BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
LIFT (ELEVATOR) Berikut yang perlu diketahui tentang lift, antara lain : A. Jenis Jenis Motor Penggerak Lift. 1. Motor Gear

JENIS-JENIS LIFT DAN FUNGSINYA

TUGAS MEKATRONIKA SISTEM LIFT

BAB III DASAR PERANCANGAN LIFT

BAB II TEORI ELEVATOR

BAB II LANDASANTEORI

TUGAS AKHIR ANALISA PERENCANAAN LIFT PENUMPANG BERKAPASITAS MAKSIMUM 1150 KG MODEL P-17-CO-105 SANYO

TUGAS BESAR PERANCANGAN SISTEM MEKANIK

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Program pemeliharaan. Proses pemeliharaan. Staf pemeliharaan. Catatan hasil pemeliharaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jenis transportasi vertikal. 1. elevator/lift 2. Gondola 3. Dumb waiters

UTILITAS 02 PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS GUNADARMA

MAKALAH ELEVATOR (LIFT) Disusun oleh: Jhon Fetra Sitepu Miftahudin TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

Lift traksi listrik pada bangunan gedung Bagian 2: Pemeriksaan dan pengujian berkala

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

OPTIMASI PERHITUNGAN ULANG KEBUTUHAN LIFT PENUMPANG TYPE IRIS1-NV PA 20 (1350) CO105 PADA GEDUNG APARTEMEN 17 LANTAI

BAB III TEORI PENUNJANG. penggerak frekuensi variable. KONE Minispace TM

LIFT ELEVATOR & ESCALATOR

PERHITUNGAN BEBAN SIRKULASI VERTIKAL (LIFT)

PERANCANGAN LIFT PENUMPANG KAPASITAS 1000Kg KECEPATAN 90M/Menit DAN TINGGI TOTAL 80M DENGAN SISTEM KONTROL VVVF

SISTEM TRANSPORTASI PADA BANGUNAN

PROSEDUR PENYELAMATAN PENUMPANG

SIRKULASI (VERTIKAL & HORIZONTAL) PADA BANGUNAN BERTINGKAT.

BAB III METODE PERHITUNGAN

BAB II TEORI DASAR. Elevator merupakan alat untuk menaikkan dan menurunkan. pada tahun Elevator ini hanya dapat melayani dua tingkat, namun tali

BAB IV PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN ELEVATOR DENGAN. KAPASITAS 1150 kg

BAB II DISKRIPSI BUKA TUTUP PINTU YANG DIBANGUN. Fungsi lift merupakan alat transportasi pada gedung atau bangunan bertingkat

OL E H : ICHA AN DOSEN : E

BAB IV PEMBAHASAN. objek yang nanti berisi penumpang dan counterweight sebagai pemberatnya. Serta

MAKALAH PERAWATAN DAN PERBAIKAN ELEVATOR/LIFT

BAB II LANDASAN TEORI

MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM

BAB IV PERHITUNGAN KOMPONEN UTAMA ELEVATOR BARANG

BAB II PEMBAHASAN MATERI. lain, dimana jumlah, ukuran dan jarak pemindahannya terbatas. meningkatkan efisiensi dari aktivitas tersebut.

TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK

ANALISA KEMAMPUAN ANGKAT DAN UNJUK KERJA PADA OVER HEAD CONVEYOR. Heri Susanto

Mechanical Engineering Ismanto Alpha's

SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I

BAB II PEMBAHASAN MATERI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II PEMBAHASAN MATERI. dalam setiap industri modern. Desain mesin pemindah bahan yang beragam

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Overhead Crane Overhead Crane merupakan gabungan mekanisme pengangkat secara terpisah dengan rangka untuk mengangkat

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

MODUL SSLE 08 : TEKNIK PEMERIKSAAN & UJI

Liftt traksi listrik pada bangunan gedung Bagian 1: Pemeriksaan dan pengujian serah terima

Instalasi Listrik II Makalah Instalasi Passenger Lift

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. buah kabin operator yang tempat dan fungsinya adalah masing-masing. 1) Kabin operator Truck Crane

BAB II PEMBAHASAN MATERI. digunakan untuk memindahkan muatan di lokasi atau area pabrik, lokasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KOPLING. Kopling ditinjau dari cara kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis: 1. Kopling Tetap 2. Kopling Tak Tetap

MESIN PEMINDAH BAHAN

BAB IV PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERHITUNGAN ELEVATOR BARANG. gedung.pertama-tama yang harus di hitung adalah spesifikasi teknik.

Perencanaan Lift Hotel Bertingkat Tiga Puluh Berdasarkan SNI Nomor:

DAFTAR ISI. Daftar Isi... i BAB I KONSEP PENILAIAN Bagaimana Instruktur Akan Menilai Tipe Penilaian... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

USAHA, ENERGI & DAYA

Hitachi Hoists.


ALAT PENGANGKAT CRANE INDRA IRAWAN


DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL... LEMBAR PERSETUJUAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR Latar Belakang...

PERENCANAAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE KAPASITAS 10 TON BENTANGAN 25 METER

BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. Sebuah modifikasi dan aplikasi suatu sistem tentunya membutuhkan

BAB II PEMBAHASAN MATERI. industri, tempat penyimpanan dan pembongkaran muatan dan sebagainya. Jumlah

SISTEM TRANSPORTASI PADA BANGUNAN. Disiapkan Oleh: Muhammad Iqbal, ST., M.Sc Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Malikussaleh Tahun 2015

TRANSMISI LIFT KAPASITAS 10 ORANG KECEPATAN 1 METER/DETIK MAKALAH SEMINAR PERANCANGAN MESIN

3.3.3 Perancangan dan Pembuatan Rangkaian Mekanis Pemasangan Sistem Telemetri dan Rangkaian Sensor

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Observasi terhadap sistem kerja CVT, dan troubeshooting serta mencari

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. sesuai dengan fungsi masing-masing peralatan. Adapun alat-alat yang dipergunakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bagian IV: SISTEM TRANSPORTASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

PERENCANAAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE YANG DIPAKAI PADA PABRIK PELEBURAN BAJA DENGAN KAPASITAS ANGKAT CAIRAN 10 TON

MESIN PEMINDAH BAHAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TEORI PERHITUNGAN. Data data ini diambil dari eskalator Line ( lampiran ) Adapun data data eskalator tersebut adalah sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Identifikasi Sistem Kopling dan Transmisi Manual Pada Kijang Innova

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 6 SISTEM PENGAMAN RANGKAIAN KELISTRIKAN

PERANCANGAN OVERHEAD TRAVELLING CRANE YANG DIPAKAI DI WORKSHOP PEMBUATAN PABRIK KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS ANGKAT 10 TON

MEKANISME KERJA JIB CRANE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk mengangkat/memindahkan muatan dari suatu tempat ke tempat lain, dimana jumlah, ukuran dan jarak pemindahannya terbatas.

