METODOLOGI PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan selama penelitian di laboratorium adalah sebagai berikut:

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. perihal pengaruh panjang serabut kelapa sebagai bahan modifier pada campuran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dipresentasikan pada gambar bagan alir, sedangkan kegiatan dari masing - masing

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Berikut adalah diagram alir dari penelitian ini : MULAI. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan

PEMERIKSAAN BAHAN SUSUN BETON

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian pada penulisan ini merupakan serangkaian penelitian

METODE PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT HALUS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Rencana kerja ditunjukkan oleh Gambar 3.1, yang merupakan bagan alir

LAPORAN PRAKTIKUM PERKERASAN JALAN Pemeriksaan J 10 UJI BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT ( PB ) ( AASHTO T ) ( ASTM D )

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Inti Jalan Raya Fakultas Teknik

Gambar 4.1. Bagan Alir Penelitian

METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

METODOLOGI PENELITIAN. untuk campuran lapis aspal beton Asphalt Concrete Binder Course (AC-

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Inti Jalan Raya Fakultas Teknik. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini :

dahulu dilakukan pengujian/pemeriksaan terhadap sifat bahan. Hal ini dilakukan agar

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN. pemeriksaan mutu bahan yang berupa serat ijuk, agregat dan aspal, perencanaan

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian. Mulai. Studi Pustaka. Persiapan Alat dan Bahan. Pengujian Bahan

BAB IV Metode Penelitian METODE PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian

(Data Hasil Pengujian Agregat Dan Aspal)

BAB III DESAIN DAN METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari persiapan,

Penelitian ini menggunakan tiga macam variasi jumlah tumbukan dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. bahan ikat yang digunakan untuk melayani beban lalu lintas, diatas tanah dasar secara aman

BAB IV METODE PENELITIAN

3.4 PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini :

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

optimum pada KAO, tahap III dibuat model campuran beton aspal dengan limbah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. penetrasi, uji titik nyala, berat jenis, daktilitas dan titik lembek. Tabel 4.1 Hasil uji berat jenis Aspal pen 60/70

BAB IV HASIL ANALISA DAN DATA Uji Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI. Gambar 3.1.a. Bagan Alir Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

Pemeriksaan Gradasi Agregat Halus (Pasir) (SNI ) Berat Tertahan (gram)

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. aspal keras produksi Pertamina. Hasil Pengujian aspal dapat dilihat pada Tabel 4.1

BAB IV METODE PENELITIAN A.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

BAB IV PENGUJIAN MATERIAL DAN KUAT TEKAN BETON

BAB III LANDASAN TEORI

3. pasir pantai (Pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah), di Laboratorium Jalan Raya Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram alir penelitian adalah sebagai berikut : PERSIAPAN. AGREGAT BNA ASPAL pen 60/70 JERAMI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metodologi penelitian adalah urutan-urutan kegiatan penelitian, meliputi

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV. HASIL dan ANALISA Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Fakultas Teknik Program Studi S-1 Teknik Sipil Laboratorium Teknologi Bahan Konstruksi

Gambar 4.1 Bagan alir penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO)

METODOLOGI PENELITIAN

METODE PENGUJIAN TENTANG ANALISIS SARINGAN AGREGAT HALUS DAN KASAR SNI

BAB III METODELOGI PENELITIAN. (AASHTO,1998) dan Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan tahun 2010.

BAB IV METODE PENELITIAN

Foto Alat. Pengujian Marshall

BAB III LANDASAN TEORI

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Salah satunya adalah Metode UJI MATERIAL GEDUNG melalui suatu pelatihan khusus.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI. Gambar 3.1 Bagan Alir FCR Dengan Cara PRD. gambar grafik Marshall

BAB IV METODE PENELITIAN

Gambar 3.1 Bagan Alir penelitian

LAMPIRAN A HASIL PENGUJIAN AGREGAT

III. METODOLOGI PENELITIAN. mendapatkan data. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, penelitian ini

MODUL PRAKTIKUM MATERIAL KONSTRUKSI

JOB SHEET PRATIKUM KONSTRUKSI JALAN

I Persiapan Penyediaan Sampel Agregat dan Aspal (Bitumen)

Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus

: Pengujian Bahan Perekat Hidrolis. Materi : Uji Berat Jenis SSD dan Penyerapan Air Agregat Halus dan Kasar REFERENSI

SNI. Metode Pengujian Berat Jenis Dan penyerapan air agregat halus SNI Standar Nasional Indonesia

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA. Pada pembuatan aspal campuran panas asbuton dengan metode hot mix (AC

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

DAFTAR PUSTAKA. 1. Bina Marga Petunjuk Pelaksanaan Lapis Tipis Aspal Beton. Saringan Agregat Halus Dan Kasar, SNI ;SK SNI M-08-

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Tahapan Penelitian

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Operasi Teknik Kimia Fakultas

