RANCANGAN N RANCANGAN RANCANGAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2010 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2010 TENTANG BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

2011, No Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lemba

NOMOR : M.HH-11.HM th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG

LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI III DPR RI DENGAN MENTERI HUKUM DAN HAM RI

BAB 5 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

PASAL-PASAL BERMASALAH PADA NASKAH RUU PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME NO. 15/2003

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

BAB 5 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESI

INDONESIA CORRUPTION WATCH 1 Oktober 2013

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 99 TAHUN 2012 TENTANG

PEMBENTUKAN TIM PENGAWAS INTELIJEN NEGARA SEBAGAI AMANAT UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESI ---- RANCANGAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

Revisi UU KPK Antara Melemahkan Dan Memperkuat Kinerja KPK Oleh : Ahmad Jazuli *

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

Mendamaikan Pengaturan Hukum Penyadapan di Indonesia

RANCANGAN. Tahun Sidang : Masa Persidangan : III Rapat ke :

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

BAB 4 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN SEPARATISME

BAB 6 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

POLITIK HUKUM PEMBERANTASAN TERORISME

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 40/PUU-XV/2017 Hak Angket DPR Terhadap KPK

Pernyataan Pers MAHKAMAH AGUNG HARUS PERIKSA HAKIM CEPI

Perbedaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia

LITERASI MEDIA SEBAGAI UPAYA CEGAH DAN TANGKAL RADIKALISME DAN TERORISME DI MASYARAKAT

SAMBUTAN DIRJEN KESBANGPOL DISAMPAIKAN PADA FORUM KOMUNIKASI DAN KOORDINASI PENANGANAN FAHAM RADIKAL WILAYAH BARAT TAHUN 2014

2015, No. -2- untuk melaksanakan ketentuan Pasal 50 Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan Pasal 47 Peraturan Pemerintah Nomor

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

(BIDANG HUKUM, PERUNDANG-UNDANGAN, HAM DAN KEAMANAN)


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM TERKAIT DENGAN SISTEM PERTAHANAN NEGARA PUSANEV_BPHN. ANANG PUJI UTAMA, S.H., M.Si

CEGAH PERKEMBANGAN RADIKALISME DENGAN DERADIKALISASI

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PP 2/2002, TATA CARA PERLINDUNGAN TERHADAP KORBAN DAN SAKSI DALAM PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA YANG BERAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Mutual Legal Assistance. Trisno Raharjo

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2 Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Neg

RENCANA KEGIATAN PELIBATAN KOMUNITAS SENI BUDAYA DALAM PENCEGAHAN TERORISME MELALUI FORUM KOORDINASI PENCEGAHAN TERORISME (FKPT). TAHUN ANGGARAN 2017

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

LAPORAN SINGKAT KOMISI I DPR RI

LITERASI MEDIA SEBAGAI UPAYA CEGAH TANGKAL RADIKALISME DAN TERORISME DI MASYARAKAT

2018, No bersyarat bagi narapidana dan anak; c. bahwa Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 21 Tahun 2013 tentang Syarat dan Tata

UMUM. 1. Latar Belakang Pengesahan

BAB I PENDAHULUAN. terkait korupsi merupakan bukti pemerintah serius untuk melakukan

TENTANG PENANGANAN ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM

Briefing Pers Menyongsong Pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc Untuk Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa 1997/1998

Transkripsi:

RANCANGAN N RANCANGAN RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPATKOMISI III DPR RI DENGANBADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME (BNPT) --------------------------------------------------- (BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) Tahun Sidang : 2016-2017 Masa Persidangan : I Rapat ke : Sifat : Terbuka Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat. Hari, tanggal : Kamis, 15 September 2016. Waktu : Pukul 10.30 s.d 13.05 WIB Tempat : Ruang Rapat Komisi III DPR RI. Acara : membahas mengenai : 1) Instrumen peraturan perundang-undangan yang masih diperlukan untuk mengefektifkan dan mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi BNPT. 2) Realisasi anggaran semester I tahun 2016. 3) Data dan informasi terhadap penanganan pra kondisi terkait munculnya radikalisme di tengah masyarakat. 4) Tindak lanjut atas Kesimpulan pada Rapat Dengar Pendapat tanggal 13 April 2016. I. PENDAHULUAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPR RI dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dibuka pukul 10.15 WIB oleh Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmond J Mahesa, SH.,MH dengan agenda rapat sebagaimana tersebut diatas. II. POKOK-POKOK PEMBICARAAN 1. Beberapa hal yang disampaikan Komisi III DPR RI kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Meminta penjelasan Kepala BNPT terkait dengan : 1. Instrumen peraturan perundang-undangan apa saja yang masih diperlukan untuk mengefektifkan dan mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi BNPT dalam pemberantasan terorisme sehingga menciptakan kondisi yang kondusif serta rasa aman di masyarakat. 1

