Seminar Nasional IENACO ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
AREN. Gambar 1. Pohon Industri Produk Turunan Aren Sumber : BPTP Banten (2005)

I PENDAHULUAN. tebu, bit, maple, siwalan, bunga dahlia dan memiliki rasa manis. Pohon aren adalah

BAB I PENDAHULUAN. tumbuh subur di Indonesia. Semua bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

BAB I PENDAHULUAN. penggunaannya sebagai santan pada masakan sehari-hari, ataupun sebagai

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK TAHUN ANGGARAN 2016 DPPA - SKPD 2.

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB V GAMBARAN UMUM. Secara visualisasi wilayah administrasi dapat dilihat dalam peta wilayah Kabupaten Lebak sebagaimana gambar di bawah ini

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perekonomian pedesaan merupakan perekonomian yang dihasilkan

I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin banyak. Upaya pemenuhan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyaringan nira kental pada proses pengkristalan berfungsi untuk

PENINGKATAN PENDAPATAN PERAJIN GULA MELALUI AGROINDUSTRI GULA SEMUT DI KABUPATEN TASIKMALAYA

BAB I IDENTIFIKASI KEBUTUHAN. lagi dengan jenis gula yang satu ini yaitu Gula Jawa atau kebanyakan orang

1.Pemberdayaan usaha mikro,kecil dan menengah (UMKM),termasuk UMKM bidang pangan merupakan upaya strategis sekaligus merupakan barometer perekonomian

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1.1.) Latar Belakang, (1.2.) Identifikasi

Proceeding Lokakarya Nasional Pemberdayaan Potensi Keluarga Tani Untuk Pengentasan Kemiskinan, 6-7 Juli 2011

I. PENDAHULUAN. pasar bagi sektor industri. Industrialisasi pertanian juga dikenal dengan nama

PELUANG BISNIS EXPORT GULA AREN. Di susun oleh Nama : Totok Kristianto Nim : Kelas : S1-TI 2H

Teknologi Pengolahan Bioetanol dari Nira Aren

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tebu (Saccarum officinarum L) termasuk famili rumput-rumputan. Tanaman

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan negara dalam hal menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. penting dilakukan untuk menekan penggunaan energi.

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

ANALISIS BIAYA, PENERIMAAN, PENDAPATAN DAN R/C PADA AGROINDUSTRI GULA AREN (Suatu Kasus di Desa Sidamulih Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis)

PENDAHULUAN. Nira adalah cairan yang rasanya manis dan diperoleh dari bagian tandan

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya sebagai sumber pendapatan petani dan penghasil bahan baku

Deskripsi ALAT EVAPORASI-DESTILASI AIR TUA GARAM

III. METODOLOGI PENELITIAN

Teknologi Pengolahan Bioetanol dari Nira Aren

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 ANALISIS SITUASI

Untuk Daerah Tertinggal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL SYARIAH (PPUK) GULA AREN (Gula Semut dan Gula Cetak)

Teknologi Pengolahan. Bioetanol

USAHA MIKRO GULA MERAH TEBU DI DESA MANGUNREJO KECAMATAN NGADILUWIH DAN DESA CENDONO KECAMATAN KANDAT KABUPATEN KEDIRI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gula merah kelapa diperoleh dari nira kelapa yang telah diuapkan dan dicetak

- Menghantar/memindahkan zat dan ampas - Memisahkan/mengambil zatdengan dicampur untuk mendapatkan pemisahan (reaksi kimia)

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN GULA SEMUT (Kasus PD Saung Aren, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten)

KESIAPAN PELAYANAN KESEHATAN ARUS MUDIK IDUL FITRI 1436 H / 2015

INOVASI PEMANFAATAN BRINE UNTUK PENGERINGAN HASIL PERTANIAN. PT Pertamina Geothermal Energi Area Lahendong

I. PELAKSANAAN KEGIATAN A.

III. BAHAN DAN METODE. Aplikasi pengawet nira dan pembuatan gula semut dilakukan di Desa Lehan Kecamatan

I. PENDAHULUAN. Aren (Arenga pinnata) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang

Penataan Ruang Kabupaten Lebak

DIVERSIFIKASI PRODUK AREN UNTUK PANGAN DAN PROSPEK PASAR

BAB I PENDAHULUAN. industri kecil perlu ditingkatkan, maka perlu peningkatan sarana-sarana atau

Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 6 No. 2 Desember 2014 Hal :

Permasalahan dan Tantangan dalam Pengembangan Penjaminan Mutu Gula kelapa dan Aren. Kukuh Haryadi, SP L P P S L H

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL GULA KELAPA DAN AREN

BAB I PENDAHULUAN. energi untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti kegiatan

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2)

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei Juni 2014 di Desa Lehan Kecamatan

ANALISIS PENGARUH PEMBAKARAN BRIKET CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SEKAM PADI DENGAN MEMBANDINGKAN PEMBAKARAN BRIKET MASING-MASING BIOMASS

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI

RANCANG BANGUN MESIN PENYULING MINYAK ATSIRI DENGAN SISTEM UAP BERTINGKAT DIKENDALIKAN DENGAN MIKROKONTROLLER DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PRODUK

BAB I PENDAHULUAN. bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

BAB I. PENDAHULUAN. Saat ini, bahan bakar fosil seperti minyak, batubara dan gas alam merupakan

PENGARUH PERSENTASE PEREKAT TERHADAP KARAKTERISTIK PELLET KAYU DARI KAYU SISA GERGAJIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. subsistem yang saling mempengaruhi, mulai dari subsistem hulu, a. Industri pengolahan hasil pertanian;

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih

BAB I PENDAHULUAN. Sorgum manis (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman asli

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk,

ANALISIS USAHA DAN TEKNOLOGI PEMBUATAN GULA SEMUT AREN (STUDI KASUS : PADA USAHA PEMBUATAN KUE SKALA RUMAH TANGGA BOMIS JAYA) 1.

I. PENDAHULUAN. memiliki potensi perikanan terbesar ketiga dengan jumlah produksi ,84

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lebak merupakan salah satu kabupaten yang terletak di

PENGARUH PERBANDINGAN GULA MERAH CAIR DAN NIRA TERHADAP KARAKTERISTIK GULA SEMUT (Palm Sugar)

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. terjamah oleh fasilitas pelayanan energi listrik, dikarenakan terbatasnya pelayanan

PENDAHULUAN. Berbagai jenis tumbuhan di Indonesia mempunyai banyak manfaat bagi. kelangsungan hidup manusia. Salah satunya adalah tanaman aren (Arenga

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KADAR GLUKOSA DAN BIOETANOL PADA FERMENTASI TEPUNG KETELA POHON (Manihot utilissima Pohl) DENGAN DOSIS RAGI DAN WAKTU FERMENTASI YANG BERBEDA

III. METODE PELAKSANAAN. bulan April 2013 sampai dengan pertengahan Juni 2013.

LAPORAN AKHIR IPTEKS BAGI MASYARAKAT (I b M)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK

BAB 1 PENDAHULUAN. semakin banyak di Indonesia. Kini sangat mudah ditemukan sebuah industri

BIOETHANOL. Kelompok 12. Isma Jayanti Lilis Julianti Chika Meirina Kusuma W Fajar Maydian Seto

ALKOHOL TEKNIS : NILAI TAMBAH YANG MENJANJIKAN DARI AREN

BAB I PENDAHULUAN. penjemuran. Tujuan dari penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air.

BIOETANOL DARI PATI (UBI KAYU/SINGKONG) 3/8/2012

ANALISA PENGARUH KELEMBABAN SAMPAH KAYU DAN SISA MAKANAN PADA INCENERATOR PORTABLE SKALA RUMAH TANGGA

Lampiran 1. Perbandingan nilai kalor beberapa jenis bahan bakar

Deskripsi METODE PEMBUATAN BAHAN BAKAR PADAT BERBASIS ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes)

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN SUMBER KARBOHIDRAT

1. mutu berkecambah biji sangat baik 2. dihasilkan flavour yang lebih baik 3. lebih awet selama penyimpanan

I. PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu dari Sembilan bahan pokok di Indonesia. Kebutuhan

POTENSI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI GULA SEMUT DI KABUPATEN KULON PROGO

ALTERNATIF KOMPOR BIOMASS DENGAN FORMULASI GETAH PINUS YANG BERNILAI EKONOMIS. Agustin Sukarsono*)

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BIDANG KEGIATAN : PKM PENGABDIAN MASYARAKAT (PKM-M)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Proses Produksi Bioetanol Dari Pati Jagung. Jagung dikeringkan dan dibersihkan, dan di timbang sebanyak 50 kg.

