JEMBATAN BOX GIRDER SEGMENTAL

dokumen-dokumen yang mirip
EVALUASI JALAN LAYANG NON TOL PAKET CASABLANCA KUNINGAN- JAKARTA. Alan Elang Filtrana, Ester Melina, Sri Tudjono *), Ilham Nurhuda *)

EVALUASI JALAN LAYANG NON TOL PAKET CASABLANCA KUNINGAN-JAKARTA

PERENCANAAN STRUKTUR JEMBATAN SLAB ON PILE SUNGAI BRANTAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE PRACETAK PADA PROYEK TOL SOLO KERTOSONO STA STA.

KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA

DESAIN FLY OVER PADA PERLINTASAN SEBIDANG JALAN KERETA API DI JALAN SLAMET RIYADI SURAKARTA

3.3. BATASAN MASALAH 3.4. TAHAPAN PELAKSANAAN Tahap Permodelan Komputer

Modifikasi Jembatan Lemah Ireng-1 Ruas Tol Semarang-Bawen dengan Girder Pratekan Menerus Parsial

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. mulailah orang membuat jembatan dengan teknologi beton prategang.

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SWALAYAN RAMAI SEMARANG ( Structure Design of RAMAI Supermarket, Semarang )

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir

TUGAS AKHIR MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN GAYAM KABUPATEN BLITAR DENGAN BOX GIRDER PRESTRESSED SEGMENTAL SISTEM KANTILEVER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu

DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG

ANALISIS KEKUATAN GIRDER AKIBAT KEMIRINGAN MEMANJANG JEMBATAN. Suyadi 1)

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

ABSTRAK. Oleh : Wahyu Rifai Dosen Pembimbing : Sapto Budi Wasono, ST, MT

DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS FLY OVER SIMPANG BANDARA TANJUNG API-API, DENGAN STRUKTUR PRECAST CONCRETE U (PCU) GIRDER. Laporan Tugas Akhir

BAB IV DESAIN STRUKTUR GUIDEWAY

BAB V ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF JEMBATAN

STUDI BENTUK PENAMPANG YANG EFISIEN PADA BALOK PRATEGANG TERKAIT DENGAN BENTANG PADA FLYOVER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR

DESAIN JEMBATAN DENGAN MENGGUNAKAN PROFIL SINGLE TWIN CELLULAR BOX GIRDER PRESTRESS ABSTRAK

BAB III METODOLOGI Tinjauan Umum

PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI)

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR JEMBATAN MALO-KALITIDU DENGAN SYSTEM BUSUR BOX BAJA DI KABUPATEN BOJONEGORO M. ZAINUDDIN

PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN DENGAN STRUKTUR BAJA 4 LANTAI PADA DAERAH GEMPA RESIKO TINGGI DENGAN METODE LRFD (LOAD RESISTANCE AND FACTOR DESIGN)

PERENCANAAN GEDUNG DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG. (Structure Design of DKK Semarang Building)

BAB V PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA Pre-Elemenary Desain Uraian Kondisi Setempat Alternatif Desain

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-7 1

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Insitut Teknologi Sepuluh Nopember 2014

TUGAS AKHIR PERENCANAAN ULANG STRUKTUR JEMBATAN MERR II-C DENGAN MENGGUNAKAN BALOK PRATEKAN MENERUS (STATIS TAK TENTU)

KAJIAN EFISIENSI BULB-TEE SHAPE AND HALF SLAB GIRDER DENGAN BLISTER TUNGGAL TERHADAP PC-I GIRDER

EVALUASI KEKUATAN STRUKTUR YANG SUDAH BERDIRI DENGAN UJI ANALISIS DAN UJI BEBAN (STUDI KASUS GEDUNG SETDA KABUPATEN BREBES)

MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4

PERENCANAAN JEMBATAN DENGAN MENGGUNAKAN PROFIL BOX GIRDER PRESTRESS

PERENCANAAN JEMBATAN TUKAD WOS DENGAN BALOK PELENGKUNG BETON BERTULANG.

