BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kusta 2.1.1. Definisi Istilah kusta berasal dari bahasa India, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen (Kosasih,2003). Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, penyebabnya ialah Mycobacterium Leprae yang intraselular obligat (Kosasih, 2003). 2.1.2. Epidemiologi Penyebaran penyakit kusta dari suatu Benua, Negeri dan tempat, ke Benua Neegri dan tempat lain sampai tersebar ke seluruh dunia tampaknya disebabkan oleh perpindahan orang yang telah terkena penyakit tersebut. Masukknya kusta ke pulau-pulau Melanesia termasuk Indonesia diperkirakan terbawa oleh orangorang Cina (Kosasih,2003). Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah patogenitas kuman penyebab, cara penularan, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang berhubungan dengan kerentanan, perubahan-perubahan imunitas, dan kemungkinan-kemungkinan adanya Reservoir diluar manusia. (Sri Linuwih, 2003). Frekuensi tertinggi pada kelompok umur antara 25-35 tahun. Faktor sosial ekonomi kiranya memegang peranan, makin rendah sosial ekonominya makin subur penyakit kusta. Sebaliknya, faktor sosial ekonomi tinggi membantu penyembuhan. Sehubungan dengan iklim, ternyata penyakit ini kebanyakan terdapat di daerah tropis dan subtropis yang panas dan lembab. Ada variasi reaksi terhadap infeksi Mycobacterium Leprae yang mengakibatkan variasi gambaran
klinis (spektrum dan lain-lain) di berbagai suku bangsa, rupanya disebabkan oleh faktor genetik yang berbeda (Hiswani,2000). Kusta terdapat dimana-mana, terutama di Asia, Afrika, Amerika Latin, daerah trpopis dan subtropis, serta masyarakat yang sosial ekonominya rendah. Pada tahun 1991 World Health Assembly membuat resolusi tentang eliminasi kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2000 dengan menurunkan prevalensi kusta menjadi di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk. Di Indonesia hal ini dikenal sebagai Eliminasi Kusta tahun 2000 (EKT, 2000). Jumlah kasus kusta di seluruh dunia selama 12 tahun terakhir ini telah menurun 85% di sebagian besar Negara Wilayah yang endemis. Kasus yang terdaftar pada permulaan tahun 1997 kurang lebih 890.000 penderita. Walaupun penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di 55 Negara atau Wilayah, 91% dari jumlah kasus berbeda di 16 Negara, dan 82%-nya di 5 Negara (Brazil, India, Indonesia, Myanmar dan Nigeria). Di Indonesia jumlah kasus kusta yang tercatat pada akhir Maret 1997 adalah 31.699 orang, distribusi juga tidak merata, yang tertinggi antara lain di Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Prevalensi di Indonesia per 10.000 penduduk adalah 1.57 (EKT,2000). Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Mycobacterium leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah : 1. Usia 2. Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa 3. Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti 4. Ras 5. Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti 6. Kesadaran social 7. Umumnya negara-negara endemis kusta adalah Negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah
2.1.3. Gejala klinis 1. Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia, 2. Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama- kelamaan semakin melebar dan banyak, 3. Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, 4. Adanya bintil-bintil kemerahan (Leproma, Nodul) yang tersebar pada kulit, 5. Alis rambut rontok, 6. Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut Facies Leomina (muka singa) (Zulkipli,2002). 2.1.4. Patogenesis Timbulnya penyakit kusta pada seseorang tidak mudah sehingga tidak perlu ditakuti. Hal ini bergantung pada beberapa faktor, antara lain sumber penularan, kuman kusta, daya tahan tubuh, sosial ekonomi, dan iklim (Arif mansjoer,2000). Sumber penularan adalah kuman kusta utuh (solid) yang berasal dari pasien kusta tipe MB (Multi Basiler) yang belum diobati atau tidak teratur berobat (Arif mansjoer, 2000). Bila seseorang terinfeksi Mycobacterium Leprae, sebagian besar (95%) akan sembuh sendiri dan 5% akan menjadi indeterminate. Dari 5% interminate, 30% bermanifestasi klinis menjadi determinate dan 70% sembuh (Arif mansjoer,2000). Setelah Mycobacterium Leprae masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh setelah masa tunas di lampaui tergantung pada system imunitas selular (cellular mediated immune) pasien. Kalau sistem imunitas selular tinggi, penyakit berkembang ke arah Tuberkuloid dan bila rendah berkembang kearah Lepromatosa (Arif mansjoer, 2000).