2. Keberadaan peraturan perundang-undangan yang berpotensi atau masih mengandung substansi yang bertentangan dengan semangat pemberantasan tindak pidana terorisme. 3. Terkait dengan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pemberantasan Terorisme yang sedang dibahas di DPR RI, agar dijelaskan terkait dengan isu-isu strategis yang perlu dimasukkan dalam rangka penguatan terhadap RUU tersebut. 2) Meminta penjelasan Kepala BNPT terkait realisasi anggaran semester I tahun 2016 (mohon disampaikan secara rinci untuk Belanja Barang dan Modal), serta kendala yang dihadapi setelah dikenakan penghematan anggaran tahun 2016. 3) Meminta penjelasan Kepala BNPT terkait dengan : 1. Data dan informasi terhadap penanganan pra kondisi terkait munculnya radikalisme di tengah masyarakat (program intelijen). 2. Proses penindakan penanganan terorisme yang berpotensi melanggar HAM, sebagai contoh kasus penembakan terhadap Santoso apakah sesuai dengan prosedur hukum acara jika dilihat dari hak warganegara. 3. Data dan fakta mengenai pembinaan terhadap terorisme yang dilakukan selama ini. 4. Tindak lanjut atas Kesimpulan pada Rapat Dengar Pendapat tanggal 13 April 2016. 5. Terkait dengan maraknya aksi-aksi terror yang hingga saat ini masih terus terjadi, meminta penjelasan Kepala BNPT terkait dengan langkahlangkah dan kebijakan strategis dalam rangka penanggulangan tindak pidana terorisme.. 4) Meminta BNPT untuk merancang hukum acara penindakan terorisme serta mekanisme prosedurnya, agar penindakan yang dilakukan oleh BNPT tidak melanggar Hak Asasi Manusia. Proses pembinaan terhadap tersangka terorisme harus dikelola dengan baik. Penindakan perlu dilakukan dengan kehati-hatian dan melibatkan seluruh elemen yang ada. 5) Ada beberapa hal yang disoroti mengenai penanganan teroris di Indonesia khususnya di Poso. Penanganan terorisme masih dilakukan secara ad hoc, belum dilakukan secara menyeluruh. Dalam contoh kasus, Suyono dan Santoso menunjukkan lemahnya fungsi intelijen yang dimiliki oleh negara ini. 6) Sejauh mana dana yang dianggarkan untuk melakukan operasi penanggulangan mental yang dilakukan terhadap warga pesisir di Poso. Santoso dijelaskan sebagai seorang monster terorisme, akan tetapi pada saat dia meninggal, ribuan warga di Poso yang menghadiri pemakamannya. Apakah ini tidak menjadi bahan pemikiran oleh BNPT. 7) Pembinaan terhadap tersangka teroris yang ditangkap dan dimasukkan ke Lapas, tidak efektif, justru menimbulkan bibit-bibit baru teroris, seharusnya BNPT langsung memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai deradikalisasi. Keliru kalau pembinaan dilakukan di dalam penjara terhadap tersangka terorisme, karena ketika mereka keluar, mereka bisa menjadi lebih radikal. 8) BNPT belum maksimal dalam menjalankan fungsi pencegahannya, sejumlah orang-orang yang diduga melakukan tindak pidana terorisme akibat banyaknya aliran dalam agama, kemudian salah dalam memahami konsepkonsep keagamaan. Oleh karena itu BNPT harus melakukan pemetaan 2

