BUKU V SISTEM ALAT BANTU

dokumen-dokumen yang mirip
Perlindungan Lambung Kapal Laut Terhadap Korosi Dengan Sacrificial Anode. Oleh : Fahmi Endariyadi

ANALISIS PERUBAHAN TEKANAN VAKUM KONDENSOR TERHADAP KINERJA KONDENSOR DI PLTU TANJUNG JATI B UNIT 1

BAB III PENGUMPULAN DATA. Pusat Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Muara Karang terletak ditepi pantai

PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER

ELEKTROKIMIA DAN KOROSI (Continued) Ramadoni Syahputra

LOGAM BUKAN BESI (NONOFERROUS)

Pertemuan <<22>> <<PENCEGAHAN KOROSI>>

BAB I PENDAHULUAN. PLTU 3 Jawa Timur Tanjung Awar-Awar Tuban menggunakan heat. exchanger tipe Plate Heat Exchanger (PHE).

Bab V Analisis Hasil Pengolahan Data

LAPORAN PENELITIAN PROSES PENYEPUHAN EMAS

BAB 4 HASL DAN PEMBAHASAN

BAB III TEORI DASAR KONDENSOR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

AC (AIR CONDITIONER)

Hand Out HUKUM FARADAY. PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang dibina oleh Pak I Wayan Dasna. Oleh: LAURENSIUS E. SERAN.

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

Tugas khusus Adi Kunchoro

Sistem pendingin siklus kompresi uap merupakan daur yang terbanyak. daur ini terjadi proses kompresi (1 ke 2), 4) dan penguapan (4 ke 1), seperti pada

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

3.2 Pembuatan Pipa Pipa aliran air dan coolant dari heater menuju pipa yang sebelumnya menggunakan pipa bahan polimer akan digantikan dengan menggunak

BAB II PEMBAHASAN. II.1. Electrorefining

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO KONSENTRASI TEKNIK ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KOROSI dan MICHAELIS MENTEN

BAB VI BATTERY. Tujuan Pembelajaran : Menyebutkan jenis dan bahan Battery Memahami fungsi dan cara perawatan Battery

1. Bagian Utama Boiler

Retno Kusumawati PENDAHULUAN. Standar Kompetensi : Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan seharihari.

BAB IV ANALISA EKSPERIMEN DAN SIMULASI

(Fuel cell handbook 7, hal 1.2)

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI LARUTAN NaCl DENGAN KONSENTRASI 3,5%, 4% DAN 5% TERHADAP LAJU KOROSI BAJA KARBON SEDANG

BAB II LANDASAN TEORI. panas. Karena panas yang diperlukan untuk membuat uap air ini didapat dari hasil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencuci pakaian, untuk tempat pembuangan kotoran (tinja), sehingga badan air

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA BEDA POTENSIAL SEL VOLTA

RANGKUMAN LAS TIG DAN MIG GUNA MEMENUHI TUGAS TEORI PENGELASAN

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Elektrokimia. Tim Kimia FTP

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Proses akhir logam (metal finishing) merupakan bidang yang sangat luas,

BAB II LANDASAN TEORI

KIMIA ELEKTROLISIS

TUGAS KOROSI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU KOROSI

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian

BAB I PEDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pipa merupakan salah satu kebutuhan yang di gunakan untuk

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB II RESISTANCE TEMPERATURE DETECTOR. besaran suatu temperatur/suhu dengan menggunakan elemen sensitif dari kawat

Mengubah energi kimia menjadi energi listrik Mengubah energi listrik menjadi energi kimia Katoda sebagi kutub positif, anoda sebagai kutub negatif

PERAWATAN DAN PERBAIKAN AC MOBIL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Thermodinamika Teknik Mesin

Redoks dan Elektrokimia Tim Kimia FTP

II. LATAR BELAKANG PENGOLAHAN AIR

BAB II LANDASAN TEORI. Gas HHO merupakan hasil dari pemecahan air murni ( H 2 O (l) ) dengan proses

