BAB III DESAIN DAN METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kausal karena bertujuan untuk menguji hipotesis tentang pengaruh satu atau beberapa variabel (variabel independen) terhadap variabel lainnya (variabel dependen). Penelitian ini menguji pengaruh antara belief system, sistem pengendalian diagnostik, sistem pengendalian interaktif sebagai variabel independen terhadap kinerja organisasi sebagai variabel dependen yang dimediasi oleh inovasi sebagai variabel mediasi. B. Definisi dari Operasioinalisasi Variabel B.1. Variabel Dependen Kinerja Organisasi Kinerja organisasi merupakan suatu indikator tingkat kesuksesan dalam mencapai tujuan organisasi. Kinerja yang baik menunjukan kesuksesan dan efisiensi perilaku perusahaan (Suliyanto, 2009). Govindarajan dan Fisher (1990) memberikan beberapa alasan sukar mengukur kinerja perusahaan menggunakan ukuran objektif yaitu pertama; ukuran kinerja yang sama sukar digunakan untuk unit bisnis yang berbeda, kedua; tidak ada ukuran kinerja objektif dapat menangkap beberapa faktor kritis untuk kesuksesan kepastian 28
29 strategi, dan ketiga; data kinerja objektif dari unit bisnis yang dibandingkan sukar untuk diukur. Colvin dan Slevin (1989) digunakannya ukuran kinerja subjektif didasarkan pada persepsi manajemen karena untuk mengantisipasi tidak tersedianya data kinerja bisnis secara objektif, karena beberapa peneliti telah membuktikan bahwa ukuran kinerja subjektif memiliki tingkat reliabilitas dan validitas yang sangat tinggi. Kinerja perusahaan adalah indikator pengukuran kinerja organisasi yang dilihat dari ukuran-ukuran keuangan maupun non-keuangan secara keseluruhan. Indikator kinerja organisasi yang digunakan Widener (2007). Tabel 3.1 Indikator Kinerja Organisasi Variable Indikator Sumber Indikator Kinerja 1. Kinerja organisasi secara Widener (2007) Organisasi keseluruhan dalam Ismail 2. Keuntungan organisasi secara (2011) keseluruhan 3. Pangsa pasar menerima produkproduk primer 4. Keseluruhan produktivitas dari sistem pengiriman B.2. Variabel Independen Belief system Belief system mengkomunikasikan nilai-nilai inti untuk memberikan inspirasi dan memotivasi karyawan untuk mencari, mengeksplorasi, menciptakan dan
30 melakukan usaha yang terkait dengan tindakan yang tepat. Sistem ini pada dasarnya dalam pengimplementasian strategi berkaitan dengan strategi sebagai perspektif (Simons, 1995; 2000). Belief system adalah pengendalian yang memberikan inspirasi bagi karyawan untuk mengambil tindakan yang diinginkan (Widener, 2007). Tabel 3.2 Indikator Belief system Variable Indikator Sumber Indikator Belief system 1. Mengkomunikasikan misi secara jelas 2. Manajer mengkomunikasikan nilainilai Simon (1995) Widener (2007) dalam Ismail organisasi (2011) 3. Kesadaran karyawan terhadap nilainilai organisasi 4. Misi memotivasi semangat kerja karyawan B.3. Variabel Independen Sistem Pengendalian Diagnostik Simon (1994; 2000) menyatakan sistem pengendalian diagnostik merupakan sistem umpan balik formal yang digunakan untuk memantau hasil organisasi dan mengoreksi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dari standar kinerja yang ditetapkan sebelumnya. Terdapat dua alasan penting mengapa para manajer puncak menggunakan sistem pengendalian diagnostik yaitu untuk mengimplementasikan strategi secara efektif dan menghemat perhatian manajemen. Sistem pengendalian
31 diagnostik dalam penerapan strategi perusahaan diletakkan sebagai rencana untuk bagaimana melaksanakan pekerjaan selanjutnya. Indikator ini digunakan Henri (2006) dan diuji lagi oleh Widener (2007). Tabel 3.3 Indikator Sistem Pengendalian Diagnostik Variable Indikator Sumber Indikator Sistem Pengendalian Diagnostik 1. Meninjau kemajuan untuk tujuan organisasi 2. Memantau hasil yang dicapai 3. Membandingkan hasil yang dicapai dengan yang direncanakan Simon (1995) Henri (2006) dalam Ismail (2011) 4. Menguji langkah-langkah kunci keberhasilan B.4. Variabel Independen Sistem Pengendalian Interaktif Sistem pengendalian interaktif merupakan suatu sistem formal yang digunakan oleh manajer puncak untuk secara teratur dan secara personal melibatkan mereka sendiri dalam aktivitas pengambilan keputusan dari bawahan (Simons, 1994; 2000). Sistem pengendalian interaktif digunakan untuk membantu perusahaan mencari cara-cara baru untuk menempatkan posisinya secara strategik dalam pasar yang dinamis. Menurut Henri (2006) sistem pengendalian interaktif dapat merangsang pengembangan ide-ide baru dan inisiatif dan arahan-arahan yang muncul dari bawah ke atas dengan fokus pada ketidakpastian strategi.
