BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya prevalensi diabetes melitus (DM) akibat peningkatan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. Pendahuluan. I.1 Latar Belakang. Angina adalah tipe nyeri dada yang disebabkan oleh. berkurangnya aliran darah ke otot jantung.

B A B I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) dengan penyakit kardiovaskular sangat erat

BAB 1 PENDAHULUAN. darah termasuk penyakit jantung koroner, gagal jantung kongestif, infark

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan perorangan meliputi pelayanan, promotif, preventif, kuratif, dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DRUG RELATED PROBLEMS

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT 2.1 Rumah Sakit

Topik : Infark Miokard Akut Penyuluh : Rizki Taufikur R Kelompok Sasaran : Lansia Tanggal/Bln/Th : 25/04/2016 W a k t u : A.

Lampiran 1. Ethical Clearance

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator keberhasilan pembanguan adalah semakin

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan adanya peningkatan tekanan darah sistemik sistolik diatas atau sama dengan

BAB I PENDAHULUAN. bertambah dan pertambahan ini relatif lebih tinggi di negara berkembang,

EFEKTIVITAS DAN KENYAMANAN TRANCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (TENS) DALAM MENGURANGI NYERI KRONIK MUSKULOSKELETAL PADA USIA LANJUT

BAB I PENDAHULUAN. (dipengaruhi oleh susunan saraf otonom) (Syaifuddin, 2006). Pembuluh

BAB I PENDAHULUAN. Kardiovaskuler (PKV) (Kemenkes RI, 2012). World Health Organization. yang berpenghasilan menengah ke bawah (WHO, 2003).

BAB I PENDAHULUAN. jantung yang utama adalah sesak napas dan rasa lelah yang membatasi

FORMULIR PELAPORAN EFEK SAMPING OBAT Kode Sumber Data : PENDERITA Nama (Singkatan) Umur : Suku : Berat Badan : Pekerjaan :

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. mencakup dua aspek, yakni kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan peningkatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab nomor satu kematian di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan. dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan.

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Rumah Sakit merupakan suatu sistem atau bagian yang integral

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

PENYAKIT KARDIOVASKULER PADA LANSIA PENYAKIT DALAM RSUP.H.ADAM MALIK MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. diwaspadai. Hipertensi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

populasi yang rentan atau vulnerable sebagai akibat terpajan risiko atau akibat buruk dari masalah kesehatan dari keseluruhan populasi (Stanhope dan

BAB I PENDAHULUAN. penyempitan pembuluh darah, penyumbatan atau kelainan pembuluh

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. masalah kesehatan (Tim Penyusun Kamus, 1988: 758 ). Geriatri berasal dari

BAB I PENDAHULUAN. gizi terjadi pula peningkatan kasus penyakit tidak menular (Non-Communicable

jantung dan stroke yang disebabkan oleh hipertensi mengalami penurunan (Pickering, 2008). Menurut data dan pengalaman sebelum adanya pengobatan yang

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. morbiditas dan mortalitas. Menurut The Seventh Report of The Joint National

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan No 36 tahun 2009 adalah tercapainya derajat kesehatan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. penyakit arteri koroner (CAD = coronary arteridesease) masih merupakan

BAB I PENDAHULUAN. degeneratif seperti jantung koroner dan stroke sekarang ini banyak terjadi

BAB I PENDAHULUAN. sakit memegang peranan penting terhadap meningkatnya derajat kesehatan

Lampiran 1 Form PIO 209

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Menurut Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009, rumah sakit adalah

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat (Rahayu, 2000). Berdasarkan data American. hipertensi mengalami peningkatan sebesar 46%.

I. PENDAHULUAN. Gagal jantung merupakan sindrom yang ditandai dengan ketidakmampuan

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman, mobilitas manusia menjadi. semakin tinggi. Dengan dampak yang diakibatkan, baik positif maupun

BAB 1 PENDAHULUAN. atau gabungan keduanya (Majid, 2007). Penyakit jantung dan pembuluh darah

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. medis lainnya. Sedangkan menurut American Hospital Assosiation rumah sakit

BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

BAB I PENDAHULUAN. nasional yang mencakup disegala bidang antara lain : politik, ekonomi, sosial

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan meningkatnya glukosa darah sebagai akibat dari

2015 RUMAH SAKIT KHUSUS JANTUNG KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan menjadi sekitar 11,34%. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menyatakan

sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,7 %. Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut

BAB I PENDAHULUAN. gangguan kesehatan yang semakin meningkat di dunia (Renjith dan Jayakumari, perkembangan ekonomi (Renjith dan Jayakumari, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun buatan manusia.

