Kata kunci: Sunni Syi i Muktazilah Jabariyah

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V KESIMPULAN. Dalam sejarah perkembangan umat Islam, munculnya aliran teologi Islam

`BAB I A. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN BAB I. A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

yang sama bahwa Allah mempunyai sifat-siafat. Allah mempunyai sifat melihat (al-sami ), tetapi Allah melihat bukan dengan dhat-nya, tapi dengan

BAB V PENUTUP. 1. Pemikiran Kiai Said Aqil Siroj tidak terlepas dari Nahdltul Ulama dalam

BAB I PENDAHULUAN. Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada

BAB V KESIMPULAN. Teosofi Islam dalam tataran yang sederhana sudah muncul sejak abad 9 M.

BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan

PENGARUH AQIDAH ASY ARIYAH TERHADAP UMAT

BAB I PENDAHULUAN. Al-Ghazali (w M) adalah salah satu tokoh pemikir paling populer bagi

BAB I PENDAHULUAN. B. Rumusan Masalah

BAB VI PENUTUP. Universitas Indonesia Islam kultural..., Jamilludin Ali, FIB UI, 2010.

KRITIK PENDAPAT ULAMA KALAM TENTANG ALIRAN MURJI AH. Disusun Guna Memenuhi Tugas. Mata kuliah : Ilmu Tauhid. Dosen Pengampu : Drs.

KISI-KISI SOAL UAMBN MADRASAH ALIYAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012

KISI-KISI SOAL UJIAN AKHIR MADRASAH BERSTANDAR NASIONAL (UAMBN) MADRASAH ALIYAH (MA) TAHUN PELAJARAN 2015/2016

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

ILMU KALAM. Aliran-Aliran dan Pemikiran. Penyunting: Dr. Sumarto, M.Pd.I. Kontributor Penulisan:

Kata Kunci: Pemahaman, Berpikir Rasional, Pembangunan

IMAMAH DALAM PANDANGAN POLITIK SUNNI DAN SYI AH

BAB IV ANALISA. masyarakat Jemur Wonosari yang beragama Islam meyakini bahwa al-qur an

KISI-KISI SOAL UAMBN MADRASAH ALIYAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB IV T}ANT}A>WI> JAWHARI> hitung dan dikenal sebagai seorang sufi. Ia pengikut madzhab ahl sunnah wa aljama ah

IMA>MIYAH TENTANG HUKUM MENERIMA HARTA WARISAN DARI

KONSEP IMAN PERSPEKTIF MURJI AH DAN MU TAZILAH (STUDI KOMPARATIF)

TAKFIR DAN HAK BERBEDA PENDAPAT

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada periode modern, mengalami pasang surut antara kemajuan

BAB V PENUTUP. yang berbeda. Muhammadiyah yang menampilkan diri sebagai organisasi. kehidupan serta sumber ajaran. Pada sisi ini, Muhammadiyah banyak

PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN ASY ARIYAH. PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN ASY ARIYAH Ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di

BAB III TEOLOGI ISLAM. Setiap orang menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu

Sumbangan Pembaruan Islam kepada Pembangunan

PERGULATAN PEMIKIRAN TEOLOGI DI DUNIA ISLAM

KISI-KISI SOAL UJIAN AKHIR MADRASAH BERSTANDAR NASIONAL (UAMBN) MADRASAH ALIYAH (MA) TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN GLOBALISASI

SEJARAH ISLAM AHMADIN

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pemikiran Islam, diantaranya bidang teologi. 1 Teologi ialah ilmu

KEBUDAYAAN DALAM ISLAM

DAFTAR ISI. Bab I Pendahuluan. 10. Bab II Pengertian Manhaj Salaf Ahlussunnah wal Jama ah Salaf.. 19

ABDUH DAN RIDHA PERBEDAAN ANTARA GURU DAN MURID

ALI ABD AL-RAZIQ : IDE NEGARA

BAB I PENDAHULUAN. Sungguh, al-quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus... (Q.S. Al-Israa /17: 9) 2

BAB V KESMPULAN. Jemaah Ahmadiyah, demikian mereka memanggil dirinya, di Pakistan,

Article Review. : Jurnal Ilmiah Islam Futura, Pascasarjana UIN Ar-Raniry :

Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq

TIDAK BOLEH PARTISAN

BAB V PENUTUP. Pada bagian terakhir ini penulis berusaha untuk menyimpulkan dari

KELAS BIMBINGAN MENENGAH PEPERIKSAAN PERTENGAHAN TAHUN 2015 SEJARAH ISLAM KBM 3

BAB III PROSES IJMA MENURUT ABDUL WAHAB KHALLAF DAN PROSES PENETAPAN HUKUM DALAM KOMISI FATWA MUI

Wassalam. Page 5. Cpt 19/12/2012

BAB I PENDAHULUAN. Imam Ahmad bin Hanbal merupakan salah satu dari tokoh madzab dalam Agama

KRITIK TERHADAP ALIRAN MU TAZILAH. Makalah. Disusun Guna Memenuhi Tugas. Mata Kuliah : ILMU TAUHID. Dosen Pengampu : Drs.

Kritik Terhadap Ajaran Mu tazilah 3 4 5

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pembahasan perwalian nikah dalam pandangan Abu Hanifah dan Asy-

KHILAFAH DAN KESATUAN UMAT

BAB I PENDAHULUAN. ahli keislaman, kebanyakan berada dalam prespektif hubungan Negara dan

DIMENSI FILSAFAT DALAM WAHYU

( aql) dan sumber agama (naql) adalah hal yang selalu ia tekankan kepada

BAB V PENUTUP. tesis ini yang berjudul: Konsep Berpikir Multidimensional Musa Asy arie. dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam, sebagai berikut:

F LS L A S F A A F T A T ISL S A L M

BAB V PENUTUP Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup

PENGERTIAN, SEJARAH DAN SEBAB-SEBAB TIMBULNYA ILMU KALAM

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Restu Nur Karimah, 2015

1.A. Asal-Usul Maturidiyah 1.B.Pokok-Pokok Ajaran Maturidiyah

ULANGAN HARIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS XI

ALLAH, UNIVERSALITAS, DAN PLURALITAS

IDIOLOGI DAN POLITIK KEKUASAAN KAUM MU TAZILAH Ahmad Zaeny. Abstrak

BAB II GAMBARAN UMUM KISAH-KISAH DALAM AL-QUR AN. Quraish Shihab berpendapat bahwa al-qur an secara harfiyah berarti bacaan

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

MENDAMAIKAN PERSAUDARAAN SEIMAN

dan Ketegasannya Terhadap Syiah

Kewajiban berdakwah. Dalil Kewajiban Dakwah

I. PENDAHULUAN. dan ingin meraih kekuasaan yang ada. Pertama penulis terlebih dahulu akan

Khutbah Jum'at. Melanjutkan Spirit Qurban dalam Kehidupan. Bersama Dakwah 1

KRITIK TERHADAP ALIRAN AL MATURIDIYAH

SEMIOTIKA ISLAM Oleh Nurcholish Madjid

Ulasan makalah. Wan Suhaimi Wan Abdullah

BAB I PENDAHULUAN. harus dijaga di Indonesia yang hidup di dalamnyaberbagai macam suku, ras,

SUMBER SUMBER HUKUM ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. mengajar dengan materi-materi kajian yang terdiri dari ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu

SOAL UJI COBA HASIL BELAJAR PAI

Volume XIX No. 2 April - Juni 2003 : ** Dr.. H.M. Abdurrahman, MA, adalah dosen tetap Fakultas Syari ah UNISBA

TEOLOGI SOSIAL : Telaah Pemikiran Hassan Hanafi

TINJAUAN TENTANG HUBUNGAN TENTANG KEHENDAK TUHAN DENGAN KEADILAN TUHAN Oleh : sariah

Banyak Belum Tentu di Atas Kebenaran

BAB IV ANALISIS HEDGING TERHADAP KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK-BBM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Oleh : Drs. ABU HANIFAH, M.Hum. Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang

SIGNIFIKANSI AJARAN MU TAZILAH TERHADAP EKSISTENSI FILSAFAT DI DUNIA ISLAM

Khatamul Anbiya (Penutup Para Nabi)

PENGANTAR ILMU KALAM. Muttaqin Choiri

BAB I PENDAHULUAN. dengan sengaja oleh orang dewasa agar seseorang menjadi dewasa. 1 Menurut Ki Hajar

