGAL 2 MEI 2016 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG
A. KUALIFIKASI PEMBIMBING
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 41 TAHUN 2009 TANGGAL 30 JULI 2009 A. KUALIFIKASI PEMBIMBING STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN Standar kualifikasi pembimbing pada kursus
BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dapat menunjang kualitas sumber daya manusia yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat, bangsa dan negara. Untuk
BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan formal maupun nonformal. mempermudah mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan data dari Badan
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Persaingan hidup yang semakin tinggi menyebabkan setiap individu perlu bersaing dengan individu lainnya. Agar individu dapat bersaing di dunia kerja, individu
PERAN SERTA PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT. Abstract
RUANG KAJIAN PERAN SERTA PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT Oleh : Wahyu Ishardino Satries Abstract The existence of active teenager in society activities is one of the solution as the effort of empowering
KUESIONER. Mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner ini untuk keperluan penelitian. Terima kasih.
KUESIONER Mohon kesediaan Anda untuk mengisi kuesioner ini untuk keperluan penelitian. Terima kasih. Berilah tanggapan Anda mengenai istilah-istilah dibawah ini dalam hubungannya dengan Kebijakan-kebijakan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016 o untuk mengetahui kondisi sekolah terkait dengan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan sehingga diharapkan
BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah label yang diberikan kepada seseorang yang sedang menjalani
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah label yang diberikan kepada seseorang yang sedang menjalani jenjang pendidikan di universitas atau sekolah tingggi (KBBI, 1991). Tujuan seseorang
MAKALAH. Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum. Dosen: Manvan Drajat, M.Ag.
MAKALAH GURU PROFESIONAL SEBAGAI UJUNG TOMBAK IMPLEMENTASI KURIKULUM DI SEKOLAH Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum Dosen: Manvan Drajat, M.Ag. Disusun Oleh: Eka
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan hasil perhitungan statistik dan analisis data seperti yang diuraikan pada bab sebelumnya, terkait dengan persepsi guru tentang efektivitas kepemimpinan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. usia 18 hingga 25 tahun (Santrock, 2010). Pada tahap perkembangan ini, individu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seorang individu dapat dikatakan menginjak masa dewasa awal ketika mencapai usia 18 hingga 25 tahun (Santrock, 2010). Pada tahap perkembangan ini, individu mengalami
Oleh: Tim Pengembang SPMI, Ditjen Dikti, Kemdikbud
Kebijakan Nasional Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dan Permendikbud No. 50 Tahun 2014 Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi
A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada krisis karakter yang cukup memperihatinkan. Demoralisasi mulai merambah ke dunia pendidikan yang tidak pernah memberikan
PERATURAN PENGADERAN KELUARGA BESAR MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA TENTANG
PERATURAN PENGADERAN KELUARGA BESAR MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA TENTANG MASA ORIENTASI DAN PENGADERAN MAHASISWA BARU DI LINGKUNGAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA DENGAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Surabaya adalah kota pendidikan dengan memenuhi fasilitas yang memadai dari tingkat pendidikan dasar, menengah, tinggi, hingga tingkat stratum. Pengadaan sarana dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang OMK (Orang Muda Katolik) merupakan sebuah wadah yang dapat menghimpun para pemuda Katolik untuk terus melayani Tuhan dan sesama, sebagai sebuah komunitas keagamaan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dunia pendidikan menjadi salah satu faktor penting yang dapat membantu perkembangan negara Indonesia. Melalui bidang pendidikan, Indonesia dapat mencetak sumber daya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap manusia menginginkan apa yang disebut dengan kebahagiaan dan berusaha menghindari penderitaan dalam hidupnya. Aristoteles (dalam Seligman, 2011: 27) berpendapat
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PROSES PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN SMA NEGERI 10 SAMARINDA TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PROSES PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN SMA NEGERI 10 SAMARINDA TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017 Berdasarkan : Permendikbud no. 22/2016 Tentang Standar Proses endidikan Dasar &
BAB I PENDAHULUAN. Bab I merupakan bagian pendahuluan dari penelitian. Pada bagian pendahuluan ini, akan
BAB I PENDAHULUAN Bab I merupakan bagian pendahuluan dari penelitian. Pada bagian pendahuluan ini, akan diuraikan tentang latar belakang mengapa peneliti tertarik untuk menggunakan model Countenance dari
2014 PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE KUIS TIM UNTUK ENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN SELF-CONFIDENCE SISWA SMP
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Manusia sebagai pemegang dan penggerak utama dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Melalui
BAB II SISTEM AMONG DALAM GERAKAN PRAMUKA
BAB II SISTEM AMONG DALAM GERAKAN PRAMUKA A. Pencetus Sistem Among Sistem among adalah hasil pemikiran dari Ki Hajar Dewantara, Ki hajar dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat pada
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh selama penelitian dan dilanjutkan dengan proses analisis, maka peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. bahwa karakteristik
BAB I PENDAHULUAN. Pembina Osis merupakan pemegang sekaligus pengendali yang sangat menentukan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pembina Osis merupakan pemegang sekaligus pengendali yang sangat menentukan jalannya organisasi Sekolah. Kewenangan dan otoritasnya dalam mengelola organisasi