BAB II DASAR TEORI Suspensi

kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

REKAYASA JALAN REL. Modul 2 : GERAK DINAMIK JALAN REL PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PENDAHULUAN DAN SISTEM KOPLING

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM. 43 TAHUN 2010

BAB 12 INSTRUMEN DAN SISTEM PERINGATAN

BAB VII TINJAUAN KHUSUS CORE WALL

DIAL TEKAN (DIAL GAUGE/DIAL INDICATOR)

BAB III DASAR TEORI. makanan kaleng yaitu ikan kaleng. Water Decaunting adalah proses dimana

Antiremed Kelas 12 Fisika

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Lift Penumpang Lift Penumpang adalah pesawat pengangkat atau pengangkut manusia yang digerakkan dengan tenaga listrik baik melalui tarikan langsung (tanpa atau dengan roda gigi) maupun transmisi sistem hidrolik dengan gerakan vertikal (toleransi 7%) naik dan turun. ( SNI 05-2189-1999). Atau secara umum Lift penumpang adalah alat transportasi vertikal yang digunakan untuk mengangkut orang pada gedung gedung bertingkat. 2.2 Perkembangan Lift Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13, tenaga manusia dan binatang merupakan tenaga penggerak. Pada tahun 1850 telah diperkenalkan lift uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi babak baru dalam sejarah lift yaitu penemuan lift yang pertama di dunia oleh Elisha Graves Otis. Universitas Mercubuana 6

Lift penumpang pertama dipasang oleh Otis di New York pada tahun 1857. Setelah meninggalnya Otis pada tahun 1861, anaknya Charles dan Norton mengembangkan warisan yang ditinggalkan oleh Otis dengan membentuk Otis Brothers & Co pada tahun 1867. Pada tahun 1873 lebih dari 2000 lift Otis telah dipergunakan di gedung gedung perkantoran, hotel, dan departemen store di seluruh Amerika, dan lima tahun kemudian dipasanglah lift penumpang hidrolik Otis yang pertama. Era pencakar langit pada tahun 1889 Otis mengeluarkan mesin lift listrik direct connected geared pertama yang sangat sukses. Pada tahun 1903 Otis memperkenalkan desain yang akan menjadi tulang punggung industri lift, yaitu lift listrik gearless traction yang dirancang dan terbukti mengalahkan usia bangunan itu sendiri. Hal ini membawa pada berkembangnya jaman struktur struktur tinggi, termasuk yang paling menonjol adalah Empire State building dan World Trade Center di New York, John Hancock Center di Chicago dan CN Tower di Toronto. Selama bertahun tahun beberapa dari inovasi yang dibuat oleh Otis dalam bidang pengendalian otomatis adalah sistem pengendalian sinyal, peak period control, sistem autotronik otis dan multiple zoning. Otis adalah yang terdepan di dunia dalam pengembangan teknologi komputer dan perusahaan tersebut telah membuat revolusi dalam pengendalian lift sehingga tercipta peningkatan yang dramatis dalam hal waktu reaksi lift dan mutu berkendara dalam lift. (Yuriadi kusuma PPBA UMB, 2010). 2.3 Jenis Penggerak Lift Pada Umumnya Dari masa ke masa jenis penggerak pesawat lift telah berkembang dan perkembangan seiring dengan perkembangan teknologi yang mendampinginya atau Universitas Mercubuana 7

dipergunakannya. Namun demikian pada umumnya jenis penggerak lift dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu : a) Lift dengan sistem pengerak hidrolis (hydrolic lift). b) Lift dengan sistem penggerak dengan motor listrik (traction type lift). Meskipun kedua sistem tersebut juga mengalami perkembangan masing masing, sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan pemasangan dilapangan yang dihadapinya. Akan tetapi ada perbedaan pokok dari kedua jenis lift tersebut yang perlu diperhatikan yaitu : No Hal yang perlu Lift Motor Traksi Lift Hidrolik diperhatikan 1. Jarak Pelayanan tidak terbatas Terbatas 20 meter 2. Frekuensi Pemakaian Lebih dari 80 start /stop perjam. Pada umumnya 180 start/stop perjam. Terbatas 80 start /stop per-jam 3. Kecepatan Tidak terbatas (1000m/menit) Terbatas (maksimal 90 m/menit) Tabel 2.1 : Perbedaan antara Lift Motor Traksi dan Lift Hidrolik 2.4 Jenis Lift Dengan Motor Traksi Konsep dasar dari lift yang mempergunakan motor traksi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : a) Jenis Tarikan Langsung (Drum Type) b) Jenis Tarikan Gesek (Traction Drive) Universitas Mercubuana 8

2.4.1 Drum Type Lift cara operasi lift jenis ini seperti pesawat angkat yang dipakai pada crane crane pada proyek kontruksi bangunan, dengan menggulung tali baja pada tabung gulung. Pemakaian jenis lift ini pada lift penumpang tidak terlalu populer seperti pada lift traksi jenis motor pulli, hal ini disebabkan adanya beberapa keterbatasan dalam pemakain. Oleh karena itu lift jenis ini hanya dipergunakan untuk lift lift dengan kapasitas kecil seperti pada lift perumahan dan dumb waiter. Adapun kelemahan tersebut, antara lain : a. Kecepatan yang dapat dicapai secara teknis terbatas ( +/- 15 m/menit) b. Kapasitas angkut terbatas (maksimal 200 kg). c. Penggunaan tenaga listrik lebih boros ( tanpa bobot imbang ). Oleh karena biasanya lift jenis ini mempunyai kecepatan yang rendah ( kurang dari 30 m/menit ) maka jenis motor traksi yang dipakai kebanyakan jenis motor AC (single speed). 2.4.2 Traction Type Lift Lift jenis ini dapat digolongkan menjadi 2 (dua ) penggolongan, yaitu : Dilihat dari segi mesin penggerak langsung atau tidak langsung, dibagi menjadi 2 (dua ) yaitu : a. Geared Lift. b. Gearless Lift. Universitas Mercubuana 9

Gambar 2.1 Perbedaaan Geared dan Gearless Lift Dilihat dari jenis motor traksi yang dipergunakan dapat menjadi dua (2) jenis, yaitu : a. Lift traksi motor AC b. Lift traksi motor DC Geared lift dengan penggerak motor AC geared biasanya dipergunakan pada lift berkecepatan rendah dan sedang sebaliknya gearless lift dengan penggerak motor DC (AC VVVF) dipergunakan pada lift kecepatan tinggi. Kemampuan dari semua jenis tersebut diatas masing masing mempunyai kelemahan dan kelebihan dalam penggunaannya. Namun demikian dengan berkembangnya sistem control yang lebih modern (VVVF = Variabel Voltage Variabel Universitas Mercubuana 10

