Muhammad Jusuf Kalla: Investor Yang Progresif

dokumen-dokumen yang mirip
Jusuf Kalla dan Wiranto: Perpaduan progresitas dan loyalitas. Oleh: Nurlyta Hafiyah, Niniek L. Karim, Bagus Takwin, dan Dicky Pelupessy

Adang Daradjatun: Penjaga Harmoni Masyarakat. Oleh: Niniek L. Karim, Bagus Takwin, Dicky Pelupessy, Nurlyta Hafiyah

SBY Boediono: Paduan Kehatian-Hatian dan Kecermatan yang Menonjol Oleh: Nurlyta Hafiyah, Niniek L. Karim, Bagus Takwin, dan Dicky Pelupessy

Dani Anwar: Pekerja Keras dengan Ekspresi Selektif. Oleh: Niniek L. Karim, Bagus Takwin, Dicky Pelupessy, Nurlyta Hafiyah

SBY: Berjuang Menjadi Pahlawan. Oleh: Bagus Takwin, Niniek L. Karim, Nurlyta Hafiyah, dan Dicky C. Pelupessy

PRIJANTO: TANGAN KEDUA YANG SETIA DAN BISA DIANDALKAN. Oleh: Niniek L. Karim, Bagus Takwin, Dicky Pelupessy, Nurlyta Hafiyah

Materi Minggu 3. Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

MYERSS BRIGGS TYPE INDICATOR

LEMBAGA SANDI NEGARA PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 11 TAHUN 2010 UN TENTANG

TERMOTIVASI UNTUK MENGELUARKAN IDE-IDENYA DAN MENGUJINYA SERTA MENULARKAN DAN MENGEMBANGKAN POTENSI DIRINYA SECARA MAKSIMAL.

Team Building & Manajeman Konflik

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Penalaran menurut ensiklopedi Wikipedia adalah proses berpikir yang bertolak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT

LEMBAR KONFIRMASI KOMPETENSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

3. TAHAP TAHAP PENGEMBANGAN BUDAYA KESELAMATAN 3.1. TAHAP I KESELAMATAN YANG BERDASARKAN HANYA PADA PERATURAN PERUNDANGAN

C A R E E R H O G A N D E V E L O P TIPS- TIPS PENGEMBANGAN UNTUK MANAJEMEN KARIR. Laporan untuk: Sam Poole ID: HC Tanggal: 23 Februari 2017

sehingga siswa perlu mengembangkan kemampuan penalarannya.

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan

Profil Kepribadian. Online - 13 COntoh User STAFF / OFFICER All Manajemen Umum. TANGGAL PEMERIKSAAN : 13-Feb-2012 T:DISC

BAB II LANDASAN TEORI

5. Pilihlah salah satu dari pilihan di bawah ini yang merupakan KELEMAHAN anda! (Jawablah dengan sejujur-jujurnya)

C A R E E R H O G A N D E V E L O P TIPS- TIPS PENGEMBANGAN UNTUK MANAJEMEN KARIR. Laporan untuk: John Doe ID: HC Tanggal: 29 Juli 2015

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dorongan dalam melakukan pekerjaanya, intensitas dan frekuensi dari waktu ke

PENERAPAN PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE INVESTIGASI KELOMPOK DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS BERITA

BAB V PEMBAHASAN. antar lembaga keuangan, dan juga bagian yang tidak dapat dipisahkan dari

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN TEORITIS. memengaruhi tersebut. Berdasarkan pengertian diatas dan dikaitkan dengan kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN TEORITIK

KONFLIK ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

MEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KECERDASAN EMOSI DAN SPIRITUAL

BAB I PENDAHULUAN. Matematika mempunyai peran yang sangat besar baik dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurningsih, 2013

MAKALAH KEPEMIMPINAN KONSEP KEPEMIMPINAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

EMOTIONAL INTELLIGENCE MENGENALI DAN MENGELOLA EMOSI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN Hogan Assessment Systems Inc.

Perkebunan produktif di lereng pegunungan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan adalah merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

I. PENDAHULUAN. depan yang lebih baik. Melalui pendidikan seseorang dapat dipandang terhormat,

Jurnal Pedagogika dan Dinamika Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan tidak dapat berjalan baik, tanpa adanya kerja sama dengan berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Aspek tingkah laku tersebut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pendidikan sangat penting apabila berbicara tentang kualitas

VI. SIMPULAN DAN SARAN. adalah sub variabel inisiatif individu, dengan indikator-indikatornya

BAB I PENDAHULUAN. segala bidang, serta mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu

2016 MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR LATERAL MATEMATIS SISWA MELALUI PEND EKATAN OPEN-END ED

Richard Smithson C.C. Sample

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Bagian ini akan membahas latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pembelajaran ialah

BAB I PENDAHULUAN. diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar sampai perguruan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu kompetensi guru dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruggiero (Johnson, 2007:187) mengartikan berfikir sebagai segala aktivitas mental

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, mengembangkan gagasan dan perasaan serta dapat digunakan untuk

I PENDAHULUAN. pendidikan. Bahkan sistem pendidikan di Indonesia saat ini juga telah banyak. mengubah pola pikir terutama dalam dunia pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Belajar menuntut seseorang untuk berpikir ilmiah dan mengungkapkan

I. PENDAHULUAN. yang telah di persiapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. tersebut ditujukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan. dalam perkembangan anak (Suryosubroto, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan perempuan dalam masyarakat, sebagai contoh perempuan tidak lagi

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti

BAB I PENDAHULUAN. jenjang pendidikan di Indonesia mengindikasikan bahwa matematika sangatlah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Pardomuan N.J.M. Sinambela Afrodita Munthe. Kata Kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika, Pembelajaran Matematika Realistik.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indrie Noor Aini, 2013

# kedua belah pihak tersebut harus ada two-way-communications yang berarti komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik. Hal ini memerlukan kerjas

BAB II LANDASAN TEORI. dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang

BAB V KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DAN KARYAWAN DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN

BAB I PENDAHULUAN. tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di

Pembentukan Karakter dan Kaitannya dengan Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KEPEMIMPINAN. OLEH: Drs. Yunyun Yudiana, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN. menjadi pelayan masyarakat yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik sesuai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

STANDAR KOMPETENSI MANAJERIAL PEGAWAI NEGERI SIPIL

I. PENDAHULUAN. Kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemajuan sumber daya manusianya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas

Transkripsi:

