BAB III PROGRAM JAMINAN HARI TUA

dokumen-dokumen yang mirip
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA

BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

Produk BPJS Ketenagakerjaan. Orientasi Persiapan Kerja Tahun 2016

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Implementasi Program Jaminan Sosial untuk Pekerja Indonesia

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2015, No Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456); 2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang

WALIKOTA DUMAI PROVINSI RIAU PERATURAN WALIKOTA DUMAI NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

Implementasi Program dan Perubahan Regulasi BPJS Ketenagakerjaan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN

JAMSOSTEK. (Jaminan Sosial Tenaga Kerja)

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Sejarah Umum BPJS Ketenagakerjaan Pekanbaru


Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyelenggaraan program jaminan sosial merupakan salah satu tanggung

SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL BIDANG KETENAGAKERJAAN (SJSN-TK)

2015, No Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150,

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 12 Tahun 2018 Seri E Nomor 7 PERATURAN WALI KOTA BOGOR NOMOR 12 TAHUN 2018 TENTANG

JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN UNTUK PEKERJA BUMN, SWASTA, MANDIRI, APARATUR SIPIL NEGARA, DAN TNI/POLRI

2018, No Perubahan Data Kepesertaan dan Pembayaran Iuran Program Jaminan Pensiun; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sist

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PEKERJA DAN HAK-HAK PEREMPUAN. Istilah Pekerja/ Buruh muncul untuk menggantikan istilah Buruh pada zaman

MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN

NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

WALIKOTA PROBOLINGGO

2 Sistem Jaminan Sosial Nasional pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi se

Bab I. Pendahuluan. 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha. keamanan dan kepastian terhadap resiko-resiko sosial ekonomi, dan

PENYELENGGARAAN PROGRAM JKK DAN JKM BAGI PEGAWAI ASN PUSAT

JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA TERKAIT KECELAKAAN KERJA KONSTRUKSI BPJS KETENAGAKERJAAN KANTOR CABANG MAKASSAR

PROGRAM JAMINAN 1. JAMINAN HARI TUA (JHT) 5,7 % 2. JAMINAN PENSIUN (JP) 3 % 3. JAMINAN KEMATIAN (JK) 0,3 %

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL

2 2. Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara dan Se

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang giat-giatnya melaksanakan

Transformasi BPJS 2. September 2011

2016, No Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456); 2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang

BAB I PENDAHULUAN. program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu jaminan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG

MANFAAT PERLINDUNGAN PROGRAM BPJS KETENAGAKERJAAN. Date : May 18

PENDAHULUAN. sumber daya dan dana yang ada. Faktor manusia atau tenaga kerja sebagai penggerak utama

BUPATI BULUNGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DI KABUPATEN BULUNGAN

2016, No Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456); 2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Tinjauan Yuridis Filosofis Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

Kata Kunci : BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan Jaminan Sosial

PERATURAN BUPATI PURWAKARTA NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN DI KABUPATEN PURWAKARTA

BAB III SISTEM PENGELOLAAN DANA JAMINAN DAN PEMBAYARAN KLAIM PT. BPJS KETENAGAKERJAAN KANTOR CABANG MOJOKERTO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 150, 2004 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456).

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG NOMOR 17 TAHUN 2017 TENTANG KEPESERTAAN JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Implementasi Program BPJS Ketenagakerjaan Ahmad Edi Komaruddin Kepala Bidang Pemasaran PU

PENYELENGGARAAN JKK DAN JKM APARATUR SIPIL NEGARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. juga tak lepas dari pertimbangan dari hasil pekerjaan yang didapat. Tabungan

ABSTRAKSI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PESERTA DALAM PENYELENGGARAAN JAMINAN KECELAKAAN KERJA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAB II PENGELOLAAN JAMINAN SOSIAL DI INDONESIA. D. Pengertian dan Dasar Hukum Jaminan Sosial

BAB III DESKRIPSI INSTANSI. A. Sejarah BPJS Ketenagakerjaan

Implementasi Program BPJS Ketenagakerjaan

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENGAMATAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja di PT. Gapura Angkasa

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PEKERJA, JAMINAN SOSIAL, DAN BPJS KETENAGAKERJAAN

BAB II TINJAUAN UMUM DAN TINJAUAN TEORITIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL

PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA (JKK)