Frequensi yang dilengkapi IPM = Integrated Power Modele, dll). Maka timbul kecendrungan yang kuat untuk menggeser atau mengurangi penggunaan penggerak motor DC pada lift keluaran terakhir dengan kemampuan yang lebih baik dan lebih hemat biaya operasi. Spesifik lift traksi sistem pengendali motor dan gear motor pada motor traksi antara lain : a. Geared machine dengan motor AC single speed : 15-30 m/menit b. Geared machine dengan motor AC double speed : 30-45 m/menit c. Geared machine dengan motor AC VVVF : 45-210 m/menit d. Gearless machine dengan motor DC atau AC VVVF : >150 m/menit Pada umumnya lift jenis traksi meletakkan motor traksi dan panel control diatas rung runcur (hoistway), namun demikian dalam beberapa kasus tertentu penempatan motor traksi dan panel control ada yang diletakkan samping bawah atau disamping atas ruang luncur. Untuk mengatasi masalah dimana ketinggian bangunan yang terbatas, saat ini telah ada lift motor traksi yang tidak memerlukan ruang mesin (machine roomless) yang disebut Spacell yang telah diproduksi oleh toshiba lift dan kone lift. 2.5 Jenis lift dan pengunaannya 2.5.1 Pembagian Jenis lift dilihat dari type muatan Secara umum jenis lift dilihat dari pemakaian muatan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu : a) Lift Penumpang (Passenger Lift) b) Lift Barang (Freight lift) Universitas Mercubuana 11

c). Lift Pelayan (Dumb Waiter, lift barang berukuran kecil). Secara teknis lift tersebut tidak jauh berbeda secara prinsip. Namun perbedaan yang nyata dari ketiga lift tersebut biasanya dapat kita bedakan pada interior dan perlengkapan operasi dari lift lift tersebut. Juga pada sistem pengamanan operasi yang dipasang sebagian besar sama, hanya pada dumb waiter sistem pengamanan operasi yang disediakan lebih sederhana. Perbedaan tersebut akan semakin nyata apabila dibandingkan antara lift barang untuk pabrik (besar) dengan lift penumpang yang dipergunakan didalam gedung gedung diperkantoran. Lift barang untuk pabrik (sesuai dengan kebutuhan) biasanya dilengkapi dengan pembuka pintu yang lebih besar, baik dipasang dengan pembukaan secara horizontal (terdiri lebih dari dua pintu) maupun yang dipasang dengan sistem pembukaan pintu vertikal (biasanya terdiri dari dua daun pintu atau lebih) Perbedaan lain juga dapat dilihat pada cara penulisan kapasitas muatannya. Kapasitas digerakan pada COP (Car Operation Panel, Operation Panel Board) didalam kereta biasanya dinyatakan dalarn kilogram (kg) atau (Ib) untuk jenis lift barang, sedangkan untuk penumpang sering dinyatakan dalam jumlah orang (persons) atau kombinasi keduanya. Akan tetapi perbedaan tersebut akan menjadi semakin tipis apabila kita bandingkan lift penumpang dan lift barang yang terpasang dalam gedung perkantoran. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar lift barang yang terpasang didalam gedung hunian dipersyaratkan juga untuk dapat mengangkut penumpang atau orang. Universitas Mercubuana 12

2.5.2 Pembagian jenis dilihat dari penggunaan Pembagian jenis lift dilihat dari penggunaannya, adalah ; a) Passenger Lift (lift penumpang). b) Observation Lift (Panoramic Lift, Lift Capsul). c) Service Lift (passenger-freight lift). d) Fireman lift (lift Pemadam Kebakaran). Observation lift adalah jenis lift penumpang yang sebagian besar pada dindingnya atau pintunya dilengkapi dengan kaca. Sehingga memungkinkan penumpangnya dapat melihat kearah luar. Lift jenis ini biasanya dipasang pada pertokoan atau hotel yang memiliki pemandangan yang bagus. 2.6 Komponen Utama Lift Gambar 2.2 Gambar Komponen Utama Lift Universitas Mercubuana 13

2.6.1. Ruang Mesin (Machine Room) a. panel-panel kontrol 1. Panel distribusi adalah panel penerima daya listrik dari panel sumber listrik utama dalam bangunan dan diteruskan panel lift. 2. Panel Kontrol adalah terdiri dari satu atau beberapa panel yang berisi PCB dan komputer berfungsi untuk mengatur jalannya lift. 3. Interphone biasanyanya terletak pada panel kontrol lift atau pada lokasi yang mudah dicapai) yang berfungsi untuk mengadakan komunikasi (dalam keadaan tertentu) antara ruang mesin, lift dan ruang katrol. b. Motor Traksi (Traction Motor) 1. Motor Traksi merupakan motor yang menggerakan lift ke arah naik maupun turun. Ada yang dihubungkan langsung dengan roda gigi ataupun tanpa roda gigi. Untuk lift dengan roda gigi biasanya disatukan dengan as yang dapat dipergunakan untuk penyelamatan penumpang dalam keadaan darurat. 2. Rem merupakan tabung rem (Break Drum) biasanya terletak antara motor traksi dan kotak roda gigi (gear box) berfungsi untuk mengerem lift secara mekanikal, pada keadaan normal pengereman pertama biasanya dilakukan secara elektris pada motor. 3. Pulli Tarik (Driving Sheave) terletak pada kotak roda gigi atau pada motor langsung, melalui gesekan tali baja (wire rope) merupakan penggerak langsung kereta lift. Universitas Mercubuana 14

c. Governor dan selector 1. Governor merupakan alat pengaman kecepatan lebih (over speed) yang berhubungan langsung dengan alat pengaman pada kereta dengan kawat baja (wire rope) yang berfungsi pada arah gerak sangkar kebawah. 2. Pita pemilih lantai (Floor Selector) biasanya untuk lift lama peralatan ini biasanya berdiri sendiri akan tetapi untuk lift jenis baru biasanya dipergunakan encoder yang disatukan dengan governor atau langsung ke as motor traksi. Fungsinya untuk mendeteksi posisi kereta dalam ruang luncur. d. Perlengkapan lainnya 1. Lampu penerangan. 2. Ventilasi terdiri dari satu atau lebih exhause fan dan grill. 3. Peralatan Pengaman ditempat perkakas khusus untuk pembukaan rem pada motor traksi. Biasanya diletakkan didinding yang mudah dicapai. Untuk lift dengan sistem kontrol komputer biasanya disarankan dilengkapi dengan alat pengatur udara (air conditioning). 2.6.2 Ruang Luncur (Shaft atau Hoistway) : Ruang luncur adalah lubang lintasan dimana kereta tersebut bergerak naik dan turun. Lubangi harus merupakan lubang tertutup dan tidak ada hubungan langsung ke ruang diluarnya (kecuali untuk lubang 2 (dua) buah lift yang berdampingan). a. Ruang luncur merupakan Lubang lintasan kereta lift yang bebas hambatan antara pit sampai pada bagian lantai bawah ruang mesin lift. Universitas Mercubuana 15