METODE PENGUJIAN TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR DENGAN CLEVE LAND OPEN CUP

Transkripsi:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Umum Metodologi Penelitian pada penelitian ini merupakan serangkaian perihal pengaruh campuran warm mix antara Asbuton dengan penambahan zeolit sebagai filler pada campuran beraspal yang diuji marshall, serta menganalisa hasil pengujian tersebut untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan selama masa penelitian di laboratorium adalah sebagai berikut:% Persiapan material yang akan digunakan ( aspal pen 60/70, agregat, zeolit, aspal buton ). Pemeriksaan material yang akan digunakan. Perhitungan Pb untuk menentukan kadar aspal optimum. Pembuatan benda uji dengan kadar 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, 6,5% masing-masing sebanyak 2 sampel untuk mendapatkan nilai KAO. Pembuatan variasi asbuton dengan asphalt minyak dan filler zeolit dengan kadar 4%, 6%, 8% masing-masing sebanyak 2 sampel. Uji marshall, marshall immersion, uji los angeles untuk mengetahui pengaruh campuran zeolit dalam campuran beraspal untuk menentukan panjang optimumnya. III - 1

3.2 Diagram Alir MULAI STUDI PUSTAKA PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN PENGUJIAN BAHAN ASPAL BUTON 1. Penetrasi 2. Titik Lembek 3. Daktilitas 4. Berat Jenis AGREGAT KASAR 1. Berat Jenis 2. Penetrasi AGREGAT HALUS 1. Berat Jenis 2. Penetrasi FILLER Zeolit Penentuan KAO(kadar aspal optimum) PB=0,035(74.4%)+0,045(21.6%)+0,18(4%)+1 = 6% Pencampuran dengan sistem Warm Mix UJI MARSHALL (filler Zeolit) ANALISA DAN PEMBAHASAN KESIMPULAN DAN SARAN Gambar 3.1 Diagram Alir III - 2

3.3 Acuan Normatif SNI 03-1968-1990 : Metode pengujian analisis saringan agregat kasar dan halus. SNI 03-1969-1990 : Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat kasar. SNI 03-1970-1990 : Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus. SNI 03-2417-1991 : Metode pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles. SNI 06-2432-1991 : Metode pengujian daktilitas bahan-bahan aspal. SNI 06-2433-1991 : Metode pengujian titik nyala dan titik bakar aspal dengan alat cleveland open cup. SNI 06-2434-1991 : Metode pengujian titik lembek aspal. SNI 06-2441-1991 : Metode pengujian berat jenis aspal padat. SNI 06-2456-1991 : Metode pengujian penetrasi bahan-bahan bitumen. SNI 03-4428-1997 : Metode pengujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastis dengan cara setara pasir. SNI 03-4804-1998 : Metode pengujian bobot isi dan rongga udara dalam agregat. SNI 03-6723-2002 : Spesifikasi bahan pengisi untuk campuran beraspal. III - 3

SNI 03-6399-2000 : Tata cara pengambilan contoh aspal. SNI 03-6819-2002 : Spesifikasi agregat halus untuk campuran beraspal. SNI 03-6757-2002 : Metode pengujian berat jenis nyata campuran beraspal padat menggunakan benda uji kering permukaan jenuh. SNI 03-6819-2003 : Spesifikasi agregat halus untuk campuran beraspal. SNI 06-6721-2002 : Metode pengujian viskositas dengan saybolt furol. 3.4 Pengujian Sifat Fisik Agregat 3.4.1 Kebutuhan Agregat Tabel 3.1 Agregat yang dibutuhkan untuk setiap sampel ayakan gradasi kasar titik ten gah jumlah agregat (%) no saringan ukuran saringan ac-bc tertahan (%) 1½ 3.750 1 25.000 100 83 17 170 3/4 19.000 90-100 93 7 70 ½ 12.500 71-90 77 13 130 3/8 9.500 58-80 70 10 100 no. 4 4.750 37-56 39 17 170 no. 8 2.360 23-34.6 25,6 9 90 no.16 1.180 15-22.3 16,3 6 60 no. 30 0.600 10-16.7 11,7 5 50 no. 50 0.300 7-13.7 8,7 5 50 no.100 0.1500 5-11 4 7 70 no. 200 0.075 4-8 4 4 40 jumlah 1000 CA FA Filler 64 25 11 III - 4

grafik gradasi ac-bc 120 100 80 60 40 20 0 1½ 1 3/4 1/2 3/8 no. 4 no. 8 no.16 no. 30 no. 50 no.100 min max lolos Gambar 3.2 Grafik gradasi ac-bc 3.4.2 Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Kasar Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan berat jenis (Bulk), berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregat halus. a. Berat jenis ( Bulk specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan air suling yang isiya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. b. Berat jenis kering-permukaan jenuh (SSD) yaitu perbandingan antara berat agregat kering-permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu. d. Penyerapan adalah presentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat kering. III - 5

