BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berubahnya orientasi usahatani dapat dimaklumi karena tujuan untuk meningkatkan pendapatan merupakan konsekuensi dari semakin meningkatnya kebutuhan usahatani dan kebutuhan hidup petani bersama keluarganya. Hargaharga kebutuhan sehari-hari peningkatannya lebih cepat dibandingkan dengan harga-harga hasil pertanian. Di samping itu, nilai tukar komoditas pertanian semakin memburuk dibandingkan dengan komoditas industri dan jasa. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila petani cenderung memilih jenis tanaman yang laku di pasar sehingga dapat memberikan penghasilan dan keuntungan yang lebih tinggi. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Hadisapoetro (1979) dalam Marjuni Ma mir mengemukakan usaha peningkatan pendapatan pada dasarnya diarahkan untuk memberi kesempatan kepada petani untuk memilih jenis usahatani yang sekiranya memberikan pendapatan yang paling tinggi baginya. Untuk itu, pemilihan cabang usahatani harus mempertimbangkan penggunaan sumberdaya, seperti: lahan, modal, dan tenaga kerja. Pemilihan jenis usahatani akan mempengaruhi pola tanam yang diterapkan sesuai dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Salah satu program Departemen Pertanian adalah membangun usaha dan sistem agribisnis. Petani merupakan salah satu pelaku usaha dan sistem agribisnis baik sebagai pelaku pada subsistem on farm, maupun pada subsistem off farm hulu dan off farm hilir. Salah satu faktor yang menetukan keberhasilan program tersebut adalah ketersediaan inovasi teknologi spesifik lokasi yang bermutu pada setiap subsistem agribisnis. Sai d (2001) mengatakan teknologi perannya sangat strategis dalam mentransformasi input menjadi output pada subsistem on-farm, off-farm hulu maupun pada off-farm hilir. Keunggulan kompetitif produk-produk pertanian sangat ditentukan oleh kadar teknologi produk tersebut. Fakta menunjukkan hasil penelitian belum terlihat jelas kontribusi yang bersifat langsung dan signifikan untuk mengatasi berbagai persoalan-persoalan
besar pembangunan pertanian di Indonesia (Saragih, 2004). Hal itu disebabkan oleh kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi yang hasil penelitian cenderung melambat, bahkan menurun (Badan Litbang Pertanian, 2004). Program sektor pertanian diarahkan untuk menghubungkan agribisnis yang mengakar kuat di pedesaan serta mendukung pengembangan wilayah. Pembangunan sektor pertanian didasarkan atas keterpaduan dalam suatu sistem, berorientasi pasar, memanfaatkan sumberdaya secara optimal, dikelola secara profesional dengan didukung oleh sumberdaya yang berkualitas, teknologi tepat, berwawasan lingkungan dan kelembagaan yang kokoh. Dengan dikembangkannya sistem agribisnis secara sehat (ekonomi, sosial, kelembagaan, lingkungan), maka sumberdaya alam dan ekosistem pertanian setempat bisa dijadikan penggerak perekonomian masyarakat setempat yaitu melalui dihasilkannya produk pertanian yang berdaya saing tinggi di pasaran lokal, domestik maupun global. Agribisnis berperan penting dalam pembangunan nasional karena sifat alam Indonesia sebagai negara agraris. Diyakini bahwa kekuatan usahatani yang dominan berada di pedesaan telah membangkitkan dan meningkatkan perekonomian. Tanpa usahatani yang kuat dan efisien, menurut Pranadji (2000), mustahil akan dapat dibangun suatu sistem agribisnis atau proses peningkatan nilai tambah sumberdaya pertanian yang kuat. Tenologi yang digunakan untuk itu tidak hanya mencakup bidang teknis usahatani, namun juga mencakup teknologi pengolahan dan distribusi, sehingga menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing tinggi di pasaran dan berdampak positif terhadap perekonomian mayarakat (pedesaan) setempat. Namun demikian, kehadiran