BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah wahana komunikasi yang paling efektif bagi manusia dalam

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik

BAB I PENDAHULUAN. Cara pengungkapan maksud dan tujuan berbeda-beda dalam peristiwa

REALISASI TINDAK TUTUR DIREKTIF MEMINTA DALAM INTERAKSI ANAK GURU DI TK PERTIWI 4 SIDOHARJO NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dibedakan menjadi dua sarana,

BAB I PENDAHULUAN. karena adanya kepentingan untuk menjalin hubungan interaksi sosial.

BAB I PENDAHULUAN. berupasistemlambangbunyiujaranyang kompleks dan aktif. Kompleks,

I. PENDAHULUAN. satu potensi mereka yang berkembang ialah kemampuan berbahasanya. Anak dapat

BAB I PENDAHULUAN. dengan usia pada tiap-tiap tingkatnya. Siswa usia TK diajarkan mengenal

BAB I PENDAHULUAN. dari kelompok bermain (0-4 tahun) dan Taman Kanak-kanak (4-6 tahun).

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Tindak tutur adalah bagian dari pragmatik yang digagasi oleh Austin

BAB I PENDAHULUAN. interaksi antarpesona dan memelihara hubungan sosial. Tujuan percakapan bukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. situasi tutur. Hal ini sejalan dengan pendapat Yule (2006: 82) yang. menyatakan bahwa tindak tutur adalah tindakan-tindakan yang

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan manusia, karena melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa lisan dan bahasa tulis salah satu

BAB I PENDAHULUAN. gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungan ditentukan oleh

TINDAK TUTUR DAN KESANTUNAN BERBAHASA DI KANTIN INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Frinawaty Lestarina Barus, 2014 Realisasi kesantunan berbahasa politisi dalam indonesia lawyers club

TINJAUAN PRAGMATIK TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM SCRIP ADA APA DENGAN CINTA? KARYA RUDI SOEDJARWO

BAB I PENDAHULUAN. tindakan dalam tuturannya (Chaer dan Leoni. 1995:65).

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN KERANGKA TEORI

BAB I PENDAHULUAN. sekolah, sidang di pengadilan, seminar proposal dan sebagainya.

TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012

I. PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa

BAB V PENUTUP. hasil evaluasi peneliti dari penelitian ini. menyimpulkan, yang pertama, jenis- jenis dan fungsi tindak tutur yang

I. PENDAHULUAN. sangat berperan penting di samping bahasa tulis. Percakapan itu terjadi apabila

BAB V PENUTUP. pembahasan dalam tesis ini. Adapun, saran akan berisi masukan-masukan dari. penulis untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

BAB II KERANGKA TEORI. ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi

ANALISIS TINDAK TUTUR DALAM TUTURAN PERANGKAT DESA PECUK KECAMATAN MIJEN KABUPATEN DEMAK

2015 ANALISIS TINDAK TUTUR IMPERATIF DALAM TEKS IKLAN PADA MAJALAH ONLINE LA GAZETTE DE COTE-D OR EDISI BULAN JANUARI MARET

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya anak telah mengenal bahasa sebelum dia dilahirkan, karena

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bahasa Jepang ialah bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi antar anggota

BAB 1 PENDAHULUAN. Fungsi bahasa secara umum adalah komunikasi (Nababan, 1993: 38).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Adat istiadat merupakan suatu hal yang sangat melekat dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, harapan, pesan-pesan, dan sebagainya. Bahasa adalah salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,

BAB I PENDAHULUAN. digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Penggunaan bahasa

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN OLAHRAGA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pragmatik pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf yang bernama

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Istilah dan teori tentang tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J. L.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan film di Indonesia akhir-akhir ini membuat sikap

BAB I PENDAHULUAN. Menurut pendapat Austin (1962) yang kemudian dikembangkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan sekitar, sosial budaya, dan juga pemakaian bahasa. Levinson

diperoleh mempunyai dialek masing-masing yang dapat membedakannya

BAB I PENDAHULUAN. kalimat. Objek dalam sebuah kalimat adalah tuturan. Suatu tuturan dapat dilihat

BAB I PENDAHULUAN. Media massa tidak hanya memberikan informasi kepada pembaca, gagasan, baik pada redaksi maupun masyarakat umum. Penyampaian gagasan

BAB I PENDAHULUAN. (6) definisi operasional. Masing-masing dipaparkan sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. mendalam adalah pragmatik. Pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari

BAB I PENDAHULUAN. pertimbangan akal budi, tidak berdasarkan insting. dan sopan-santun non verbal. Sopan-santun verbal adalah sopan santun

Bentuk Tuturan Imperatif Bahasa Indonesia dalam Interaksi Guru-Siswa di SMP Negeri 1 Sumenep

BAB I PENDAHULUAN. dalam bertransaksi yaitu ada barang yang akan diperdagangkan, kesepakatan yang tidak dipaksa oleh pihak manapun.