Gambar 2.3 Ruang Luncur / Hoistway (Dokumen Pribadi) b. Rel (Guide Rail) adalah profil baja khusus pemandu jalannya kereta (car) dan bobot pengimbang (counter weight), Ukuran rel untuk kereta biasanya lebih besar dari pada rel untuk bandul pengimbang. Terpasang tegak lurus dari bawah sampai keatas. Adapun fungsi rel ada empat yaitu : 1. Sebagai pemandu jalannya kereta dan bobot imbang (counter weight) lurus vertical. 2. Sebagai penahan agar kereta tidak miring saat pemuatan dan akibat beban tidak merata. 3. Sebagai sarana tempat memasang saklar, pengungkit (Cam) dan puli penegang. 4. Sebagai penahan saat kereta dihentikan oleh pesawat pengaman (safety device/gear) Universitas Mercubuana 16

Gambar 2.4 Rel / Guide Rail (Dokumen Pribadi) c. Sakelar batas lintas (Limit Switch), ada dua jenis sakelar batas lintas untuk pembalik arah (direction switch) dan final switch biasanya terpasang pada rel kereta dipasang dibagian atas dan bagian bawah rel. Berfungsi untuk menjaga agar kereta tidak menabrak pit atau lantai kamar mesin. d. Pelat Bendera (Floor vane) dipasang pada rel kereta yang fungsinya untuk mengatur pemberhentian kereta pada lantai yang dikehendaki dan mengatur pembukaan pintu pendaratan (landing door). Untuk jenis tertentu landing vane ini ditiadakan dan diganti dengan pulsa detector (encoder) di kamar mesin. e. Pintu pendaratan (Hall Door) terdiri dari beberapa bagian, antara lain : door hanger, door sill dan door panel berfungsi untuk menutup ruang luncur dari luar. Pada hall door ini dipasang alat pengaman sehingga apabila salah satu pintu terbuka lift tidak dapat dijalankan. 2.6.3 Kereta (Car) Kereta (Car) adalah kotak dimana penumpang naik dan dibawa naik atau turun. Kereta ini dihubungkan langsung dengan bobot imbang (couter weight) dengan tali baja lewat puli penggerak di ruang mesin. Universitas Mercubuana 17

Gambar 2.5 Kereta / Car (Sigma) a. Rangka kereta terdiri dari: 1. Cross head channel atau disebut car sling, yaitu rangka sebagai tempat tali baja tarik diikat dengan pegas dan baul soket dan dudukan sepatu luncur (sliding guides) atau roda pemandu (roller guides). 2. Bottom channel, rangka bawah tempat benturan buffer (disebut safety plank). 3. Dua buah tiang tegak kiri dan kanan (up right channels atau stiels). Keempat bagian tersebut membentuk segi empat kokoh dengan plat baja penguat pada sudut sudutnya. Universitas Mercubuana 18

b. Pintu Kereta (Car Door) terdiri dari beberapa bagian, antara lain: door hanger, door sill, door panel dan mechanisme yang mengatur buka tutup pintu. Berfungsi untuk menutup kereta dari luar. Pada pintu kereta (car door) ini dipasang alat pengaman secara seri sehingga apabila pintu terbuka lift tidak dapat dijalankan. Gambar 2.6 Pintu lift (Sigma) Universitas Mercubuana 19

c. COP (Car Operating Panel Operating Panel Board), ada satu atau lebih COP. Biasanya terletak pada sisi depan kereta (pada front return panel) pada panel tersebut terdapat tombol tombol lantai dan tombol pengatur buka-tutup pintu. Gambar 2.7 COP (Car Operating Panel) (Sigma) d. Interphone biasanya terletak pada COP (atau pada lokasi yang mudah dicapai) yang berfungsi untuk mengadakan komunikasi (dalam keadaan tertentu) antara kereta, kamar mesin (machine room) dan ruang kontrol gedung. e. Alarm Buzzer terletak pada COP (OPB) berfungsi untuk memberi tanda bila lift berbeban penuh atau tanda tanda lain. f. Switching Box (biasanya menjadi satu dengan COP) biasanya terletak dibawah COP secara tertutup (yang dapat dibuka hanya dengan kunci khusus) didalamnya terletak tombol tombol pengatur. Universitas Mercubuana 20

g. Floor indicator adalah nomor penunjuk lantai dan arah jalannya kereta. Biasanya terletak di sisi atas pintu kereta (transom) atau pada COP. h. Lampu darurat (Emergency lighting) biasanya terletak diatas atap kereta, fungsinya untuk menerangi kereta dalam keadaan darurat (listrik mati) dengan sumber dari baterai. i. Sakelar pintu darurat (Emergency exit switch) terletak pada pintu darurat diatas kereta. Fungsinya untuk memastikan agar kereta tidak berjalan apabila pintu darurat dibuka untuk proses penyelamatan. j. Sakelar tali baja (Rope switch) terletak diatas kereta pada bagian pengikat tali baja. Fungsinya untuk mematikan lift apabila ada salah satu rope yang kendor atau. putus. k. Safety Link adalah mekanisme penggerak alat pengaman (safety device) diatas kereta yang dihubungkan dengan governor dikamar mesin. Berfungsi untuk menahan kereta over speed kebawah (dalam keadaan darurat). l. Selector switch (untuk lift jenis lama) adalah mekanisme penggerak alat pengaman (safety device) diatas kereta yang dihubungkan dengan selector lift. Berfungsi untuk memberhentikan kereta apabila selector tape mengalami kerusakan (dalam keadaan darurat). 2.6.4 Lekuk dasar (Pit) Ruangan dibagian bawah dari ruang luncur yang fungsinya memberikan kesempatan kereta untuk menghabiskan tenaga kinetik yang diredam oleh buffer pada saat lift mengalami jatuh ke pit. Universitas Mercubuana 21

