Pantai Glayem, Indramayu Nama : Ariyanto Npm : 18811968 Dosen Pembimbing : Muhammad Akram SIP., MPS
LATAR BELAKANG Indramayu (Mayoritas Nelayan) Tradisi Nadran Akulturasi Budaya (Hindu-Budha dengan Islam) Sesaji-Sesaji/ Sajen (Makna & Pesan) Makna Pesan Dan Simbol-Simbol Sesaji Pada Tradisi Budaya Lokal Nadran Di Desa Juntinyuat, Indramayu.
RUMUSAN MASALAH Bagaimanakah prosesi tradisi budaya lokal Nadran yang terjadi di desa Juntinyuat, Indramayu? Bagaimanakah pemaknaan pesan dan simbol-simbol sesaji yang tercipta pada tradisi Nadran?
TUJUAN PENELITIAN Untuk Mengetahui pemaknaan pesan dan simbol-simbol sesaji yang tercipta pada tradisi Nadran. Untuk mengetahui prosesi tradisi budaya lokal Nadran yang terjadi di desa Juntinyuat, Indramayu.
METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan menggunakan Analisis Semiotika Charles Sander Peirce (dalam Fiske, 1990: 68-69). Segitiga Makna Peirce Sumber: Buku Alex Sobur: Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. 2012.
ANALISA DAN PEMBAHASAN Profil Topografis dan Geografis Tempat Penelitian Kecamatan Juntinyuat adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Indramayu yang berada di bibir pantai utara Jawa Barat.,dengan ketinggian dari permukaan laut antara 0 s.d. 3 meter, dengan suhu ratarata yang cukup panas yaitu antara 22 s.d. 31 Celcius. Setiap tahun jalur ini dilewati oleh para pemudik ketika musim lebaran tiba. Pantai Glayem, Indramayu Tempat Penelitian Tempat Penelitian Pantai Glayem, Kecamatan Juntinyuat (Sumber: http://desa-juntinyuat.wikimapia.org/id/map/) Tempat Penelitian Jalur Pantura
ANALISA DAN PEMBAHASAN Prosesi Tradisi Budaya Lokal Nadran di desa Juntinyuat, Indramayu. TRADISI NADRAN SEBELUM NADRAN - Bertanya Kepada Orang Pintar - Berjiarah ke Makam Wali (Ngalap Berkah) - Menggunakan Jimat Untuk Menguatkan Fisik ZIARAH JIMAT - Pemotongan Hewan Kerbau - Persiapan Segala Sesasji - Arak-arakan Meron (Perahu) Sesaji - Tarian Pembukaan - Pembacan Kidung (Do a) Nadran - Pelarungan Sesaji-sesaji
ANALISA DAN PEMBAHASAN Pemotongan Hewan Kerbau Tarian Pembukaan/ Pengiringan Pembacan Kidung (Do a) Nadran Persiapan Segala Sesasji Arak-arakan Meron (Perahu) Pelarungan Sesaji-sesaji
VIDEO TRADISI NADRAN Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=1bx90cscinm
ANALISA DAN PEMBAHASAN Proses Pemaknaan Pesan dan Simbol-Simbol Sesaji yang Tercipta Pada Tradisi Nadran. Sesaji Kepala Kerbau Penurut/Patuh (Tunduk) Pengganti Hewan Suci (Sapi) Sebagai Wangi-wangian Perantara Makhluk Halus Sesaji Kemenyan
ANALISA DAN PEMBAHASAN Sesaji Bubur Merah Putih Merah Lambang Amarah (Keburukan Manusia) Putih Lambang Kesucian (Kebaikan Manusia) Pitulungan (Pertolongan dari Allah) Setiap Hari Harus Wangi (Menebar Kebaikan) Sesaji Kembang 7 Rupa
ANALISA DAN PEMBAHASAN Sesaji Darah Kerbau Kotor (Haram) Lambang Amrah (Keserakahan) TUMPENG (Metu Dalan Kang Lempeng) Proses Kehidupan Seharihari Sesaji Tumpeng 7 Warna
ANALISA DAN PEMBAHASAN Sesaji Pisang Raja Bermanfaat Bagi Orang Lain Sifat Pemimpin (Raja) DUIT Silaturahmi/ Bertukar Pikiran SATUS Sat (Asat), Tus (Resik/Bersih) Sesaji Jajanan Pasar & Buah2an
ANALISA DAN PEMBAHASAN Sesaji Beringin & Tebu Kokoh & Kuat Solidaritas Sesama Nelayan Kendi = Mendi (Mau Kemana?) 17 Rakaat Shalat (Hitung-hitungan Jawa) Sesaji Telur Penutup Kendi
PENUTUP KESIMPULAN Tradisi budaya lokal Nadran adalah sebuah tradisi yang merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rejeki dan keselamatan pada saat melaut, tradisi ini juga adalah sarana para nelayan untuk mengharapkan hasil tangkapan ikan lebih melimpah lagi di tahun berikutnya. Nadran sendiri mula-mula di awali dengan pemotongan kepala kerbau, kemudian mengumpulkan segala macam-macam sesaji yang nantinya akan dilarungkan secara bersamasama ke tengah laut. Dalam pelaksanaannya tradisi Nadran mengandung banyak sekali makna dan pesan dari simbol-simbol sesaji yang ada pada saat tradisi itu dilaksanakan. sesaji tersebut diantaranya: kepala kerbau, kemenyan, jenang merah-putih, kembang tujuh rupa atau kembang setaman, darah kerbau, tumpeng tujuh warna, pisang raja, jajanan pasar & buah-buahan, tebu dan pohon beringin, serta telur & kendi, sesaji tersebut menimbulkan multi interpretasi dari warga sekitar, khususnya para pelaku adat yang mengikuti secara langsung tradisi Nadran.
PENUTUP SARAN Berdasarkan kesimpulan dalam penelitian ini, maka penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut; Bagi Masyarakat; Bagi Tokoh Agama; Bagi Pemerintah; Bagi Peneliti Selanjutnya.
DOKUMENTASI ACARA NADRAN Lakon Wayang Budug Basuh (Ruwat) Keluarga Nelayan Ikut Meriahkan Acara Antusias Warga Mengikuti Nadran (Macet) Kain Kafan di Perahu Sebagai Jimat Perjalanan Pelarungan Kerbau (Selfie) Perahu Nelayan Di Muara P. Glayem
DOKUMENTASI DENGAN NARASUMBER Bapak. Darsono (Nelayan) 63 Th Mas Angga (Ket. K.Taruna) 29 Th Bp. Supali.K (Budayawan) 50 Th Bp. Dedy. A (Ket.Panitia) 33 Th Bp. Suparto.A (Staff. Keb) 43 Th Mas Wahyu (Pemuda Junti) 23 Th
SEKIAN & TERIMA KASIH Laut Glayem, Indramayu