REALISASI TINDAK TUTUR REPRESENTATIF DAN DIREKTIF GURU DAN ANAK DIDIK DI TK 02 JATIWARNO, KECAMATAN JATIPURO, KABUPATEN KARANGANNYAR NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. bahasa pertamanya untuk tujuan tertentu. Salah satu bahasa asing yang

TINDAK TUTUR DIREKTIF PADA IKLAN SEPEDA MOTOR DI BOYOLALI. Naskah Publikasi. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

BAB III METODE PENELITIAN. Bagian ini menjelaskan langkah-langkah yang berkaitan dengan jenis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA PADA PERCAKAPAN SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 GEYER

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini ada empat, yaitu tuturan,

BAB I PENDAHULUAN. untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa

TINDAK TUTUR ILOKUSI TOKOH KAKEK DALAM FILM TANAH SURGA

BAB I PENDAHULUAN. ide, gagasan, isi pikiran, maksud, realitas dan sebagainya. mengingat jumlah bahasa atau variabel bahasa yang digunakan.

I. PENDAHULUAN. juga dapat menyampaikan pikiran, perasaan kepada orang lain. demikian, bahasa juga mempunyai fungsi sebagai alat kekuasaan.

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan, mulai dari sarana untuk menyampaikan informasi, memberi perintah, meminta

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. masalah dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian. Tujuan penelitian ini

BAB I PENDAHULUAN. identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kegiatan komunikasi dapat dilakukan oleh manusia melalui

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipergunakan oleh manusia. untuk berinteraksi sosial. Setiap manusia menggunakan bahasa untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia sebagai makhluk sosial diharuskan saling berkomunikasi dan

TUTURAN RESPONSIF SISWA TERHADAP TUTURAN DIREKTIF GURU DALAM WACANA INTERAKSI KELAS DI SMA NEGERI 1 BATU

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Konsep adalah pemikiran rancangan suatu karya dasar yang ada diluar bahasa

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bahasa dapat menjalin hubungan yang baik, dan dapat pula

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam kehidupannya memerlukan komunikasi untuk dapat

BAB 2 TINDAK TUTUR DAN SLOGAN IKLAN. Pandangan Austin (Cummings, 2007:8) tentang bahasa telah menimbulkan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Dalam penulisan proposal skripsi ini peneliti mengumpulkan data-data dari

BAB I PENDAHULUAN. lain, alat yang digunakan berkomunikasi tersebut adalah bahasa. Chaer

BAB I PENDAHULUAN. tata kalimat, dan tata makna. Ciri-ciri merupakan hakikat bahasa, antara lain:

ANALISIS TINDAK TUTUR TIDAK LANGSUNG TIDAK LITERAL ANTARA PEMBELI DENGAN PENJUAL BUAH DI MOJOSONGO, SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. serius, karena terdapat perbedaan yang signifikan dengan bahasa. ibu pembelajar yang didasari oleh berbagai hal.

TINDAK TUTUR ILOKUSI DIREKTIF PADA TUTURAN KHOTBAH SALAT JUMAT DI LINGKUNGAN MASJID KOTA SUKOHARJO

METODE PENELITIAN. penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena alamiah

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, 2003:588).

BAB I PENDAHULUAN. karena bahasa merupakan sistem suara, kata-kata serta pola yang digunakan oleh

BAB 4 KESIMPULAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta temuan kasus yang telah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan sesuai dengan norma norma dan nilai nilai sosial dan saling

BAB I PENDAHULUAN. ada dua proses yang terjadi, yaitu proses kompetensi dan proses performansi.