Transkripsi:

PENGGUNAAN TEKNOLOGI VACUUM EVAPORATOR DAN SPINNER UNTUK PENGEMBANGAN PROSES PRODUKSI GULA AREN SEMUT DI KABUPATEN LEBAK Putro Ferro Ferdinant 1, Nurul Ummi 2, Ade Irman Saeful M S 3, Hadi Setiawan 4 1,2,3,4 Jurusan Teknik Industri,Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jl.Jendral Sudirman Km.3, Cilegon, Banten ferdinant@untirta.ac.id 1, Nurul.ummi@untirta.ac.id 2, irman@untirta.ac.id 3, hadi@untirta.ac.id 4 Abstrak Aren atau enau (Arrenga pinnata Merr) adalah salah satu keluarga palma yang memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi dan dapat tumbuh subur di wilayah tropis seperti Indonesia. Gula aren diperoleh dari proses penyadapan nira aren yang kemudian dikurangi kadar airnya hingga menjadi padat. Produk gula aren ini adalah berupa gula cetak dan gula semut. Salah satu sentra produksi gula aren di Kabupaten Lebak adalah di desa Barunai dan Mekarsari. Industri gula aren di Kabupaten Lebak menyerap 5.406 tenaga kerja melalui 2.982 unit usaha dengan kapasitas produksi per tahun mencapai 2.249,4 ton yang tersebar di 44 sentra produksi. Pemerintah Kabupaten Lebak menjadikan Industri Gula aren sebagai kompetensi inti industri namun dalam pengembangan produksinya masih terdapat beberapa kendala diantaranya kendala produksi dan teknologi dan masih sederhana, sehingga kualitas produk gula semut yang dihasilkan kurang baik, serta kemasan produk juga masih sederhana. Kondisi inilah yang menyebabkan daya saing dipasaran menjadi rendah. Tujuan penelitian ini adalah inovasi produk berupa Teknologi Vacuum Evaporator dan Mesin Spinner untuk perbaikan proses produksi gula aren semut pada Kelompok Usaha Bersama (KUB) diperoleh peningkatan kapasitas produksi pada proses pemasakan nira yang sebelumnya kapasitas produksi 20 liter/8 jam menjadi 100 liter/4 jam. Kata Kunci : Gula Aren Semut, Vacuum Evaporator, Mesin Spinner 1. PENDAHULUAN Industri Gula aren merupakan produk unggulan fokus Kabupaten Lebak. Potensi Bahan baku gula aren di Kabupaten Lebak tersedia dalam jumlah yang cukup dan terdiri dari IKM dan industri rumah tangga yang diharapkan akan dapat menjadi pendorong bagi pengembangan industri di Kabupaten Lebak. Potensi bahan baku gula aren di Kabupaten Lebak disajikan pada tabel berikut. Tabel 1. Potensi Bahan Baku Gula Aren di Kabupaten Lebak Jenis Bahan Baku Luas lahan (Ha) Luas Tanaman Menghasilkan (Ha) Lokasi Produksi/ tahun Nira aren 306,3 295 Sobang, Malingping, Cihara, Leuwidamar,Gunung Kencana, dan Cipanas, Lebak gedong, Sajira Cigemblong, Cijaku, Cibeber, Cilograng, Muncang, Cirinten, Wanasalam, Panggarangan 1.282,5 ton Sumber : Dinas Hutbun Kabupaten Lebak, 2010 Hal lain yang menjadi pendukung sebagai potensi inti daerah Kabupaten Lebak adalah sudah tersedianya pasar-pasar yang menampung hasil gula aren seperti dipusat pasar Kota Rangkasbitung yang merupakan sentra penjualan produk gula aren sehingga untuk wilayah pemasaran lokal bisa difokuskan di pasar penjualan tersebut. Dengan dijadikannya gula aren sebagai produk unggulan Kabupaten Lebak diproyeksikanakan terus berkembang dan sentra pasar penjualan semakin maju sehingga akan menjadikan tempat wisata baru yang dapat menarik pengunjung untuk mengunjungi Kabupaten Lebak dengan kekhasan aneka gula aren. Sentra produksi gula aren tersebar dibeberapa 45

daerah Kecamatan. Banyaknya unit usaha dan sentra gula aren pada setiap kecamatan disajikan pada Tabel berikut. Tabel 2. Jumlah unit usaha gula aren di Kabupaten Lebak No Kecamatan Jumlah Jumlah Unit Sentra Usaha 1. Sobang 9 1430 2. Lebakgedong 4 333 3. Sajira 1 36 4. Gunungkencana 4 165 5. Cigemblong 7 751 6. Cijaku 4 376 7. Cibeber 7 897 8. Cilograng 2 239 9. Cihara 2 205 10. Muncang 2 256 11. Cirinten 5 505 12. Wanasalam 1 64 13 Malingping 1 131 14. Panggarangan 5 681 Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab Lebak tahun 2011 1.1. Kondisi Eksisting KUB Mitra Mandala berada di Desa Hariang Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak. Kecamatan sobang sendiri terdiri dari 10 desa dengan jumlah kepala keluarga kurang lebih sebanyak 39 KK, luas kecamatan Sobang kurang lebih 10,16 Hektar. Kecamatan Sobang berada di daerah kawasan Gunung Halimun. KUB Mitra mandala ini dirintis oleh pak Anwar pada tahun 1996 dengan nama KUB Mandala dan jumlah anggota pengrajin sebanyak 25 anggota. Produk yang hasilkan dari KUB Mandala awalnya adalah Gula Aren Cetak. Pada tahun 2000 terjadi perubahan nama KUB dari KUB Mandala menjadi KUB Mitra Mandala dan jumlah anggota pengrajin sebanyak 30 pengrajin dan dengan hasil produk GulaAren Cetak juga dibuat inovasi produk baru yaitu Gula Aren Semut. Pada tahun 2015 jumlah anggota pada KUB Mitra Mandala berjumlah 50 orang. Dalam satu hari pengrajin mampu mengumpulkan 5 Kg Gula Aren/Orang untuk di jadikan Gula Semut. Sedangkan diluar 50 orang anggota KUB Miitra Mandala terdapat 525 pengrajin gula aren lainnya yang biasanya mereka pun menjual hasil olahan gula aren ke KUB Mitra Mandala.Rata-rata permintaan Gula aren Semut adalah 8-10 ton/bulan Untuk memenuhi kebutuhan luar negeri yang mensyaratkan adanya Sertifikasi Organik pada produk gula aren semut, maka KUB Mitra Mandala dibantu dengan Kementrian Pertanian melakukan Sertifikasi Organik Produk pada tahun 2013 dan diperoleh sertifikasi Organik dari Hipos Belanda dan Control Union. Selain itu itu untuk ekpor Gula aren Semut Ke Autralia tahun 2014 KUB Mitra Mandala pun melampirkan Sertifikasi Organik sebagai salah satu syarat untuk menembus pasar Australia dan Jepang.Luas Banguna KUB Mitra Mandala kurang lebih 6 x 16 m. Saat ini Di KUB Mitra Mandala terdapat Open pengering gula aren semut yang merupakan bantuan hibah dari Kementrian Perindustrian & Perdagangan RI. Mesin open pengering ini berukuran 4 x 12 m 2. Kapasitas Open Pengering di KUB Mitra Mandala adalah 40 Nampan untuk satu kali pengeringan dimana satu nampan dapat menampung kurang lebih 3 Kg gula aren semut. Untuk satu kali pengeringan sebanyak 40 nampan diperlukan bahan bakar 3 kg gas. Proses Pembuatan Gula aren di pengrajin gula aren di desa Hariang Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak dimulai dari jam 8 pagi. Untuk pembuatan gula batok/cetak diperlukan waktu 8-10 jam untuk satu wajan. Satu Wajan dapat menampung Nira sebanyak 46

