22 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian 4.1.1. Karakteristik Subyek Penelitian Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas I Ngaglik, Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman Yogyakarta pada bulan November hingga Desember 2015. Subjek dalam penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Dalam penelitian didapatkan sebanyak 150 responden, berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi ditetapkan 132 orang sebagai subjek yang diteliti. Subjek penelitian tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu orang tua Balita yang merokok dan tidak merokok yang masing-masing sebanyak 66 orang. Variabel yang diteliti yaitu kebiasaan merokok orang tua sebagai variabel bebas dan kejadian ISPA pada Balita sebagai variabel terikat. Dalam pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada subjek dengan pendampingan oleh peneliti serta melakukan konfirmasi data yang diisi dalam kuesioner. Adapun gambaran umum dari subjek dalam penelitian ini meliputi karakteristik orang tua Balita (usia, pendidikan, pekerjaan) dan karakteristik Balita (jenis kelamin, usia, dan berat badan). Adapun karakteristik dari subjek penelitian ditunjukkan tabel 1 berikut: Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian 1. 2. 3. Variabel Orang Tua Usia Tua Merokok Tidak Merokok Orang 20-35 tahun Pendidikan Orang Tua n (%) >35 tahun Tidak sekolah 18 (27,2) SD SMP/SMA 27 (40,89) 52 (78,7)
23 4. Pekerjaan Orang Tua Diploma Sarjana Petani 7 (10,56) 28 (42,3) 26 (36) Wirausaha PNS/TNI/POLRI/DLL Balita Ispa Tidak menderita Ispa Jenis Kelamin L Balita P Usia Balita 1-2 tahun 2,1-3 tahun 3,1-4 tahun Berat Badan 9-10 kg Balita 11-15 kg 16-18 kg 5. 6. 7. 8. 77 (116) 29 (43,8) 76 (57,6) 56 (42,4) 68 (51,5) 64 (48,5) 73 (55,4) 39 (29,6) 20 (15,3) 15 (11,3) 109 (47,1) 8 (6,1) 4.1.2. Hasil Analisis Uji Chi-Square Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh, selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis statistik uji Chi-Square dengan menggunakan program statistik. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan kebiasaan merokok orang tua terhadap kejadian ISPA pada Balita. Adapun hasil uji analisis menggunakan uji Chi-Square ditunjukkan pada tabel 2 dan gambar 4 berikut : Tabel 2. Hasil Analisis ISPA Subyek Orang Tidak ISPA tua n (%) n (%) 49 (37,1) 17 (12,9) merokok Orang tua tidak merokok 27 (20,5) 39 (29,5) Nilai p CI 95% OR 0,000 0,537-0,622 4,163
24 Gambar 4. Distribusi Subyek Kejadian ISPA Berdasarkan hasil analisis Chi-Square menunjukkan bahwa nilai pada Pearson Chi-Square nilai p <0,05 dengan nilai signifikansi 0,000 yang berarti atau bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak sehingga disimpulkan terdapat hubungan antara orang tua merokok dengan kejadian ISPA pada Balita. Dari hasil perhitungan Risk Estimate menunjukkan bahwa nilai Odds Ratio Estimate (OR) yaitu 4,163, dengan Lower Bound = 1,990 dan Upper Bound = 8,712. Artinya anak yang orang tuanya merokok memiliki resiko kemungkinan 4,163 kali menderita ISPA dibandingkan dengan anak yang orang tuanya tidak merokok, dengan sekurang-kurangnya memiliki resiko menderita ISPA 1,990 kali dan maksimal 8,712 kali. Convidence Interval (CI) 95% didapatkan hasil 0,537<p<0,622 bagi proporsi Balita yg menderita ISPA. CI menggambarkan hubungan yang bermakna antara kebisaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik I Sleman, Yogyakarta.
25 4.1. Pembahasan Data hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok orang tua terhadap kejadian penyakit ISPA pada Balita. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Ita Kusumawati (2010) yang menyebutkan bahwa kebiasaan merokok dalam keluarga merupakan faktor resiko terhadap kejadian ISPA pada Balita dan lamanya pengobatan. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan yang dikemukakan oleh WHO (2010) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor terjadinya ISPA pada anak adalah asap rokok. Penelitian lain juga mengutarakan bahwa keadaan sosioekonomi yang buruk bersama dengan pendidikan orang tua yang buruk, status nutrisi buruk, kepadatan rumah yang terlalu tinggi, serta adanya polusi dalam rumah merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam terjadinya ISPA pada anak usia dibawah lima tahun, sebanyak 79,4 % Balita berisiko menderita ISPA yang disebabkan oleh faktor kebiasaan merokok keluarga dalam ruangan (Goel et al, 2012; Rudianto, 2013). Kemenkes RI (2012) menyatakan bahwa salah satu penyebab ISPA adalah polusi. ISPA disebabkan oleh faktor risiko polusi udara seperti asap rokok, asap pembakaran di rumah tangga, gas buang sarana transportasi dan industri, kebakaran hutan dan lain lain. Data empiris lain yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Cherghi dan Salvi (2009) yang menyatakan bahwa lingkungan asap rokok merupakan faktor risiko utama penyebab kesehatan paru yang buruk pada anak-anak. Senada dengan hal tersebut hasil penelitian yang dilakukan Wijaya dan Bahar (2014) di Puskesmas Pabuaran Tumpeng Kota Tangerang menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok terhadap kejadian penyakit ISPA pada Balita, hal ini ditunjukkan dengan hasil uji Chi-Square <0,05 dan OR=1,269, dimana Balita lebih beresiko 1,269 kali untuk menderita ISPA. Hal ini sejalan dengan penelitian lain yang mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asap rokok dengan kejadian ISPA pada anak dengan hasil nilai p=0,004 (Hj.Hariani, Nurbaeti, Nurhidayah, 2014).
