IDENTITAS WONG BANYUMAS Penulis: Teguh Trianton Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2013 Hak Cipta 2013 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit. Ruko Jambusari No. 7A Yogyakarta 55283 Telp. : 0274-889836; 0274-889398 Fax. : 0274-889057 E-mail : info@grahailmu.co.id Trianton, Teguh IDENTIAS WONG BANYUMAS/Teguh Trianton - Edisi Pertama Yogyakarta; Graha Ilmu, 2013 X + 80 hlm, 1 Jil.: 26 cm. ISBN: 978-979-756-909-9 1. Sastra I. Judul
Kata Pengantar Puji Illahi Rabb semesta alam sentral segala aktivitas kita yang telah menurunkan Al-Qur an dengan bahasa yang sangat indah sehingga tidak salah jika disebut Maha Karya Sastra. Atas limpahan rahmat serta hidayah-nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan buku ini. Sholawat dan salam sejahtera semoga senantiasa tercurah pada uswah kita, Rasulullah, Muhammad SAW, beserta para pengikutnya termasuk kita hingga akhir zaman. Amin. *** Naskah ini sebenarnya merupakan hasil penelitian untuk tugas akhir (tesis) pada Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Judul aslinya Identitas Wong Banyumas pada Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin Karya Ahmad Tohari dalam Perspektif Kajian Budaya dan Estetika Resepsi, sebagai Alternatif Pemilihan Bahan Ajar Kajian Prosa Fiksi Berbasis Kearifan Lokal. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mendeskripsikan representasi identitas wong Banyumas dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin, (2) mengungkap resepsi pembaca ideal dan pembaca riil tentang identitas wong Banyumas tersebut, dan (3) mendeskripsikan implikasi nilai kearifan lokal sebagai bentuk konservasi budaya Banyumas melalui apresiasi sastra. Gagasan utama yang mendasari penelitian ini adalah bahwa identitas dibangun melalui proses yang panjang, bergerak selaras dengan perkembangan budaya. Identitas dalam kontruksi budaya dapat mengalami pergeseran, perubahan, lentur, bahkan luntur. Diskursus ihwal identitas tidak pernah tuntas dari pertarungan perebutan batas makna waktu dan ruang studi budaya. Identitias dalam konteks budaya menjadi demikian penting. Ia menjadi penanda seberapa besar seseorang merasa sebagai bagian dari sebuah entitas budaya atau etnis
vi Identitas Wong Banyumas tertentu dan bagaimana identitas ini memengaruhi perasaan, persepsi dan perilakunya. Identitas budaya tidak pernah lepas dari faktor psikologis pribadi terhadap kelompoknya. Kontestasi tentang batas pemaknaan identitas ini selalu menarik, lantaran identitas bukan sesuatu yang tetap, ia selalu berubah. Konstruksi identitas dibangun melalui proses yang panjang. Batas identitas selalu memunculkan titik perbedaan, ia terus bergerak selaras dengan perkembangan peradaban. Sekali lagi, identitas dalam konstruksi budaya selalu mengalami pergeseran, perubahan, lentur, bahkan luntur. Jika kebudayaan yang dianut sekelompok orang mulai luntur, maka luntur pula identitas anggota kelompok tersebut. Di sinilah pentingnya konservasi nilai-nilai budaya guna meneguhkan konstruksi identitas dan jati diri bangsa. Anasir budaya sebagai konstruksi jadi diri dapat digali dari khasanah teks sastra, sebab sastra tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Karya sastra acap kali lahir sebagai respon sastrawan terhadap situasi sosial budaya yang melingkupinya. Sastra dapat lahir sebagai resistensi terhadap dominasi, pada saat yang sama ia hadir sebagai wujud penerimaan kondisi budaya. Karya sastra secara simultan merefleksikan jati diri penulisnya sekaligus merepresentasikan identitas kultural masyarakat di sekitarnya. *** Dengan daya imajinasi, sastrawan menciptakan tokoh yang dilabeli karakter tertentu. Pemilihan dan penyematan karakter ini dipengaruhi wawasan kearifan lokal (local wisdom) yang mendominasi proses kreatif sastrawan. Dengan begitu, sastra selalu terlibat dalam segala aspek kehidupan, termasuk pada ranah kebudayaan. Pada saat yang sama, arena kultural sastra menjadi subordinat wilayah kekuasaan yang dilegitimasi oleh kepemilikan modal ekonomi dan politik. Inilah yang terjadi pada masyarakat Banyumas tempo dulu, yang secara geopolitik berada di wilayah tepian. Sejarah wong Banyumas menunjukan bahwa mereka secara politik, natural, kultural dan sosial berada pada posisi marginal. Wong Banyumas hidup jauh dari hegemoni keraton, mereka tumbuh di wilayah tepian yang dekat dengan sumber daya alam berupa sungai, lembah dan gunung, adoh ratu cedak watu. Adagium sederhana ini secara kultural melegitimasi wong Banyumas untuk bersikap egaliter, berkarakter cablaka, selalu sabar lan nrima, berjiwa ksatria, dan cancudan. Cablaka secara kontekstual maknanya serupa dengan blakasuta yaitu berbicara blak-blakkan atau tanpa tedeng aling-aling. Dalam khasanah bahasa Banyumas, secara etimologi kata cablaka berasal dari kata cah yang berarti bocah dan blaka. Teks kearifan lokal Banyumas juga menyebutnya thokmelong yaitu berterus terang atau apa adanya. Cablaka bagi wong Banyumas sesungguhnya merupakan bentuk kejujuran paling hakiki berkenaan dengan data dan fakta atau kasunyatan urip. Namun pada konteks pergaulan sehari-hari cablaka tidak hanya merepresentasikan kejujuran fakta secara banal. Cablaka merupakan sendi dan sandi kehidupan. Cablaka adalah kode kultural dalam komunikasi yang intim dan nirwatas. Itulah sebabnya, untuk menandai kecablakaan tidak cukup dengan mengidentifikasi data dan fakta yang dituturkan wong Banyumas dengan dialek ngapak-nya.
Pengantar vii Pada kondisi kontemporer kita sulit mencari referensi aktual anatomi karakter wong Banyumas tersebut. Perkembangan peradaban meniscayakan berubahnya budaya dan watak wong Banyumas. Tetapi secara tekstual, jejak kecablakaan wong Banyumas yang genuine masih dapat kita lacak pada kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari Senyum Karyamin menarasikan kisah hidup bangsa penginyongan dengan karakter asli. Narasi-narasi pendek yang ada di dalamnya secara subtil dan sublim merepresentasikan identitas kebanyumasan. Tohari mendayagunakan tindak tutur, sikap, tingkah laku, pandangan hidup, nama tokoh, dan latar cerita untuk mengikat keseluruhan ciri wong Banyumas dalam cerpen. Akhirnya, penulis berharap semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan sumbangan berharga bagi mahasiswa, para dosen, guru bahasa dan sastra Indonesia, dan semua pembaca yang peduli dengan persoalan kebudayaan. Buku sederhana ini dapat dijadikan referensi kajian budaya kebanyumasan. Wassalamu alaikum wr, wb. Purwokerto, 08 Februari 2012 Penulis, Teguh Trianton
Daftar Isi KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I STUDI PENDAHULUAN; IDENTITAS, SASTRA, DAN REPOSISI PEMBACA 1 BAB II BAB III IDENTITAS WONG BANYUMAS, ESTETIKA RESEPSI, DAN SASTRA BERKEARIFAN LOKAL 9 A. Identitas wong Banyumas 10 B. Estetika Resepsi 18 C. Sastra Berkearifan Lokal 24 IDENTITAS WONG BANYUMAS DALAM TEKS SASTRA; REINTERPRETASI SENYUM KARYAMIN 29 A. Wong Banyumas Cablaka 29 B. Wong Banyumas Sabar lan nrima 38 C. Wong Banyumas Berjiwa Ksatria 44 D. Wong Banyumas Cancudan 48 E. Resepsi Pembaca Ideal 52 F. Resepsi Pembaca Riil 57 BAB IV KONSERVASI IDENTITAS KEBANYUMASAN 59 A. Diktum Kearifan Lokal Banyumas 60 B. Kearifan Lokal dan Pendidikan Karakter 62 BAB V PENUTUP 71 DAFTAR PUSTAKA 75 TENTANG PENULIS 79 -oo0oo- v ix