Peralatan yang digunakan pada pengujian ini yaitu: a. Keranjang kawat ukuran 3,35 mm atau 2,36 mm (No.6 atau No.8) dengan kapasitas kira-kira 5 kg. b. Tempat air dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai dengan pemeriksaan. Tempat ini harus dilengkapi dengan pipa sehingga permukaan air selalu tetap. c. Timbangan dengan kapasitas 5 kg dengan ketelitian 0,1% dari berat berat contoh yang ditimbang dan dilengkapi dengan alat penggantung keranjang. d. Oven yang dilengkapi dengan pengatur untuk memanasi suhu (110±5)ºC. e. Alat pemisah contoh. f. Saringan No.4 Benda Uji Benda uji adalah agregat yang tertahan saringan N0.4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat sebanyak kira-kira 5 kg. Cara melakukan pengujian: a. Cuci benda uji untuk menghilangkan debu atau bahan-bahan yang meleat pada permukaan. b. Keringkan benda uji dalam oven pada suhu 105ºC sampai berat tetap. c. Dinginkan benda uji pada suhu kamar selama 1-3 jam dan timbanglah dengan ketelitian 0,5 gram (Bk). d. Rendam benda uji dalam air pada suhu kamar selama 24 ± 4 jam. e. Keluarkan benda uji dari air, lap dengan kain penyerap sampai selaput pada permukaan hilang (SSD), untuk butiran yang besar pengeringan harus atu persatu. f. Timbanglah benda uji kering permukaan jenuh (Bj). III - 6

g. Letakkan benda uji didalam keranjang, goncangkan batunya untuk mengeluarkan udara yang tersekap dan tentukan beatnya di dalam air (Ba). Ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan kepada suhu standard (25ºC). Perhitungan: a. Berat jenis (bulk specific gravity): = Bj Bj Ba b. Berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry): = Bj Bj Ba c. Berat jenis semu (apparent specific gravity): = Bk Bk Ba d. Penyerapan = Bj Bk Bk x 100% dimana: Bk : Berat benda uji kering oven (gram). Bj : Berat benda uji kering permukaan jenuh (gram). Ba : Berat benda uji kering permukaan jenuh dalam air (gram). III - 7

3.4.3 Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Sedang Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan berat jenis (Bulk), berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregat sedang. a. Berat jenis ( Bulk specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan air suling yang isiya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. b. Berat jenis kering-permukaan jenuh (SSD) yaitu perbandingan antara berat agregat kering-permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu. d. Penyerapan adalah prosentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat kering. Peralatan yang digunakan pada pengujian ini yaitu: a. Timbangan, kapasitas 1 kg atau lebih dengan ketelitian 0,1 gr. b. Piknometer dengan kapasitas 500 ml. c. Kerucut terpancung (cone), diameter bagian atas (40 ± 3) mm, diameter bagian bawah (90 ± 3) mm dan tinggi (75 ± 3) mm dibuat dengan logam tebal minimum 0,8 mm. Batang penumbuk yang mempunyai bidang penumbuk rata, berat (340 ± 15) gr diameter permukaan penumbuk (25 ± 3) mm. d. Saringan No. 4 e. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi (110 ± 5) º C. III - 8

f. Pengukur suhu dengan ketelitian pembaca 1ºC. g. Talam h. Bejana tempat air. i. Pompa hampa udara (vacum pump) atau tungku. j. Air suling. k. Desikator. Benda uji Benda uji adalah agregat yang lewat saringan No.4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat sebanyak kira-kira 1000 kg. Cara melakukan pengujian: a. Keringkan benda uji dalam oven pada suhu (110 ± 5)ºC, sampai berat tetap. Yang dimaksud dengan berat tetap adalah keadaan berat benda uji selama 3 kali proses penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan selang waktu 2 jam berturutturut, tidak akan mengalami perubahan kadar air lebih besar daripada 0,1%. Dinginkan pada suhu ruang, kemudian rendam dalam air selama ( 24 ± 4 ) jam. b. Buang air rendaman hati-hati jangan ada butiran yang hilang, tebarkan agregat diatas talam, keringkan di nudara panas dengan cara membalik-balikkan benda uji. Lakukan pengeringan sampai tercapai keadaan kering permukaan jenuh. c. Periksa keadaan keing pemukaan jenuh dengan mengisikan benda uji ke dalam kerucut terpancung. Padatkan dengan batang penumbuk sebanyak 25 kali, angkat kerucut terpancung. Keadaan kering permukaan jenuh tercapai bila benda uji runtuh akan tetapi masih dalam keadaan tercetak. III - 9

d. Segera setelah tercapai keadaan kering permukaan jenuh masukkan 500 gr benda uji kedalam piknometer, putar sambil digocang sampai tidak terlihat gelembung udara didalamnya. Untuk mempercepat proses ini dapat dipergunakan pompa hampa udara, tetapi harus diperhatikan jangan sampai ada air yang ikut terisap, dapat juga dengan merebus piknometer. e. Rendam piknometer dalam air dan ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan kepada suhu standard 25ºC. f. Tambahkan air sampai mencapai tanda batas. g. Timbanglah piknometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0,1 gr (Bt). h. Keluarkan benda uji, keringkan dalam oven dengan suhu ( 110 ± 5 ) ºC sampai berat tetap, kemudian dinginkan dalam desikator. i. Setelah benda uji dingin, kemudian timbanglah (Bk). j. Tentukan berat piknometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna penyesuaian dengan suhu standard 25ºC (B). Perhitungan: a. Berat jenis ( Bulk specific gravity): Bj = (B+500 Bt) b. Berat jenis kering permukaan jenuh ( saturated surface dry): 500 = (B+500 Bt) c. Berat jenis semu ( apparent specific gravity): Bk = (B+Bk Bt) III - 10