26 Keberadaan anggota keluarga perokok memiliki prevalensi ISPA sebesar 38,7% dengan Prevalensi Ratio (PR) 1,25 yang berarti bahwa adanya perokok dalam keluarga 1,25 kali berisiko menyebabkan ISPA pada Balita dibandingkan dengan tidak ada anggota keluarga yang merokok. Selain itu dengan terdapatnya anggota keluarga lain yang memiliki riwayat ISPA satu bulan terakhir memiliki prevalensi sebesar 79,25% (Agussalim, 2012; Afandi 2012). Aditama (2011) mengemukakan bahwa gas CO bersifat toksik karena mengganggu ikatan antara oksigen dengan hemoglobin. Hal ini salah satu penyebab rokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan dapat menjadi faktor risiko terjadinya ISPA. Pradono dalam Khatimah (2006) menyatakan bahwa beberapa bahan kimia yang terdapat di dalam rokok yang dapat menyebabkan ISPA diantaranya nikotin, gas karbon dioksida, nitrogen oksida, hidrogen cianida, ammonia, acrolein, acetilen, benzoldehide, urethane, methanol, dan lain-lain. Bahan tersebut dapat merangsang peningkatan sekresi mukus, dan mengakibatkan silia pada saluran pernapasan mengalami kerusakan dan mengakibatkan menurunnya fungsi ventilasi paru. Kejadian ISPA dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya dari ventilasi dan jenis dinding rumah, karena ventilasi dan dinding rumah merupakan pengatur keluar masuknya udara kedalam rumah. Dengan ventilasi yang baik, udara dapat bersirkulasi dengan baik di dalam rumah, sedangkan kualitas ventilasi rumah yang kurang baik dapat memungkinkan udara dan partikel debu masuk ke dalam rumah, yang dapat mempengaruhi kualitas udara yang dihirup. Adanya polusi udara dalam rumah seperti penggunaan bahan bakar saat memasak juga mempengaruhi kejadian ISPA pada Balita (Gertrudis, 2010; Voss et al., 2015). Selain itu asap pembakaran dari keperluan memasak yang tidak bersirkulasi dengan baik didalam rumah dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi kesehatan (Upadhyay, Singh, Kumar, & Singh, 2015). Penggunaan bahan bakar memasak yang tidak memenuhi syarat seperti penggunaan kayu bakar atau minyak tanah beresiko 1,77 kali menyebabkan ISPA pada Balita (Afandi, 2012).
27 ISPA juga terjadi dikarenakan terdapat anggota keluarga lain yang menderita ISPA, kejadian ISPA pada Balita 1,42 kali lebih beresiko dibandingkan dengan tidak adanya anggota keluarga yang menderita ISPA, karena kuman penyebab ISPA mudah tertular dari seseorang yang menderita ISPA kepada orang yang berada disekitarnya (Cahyaningrum, 2012). Faktor lingkungan rumah juga berpengaruh terhadap kejadian ISPA pada Balita, seperti kebiasaan anggota keluarga di tempat tinggal seperti, adanya anggota keluarga meludah sembarangan, kebiasaan mengasuh anak sambil memasak, tidak membuka jendela, mempengaruhi terjadinya ISPA pada (Rahmayatul, 2013; Irianto, 2006). Dari hasil analisis sebelumnya menunjukkan bahwa Balita yang orang tuanya merokok memiliki risiko kemungkinan 4,163 kali menderita ISPA dibandingkan dengan Balita yang orang tuanya tidak merokok. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kurang atau buruk perilaku merokok responden maka akan semakin tinggi angka kejadian ISPA pada Balita dan semakin baik perilaku merokok responden maka kejadian ISPA akan semakin kecil. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Winarni Basirun & Safrudin (2010) yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara perilaku merokok orang tua dan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah dengan kejadian ISPA pada Balita di wilayah kerja Puskesmas Sempor II. 4.2.1 Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian ini diantaranya karena bersifat subyektif yang berdasarkan pada wawancara dan kuesioner saja, selain itu hanya menitikberatkan kebiasaan merokok orang tua Balita terhadap kejadian ISPA pada Balita. Karena faktor resiko terjadinya ISPA sangat banyak dan tidak hanya disebabkan oleh asap rokok saja, beberapa faktor penyebab tersebut dieksklusi seperti orang tua atau anggota keluarga lain yang menderita ISPA dan keluarga yang menggukan kayu bakar untuk keperluan memasak. Namun faktor penyebab tersebut tidak dapat dikontrol sehingga dapat menyebabkan bias yang besar pada penelitian ini.