secara jelas terhadap adanya potensi-potensi munculnya benih-benih terorisme. 9) Diharapkan BNPT mampu mematahkan konsep radikalisasi yang tumbuh subur di lapas, maupun di beberapa daerah, nama-nama yang dijadikan target oleh aparat, adalah orang biasa, bukanlah orang-orang yang berbahaya. Oleh karena itu pentingnya BNPT untuk memetakan kembali mengenai target-target penindakan terorisme. 10) Belum adanya defenisi yang jelas mengenai terorisme, seharusnya kasus separatisme yang dilakukan itu menjadi bagian dari terorisme, karena menimbulkan bahaya bagi keamanan negara. 11) Bahaya terorisme kedepan bukan semakin sederhana, trend terorisme akan semakin kompleks, BNPT perlu memikirkan road map kedepan dalam pemberantasan terorisme yang selalu diidentikkan dengan kelompok agama tertentu. 12) Terkait revisi UU terorisme dapat berjalan dengan cepat, masukan dari masyarakat sangat banyak, diberharapkan RUU ini dapat menjawab secara jelas ketidakpastian tentang terorisme selama ini. 13) Pandangan-pandangan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu itu penting, meminta penjelasan dan gambaran strategi dari BNPT dengan menyatukan rumusan-rumusan yang ada di masyarakat. 14) Wawasan keagamaan dan nusantara sangat penting, apakah BNPT dapat menjadi badan crisis center dari berbagai persoalan terorisme, mengajarkan nilai-nilai tentang nasionalisme. 15) Meminta penjelasan kepala BNPT, mengenai pelibatan TNI dalam operasi penindakan terorisme, agar pemberantasan terorisme berjalan dengan efektif, untukkedepannyabagaimana pelibatan TNI dan seperti apa. 16) Terkait kasus pengeboman gereja di Sumatera Utara, bagaimana strategi dan langkah konkrit yang akan dilakukan oleh BNPT terkait hal ini. 17) Bagaimana aksi konkrit BNPT terhadap foreign terrorism.bagaimana ancaman terorisme yang masuk ke sekolah-sekolah, seperti adanya pelajaran untuk membenci pemerintahan Indonesia. 2. Beberapa penjelasan dan Jawaban yang disampaikan oleh Kepala BNPTdiantaranya adalah sebagai berikut : 1) Sampai dengan saat ini, merasa belum ditemukan adanya peraturan perundang-undangan yang berpotensi atau masih mengandung substansi yang bertentangan dengan semangat pemberantasan tidak pidana terorisme. 2) Dengan adanya Rancangan Undang-undang (RUU) tentang pemberantasan terorisme yang sedang dibahas di DPR RI, isu-isu strategis yang perlu dimasukkan dalam rangka penguatan terhadap RUU tersebut antara lain : a. Memperjelas tentang pengertian Tindak Pidana Terorisme (Pasal 1 angka 1); b. Perluasan Pengertian tentang Ancaman Kekerasan (Pasal 1 angka 4); c. Memperkuat pengaturan dan pengertian tentang senjata kimia, senjata biologi dan nuklir (Pasal 10A); d. Ketentuan pidana tentang bekerjasama dengan organisasi radikal tertentu di dalam dan/atau luar negeri untuk melakukan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia (Pasal 12A); 3

