I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang TAHURA Bukit Soeharto merupakan salah satu kawasan konservasi yang terletak di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara dengan luasan 61.850 ha. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya menyatakan bahwa TAHURA adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi. Kawasan TAHURA Bukit Soeharto merupakan kawasan hulu dari tujuh kawasan tangkapan air dari sungai-sungai yang bermuara ke Sungai Mahakam, Selat Makassar maupun ke Teluk Balikpapan sehingga kelestarian sistem hidrologi ini sangat penting terutama untuk wilayah Samarinda dan Balikpapan. Dalam rangka pemanfaatan kawasan TAHURA Bukit Soeharto telah, ditetapkan 3 (tiga) Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yaitu : 1. KHDTK Wanariset Samboja ditetapkan pada tahun 1979 melalui SK Menteri Pertanian No. 723/Kpts/Um/II/1979 dengan luas hutan 504 ha. Selanjutnya melalui SK Menteri Kehutanan No. 290/Kpts-II/91 Wanariset Samboja diperluas hingga menjadi 3.504 ha. Pengelolaan hutan Wanariset Samboja pada saat itu dikelola oleh Balai Penelitian Kehutanan Samarinda (kini bernama Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan). 2. KHDTK Pendidikan dan Latihan Kehutanan (BDK) seluas 4.310 ha, yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 8815/Kpts-II/2002 tanggal 24 September 2002. 3. KHDTK Penelitian dan Pendidikan bagi Universitas Mulawarman Pusat Penelitian Hutan Tropis Lembab (PPHT) seluas 20.271 ha, yang ditetapkan berdasarkan Surat keputusan Menteri Kehutanan No:160/Kpts-II/2004 tanggal 4 Juni 2004. Dalam perkembangannya, TAHURA Bukit Soeharto telah mengalami penurunan secara fisik sebagai akibat dari berbagai jenis gangguan antara lain
kebakaran, perambahan oleh penduduk dan pembalakan liar (UPTD PPA, 2009). Sebagai akibat dari gangguan tersebut hasil interpretasi dan analisis citra landsat oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan (2006) menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan telah didominasi oleh padang alang-alang dan semak belukar sebesar 56,39%, hutan 15,99%, sedangkan penggunaan lahan lainnya seperti pemukiman, kebun, lahan terbuka dan lain-lain sebesar 27,6%. Sehingga secara umum, kondisi kawasan konservasi TAHURA Bukit Soeharto tergolong cukup menghawatirkan. Khususnya dalam kawasan KHDTK BDK, sejak tahun 2003, dalam rangka mengurangi atau menghentikan perambahan dan penebangan liar, maka dilakukan pembinaan masyarakat lokal melalui kegiatan rehabilitasi pola agroforestri (kombinasi tanaman kehutanan dan pertanian) dengan maksud untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan. Pola kerjasama agroforestry ini dibangun dan diarahkan pada dua tujuan utama yaitu rehabilitasi hutan yang terdegradasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam pengelolaan hutan, pelaksanaan hutan kemasyarakatan yang dipadukan dengan pola agroforestri diharapkan dapat melestarikan hutan melalui peningkatan produktivitas lahan hutan di areal masyarakat atau di lahan kritis. Secara ekologis, agroforestri berfungsi sebagai hutan alam karena stratifikasi tajuknya yang merupakan perpaduan jenis tanaman bersifat perdu dan pohon termasuk buah-buahan dan tanaman jenis pohon yang berasal dari hutan alam (Michon dan Foresta, 1995). Meskipun pola pembinaan seperti ini menunjukkan keberhasilan di beberapa tempat, namun di tempat lain belum berjalan dengan baik seperti yang terjadi di TAHURA Bukit Soeharto tepatnya pada KHDTK BDK. Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dengan pola agroforestri yang dilakukan pada tahun 2003-2009 hanya mampu melibatkan sebanyak 12,9 % KK. Konsep pemberdayaan dalam pembangunan masyarakat khususnya masyarakat sekitar hutan selalu dikaitkan dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan sosial (Craig dan Mayo, 1995). Kebutuhan masyarakat serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat minat masyarakat terhadap kegiatan rehabilitasi pola agroforestri perlu diidentifikasi sehingga melahirkan perumusan strategi yang tepat dalam pengelolaan kawasan dengan