Muhammad Jusuf Kalla: Investor Yang Progresif Oleh: Bagus Takwin, Niniek L. Karim, Dicky C.P, dan Nurlyta Hafiyah Sekiranya ada keputusan wapres (kepwapres), tentu semua kebijakan sudah saya ambil sehingga semuanya bisa berjalan dengan cepat dan lebih baik. Dengan demikian, krisis bisa segera kita selesaikan. Kata-kata Jusuf Kalla yang dikutip Kompas.com Kamis 18 Juni 2009 ini memberi petunjuk tentang inisiatifnya yang tinggi dan keinginan memberi pengaruh signifikan kepada lingkungannya. Dalam bisnis, ia adalah seorang investor yang progresif. Di dunia politik, sifatsifat yang ditampilkannya dalam bisni juga menonjol. Kemampuan mengelola sumberdaya secara strategis menonjol pada Jusuf Kalla. Ia cepat dan efektif dalam mengambil keputusan, serta selalu menghitung risiko. Kecenderungan untuk berpikir satu langkah ke depan, kemampuan membina hubungan jangka panjang, dan mementingkan kemajuan juga menonjol pada dirinya. Ia dikenal sebagai orang yang praktis, realistik, dan mementingkan fakta, serta penuh daya dalam menjalankan rencananya. Kemampuan menggunakan common sense dan menemukan solusi praktis seperti otomatis bekerja dalam dirinya. Keterlibatan di banyak bidang membuat pengusaha dan politikus yang sejak kecil dididik ayahnya untuk jadi pemimpin ini menjadi orang yang terbiasa menghadapi situasi yang tak terstruktur. Dalam keadaan genting dan krisis, ia bisa cepat menentukan tindakan apa yang perlu ditampilkan, termasuk menggerakkan orang-orang untuk terlibat menyelesaikan masalah yang ada. Sepertinya, ia terbiasa bertindak lebih dulu, berefleksi kemudian. Ia mudah terstimulasi oleh obyek-obyek yang ada di sekitarnya dan ini mempengaruhi minatnya yang luas. Ia juga menikmati bertemu dan bekerja dengan banyak orang. Kekayaan ingatannya akan informasi rinci diperolehnya dari keterlibatan di banyak bidang dan pertemuannya dengan banyak orang. Meskipun Jusuf Kalla senang berinteraksi dengan banyak orang dan sering berada dalam situasi yang berubah-ubah, ia memperhatikan rincian-rincian rutin dalam kesehariannya. Masalahmasalah rutin sehari-hari dapat ditanganinya dengan baik. Dilihat dari paparan dan jawaban-jawabannya terhadap berbagai pertanyaan, Jusuf Kalla tampak sebagai orang yang berorientasi kepada masa kini, bekerja berdasarkan masalah yang dihadapi, bergerak seiring dengan kesempatan-kesempatan yang ada di sekitarnya. Sepak terjangnya sebagai pengusaha dan pejabat negara menunjukkan kemampuannya berimprovisasi ketika berhadapan dengan kejadian-kejadian tak terduga dan dalam waktu cepat dapat mengorganisasi proyek-proyek untuk mengatasi situasi genting. Kemampuan menggerakkan orang lain bekerja mencapai tujuan, disertai kemampuan fokus untuk memperoleh hasil dengan

cara seefisien mungkin, membuatnya menjadi pemimpin yang sistematis dan dapat memberi instruksi yang jelas kepada bawahannya. Jusuf Kalla berpikir dan bekerja menggunakan satu kerangka logika yang jelas dan baku. Secara runut ia mengikuti alur logika itu dan mengarahkan orang lain untuk juga mengikutinya. Ia terdorong untuk mencari fakta dan logika dalam situasi yang menuntut pengambilan keputusan. Dalam waktu cepat, tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan apa yang penting bagi pencapaian tujuan dapat dikenalinya. Ia pun mampu dengan cepat melakukan analisis yang obyektif dan kritis terhadap situasi yang dihadapinya. Secara emosional Jusuf Kalla mudah terusik dan merasa tak nyaman bila menghadapi situasi yang tak efisien dan buang-buang waktu. Dari pengakuannya dalam Kompas.com (18 Juni 2009), ia menyatakan sering gemas melihat jalannya pemerintahan yang dinilainya lamban. Ia tak sabar menjalani rapat berhari-hari tanpa menghasilkan keputusan. Kegemasan dan ketaksabarannya itu mendorongnya untuk berinisiatif mengambil tindakan yang dianggapnya perlu. Karena itu ia sering dinilai melampaui wewenang atau mengambil alih kekuasaan presiden, sampai-sampai muncul sebutan the real president ditujukan padanya. Aspek Kognitif: Trait (sifat), Belief (kepercayaan), Kompleksitas Pikiran dan Pola Penalaran Sifat terbuka pada ide baru, disiplin ketat, logis, memanfaatkan waktu seefisien mungkin, menilai tinggi ketangkasan dan kecepatan, kemauan untuk membaur dengan siapa saja, serta mau bekerjasama untuk mencapai keuntungan yang lebih besar menggerakkan Jusuf Kalla baik sebagai pebisnis maupun sebagai politikus. Selama menjabat sebagai wakil presiden, sifat-sifat itu tampil jelas. Menurutnya, ia ikut menggagas, merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi terus-menerus proyek-proyek yang dicanangkan pemerintah, di antaranya program bantuan langsung tunai, konversi minyak tanah ke gas elpiji, proyek listrik 10.000 MW, dan pembangunan sejumlah infrastruktur, seperti bandar udara, jalan tol, dan pelabuhan. Ia mengakui, kadang kala pekerjaan yang dialakukannya melebihi peranannya sebagai wapres. Jusuf Kalla senang berhubungan dengan banyak orang dan mampu bekerja sama dengan beragam orang. Sebaliknya, ia merasa tak nyaman jika tak bisa berinteraksi dengan orang lain. Ia percaya manusia dapat hidup damai dan menerima pembauran berbagai macam orang. Keterlibatan dalam sejumlah proses penyelesaian konflik menunjukan indikasi kepercayaan bahwa politik adalah ajang untuk mencapai harmoni. Ia menerima konflik sebagai bagian yang alamiah dan normal dalam hubungan antar manusia. Baginya, konflik apapun dapat diselesaikan jika setiap pihak yang berkonflik mau saling memahami. Ia melihat munculnya konflik sebagai akibat kesalah-pahaman dan penyelesaiannya adalah klarifikasi apa yang sesungguhnya terjadi oleh pihak-pihak yang bertikai. Kebiasaan menjalani situasi yang beragam, bekerja dalam berbagai bidang, serta seringnya bertemu dengan beragam orang membentuk struktur kognitif yang kompleks dalam lapangan kognitif Jusuf Kalla. Ia mampu melihat masalah dari beragam sudut pandang dan