a. Peredam (Buffer) terletak di dua tempat satu set untuk kereta dan satu set untuk beban pengimbang. Berfungsi untuk meredam tenaga kinetik kereta dan bobot imbang pada saat jatuh. b. Governor Tensioner merupakan puli berbandul sebagai penegang rope governor terletak di pit. c. Stop kontak terletak didinding pit bagian depan sebagai sumber daya listrik sebagai penerangan pit pada saat melaksanakan perawatan atau perbaikan. d. Sakelar Iekuk dasar (pit switch) terletak didinding pit bagian dcpan sebagai merupakan sakelar pengaman bagi pekerja yang berada di pit 2.6.5 Lobi lift (Lift Hall) a. Lobi lift adalah ruang bebas yang lerletak didepan pintu hall lift. b. Tombol Lantai (Hall button) adalah Tombol pemanggil kereta, di hall. c. Sakelar Parkir (Parking switch) biasanya terletak di lobby utama didekat tombol lantai, berfungsi mematikan dan mcnjalankan lift. d. Sakelar Kebakaran (Fireman Switch) biasanya terletak di lobby utama disisi atas tombol lantai berfungsi untuk mengaktifkan fungsi fireman control atau fireman operation. e. Petunjuk Posisi Kereta (Hall indicator) biasanya terletak di transom masing masing lift berfungsi untuk mengetahui posisi kereta. 2.7 Alat Pengaman dan Cara kerjanya Lift adalah pesawat angkut manusia yang pada saat operasinya tidak dikemudikan/operasikan langsung oleh manusia sehingga semua penumpang lift sepenuhnya tergantung pada kehandalan teknologi dari pada pesawat lift itu sendiri. Universitas Mercubuana 22

Oleh karena itu keyakinan akan berfungsinya alat pengaman pada saat operasi merupakan hal yang paling utama. Sebagian besar peralatan pengaman pada lift dipasang secara serial, sehingga apabila salah satu alat tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya seluruh pesawat tersebut akan mati dan tidak dapat dioperasikan sampai dengan alat pengaman tersebut difungsikan kembali. Adapun peralatan pengaman tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut : 2.7.1. Alat pengaman di Ruang Mesin Alat pengaman diruang mesin dapat digolongkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu : 1. Alat pengaman bersifat listrik. 2. Alat pengaman mekanik. Oleh karena pengecekan alat pengaman bersifat listrik memerlukan kemahiran khusus dan hampir kesemuanya terletak didalam kontrol panel. Sedangkan alat pengaman mekanik diruang mesin, antara lain: 1. Speed Governor a. Berfungsi untuk mendeteksi kecepatan lebih (arah turun) dan mengaktifkan mekanisme pengaman. Biasanya alat ini diset pada 110 % & 1,15% dari kecepatan nominal lift. b. Cara kerja Puli governor yang dihubungkan dengan kereta mempunyai sistem bandul yang akan bekerja berdasarkan kecepatan centrifugal akan mengaktifkan suatu mekanisme yang dapat mengunci rope governor sehingga tali baja menarik safety block yang berada dikereta dan menguncinya sehingga Universitas Mercubuana 23

kereta terkunci pada rel. Alat ini juga dihubungkan dengan rangkaian kontak listrik yang bekerja) kecepatan 110%. 2. Rem Mekanik (Mechanical Break) Kegunaan dari Rem Mekanik adalah sebagai berikut : a. Berfungsi untuk memastikan lift berhenti. b. Cara kerja rem ini bekerja berdasarkan pegas yang dipasang pada dudukan sepatu yang cara pembukaannya digerakan oleh motor rem. Semua peralatan pengaman dihubungkan dengan motor rem ini. Pada saat motor traksi maka rem ini bekerja. Untuk membukanya diperlukan peralatan khusus (yang biasanya disediakan di ruang mesin). 2.7.2 Alat Pengaman di Ruang Luncur 1. Door lock 2. Berfungsi untuk mengunci pintu hall. 3. Cara kerja alat ini bekerja berdasarkan pegas dan gravitasi dari pengait. Padanya dipasang kontak listrik yang dihubungkan dengan sistem pengaman yang secara seri, kontak tersebut akan selalu pada posisi tertutup apabila dalam keadaan tertutup dan sebaliknya. Cara pembukaan pintu biasanya dengan suatu alat khusus dan dianjurkan tidak sembarang orang untuk mempergunakannya. 2. Limit switch a. Berfungsi untuk menjaga agar kereta tidak melewati batas lintasan yang di ijinkan pada arah keatas maupun pada arah kebawah. Universitas Mercubuana 24

b. Cara kerja alat ini merupakan kontak listrik yang digerakan oleh sentuhan batang pengungkit yang dipasangkan pada kereta dipasang di dua tempat yaitu pada main rail dibagian atas (setelah lantai teratas) dan dibagian bawah setelah lantai terbawah. Alat ini terdiri dari 2 (dua) tingkat yaitu limit switch pembalik arah dan final limit switch. 2.7.3 Alat pengaman di Kereta 1. Door lock: a. Berfungsi untuk mengunci pintu kereta. b. Cara kerja tidak seperti pada hall door, penguncian pintu kereta dilakukan pada motor penggerak pintu. Pada alat ini juga dipasang rangkaian kontak listrik dipasang seri dengan alat pengaman yang lain. 2. Door Edge dan Photo Cell a. Berfungsi untuk menghindarkan penumpang terjepit pintu. b. Cara kerja kedua alat ini dipasang pada pintu kereta (tidak selalu dipasang keduanya) yang mempunyai rangkaian kontak listrik yang dipasang seri dengan alat pengaman yang lain. Rangkaian ini akan terputus apabila door edge masuk atau sinar photo cell terputus. Pada kasus tertentu dipergunakan sistem yang mempergunakan medan magnet, dan lain lain. 3. Over Load Device a. Berfungsi untuk menahan lift agar tidak jalan apabila terjadi muatan lebih. b. Cara kerja alat ini dipasang dibawah atau diatas kereta di ruang mesin mempunyai rangkaian kontak listrik yang dipasang seri dengan alat pengaman yang lain. Rangkaian ini akan terputus apabila terjadi beban lebih. Universitas Mercubuana 25

4. Emergency Exit Switch (man hole) a. untuk mengunci motor traksi apabila terjadi proses evakuasi keatas kereta. b. Cara kerja rangkaian kontak listrik dipasangkan pada pintu kontak akan terputus apabila pintu emergency dibuka. 5. Safety gear a. Berfungsi untuk memberhentikan kereta apabila terjadi kecepatan lebih kearah bawah. b. Cara kerja alat ini dipasang 2 (dua) buah masing masing dipasang di bagian bawah kiri dan kanan kereta. Alat ini bekerja berurutan dengan bekerjanya speed governor di ruang mesin. Gambar 2.8 Safety Gear 6. Rope Switch a. Berfungsi untuk rnenahan lift agar tidak jalan apabila ada wire rope yang rusak Cara kerja alat ini dipasang diatas kereta atau di ruang mesin juga mempunyai rangkaian kontak listrik yang dipasang seri dengan alat pengaman yang lain. Rangkaian ini akan terputus salah satu rope kendur atau putus. Universitas Mercubuana 26