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

SISTEM DETEKSI DAN PEMADAMAN KEBAKARAN

BAB I PENDAHULUAN. Boiler merupakan salah satu unit pendukung yang penting dalam dunia

BAB III DASAR TEORI SISTEM PLTU

BAB III PERBAIKAN ALAT

BAHAN BAKAR KIMIA. Ramadoni Syahputra

SEMINAR TUGAS AKHIR. Aisha Mei Andarini. Oleh : Dosen Pembimbing : Dr.rer.nat.Triwikantoro, M.Sc. Surabaya, 21 juli 2010

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (C), serta unsur-unsur lain, seperti : Mn, Si, Ni, Cr, V dan lain sebagainya yang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. mendirikan beberapa pembangkit listrik, terutama pembangkit listrik dengan

MESIN PENDINGIN. Gambar 1. Skema cara kerja mesin pendingin.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. juga menjadi bisnis yang cukup bersaing dalam perusahaan perbajaan.

Moch. Novian Dermantoro NRP Dosen Pembimbing Ir. Muchtar Karokaro, M.Sc. NIP

Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG

TERSELESAIKAN H+7 P2

BAB 6 PEMBAHASAN 6.1 Diskusi Hasil Penelitian

PROSES PRODUKSI I METALURGI SERBUK BY ASYARI DARYUS UNIVERSITAS DARMA PERSADA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah

Bab III. Metodelogi Penelitian

IV. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II. Prinsip Kerja Mesin Pendingin

MAKALAH. SMK Negeri 5 Balikpapan SISTEM PENDINGIN PADA SUATU ENGINE. Disusun Oleh : 1. ADITYA YUSTI P. 2.AGUG SETYAWAN 3.AHMAD FAKHRUDDIN N.

Gbr. 2.1 Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)

BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI

LISTRIK GENERATOR AC GENERATOR DAN MOTOR

MATERIAL TEKNIK LOGAM

Frekuensi yang digunakan berkisar antara 10 hingga 500 khz, dan elektrode dikontakkan dengan benda kerja sehingga dihasilkan sambungan la

Pengukuran Laju Korosi Aluminum 1100 dan Baja 1020 dengan Metoda Pengurangan Berat Menggunakan Salt Spray Chamber

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Data data yang diperoleh dari penulisan Tugas Akhir ini : pendingin dengan refrigeran R-22 dan MC-22.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hampir seluruhnya dilakukan di laboratorium Gedung Fisika Material

BAB I PENDAHULUAN. Pembangkit Listrik Tenaga Air Panglima Besar Soedirman. mempunyai tiga unit turbin air tipe Francis poros vertikal, yang

BOILER FEED PUMP. b. Pompa air pengisi yang menggunakan turbin yaitu : - Tenaga turbin :

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN. Start. Preventive Maintenance. Kelainan Temperatur. N Pembongkaran PHE. Y Perbaikan. Pencucian.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelah melakukan pengujian, penulis memperoleh data-data hasil pengujian

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

PENINGKATAN EFISIENSI KOMPOR GAS DENGAN PENGHEMAT BAHAN BAKAR ELEKTROLIZER

REAKTOR GRAFIT BERPENDINGIN GAS (GAS COOLED REACTOR)

Soal-soal Redoks dan elektrokimia

MODUL 8 9 DI KLAT PRODUKTI F MULOK I I BAHAN KERJA

ELEKTROKIMIA. VURI AYU SETYOWATI, S.T., M.Sc TEKNIK MESIN - ITATS

I. Pendahuluan. A. Latar Belakang. B. Rumusan Masalah. C. Tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UH : ELEKTROLISIS & KOROSI KODE SOAL : A

BAB 4 ANALISA KONDISI MESIN

Transkripsi:

BUKU V SISTEM ALAT BANTU TUJUAN PELAJARAN : Setelah mengikuti pelajaran ini peserta mampu memahami sistem alat bantu sesuai dengan kebutuhan pengoperasian sistem air pendingin serta prosedur perusahaan. DURASI : 6 JP PENYUSUN : 1. MURDANI 2. WINOTO 3. GAMA Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal i

DAFTAR ISI TUJUAN PELAJARAN..i DAFTAR ISI...ii DAFTAR GAMBAR..iii 1. INJEKSI CHLOR (chlorination).1 2. CHLORINASI LISTRIK(Electro chlorination)..2 3. PROTEKSI TERHADAP KOROSI (Katodik)..2 4. Sistem Pembuang Udara Sisi Air Kondensor (Priming System).6 5. Kondisi air pendingin..8 6. Vakum kondensor...8 Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal ii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Prinsip terjadinya Korosi/oksidasi... 4 Gambar 2 proteksi dengan anode galvanik... 5 Gambar 3 diagram proteksi katodik dengan arus yang dipaksakan... 5 Gambar 4 Sistem Priming Tertutup... 6 Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal iii

SISTEM ALAT BANTU 1. INJEKSI CHLOR (chlorination) Untuk sistem air pendingin yang menggunakan air laut atau air muara diperlukan injeksi chlor kedalam air pendingin yang tujuannya mencegah berkembang biaknya jasad-jasad renik (micro organisme) yang hidup dalam air pendingin agar tidak menimbulkan gangguan dalam sistem air pendingin utama. Sumber pasokan chlor dapat berupa tabung-tabung gas chlor ataupun chlor cair (sodium hypochlorite) dari unit penghasil chlor (Chlorination plant). Penanganan bahan kimia ini harus hati-hati, karena menyebabkan korosi tertutama terhadap tembaga dan nikel atau campurannya. Metode penginjeksian chlor dapat secara kontinyu, secara berkala (intermitten) atau shock therapy. Metode mana yang digunakan tergantung dari tingkat berkembang biaknya mikroorganisme yang terjadi dan ini ditentukan ahli kimia PLTU. Pada metode shock therapy, penginjeksian tidak dilakukan secara kontinyu melainkan secara periodik. Selang waktu antar periodenya dapat diatur secara otomatis dengan bantuan timer. Hal yang penting diperhatikan adalah konsentrasi chlor yang diinjeksikan harus tepat. Bila dosisnya kurang, maka efeknya terhadap microorganisme akan berkurang. Sedang bila dosisnya terlalu besar, dapat mempengaruhi lingkungan terutama didaerah outfall. Penanganan bahan kimia ini harus hati-hati, karena menyebabkan korosi tertutama terhadap tembaga dan nikel atau campurannya. Air berisi mikroorganisme yang hidup akan membentuk remis dan kotoran yang menempel pada saluran maupun didalam tube kondensor. Pembentukan ini dapat menyebabkan hambatan terhadap aliran, penyumbatan ataupun perpindahan panas didalam kondensor. Besarnya chlorin yang diinjeksikan dibatasi dengan besarnya konsentrasi chlorin disisi Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1

keluar kondensor atau dikenal dengan kandungan sisa chlor. Kandungan sisa chlor keluar kondensor maksimum 1 ppm 2. CHLORINASI LISTRIK(Electro chlorination) Pada PLTU yang berlokasi di pantai, chlorine dapat diproduksi dengan proses elektrolisis air laut. Salah sayu cara adalah menggunakan anode karbon dan katode besi dengan air laut sebagai elektrolitnya. Apabila diberikan listrik padanya, maka dihasilkan chlorin pada katode dan hidrogen pada anode. Hidrogen dibuang ke udara, sedangkan chlorine nya ditampung untuk digunakan mengontrol mikroorganisme air laut. 3. PROTEKSI TERHADAP KOROSI (Katodik) Kondensor dan saluran air pendingin yang terbuat dari logam akan mudah menjadi korosi karena kontak secara terus menerus dengan air laut. Pada dasarnya ada dua jenis korosi logam, yaitu korosi basah dan kering. Kebanyakan korosi yang terjadi adalah korosi basah. Hal ini terjadi akibat dari ditempatkannya logam dalam air laut, tanah atau elektrolit pada permukaan logam. Prinsip perlindungan katodik diilustrasikan dalam gambar 34. Benda (obyek) yang akan dilindungi dihubungkan ke sisi negatif (-) dari sumber daya DC dan arus mengalir dari elektrode, sedang yang lain dihubungkan ke sisi positif ( + ) melalui elektrolit ke benda yang dilindungi sehingga dicapai kestabilan secara elektrokimia. Begitu peralatan diaktifkan, pertama elektron mengalir ke katode lokal karena tegangan tinggi. Karena tenaga listrik ( - ) masuk, maka tegangan katode perlahan-lahan turun hingga mencapai tingkat yang sama seperti tegangan katode lokal. Inilah keadaan dimana tegangan yang diproteksi sama dengan perbedaan tegangan permukaan logam. Dengan Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 2

demikian penyebab korosi dapat dihilangkan. Terdapat dua proteksi katodik dengan cara pemberian arus DC, yaitu sistem anode galvanic dan sistem arus yang dipaksakan (impress current), yaitu : 1) Sistem Anode Galvanic Sistem ini mengerjakan arus listrik yang dibangkitkan oleh aksi galvanic yang terjadi antara logam yang dilindungi dengan logam lain yang nilai tegangannya lebih rendah. Contohnya antara besi dengan seng (zinc), alumunium atau magnesium yang dihubungjkan dengan kawat. Ion logam mengikuti arus listrik yang dipancarkan dari logam dengan nilai tegangan negatif lebih besar. Logam menggunakan pengorbanan korosi sendiri untuk mengamankan logam lain. 2) Sistem Arus Yang Dipaksakan Sistem ini menggunakan anode dalam cairan korosi atau tanah dan anode ini dihubungkan ke sisi positif ( + ) dari sumber daya luar, sementara sisi negatif ( - ) ke obyek yang dilindungi. Dengan demikian arus pelindung mengalirkan dari anode ke permukaan obyek yang akan dilindungi. Terdapat berbagai macam anode, seperti titanium platina, grafit buatan, oksida timah (lead perotide), magnetite dan sebagainya Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 3

Gambar 1 Prinsip terjadinya Korosi/oksidasi Pemilihan terhadap jenis yang cocok dilakukan sesuai dengan struktur yang dilindungi dengan pelindung katodik. Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 4

Gambar 2 proteksi dengan anode galvanik Gambar 3 diagram proteksi katodik dengan arus yang dipaksakan Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5

4. Sistem Pembuang Udara Sisi Air Kondensor (Priming System) Fungsi utama sistem priming adalah untuk membuang udara dari sisi air pendingin utama agar air pendingin dapat mengisi seluruh pipa-pipa kondensor sehingga proses pendinginan efektif. Saluran pembuang udara sisi air pendingin terletak pada bagian atas water box sisi inlet dan sisi outlet kondensor. Ada 2 macam sistem priming yang banyak dipakai yaitu sistem priming tertutup dan sistem priming terbuka. Ilustrasi sistem priming tertutup terlihat seperti pada gambar 37. Gambar 4 Sistem Priming Tertutup Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 6