Realisasi Tuturan dalam Wacana Pembuka Proses Belajar- Mengajar di Kalangan Guru Bahasa Indonesia yang Berlatar Belakang Budaya Jawa

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masyarakat sehari-hari. Masyarakat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. untuk hidup bersama. Untuk menjalani kehidupan sehari-hari antara orang yang

I. PENDAHULUAN. Suatu kenyataan bahwa manusia mempergunakan bahasa sebagai sarana

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 5. KESIMPULAN dan SARAN. pemakaiannya. Bahasa juga kerap dijadikan media dalam mengungkapkan

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi khalayak agar bertindak sesuai dengan keinginan pengiklan. Slogan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah wahana komunikasi yang paling efektif bagi manusia dalam menjalin hubungan dengan dunia di luar dirinya. Hal itu berarti bahwa fungsi utama bahasa adalah sumber daya untuk berkomunikasi. Sebagai media komunikasi, bahasa tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pemakaianya. Bahasa itu muncul karena adanya kepentingan untuk menjalin hubungan interaksi sosial. Sebagai alat komunikasi, bahasa sangat esensial dalam kehidupan manusia, yakni untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Dengan bahasa, manusia dapat berbuat sesuatu usaha yang berhubungan dengan kebutuhannya untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. Begitu juga sebagai unsur kelengkapan hidup manusia, seperti kebudayaan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, merupakan kelengkapan kehidupan manusia yang dibudidayakan dengan menggunakan bahasa menurut Suparno dan Oka ( 1993 : 1). Sebagai salah satu wujud budaya, bahasa dengan berbagai fungsinya merupakan bentuk keterampilan yang harus dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupan seharihari. Melalui bahasa maksud perasaan ataupun pola pikir dari penutur dapat diketahui. Diantara berbagai fungsi bahasa seperti untuk menyampaikan perasaan, menginformasikan sesuatu, memberi perintah dan sebagainya.

Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Menguraikan peran bahasa dalam setiap aspek kehidupan manusia, seperti berkomunikasi berpikir oleh Kartomiharjo ( 1988 : 1). Dengan demikian kajian tentang bagaimana bahasa digunakan di masyarakat sangat diperlukan. Di masyarakat, bahasa berperan sebagai pengikat anggota-anggota masyarakat pemakainya menjadi suatu masyarakat yang kuat, bersatu dan maju dan fungsinya adalah untuk berinteraksi dengan sesamanya guna memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Bagi individu, bahasa diguakan untuk berfikir, berintrospeksi diri, berkhayal, dan lain-lain. Sebenarnya manuasia dalam diam itu, tetap menggunakan bahasa. Walaupun tampak diam, namun dia tidak dapat dikatakan sepenuhnya diam. Dalam kondisi diam itu, pikiran manusia masih tetap aktif dan dalam keaktifannya itu berarti manuasia berbahasa. Begitu juga dalam menuturkan suatu kalimat, seseorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat, ia juga menindakkan sesuatu. Contoh dalam pengucapan kalimat Mau minum apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu ; ia juga menindakkan sesuatu, yakni menawarkan minuman. Seperti contoh berikut : seorang ibu rumah pondokan putri berbicara kepada tamu laki lakinya; Sudah jam sembilan! Pada contoh diatas si ibu tidak hanya semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu, tetapi menindakkan sesuatu, yakni memerintahkan lawan bicara. Agar tamu laki-laki supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. Hal-hal yang dapat

ditindakan di dalam berbicara antara lain, permintaan (request), pemberian izin (permission ), tawaran (offers), ajakan (invitation), penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) menurut Purwo ( 1990 : 19-20). Wujud praktis penggunaan bahasa dapat dilihat dalam tindak tutur. Dalam bertindak tutur, antara penutur dan mitra tutur selalu berhubungan dengan fungsi, maksud, modus dan konteks yang melatari terjadinya interaksi Leech (1983 :13). Istilah fungsi berhubungan dengan tujuan tindak, misalnya tindak yang hanya berorientasi penutur, mitra tutur, atau tindak yang berorientasi baik penutur maupun mitra tutur dalam interaksi. Istilah maksud berhubungan dengan tujuan tindak yang telah dibebani oleh kemauan atau motivasi yang sadar dari pemakainya dalam interaksi Verhaar (1982 : 131) misalnya persuasi, menyindir dan sebagainya. Modus adalah strategi penyampaian tutur sehubungan dengan tujuan dan maksud tutur tersebut dalam interaksi, misalnya permintaan disampaikan dengan bentuk kalimat pernyataan sebagai modus langsung, permintaan disampaikan dengan bentuk kalimat pernyataan sebagai modus tidak langsung, dan sebagainya. Dapat dilihat pada contoh yang ditulis oleh Purwo (1990 : 20) berikut ini: (1) ( Tindak Ujaran langsung ) A: Minta uang untuk membeli gula B: Ini (2) (Tindak Ujaran tak langsung ) A: Gulanya habis, nyah. B: Ini uangnya. Beli sana! Dari contoh (1) di atas, dengan modus langsung penutur A meminta uang untuk membeli gula dan secara eksplisit ditunjukkan dengan performatifnya minta, tetapi pada