2.7.4 Alat Pengaman di Pit 1. Governor pit switch a. Berfungsi untuk memutus rangkaian pengaman apabila governor rope terjadi kelainan. b. Cara kerjanya merupakan rangkaian kontak listrik yang dihubungkan dengan alat pengaman lain. Kontak akan terputus apabila posisi bandul governor tidak memenuhi persyaratan operasi. 2. Buffer (penyangga atau peredam) a. Berfungsi meredam gaya tumbuk (impact) dari kereta atau bobot imbang yang terjatuh menimpa dan membentur buffer jika alat pengaman terlambat bekerja atau bekerja pada saat kereta telah menjelang lantai terbawah. Pada dasarnya alat pengaman bekerja oleh sebab kecepatan lebih (overspeed) sebesar 115% dari kecepatan nominal. Jika terjadi overspeed pada saat mendekati lantai terminal bawah maka kereta membentur buffer (penyangga). Oleh karena itu perhitungan langkah peredam (buffer stroke) atas dasar 1,15 V (V=kecepatan nominal) dan perlambatan sebesar maksimal g (=9,8 m/s 2 ), kecuali sesaat benturan yaitu tidak boleh melebihi dari 2,5 g (= 24,5 m/s 2 ), menurut ANSI A17.1. Universitas Mercubuana 27

Gambar 2.9 Peredam / Buffer (Dokumen Pribadi) b. Cara kerja seperti shock absorber. a. Compensating Switch : (bila diperlukan). i. Fungsi untuk memutus rangkaian pengaman apabila compensating sheave terja kelainan. ii. Cara kerja seperti governor switch. 2.8 Konstruksi tali baja tarik Tali baja tarik khusus untuk lift harus dibuat dari kawat baja yang cukup kuat tetapi cukup lemas tahan tekukan dimana tali tersebut bergerak bolak balik melalui roda. Batas patah elemen kawat baja ialah kira-kira 19.000 kgf/cm 2 atau 190 kgf/mm 2 (high content carbon steel). Konstruksi tali yang khas untuk lift terdiri dari 8 pintalan yang dililitkan bersama arah kekiri ataupun kekanan dengan inti ditengah dari serat sisal manila henep yang jenuh mengandung minyak lumas. Tiap tiap pintalan terdiri dari 19 kawat yaitu 9.9.1, artinya 9 kawat diluar, 1 dipusat dan 9 lagi diantaranya. Biasanya 9 elemen kawat baja yang diluar dibuat dari baja "lunak" (130 kgf7mm 2 ) agar menyesuaikan gesekan Universitas Mercubuana 28

dengan roda puli dari besi tuang, tanpa rnenimbulkan keausan berlebihan. Konstruksi tali sering disebut atau ditulis 8x19 atau 8 x 9.9.1. FC (fibre core). Gambar 2.10 Bentuk konstruksi tali dan arah lilitan a adalah jenis regular 6 x 19 FC, b adalah jenis warrington 6 x 19 FC, c adalah jenis seale 6 x 19 FC (untuk lift 8 x 19 FC /lebih luwes), d adalah jenis tiller 6 x 6 x 7 FC (dilarang untuk lift). Inti serat sisal dapat juga diganti dengan serat sintetis. Adapun tujuannya hanya sebagai bantalan untuk mempertahankan bentuk bulat tali dan memberikan pelumasan pada elemen kawat. Tali baja yang dilengkapi inti serat diberi kode FC (fibre core), untuk membedakan dengan tali yang dilengkapi inti kawat baja atau kawat besi yang diberi kode IWC (independent wire core). Yang tersebut terakhir tidak memberikan pelumasan dan tidak digunakan untuk lift karena tidak luwes. Dilihat dari segi arah pilinan tali dibedakan atas 2 jenis yaitu : 1. Regular lay, jika arah pilinan kawat berlawanan dengan arah lilitan dan strand 2. Lang lay, jika arah pilinan kawat sama searah dengan lilitan dan stand. Universitas Mercubuana 29

Keuntungan dari lang lay ialah kemuluran tali lebih kecil yaitu 0.1 % hanya dibanding dengan regular lay 0.5%. Tekanan pada alur puli lebih kecil sehingga lebih awet dan lebih luwes, tidak mempunyai sifat kaku (menendang) saat mau dipasang. Lang lay dipakai untuk instalasi lift berkecepatan tinggi diatas 300 m/menit, dan jarak lintas diatas 200 m. Lang lay juga lebih tahan terhadap fatigue tetapi batas patah lebih kecil kira kira 10% dibanding dengan regular lay. Pada tali berdiameter 13 mm untuk regular lay batas patah 6500 kgf sedangkan pada lang lay sebesar kira kira 5800 kgf. Kabel baja yang merupakan sarana untuk pengangkatan mempunyai sifat sifat yang berbeda dengan rantai, yaitu : Kebaikannya : Tahan terhadap beban kejut. Bila akan putus memperlihatkan tanda-tanda. Berat per satuan panjang adalah kecil. Elastis. Tidak berisik bila digunakan. Dapat digunakan untuk kecepatan angkat yang tinggi. Kejelekannya : Tidak tahan terhadap korosi. Sukar untuk ditekuktekuk sehingga memerlukan drum atau teromol penggulung yang besar. Dapat mulur atau memanjang. Cenderung untuk berputar. Universitas Mercubuana 30

2.9 Tali baja kompensasi Tali baja kompensasi dipasang sebagai pengimbang berat tali baja tarik, terutama pada instalasi lift dengan tinggi lintas lebih dari 35 meter dan lift dengan berkecepatan 210 m/menit keatas. Lift dengan lintas rendah sampai 35 m dan berkecepatan dibawah 210 m/menit menggunakan rantai gelang sebagai pengimbang berat tali baja tarik terutama dengan alasan ekonomis. Salah satu manfaat penggunaan kompensasi berat atas tali baja ialah menjaga hubungan traksi T 1 /T 2 konstan sepanjang lintasan. Lonjakan kereta dapat terjadi saat bobot imbang membentur peredam di pit. Oleh karena itu overhead harus diperhitungkan tingginya untuk cukup menampung tinggi ruang aman disamping lonjakan kereta setinggi setengah langkah peredam. Setelah terjadi Ionjakan, kereta akan jatuh kembali ke posisi menggantung dengan menimbulkan tegangan dinamis pada tali baja tarik sesaat, setelah lonjakan. Kejutan semacam itu juga dapat terjadi saat pesawat pengaman bekerja yaitu kereta meluncur overspeed kebawah tiba tiba dihentikan, sehingga bobot irnbang melonjak keatas sesaat dan kembali ke kedudukannya menggantung dengan menimbulkan tegangan dinamis pada tali baja tarik. Tali kompensasi mempunyai peranan meredam peristiwa lonjakan tersebut. Untuk mengurangi tegangan dinamis pada tali baja tarik terutama pada lift berkecepatan diatas 210 m/m, maka dipasang roda teromol di pit sebagai penegang tali kompensasi. Teromol tersebut beralur sesuai dengan jumlah dan besarannya tali kompensasi serta duduk pada rumah yang bebas naik turun mengikuti ayunan yang dipandu oleh sepasang rel vertikal. Universitas Mercubuana 31