2.1.5. Klasifikasi Ridley dan Jopling memperkenalkan istilah spektrum Determinate pada penyakit kusta yang terdiri atas berbagai tipe atau bentuk, yaitu: TT : Tuberkuloid polar, bentuk yang stabil T I : Tuberkuloid Indefinite BT : Borderlines Tuberculoid BB: Mid Borderline BL : Borderline Lepramatous L I : Lepromatosa Indefinite LL: Lepramatosa polar, bentuk yang stabil. Tabel 2.1. Zona Spektrum Kusta menurut Macam Klasifikasinya KLASIFIKASI ZONA SPEKTRUM KUSTA Ridley & Jopling TT BT BB BL LL Madrid Tuberkuloid Borderline Lepromatosa W.H.O Pausibasiler (PB) Multibasiler (MB) Puskesmas PB MB Sumber : (Kosasih, 2003). Tipe I (Indeterminate) tidak termasuk dalam spektrum. TT adalah tipe Tuberkuloid Polar, yakni Tuberkuloid 100%, merupakan tipe yang stabil jadi berarti tidak mungkin berubah tipe. Begitu juga LL adalah tipe Lepromatosa Polar, yakni Lepromatosa 100%, juga merupakan tipe yang stabil yang tidak mungkin berubah lagi. Sedangkan tipe antara Ti dan Li disebut tipe borderline atau campuran, berarti campuran antara Tuberkuloid dan Lepromatosa. BB adalah tipe campuran yang terdiri atas 50 % Tuberkuloid Lepromatosa. BB dan Ti lebih banyak Tuberkuloidnya, sedangkan BL dan Li lebih banyak Lepromatosanya. Tipe-tipe campuran ini adalah tipe yang labil, berarti dapat bebas beralih tipe, baik ke arah TT maupun ke arah LL (Sulistyowaty, 2005).
Multibasiler berarti mengandung banyak basil yaitu tipe LL, BL, dan BB. Sedangkan Pausibasiler berarti mengandung sedikit basil, yakni tipe TT, BT dan I (Sulistyowaty, 2005). Menurut WHO pada tahun 1981, kusta dibagi menjadi Multibasiler dan Pausibasiler. Yang termasuk dalam Multibasiler adalah tipe LL, BL, dan BB pada klasifikasi Ridley-Jopling dengan indeks bakteri (IB) lebih dari 2+, sedangkan Pausibasiler adalah tipe I, TT dan BT dengan IB kurang dari 2+. Tabel 2.2. Gambaran Klinis menurut WHO Tipe PB Tipe MB 1. Lesi Kulit (macula datar, Papul yang 1-5 lesi, hipopigmentasi/ eritema, distribusi tidak Lesi >5, distribusi lebih simetris, hilanya sensasi. meninggi, Nodul) simetris, hilanya sensasi yang jelas. 2. Kerusakan cabang Hanya satu cabang saraf. Banyak cabang saraf. saraf (menyebabkan saraf kehilangan sensasi/kelemahan otot yang dipersarafi oleh sraf yang terkena) Sumber: (WHO,1995). Untuk kepentingan program pengobatan pada tahun 1987 telah terjadi perubahan. Yang dengan kusta PB adalah kusta dengan BTA negatif pada pemeriksaan kerokan kulit, yaitu tipe-tipe I, TT dan BT menurut klasifikasi Ridley & Jopling. Bila pada tipe-tipe tersebut disertai BTA positif, maka akan dimasukkan ke dalam kusta MB. Sedangkan kusta MB adalah semua penderita kusta tipe BB, BL dan LL atau apapun (Arif mansjoer, 2000).
2.1.6. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Bakterioskopik Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan kulit atau mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap basil tahan asam, antara lain dengan Ziehl Neelsen. Bakterioskopik negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak mengandung Mycobacterium Leprae (Hiswani,2000). 2. Pemeriksaan Histopatologik Gambaran histopatologik bagi tipe Tuberkuloid adalah tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata tidak ada basil atau hanya sedikit dan Nonsolid. Bagi Lepromatosa terdapat kelim sunyi subepidermal (subepidermal clear zone), ialah suatu daerah langsung di bawah epidermis yang jaringannya tidak patologik, ada sel Virchow (sel lepra) dengan banyak basil. Bagi tip borderline, terdapat campuran unsur-unsur tersebut (Hiswani, 2000). 2.1.7. Pengobatan Obat anti kusta yang paling banyak dipakai saat ini adalah DDS (Diaminodifenil Sulfon) lalu Klofazimin, dan Rifampisin. DDS mulai dipakai sejak 1948 dan pada tahun 1952 di Indonesia. Kolfazimin dipakai sejak 1962 oleh Brown dan Hoogerzeil dan rifampisin sejak tahun 1970. pada tahun 1998 WHO menambahkan 3 obat antibiotika lain untuk pengobatan alternatif, yaitu Ofkloksasin, Minisiklin dan Klartromisin (Kosasih,2003). DDS Dosis DDS ialah 1-2mg/kg berat badan setiap hari. Efek samping yang mungkin timbul antara lain nyeri kepala, Erupsi obat, Anemia Hemolitik, Leukopenia, Insomnia, Neuropatia Perifer, sindrom DDS, Nekrolisis Epidermal Toksik, Hepatitis, Hipoalbuminemia, dan Methmoglobinemia (Kosasih, 2003).