contoh (2) penutur A tidak semata-mata menyatakan bahwa gulanya habis, ia dengan tidak langsung juga menindakkan sesuatu, yakni meminta uang untuk membeli gula walaupun tidak ditunjukkan secara eksplisit dengan performatif minta. Konteks mengacu kepada aspek-aspek yang berhubungan dengan lingkungan fisik dan sosiobudaya dalam interaksi. Contoh kasus di atas bukan hanya terdapat pada penutur bahasa Indonesia, tetapi juga terdapat pada penutur bahasa asing lainnya seperti bahasa Jepang. Bahasa Jepang ialah bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat di seluruh pelosok negara Jepang. Bahasa Jepang dipakai sebagai bahasa resmi, bahasa penghubung antar anggota masyarakat Jepang yang memiliki berbagai macam dialek, dan dipakai sebagai bahasa pengantar di semua lembaga pendidikan di Jepang sejak sekolah taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi menurut Sudjianto (1995 : 1). Selain itu bahasa Jepang juga mengenal adanya tingkatan bahasa, dalam penggunaanya perlu dipertimbangkan banyak faktor seperti status sosial pembicara dan pendengar serta suasana yang mengiringinya. Disamping itu, pula perlu dikenali apakah ungkapan tersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orang dewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka menurut Edizal (2001 : 1) Karena adanya penggunaan konsep tersebut dalam stratifikasi sosial masyarakat Jepang maka terbentuklah ragam bahasa Jepang yang terdiri dari ragam hormat dan ragam biasa. Kajian tentang stratifikasi sosial tersebut dibahas pada cabang ilmu sosiolinguistik. Sering dikatakan, sosiolinguistik itu sangat berkaitan dengan pragmatik (yang oleh

segolongan orang dimasukkan ke dalam linguistik). Salah satu kaitan yang dapat kita lihat adalah munculnya istilah tindak tutur dalam kedua bidang kajian itu Sumarsono (2004 : 322). Sehubungan dengan peran tindak tutur tersebut, pemakaian tindak tutur dalam interaksi antara penutur dan mitra tutur cenderung memiliki keberagaman kinerja bentuk verbal dan mendapatkan status dan konteks interaksi tersebut. Tesis ini mengkaji tindak tutur direktif, khususnya tindak tutur permintaan pada penutur bahasa Jepang pada film TLS. Permintaan adalah salah satu tindak tutur yang dikelompokkan ke dalam kategori tindak tutur direktif. Direktif adalah tindak tutur atau ujaran yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar penutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu (misalnya : menyuruh, meminta, memohon, menuntut, menyarankan, menentang) Searle (1975 : 24). Bach dan Harnish (1979) juga menyatakan bahwa direktif juga mengungkapkan sikap penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh petutur, tindakan direktif juga bisa mengungkapkan maksud penutur (keiginan, harapan) sehinggga ujaran atau sikap yang diungkapkan dijadikan sebagai alas an untuk bertindak oleh petutur. Tindak tutur direktif yang dikhususkan pada tuturan permintaan adalah tindak tutur yang dilakukan penutur dalam bentuk perintah atau suruhan dengan maksud meminta mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Kendala tindak tutur permintaan dari fungsi dan jenis penyampaiannya menurut hasil pengamatan banyak dijumpai pada ragam bahasa Jepang sebagai peristiwa - peristiwa tutur sehari- hari.