Transkripsi:

BAB III PROGRAM JAMINAN HARI TUA A. Pengertian Jaminan Hari Tua Jaminan (dhaman) adalah pemindahan harta pihak penjamin kepada pihak yang dijamin dalam menunaikan suatu hak. Dalam pemindahan seseorang kepada pihak lain, harus ada penjamin (dhamin), yang dijamin (madhmun anhu) dan yang menerima jaminan (madhmun lahu) 1. Hari Tua adalah umur pada saat produktifitas tenaga kerja menurun, sehingga perlu diganti dengan tenaga kerja yang lebih muda 2. Jaminan Hari Tua adalah jaminan yang memberikan perlindungan kepada pekerja terhadap resiko yang terjadi di hari tua, dimana produktifitas pekerja sudah menurun. Jaminan Hari Tua merupakan system tabungan hari tua yang besarnya merupakan akumulasi iuran ditambah hasil pengembangannya. Jaminan Hari Tua merupakan penghasilan yang dibayarkan sekaligus oleh badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja kepada orang pribadi yang berhak dalam jangka waktu yang telah ditentukan atau keadaan lain yang ditentukan 3. Setiap Pemberi Kerja selain penyelenggara negara wajib mendaftarkan dirinya dan Pekerjanya dalam program Jaminan Hari Tua kepada BPJS Ketenagakerjaan. Setiap 1 Taqyuddin An-Nabhani. Membangun System Ekonomi Alternatif Perspektif Islam. ( Surabaya : Risalah Gusti. 2009). h.193 2 Lalu Husni. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Edisi Revisi. ( Jakarta : Rajawali Press. 2012), h.177 3 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/Pmk.03/2010.Pdf 42

43 orang yang bekerja wajib mendaftarkan dirinya dalam program JHT kepada BPJS Ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. B. Kepesertaan Jaminan Hari Tua Untuk program BPJS Ketenagakerjaan diperuntukan bagi tenaga kerja formal yang disebut peserta Penerima Upah dan informal (selain penyelenggara negara) yang disebut juga peserta Bukan Penerima Upah. Kepesertaan Jaminan Hari Tua bersifat wajib yang mengharuskan seluruh penduduk menjadi peserta jaminan sosial, yang dilaksanakan secara bertahap. Kepesertaan terdiri dari Penerima Upah (formal) dan Bukan Penerima Upah (informal). Kepesertaan juga diwajibkan untuk pekerja alih daya (outsourcing) dan pekerja kontrak, Perusahaan yang mempekerjakan karyawannya secara lepas (Outsourcing) tetap wajib mendaftarkan karyawannya ke dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Bagi perusahaan yang tidak mendaftarkan pekerja akan dikenakan sanksi administrasi berupa teguran tertulis, denda dan tidak mendapat pelayanan publik. 1. Penerima Upah Cara Pendaftaran Bagi Penerima Upah Didaftarkan melalui perusahaan. Apabila pemberi kerja tidak mendaftarkan pekerjanya akan dikenakan sanksi

44 administrasi bila tidak mengikuti program jaminan sosial berupa teguran tertulis, denda dan tidak mendapat pelayanan publik karena kepsertaan BPJS Ketenagakerjaan bersifat wajib. Jika perusahaan lalai, pekerja dapat mendaftarkan dirinya sendiri dengan melampirkan : Perjanjian kerja atau bukti lain sebagai pekerja, KTP dan KK. Nomor peserta diterbitkan 1 hari setelah dokumen pendaftaran diterima lengkap dan iuran pertama dibayar lunas. Kartu diterbitkan paling lama 7 hari setelah dokumen pendaftaran diterima lengkap dan iuran pertama dibayar lunas. Kepesertaan terhitung sejak nomor kepesertaan diterbitkan. Apabila pekerja pindah perusahaan maka pekerja diwajibkan meneruskan kepesertaan dengan menginformasikan kepesertaannya yang lama ke perusahaan yang baru. Apabila terjadi perubahan data maka perusahaan wajib menyampaikan kepada BPJS Ketenagakerjaan paling lama 7 hari sejak terjadinya perubahan 4. Hal ini sesuai dengan prinsip BPJS Portabilitas yaitu prinsip memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) adalah pekerja yang melakukan kegiatan atau usaha ekonomi secara mandiri untuk memperoleh penghasilan dari kegiatan atau usahanya tersebut yang meliputi : 4 http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/page/program/program-jaminan-hari-tua- (JHT).html di akses tanggal 15 April 2016 pukul 19.45