d. Penyerapan = 500 Bk Bk x 100% dimana: Bk : Berat benda uji kering oven (gram). B : Berat piknometer berisi air (gram). Bt : Berat piknometer berisi benda uji dan air (gram). 500 : Berat benda uji dalam keadaan kering permukaan jenuh (gram). Tabel 3.2 Gradasi Agregat 3.4.4 Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Halus Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan berat jenis (Bulk), berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregat halus. III - 11

a. Berat jenis ( Bulk specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan air suling yang isiya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. b. Berat jenis kering-permukaan jenuh (SSD) yaitu perbandingan antara berat agregat kering-permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) ialah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu. d. Penyerapan adalah presentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat kering. Peralatan yang digunakan pada pengujian ini yaitu: a. Timbangan, kapasitas 1 kg atau lebih dengan ketelitian 0,1 gr. b. Piknometer dengan kapasitas 500 ml. c. Kerucut terpancung (cone), diameter bagian atas (40 ± 3) mm, diameter bagian bawah (90 ± 3) mm dan tinggi (75 ± 3) mm dibuat dengan logam tebal minimum 0,8 mm. Batang penumbuk yang mempunyai bidang penumbuk rata, berat (340 ± 15) gr diameter permukaan penumbuk (25 ± 3) mm. d. Saringan No. 4 e. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi (110 ± 5) º C. f. Pengukur suhu dengan ketelitian pembaca 1ºC. g. Talam h. Bejana tempat air. i. Pompa hampa udara (vacum pump) atau tungku. III - 12

j. Air suling. k. Desikator. Benda uji Benda uji adalah agregat yang lewat saringan No.4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat sebanyak kira-kira 1000 kg. Cara melakukan pengujian: a. Keringkan benda uji dalam oven pada suhu (110 ± 5)ºC, sampai berat tetap. Yang dimaksud dengan berat tetap adalah keadaan berat benda uji selama 3 kali proses penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan selang waktu 2 jam berturut-turut, tidak akan mengalami perubahan kadar air lebih besar daripada 0,1%. Dinginkan pada suhu ruang, kemudian rendam dalam air selama ( 24 ± 4 ) jam. b. Buang air rendaman hati-hati jangan ada butiran yang hilang, tebarkan agregat diatas talam, keringkan di nudara panas dengan cara membalik-balikkan benda uji. Lakukan pengeringan sampai tercapai keadaan kering permukaan jenuh. c. Periksa keadaan keing pemukaan jenuh dengan mengisikan benda uji ke dalam kerucut terpancung. Padatkan dengan batang penumbuk sebanyak 25 kali, angkat kerucut terpancung. Keadaan kering permukaan jenuh tercapai bila benda uji runtuh akan tetapi masih dalam keadaan tercetak. d. Segera setelah tercapai keadaan kering permukaan jenuh masukkan 500 gr benda uji kedalam piknometer, putar sambil digocang sampai tidak terlihat gelembung udara didalamnya. Untuk mempercepat proses ini dapat dipergunakan pompa hampa udara, tetapi harus diperhatikan jangan sampai ada air yang ikut terisap, dapat juga dengan merebus piknometer. III - 13

e. Rendam piknometer dalam air dan ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan kepada suhu standard 25ºC. f. Tambahkan air sampai mencapai tanda batas. g. Timbanglah piknometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0,1 gr (Bt). h. Keluarkan benda uji, keringkan dalam oven dengan suhu ( 110 ± 5 ) ºC sampai berat tetap, kemudian dinginkan dalam desikator. i. Setelah benda uji dingin, kemudian timbanglah (Bk). j. Tentukan berat piknometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna penyesuaian dengan suhu standard 25ºC (B). Perhitungan: a. Berat jenis ( Bulk specific gravity): Bj = (B+500 Bt) b. Berat jenis kering permukaan jenuh ( saturated surface dry): 500 = (B+500 Bt) c. Berat jenis semu ( apparent specific gravity): Bk = (B+Bk Bt) d. Penyerapan = 500 Bk Bk x 100% dimana: Bk : Berat benda uji kering oven (gram). III - 14

B : Berat piknometer berisi air (gram). Bt : Berat piknometer berisi benda uji dan air (gram). 500 : Berat benda uji dalam keadaan kering permukaan jenuh (gram). 3.4.5 Berat Isi Agregat Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan berat isi agregat halus, kasar atau campuran. Berat isi adaalah perbandingan berat dan isi. Peralatan yang digunakan pada pengujian ini yaitu: a. Timbangan dengan ketelitian 0,1 % berat contoh. b. Talam kapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat. c. Tongkat pemadat dengan diameter 15 mm, panjang 60 cm, dengan ujung bulat, sebaiknya terbuat dari bahan tahan panas. d. Mistar perata (straight edge). e. Wadah baja yang cukup kaku berbentuk silinder dengan alat pemegang, berkapasitas sebagai berikut: III - 15