Sebagai contoh analisis yaitu pada film TLS adalah: A: ( Episode 1) Nande, sono kao yo, waratte, waratte. Kenapa raut wajah kamu, tersenyumlah. B: Yaa, boku wa hitoride Ehime kara kite, nani wo suru ka, wakaranaiyo. Saya sendirian datang dari Ehime, apa yang mau dikerjakanpun belum paham. Pada tuturan di atas A adalah teman wanita dari B. A meminta agar B tersenyum karena melihat raut muka B yang murung. Menurut Rahardi (2009: 19-20) tuturan yang modus penyampaiannya sama dengan kalimat menggambarkan pernyataan permintaan secara langsung dan literal karena makna / maksud dari kalimat tersebut sama dengan tuturan yang disampaikan. Jadi tuturan diatas merupakan jenis tindak tutur langsung literal dan berfungsi menawarkan dengan menggunakan kalimat bermodus imperatif. Sebagaimana pendapat Alisjahbana (1959 : 54) dapat dimaksudkan sebagai perintah langsung, yang menggunakan tuturan yang bermodus imperatif cenderung dimaksudkan sebagai perintah positif, karenanya cenderung lugas. Penelitian ini di fokuskan pada bahasa Jepang dengan objek studi kasus serial drama Jepang TLS. Film ini dimulai dengan kepindahan Kanji Nagao ke Bagian Penjualan, Heart Sports di Tokyo, dari desa kecil yang bernama Ehime. Dan mempertemukannya dengan teman baru satu kantornya yang bernama Rika Akana. Selama berada di Tokyo, Kanji yang biasa mengikuti reuni dengan teman-teman satu SMA-nya yang tinggal di Tokyo, yakni Mikami dan Satomi. Ketiganya adalah teman

sejak kecil dan tumbuh bersama. Mikami adalah sahabat laki-lakinya yang berkepribadian terbuka, dan cenderung playboy. Sementara Satomi adalah wanita yang diam-diam dicintainya sejak mereka SMA dulu, tapi Kanji tidak pernah menyatakan perasaannya. Kanji yang naif dan peragu langsung shock ketika melihat Mikami dan Satomi berjalan bersama dengan mesra, Mikami yang memang sering bertengkar dengan Kanji karena Satomi bahkan tidak ragu mengumumkan hubungan mereka. Dia mengatakan, Satomi yang pendiam membalas perasaannya. Dia tidak peduli bila hal tersebut akan menyakitikanji. Namun kehadiran Rika yang periang dan selalu bersemangat mampu menghibur kekecewaan Kanji. Bahkan dia berusaha terus berada di dekat ketiga sahabat tersebut sehingga membuat persahabatan mereka tidak putus, Kanji yang mengetahui Rika secara diam-diam juga menyukai dirinya akhirnya menerima Rika sebagai kekasihnya. Hubungan mereka sempat terganggu, karena Kanji mendengar Rika pernah punya hubungan dengan bos mereka Sendo, yang sudah berkeluarga. Sifat Mikami yang cenderung playboy membuatnya tak mampu menahan diri untuk mendekati teman kuliahnya, Naoko Nagasaki, meskipun dia sudah menjalin hubungan dengan Satomi. Kecuekan Naoko membuatnya penasaran. Tapi ternyata, sebenarnya Naoko yang sudah dijodohkan tersebut juga diam diam menyukai Mikami. Bahkan, dia rela membatalkan pernikahannya demi Mikami. Hubungan Mikami dan Naoko akhirnya diketahui Satomi. Kepada siapa lagi dia mengadu selain pada teman akrabnya yang tidak lain adalah Kanji. Dia pun mulai menyadari, sebenarnya Kanji sangat memperhatikannya, melebihi Mikami. Meski dia mengetahui

hubungan Kanji dan Rika, dia berusaha menguji, apakah perasaan Kanji pada Rika lebih besar daripada perasaan Kanji padanya. Kanji yang peragu tentu saja kesulitan ketika dihadapkan pada pilihan ini. Apalagi dia mengira, Satomi yang pemurung lebih memerlukan kehadirannya daripada Rika yang tampak selalu gembira seolah tak pernah punya masalah. Dari hubungan pertemanan mereka ini banyak menghasilkan tindak tutur permintaan yang berbeda seperti tuturan permintaan pada waktu menolak, mengajak, menerima dan sebagainya, baik dilihat dari segi gender, pendidikan, latar belakang sosial maupunumur. Film ini diadaptasi dari manga komik dengan judul yang sama karya Fumi Saimon yang di produksi oleh Fuji TV dengan sutradara Kozo Nakayama yang terdiri dari 11 episode. Serial drama Jepang ini adalah teledrama Asia pertama yang sangat populer di Indonesia setelah oshin di era TVRI. Selain itu tindak tutur yang diteliti banyak terdapat pada drama ini dan bahasa Jepang yang digunakan juga mudah dipahami oleh penulis sebagai pembelajar asing yang mempelajari bahasa Jepang. 1.2 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Jenis tindak tutur permintaan apakah yang terdapat pada film TLS? 2. Fungsi tindak tutur permintaan apakah yang terdapat pada film TLS? 3. Jenis dan fungsi tindak tutur permintaan manakah yang paling dominan pada film TLS?