Gerakan ayunan naik turun rumah teromol tersebut perlu diredam dengan satu atau dua buah shock breaker (sejenis yang digunakan pada kendaraan bermotor) yang diikat pada dasar pit sekaligus sebagai penahan kereta agar tidak atau hampir tidak melonjak. Posisi kereta diujung atas dimulai dari tali kendor atau kecepatan V o = 0, saat bobot imbang membentur penyangga dan terhenti. Tahapan berikutnya tegangan puncak tali terjadi saat tali baja tarik menahan kereta yang turun kembali dari lonjakan. Jika tali kompensasi tidak dilengkapi dengan teromol penegang yang sesuai, dan peredam dari bobot imbang tidak dilengkapi dengan saklar pemutus arus maka kereta dapat saja meloncat sampai membentur bagian bawah lantai kamar mesin yaitu sesaat setelah bobot imbang membentur penyangga. Peristiwa ini sering disebut oleh teknisi lapangan sebagai peristiwa "jatuh keatas". 2.10 Prinsip Kerja Lift Kontruksinya berupa sangkar atau kereta yang dinaikturunkan oleh mesin traksi, dengan mengunakan tali baja tarik, melalui ruang luncur (hoistway) didalam bangunan yang dibuat khusus untuk lift.. Agar kereta lift tidak bergoyang digunakan rel pemandu setinggi ruang luncur (hoistway) yang diikat dengan tembok ruang luncur lift. Untuk mengimbangi berat kereta dan bebannya digunakan bandul pengimbang (counterweight), beratnya sama dengan berat kereta ditambah dengan setengah berat beban maksimum yang diizinkan. Hal ini untuk memperingan kerja mesin traksi karena pada saat kereta dipenuhi dengan beban maksimum, mesin traksi hanya berupaya mengangkat atau menaikkan setengah dari beban maksimumnya. Sebaliknya pada saat kereta kosong mesin traksi hanya perlu mengangkat atau menaikan setengah dari beban maksimum yang berlebih pada counterweight. Universitas Mercubuana 32

Pada sistem geared atau gearless (yang masing masing digunakan pada instalasi gedung dengan ketinggian menengah dan tinggi), kereta lift tergantung di ruang luncur oleh beberapa steel hoist ropes biasanya dua puli katrol dan sebuah bobot pengimbang (counterweight). Bobot kereta dan counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara puli katrol dan hoist ropes sehingga puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan bergerak serta menahan kereta tanpa selip berlebihan. (Yuriadi kusuma PPBA UMB,2010). 2.11 Jenis Mesin yang dipakai Ada beberapa hal penting sebelum melakukan perhitungan analisis lift penumpang. Hal hal tersebut adalah tinggi total dari lantai satu ke lantai terakhir pengangkatan. Kepastian beban yang akan diangkat frekuensi kerja dan ukuran lubang shaft (hoistwaay) / rangka lorong yang tersedia. Jenis mesin pengangkat yang akan dipilih adalah sebagai pengangkat kereta / box lift. Mesin pengangkat ini menggunakan jenis mesin pengangkat lift yang menggunakan traksi motor, biasanya mesin jenis ini digunakan pada lift orang / penumpang. Maka dari diatas dapat ditentukan dengan menggunakan rumus : T = F x r.(3.1) Dimana : T = Torsi (Nm) F = gaya angkat (N) R = jari jari (mm) Universitas Mercubuana 33

2.12 Gaya yang bekerja pada lift Gaya koliner (colinear forces) gaya yang segaris kerjanya terletak pada satu garis lurus. Gaya ruang (three dimensional system of forces) gaya gaya yang bekerja di dalam ruang Gaya konkuren (concurrent forces) gaya yang garis kerjanya melalui sebuah titik sedang jika sebaliknya disebut nonkonkuren 2.13. Rumus Perhitungan Kebutuhan Lift 2.13.1 Waktu menunggu (interval atau waiting time) Kesabaran seseorang untuk menunggu lift tergantung pada kota dari negara dimana gedung itu berada. Latar belakang social budaya tiap tiap komunitas pun berbeda beda. Orang orang yang hidup di kota kota besar umumnya kurang dibandingkan orang orang yang hidup di kota kecil. Gedung perkantoran yang digunakan sebagai tempat kegiatan komersial maupun gedung perkantoran yang digunakan sebagai pusat bisnis biasanya menggunakan perhitungan waktu menunggu sekitar 30 menit. W = T/N...(3.2) Dimana : W / I T / RT N = Waktu menunggu (detik) = Waktu perjalanan bolak balik tiap lantai (detik) = Jumlah lift Universitas Mercubuana 34

Waktu menunggu sangat bervariasi tergantung jenis gedung yang dipakai contoh contohnya adalah sebagai berikut : a. Perkantoran = 25 45 detik b. Flat = 50 120 detik c. Hotel = 40 70 detik d. Asrama / apartemen = 60 90 detik Sedangkan waktu menunggu minimum adalah sama dengan waktu pengosongan lift, yaitu kapasitas lift dikalikan dengan 1,5 detik per penumpang (Hartono Poerba, 1992). 2.13.2 Daya angkut (M) Daya angkut lift tergantung pada kapasitas dan frekuensi pemuatannya. Standar daya angkut lift diukur pada jangka waktu keadaan ketika jam jam sibuk (rush hour) (Hartono Poerba, 1992). M = 5 x 60 x m = λ...(3.3) w Dimana : m = kapasitas lift (orang) dengan standar 65 75 kg/orang w = waktu menunggu (waiting time / interval) dalam detik = T/N Jika 1 zone dilayani 1 lift, maka waktu menunggu sama dengan waktu perjalanan bolak balik, jadi : M = 5 x 60 x m....(3.4) T Universitas Mercubuana 35

