OLEH : TOMI DWICAHYO NRP :

dokumen-dokumen yang mirip
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintah di

PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN PENANGANAN RUAS-RUAS JALAN DI KOTA SAMARINDA

BAB III METODE KAJIAN

III. METODE PENELITIAN

2 METODE PENELITIAN. Kerangka Pemikiran

METODOLOGI. Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Februari Juni 2010 di DAS

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN. 3.1 Penerapan AHP dalam Menentukan Prioritas Pengembangan Obyek Wisata Di Kabupaten Toba Samosir

BAB 3 METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

PEMILIHAN SUPPLIER ALUMINIUM OLEH MAIN KONTRAKTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

PRIORITAS PENGEMBANGAN FASILITAS WISATA BAHARI PANTAI SLOPENG MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

3 METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP - MADURA

BAB III METODE PENELITIAN

III METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Penentuan Metode Destilasi Minyak Pala

Prioritas Pengembangan Jaringan Jalan Pendukung Kawasan Strategis Di Pulau Sumbawa

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

Pemanfaatan Lahan pada Lokasi Bekas Tambang Tanah Urug di Kecamatan Ngoro, Mojokerto

PENENTUAN LOKASI PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN PERDESAAN BERKELANJUTAN KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA

OPTIMASI PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI KOTA MANADO DENGAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS)

DAFTAR ISI. PRAKATA... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xii

Penyebaran Kuisioner

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

Gambar 3. Kerangka pemikiran kajian

EFEKTIFITAS PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PEMILIHAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH CITRA DENGAN MENGGUNAKAN EXPERT CHOICE

BAB 3 METODE PENELITIAN

TUGAS AKHIR. Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar sarjana Strata Satu (S1) Disusun oleh: : Agung Fajar Vigiyanto

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE

3 METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. sistem yang telah dibuat sebelumnya. Sehingga diharapkan dengan adanya

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

METODA PENELITIAN. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian. Mulai

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Obyek pada penelitian ini adalah CV. Bagiyat Mitra Perkasa. Lokasi

2.3.1 Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan Penetapan Kriteria dan Sub Kriteria Pemilihan Pemasok Analytic Hierarchy Process

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHICAL PROCESS (AHP) UNTUK PEMILIHAN DOSEN BERPRESTASI DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

VIII. ANALISIS HIRARKI PROSES (AHP)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8

Analisa Pemilihan Kualitas Android Jelly Bean Dengan Menggunakan Metode AHP Pendekatan MCDM

BAB III METODOLOGI PENILITIAN

ANALISIS PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN KEGIATAN PENINGKATAN JALAN KOTA DI KOTA BANDAR LAMPUNG

MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PENILAIAN DESA DALAM PROGRAM DESA MAJU INHIL JAYA. Muh. Rasyid Ridha

3. ANALISIS FAKTOR KEBIJAKAN PENGEMBANGAN HUTAN KOTA 3.1. PENDAHULUAN

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah

ANALISIS SISTEM PEMBAYARAN PERKULIAHAN DI UKRIDA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

K U E S I O N E R. Intensitas Pentingnya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAKSI Kata Kunci: Kinerja Vendor , Analytical Hierarchy Process , QCDFR.

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

IV METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperkuat dan mendukung analisis penelitian adalah:

PENGELOLAAN PULAU GILIKETAPANG, KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR, DENGAN MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Gambar 1. Lokasi Penelitian Figure 1. Research area

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III SOLUSI BISNIS

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB III METODOLOGI PENELITIAAN

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

STUDI ALTERNATIF LOKASI LAHAN TERMINAL BUS KOTA SABANG

STUDI PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN DI KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU DENGAN MENGGUNAKAN METODE MULTI KRITERIA

METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.2. Alat dan Bahan 3.3. Data yang Dikumpulkan

BAB I PENDAHULUAN. moda transportasi (jarak pendek antara 1 2 km) maupun dengan moda

METODOLOGI PENELITIAN

APLIKASI AHP UNTUK PENILAIAN KINERJA DOSEN

IV. METODE PENELITIAN

LAMPIRAN II HASIL ANALISA SWOT

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 1, (2016) ISSN: ( Print)

SPK Evaluasi Peserta LBD (Local Business Development) Dengan Metode AHP (Studi Kasus Chevron Indonesia Company)

PEMILIHAN PRIORITAS KOMODITAS AGROWISATA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DI DESA CANDIKUNING II, KEC. BATURITI, KAB. TABANAN.