4. Apakah penyebab tindak tutur permintaan tertentu muncul lebih dominan pada film TLS? 1.3 Tujuan Penelitian Sejalan dengan masalah yang akan dikaji, tujuan penelitin ini adalah: 1. Mendeskripsikan jenis tindak tutur permintaan yang terdapat pada film TLS, 2. Mendeskripsikan fungsi tindak tutur permintaan yang terdapat pada film TLS, 3. Menguraikan jenis dan fungsi tindak tutur permintaan yang paling dominan pada film TLS, 4. Menguraikan penyebab tindak tutur permintaan tersebut muncul lebih dominan pada film TLS. 1.4 Manfaat Penelitian Temuan penelitian diharapkan memberi manfaat teoritis dan praktis yakni, Manfaat teoritis temuan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Temuan penelitian ini dapat menigkatkan ilmu kebahasaan (Linguistik), khususnya pada kajian pragmatik dan sosiopragmatik bahasa Jepang. 2. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan yang lengkap dan mendalam khususnya oleh pembelajar bahasa, budaya dan sastra Jepang di Indonesia dalam memahami pola pikir bangsa Jepang.

3. Temuan penelitian ini dapat menambah kajian kosakata bahasa Jepang khususnya yang berhubungan dengan tindak tutur. Manfaat praktis mencakup hal sebagai berikut: 1. Temuan penelitian ini juga diharapkan berguna bagi penelitian selanjutnya. 2. Temuan penelitian ini diharapkan berguna bagi pengajar dan pembelajar khususnya bahasa Jepang. 3. Temuan penelitian ini dapat menambah khasanah kepustakaan pada bidang Linguistik bahasa Jepang. 1.5 Landasan Teori Tesis ini menggunakan teori sosiopragmatik dan tindak tutur sebagai landasan teori. Uraian tentang teori yang berkaitan dengan sosiopragmatik dan tindak tutur akan diberikan pada bab II. Untuk teori sosiopragmatik sebagai kajian dalam tesis ini, penulis mengacu pada pendapat Rahardi (2009 : 21) yang mengatakan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia, pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks situasi yang mewadahi bahasa itu. Untuk menganalisis tindak tutur penulis mengacu pada pendapat Saragih (2010 : 15) yang mengatakan tindak tutur adalah aksi yang dilakukan oleh pembicara melalui ujaran atau dengan menggunakan bahasa. Saragih juga mengelompokkan tindak tutur menjadi lima jenis, yaitu tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi.

Untuk menganalisis jenis tindak tutur, penulis juga menggunakan pendapat Rahardi (2009 : 19) yang membedakan jenis-jenis tindak tutur menjadi: 1. Tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. 2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tidak literal. Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum Kulka (1987) dalam Kartika (2000 : 29-30) dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran seperti berikut: 1. Bermodus imperatif (Pindahkan kotak ini!). 2. Performatif eksplisit (Saya minta Saudara memindahkan kotak ini) 3. Performatif berpagar (Saya sebenarnya mau minta Saudara memindahkan kotak ini) 4. Pernyataan keharusan (Saudara harus memindahkankotak ini ) 5. Pernyataan keinginan (Saya ingin kotak ini dipindahkan) 6. Rumusan saran ( Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan) 7. Persiapan pernyataan (Saudara dapat memindahkan kotak ini?) 8. Isyarat kuat (Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan sesak) 9. Isyarat halus ( Ruangan ini kelihatan sesak) Untuk pengertian mengenai tindak tutur permintaan penulis menggunakan pendapat Bach dan Harnish ( 1979 : 41 ) yang mengatakan tindak tutur permintaan merupakan jenis tindak tutur yang dilakukan oleh penutur untuk membuat mitra tuturnya melakukan sesuatu.