Tabel 3.3 Berat Isi Agregat Kapasitas Diameter Tinggi Tebal wadah Ukuran butir (liter) (mm) (mm) minimum (mm) maksimum Dasar Sisi (mm) 2,832 152,4±2,5 154,9±2,5 5,08 2,54 12,7 9,435 203,2±2,5 292,1±2,5 5,08 2,54 25,4 14,158 254,0±2,5 279,4±2,5 5,08 3,00 38,1 28,316 355,6±2,5 284,4±2,5 5,08 3,00 101,6 Benda uji Masukkan contoh agregat kedalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai Daftar No.1; keringkan dalam oven dengan suhu ( 110±5 )ºC, sampai berat tetap dan gunakan sebagai benda uji. Cara melakukan pengujian: a. Berat Jenis: 1. Timbang dan catatlah beratnya ( W 1) 2. Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadipemisahan butir-butir, dari ketinggian maksimum 5 cm diatas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop dengan penuh. 3. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata. 4. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W 2). 5. Hitunglah berat benda dengan uji ( W3= W2 W1) III - 16

b. Berat isi padat agrergat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5 ) dengan cara penusukan. 1. Timbang dan catatlah berat wadahnya (W1). 2. Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang ama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali tusukan secara merata. Pada pemadatan, tongkat harus tepat masuk sampai lapisan bagian bawah tiaptiap pemadatan. 3. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata. 4.Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda ujinya (W3 = W2 W1) c. Berat isi padat agregat ukuran butir antara 38,1 mm ( 1,5 ) sampai 101,6 mm (4 ) dengan cara penggoyangan. 1. Timbang dan catatlah berat wadahnya (W1) 2. Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. 3. Padatkan setiap lapisan dengan cara menggoyang-goyangkan wadah seperti berikut: Letakkan wadah diatas tempat yang kokoh da datar, angkatlah salah satu sisinya kira-kira setinggi 5 cm kemudian lepaskan. Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan. Padatkan setiap lapisan sebanyak 15 kali untuk setiap sisi. 4. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata. 5. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda ujinya (W2). 6. Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 W1 ). III - 17

Perhitungan : Berat isi = W3 V (kg/dm²) Dimana V : Isi wadah (dm²) 3.4.6 Pengujian Dengan Mesin Los Angeles Pengujian keausan agregat terhadap kehancuran dapat diperiksa dengan menggunakan percobaan Abrasi Los Angeles, dimana gradasi dan berat yang telah ditetapkan dimasukkan bersama dengan bola baja (jumlah bola yang tergantung dari tipe gradasi yang digunakan) kedalam mesin Los Angeles setelah itu diputar dengan kecepatan 30/33 rprm selama 500 putaran. Nilai akhir dari pengujian keausan dinyatakan dalam persen, yang merupakan hasil perbandingan. Antara berat benda uji semula berat benda uji tertahan saringan No.12 sesudah percobaan dengan berat benda uji semula. Prosedur pemeriksaan ini berdasarkan SNI.03-2417-1991. Cara melakukan percobaan ini: Siapkan benda uji tertahan saringan 1/2 lolos saringan no ¾ ambil sebanyak 5000 gram. Masukkan kedalam mesin los angeles dan putar mesin sampai 500 putaran. Selesai kemudian ambil dan saring menggunakan saringan no1/2, kemudian ditimbang. III - 18

Sumber: http://www.pavementinteractive.org Gambar 3.3 Alat uji Los Angeles 3.5 Pengujian Sifat Fisik Filler Zeolit Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan berat jenis Zeolit. Berat jenis adalah perbandingan antara isi kering pada suhu kamar dengan berat isi kering 4ºC yang isinya sama dengan isi zeolit. Peralatan yang digunakan pada pengujian ini yaitu: a. Botol le chatelier b. Minyak tanah Benda uji: Zeolit sebanyak 64 gram. III - 19

Cara kerja: a. Isi botol le chatelier dengan minyak tanah sampai anatara skala 0,5 dan 1 bagian dalam permukaan cairan dikeringkan. b. Masukkan benda uji sedikit demi sedikit kedalam botol, jangan sampai terjadi ada semen yang menempel pada dinding dalam botol atas cairan. c. Setelah semua benda uji dimasukkan, putar botol dengan posisi miring secara Perhitungan : perlahan-lahan sampai gelembung udara tidak timbul lagi pada permukaan cairan. Lalu baca skala pada botol. Berat jenis = B.Zeolit V.Zeolit = W ( V2 V1) x d V1 V2 V2 V1 d = Pembacaan pertama pada skala botol (ml). = Pembacaan kedua pada skala botol (ml). = Isi cairan yang dipindahkan oleh Zeolit denagn berat tertentu. = berat isi air w =60,06 Zeolit adalah senyawa zat kimia alumino-silikat berhidrat dengan kation natrium, kalium dan barium. Secara umum, Zeolit memiliki melekular sruktur yang unik, di mana atom silikon dikelilingi oleh 4 atom oksigen sehingga membentuk semacam jaringan dengan pola yang teratur. Di beberapa tempat di jaringan ini, atom Silicon digantikan degan atom Aluminium, yang hanya terkoordinasi dengan 3 atom Oksigen. Atom Aluminium ini hanya memiliki muatan 3+, sedangkan Silicon sendiri memiliki muatan 4+. Keberadaan atom Aluminium ini secara keseluruhan akan menyebababkan Zeolit memiliki muatan negatif. Muatan negatif inilah yang menebabkan Zeolit mampu mengikat kation. Zeolit III - 20