BAB 1 PENDAHULUAN. metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan

PERENCANAAN JEMBATAN MALANGSARI MENGGUNAKAN STRUKTUR JEMBATAN BUSUR RANGKA TIPE THROUGH - ARCH. : Faizal Oky Setyawan

Pengaruh Rasio Tinggi Busur terhadap Bentang Jembatan Busur pada Gaya Dalam dan Dimensi Jembatan

Reza Murby Hermawan Dosen Pembimbing Endah Wahyuni, ST. MSc.PhD

BIDANG STUDI STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK USU 2014

PERHITUNGAN STRUKTUR BETON BERTULANG HOTEL 8 LANTAI DI JALAN AHMAD YANI 2 KUBU RAYA

BAB I PENDAHULUAN. maka kegiatan pemerintahan yang berkaitan dengan hukum dan perundangundangan

BAB I PENDAHULUAN. Transportasi merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh manusia

PERENCANAAN GEDUNG PASAR TIGA LANTAI DENGAN SATU BASEMENT DI WILAYAH BOYOLALI (DENGAN SISTEM DAKTAIL PARSIAL)

2.2 Desain Pendahuluan Penampang Beton Prategang 5

DESAIN ALTERNATIF STRUKTUR ATAS JEMBATAN BOX GIRDER DENGAN METODE SPAN BY SPAN

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN ARMADA II DI MAGELANG. Bakhtiar Ali Afandi, Mansyur Arifudin, Himawan Indarto *), Ilham Nurhuda

ANALISA PERHITUNGAN STRUKTUR JEMBATAN PRATEGANG SEI PULAU RAJA TUGAS AKHIR

BAB III METODOLOGI PENULISAN

PERENCANAAN STRUKTUR HOTEL KUDUS BERDASARKAN SNI

LAMPIRAN 1. DESAIN JEMBATAN PRATEGANG 40 m DARI BINA MARGA

ANALISIS GELAGAR PRESTRESS PADA PERENCANAAN JEMBATAN AKSES PULAU BALANG I MENGGUNAKAN SOFTWARE SAP 2000 v.14

KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA MAHASIWA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA. Oleh : CAN JULIANTO NPM. :

STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN

Desain Review Pier Flyover Bridge di Jakarta Jalur Tn.Abang Kp.Melayu

a home base to excellence Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 Pondasi Pertemuan - 5

PERBANDINGAN ANALISIS STRUKTUR GEDUNG FAKULTAS PSIKOLOGI USM (EMPAT LANTAI GEDUNG T) MENGGUNAKAN SNI GEMPA DENGAN SNI GEMPA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang

BAB I PENDAHULUAN. kombinasi dari beton dan baja dimana baja tulangan memberikan kuat tarik

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG ICT UNIVERSITAS DIPONEGORO - TEMBALANG SEMARANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan

PERANCANGAN JEMBATAN KATUNGAU KALIMANTAN BARAT

PERENCANAAN JEMBATAN BALOK PELENGKUNG BETON BERTULANG TUKAD YEH NGONGKONG DI KABUPATEN BADUNG, BALI

TUBAGUS KAMALUDIN DOSEN PEMBIMBING : Prof. Tavio, ST., MT., Ph.D. Dr. Ir. Hidayat Soegihardjo, M.S.

MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN BANTAR III BANTUL-KULON PROGO (PROV. D. I. YOGYAKARTA) DENGAN BUSUR RANGKA BAJA MENGGUNAKAN BATANG TARIK

PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN

RESPONS STRUKTUR PIER DAN PIERHEAD JEMBATAN CAWANG PRIOK TERHADAP BEBAN GEMPA SESUAI SNI GEMPA 1726 TAHUN 2003 DAN TERHADAP BEBAN LALU LINTAS TESIS

1 HALAMAN JUDUL TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TRI TUNGGAL SEMARANG

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

STUDI PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL PADA BALOK BAJA BANGUNAN GEDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ABAQUS 6.7. Oleh : RACHMAWATY ASRI ( )

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR. PERENCANAAN GEDUNG IKIP PGRI SEMARANG JAWA TENGAH ( Planning Building Structure IKIP PGRI, Semarang Central Java )

PENGGAMBARAN DIAGRAM INTERAKSI KOLOM BAJA BERDASARKAN TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI ) MENGGUNAKAN MATLAB

Ada dua jenis tipe jembatan komposit yang umum digunakan sebagai desain, yaitu tipe multi girder bridge dan ladder deck bridge. Penentuan pemilihan

BAB II DASAR TEORI II.1 TEORI UMUM JEMBATAN

PERENCANAAN JEMBATAN BALOK PELENGKUNG BETON BERTULANG TUKAD YEH PENET, DI SANGEH

PERENCANAAN BEAM-COLOUM JOINT DENGAN MENGGUNAKAN METODE BETON PRATEGANG PARTIAL GEDUNG PERKANTORAN BPR JATIM TUGAS AKHIR

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR PERPAJAKAN PUSAT KOTA SEMARANG

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG. Oleh : BAYU ARDHI PRIHANTORO NPM :

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

KAJIAN PENENTUAN JENIS STRUKTUR JEMBATAN YANG OPTIMAL PADA STRUKTUR JEMBATAN KHUSUS PROYEK PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG SOLO