berbagai pihak yang terlibat dalam sistem agribisnis di Desa Padahurip belum memberikan hasil yang menggembirakan. Ditingkat petani, informasi yang diperoleh tentang hasil penelitian rekayasa teknologi pertanian guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, kebijaksanaan pemerintah, pemasaran dan dunia swasta, masih terjadi split information. Padahal, apabila informasi tersebut dapat diperoleh petani secara utuh, cepat dan tepat, sangat dimungkinkan untuk memacu peningkatan produksi pertanian (kualitas dan kuantitas) yang berdaya saing tinggi, baik di pasar domestik maupun ekspor. Guna menjamin pemanfaatan informasi yang
diperlukan oleh petani, maka peranan sumber informasi sangat penting dan strategis sehingga proses transfer informasi dapat berjalan dengan baik. Disamping itu saluran informasi, keringkasan dan kelengkapan informasi yang digunakannya pun harus sesuai dengan kemampuan penerimaan petani agar informasi yang disampaikan dapat dimanfaatkan oleh petani secara optimal. Kadangkala informasi yang terlalu detail tidak memberikan hasil yang lebih baik, tetapi malah sebaliknya, karena informasi semakin sulit untuk diserap dan dipahami. Selain itu, penerima informasi mungkin tidak punya waktu banyak untuk melakukan interpretasi. Istilah information overload atau informasi yang berlebihan merupakan istilah yang ditujukan untuk menyatakan adanya informasi yang terlalu melimpah-ruah dan membingungkan (Abdul Kadir, 2003). Puspadi (2002) menemukan relatif rendahnya adopsi hasil penelitian pertanian berhubungan dengan: (1) hasil-hasil penelitian tidak sampai kepada para petani atau hasil-hasil penelitian tersebut sampai kepada yang bersangkutan, tetapi tidak tepat waktu; (2) hasil-hasil penelitian tidak sesuai dengan kebutuhan petani untuk memecahkan permasalahan dalam berusahatani; (3) metodologi diseminasi hasil penelitian/pengkajian tidak sesuai dengan cara petani belajar. (4) petaninya tidak memiliki modal untuk menerapkan teknologi; dan (5) tidak ada insentif menarik bagi petani mengadopsi teknologi yang diintroduksi. Struktur ekonomi Kabupaten Garut dari tahun ke tahun selalu didominasi oleh sektor pertanian, khususnya tanaman pangan. Dengan komposisi ini Garut tergolong kabupaten yang berbasis pertanian. Sektor pertanian yang menjadi andalan Kabupaten Garut, pada dasarnya berpeluang dapat lebih mendorong roda perekonomian Garut khususnya, bahkan lebih memberi andil terhadap perekonomian Jawa Barat. Tabel. 1. Kapasitas Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Garut tahun 2006 Produksi Luas No Komoditi (Ton) (Ha) 1. Padi Sawah 586.343 55.83 2. Padi Gogo 59.886 28,10 Jumlah Padi 642.229 51,15
Berkaitan dengan hal di atas, dengan berbagai kendala yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis tanaman padi, penelitian ini mencoba menelaah sejauh mana hubungan antara karakteristik petani dengan sumber dan kebutuhan informasi untuk pengembangan agribisnis. 1.2 Perumusan Masalah Guna memacu dan mendorong kegiatan pembangunan pertanian yang mengakar di pedesaan, maka perlu dilakukan upaya konkrit oleh pihak pemerintah dan pihak terkait lainnya sebagai wujud konsistensi keberpihakan mereka dalam melindungi masyarakat di pesedaan, khususnya petani. Beberapa wujud keberpihakan tersebut adalah memberikan perlindungan harga komoditas pertanian, menyediakan lembaga keuangan, sarana produksi pertanian yang cukup tersedia, dan transformasi informasi yang lebih terbuka, serta distribusi dan pemasaran hasil produksi. Petani memiliki keleluasaan dalam mengakses kegiatan agribisnis baik hulu maupun hilir. Hal ini berimplikasi bahwa apabila hal tersebut mampu dikuasi oleh petani, maka semangat untuk berproduksi akan tetap kuat. Banyak kasus sektor pertanian yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa ketika musim panen tiba menjadi murah, sudah menjadi fenomena yang biasa, petani terjebak oleh tengkulak yang seenaknya mempermainkan harga, petani merasa kesulitan dalam memasarkan hasil produksinya. Sebabnya adalah pengelolaan usahatani yang kurang berorientasi pasar akibat terbatasnya informasi yang dipoeroleh petani mengenai keadaan dan perkembangan pasar. Fenomena tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam pengelolaan informasi oleh petani dari sumber informasi yang diperolehnya. Tahapan kesadaran ketika petani mulai belajar tentang suatu ide baru, maka sumber informasi yang paling relevan adalah yang menyajikan atau menyampaikan informasi tentang hasil pertanian dan potensi pemasarannya. Sehingga dengan demikian petani dapat menetukan kapan dan dimana memperoleh sarana produksi dan menjual hasil produksi. Suatu informasi yang disampaikan akan lebih diperhatikan oleh petani jika informasi tersebut tepat guna, tepat waktu dan tepat sasaran. Selain itu, petani akan lebih rasional jika pertimbangan-pertimbangan bisnis menjadi acuan utama
dalam mengelola usahataninya. Aktivitas untuk mencari informasi, teknologi dan pengetahuan baru akan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya pendidikan petani. Petani diharapkan memiliki informasi tataniaga hasil pertanian yang jelas dan akurat, agar ketika petani memulai atau memutuskan suatu jenis tanaman tertentu yang akan diusahakannya, petani telah mengetahui bahwa usaha yang akan dilaksanakannya layak atau menguntungkan. Pengambilan keputusan dan berbagai kegiatan seperti pemasaran hasil produksi akan sangat ditentukan oleh ketersediaan dan kinerja sumber informsi yang dibutuhkan petani, karakteristik petani dan sifat dari informasi. Informasi agribisnis tanaman padi yang dibutuhkan oleh petani harus mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik dalam pengeolaannya maupun akurasi informasi. Berbagai sumber informsi yang dapat menjadi rujukan bagi petani di pedesaan, seperti media massa dan saluran interpersonal melalui penyuluh, sesama petani, pedagang pengumpul, tokoh masyarakat dan sebagainya. Berdasarkan pada uraian pemikiran yang telah disajikan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini mengacu pada pertanyaan: 1. Bagaimanakah karakteristik individu petani padi yang ada di desa Padahurip? 2. Apakah jenis sumber informasi yang digunakan oleh petani padi di Desa Padahurip dalam memperoleh informasi agribisnis padi? 3. Apa informasi yang dibutuhkan oleh petani padi di Desa Padahurip? 4. Bagaimanakah hubungan karakteristik individu dengan sumber dan kebutuhan informasi agribisnis tanaman padi di Desa Padahurip? 1.3 Tujuan Penelitian Mengacu pada pertanyaan dalam rumusan masalah di atas, penelitian bertujuan mengetahui: 1. Mengetahui karakteristik petani padi yang ada di desa Padahurip. 2. Mengetahui jenis sumber-sumber informasi agribisnis tanaman padi di Desa Padahurip.
3. Mengetahui informasi agribisnis yang dibutuhkan oleh petani tanaman padi di Desa Padahurip. 4. Menganalisis hubungan karakteristik individu dengan sumber dan kebutuhan informasi agribisnis tanaman padi di Desa Padahurip. 1.4 Kegunaan Penelitian Penelitain diharapkan dapat berguna untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam berbagai hal berikut: 1. Perkembangan informasi pembangunan pertanian dan pedesaan 2. Serbagai sumber informasi untuk pemerintah guna mendukung sektor pertanian dan penyediaan sarana informasi bagi petani di pedesaan, khususnya di Desa Padahurip. 3. Salah satu acuan untuk menentukan jenis saluran informasi yang akan digunakan pemerintah dalam menyampaikan informasi-informasi kebijakan pertaniannya kepada petani khususnya di Desa Padahurip.