e. Ketentuan pidana tentang melakukan pelatihan militer dengan organisasi radikal tertentu di dalam dan/atau luar negeri tertentu untuk melakukan Tindak PidanaTerorisme di Indonesia (Pasal 12B); f. Mengatur tentang tindakan memberikan bantuan kepada organisasi radikal tertentu atau memberikan bantuan untuk melakukan latihan militer kepada organisasi radikal tertentu di dalam dan/atau luar negeri (Pasal 12B); g. Perluasan terhadap tindakan perencanaan atau menggerakkan orang lain melakukan Tindak Pidana Terorisme (Pasal 14); h. Perluasan tentang permufakatan jahat, percobaan dan pembantuan (Pasal 15); i. Perluasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi (Pasal 12A ayat (2) dan (3)); j. Perluasan jangka waktu penahanan (Pasal 25); k. Perluasan tentang jangka waktu penangkapan (Pasal 28); l. Pengaturan tentang tindakan penyadapan (Pasal 31); m. Perluasan mengenai saksi dan aparat penegak hukum yang wajib dilindungi dalam penanganan perkara Tindak Pidana Terorisme. Semula hanya saksi, penyidik, penuntut umum dan hakim yang dilindungi, ditambahkan dengan advokat, pelapor, ahli, dan petugas pemasyarakatan (Pasal 33); n. Pengaturan tentang penggunaan alat pembicaraan jarak jauh dan layar monitor (teleconference)(pasal 32); o. Penguatan kelembagaan (tugas dan wewenang) BNPT (Pasal 43 B); p. Pengaturan tentang Hate Speech (Pasal 13 A). 3) Selain itu, isu-isu strategis yang dirasa perlu dimasukkan ke dalam RUU tentang Pemberantasan Terorisme terkait pencegahan ada tiga hal, yaitu : a. penguatan pada aspek pencegahan. Perlu adanya penguatan kerangka hukum untuk mencegah aktifitas organisasi dan individu yang berpotensi mengarah pada tindakan terorisme, misalnya melalui ujaran kebencian (hate speech), provokasi, ajakan bergabung dalam aksi terror dan lainnya. Aspek pencegahan pada area kondisi pra terror tersebut, patut menjadi pembahasan dalam RUU tersebut; b. selain pencegahan, deradikalisasi harus mendapatkan landasan yang kuat dalam undang-undang ini yang mencakup beberapa aspek : instansi/lembaga yang berwenang dalam melakukan deradikalisasi, aspek tahapan deradikalisasi, dan sinergi kelembagaan dalam program deradikalisasi; c. persoalan aktifitas terorisme di dunia maya perlu mendapatkan perhatian serius sehingga bisa masuk ke dalam poin-poin pembahasan dalam RUU tentang terorisme. Potensi ancaman terorisme di dunia semakin hari semakin masif dan menjadi alat efektif sarana propaganda, komunikasi, pelatihan, dan pembangunan jaringan kelompok teror. 4) Kendala dan hambatan yang dirasa masih di hadapi dalam pemberantasan terorisme, adalah koordinasi dengan K/L terkait dan payung hukum. Berdasarkan peraturan yang ada, BNPT memang telah diamanatkan sebagai leading sector dalam mengkoordinasikan perumusan kebijakan, strategi dan program nasional penanggulangan terorisme. Akan tetapi dalam tataran praktek, melalui implementasi program dan kegiatan fungsi 4

koordinasi belum mampu menghasilkan program dan kegiatan yang sinergis dan cenderung parsial. 5) Payung hukum yang kuat tentu saja dibutuhkan dalam rangka menguatkan fungsi koordinasi yang diamanatkan kepada BNPT. Hal yang paling mungkin dilakukan selama ini oleh BNPT dengan melakukan MoU dengan K/L terkait dalam bentuk penguatan koordinasi dan sinergi program penanggulangan terorisme, antara lain : MoU dengan Komnas HAM, MoU dengan Kemenpora, MoU dengan Negara lain, yaitu Tajikistan dan Uzbekistan. 6) Upaya BNPT dalam melaksanakan program prioritas adalah : a. Peningkatan upaya deradikalisasi dan kontra radikal terorisme, melalui operasi intelijen pencegahan dan kontra propaganda dan pelibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT); b. Deteksi dini dan penanggulangan terorisme, melalui perumusan kebijakan pencegahan terorisme; c. Penindakan kejahatan terorisme secara proporsional dan menghormati HAM; d. Peningkatan penegakan hukum pada organisasi terorisme, melalui operasional satgas penindakan dan kesiapsiagaan nasional; e. Peningkatan penegakan hukum pada organisasi terorisme, melalui kerjasama regional dan multilateral. f. Peningkatan perlindungan WNI/BHI di luar negeri, melalui resolusi PBB dan perlindungan WNI dalam penanggulangan terorisme dan analisa perkembangan terorisme lingkup bilateral. g. Pembentukan dan memimpin satuan tugas yang meliputi semua kementerian/instansi terkait yang mempunyai korelasi tugas dengan penanggulangan terorisme. 7) Dalam menangani pra kondisi radikalisme di tengah masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dalam hal program intelijen melaksanakan kegiatan intelijen dengan pendekatan soft, seperti kontra intelijen, dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia yang dianggap rawan terorisme, yaitu : Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Seluruh Jawa dan sebagainya. Upaya lain yang dilaksanakan adalah operasi penggalangan intelijen terhadap tokoh, keluarga, kerabat maupun jaringan yang dianggap dapat mempengaruhi pelaku atau kelompok terorisme yang radikal agar tidak melakukan aksi teror, dan dari kegiatan ini pun dapat menggali informasi tentang aktifitas jaringan dan kelompok teror di Indonesia 8) Pada proses penindakan terhadap tersangka terorisme, telah dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada dan terukur, dalam hal ini pihak Polri maupun BNPT selalu mengedepankan penegakan hukum terhadap pelaku terorisme sehingga dalam setiap kebijakan yang diambil maupun diputuskan seluruh tersangka dapat melalui proses hukum (Criminal Justice System). 9) Dalam melaksanakan program pembinaan yang dilakukan oleh BNPT dibagi dalam dua kategori, yakni : a. Program Pembinaan di Dalam Lapas, dengan sasaran pada narapidana terorisme. Data jumlah narapidana terorisme dalam program pembinaan BNPT adalah 242 narapidana yang tersebar di 70 Lapas dan 2 Rutan. 5