MODIFIKASI STRUKTUR JEMBATAN BOX GIRDER SEGMENTAL DENGAN SISTEM KONSTRUKSI BETON PRATEKAN (STUDI KASUS JEMBATAN Ir. SOEKARNO MANADO SULAWESI UTARA)

OLEH : ANDREANUS DEVA C.B DOSEN PEMBIMBING : DJOKO UNTUNG, Ir, Dr DJOKO IRAWAN, Ir, MS

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG

Transkripsi:

JEMBATAN BOX GIRDER SEGMENTAL Johanes B Borsak P Sitanggang, Nova Arstriyanto, Himawan Indarto, Parang Sabdono Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jalan Prof Soedarto, Tembalang, Semarang. 50239, Telp/Fax (024)7460055 Abstrak Jembatan box girder di Indonesia termasuk baru. Maksud dan tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk merencanakan struktur jembatan box girder. Dimana jembatan dengan bentang rencana sepanjang 310 m dengan 2 pilar dan ketinggian pilar yang berbeda. Karena ada perbedaan tinggi tersebut jembatan ini diperiksa dengan metode balance stiffnes untuk mencari simpangan dan waktu getar yang sama sehingga pilar kuat dan tidak roboh. Perencanaan beban gempa berdasarkan peraturan terbaru (SNI 03-2833-2008 Standar Evaluasi Ketahanan Gempa untuk Jembatan). Analisa struktur jembatan menggunakan program SAP. Untuk struktur bawah yang meliputi abutment dan pondasi menggunakan metode broom untuk mengetahui batas geser tanah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah perlu dilakukan balance stiffnes untuk mengetahui dimensi pilar yang tepat agar jembatan yang ada di atasnya dapat berdiri kokoh. Sendi plastis untuk mengetahui geser maksimum yang diterima pilar Dan untuk mengetahui gaya geser pondasi jangan sampai terjadi kegagalan pondasi, yang dapat menyebabkan kehancuran struktur. Kata kunci : Jembatan, box girder, gempa, balance stiffness, sendi palastis dan broom. Abstract Box girder bridge in Indonesia, including new. The intent and purpose of this thesis is to plan the bridge box girder structure. Where bridges with spans plan along 310 m with 2 pillars and different pillar heights. Because there are differences in the height of this bridge inspected by stiffnes balance method to locate deviation and shakes the same time so strong pillar and not collapse. Planning earthquake loads based on the latest regulations (SNI 03-2833-2008 Earthquake Resistance Evaluation Standards for Bridge). Analysis of bridge structures using SAP program. The bottom structure which includes abutment and foundation broom method to determine the shear boundary. The conclusion that can be drawn is necessary to balance stiffnes to know the exact dimensions of the pillars of that bridge is on it can stand firmly. Plastic hinge to determine the maximum acceptable shear pillar and foundation to determine the shear foundation failure not to occur, which can lead to the destruction of the structure. Key words : Bridge, box girder, Earthquake, balance stiffness, sendi plastic and broom.

1. Latar belakang Jembatan pada umumnya berfungsi untuk menghubungkan dua tempat yang terpisah baik karena kondisi alam maupun karena sebab lainnya. Seiring dengan perkembangan waktu, fungsi jembatan tidak hanya sebagai alat penghubung masyarakat sekitar, tetapi juga sebagai landmark dari wilayah tersebut. Sehinggaa bentuk jembatan tidak hanya dirancang dari aspek stuktur, tetapi juga dari nilai estetika / keindahannya. Penggunaan beton pratekan dapat mereduksi volume bahan, sehingga berat profil lebih ringan dan pondasi yang digunakan akan menahan beban yang lebih ringan juga. Keuntungan pemilihan profil box girder sebagi alternatif antara lain : 1. Lebih efisien untuk penampangnya dikarenakan memliki berat struktur yang lebih ringan. 2. Dari segi struktur kuat terhadap momen torsi karena merupakan satu kesatuan struktur. 3. Kuat terhadap gempa. 2. Permasalahan Permasalahan Jembatan dengan bentang panjang dan juga beda ketinggian pada pilar membutuh perencanaan yang mendasar untuk mendapat bangunan jembatan baik. Kita menggunakan cara balance stiffnes dan teori sendi plastis untuk pilar dan metode broom untuk pondasi. 3. Batasan Masalah Perencanaan struktur bawah jembatan (pilar dan abutmen) selain harus memiliki kemampuan struktur yang kuat dan aman juga dipilih berdasarkan faktor ekonomi dan kemudahan dalam pelaksanaan konstruksinya. Pada kondisi struktur jembatan yang direncanakan memiliki pilar tinggi maka jenis pilar yang paling efisien adalah kolom Gambar 1 : penampang memanjang jembatan solid dengan bentuk persegi. Sedangkan untuk beban gempa mengacu pada peraturan gempa tahun 2008. Rencana lokasi jembatan tersebut adalah daerah Bawen, Jawa tengah. Untuk analisis dan perhitungan struktur akan dibantu menggunakan program SAP 2000. Urutan langkah yang dilaksanakan dalam perencanaan sebagai berikut : 1. Perencanaan struktur atas dan struktur bawah jembatan 2. Pembebanan untuk struktur jembatan 3. Perhitungan tulangan dan tendon prestressed pada box girder 4. Perbandingan kekakuan dan periode getaran antar pilar yang harus memenuhi batasan yang telah ditetapkan (evaluasi balanced stiffness). 5. Perhitungan struktur pilar, abutment dan pondasi. Standar dan acuan desain menggunakan beberapa standarisasi antara lain : SNI-03-2847-2002 Standar Perencanaan Beton bertulang RSNIT-05-2005 Standar Pembebanan Jembatan