Sabdo Wicaksono Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Gunadarma, Jakarta

BAB I PENDAHULUAN. tersebut ( 10,27 % dari luas wilayah Kab. Tanah karo ). dan produksi sebanyak ton sehingga produktivitasnya adalah 56,10

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lampung Timur. Lokasi penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi saat ini, bidang pariwisata pantai merupakan salah satu kegiatan atau hal yang mempunyai

Lampiran 1. Data Matrix Input AHP. 1. Kriteria Berdasarkan Fokus Peningkatan Kualitas Proses Layanan Pasang Baru

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kebutuhan akan transportasi dan merangsang perkembangan suatu wilayah atau

Transkripsi:

OLEH : TOMI DWICAHYO NRP : 4301.100.036

LATAR BELAKANG Kondisi Kab. Blitar merupakan lahan yang kurang subur, hal ini disebabkan daerah tersebut merupakan daerah pegunungan berbatu. Sebagian Kab. Blitar terletak di pesisir Samudra Indonesia memiliki beberapa pantai berpasir putih yang berpotensi besar khususnya dalam bidang pariwisata. Pengembangan potensi kawasan pantai diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah dan dapat memberdayakan masyarakat Blitar sendiri.

PERUMUSAN MASALAH & TUJUAN Bagaimana kebijakan pengelolaan potensi wisata pantai di Kabupaten Blitar berbasis budaya lokal masyarakat? Bagaimana analisa sensitivitas perubahan nilai vektor prioritas?

MANFAAT Mengetahui analisa kebijakan pengelolaan potensi wisata pantai di kabupaten Blitar berbasis budaya lokal masyarakat. Mengetahui analisa sensitivitas perubahan nilai vektor prioritas.

RUANG LINGKUP PENELITIAN Penelitian hanya dikakukan di pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Data primer didapat dari hasil survey ke masyarakat wilayah pesisir, sedangkan data sekunder didapat dari instansiinstansi terkait. Metode yang dipakai adalah AHP (Analytic Hierarchy Proces).

METODOLOGI PENELITIAN Mulai Survei dan studi literatur Diagram alir dalam pengerjaan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut: Data Primer (wawancara, quisioner) Identifikasi permasalahan Pengumpulan Data Data Sekunder (instansi terkait) Pengolahan data dan pembobotan (metode AHP dengan expert choice) Analisa masalah dan penentuan prioritas pengelolaan pesisir Pembahasan hasil analisa Kesimpulan Selesai

Tahapan pengerjaan : Urutan pengerjaan Tugas Akhir sebagai berikut: Tahap Identifikasi Permasalahan Pada tahap ini, yang dilakukan adalah mendefinisikan permasalahan dan tujuan yang akan dibahas. Untuk dapat mendefinisikan permasalahan tersebut, maka dilakukan survei dan studi literatur. Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam pengerjaan Tugas Akhir ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui studi ke lapangan dan wawancara dengan masyarakat sekitar kawasan pantai menggunakan kuisioner. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui instansi-instansi yang terkait. Pengolahan Data Data yang diperoleh, selanjutnya diolah menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan Expert Choice Professional software version 9.0. Pada tahapan ini, juga dilakukan pembobotan terhadap model hirarki.

Analytic Hierarchy Process (AHP) Proses : 1) Penyusunan Hirarki Ada 2 proses yang dilakukan dalam tahapan ini, yaitu mengidentifikasi permasalahan dan pembuatan model hirarki yang direncanakan. 2) Evaluasi Hirarki Pada tahapan ini, proses yang dilakukan adalah pengisian matrik perbandingan berpasangan, dan selanjutnya dicari bobot prioritas setiap elemen dalam matrik. Kemudian dihitung indeks konsistensi dan rasio konsistensi (CR). 3) Analisa Sensitivitas Analisa tersebut digunakan untuk memprediksi keadaan apabila terjadi suatu perubahan yang besar dari bobot prioritas ataupun urutan prioritas. 4)Analisa dan Pembahasan Pada tahapan ini, data yang telah diolah akan dianalisa dan dibahas.

Lokasi Studi Kondisi Umum Wilayah Kabupaten Blitar 111 40-112 10 Bujur Timur dan 07 58-08 9 Lintang Selatan.

Lokasi Studi Peta Kabupaten Blitar Kec. Wonotirto

Tahapan pengerjaan : Model Hirarki

Tahapan pengerjaan : Untuk responden sebanyak n, maka sebelum membuat matrik perlu dicari nilai rata-rata geometrik dari tiap pasangan komponen : n a1xa2xa3x... xan = aw dengan : a = skor penilaian responden n = jumlah responden aw = nilai rata-rata geometrik Nilai rata-rata geometrik dari tiap pasangan komponen itulah yang kemudian dimasukkan ke dalam matrik perbandingan berpasangan.