juga sering disebut sebagai molecular sieve/molecular mesh (saringan molekuler)karena zeolit memiliki pori-pori berukuran melekuler sehingga mampu memisahkan/menyaring molekul dengan ukuran tertentu. Zeolit mempunyai beberapa sifat antara lain : mudah melepas air akibat pemanasan, tetapi juga mudah mengikat kembali molekul air dalam udara lembap. Oleh sebab sifatnya tersebut maka zeolit banyak digunakan sebagai bahan pengering. Disamping itu zeolit juga mudah melepas kation dan diganti dengan kation lainnya, misal zeolit melepas natrium dan digantikan dengan mengikat kalsium atau magnesium. Sifat ini pula menyebabkan zeolit dimanfaatkan untuk melunakkan air. Zeolit dengan ukuran rongga tertentu digunakan pula sebagai katalis untuk mengubah alkohol menjadi hidrokarbon sehingga alkohol dapat digunakan sebagai bensin. Zeolit di alam banyak ditemukan di India, Siprus, Jerman dan Amerika Serikat. Sumber: https://www.google.com Gambar 3.4 Zeolit III - 21

3.6 Pengujian Mutu Aspal 3.6.1 Penetrasi Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan penetrasi bitumen keras atau lembek ( solid atau semi solid ) dengan memasukkan jarum penetrasi ukuran tertentu, beban dan waktu tertentu dan dengan menggunakan suhu tertentu. Sumber: ppid.ferdyonproject.com Gambar 3.5 Alat Uji Penetrasi Aspal Peralatan: 1. Alat penetrasi yang digunakan untuk menggerakkan pemegang jarum naik turun tanpa gesekan dan dapat mengukur penetrasi sampai 0,1 mm 2. Pemegang jarum seberat (45,7 + 0,5 ) frame yang dapat dilepaskan dengan mudah dari alat penetrasi. 3. Pemberat dari ( 50 + 0,05 ) gram dan ( 100 + 0,05 ) masing-masing dipergunakan untuk penetrasi dengan beban 100 gram dan 200 gram. 4. Jarum penetrasi 5. Cawan III - 22

6. Bak perendam 7. Pengukur waktu Benda Uji Bitumen keras yang sudah dipanaskan. Tahap Kegiatan: 1. Periksa dan bersihkan semua alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Ambil aspal yang akan diuji, lalu diisikan kedalam wadah kecil. 3. Siapkan alat penetrasi pastikan skala menunjukan angka Nol. 4. Letakkan wadah berisi aspal pada alat penetrasi. Pastikan jarum tepat berada diatas permukaan aspal. 5. Tekan tombol hitam pada alat selama 5 detik, lalu tekan bagian atas alat penetrasi diatas permukaan aspal. 6. Lakukan pengujian ini sebanyak 5 kali dibeberapa permukaan yang berbeda. Catat data yang dihasilkan. 3.6.2 Pemeriksaan Titik Lembek Aspal Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk dapat mengetahui suhu dimana aspal mulai lembek dengan menggunakan alat ring dan ball dimana suhu ini akan menjadi acuan dilapangan atas kemampuan aspal menahan suhu yang terjadi untuk lembek yang terjadi sehingga mengurangi daya lekat. III - 23

Peralatan: 1. Termometer 2. Cawan kuningan beserta tabung. 3. Tabung plat kuning. 4. Pengara bola. 5. Sumber pemanas dimana sumber pembakarannya dari gas. 6. Air. Benda Uji Aspal murni yang telah dipanaskan dan dibuat bulatan kecil sebanyak 2 butir. Tahap Kegiatan: 1. Pasang dan aturlah kedua benda uji diatas kedudukan dan letakkan pengarah bola diatasnya. Kemudian masukkan seluruh peralatan tersebut kedalam bejana gelas. 2. Isi bejana dengan air suling baru, dengan suhu ( 5 ± 1 )ºC, sehingga tinggi permukaan air berkisar antara 101,6 sampai 108 mm. 3. Letakkan termometer yang sesuai untuk pekerjaan ini diantara kedua benda uji ( ± 12,7 mm dari tiap cincin). 4. Letakkan bola-bola baja yang bersuhu 5º C diatas dan ditengah permukaan masing-masing benda uji yang bersuhu 5º C menggunakan penjepit dengan memasang kembali pengarah bola. Amati kedua baja tersebut, jika baja tersebut jatuh dari plat kuningnya. Catat menit keberapa dan pada suhu ke berapa baja tersebut jatuh. III - 24