Hasil pembinaan yang dilakukan selama ini telah diklasifikasi dalam 4 level berdasarkan tingkat radikalisme. b. Program Pembinaan di Luar Lapas (di tengah masyarakat), dengan sasaran mantan narapidana, mantan teroris, keluarga dan jaringannya. Jumlah orang dalam program pembinaan ini sebanyak 478 orang yang tersebar di 17 provinsi. 10) Terkait tindak lanjut atas kesimpulan RDP pada tanggal 13 April 2016, saat ini telah dilakukan upaya membangun koordinasi yang sinergis lintas kementerian dan lembaga dalam upaya penanggulangan terorisme. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengajak 17 kementerian dan lembaga terkait dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan pada tanggal 22 Agustus 2016 untuk membuat rencana aksi bersama yang sinergis dalam penanggulangan terorisme. Pertemuan ini nantinya akan ditindaklanjuti dengan pembentukan satuan tugas (task force) lintas kementerian. 11) Terkait langkah strategis dalam menanggulangi terorisme yang hingga saat ini terus menjadi ancaman adalah dengan melakukan penguatan sinergi kelembagaan terutama dalam aspek pencegahan dini. Dalam hal ini butuhnya penguatan sinergi antara aparat intelijen dalam hal sharing data dan informasi terkait potensi ancaman. Selain itu, perlunya penguatan sinergi kelembagaan dalam aspek deradikalisasi dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga untuk memutus mata rantai ideologi dan paham kekerasan di tengah masyarakat, utamanya Kementerian Kominfo dalam mencegah maraknya penyebaran radikalisme di dunia maya bagi semua elemen masyarakat. 3. Beberapa hal penjelasan tambahan yang disampaikan oleh Kepala BNPT diantaranya adalah sebagai berikut : Penjara bukan tempat yang steril untuk deradikalisasi, oleh karena itu penting untuk membuat satu tempat khusus orang-orang terduga dan terpidana terorisme agar dapat dibina dengan baik dan kemudian menanamkan konsep-konsep deradikalisasi. Terkait penanganan radikalisasi di Poso, BNPT telah membangun pesantren yang kemudian akan jadi tempat pembinaan bagi masyarakat yang terdeteksi Dalam program deradikalisasi dan yang lainnya, Indonesia adalah yang baik dalam pengelolaannya, negara lain banyak belajar dari Indonesia yang menjadi acuannya. Penjara saat ini menjadi perhatiankita semua, bahkan ada pemikiran untuk dipisahkan antara para warga binaan sesuai dengan kasus yang dialaminya. Bahwa kinerja BNPT belum maksimal dikarenakan belum adanya esselon II yang mempunyai akses ke kementerian. BNPT sudah menjalankan program pemerintah untuk tepat sasaran, tepat prioritas dalam penggunaan anggaran yang minim. Bahwa tetap menjadi perhatian semua program BNPT yang ada di berbagai daerah. Terkait dengan adanya mahasiswa yang tidak bekerja, sudah terdapat beberapa orang yang telah diberdayakan. Bahwa aspek spiritual menjadi salah satu program BNPT untuk menyembuhkan pelaku terorisme. Pada semester I tahun 2016 ini, BNPT memang mengalami keterbatasan anggaran 6