RISALAH AQIQAH. Hukum Melaksanakan Aqiqah

METODE DAKWAH DALAM AL-QUR A<N (STUDI KOMPARATIF ATAS TAFSIR FI< Z}ILA<L AL-QUR A<N DAN TAFSIR AL-MISHBA<H{)

EMPAT BELAS ABAD PELAKSANAAN CETAK-BIRU TUHAN

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENGGUNAAN AL-RA Y OLEH

BAB I PENDAHULUAN. (Jakarta: Amzah, 2007), hlm Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur an,

BAB IV PENUTUP. lainnya yang cenderung bersikap reaktif dan keras terhadap kasus-kasus. 1. Pandangan/Pemikiran yang berkembang di Nahdlatul Ulama

Transkripsi:

KEBANGKITAN SUNNISME PADA ABAD KE-XI Oleh : Ali Sodikin Abstrak : Risalah al-islamiyah yang dibawa oleh sang pangeran cinta (Nabi Muhammad Saw.) pada intinya adalah bagaimana membawa ide agama dalam pergulatan hidup secara kolektif untuk menegakkan tatanan sosial yang adil, bermartabat dan berwibawa, sebagai cita-cita ketakwaan. Doktrin agama yang mengarah pada cita-cita ketakwaan sebagai perwujudan rasa kemanusiaan yang utuh, sebagaimana yang telah dirintis oleh sang Nabi, pada kenyataan sejarah justru kita jumpai sebuah pergulatan hidup secara kolektif yang justru mengarah pada akar konflik, manakala kepentingan dan kekuasaan lebih dominan. Kata kunci: Sunni Syi i Muktazilah Jabariyah PENDAHULUAN Peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan, khalifah ketiga, pada 656 M, di Madinah dalam pertentangan yang terjadi dengan tentara yang datang dari Mesir. Selain membawa masalah politik, juga menimbulkan masalah teologi dalam Islam. Dalam bidang politik, peristiwa itu memecah umat Islam menjadi dua golongan: Sunni dan Syi ah. Perkembangan sejarah Islam, bukan dalam bidang politik saja tetapi juga dalam bidang agama dan pemikiran, banyak dipengaruhi dan ditentukan arahnya oleh pertentangan antara kedua golongan besar ini. 1 Perseteruan dua golongan besar ini berlangsung selama berabad-abad. Golongan Sunni yang pada awal-awal kelahirannya bertujuan melakukan sintesis, mengkompromikan antara ahlul hadith dengan kelompok Mu tazilah, pada perkembangan selanjutnya justru ikut terlibat perseteruan, khususnya dengan kelompok syi ah manakala Sunni di masa khalifah al-mutawakkil menjadi sebuah aliran resmi yang dominan dan dibeckingi oleh penguasa ketika itu. 1 Harun Nasution, Islam Rasional: kaum mu tazilah dan pandangan rasionalnya, (Bandung: mizan, 1996), 126 180