Rifampisin Rifampisin adalah obat yang menjadi salah satu komponen kombinasi dengan DDS dengan dosisi 10mg/kg berat badan; diberikan setiap hari atau setiap bulan. Rifampisin tidak boleh diberikan sebagai monoterapi, oleh karena memperbesar kemungkinan terjadinya resistensi, tetapi pada pengobatan kombinasi selalu ditakutkan, tidak boleh diberikan setiap minggu atau setiap 2 minggu mengingat efek sampingnya (Kosasih,2003). Efek samping yang harus diperhatikan adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, flu-like syndrom dan erupsi kulit (Zalbawi,2005). Klofazimin (lamprene) Obat ini mulai dipakai sebagai obat kusta pada tahun 1962 oleh Brown dan Hoogerzeil. Dosis sebagai antikusta ialah 50 mg setiap hari, satau 100 mg selang hari, atau 3 x 100 mg setiap minggu. Juga bersifat anti-inflamasi sehingga dapat dipakai pada penanggulangan E.N.L. dengan dosis lebih tinggi. Resistensi pertama pada satu kasus dibuktikan pada tahun 1982 (Kosasih,2003). Efek sampingnya ialah warna kecoklatan pada kulit, dan warna kekuningan pada sklera, sehingga mirip ikterus. Hal tersebut disebabkan karena Klofazimin ialah zat warna dan tertimbun ditempat tersebut. Obat ini menyebabkan pigmentasi kulit yang sering merupakan masalah dalam ketaatan berobat penderita. Efek sampingnya hanya terjadi dalam dosis tinggi, berupa gangguan gastrointestinal (Nyeri Abdomen, Nausea, Diare, Anoreksi, dan Vomitus). Selain itu dapat terjadi penurunan berat badan. Dapat juga tertimbun dihati. Perubahan warna tersebut akan menghilang setelah obat dihentikan (Zalbawi, 2005). Protionamid/etionamid Dosisnya 5-10mg/kg berat badan setiap hari, untuk Indonesia obat ini tidak atau jarang dipakai (Kosasih, 2003).
Obat alternatif Ofloksasin Ofloksasin merupakan turunan fluorokuinolon yang paling aktif terhadap Mycobacterium Leprae in vitro. Dosis optimal harian adalah 400 mg. Dosis tunggal yang diberikan dalam 22 dosis akan membunuh kuman Mycobacterium Leprae hidup sebesar 99.99% (Kosasih,2003). Efek sampingnya adalah mual, diare, dan gangguan saluran cerna lainnya, berbagai gangguan susunan saraf pusat termasuk Insomnia, nyeri kepala, Dizziness, Nercousness dan halusinasi. Walaupun demikian hal ini jarang ditemukan dan biasanya tidak membutuhkan penghentian pemakaian obat (Zalbawi, 2005). Minosiklin Termasuk dalam kelompok tetrasiklin. Efek bakterisidalnya lebih tinggi daripada klaritromisin, tetapi lebih rendah daripada rifampisin. Dosis stsandar harian 100mg. efek sampingnya adalah pewarnaan gigi bayi dan anak-anak, kadang-kadang mengenai kulit dan membran mukosa, berbagai simtom saluran cerna dan susunan saraf pusat, termasuk dizziness dan unsteadiness. Oleh sebab itu tidak dianjurkan untuk anak-anak atau selama kehamilan (Zalbawi, 2005). Klaritromisin Merupakan kelompok antibiotika makrolid dan mempunyai aktivitas bakterisidal terhadap Mycobacterium Leprae pada tikus dan manusia. Pada penderita kusta lepromatosa dosis harian 500mg membunuh 99.9% dalam 56 hari. Efek sampingnya adalah Nausea, Vomitus dan diare yang terbukti sering ditemukan bila obat ini diberikan dengan dosis 2000mg (Zalbawi, 2005).