memadukan beragam sudut pandang itu untuk membuat keputusan-keputusan yang dapat diterapkan segera. Struktur penaralannya sistematis, logis, dan runut. Ia mampu menggunakan beragam konsep dan memadukan konsep-konsep itu untuk mengenali dan menyelesaikan masalah. Namun, Jusuf Kalla yang cenderung hanya mengandalkan fakta obyektif, kurang imajinatif dan lebih suka berurusan dengan hal-hal kongkret. Fungsi pengindraan sangat menonjol pada dirinya. Ia lebih suka berpikir dengan ide-ide yang langsung dapat dicek kesesuaiannya dengan kenyataan. Orientasi dari pikirannya adalah penyelesaian masalah secara kongkret. Jadi meskipun bisa berpikir jauh ke depan, pemikirannya ia lebih suka memikirkan hal-hal yang digelutinya sehari-hari. Motif Sosial Dorongan untuk berprestasi mendorongnya untuk cenderung mengambil risiko moderat, mengelola sumberdaya secara efisien, dan berusaha selalu mencapai kemajuan walau sedikit demi sedikit. Ia tak tahan berada dalam situasi statis dan tidak suka menjadi orang yang tergantung pada orang lain. Motif prestasi tampak bekerja selam ia menjabat wakil presiden. Ia sering merasa terkatung-katung menanti keputusan presiden. Untuk mengatasi perasan tak nyaman, beberapa kali ia mengambil inisiatif untuk bertindak. Berbagai cara dimanfaatkannya untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tak jarang ia tampak lebih aktif dan cepat dibanding presiden yang diwakilinya. Indikasi motif kekuasaan juga semakin menonjol pada penampilan-diri Jusuf Kalla. Dorongan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam waktu cepat dengan memanfaatkan sebanyak mungkin orang membawanya kepada kebutuhan mempengaruhi orang lain. Jika tidak bisa mempengaruhi orang lain maka penerapan rencana dan penyelesaian masalah di lingkungan akan sulit dilakukan. Keinginan untuk menghasilkan yang terbaik baik dalam waktu cepat pada diri Jusuf Kalla mendorongnya juga untuk mengendalikan orang lain. Ada keterkaitan erat antara motif kekuasaan dan prestasinya. Keduanya bekerja saling menguatkan dorongan pada diri Jusuf Kalla untuk bertindak dan mencapai kemajuan. Namun, bisa juga dua motif itu mengarahkannya kepada konflik kepentingan antara prestasi yang terbaik dan kekuasaan. Kakinya yang berada di dua dunia, bisnis dan politik, juga merupakan sumber potensi konflik kepentingan jika ia tidak hati-hati mengelolanya. Kepribadian dan Kepemimpinan Jusuf Kalla Jusuf Kalla menunjukkan indikasi kepemimpinan yang menonjol. Selama menjadi wakil presiden ciri-ciri kepemimpinannya tampak menonjol: penuh inisiatif, awas terhadap situasi, cepat mengambil keputusan dan tanggap terhadap masalah, mampu mengambil tanggung jawab, mampu memantau jalannya penyelesaian masalah, dan mampu membuat strategi efektif. Pengalaman memimpin usaha dalam bisnis menjadi modal baginya. Aktivitas memimpin sudah jadi kebiasaannya sejak muda.