Pada sistem ini, pembuangan udara dilakukan melalui saluran dan katup venting dibagian atas water box hanya dengan mengandalkan tekanan air pendingin. Sedangkan pada sistem terbuka, udara dikeluarkan dari water box melaui saluran yang sama tetapi dengan bantuan perangkat vacum seperti vacum pump. Efektifitas Kondensor Penggunaan air pendingin dengan air laut ataupun air danau dapat menimbulkan pengotoran pada kondensor. Pengotoran timbul akibat terbawanya sampah ataupun lumpur dalam air pendingin yang mengalir kedalam kondensor. Pengotoran ini akan menimbulkan hambatan perpindahan panas sehingga dapat menurunkan vakum kondensor. Terdapat dua jenis pengotoran, yaitu pengotoran pada plat dudukan pipa (tube/shell plate) dan pengotoran bagian dalam pipa. i. Pengotoran Pipa-pipa Kondensor Pengotoran plat dudukan pipa (tube plate) Pengotoran pada tube plate akan mengurangi jumlah aliran air pendingin masuk kondensor sehingga menyebabkan naiknya temperatur air pendingin keluar kondensor. Pengaruh lainnya yaitu merubah kecepatan perpindahan panas, karena adanya perubahan lapisan sekeliling air pendingin. Untuk membersihkan kotoran/sampah ini dapat dilakukan dengan membalik arah aliran air pendingin (back flushing). Hal ini hanya dapat dilakukan pada kondensor melintang menggantung. Atau mengambil langsung kotoran melalui manhole dengan kondensor dalam keadaan beroperasi separoh atau stop mesin singkat. ii. Pengotoran Bagian Dalam Pipa (internal tube) Pengotoran bagian dalam terjadi akibat endapan lumpur ataupun kotoran halus yang terbawa air pendingin. Pengotoran ini juga dapat disebabkan oleh berkembang biaknya Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 7

mikroorganisme seperti tritip, remis dan sebagainya. Secara operasional pengotoran ini sulit dihilangkan, tetapi dapat dikurangi dengan menggunakan injeksi chlorin atau sodium hypochlorite. Pengotoran ini juga dapat dicegah dengan memasang saringansaringan yang lebih halus serta mengambil air dari sumber relatif bersih. 5. Kondisi air pendingin Air pendingin yang digunakan pada umumnya adalah air laut ataupun air sungai. Air yang digunakan tidak perlu air murni karena proses perpindahan panasnya tidak kontak langsung. Tetapi yang diutamakan adalah air yang bersih dan mempunyai daya hantar panas yang baik. Kondisi air yang keruh dan kotor tidak baik digunakan sebagai pendingin, karena akan mengakibatkan erosi yang tinggi dan pengendapan. Selain itu air yang keruh juga mengurangi kemampuan penyerapan panas. Kecepatan air yang terlalu tinggi menimbulkan erosi dan turbulensi, sedang kecepatan yang terlalu rendah mengakibatkan pengendapan. Tekanan air tidak perlu besar, karena yang diperlukan adalah debit atau volume air agar cukup untuk menyerap panas seoptimal mungkin. 6. Vakum kondensor Kondisi kevakuman kondensor akan berpengaruh terhadap kemampuan dan kinerja turbin uap. Dalam kondisi normal perubahan uap menjadi air didalam ruang tertutu seperti kondensor sesungguhnya juga akan menimbulkan vakum. Oleh karena itu apabila seluruh uap dari turbin berubah menjadi air didalam kondensor, maka vakum kondensor juga makin baik. Namun pada kenyataannya tidak demikian, karena pertama tidak semua uap yang masuk Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 8

kondensor menjadi air, sebagian uap tidak terkondensasi (noncondensable gas). Kedua, perpindahan panas dari uap ke air terjadi melalui media pipa, sehingga prosesnya dipengaruhi oleh kebersihan pipa, daya hantar panas pipa dan perbedaan temperatur antara uap dan air. Selain itu kevakuman kondensor juga dipengaruhi oleh kemampuan alat penghisap udara/gas (ejektor uap atau pompa vakum) dan sistem perapat (gland seal). Jadi banyak faktor yang mempengaruhi vakum kondensor yang harus diperhatikan agar kevakuman kondensor selalu terjaga dalam rentang kerjanya. Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 9

SOAL LATIHAN 1. Sebutkan dan jelaskan proteksi katodik pada peralatan pendingin PLTU 2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pengotoran yang terjadi pada komponen peralatan pendingin Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 10