45 a) Pemilik perusahaan, Pemilik Perusahaan yang masuk kedalam peserta bukan penerima upah adalah orang-perseorangan, pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja atau penyelenggara negara yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji, upah atau imbalan dalam bentuk lainnya, dan pemilik perusahaan tersebut tidak menerima upah atau gaji dari usaha yang dikelolanya tersebut. Contoh : Pemilik suatu perusahaan dan yang bersangkutan tidak mengelola secara aktif usahanya (tidak menduduki jabatan struktural/direktur/ceo). b) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri, Pekerja diluar hubungan kerja atau pekerja mandiri adalah pekerja yang melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi atau usaha-usaha ekonomi secara mandiri untuk memperoleh penghasilan dari kegiatan atau usahanya tersebut (pada umumnya mereka yang bekerja pada sektor informal). Contoh : Pengacara, Dokter Praktek, Perancang Busana, Penyanyi, Pedagang Kaki Lima (PKL), Tukang Ojek, Petani, Nelayan, Tukang Jahit, Kuli Panggul di Pasar, Pengrajin, Pelukis, Guru Ngaji, Satpam Perumahan, dll. c) Pekerja yang tidak termasuk pekerja diluar hubungan kerja yang bukan menerima gaji atau upah. Bagi pekerja yang Bukan Penerima Upah (BPU) dapat mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan secara bertahap dengan memilih program yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta. Pekerja yang Bukan Penerima

46 Upah (BPU) dapat mendaftar sendiri langsung ke Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan atau mendaftar melalui wadah/kelompok/mitra/payment Point (Aggregator/Perbankan) yang telah melakukan Ikatan Kerja Sama (IKS) dengan BPJS Ketenagakerjaan. Nomor peserta diterbitkan 1 hari setelah dokumen pendaftaran diterima lengkap dan iuran pertama dibayar lunas. Kartu diterbitkan paling lama 7 hari setelah dokumen pendaftaran diterima lengkap dan iuran pertama dibayar lunas. Kepesertaan terhitung sejak nomor kepesertaan diterbitkan C. Besar Iuran dan Tata Cara Pembayaran Iuran adalah sejumlah uang yang dibayar secara teratur oleh peserta dan pemberi kerja kepada BPJS Ketenagakerjaan. Besar iuran ialah 5,7% dari upah yang berasal 2% dari pekerja dan 3,7% dari pemberi kerja. Upah yang dijadikan dasar adalah upah sebulan yang terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap. Cara pembayaran Dibayarkan oleh perusahaan Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya apabila terjadi keterlambatan dalam pembayaran akan dikenakan denda sebesar 2% untuk tiap bulan keterlambatan dari iuran yang dibayarkan. BPJS Ketenagakerjaan akan memberikan informasi kepada Peserta mengenai besarnya saldo Jaminan Hari Tua beserta hasil pengembangannya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Pembayaran iuran bagi pekerja bukan penerima upah dapat dilakukan oleh peserta sendiri atau melalui Wadah/ Mitra/ Payment Point/ Aggregator/ Perbankan)

47 selama bulanan/ 3 bulan/ 6 bulan/ 1 tahun sekaligus. Iuran ditanggung sepenuhnya oleh peserta. Besar iuran untuk Jaminan Kematian Rp6.800, Jaminan Kecelakaan Kerja adalah 1% dan Jaminan Hari Tua 2% sesuai kemampuan penghasilan. TABEL IURAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA BAGI PESERTA BUKAN PENERIMA UPAH Penghasilan Dasar Upah Untuk Iuran JHT Iuran JHT Sampai dengan 1.099.000 1.000.000 20.000 1.100.000-1.299.000 1.200.000 24.000 1.300.000-1.499.000 1.400.000 28.000 1.500.000-1.699.000 1.600.000 32.000 1.700.000-1.899.000 1.800.000 36.000 1.900.000-2.099.000 2.000.000 40.000 2.100.000-2.299.000 2.200.000 44.000 2.300.000-2.499.000 2.400.000 48.000 2.500.000-2.699.000 2.600.000 52.000 2.700.000-3.199.000 2.950.000 59.000 3.200.000-3.699.000 3.450.000 69.000 3.700.000-4.199.000 3.950.000 79.000 4.200.000-4.699.000 4.450.000 89.000 4.700.000-5.199.000 4.950.000 99.000 5.200.000-5.699.000 5.450.000 109.000 5.700.000-6.199.000 5.950.000 119.000 6.200.000-6.699.000 6.450.000 129.000

48 6.700.000-7.199.000 6.950.000 139.000 7.200.000-7.699.000 7.450.000 149.000 7.700.000-8.199.000 7.950.000 159.000 8.200.000-9.199.000 8.700.000 174.000 9.200.000-10.199.000 9.700.000 194.000 10.200.000-11.199.000 10.700.000 214.000 11.200.000-12.199.000 11.700.000 234.000 12.200.000-13.199.000 12.700.000 254.000 13.200.000-14.199.000 13.700.000 274.000 14.200.000-15.199.000 14.700.000 294.000 15.200.000-16.199.000 15.700.000 314.000 16.200.000-17.199.000 16.700.000 334.000 17.200.000-18.199.000 17.700.000 354.000 18.200.000-19.199.000 18.700.000 374.000 19.200.000-20.199.000 19.700.000 394.000 20.200.000 dan seterusnya 20.700.000 414.000 Sumber : PP RI No.46 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Hari Tua Jenis Program dan Manfaat bagi pekerja bukan penerima upah yaitu : Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), terdiri dari biaya pengangkutan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja, biaya perawatan medis, biaya rehabilitasi, penggantian upah Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB), santunan cacat tetap sebagian, santunan cacat total tetap, santunan kematian (sesuai label), biaya pemakaman, santunan berkala bagi yang meninggal dunia dan cacat total tetap. Jaminan Kematian

49 (JK), terdiri dari biaya pemakaman dan santunan berkala Jaminan Hari Tua (JHT), terdiri dari keseluruhan iuran yang telah disetor, beserta hasil pengembangannya. D. Perbedaan Antara PT. Jamsostek dan BPJS Ketenagakerjaan. 1. PT. Jamsostek : a. Berbentuk perseroan terbatas yang hanya memberikan perlindungan kepada tenaga kerja di sector formal; b. Bertanggung jawab kepada Menteri BUMN; c. Kartu Kepesertaan Jamsostek (KPJ); d. Usia pensiun pada umur 55 tahun e. Program Jamsostek adalah Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. f. Peserta non aktif klaim minimal kepesertaan 5 tahun dengan masa tunggu 1 (satu) bulan; g. Sanksi hanya untuk keterlambatan pembayaran iuran; h. Denda maksimal Rp. 50.000.000,- atau kurungan 6 (enam) bulan bila tidak menjadi peserta 5. 2. BPJS Ketenagakerjaan. a. Berbentuk badan public yang memberikan perlindungan sosial bagi pekerja di sektor formal dan pekerja di sektor informal 6 ; 5 UU RI No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja Presiden RI.Pdf

50 b. Bertanggung jawab langsung kepada Presiden; c. Kartu kepesertaan berdasarkan Nomor Identitas Tunggal (NIK); d. Usia pensiun pada umur 56 tahun e. Program BPJS Ketenagakerjaan adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JK) dan Jaminan Pensiun (JP). f. Peserta non aktif dapat langsung mengklaim tanpa menunggu masa kepesertaan 10 tahun dengan masa tunggu 1 bulan setelah dinyatakan non aktif. g. Peserta boleh klaim sebagian minimal masa kepesertaan 10 tahun; 10% untuk keperluan lain dan 30% untuk pembiayaan rumah. Yang hanya berlaku satu kali dan tidak dapat diambil sekaligus. h. Ada sanksi administrasi bila tidak mengikuti program jaminan sosial berupa teguran tertulis, denda dan tidak mendapat pelayanan publik. 6 BPJS Ketenagakerjaan. Bridge Jembatan Menuju Kesejahteraan. Vol.8 I Tahun 2015. h.9