2.13.3 Waktu perjalanan bolak balik lift Waktu perjalanan balok balik (Round trip time) ini hanya dapat diukur secara pendekatan saja sebab perjalanan lift antar lantai pasti tidak akan mencapai kecepatan sebenarnya dari kemampuan lift tersebut. Pada perjalanan lift secara nonstop,kecepatan optimum baru akan tercapai setelah lift bergerak beberapa lantai. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi waktu perjalanan bolak balik lift. Factor faktor itu adalah sebagai berikut (Jimmy S. Juwana, 2005) : a. Penumpang memasuki lift di lantai dasar memerlikan waktu 1,5 detik/orang dan untuk lift dengan kapasitas m orang perlu waktu 1,5 detik. b. Pintu lift menutup kembali perlu waktu 2 detik c. Pintu lift membuka di setiap lantai tingkat (n-1)2 detik d. Penumpang meninggalkan lift disetiap lantai dalam 1 zone sebanyak (n-1) lantai : (n-1) x m / (n x 1,5 detik) 1,5 m detik e. Pintu lift menutup kembali di setiap lantai tngkat (n-2)2 detik f. Perjalanan bolak balik dalam 1 zone 2 (n-1) h detik S g. Pintu membuka dilantai dasar 2 detik Jumlah = T = (2h + 4 s) (n-1) + s (3m+4).. (3.5) s Dimana : T h s = waktu perjalanan bolak balik (round trip time) = tinggi lantai sampai dengan lantai berikutnya = kecepatan rata rata lift Universitas Mercubuana 36

n m = Jumlah lantai dalam 1 zone = kapasitas lift 2.13.4 Beban Puncak Lift Beban puncak (peak load) yang diperhitungkan dalam hal ini didasarkan atas prosentase empiris jumlah penghuni gedung yang harus terangkat oleh lift lift yang tersedia dalam 5 menit pertama pada jam padat (rush hour). Di Indonesia prosentase tersebut adalah sebagai berikut : a. Perkantoran.4% x jumlah penghuni gedung b. Flat....3% x jumlah penghuni gedung c. Hotel / apartemen.....5% x jumlah penghuni gedung Data -data untuk penaksiran jumlah penghuni gedung : d. Perkantoran.4 m 2 / orang e. Flat.. 3 m 2 / orang f. Hotel....5 m 2 / orang g. Apartemen...6 m 2 / orang 2.13.5 Efisiensi bangunan Efisiensi lantai (building efficiency) adalah prosentase luas lantai yang dapat dihuni atau disewakan terhadap luas lantai secara keseluruhan (Hartono Poerba, 1992). 10 lantai : 85% 20 lantai : lantai 1-10....80% lantai 11-20.85% 30 lantai : lantai 1-10....75% Universitas Mercubuana 37

lantai 11-20.75% lantai 21-30.85% 40 lantai : lantai 1-10....75% lantai 11-20.80% lantai 21-30.85% lantai 31-40.90% Data data ini hanya untuk keperluan perhitungan lift saja. Efisiensi bangunan sangat bergantung pada luas lantai yang dipakai oleh inti gedung dimana tabung lift ada di dalamnya. Besarnya rongga yang dipakai oleh tabung lift tergantung pada tinggi gedung. Secara empiris luas inti gedung adalah sekitar 5-10 x luas tabung lift. Gedung untuk perkantoran memerlukan luas inti yang lebih besar dari pada bangunan flat. Dalam perhitungan lift sebagai utilitas sebuah bangunan diperlukan berbagai analisis yang matang agar dapat diperoleh efisiensi yang tinggi. 2.13.6 Perhitungan Jumlah Lift dalam Satu Zone Jika beban lift dalam satu gedung diperhitungkan sebesar P% x jumlah penghuni gedung dasar a m 2 per orang luas lantai netto, maka rumus beban puncak lift (Hartono Poerba, 1992) : L = P (a k)n...(3.6) a Dimana : P = Persentasi empiris beban puncak lift (%) A = Luas lantai kotor per tingkat (%) N = Jumlah lantai K = Luas inti gedung (m 2 ) Universitas Mercubuana 38

a = luas lantai netto per orang (m 2 ) Sedangkan M = 5 x 60 x m = λ W Maka L= P(a-1,5 mn)n a L = P(2a 3 mn)n 2a Daya ankut (M) 1 lift dalam 5 menit : M = 5 x 60 x m = 300 m w T Daya angkut N lift dalam 5 menit : M N = 300 mn T Persamaan menjadi : L 1 = n 1 P 2a 3 m (N 1 + N 2 ) 2a Pada keadaan dimana beban puncak lift sama dengan daya angkut N lift dalam 5 menit Atau L = M N L = P(2a 3 mn)n = 300 mn 2a T Maka N = 2anTP 3m(200a + ntp Dimana : N = jumlah lift dalam satu zone a = luas lantai kotor per tingkat Universitas Mercubuana 39

P = Porsentase jumlah penghuni gedung yang diperhitungkan sebagai beban puncak lif T = waktu perjalanan bolak balik m = kapasitas lift a = luas lantai netto per orang n = jumlah lantai dalam satu zone 2.13.7 Sistem Zone Banyak Untuk meningkatkan efisiensi bangunan, orang berusaha memperkecil volume gedung yang dipergunakan untuk transportasi vertikal, terutama dalam bangunan tinggi (lebih dari 20 lantai), disamping juga untuk menyingkat waktu perjalanan bolak-balik lift yang akhirnya juga akan mempersingkat waktu menunggu lift, terutama di lantai dasar. Untuk tujuan ini orang melakukan zoning lift, yaitu pembagian kerja kelompokkelompok lift. Misalnya, 4 lift melayani lantai 1-15, 4 lift yang lain melayani lantai 16-30, sehingga lift ini berhenti dilantai 1-15. Karena 4 lift yang berhenti di lantai 1-15 maka di dalam tabung-tabungnya tidak diberikan lubang pintu keluar dilantai 1-15.Hal ini juga akan menghemat biaya sirkulasi vertikal Dalam hal zoning lift perhitungan jumlah lift yang disediakan untuk tiap zone tergantung pada perjalanan waktu bolak balik masing masing lift (Hartono Poerba, 1992). 2.13.8 Daya motor lift (Power Output) a). Jumlah energi input dari PLN habis terpakai tenaga, panas pada motor dan mesin (heat loss), dan gesekan system mekanis. Energi untuk tenaga mengalami efisiensi, sebagai berikut (SNI 03-6573-2001) : Universitas Mercubuana 40

- Motor AC / DC η = 0,94 - Motor VF η = 0,96 - Mesin geared η = 0,70, untuk worm gear dengan 3 gigi ulir η = 0,65, untuk worm gear dengan 2 gigi ulir η = 0,60, untuk worm gear dengan 1 gigi ulir η = 0,80, untuk helical gear - Mesin gearless η = 0,85 s/d 0,90 (mesin tanpa gigi reduksi) b). Sistem Mekanis - dengan sliding shoe η = 0,89, tidak kering - dengan roller shoe η = 0,94, minimal diameter roller 200 mm Maka rumus untuk efficiency daya motor lift adalah : Power output = L = K x s x (1- O/B) 6120 x η Dimana : P outout K s = Daya yang menghasilkan kerja (kw) = Kapasitas lift (kg) = kecepatan lift (mpm) O/B = overbalance (0,425 s/d 0,50) 6120 = angka konversi dalam kgm/m/kw Η = rendemen system instalasi Universitas Mercubuana 41