Jika di penghujung abad ke sembilan, Sunni belum menunjukkan taringnya, memasuki abad sepuluh masehi, Sunni terlibat konfrontasi secara intens dengan syi ah. Perseteruan tersebut tidak hanya berkutat pada wilayah pemikiran tapi sudah mengarah ke praksis sosial. Memasuki abad sebelas, geliat Sunni semakin nampak jelas, lebih-lebih dengan tampilnya sosok al-ghazali di kancah intelektual itu semakin mengukuhkan doktrin dan ajaran Sunni. MELACAK JEJAK ARKEOLOGI PEMIKIRAN SUNNI a. Curiculum Vite al-asy ari 2 Abu Hasan al-asy ari dilahirkan di Basyrah pada tahun 260 H. Semenjak kecil, provokator intelektual gerakan Sunni ini telah menjadi yatim karena ditinggal ayahnya. Ayahnya Abu Ali al-jabba i yang lahir pada 235 H/849 M menikahi ibu al-asy ari setelah ditinggal suaminya, Isma il. Di rumah al-jabba i inilah al-asy ari tumbuh dan dididik. Ia belajar dan mendapat pendidikan ilmu kalam madzab mu tazilah darinya. Kemudian setelah 40 tahun ia beralih dari mu tazilah dan memantapkan dirinya untuk membela ahli sunah wal jama ah. Setelah beralih dari paham mu tazilah ia pindah dari Bashrah ke Baghdad dan mukim di sana hingga wafatnya pada 330 H/942 M. Dari al-asy ari inilah yang kemudian dinisbatkan mazhab Al-Asy ariah. Al- Asy ariah sendiri kenyataanya bukanlah mazhab baru, atau mazhab yang sejenis dengan mu'tazilah dalam pengertian sebagai suatu paham yang berdiri sendiri. Akan tetapi mazhab ini, pada dasarnya adalah ajakan kembali kepada ahli sunnah wal jama ah yang dianut oleh generasi awal kaum muslimin. Al-asy ariyah adalah aliran moderat, karena mengambil paham-pahamnya dari Islam, dan tori perdebatannya dari mu'tazilah dan filsafat. Abu Hasan al-asy ari mengarang banyak kitab, di antaranya adalah : al-luma, al-qiyas, al-ijtihad, Maqalat al-islamiyyin, al-ibanah an ushul Ad-diniyah, dan risalah tentang kemuliaan memperdalam ilmu kalam. Al-Asy ari juga menulis banyak artikel dalam menolak pandangan yang muncul dari agama atau mazhab yang bertentangan dengannya. 2 Ismail asy-syaraf, Ensiklopedi filsafat, (Jakarta: Khalifa, 2005), 54. 181

b. Mu'tazilah : Belok kiri jalan terus Aliran mu'tazilah merupakan aliran theologi Islam yang terbesar dan tertua, yang telah memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran dunia Islam. Aliran mu'tazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama hijriyah di kota Bashrah, pusat ilmu dan peradaban Islam kala itu. Tempat peraduan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam Agama. 3 Sebagai sebuah aliran pemikiran yang mengedepankan rasio, mu'tazilah telah memainkan peran yang signifikan dalam khazanah intelektua Islam. Tidak sedikit kontribusi pemikiran muktazilah terhadap Islam pada proses kejayaan di masa lalu. Bahkan al-asy ari sendiri terlibat sebagai penyokong aliran muktazilah ketika itu sebelum akhirnya keluar dari aliran tersebut. Aliran ini semakin kuat, manakala khalifah al-makmun (813-832) memback up. Di bawah naungan khalifah al-makmun ini, arogansi intelektual muktazilah semakin menjadi-jadi dan menganggap bahwa muktazilah adalah madzhab satusatunya dalam Islam yang diresmikan sang khalifah yang harus diikuti pula oleh seluruh komponen masyarakat. Sikap over acting dan liberalisasi wacananya membuat ulama -ulama ahli hadith kebakaran jenggot serta masyarakat awampun dibuat tergopoh-gopoh mengikuti irama pemikiran muktazilah yang liberal itu. Pemaksaan ajaran melalui model intimidasi terhadap masyarakat inilah yang pada akhirnya menimbulkan sikap antipati dihati masyarakat. Bahkan khalifah al- Ma mun yang melegitimasi aliran tersebut, tidak segan-segan melakukan penyiksaan terhadap kelompok-kelompok yang menentang aliran muktazilah tersebut, khususnya ulama -ulama ahlul hadith. Melihat realitas yang tidak beres serta sikap over acting yang ditunjukan orang-orang mu tazilah, al-asy ari yang sebelumnya simpatisan berat langsung putar haluan dan terang-terangan keluar dari faham mu tazilah. Lebih-lebih ketika kursi kekhalifaan al-ma mun semakin keropos, dan faham mu tazilah semakin dipandang sebelah mata oleh orang-orang awam. 4 3 A. Hanafi M.A, pengantar theologi Islam, (Jakarta: PT. al-husna Zikra 1995), 64. 4 Karen Armstrong, A History of God, Sejarah Tuhan (terj.) (Bandung: Mizan, 2001), 227. 182

Pada titik nadzirnya faham mu tazilah yang lebih mengedepankan akal semakin tidak populer lagi. Lebih-lebih ketika kursi kekhalifahan beralih ke tangan al-mutawakkil. Liberalism paradigm yang diusung oleh faham mu tazilah, di mata orang awam menjadi sebuah momok. Di saat itulah al-asy ari melakukan sebuah sintesis pemikiran guna menjembatani dua kubu yang berseberangan pemikiran : Ahlul ra yi dan ahlul hadith. c. Jabariyyah : Belok kanan jalan terus Jabariyah secara harfiyah berasal dari lafadz al-jabr, yang berarti paksaan. lafadz ini merupakan antonim lafadz al-qadr (kemampuan). 5 Secara terminologis berarti menyandarkan perbuatan manusia kepada Allah SWT. 6 Jabariyyah menurut mutakallimin adalah sebutan untuk mazhab kalam yang menafikan perbuatan manusia secara hakiki,hdan menisbatkannya kepada Allah SWT semata. 7 Kaum determinis (Jabariyyah) berpendapat bahwa kehendak bebas manusia dibatasi oleh kemahakuasaan Tuhan. Faham ini juga ikut mewarnai pergulatan pemikiran di awal-awal abad satu hijriyyah. Jika faham Mu tazilah yang menganut pola pikir liberal yang terinspirasi oleh faham Qadariyah yang menganut faham kehendak bebas manusia, maka sebaliknya dengan faham Jabariyah, ia tidak setuju dengan kehendak bebas manusia. Doktrin tersebut di mata kaum Jabariyah memiliki legitimasi dalam ayat: Allah menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-nya, dan Allah memberi hidayah siapa saja yang dikehendaki-nya: (Q.35:8). Di lain pihak, faham Qadariyah yang merupakan babenya Mu tazilah juga punya legitimasi teologis yang dinyatakan dalam ayat al-qur an pula semisal: kebenaran datangnya dari Tuhan, maka barang siapa yang ingin beriman, hendaknya ia beriman. Dan barang siapa yang ingin kafir, maka biarlah ia kafir. (Q. 18: 29). Dua diktum yang berbeda ini senantiasa menjadi diskursus tanpa batas di sepanjang sejarah, yang bukan hanya berpengaruh pada wilayah teoritis saja tapi sudah menyentuh pada wilayah praksis. 8 5 Ibn Manzur, lisan al-arab, vol. I, 116 6 al-qosini, Tarikh al-islami, 28. 7 al-syahrastani, al-milal wa Nihal, 72 8 John L. Esposito Islam: The straight path, Islam: warna-warni (terj.) (Jakarta: Paramadina, 2004), 89. 183

d. Sunni: Kanan-kiri oke...?! Teologi muslim telah ditarik ke dua arah yang tampaknya ditentukan oleh mereka yang menyatakan kekuasaan Tuhan yang mutlak tak bersyarat dan oleh lawan mereka, kaum Mu tazilah, yang percaya bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan adalah hasil dari keadilan dan sifat keternalaran-nya dan bahwa semua orang bebas dan bertanggung jawab secara moral. 9 Berangkat dari rasa kegelisahan intelektual serta prihatin akan kondisi masyarakat muslim yang tercabik-cabik karena perbedaan penafsiran, serta sikap antagonisme pada diri kedua penganut faham tersebut, akhirnya al-asy ari melakukan ijtihad intelektual sebagai jalan tengah melalui faham sunninya. Sebagai seorang muslim yang gairah akan keutuhan kaum muslimin, ia sangat mengkhawatirkan, kalau Qur an dan hadith-hadith Nabi akan menjadi korban faham-faham aliran mu tazilah yang menurut pendapatnya tidak dapat dibenarkan karena didasarkan atas pemujaan kekuatan akal pikiran, sebagaimana dikhawatirkan juga akan menjadi korban sikap ahli hadith yang hanya memegangi lahir (bunyi) nash-nash agama dengan meninggalkan jiwanya dan hampir menyeret Islam ke lembah kebekuan intelektual yag tidak dapat dibenarkan. 10 Al-Asy ari, seperti al-syafi i dalam feqih dan al-ghazali dalam kalam, mengambil sintesis dari dua sikap yang saling bertentangan tadi. Ia memancangkan posisi tengah di antara dua kubu ekstrem: literalisme Ibn Hambal dan rasionalisme logis Mu tazilah dan atau fatalisme Jabariyah dengan kehendak bebas Qadariyah. Strategi jalan tengah yang dikomandani al-asy ari ini mendapat sambutan dan gaung luar biasa di hati masyarakat muslim pada umumnya. Pada akhirnya politik jalan tengah ala al-asy ari ini dikenal dengan faham Sunni. 11 GELIAT SUNNISME DI ABAD XI a. Perselingkuhan Agama dan Kekuasaan 9 Ibid, 91 10 A. Hanafi M.A, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta: PT. al-husna Zikra, 1995), 105 11 John L.Esposito, Islam: The Staright path, Islam: warna-warni (terj.) (Jakarta: Paramadina, 2004), 92 184