Dengan karakteristik kepribadiannya, dari segi kemampuan Jusuf Kalla adalah pemimpin yang efektif dan progresif. Orientasi kepada penyelesaian masalah dan kemajuan dapat membawa pihak-pihak yang dipimpinnya kepada pencapaian hasil yang produktif. Dengan hasilhasil itu, orang-orang yang dipimpinnya dapat melihat bukti nyata dari kepemimpinannya sehingga mereka bisa tetap loyal padanya. Namun, dilihat dari penampilan-dirinya, Jusuf Kalla yang cenderung tampil apa adanya dan terus terang tidak memiliki kharisma yang menonjol. Gaya bicara, ekspresi wajah, dan gerak-geriknya kurang terjaga sehingga kurang memberi kesan adanya karakter yang kuat sebagai pemimpin. Beberapa kali di awal masa jabatannya sebagai wakil presiden ia menampilkan pernyataan yang dianggap meninggung banyak orang, contohnya ucapannya tentang perkawinan pribumi dengan orang Timur Tengah yang bisa memperbaiki keturunan. Sifat terus terang dan apa adanya bisa menjadi kekuatannya tetapi juga dalam konteks tertentu bisa menjadi senjata makan tuan. Lepas dari penampilan-dirinya, Jusuf Kalla dapat diandalkan sebagai pemimpin. Seperti yang sudah dibuktikannya dalam bisnis dan pemerintahan, keutamaan dan kekuatan dirinya memadai untuk mendukungnya sebagai pemimpin yang dapat membawa perbaikan dan kemajuan.

Tabel Aspek Kepribadian yang menonjol, kekuatan dan kelemahan M. Jusuf Kalla sebagai pemimpin politik Aspek yang Menonjol Kekuatan Kelemahan Moderat, mau berubah, realistik, dan memanfaatkan kesempatan Penuh inisiatif, kemampuan membuat keputusan secara cepat, kemampuan organisasi, dan berpikir strategis Penalaran Sistematik dan kompleksitas pikiran tinggi dalam penyelesaian masalah kongkret Kebutuhan prestasi Penampilan-diri Mampu menerima kritik setelah adu argumentasi, mau melakukan perbaikan yang realistik, menempatkan setiap orang setara, dan terusterang Cepat dan tanggap terhadap masalah yang ada, tahu cara-cara menyelesaikan masalah, mampu membuat strategi efektif untuk mencapai tujuan, dan mementingkan kemajuan Dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi praktis yang efektif dalam penyelesaian masalah Pekerja keras, realistik selalu berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dan selalu ingin hasil yang lebih baik, serta mementingkan kemajuan dan perbaikan konkret Apa adanya, terusterang, dan sederhana Cenderung kompromis, visi kurang jauh ke depan, cenderung mengabaikan idealisme Kurang sabar, cenderung mengambil alih tugas orang lain yang dianggap lambat, dan tidak tahan dalam situasi yang tidak memberikan hasil kongkret Kurang imajinatif dan kurang reflektif Terlalu datar secara emosional, dan terkesan kurang empati, cenderung kompromis, dan kurang mementingkan penampilan Kurang berwibawa sebagai pemimpin dan kurang kharismatik, serta memberi

kesan kurang menghargai orang lain