Sumber: https://aboutsoil.wordpress.com Gambar 3.6 Alat Uji Titik Lembek Aspal 3.6.3 Pemeriksaan Titik Nyala Dan Titik Bakar Dengan Cleverland Open Cup Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan titik nyala dan titik bakar dari semua hasil minyak bumi kecuali minyak bakar dan bahan lainnya yang mempunyai titik nyala open cup kurang dari 79ºC. Titik nyala adalah suhu pada saat terlihat nyala api singkat pada suhu diatas permukaan aspal. Titik bakar adalah suhu pada saat terlihat nyala sekurang-kurangnya 5 detik pada suhu diatas permukaan aspal. Peralatan: 1. Thermometer 2. Cleverland Open Cup 3. Plat pemanas 4. Sumber pemanasan 5. Penahan angin 6. Nyala api III - 25

Benda Uji: 1. Panaskan contoh aspal antara 148,9ºC - 176ºC sampai cukup air. 2. Kemudian isilah cawan cleverland sampai garis dan hilangkan gelembung udara yang ada pada permukaan cairan. Tahap Kegiatan: 1. Letakkan cawan diatas cawan pemanas dan aturlah sumber pemanas sehingga terletak dibawah titik tengah cawan. 2. Letakkan nyala uji dengan poros pada jarak 7,5 cm dari tengah titik cawan. 3. Tempatkan termometer tegak lurus didalam benda uji dengan jarak 6,4 mm diatas dasar cawan, dan terletak pada satu garis yang menghubungkan titik-titik tengah cwan dan titik poros nyala penguji. Kemudian aturlah sehingga poros termometer terletak pada jarak ¼ diameter cawan tepi. 4. Tempatkan penahn angin didepan nyala penguji. 5. Nyalakan sumber pemanas dan aturlah pemansan sehingga kenaikan suhu menjadi (15 ± 1)º C pemenit sampai benda uji mencapaisuhub 56º C dibawah titik nyala perkiraan. 6. Kemudian aturlah kecepatan pemanasan 5º C sampai 6º permenit pada suhu antara 56ºC dari 28º C dibawah titik nyala perkiraan. 7. Nyalakan nyala penguji dan aturlah agar diameter nyala penguji tersebut menjadi 3,2-4,8 cm 8. Putarlah nyala penguji sehingga melalui permukaan cawan ( dari tepi ke tepi) dalam waktu satu detik. Ulangi pekerjaan tersebut setiap kenaikan 2ºC. 9. Lanjutkan pekerjaan 6 dan 8 sampai terlihat nyala singkat pada suatu titik diatas permukaan benda uji. Bacalah suhu pada termometer dan catat. III - 26

Sumber: https://indo-digital.com/ Gambar 3.7 Alat Uji Titik Nyala Aspal 3.6.4 Daktilitas Pengujian ini dilakukan untuk mendapat gambaran apakah suatu bahan aspal dalam pemakaiannya punya sifat liat dan elastis yang dipengaruhi oleh beberapa sifat kimia aspal seperti kadar parafin dan hidrokarbon bebas tak jenuh tinggi. Daktilitas aspal adalah sifat liat atau pemuluran suatu bahan aspal yang diukur dari jarak terpanjang pemuluran aspal yang ditarik sampai bahan aspal tersebut putus pada suhu 25 C dengan kecepatan 5cm/menit. Apabila aspal memiliki sifat daktilitas yang terlalu tinggi, maka campuran antara aspal dan batuan menjadi kurang baik karena tidak homogen dan daya lekatnya kurang sedangkan apabila sifat daktilitasnya rendah, aspal menjadi mudah retak. Pengujian daktilitas dilaksanakan dengan alat uji daktilitas aspal yang terdiri dari cetakan, bak air, dan alat penarik bahan uji. Pengujian ini dilaksanakan berdasarkan SNI 06-2432- 1991. III - 27

Sumber: http://indonesian.alibaba.com Gambar 3.8 Alat Uji Daktilitas Aspal Pengujian ini dilakukan di Laboratorium UPT Penyelidikan, Pengukuran, dan Pengujian DPU Propinsi DKI Jakarta dengan langkah-langkah: 1. Benda uji disiapkan untuk dicetak pada cetakan daktilitas yang telah dilapisi oleh gliserin dan talek agar aspal tidak menempel. 2. Air yang dituang ke dalam mesin penguji daktilitas ditambahkan gliserin secukupnya sehingga aspal yang ada di cetakan daktilitas akan dapat melayang ketika ditarik dengan mesin penguji. 3. Cetakan daktilitas yang berisi benda uji dipasang pada mesin uji dan benda uji ditarik secara teratur dengan kecepatan 5 cm/menit sampai benda uji putus. Perbedaan kecepatan sebesar 5% masih diijinkan. Selama percobaan berlangsung, benda uji harus selalu dalam keadaan terendam sekurang-kurangnya 2,5 cm dari permukaan air dengan suhu 25 ± 0,5 C. 3.6.5 Berat Jenis Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui berat jenis bahan aspal yang akan digunakan dalam penelitian. Berat jenis aspal adalah perbandingan antara berat aspal dengan berat III - 28