Tahapan pengerjaan : Pengolahan data : Data yang diperoleh 100 kuisioner 10% 10% 80% masyarakat pemda investor

Tahapan pengerjaan : Level Pertama (Pelaku) Vektor Prioritas dan Consistency Ratio berdasarkan pelaku Vektor Prioritas Pelaku Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,450 0,400 0,350 0,300 0,250 0,200 0,150 0,100 0,050 0,000 MASYARAKAT PEMDA INVESTOR PELAKU

Tahapan pengerjaan : Level kedua (Bidang) Vektor Prioritas dan Consistency Ratio Berdasarkan Bidang Vektor Prioritas Bidang Pengelolaan Wisata Pantai 0,500 VEKTOR PRIORITAS 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 EKONOMI SOSIAL BUDAYA LINGKUNGAN HUKUM Masyarakat Pemda Investor BIDANG

Tahapan pengerjaan : Level Ketiga (Aspek) Vektor Prioritas dan Consistency Ratio Berdasarkan Bidang Ekonomi Vektor Prioritas Bidang Ekonomi Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 1,000 0,800 0,600 0,400 0,200 0,000 Peluang Investasi Aspek Kesejahteraan Masyarakat Pemda Masyarakat Investor

Tahapan pengerjaan : Lanjutan Vektor Prioritas dan Consistency Ratio Berdasarkan Bidang Sosial Vektor Prioritas Bidang Sosial Pengelolaan Wisata Pantai 1,000 Vektor Prioritas 0,800 0,600 0,400 0,200 0,000 Perilaku Masyarakat Pendidikan Pemda Mas yarakat Investor Aspek

Tahapan pengerjaan : Lanjutan Vektor Prioritas dan Consistency Ratio Berdasarkan Bidang Budaya Vektor Prioritas Bidang Budaya Pengelolaan Wisata Pantai 1,000 Vektor Prioritas 0,800 0,600 0,400 0,200 0,000 Kelestarian Budaya Aspek Pengembangan Budaya Pemda Masyarakat Investor

Tahapan pengerjaan : Lanjutan Vektor Prioritas dan Consistency Ratio Berdasarkan Bidang Lingkungan Vektor Prioritas Bidang Lingkungan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 1,000 0,800 0,600 0,400 0,200 0,000 Kerusakan Lingkungan Aspek Ketersediaan Lahan Pemda Masyarakat Investor

Tahapan pengerjaan : Lanjutan Vektor Prioritas dan Consistency Ratio Berdasarkan Bidang Hukum Vektor Prioritas Bidang Hukum Pengelolaan Wisata Pantai 1,000 Vektor Prioritas 0,800 0,600 0,400 0,200 Pemda Masyarakat Investor 0,000 Penegakan Hukum Aspek Kebijakan Pemerintah

Tahapan pengerjaan Level keempat(alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai) Aspek Peluang Investasi Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai masyarakat pemda investor Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Kesejahteraan Masyarakat Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,500 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 masyarakat pemda investor Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Perilaku Masyarakat Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,500 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 masyarakat pemda investor Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Pendidikan Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,500 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai masyarakat pemda investor Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Kelestarian Budaya Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,500 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai masyarakat pemda investor Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Pengembangan Budaya Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai masyarakat pemda investor Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Kerusakan Lingkungan Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,500 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai masyarakat pemda investor Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Ketersediaan Lahan Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai Vektor Prioritas 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai masyarakat pemda investor Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Penegakan Hukum Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai 0,500 Vektor Prioritas 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 masyarakat pemda investor Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai Alternatif Kebijakan

Tahapan pengerjaan Aspek Kebijakan Pemerintah Vektor Prioritas Alternatif Kebijakan Pengelolaan Wisata Pantai 0,500 Vektor Prioritas 0,400 0,300 0,200 0,100 0,000 Pengelolaan Pariw isata yang terarah Peningkatan Sarana dan Prasarana Pembinaan dan Kerjasama Masyarakat Rehabilitasi dan Konservasi Pantai masyarakat pemda investor Alternatif Kebijakan

Input

Hasil Pengerjaan Nilai Vektor Prioritas dan Rasio Konsisitensi

Analisis Sensitivitas Pengelolaan Potensi Wisata Pantai di Kabupaten Blitar Penambahan 5% 10% 20%