Bahwa didaerah konflik penanganannya luar biasa dan dampaknya berkepanjangan, daerah konflik itu awal tubuhnya terorisme. Kritik penindakan dan pelanggaran HAM dalam kasus terorisme sudah ada dalam laporan BNPT dalam rapat hari ini. Minggu depan akan dievaluasi dengan Komnas HAM sehingga ada perspektif bersama. Bahwa BNPT mencoba meluruskan pandangan yang menyimpang ini, bekerja sama dengan ulama-ulama yang siap untuk membantu. Prioritas BNPT adalah pencegahan dengan mengedapankan proses peradilan pidana. Definisi terorisme belum ada, dalam UU hanya ada definisi tindak pidana terorisme dan selanjutnya akan dibicarakan dipansus definisi terorisme itu. Dari disiplin ilmu, yang mengetahui ilmu/pemahaman itu adalah para profesor-profesor yang akanikutserta mensosialisasikan sehingga betul-betul terintegrasi dengan baik.jugamelibatkan beberapa narasumber lain yang secara spiritual mampu untuk menjadi narasumber. Terkait dengan penyebaran atau infiltrasi menggunakan teknologi, dari data BNPT mereka menggunakan infiltrasi tersebut dengan media internetinternet. Berkenaan dengan hal tersebut,diikutsertakan para alim ulama untuk membantu menetralisir penyebaran tindkan terorisme tersebut. BNPT akan memetakan ajaran-ajaran yang membenci NKRI, sebagai contoh dengan menolak manyanyikan lagu Indonesia Raya, dan lain-lainnya. BNPTtelah memetakan beberapa hal disekolah-sekolah dan ini bukan menjadi tanggung jawab BNPT, melainkan Kementerian Pendidikan. Belum ada agen didunia yang menyalurkan beberapa orang untuk bergabung dengan ISIS. Indonesia telah bekerjasama dengan pemerintah Turki terkait dengan adanya beberapa WNI yang mencoba bergabung dengan ISIS untuk dilakukan pencegahan. Indonesia tidak memihak hanya memantau pergerakan WNI di sana, baik melalui sosial media atau dideportasi (deportis) dan Internis (menyebrang masuk ke Siria) atau ditangkap di wilayah Turki yang lain. Selain itu juga mengadakan kerjasama dengan negara Yordan. Bahwa kita tidak boleh menyinggung paham-paham yang lain, tapi melakukan penindakan berdasarkan Due Proses of Law.Terhadap mereka yang jelas terlibat dalam aksi terorismeharus mendapatkan perhatian khusus. III. KESIMPULAN/PENUTUP Rapat Dengar Pendapat Komisi IIIDPR RI dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengambil kesimpulan, sebagai berikut : 1. Komisi III DPR RI mendorong BNPT untuk membuat rumusan yang jelas tentang Teror, Teroris dan Terorisme serta menyusun Roadmap dan SOP Program Pembinaan terhadap Narapidana Terorisme, Mantan Terorisme, Keluarga dan Jaringannya dengan melibatkan pendekatan keilmuan dan keagamaan dalam masyarakat dan pada khususnya di Lapas-lapas dengan melakukan Pengamatan, Pembinaan dan Pengawasan secara langsung dalam rangka membangun upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme dalam bingkai HAM; 7

2. Komisi III DPR RI mendukung dan mendesak BNPT untuk mempercepat pembentukan satuan tugas (task force dan crisis center) Lintas Kementrian dan Lembaga sebagai upaya menciptakan koordinasi dan kehati-hatian dalam penanggulangan terorisme.. Rapat ditutup pada pukul 13.05WIB. 8