air suling yang isinya sama pada suhu 25 C. Pengujian ini dilaksanakan berdasarkan SNI 06-2441-1991. Rumus yang digunakan untuk menentukan berat jenis aspal adalah: Berat Jenis = Keterangan : ( C A ) (B A) ( D C ) A = Berat Piknometer + Tutup ( gr ). B = Berat Piknometer + Tutup + Air ( gr ). C = Berat Piknometer + Tutup + Aspal ( gr ). D = Berat Piknometer + Tutup + Aspal + Air ( gr ). Pengujian ini dilakukan di Laboratorium dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Piknometer disiapkan, kemudian ditimbang masing-masing piknometer + tutup ( A ). 2. Piknometer diisi air hingga penuh dan tidak ada gelembung udara lalu ditutup dan bersihkan sebelum akhirnya ditimbang ( B ). 3. Setelah ditimbang dan diketahui beratnya, maka air dalam piknometer dibuang dan piknometer dikeringkan dalam oven selama ± 60 menit dengan suhu 110 C 4. Aspal ditimbang sebanyak ± 35 gram dan dimasukkan ke dalam piknometer lalu kemudian dipanaskan dengan oven pada suhu 110 C sampai mencair, kemudian didinginkan pada suhu ±25 C dan ditimbang + tutup ( C ). 5. Piknometer berisi aspal ditambahkan air dan direndam dalam waterbath pada suhu 25 C dalam volume yang sama selama ± 15 menit. Setelah itu piknometer + tutup + aspal + air ditimbang untuk mengetahui beratnya ( D). III - 29

3.7 Pengujian Beban Statis 3.7.1 Pengujian Marshall Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan ketahanan (stabilitas) terhadap kelelahan plastis (flow) dari pencampuran aspal. Ketahanan adalah kemampuan suatu campuran aspal untuk menerima beban sampai terjadi kelelahan plastis yang dinyatakan dalam kilogram (kg) atau pound. Kelelahan plastis adalah keadaan dimana perubahan bentuk suatu campuran aspal yng terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam milimter (mm). Sumber: ferdyonproject.com Gambar 3.9 Alat Uji Marshall Menghitung perkiraan awal kadar aspal optimum ( Pb ) dengan rumus : Pb = 0,035.( %CA ) + 0,045.( %FA ) + 0,18.( % filler ) + K Pb = 0,035.( 57 ) + 0,045.(35,5) + 0,18.( 7,5 ) + 1 Keterangan : CA = Persen agregat tertahan saringan No. 8. FA = Persen agregat lolos saringan No. 8 dan tertahan saringan No.200. filler = Persen agregat minimal 75% lolos No. 200. K = Konstanta ( 0,5 1,0 untuk laston ). III - 30

Perkiraan nilai Pb dibulatkan sampai 0,1% nilai terdekat. Peralatan: 1. Ember dan keranjang untuk menghitung berat aspal dalam air. 2. Bak perendam ( waterbath) dilengkapi dengan suhu minimum 20ºC. 3. Alat uji marshall 4. Timbangan Benda Uji: Sampel aspal yang telah dicetak dan direndam selama 1 hari. Tahap Kegiatan: 1. Timbang keranjang dalam air. 2. Masukkan cetakan aspal + agregat kedalam keranjang yang ada didalam air. Timbang aspal dalam air. 3. Rendam cetakan aspal + agregat kedalam waterbath selama 30 menit. 4. Angkat cetakan aspal + agregat tersebut lalu letakkan dibawah mesin uji. Catat besar tekanan dan lelehnya. III - 31

3.7.2 Uji Perendaman Marshall Pada prinsipnya, pengujian ini sama dengan pengujian marshall standar, hanya saja waktu perendaman benda ujinya berbeda. Indeks perendaman berhubungan dengan daya lekat aspal terhadap agregat di lapangan dalam keadaan basah, bila daya lekatnya hilang maka jalan akan rusak. Menurut AASHTO T.165-74 atau ASTM D.1075-54 ( 1969 ) ada dua metode ujian perendaman marshall yaitu ujian perendaman selama 4 x 24 jam dengan suhu ± 50 C dan uji perendaman selama 1 x 24 jam dengan suhu ± 60 C. Pada pengujian ini dipakai metode uji perendaman marshall selama 1 x 24 jam dalam suhu konstan 60 C sebelum ada pembebanan dengan target yang harus dicapai Indeks Kekuatan Sisa ( IKS ) yaitu lebih besar dari 90%. Pengujian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Bahan uji dan alat uji yang akan digunakan dipersiapkan, dibersihkan, dan diukur diameter serta tingginya sebelum kemudian ditimbang. 2. Benda uji ditimbang dalam air kemudian dicatat beratnya. 3. Benda uji dibagi menjadi 2 buah dengan jangka waktu perendaman antara 30 menit dengan 24 jam. Kemudian dilakukan pengujian marshall untuk mengetahui stabilitasnya masing-masing. Rumus untuk menentukan IKS yaitu : IKS = 1 ( S1 S2 ) S1. 100% Keterangan : IKS = Indeks Kekuatan Sisa ( % ) harus lebih besar dari 90%. III - 32

S1 = Stabilitas hasil rendaman 30 menit pada suhu 60 C ( kg ). S2 = Stabilitas hasil rendaman 24 jam pada suhu 60 C ( kg ). III - 33