SNI-03-2833-2008 Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Jembatan BMS1992 Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan AASHTO LRFD 2007 Bridge Design Specifications 4. Hasil dan pembahasan 4.1 Perencanaan struktur atas dan struktur bawah jembatan Untuk struktur atas jembatan dipilih box girder dengan menggunakan beton prategang. Konstruksi Beton Prategang digunakan untuk jembatan yang panjang bentangnya > 30 m. Jembatan Lemah Ireng dengan panjang bentang ± 310 m dapat menggunakan konstruksi beton prategang dengan bentang 2 buah. Dengan konstruksi beton prategang biaya lebih ekonomis dibandingkan dengan konstruksi rangka baja. Penampang melintang jembatan box girder dibuat dengan AASHTO LRFD 2007 Bridge Design Specifications dengan ketentuan Cross section dimensions Syarat yang harus dipenuhi untuk menetukan dimensi box girder menurut AASHTO, Guide Specification for Design and Construction of Segmental, second edition 1999 antara lain adalah sebagai berikut : Gambar 3 : Aashto Pleminary guide 2 Untuk struktur bawah jembatan dipilih Abutment kolom Spillthrough. Dinamakan demikian karena timbunan diijinkan berada dan melalui portal abutment yang sepenuhnya tertanam dalam timbunan. Portal dapat terdiri dari balok kepala dan tembok kepala yang didukung oleh rangkaian kolom kolom pada pondasi atau secara sederhana terdiri dari balok kepala yang didukung langsung oleh tiang tiang. Untuk pondasi Sesuai dengan data kondisi tanah yang ada berdasarkan hasil boring, lapisan keras berada pada kedalaman > 14 meter dari permukaan tanah, jadi dalam pemilihan pondasi yang digunakan adalah bore pile. karena menggunakan diameter diatas 60 cm, apabila menggunakan tiang pancang, akan membutuhkan hammer yang besar untuk memasukan tiang. Terlebih lagi lapisan tanah adalah tanah keras. Gambar 2 : Aashto Pleminary guide 1 4.2 Pembebanan untuk struktur jembatan Beban yang bekerja pada jembatan :

Tegangan batas fpu : 1860 MPa=18600 kg/cm 2 =18,6 ton/cm 2. Luas tampang: 690,97 mm 2 = 6,9097 cm 2 Tabel 1 : beban pada jembatan 4.3 Tendon prestressed pada box girder Kehilangan tegangan antara lain akibat : 1. kehilangan tegangan akibat gesekan angkur (anchorage friction) 2. kehilangan tegangan akibat gesekan cable (jack friction) 3. kehilangan tegangan akibat pemendekan elastis (elastic shortening) 4. kehilangan tegangan akibat pengangkuran (anchoring) 5. kehilangan tegangan akibat relaxation of tendon - pengaruh susut (shrinkage) - pengaruh rayapan (creep) Spesifikasi Kabel Prategang : Diameter nominal tiap strand : 12,7 mm Luas nominal tiap strand: 98,71 mm 2 4.4 Perbandingan kekakuan dan periode getaran antar pilar yang harus memenuhi batasan yang telah ditetapkan (evaluasi balanced stiffness). Dalam mengevaluasi pilar yang dibuat kita melakukan metode balance stiffnes. Ini dikarenakan pilar yang menopang jembatan ada 2 dengan ketinggian yang berbeda. Untuk pilar 1 adalah 15m dan pilar 2 adalah 28m. Dengan ketinggian yang berbeda waktu getar dan simpangan yang terjadi pun berbeda, apabila ada gaya gempa box diatas bisa patah akibat simpangan yang jauh. Kekakuan yang diperkenankan > 0,75 dan periode getar pilar > 0,7. Itu sebabnya kenapa pilar tersebut harus di balance agar pilar dapat simpangan yang tidak jauh. Tabel di bawah adalah hasil simpangan yang terjadi. Pilar Pilar 1 (massive) Pilar 2 (massive) 4.5 Sendi Plastis Dimensi Pilar Memanjang Melintang L Periode Ti / Periode Ti / B H getar Tj > Ket getar Tj > (m) (m) (m) (detik) 0.7 (detik) 0.7 15 2.5 8.0 0.307 1.233 Memenuhi 0.87 Persyaratan 28 4.5 11.5 0.351 1.166 Tabel 2 : kekakuan dan periode getar 1.06 Ket Memenuhi Persyaratan Perhitungan analisa dinamik ini dibantu menggunakan software SAP2000 v11.0.0 sebagai alat bantu analisis perhitungan. Analisa beban gempa Jembatan Lemah Ireng II dimodelkan dengan model massa terpusat ( lump mass model ) di tengah balok pilar. Hal ini dilakukan untuk