kesadaran bahwa pemikiran dapat mengontrol realitas, seberapapun tingkatannya dengan sendirinya adalah sebuah pengakuan terhadap kekuatan pengetahuan. Sebuah sistem pengetahuan yang tumbuh, berkomunikasi dan berputar dalam masyarakat sehingga menjadi wacana kultural masyarakat tersebut yang menyebar, memberi ciri dan membentuk dunia sosial, institusi, nilai dan prilaku anggota-anggotanya. Michael Foucault menganalisis hubungan yang halus antara pengetahuan dan kekuasaan, dan dia menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan yang dapat berjalan tanpa melalui wacana tertentu yang mempertahankan dan mendukung persepsi masyarakat terhadap realitas. 12 Demikian pula halnya dengan faham Sunni, pasca lengsernya al-ma mun dari singgasana kekuasaannya yang menganut sekaligus membekingi faham Mu tazilah yang tidak populer lagi, geliatnya semakin nampak. Secara perlahan tapi pasti, faham Sunni semakin menancapkan pengaruhnya di jantung kekuasaan. Perebutan pengaruh antara Sunni dan syi ah pun tak terelakkan lagi ketika faham mu tazilah sudah tidak populer lagi dan tidak memiliki akses signifikan di jantung kekuasaan. Sampai pada periode al-mutawakkil (847 861) yang memback up secara resmi terhadap faham Sunni sebagai madzhab negara, perseteruan antara Sunni dan Syi i menjadi tak terelakkan. b. al-ghazali: Sang pemadu dan pembaharu Abad-abad kesebelas dan keduabelas, khususnya, adalah zaman yang kacau dalam sejarah kaum muslimin. Kekhalifahan tunggal telah terpecah belah menjadi sebuah sistem negara yang terdesentralisasi dan bersaing yang dipersatukan hanya oleh khalifah Abbasiyah yang simbolis, namun tak berdaya, di Baghdad. Para dai Ismailiyah secara aktif menggrogoti Ijma Sunni. Para filsuf muslim, yang sangat berhutang kepada Helenisme dan Neoplatonisme, sedang menawarkan jawabanjawaban alternatif, dan kadangkala bersaing, atas pertanyaan-pertanyaan filosofis dan teologis yang seringkali mengusik atau menguji hubungan antara nalar dan iman. Sufisme menjadi gerakan massa dengan komponen emosional yang kuat dan dengan kecenderungan elektik untuk menerima praktik-praktik takhayul. Kebanyakan dari apa yang terjadi tampak di luar jangkauan dan kendali ulama, 12 Michael Foucault, power/knowledge: selected interviews and other writing, (New, York: pantheon Books, 1980), 72 185