32 Tabel 3.4 Indikator Sistem Pengendalian Interaktif Variable Indikator Sumber Indikator Sistem 1. Mengembangkan diskusi dalam Simon (1995) Pengendalian Interaktif rapat dengan atasan, bawahan dan rekanan Henri (2006) dalam Ismail 2. Mengembangkan tantangan dan (2011) perdebatan berdasarkan data, asumsi, dan rencana tindakan 3. Memberikan pandangan umum ornganisasi 4. Komitmen pada organisasi 5. Fokus pada masalah utama 6. Fokus pada faktor kesuksesan 7. Mengembangkan bahasa yang umum di organisasi B.5. Variabel Mediasi Inovasi Inovasi didefinisikan sebagai keterbukaan organisasi untuk menerima ide-ide baru, produk dan proses dan orientasinya terhadap inovasi. Kemampuan inovasi merupakan kemampuan organisasi untuk mengadopsi atau mengimplementasikan gagasan baru, proses dan produk baru (Hurley & Hult, 1998). Henri (2006) menggunakan Inovasi diukur menggunakan indikator berupa ide-ide baru, cepat untuk menerima inovasi, manajemen secara aktif mencari inovasi dan ide-ide. Tabel 3.5
33 Indikator Inovasi Variable Indikator Sumber Indikator Inovasi 1. Ide-ide baru 2. Cepat untuk menerima inovasi 3. Manajemen secara aktif mencari inovasi dan ide-ide baru Henri (2006) C. Pengukuran Variabel Peneliti menggunakan skala Interval untuk mengukur variable dependen, independen, dan mediasi dengan menggunakan skala likert. Jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan diberi skor yang terbagi menjadi 5 skala ( 1 = sangat tidak setuju, 5 = sangat setuju). D. Populasi dan Sampel Penelitian Peneliti mengambil populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur berlokasi di Jawa Barat. Alasan dipilihnya perusahaan manufaktur sebagai populasi adalah karena perusahaan manufaktur dianggap memiliki karakteristik yang lebih kompleks (Anthony dan Govindarajan, 2011). Perusahaan manufakur memiliki banyak tahapan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Peneliti mengambil sampel sebanyak 100 responden dimana jumlah tersebut telah memenuhi kecukupan dalam melakukan penelitian menurut Roscoe (1975) dalam Sekaran and Bougie (2010). Responden dalam sampel penelitian ini adalah manajer/asisten manajer untuk bagian keuangan dan akuntansi, bagian produksi, bagian pemasaran, bagian informasi
34 dan bagian personalia dengan kriteria manajer/asisten manajer yang telah bekerja minimal 2 tahun dalam perusahaan tersebut. E. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada para manajer/asisten manajer yang bekerja di perusahaan manufaktur. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan mengirimkan kuesioner melalui Pos, surat elektronik, dan diantar langsung kepada responden. F. Metode Analisis Penelitian ini menggunakan model persamaan struktural (structural equation modeling) sebagai alat analisis dan PLS Smart software yang digunakan untuk mengolah data. 1. Partial Least Square Penelitian ini menggunakan alat statistik Partial Least Square. Partial Least Square merupakan metode analisis yang powerful karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar. Partial Least Square selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan teorinya atau untuk pengajuan proposal (Ghozali, 2014). Terdapat dua macam indikator refleksif. Indikator refleksi adalah indikator yang dianggap dipengaruhi oleh konstruk laten, atau indikator yang dianggap merefleksikan konstruk laten. Indikator refleksi
35 mengamati akibat yang ditimbulkan oleh variabel laten. Indikator kedua adalah indikator formatif. Indikator formatif adalah indikator yang dianggap mempengaruhi variabel laten. Indikator formatif mengamati faktor penyebab dari variabel laten. 2. Alasan Menggnakan PLS Terdapat beberapa alasan untuk menggunakan alat analisis PLS, antara lain: 1) Data tidak harus berdistribusi normal multivariate (indikator dengan skala nominal sampai rasio dapat digunakan pada model yang sama). 2) Dapat digunakan pada sampel kecil. Menurut Ghozali (2014) besar sampel pada PLS tidak terlalu besar. Minimal direkomendasikan sampel > 30 telah dapat digunakan. 3) PLS selain digunakan untk mengkonfirmasi teori, tetapi dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antar variabel laten. 4) PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan formatif. 5) PLS mampu mengestimasi model yang besar dan komplek dengan ratusan variable laten dan ribuan indikator (Falk and Miller, 1992) dalam Ghozali (2014). 3. Langkah-langkah PLS Langkah-langkah PLS dapat diuraikan sebagai berikut:
36 1) Merancang model strktural atau inner model. Inner model merupakan model yang menspesifikasi hubungan antar variable laten atau bisa juga dikatakan inner model menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan substantive theory (Ghozali, 2014) 2) Merancang model pengukuran atau outer model. Outer model merupakan model yang menspesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikatorindikatornya atau bisa dikatakan bahwa outer model mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya (Ghozali, 2014) 3) Mengkonstruksi diagram jalur dari tiap variabelnya Berdasarkan diagram jalur, dapat diketahui besarnya pengaruh antar variabel Belief system, Sistem Pengendalian Diagnostik, Sistem Pengendalian Interaktif, Inovasi dan Kinerja Organisasi sebagai berikut: Belief system Sistem Pengendalian Diagnostik Sistem Pengendalian Interakif Inovasi Inovasi Inovasi Inovasi Kinerja Organisasi 4) Mengkonversi diagram jalur ke persamaan Pada langkah ini persamaan struktural dan model pengukuran yang spesifik siap dibuat yaitu dengan mengubah diagram alur ke model pengukuran persamaan yang dibangun dari diagram alur yang dikonvensi terdiri dari:
37 a. Struktural, yang dirumuskan untuk menyatakan hubungan kausalitas, bahwa setiap konstruk endogen merupakan variabel dependen yang terpisah. Sedangkan Persamaan variabel independen adalah semua konstruk yang mempunyai garis dengan anak panah yang menghubungkan ke konstruk endogen b. Persamaan spesifikasi model pengukuran, di mana peneliti menentukan variabel yang mengukur konstruk serta menentukan serangkaian matriks yang menunjukkan kondisi yang dihipotesiskan antar konstruk atau variabel. 5) Melakukan estimasi atau pendugaan parameter, dilakukan untuk menghitung data variabel laten 6) Goodness of Fit, dalam hal ini dibagi menjadi dua, yaitu: a. Outer model terbagi menjadi dua yaitu formatif dan reflektif. Apabila indikator outer model formatif, dapat dievaluasi berdasarkan substantive content yaitu dengan melihat tingkat signifikan dari weight. Namun apabila indikator refleksif, maka diperlukan evaluasi berupa kalibrasi instrument, yaitu dengan pemeriksaan validitas dan reliabilitas yang meliputi:
38 i. Convergent Validity Uji validitas yang dimaksud adalah pengujian terhadap indikator dalam variabel laten untuk memastikan bahwa indikator yang digunakan dalam penelitian ini benar-benar mampu dipahami dengan baik oleh responden sehingga responden tidak mengalami kesalahpahaman terhadap indikator yang digunakan. Convergent validity dapat diamati melalui nilai outer loading masing-masing indikator. Indikator dikatakan valid apabila nilai outer loadingnya lebih dari 0,5 (Chin, 1998 dalam Ghozali, 2014). ii. Discriminant Validity Pengukuran indikator refleksif berdasarkan cross loading dengan variabel latennya. Apabila nilai cross loading setiap indikator pada variabel bersangkutan lebih besar dibandingkan dengan cross loading pada variabel laten lainnya maka dikatakan valid. Metode lain dengan membandingkan nilai square root of average variance extracted (akar AVE) setiap konstruk dengan korelasi antar konstruk lainnya dalam model. Jika akar AVE konstruk lebih besar dari korelasi dengan seluruh konstruk lainnya maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik. iii. Composite Reliability Composite reliability adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya untuk diandalkan. Bila suatu alat dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang
39 diperoleh relatif konsisten maka alat tersebut reliable. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukkan suatu konsistensi alat pengukur dalam gejala yang sama. Nilai reliabilitas komposit dari peubah laten adalah nilai yang mengukur kestabilan dan kekonsistenan dari pengukuran reliabilitas gabungan. Hasil perhitungan nilai composite reliability yang baik adalah 0.6 walaupun bukan merupakan standar absolut. b. Inner model diukur dengan menggunakan beberapa kriteria menurut Chin (1998) dalam Ghozali (2014), yaitu: i. R2 untuk variabel laten endogen. Hasil R2 sebesar 0,67, 0,33 dan 0.19 mengindikasikan bahwa model baik, moderat, dan lemah ii. Estimasi koefisien jalur. Hal ini merupakan nilai estimasi untuk hubungan jalur dalam model struktural yang diperoleh dengan prosedur bootstrapping dengan nilai yang harus signifikan. Nilai signifikan untuk uji dua arah dengan tingkat kesalahan 5%, maka t statistic harus lebih besar dari pada t table (1,96). iii. f2 untuk effect size. Nilai f2 sebesar 0,02, 0,15, serta 0.35 dapat diinterpretasikan apakah prediktor variabel laten memiliki pengaruh yang lemah, sedang atau besar. iv.
40 v. Relevant prediksi (Q2). Apabila diperoleh nilai Q2 lebih dari nol, maka hal tersebut memberikan bukti bahwa model memiliki predictive relevance namun apabila diperoleh nilai Q2 dibawah nol maka terbukti bahwa model tidak memiliki predictive relevance.