15 lodong atau setara dengan 30 liter Nira, dari hasil satu wajan proses pembakaran didapatkan hasil50 hulu (100 gula cetak) atau setara dengan 180 Ons = 18 Kg Dalam satu hari pengarjin dapat memasak Nira menjadi Gula Cetak sebanyak 2 x (pagi dan Sore hari) dengan jumlah Gula cetak yangdihasilkan sebanyak kurang lebih 200 gula cetak/ hari atau setara dengan 36 kg/ hari/pengrajin. Untuk membakar Nira diperlukan kayu bakar sebanyak 15 Kg, biasanya para pengrajin ini mengumpulkan ranting-ranting kayu dari hutan taman nasional gunung halimun. Harga jual gula aren cetak dari pengrajin ke pengepul sebesar Rp. 9000/kg, Rata-rata pengahsilan pengrajin Gula aren ini Rp. 300.000/hari apabila mereka mampu menghasilkan gula aren sabanyak 200 butir. Untuk menjaga agar alat sadap (Lodong) terhindar dari kuman dan bakteri maka para penyadap Nira aren memberikan pengawet di lodong tersebut dengan menggunakan bahan pengawet alami yaitu akar Kawao atau daun Salatin. Tujuan penelitian ini adalah bagaimana menghasilkan produk gula aren semut dengan kadar air 2,5 3% dan untuk memenuhi kaidah GMP dan SII 2043-87. 2. METODOLOGI Adapun metode untuk mencapai tujuan adalah dengan merancang mesin Vacuum Evaprator dan Mesin Spinner. Pada perancangan mesin Vaccum Evaporator tahap pertama yang dilakukan adalah pengumpulan Nira kadar gula 20%. Gambar 1. Pengumpulan Nira Fungsi mesin vaccum evaporator, salah satunya alat ini dapat mendidihkan nira pada suhu hanya sekitar 60 derajat Celcius. Pada saat mendidih uap air akan naik memisahkan diri dengan nira, sehingga Nira yang ditinggalkan oleh masa air sedikit-demi sedikit itu menjadi semakin kental. Kapasitas mengolah nira secara kontinyu sebesar sekitar 500 liter per jam. Bahan bakar utamanya adalah dari biomassa yaitu berupa aneka limbah seperti sekam padi, limbah batang jagung, kayukayu ranting pohon, sabut dan bathok kelapa, ampas tebu, dll. 47

Gambar 2. Mesin Vacum Evaporator Nira yang semula berkadar gula sekitar 10-15 % itu setelah dimasukkan alat vaccum evaporator ini akan menjadi sirup (Gula Cair) yang kental dengan kadar gula 75 %.Nira yang berkadar 75% dipanaskan lagi pada alat pengaduk dengan pemanas dibawahnya untuk menghasilkan butir Kristal. Butir Kristal diayak dengan mesh tertentu untuk menghasilkan ukuran Kristal yg seragam. Kemudian untuk menurunkan kadar air hingga 2,5% dilakukan dengan pengovenan. Selama konsentrasi didalam pan dikendalikan agar terbentuk Kristal, Kristal yang terbentuk dikendalikan baik yieldnya maupun besarnya sesuai keinginan, masa kental dalam vacuum pan yang berisi Kristal dalam larutan syrup jenuh ini disebut MASSECUITE, selanjutnya massesuite di masukkan dalam palung kristalisasi untuk dilakukan pemisahan antara padatan (gula semut putih) dan bagian cairnya ( coconut syrup). Gambar 3.MesinPenggranulasigula Keluaran dari proses granulasi adalah gula aren Kristal putih 50% dan Gula aren semut warna merah 50% 2.1 Perancangan Mesin Vacuum Evaporator Pembuatan mesin Vacum Evaporator dimulai dari pembuatan desain mesin Vacum Evaporator. Adapaun desain Mesin Vacum Evaporator adalah sebagai berikut : Gambar 4. Desain Mesin Vacum Evaporator 48

Selanjutnya dilakukan pembuatan mesin vacum Evaporator untuk kapasitasn 100 liter Nira dengan menggunakan berbahan bakar gas. Pemilihan bahan bakar adalah gas dan bukan listrik dikarenakan mesin ini akan dipergunakan di KUB Mitra Mandala dimana kapsitas Listrik yang digunakan untuk mesin ini sangat tinggi sebesar 600-750 watt, hal ini sangat tidak memungkinkan apabila dilakukan pemanasan dengan menggunakan listrik mengingat sering terjadinya pemadaman listrik di daerah kecamatan Sobang, khawatirnya apabila menggunakan mesin Vacum Evaporator menggunakan Listrik akan terjdai downt time produksi (tidak beroperasinya mesin produksi) apabila terjadi pemdaman listrik. Untuk itu dibuat mesin vacum Evaporator dengan menggunakan bahan bakar gas, penggunaan bahan bakar gas ini juga dipilih karena pemanasan pada Vacum evaporator juga tidak memerlukan suhu tinggi sekitar 50-60 o C. Diharapkan dengan menggunakan Bahan bakar gas jauh lebih hemat dibanding dengan listrik ataupun kayu bakar. Bahan dasar pembuatan Vacum evaporator adalah Stainless plat 3,16 untuk Food Grade. Proses Pembuatan Mesin Vacum Evaporator diawali dengan pembuatan bak penampung Nira, berikut ini adalah mesin Vacum evaporator yang dihasilkan. Gambar 5. Hasil Rancangan Mesin Vacum Evaporator 2.2 Perancangan Mesin Spinner Selanjutnya adalah desain pembuatan mesin spinner yang berfungsi untuk mengkristalkan gula cair. Berikut adalah desain rancangan mesin spinner. Gambar 6. Desain Mesin Spinner 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah mesin vacuum evaporator dan mesin spinner dirancang, kemudian kedua mesin tersebut diuji coba secara langsung oleh KUB Mitra Mandala. Dalam penerapannya diperoleh beberapa peningkatan atau efisiensi. Hasil peningkatan atau efisiensi dapat dilihat pada tabel berikut : 49