mempermudah perhitungan gaya gempa yang mungkin terjadi. Data untuk semua spesifikasi dan material properti disesuaikan dengan data dan gambar yang didapat dari konsultan perencana. Beban gempa diarahkan searah sumbu horizontal (memanjang sumbu X dan sumbu Y melintang) global. Gaya seismik dalam arah horizontal dikombinasikan sebagai berikut: kombinasi beban 1: 100% gaya gerakan arah memanjang ditambah 30% gaya gerakan arah melintang. 4.6 Pemeriksaan Daya dukung tanah terhadap bore pile. Daya dukung tanah terhadap bore pile yang dipasang seharusnya lebih besar daripada gaya geser yang diakibatkan pilar (perhitungan pilar dengan sendi plastis). Untuk menghitung daya dukung tanah tersebut digunakan metode broom dimana nilai Vu pada pilar adalah momen untuk mencari tulangan, setelah itu dimasukan pada gambar dibawah untuk memperoleh Hu atau daya dukung tanah tiap satu pancang. Gambar diagram Broom terdapat di bawah ini. kombinasi beban 2: 30% gaya gerakan arah memanjang ditambah 100% gaya gerakan arah melintang. Gambar 4 : Gaya sendi plastis Gambar 5 : metode Broom 5. Kesimpulan Berdasarkan perhitungan yang dilakukan simapangan dan periode getar yang terjadi masuk dalam spesifikasi. Sendi plastis membuat gaya akasial yang terjadi menjadi semakin besar. Dan membutuhkan tulangan sengkang lebih. Untuk bore pile yang menggunakan metode Broom, gaya geser tanah yg diakibatkan pilar dapat ditahan oleh pondasi.

6. Saran Perhitungan pilar menggunakan balance stiffnes dan Sendi plastis untuk gaya geser yang terjadi. Pondasi lebih mudah dikerjakan dengan metode Broom. 7. Daftar Pustaka 1., "Bridge Design Manual Section 5 Selection and Design of Superstructure, Substructrure and Foundation, Dinas Pekerjaan Umum dan Direktorat Jenderal Bina Marga Republik Indonesia, 2005. 2., Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI), Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga dan Direktorat Bina Jalan Kota, 1997. 3., SNI-03-2847-2002, Departemen Pekerjaan Umum, 2002. 4., SNI-T-12-2004, Departemen Pekerjaan Umum, 2004. 5., RSNI T-02-2005, Departemen Pekerjaan Umum, 2005. 6., SNI-03-2833-2008, Departemen Pekerjaan Umum, 2008. 7., Bridge Design Specifications AASHTO LRFD, 2007. 8. Pudjianto, Bambang dkk, Buku Ajar Perencanaan Jembatan, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang, 2004. 9. Anonim, Rekayasa Fundasi II Fundasi Dangkal dan Dalam, Penerbit Gunadarma, Jakarta, 1997. 10. Anonim, Rekayasa Jalan Raya, Penerbit Gunadarma, Jakarta, 1997. 11. Sunggono, Ir., Buku Teknik Sipil, Nova, Bandung, 1995 12. Lin, T.Y, dan Burns, N.H., Desain Struktur Beton Prategang Jilid 1 (Terjemahan), Penerbit Erlangga, Jakarta, 1996. 13. Lin, T.Y, dan Burns, N.H., Desain Struktur Beton Prategang Jilid 2 (Terjemahan), Penerbit Erlangga, Jakarta, 1989.