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dari 90 mmhg (World Health Organization, 2013). Penyakit ini sering

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dari orang per tahun. 1 dari setiap 18 kematian disebabkan oleh stroke. Rata-rata, setiap

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan gangguan aliran. yang menyumbat arteri. Pada stroke hemoragik, pembuluh darah otak

BAB II LANDASAN TEORI. landasan teori yang digunakan akan dijelaskan di bawah ini.

BAB I PENDAHULUAN. (IPTEK) yang ditemukan seperti berbagai peralatan canggih dibidang

OBAT KARDIOVASKULER. Obat yang bekerja pada pembuluh darah dan jantung. Kadar lemak di plasma, ex : Kolesterol

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

BAB 1 PENDAHULUAN. yang profit maupun yang non profit, mempunyai tujuan yang ingin dicapai melalui

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT. pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. sebagai istilah bergesernya umur sebuah populasi menuju usia tua. (1)

CARDIOMYOPATHY. dr. Riska Yulinta Viandini, MMR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pelanggan terbagi menjadi dua jenis, yaitu: fungsi atau pemakaian suatu produk. atribut yang bersifat tidak berwujud.

EFEKTIFITAS DAN KENYAMANAN TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION

BAB I PENDAHULUAN. mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit jantung. iskemik masih menduduki peringkat pertama di dunia

BAB I PENDAHULUAN. di masyarakat. Pola penyakit yang semula didomiasi penyakit-penyakit menular

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit merupakan instansi penyedia layanan kesehatan untuk

dan komplikasinya (Kuratif), upaya pengembalian fungsi tubuh

BAB 1 PENDAHULUAN. melaksanakan tugasnya dengan baik (Depkes, 2006). Dalam sebuah negara

BAB I PENDAHULUAN. sangat berkaitan erat dengan pelayanan kesehatan. pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang masih menjadi masalah

ASPEK FISIOLOGIS DAN PATOLOGIS AKIBAT PROSES MENUA

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA PASIEN STROKE HEMORAGE DEXTRA DI RSUD PANDANARANG BOYOLALI

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah Sakit Menurut PERMENKES RI nomor 58 tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk menjalankan tugasnya, Rumah Sakit mempunyai fungsi : a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit; b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis; c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan; dan d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan. 5

Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus. Rumah Sakit Umum sebagaimana dimaksud adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Rumah Sakit Khusus sebagaimana dimaksud adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya. Rumah Sakit dapat ditetapkan menjadi Rumah Sakit pendidikan setelah memenuhi persyaratan dan standar rumah sakit pendidikan. Rumah Sakit pendidikan ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan Menteri yang membidangi urusan pendidikan. Rumah Sakit pendidikan merupakan Rumah Sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi kedokteran, pendidikan kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya. Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. Penyelenggaran pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat kompleks. Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuannya masing-masing berinteraksi satu sama lain. Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang harus diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu, membuat semakin kompleksnya permasalahan dalam Rumah Sakit. B. Tinjauan Umum Kardiovaskular pada geriatri Walaupun tanpa adanya penyakit, pada usia lanjut jantung sudah menunjukkan penurunan kekuatan kontraksi, kecepatan kontraksi dan isi 6

sekuncup. Terjadi pula penurunan yang signifikan dari cadangan jantung dan kemampuan sekuncup. Terjadi pula penurunan yang signifikan dari cadangan jantung dan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan curah jantung, misalnya pada keadaan exercise. Bila gejala angina timbul pada usia lanjut, hal ini sudah terjadi pada tingkat exercise yang rendah dan seringkali menandakan penyakit koroner yang cukup berat. Golongan lanjut usia seringkali kurang merasakan nyeri dibanding usia muda dan gejala pertama infark miokard akut seringkali adalah gagal jantung, embolus, hipotensi atau konfusio. Telah lama diketahui bahwa elastisitas dinding aorta pada manusia akan menurun dengan bertambahnya usia. Hal ini disertai dengan bertambahnya kaliber aorta yang pula dapat diperhatikan in vivo pada angiokardiografi. Perubahan ini terjadi sebagai akibat adanya perubahan pada dinding media aorta dan bukan merupakan akibat dari perubahan intima karena aterosklerosis yang memang sering terjadi. Secara histologi ini disebabkan karena perubahan yang progresif pada fungsi jaringan elastik aorta. Pertambahan usia akan menyebabkan hipertrofi pada jantung.pada katup-katup jantung pun terjadi perubahan-perubahan dengan bertambahnya usia. Pada daun dan cincin katup aorta perubahan utama terdiri dari berkurangnya jumlah inti sel dari jaringan fibrosa stroma katup, penumpukan lipid, degenerasi kolagen dan kalsifikasi jaringan fibrosa katup tersebut. Daun-daun yang menjadi kaku karena perubahanperubahan ini dapat menjadi sebab terdengarnya bising sistolik ejeksi pada orang-orang usia lanjut. Dengan peninggian usia terdapat penambahan circumferensi katup aorta paling cepat sehingga pada usia sangat lanjut menyamai katup mitral. Peninggian usia juga menyebabkan penebalan katup mitral dan aorta. Perubahan ini disebabkan degenerasi jaringan kolagen, pengecilan ukuran, penimbunan lemak dan kalsifikasi. Kalsifikasi sering terjadi pada anulus katup mitral yang sering ditemukan pada wanita. 7

Perubahan pada katup aorta dapat terjadi pada daun atau cincin katup. Katup dapat menjadi kaku dan terdengar bising sistolik ejeksi pada orangorang usia lanjut (Pranarka, 2011). Perubahan-perubahan pada katup mitral juaga menyerupai perubahan-perubahan di atas tetapi biasanya dalamderajat yang lebih ringan. Pada katup mitral dapat ditemukan penebalan moduler daun katup dan juga perkapuran cincin katup sehingga dapat menyebabkan terdengarnya bising sistolik insufisiensi katup mitral, apalagi bila daun katup posterior mengalami prolaps ke dalam atrium kiri. Perubahan miokardium karen proses menua yang klasifik berupa brown atrophy, penurunan berat jantung, disertai dengan dengan akumulasi lipofusin pada serat-serat miokardium. Pengatur irama jantung oleh simpul SA ternyata menurun dengan naiknya umur. Denyut jantung maksimum pada excercise juga menurun seiring bertambahnya usia. Isi semenit jantung (cardiac output) juga menurun dengan bertambahnya umur. Ini disebabkan sebagian karena menurunnya isi sekuncup meskipun orang usia lanjut biasanya secara fungsional berusaha memperbaiki isi semenitnya dengan jalan menambah frekuensi denyut jantung. (Darmojo, 2011) C. Rekam medis Rekam medis menurut PERMENKES No. 269/MENKES /PER/III/2008 merupakan berkas yang berisi catatan dan dokumen yang memuat, antara lain identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. 8

D. Tinjauan Umum Adverse Drug Reaction ADR adalah setiap respon terhadap suatu obat yang bersifat merugikan atau berbahaya dan tidak diinginkan dan terjadi pada dosis yang biasanya digunakan pada manusia untuk pencegahan, diagnosis, atau terapi penyakit atau untuk modifikasi fungsi fisiologik. (BPOM RI, 2012) Berdasarkan aksi farmakologinya, ADRs dibagi atas dua klasifikasi yaitu: 1. ADR tipe A (dapat diperkirakan) dengan ciri-ciri a. Dapat diramalkan, b. Tergantung dosis, c. Morbiditas tinggi, d. Mortalitas rendah, e. Tingkat keparahan bervariasi tapi umumnya ringan, f. Umumnya berhubungan dengan dosis, g. Angka kejadian tinggi (80% dari total seluruh kejadian). 2. ADR tipe B (tidak dapat diperkirakan) dengan ciri-ciri a. Tidak dapat diramalkan, b. Morbiditas dan Mortalitas tinggi, c. Tingkat keparahan bervariasi tapi kebanyakan parah, d. Tidak hanya berhubungan dengan dosis, e. Angka kejadian rendah (20% dari total seluruh kejadian), f. Tidak/Jarang tergantung dosis, penanganannya dengan penghentian penggunaan obat. (Srinivasan et al, 2011) E. Tinjauan Umum Geriatri Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut 9

usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Ditinjau dari aspek kesehatan, kelompok lansia akan mengalami penurunan derajat kesehatan baik secara alamiah maupun akibat penyakit. Terdapat beberapa masalah kesehatan akibat gangguan fungsi jasmani dan rohani, dan atau kondisi sosial yang bermasalah. Selain itu terjadi pula perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan massa otot, peningkatan massa dan sentralisasi lemak, serta peningkatan lemak intramuscular. Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatri adalah sindrom geriatri yang meliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia, depresi, infeksi, defisiensi imun, gangguan pendengaran dan penglihatan, gangguan intelektual, kolon irritable, impecunity, dan impotensi. Karakteristik pasien geriatri antara lain, terdapat lebih dari satu penyakit kronis degeneratif (multipatologi), fungsi organ berkurang akibat proses menua (daya cadangan faali menurun), Tanda dan gejala yang tidak khas dapat menyulitkan pengamatan penyakit yang diderita pasien (gejala dan tanda penyakit yang tidak khas), berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari sehingga mobilisasi berkurang (penurunan status fungsional). Kemenkes RI (2013) mengelompokkan lansia menjadi 3 kelompok yang meliputi : 1. Pra Lansia kelompok usia 45-59 tahun 2. Lansia antara 60-69 tahun 3. Lansia beresiko kelompok usia > 70 tahun Martono et al (2011) berpendapat, terdapat 3 hal yang menyakut kesehatan pada usia lanjut yaitu : 1. Status Fungsional Yaitu interaksi antara gangguan fisik, gangguan psikis, dan gangguan sosial/ekonomi. Status fungsional ini akan menunjukkan 10

apakah seorang lansia sebagai individu masih dapat melakukan fungsinya sehari-hari dan secara luas harus dipandang sebagai kesehatan secara menyeluruh, sehingga dapat dilihat bahwa ke-3 faktor yang merupakan gambaran kesejahteraan tersebut adalah sama dengan kesehatan lansia secara luas. 2. Sindroma Geriatri Merupakan sindroma yang terdiri atas keluhan atau persepsi adanya abnormalitas atas kesehatannya oleh penderita usia lanjut atau keluarganya. Keluhan ini sangat beragam dari satu klinik ke klinik yang lain, dan sangat memerlukan perhatian yang serius dari para pengelola kesehatan usia lanjut karena akan menggambarkan masalah kesehatan yang benar-benar dihadapi oleh penderita tersebut. Sebabsebab yang melatari keluhan dalam sindroma geriatri ini seringkali sangat kompleks sehingga dalam geriatri keadaan akhir dari status fungsional penderita menjadi lebih penting untuk dipertimbangkan ketimbang penelusuran latar belakang penyakitnya. 3. Penyakit Pada Usia Lanjut Pada Usia lanjut definisi penyakit adalah sama dengan yang kita definisikan pada populasi lain. Yang berbeda adalah jenis penyakit yang diderita, terutama adalah penyakit degeneratif dengan keadaan yang berbeda dibanding pada populasi yang lebih muda. Walaupun demikian, penyakit infeksi masih perlu ditangani dengan hati-hati, mengingat hal ini dapat menginduksi penyakit lain, selain itu pada infeksi yang berat angka kematiannya cukup tinggi. Walaupun demikian, apabila berbicara mengenai pencegahan penyakit, prinsipprinsip bagi populasi usia lain tetap dipakai. 11

F. Algoritma Naranjo Berisi 10 pertanyaan dengan pilihan jawaban antara lain ya, tidak, tidak tahu. Berfungsi untuk menentukan apakah efek yang merugikan disebabkan oleh obat atau faktor lain. Jawaban pada tiap-tiap pertanyaan memiliki nilai yang berbeda. Jika skor total yang didapat 9 atau lebih besar maka disimpulkan kejadian ADR tinggi (definite). Skor total 5-8 maka kemungkinan terjadi ADR (probable). skor total 1-4 maka kemungkinan merupakan ADR (possible). Skor total 0 atau lebih kecil maka ADR diragukan (doubtful). (Doherty, 2009). Algoritma naranjo merupakan salah satu cara untuk menilai causalitas ADR yang terjadi. 12

Tabel 1. Kuisioner dan Interpretasi skor Algoritma Naranjo Pertanyaan Ya Tidak Tidak Tahu 1. Apakah ada laporan efek samping obat yang serupa? +1 0 0 2. Apakah efek samping obat terjadi setelah pemberian obat yang dicurigai? +2-1 0 3. Apakah efek samping obat membaik setelah obat dihentikan atau obat antagonis khusus diberikan? +1 0 0 4. Apakah efek samping obat terjadi berulang setelah obat diberikan kembali? +2-1 0 5. Apakah ada alternatif penyebab yang dapat menjelaskan kemungkinan terjadinya efek samping obat? -1 +2 0 6. Apakah efek samping obat muncul kembali ketika placebo diberikan? -1 +1 0 7. Apakah obat yang dicurigai terdeteksi di dalam darah atau cairan tubuh lainnya dengan konsentrasi yang toksik? +1 0 0 8. Apakah efek samping obat bertambah parah ketika dosis obat ditingkatkan atau bertambah ringan ketika obat +1 0 0 diturunkan dosisnya? 9. Apakah pasien pernah mengalami efek samping obat yang sama atau dengan obat yang mirip sebelumnya? +1 0 0 10. Apakah efek samping obat dapat dikonfirmasi dengan bukti yang obyektif? +1 0 0 Total Skor Skala Probabilitas Naranjo: Pasti ADR / Highly probable (total skor 9+) Kemungkinan besar ADR / Probable (total skor 5-8) Kemungkinan ADR / Possible (total skor 1-4) Bukan ADR / Doubtful (total skor 0-) 13