Tabel 3. Hasil Peningkatan Efisiensi Item Jumlah Produk Gula Murni Kapasitas Pemasakan Nira Sendiri Energi Untuk Proses Pemasakan Nira (100 liter) Tingkat kontaminasi saat pemasakan Homogenitas warna gula semut Sebelum Setelah Nilai Keterangan Nilai Keterangan 1. Gula Cetak 1. Gula Cetak 2 2. Gula Semut 3 2. Gula Semut 3. Gula Cair satu tungku memiliki kapasitas 20 liter/ 8 100 liter/ 4 Menggunakan mesin 10 liter/ 8 jam. jam jam vacuum evaporator Ketersediaan tungku sebanyak dua buah 100 Kg Kayu Bakar 6 Kg LPG 450 kwh 4.5 kwh/kg 81.6 kwh Rp 374.850 Rp 67.973 Tinggi Banyak ditemukan perbedaan warna Abu sisa kayu bakar dan asap mudah tercampur dengan produk 1) Adanya campuran kontaminan 2) Suhu saat pemasakan yang tidak konsisten 3) Kecepatan putar saat pembentukan gula semut tidak konsisten (manual) Rendah Homogen 13.6 kwh/kg Proses pemasakan menggunakan bahan bakar yang bersih (LPG) dan proses pemasakan dilakukan pada tabung yang tertutup rapat 1) Kemungkinan tercampur kontaminan kecil 2) Suhu saat pemasakan selalu konsisten di kontrol oleh sensor suhu (thermocouple) dan kontroller 3) Kecepatan putar saat pembentukan gula semut konsisten (mesin spinner) 4. KESIMPULAN Setelah dilakukan perancangan dan penerapan teknologi mesin vacuum evaporator dan mesin spinner diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Meningkatkan kemampuan masyarakat khusunya pengrajin gula aren semut KUB Mandiri dalam proses produksi Gula aren Semut menggunakan teknologimesin Vacum Evapporator & mesin Spinner yang ramah lingkungan. 2. Dihasilkannya manual mutu proses produksi gula aren semut, sehingga terstandarnya proses produksi gula aren smut di KUB Mitra Mandala. DAFTAR PUSTAKA Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Penanaman Modal Kab. Lebak, Profil Potensi Komoditi Gula Aren. Lebak: 2013. 50

Dian Kusmanto, Maret 2011 Mengolah Nira Menjadi Gula Cair Bermutu Tinggi Dengan Vacuum Evaporator dalam http://kebunaren.blogspot.com/2011/03/mengolah-nira-menjadi-gula-cairbermutu.html Dian Kusmanto, Maret 2011, Mengurangi kandungan air dari Nira Aren dengan Teknologi Membran dan Reverse Osmosis dalam http://kebunaren.blogspot.com/2010/07/mengurangikandungan-air-dari-nira-aren.html Rachman, Benny, dkk, Kajian Sosial Ekonomi Gula Aren, Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten, Serang: 2005. Rosyiani Ningsih, 2012 Kajian Proses Pembuatan Gula Serbuk Dari Nira Aren Murni (Arengapinnata, Merr) Pada Berbagai Tingkatan Suhu Inlet dan Laju Alir Bahan Menggunakan Spray Dryer, Fakultas Teknologi Industri Pertanian,Universitas Padjadjaran. 51