yang banyak dari mereka dalam umat. Adalah kejeniusan dan prestasi Abu Hamid al Ghazali (1058-1111) yang menangani masalah-masalah tersebut. Di tengah-tengah kekacauan, al Ghazali muncul, seperti yang pernah dilakukan al-syafi i pada beberapa abad sebelumnya untuk menyelamatkan zamannya dengan memberikan sistesis agama yang diperlukan. Kesuksesannya yang luar biasa mungkin dapat diukur dari gelar yang diberikan khalayak kepadanya sebagai Mujaddid (pembaharu) Islam. 13 Adalah Nizam al-mulk yang telah berjasa mendirikan universitas Nidhomiyah yang merupakan madrasah terpenting tempat belajar sarjana-sarjana terkemuka dari generasi Islam madzhab Sunni. Dari sini al-ghozali juga memainkan peranan besar dalam pengembangan Universitas. Secara perlahan diseluruh madrasah yang mengajarkan madzhab berwawasan Ahlus Sunnah wal Jama ah diajarkan pula kecakapan memerintah sehingga banyak ulama terdidik menjadi birokrat yang handal yang pada akhirnya semakin mengukuhkan eksistensi Faham Sunni di masa itu. 14 Dalam konteks sejarah peradaban Islam di abad ke sebelas masehi, ternyata bukan al-ghozali saja yang berhasil membangun pondasi-pondasi pemikiran Sunni, akan tetapi pemikir-pemikir lain yang berfaham Sunni seperti al-baqilani (w. 403 H), al-baqhdadi (w. 429 H), al-juwaini (w. 478 H) dan asy-syahrasani (w. 548 H) juga ikut mengokohkan bangunan paradigma Sunni sebagaimana yang telah dirintis oleh al-asy ari (w. 324 H). 15 PUNGKASAN Sunni sebagai sebuah aliran atau faham yang diprakarsai al-asy ari telah mementaskan peran yang signifikan di panggung sejarah keislaman. Alasan kelahirannya berangkat dari kegelisahan intelektual seorang al-asy ari yang juga merasa prihatin atas kondisi umat Islam ketika itu yang carut marut. Terobosan besarnya lewat politik jalan tengah nya dengan mengusung faham sunninya langsung 13 John L.Esposito, Islam: The Staright path, Islam: warna-warni (terj.) (Jakarta: Paramadina, 2004), 127-128 14 Al-Ghazali, al-tibr al-masbuk fi Nasihah al-mulk, Nasihat Untuk Penguasa (terj.), Jakarta: Hikmah, 2000, 17. 15 Ahmad Zahro, Tradisi intelektual NU, (yogyakarta: LKIS, 2004), 48 186

mendapat sambutan dan simpati masyarakat. Paradigmanya yang moderat, toleran, dan seimbang menjadikan faham ini dianut oleh sebagian besar masyarakat muslim sampai pada hari ini. Citranya sebagai 'penengah yang baik' di antara pergulatan pemikiran antar sekte-sekte dalam Islam ketika itu menjadi sedikit terganggu, manakala faham Sunni sudah kelihatan mulai berselingkuh dengan kekuasaan. Lebih-lebih ketika Sunni bersaing dengan syi ah dan saling berebut pengaruh di panggung kekuasaan. Maka konfrontasi antara keduanya pun menjadi tak terelakkan. Memasuki abad sebelas masehi, faham Sunni telah mendominasi dan mengakar di masyarakat muslim yang wilayahnya telah membentang luas di Eropa sampai Asia Timur. Ajarannya yang tidak sektarian dan cenderung fleksibel menjadikan sebagian besar masyarakat muslim enjoy dengan faham ini. Lebih-lebih dengan tampilnya sosok al-ghazali yang mampu mengkompromikan wahyu dengan akal, syariah dengan tasawuf, yang sebelumnya diperdebatkan oleh kalangan Ahlul Hadith dan Ahlul Ra yi. Di awal dan di penghujung abad sebelas masehi itulah, geliat sunnisme semakin nampak kepermukaan lewat tokoh-tokohnya semisal al-ghazali, al-baqilani, al-baghdadi, al-juwaini dan ash-syahrasani yang pengaruh pemikirannya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. 187

PUSTAKA RUJUKAN Al-Ghazali, al-tibr al-masbuk fi Nasihah al-mulk, Nasihat Untuk Penguasa (terj.), Jakarta: Hikmah, 2000. Armstrong, karen, A History of God, Sejarah Tuhan (terj.), Bandung: Mizan, 2001. Ash-Sharafa, Ismail, Ensiklopedi Filsafat, Jakarta: Khalifa, 2005. Esposito, John L, Islam: The Straight Path, Islam Warna-warni (terj.) Jakarta: Paramadina, 2004. Foucault, Michael, Power/Knowledge: Selected Intervews and Other Writing, New York: Pantheon Books, 1980. Hanafi, AM.A, Pengantar Teologi Islam, Jakarta: PT. al-husnazikra, 1995. Nasution, Harun, Islam Rasional: kaum Mu tazilah dan Pandangan Rasionalnya, Bandung: Mizan, 1996. Zahra, Ahmad, Tradisi intelektual NU, Yogyakarta: LKIS, 2004. 188