mempertimbangkan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dengan tetap berorientasi konservasi yang bertujuan mengembalikan fungsi hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 1.2. Kerangka Pemikiran Masyarakat di sekitar kawasan KHDTK BDK khususnya para petani, sangat bergantung kepada berbagai bentuk hasil hutan sebagai sumber penghasilan rumah tangganya. Hal ini menunjukkan adanya interaksi masyarakat dengan hutan yang sangat tinggi dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Untuk menghindari degradasi sumberdaya hutan akibat pemanfaatan yang berlebihan maka dapat dilakukan kegiatan rehabilitasi hutan dengan tetap mempertimbangkan kelestarian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan oleh masyarakat di dalam kawasan hutan tersebut dikarenakan adanya kesenjangan sosial yaitu rendahnya tingkat ekonomi keluarga sekitar hutan. KHDTK BDK juga mengalami perambahan dan penebangan liar yang salah satunya disebabkan oleh rendahnya taraf hidup ekonomi masyarakat. Salah satu cara yang dibangun untuk memecahkan masalah perambahan dan penebangan liar adalah melalui pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan rehabilitasi pola agroforestri. Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warga masyarakat melalui kegiatan-kegiatan swadaya. Dalam mencapai tujuan ini faktor peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan formal dan non formal perlu mendapat prioritas. Pemberdayaan masyarakat bertujuan mendidik masyarakat agar mampu mendidik diri mereka sendiri. Tujuan yang akan dicapai melalui usaha pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat yang mandiri, berswadaya, mampu mengadopsi inovasi, dan memiliki pola pikir kosmopolitan. Pemberdayaan masyarakat sangat memerlukan partisipasi, dan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi pola agroforestri maka dapat dilakukan rumusan masalah dengan mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi partisipasi itu sendiri. Faktor-faktor tersebut akan menentukan strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif dalam kegiatan
rehabilitasi pola agroforestri. Dengan perumusan strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan hutan menjadi lestari (Gambat 1). HUTAN LESTARI HUTAN BDK RUSAK KEGIATAN REHABILITASI PEMBERDAYAAN STRATEGI PEMBERDAYAAN PARTISIPASI SEJAHTERA Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian 1.3. Perumusan Masalah TAHURA Bukit Soeharto adalah salah satu sumber daya alam yang berperan dalam menjaga, mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah serta sebagai urat nadi kehidupan manusia yang saat ini cenderung menurun keberadaannya. Penurunan ini disebabkan oleh kebakaran, perambahan dan pembalakan liar yang terjadi di dalam kawasan. Untuk meningkatkan fungsi hutan, maka dalam pengelolaan lingkungan harus memperhatikan pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan dan pengembangan lingkungan hidup yang berazaskan pelestarian lingkungan yang serasi, seimbang, untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Untuk mencapai kelestarian lingkungan maka perlu adanya partisipasi masyarakat, dalam hal ini untuk menjaga kelestarian KHDTK BDK yang ditetapkan sebagai hutan pendidikan dan pelatihan. Selain itu dilihat dari sudut
pandang manfaat hutan bagi masyarakat, KHDTK BDK berperan dalam kesejahteraan masyarakat melalui kontribusi pendapatan keluarga. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi pola agroforestri. Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Faktor-faktor apa saja yg mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi pola agroforestri di KDTK BDK? 2. Bagaimana strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif dalam rangka rehabilitasi pola agroforestri di KHDTK BDK? 1.4. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi pola agroforestri di KHDTK BDK. 2. Merumuskan strategi pemberdayaan yang efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi pola agroforestri di KHDTK BDK. 1.5. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Memberikan kontribusi atas strategi pemberdayaan masyarakat sekitar TAHURA Bukit Soeharto melalui kegiatan rehabilitasi pola agroforestri. 2. Diharapakan dapat menjadi acuan dalam pengembangan pengelolaan TAHURA Bukit Soeharto secara berkelanjutan. 3. Diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi penelitian lanjutan dalam skala yang lebih luas berkaitan dengan pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat.